Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 98 : Cinta dan Nafsu


__ADS_3


CRAZY UPDATE 3 dari 10


Hello.


Part crazy update diposting secara bertahap sepanjang hari kamis tanggal 7 November 2019.


Untuk lolos reviewnya, author tidak bisa menjamin sepuluh bisa lolos langsung secara bersamaan ya.


Mudah-mudahan sesuai mau author bisa lolos langsung ke sepuluh-sepuluh partnya.


Tetapi, jika admin Editor mangatoon membutuhkan waktu bertahap untuk mereview part crazy update ini sehingga episode2nya keluarnya tidak bisa berbarengan dan bertahap terpisah-pisah jam atau bahkan terpisah hari ( sebagian baru lolos review besok) , maka mohon permaklumannya ya.


Regadrs, AY


***



“Kau tampak lelah,”


Elana berucap dengan hati-hati ketika dia meletakkan secangkir kopi hangat di meja depan tempat Akram duduk dengan santai di atas sofa yang berada di rumah Elana.


Lelaki ini mengantarnya pulang dari tempat kerja dan tanpa tahu malu mengundang dirinya sendiri untuk masuk. Dia bahkan bersikap arogan dengan memerintahkan Elana membuatkan secangkir kopi untuknya sementara dirinya memilih duduk santai di sofa dan menunggu.


Akram mengangkat kepala dan menatap ke arah Elana yang mengambil tempat duduk di kursi depannya. Hal itu membuat Akram merasa tidak suka. Sofa yang mereka duduki cukup panjang dan besar untuk mereka berdua. Bahkan baru kemarin sofa ini berhasil mengakomodasi kenikmatan bercinta mereka yang menyenangkan.


Dan sekarang, dengan sengaja perempuan ini memilih mengambil tempat duduk yang bukan hanya berada jauh di depannya, tetapi juga dihalangi oleh meja?


Tentu saja Akram tidak akan membiarkan hal itu terjadi, dia harus memberikan perempuan ini pelajaran supaya bisa mengerti posisinya.


Tangan Akram terulur, sementara tatapan matanya bergulir penuh isyarat.


“Kemarilah,” ujarnya dingin tak mau menerima bantahan.Elana mengangkat alis, tetapi perempuan itu ternyata tak membantah. Perlahan dia melangkah mendekat dan berdiri ragu di depan Akram, tetapi tangannya tetap terulur, membiarkan Akram menggenggam jemarinya lalu menariknya mendekat sehingga Elana jatuh terduduk di sofa, tepat di rangkulan lengan Akram yang kuat.


“Apa kau sadar sudah berapa kali hari ini aku terus menerus mengulurkan tangan kepadamu dan memintamu mendekat?” Akram berucap dengan nada gusar. “Kenapa sepertinya aku merasa kalau aku yang terus menerus mendekatimu sementara kau diam dan tak berusaha memberikan hal yang sama kepadaku?”


Elana tergeragap, sekali lagi, Akram berhasil membuatnya kehilangan kata-kata. Diliriknya Akram dan pipinya memerah ketika menyadari bahwa lelaki itu sedang menatapnya dengan sangat tajam.


Ketika Elana tak juga memberikan jawbaan, Akram mengehela napas dan memutuskan untuk mundur. Dia sudah bertekad untuk memberikan kepada Elana waktu dan kesempatan untuk belajar mencintainya, dan dia tak akan memaksakan dirinya pada Elana.


Didekatkannya bibirnya ke dahi Elana sebelum kemudian menghadiahkan kecupan lembut di sana.


“Belajarlah mencintaiku, oke?” ujar Akram kemudian seolah sedang didera oleh siksa. Lelaki itu menangkup pipi Elana dan mendongakkan wajah perempuan itu ke arahnya, lalu mulai menciuminya dengan penuh hasrat. “Katakan padaku, bagaaimana caranya supaya kau  mau mencintaiku?”


“Akram,” Elana berbisik perlahan, mencuri kesempatan sebelum Akram menyambar dan memagut bibirnya sehingga dia tak mampu lagi berkata. “Kenapa kau bisa mencintaiku?”

__ADS_1


Itu adalah pertanyaan yang sampai dengan detik ini masih berkecamuk di benak Elana dan mengganggunya. Sesungguhnya, hingga sampai detik ini, Elana masih belum bisa mempercayai sepenuhnya kalau Akram mencintai dirinya dalam arti yang sebenarnya.


Masih terus terpatri di dalam benak Elana kalau sesungguhnya Akram hanya amat sangat bernafsu padanya dan salah mengartikan nafsu menggelegak dalam tubuhnya itu sebagai cinta.


Bibir Akram yang hendak melumat bibir Elana terhenti sementara gerak tubuhnya menjadi kaku. Lelaki itu menegakkan punggung sementara ekspresi wajahnya berubah serius ketika tangannya yang belum terlepas tangkupannya dari pipi Elana bergerak lembut dan memaksa wajah Elana menghadap wajahnya.


“Kau masih meragukanku?” tanya Akram dengan tajam.


Elana berusaha mengalihkan tatapan meskipun dengan kedekatan wajah mereka saat ini, semua itu terasa percuma.


“Kau tahu…. Dirimu yang kukenal, seorang Akram Night yang kejam dan…. Dan sepertinya hatinya terlalu keras untuk jatuh cinta. Apalagi… kepada seseorang sepertiku.” Elana terbata, berusaha mengungkapkan apa yang ada di dalam benaknya dengan susah payah. Yang dirasakannya rumit dan Elana begitu kesulitan untuk mencoba membuat Akram mengerti, seolah-olah begitu banyaknya kata di dunia ini, tak ada satupun yang terasa pas untuk mengejawantahkan perasaannya.


“Hatiku terlalu keras untuk jatuh cinta?” bibir Akram terurai membentuk senyum penuh ironi. “Seperti itukah kau memandangku? Hanya sebentuk tubuh penuh nafsu yang tak punya tempat di hatiku untuk mencintai?”


“Karena seperti itulah yang kau tampilkan kepadaku…. Sejak… sejak awal mula pertemuan kita, bukankah itu yang memenuhi pikiranmu? Kau ingin memilikiku karena kau ingin bebas memuaskan nafsumu, bukan?” Elana menyahut cepat, memberikan jawaban tepat dan menohok ke dalam hati Akram.


“Aku sudah bilang bahwa aku sendiri tak bisa menjelaskan chemistry apa yang membuat hasratku begitu kuat terhadapmu. Aku sudah membicarakannya dengan Nathan dan dia bilang bahwa ada feromon yang ternyata terasa begitu kuat pada satu individu dan tidak dirasakan sama oleh individu yang lain. Kemungkinan besar, aku sensitif oleh feromon yang tanpa sengaja kau hasilkan dan tubuh serta hasratku bereaksi lebih kuat dibandingkan yang lain. Apa yang kutemukan pada dirimu tak bisa kutemukan pada wanita lain, karena itulah aku begitu bernafsu kepadamu dan bahkan sampai gelap mata memaksakan kehendakku kepadamu,” Akram menatap Elana dengan sungguh-sungguh. “Aku harus memastikan kau mendengarnya, Elana. Apa yang kurasakan kepadamu tidak kurasakan pada wanita lain. Hanya kau yang bisa membuatku lepas kendali. Aku bukanlah lelaki yang suka memaksakan kehendak kepada wanita di sana sini, aku bukanlah pemerkosa berantai dengan otak mesum yang menebar jala untuk mencari korban di mana-mana. Tidak ada wanita lainnya yang kuperlakukan dengan cara sama seperti aku memperlakukan dirimu. Hanya kau,”


“Aku tahu,” Elana menyahut cepat. Entah kenapa kalimat Akram yang begitu intens dan penuh keyakinan itu membuat pipinya terasa panas dan merona merah. “Hanya saja…. Kau juga bilang sendiri, kalau itu…. Itu berkaitan dengan fisik, tidak ada hubungannya dengan hati, jadi kurasa kau salah mengartikan nafsu dengan cinta….”


“Elana,” Akram mengerang seolah merasa sakit.


“Ratusan kali aku bercinta denganmu, ratusan kali kedekatan kita, bagaimana mungkin aku tidak merasakan sesuatu selain hasrat yang menggebu?” Akram meraih tangan Elana dan menjalinkan jari jemari mereka dengan erat. “Ratusan kali aku berada di dalam dirimu, mencari kepuasan dari tubuhmu dan kau melingkupi serta memelukku, bagaimana mungkin aku tak bisa merasa apa-apa selain hasrat?” sambungnya kemudian dengan nada sedih.


“Bukan begitu maksudku…. Aku… aku juga….” Elana tak mampu melanjutkan kalimatnya. Sudah tentu dia juga merasakan sesuatu.


Kalau tidak, tak mungkin dia bisa duduk di sini dengan tenang menerima cumbuan dari lelaki yang pernah memperkosanya, bukan?


Tetapi… benarkah itu cinta? Ataukah itu hanyalah perwujudan rasa familiar karena tubuh mereka sudah terbiasa satu sama lainnya?


“Aku belum pernah jatuh cinta sebelumnya, jadi mungkin aku tak pandai mengungkapkan perasaanku dan meyakinkanmu,” Akram menarik Elana ke dalam pelukannya dan merangkulnya erat. “Tapi aku sungguh tak pernah merasakan ini sebelumnya. Rasa ingin memiliki yang intens, tetapi juga ingin melindungi. Rasa ingin mengklaim dirimu dengan kasar sekaligus ingin bersikap lembut dan tak menyakiti. Keinginan untuk membuatmu selalu tersenyum, ingin membuatmu selalu bahagia… rasa sayang yang membuat dadaku berdenyut dengan kuat setiap aku melihat kehadiranmu, yang kadang membuat dadaku membuncah oleh kebahagiaan hingga terasa sakit… aku sangat yakin kalau itu adalah cinta,” Akram mengecup sisi pelipis Elana,kembali terdengar kesedihan menggurat di dalam suaranya. “Tak bisakah kau merasakannya, Elana? Masihkah kau meragukanku?”


Elana memejamkan mata. Dirasakannya aroma Akram yang khas dan menyenangkan melingkupinya. Diresapinya kehangatan tubuh lelaki itu yang memeluknya. Dia merasa nyaman-benar-benar nyaman. Dan kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh Akram dengan penuh keyakinan itu, melingkupi dirinya dan memberikan kebahagiaan luar biasa yang susah diterjemahkan.


Elana mencoba mencari tahu dan masuk ke kedalaman hatinya untuk menelaah dirinya sendiri. Yang pertama kali coba dicarinya adalah rasa benci… tetapi sekuat tenaga dia mencari sampai ke dasar, rasa benci kepada Akram sudah tak ditemukannya, begitupun dengan rasa jijik, marah, trauma dan keinginan membalas dendam. Semua itu sudah tak dirasakannya lagi.


Seolah-olah tanpa meminta izin sebelumnya, hati Elana telah memaafkan Akram bahkan sebelum dia sendiri menyadarinya.


Apakah dia merasakan hal yang sama seperti yang dirasakannya pada Akram? Mencintai bisa membuat hati langsung memaafkan tanpa syarat, bukan? Apakah itu artinya…. dia mencintai Akram?


“Dan kau bilang aku yang seperti ini tak mungkin jatuh cinta pada wanita sepertimu?” Akram menjauhkan pelukannya supaya Elana bisa mendongak dan menatap ekpresinya yang sangat serius. “Aku lelaki dengan mental rusak, hampir-hampir tak bisa diperbaiki, dan kau perempuan sepertimu yang sangat polos, bersih, dengan hati murni sebelum aku mencemari jiwa dan ragamu. Bagaimana mungkin aku tak jatuh cinta kepadamu? Kau tak pernah memakai topeng dalam hubungan kita, kau melawan sekuat tenaga ketika kau merasa diperlakukan tidak adil, kau tak bersikap munafik, selalu menunjukkan emosimu dengan jujur, dan ketika kau selalu menunjukkan sikap benci, tanpa sadar aku jadi mengais-ngais sedikit saja emosi suka dari dirimu, tanpa sadar aku mengemis ingin kau cintai dan putus asa untuk menahan dirimu supaya tetap berada di sisiku… aku sungguh putus asa…,” suara Akram berubah parau. “Ini adalah pertama kalinya aku mencintai seorang wanita dan aku benar-benar putus asa ingin membuatmu membalas cintaku…. Kau tak akan bisa membayangkan betapa beratnya frustasi yang menderaku saat duduk di sini, menatapmu… dan tak punya jawaban apakah kau merasakan hal yang sama dengan diriku atau tidak,”


“Maafkan aku,” seketika Elana menjawab, dipenuhi oleh rasa bersalah yang langsung membuat Akram terkekeh.


“Kenapa kau meminta maaf? Tak ada yang perlu dimaafkan di sini. Aku memutuskan untuk mencintaimu dan aku bersedia menanggung risikoku sendiri, tak ada tanggung jawab yang kubebankan kepadamu atas perasaanku. Jadi, kau tak perlu meminta maaf,” Akram meraih dagu Elana, lalu menghadiahkan kecupan lembut nan singkat di sana. “Lagipula, aku sudah memutuskn untuk memberimu waktu. Satu bulan yang menyiksa dimana aku tak akan menuntaskan hasratku, supaya pikiran kita sama-sama murni, jernih dari cemaran nafsu…aku harap dalam satu bulan itu kau bisa mencintaiku.”


Elana langsung teringat akan perkataan Xavier sebelumnya, bahwa Akram sama sekali tak memiliki pengalaman dalam hal cinta dan menganggap cinta bisa ditumbuhkan kapanpun diperintahkan. Meskipun begitu, untuk saat ini entah kenapa Elana sama sekali tak merasa jengkel ataupun marah kepada Akram. Dirinya malahan menahan senyum, menganggap perilaku Akram yang satu itu lucu

__ADS_1


.“Aku akan mencoba,” Elana masih menyisakan senyum di sudut bibirnya ketika berucap.Akram menempelkan hidungnya di hidung Elana dan menghadiahkan senyuman yang sama.


“Kau tidak boleh cuma mencoba. Kau harus berusaha keras. Karena bosmu yang satu ini…. Tidak menerima….” Bibir Akram tak bisa menahan diri untuk tak mengecup dan melumat  bibir Elana dengan penuh gairah. “….jawaban tidak,”


Setelah mengucapkan kalimatnya, Akram melumat bibir Elana habis-habisan, menggodanya supaya membuka sebelum kemudian  dia menyelipkan bibirnya sendiri, mencecap dengan lidahnya, menyentuh titik-titik menyenangkan dan nikmat di bibir Elana dan mengambil kenikmatannya sendiri.


Setelah ciuman yang panas dan seolah tak berakhir itu, Akram akhirnya mendapatkan kekuatannya untuk melepaskan diri. Napas mereka berdua terengah dan bibir mereka masih begitu dekat karena saat dia melepaskan pertautan bibir mereka, Akram sama sekali tak mau mundur menjauh. Hasrat untuk kembali melumat bibir itu lalu mendorong tubuh Elana supaya berbaring di sofa dengan dirinya menyusul untuk memiliki terasa begitu kuat dan menyiksanya.


Beruntung Akram berhasil menahan diri sekuat tenaga, tahu bahwa dia sudah berjanji dan harus ditepatinya.


“Aku harus pulang,” Akram berbisik dengan nada parau tersiksa. Kepalanya menunduk dan dia menyadari bahwa Elana telah mencengkeram permukaan kemejanya kuat-kuat hingga menimbulkan kusut di sana. Senyum tersungging di bibir Akram, senang karena dia berhasil mengusik hasrat Elana juga.


Setidaknya, malam ini bukan hanya dia yang tersiksa jiwa dan raga….


Ketika menyadari tatapan Akram ke tangannya, seketika itu juga Elana melepaskan cengkeramannya di kemeja Akram. Pipinya memerah karena malu saat menyadari bahwa dia begitu terhanyut dalam pelukan Akram dan tanpa sengaja mendesakkan dirinya sendiri ke tubuh Akram karena didorong oleh keinginan untuk lebih dekat lagi dengan lelaki itu.


Apakah dirinya sekarang telah berubah sama seperti wanita-wanita penuh nafsu yang mengejar-ngejar Akram? Apakah kepalanya yang biasanya dipenuhi logika dan rasionalitas sekarang telah berubah penuh dengan kabut nafsu yang membutakan?


Seolah memahami apa yang ada di benak Elana, Akram langsung membawa perempuan itu ke dalam pelukannya dan mendekapnya erat di dada. Telinga Elana menempel ke dada Akram sehingga dia dengan jelas bisa merasakan dan mendengar detak jantung Akram yang berdebaran tak terkendali, memukul-mukul rongga dadanya seolah-olah meronta ingin meloncat dari sana.


“Kau lihat? Betapa cocoknya tubuh kita berdua? Dan itu terasa lebih menyenangkan karena hati kita juga cocok,” Akram mendongakkan wajah Elana dan menghadiahkan kecupan sekali lagi di bibir perempuan itu. “Tak perlu malu jika tubuhmu menginginkanku. Cinta yang dihiasi dengan nafsu bukanlah suatu kesalahan."


***



***



***



***


CRAZY UPDATE 3 dari 10


Hello,part crazy update diposting secara bertahap sepanjang hari kamis tanggal 7 November 2019.


Untuk lolos reviewnya, author tidak bisa menjamin sepuluh bisa lolos langsung secara bersamaan ya.


Mudah-mudahan sesuai mau author bisa lolos langsung ke sepuluh-sepuluh partnya.


Tetapi, jika admin Editor mangatoon membutuhkan waktu bertahap untuk mereview part crazy update ini sehingga episode2nya keluarnya tidak bisa berbarengan dan bertahap terpisah-pisah jam atau bahkan terpisah hari ( sebagian baru lolos review besok) , maka mohon permaklumannya ya.


Regadrs, AY

__ADS_1


***



__ADS_2