
( I ) PRAKATA
Hello.
Mohon maaf Author baru kembali. Dikarenakan kondisi tubuh dan urusan RL yang ternyata berhasil menunda Author untuk menulis lagi. Meskipun terlambat, author berusaha menepati janji untuk kembali di Januari. Meskipun Januarinya di ujung ahahaha, maafkan.
Part ini diupdate 31 Januari 2020, tapi author tidak tahu lolos review kapan yah. Mudah2an hari ini juga.
SEASON 2 : Essence Of The Light/ EOTL ( kisah Xavier ) akan dimulai serinya di bulan Februari 2020 – hari senin nanti ( Mohon maaf mundur sampai sebulan dari jadwal yang dijanjikan )
( II ) GRUP CHAT AUTHOR ANONYMOUS YOGHURT
Author ingin memperkenalkan fitur baru, yaitu grup chat Author – fasilitas grup Author ini baru tersedia di noveltoon ya, belum ada di mangatoon. Jadi, silahkan bergabung dengan grup author dengan cara klik judul novel / profil Anonymous Yoghurt dan klik tulisan grup disana.
Untuk selanjutnya, pengumuman update, pengumuman crazy update, pengumuman penundaan update karena halangan dan sebagainya, intinya semua pengumuman yang berhubungan dengan Novel Anonymous Yoghurt, akan author sampaikan di grup author.
Jadi, jangan sampai ketinggalan untuk bergabung ya.
( III ) PEMENANG HADIAH TUMBLER
Pemenang Tumbler pemberi poin terbanyak ada di bawah ini. Selain pemenang November yang author sudah umumkan di beberapa part yang lampau, Author akan memberikan hadiah tumbler sesuai janji untuk 3 Pemenang terbanyak sesuai gambar sebagai berikut :
Silahkan follow author, author akan memfolow balik. Lalu melalui private chat, kamu bisa menginformasikan permintaan tulisan ‘kepada XXX’ di tumblermu dan juga alamatmu untuk pengiriman tumblernya.
Author tunggu, ya!
Terima kasih untuk VOTE, POIN, LIKE, KOIN, komentar dan rating bintang Lima-nya.
( IV ) VERSI UNCUT EOTD
Essence Of The Darkness versi uncut dengan judul DARK LAYER OF THE NIGHT dengan episode asli TANPA SENSOR tersedia di projectsairaakira dot com baca juga kontribusi kerjasama karya author dengan author yang lain di sana, berjudul INEVITABLE WAR.
Projectsairaakira bisa dibuka di browser biasa dan di aplikasi. Untuk yang ingin membaca melalui aplikasi ( aplikasi PSA Vitamins Reader ) , silahkan download aplikasinya di googleplay dengan kata kunci pencarian: project sairaakira atau PSA Vitamins Reader
BONUS PART ESSENCE OF THE DARKNESS - KELUARGA
Rumah itu besar, penuh dengan pelayan yang siap melayani apapun kebutuhan pemiliknya, memiliki kamar-kamar luas dengan segala fasilitas mewahnya dan dari luar tampak seperti tempat yang nyaman untuk berpulang, impian indah semua orang yang mengharapkan kehangatan berbalut kemewahan untuk memeluk dan menghempaskan lelah yang menggayuti sepanjang hari.
Tetapi, di mata Akram, rumah itu tak pernah dia anggap sebagai sebuah rumah, tidak sejak ayah dan ibunya meninggal dan dia ditinggalkan sebatang kara dan sendirian untuk menjalani hari.
Selama ini, bangunan megah itu selalu terasa kosong baginya, menciptakan ruang menyakitkan di dalam jiwanya, seolah-olah dirinya yang sendiri ini, tak mungkin bisa menebarkan kehangatan untuk memenuhi rumah yang luas ini.
Tempat ini tak pernah terasa seperti rumah baginya – sampai sekarang.
Senyum Akram terulas di bibirnya ketika dia menyempatkan diri untuk memberikan instruksi kepada supirnya sebelum kemudian membuka pintu mobil dan melangkah keluar dari mobilnya. Hujan rintik-rintik yang sudah menyapa bumi sedari tadi langsung menyelimuti tubuhnya, berjatuhan lembut pada rambut dan pundaknya dengan sentuhan basah mengiringi hawa dingin ke pekatnya udara.
Akram tidak mempedulikan itu semua, tatapan matanya tertuju pada pintu rumah besar yang ada di hadapannya.
Rumah adalah tempat berpulang kepada yang tercinta.
Dahulu, Akram pasti akan menertawakan pemikiran itu sebagai pemikiran picisan yang hanya dimiliki oleh pria-pria berhati lemah, tetapi sekarang dia memahami pemikiran itu dengan sepenuh hati.
Tanpa sadar Akram mempercepat langkah dan membuka pintu ruangan. Aroma menyenangkan dan akrab langsung menyambut indra penciumannya, membuat dadanya mengembang oleh rasa hangat tak terperi.
Kepala pelayan segera menyambutnya begitu melihat Akram memasuki rumah, tubuhnya setengah membungkuk, menunjukkan penghormatan yang sangat dalam.
“Di mana Elana?” tanya Akram cepat. Tangannya bergerak melonggarkan dasi sementara matanya berpendar mengelilingi ruangan, mencari-cari kesayangannya yang sudah hampir seharian ini tak dilihatnya. Urusan pekerjaan menahannya selama beberapa hari ini sehingga terpaksa pulang ketika hari sudah menjelang larut. Tetapi, hari ini adalah hari terakhir segala kesibukannya, semua urusan pekerjaan sudah berhasil diselesaikan, menghadiahinya waktu bebas untuk dihabiskan bersama istrinya sepuasnya.
“Nyonya sedang beristirahat di kamarnya, Tuan,” jawab kepala pelayan itu dengan sikap sopan.
Akram menganggukkan kepala, lalu tanpa mengucap kata lagi, mempercepat langkahnya menuju lorong panjang yang menghubungkan area lobby depan rumah dengan area kamar pribadinya.
Pintu kamarnya tertutup rapat, dan Akram mendorongnya dengan berhati-hati, dia membukanya, lalu melangkah masuk ke dalam ruangan. Karpet tebal meredam suara langkah kakinya, dan Akram bergerak perlahan melepaskan dasi dan jasnya, menyampirkannya di kursi terdekat dalam kamar itu, lalu melonggarkan kancing kemejanya dan melangkah masuk ke dalam ruangan.
Mata Akram terpaku pada sosok perempuan yang berbaring dengan selimut membungkus tubuh sampai ke pinggang. Kembali langkah Akram semakin cepat, baru berhenti ketika dirinya sudah sampai di tepi tempat tidur, dekat dengan Elana.
Perempuan itu berbaring miring, sedikit meringkuk. Kedua tangannya terkatup dan menjadi bantal untuk pipinya.
Mata Akram mengawasi Elana dengan sayang, lalu beralih ke sosok mungil yang ada di samping ranjang, berbaring di tempat tidur khusus yang diletakkan di atas ranjang, tepat di samping istrinya. Seketika itu juga kelembutan langsung mengaliri dirinya, membuat seulas senyum terurai tanpa bisa ditahan dari bibirnya.
__ADS_1
Bayi lelaki kecil itu. Anak mereka berdua. Zachary Night.
Bayi itu tengah tidur dengan damai, telentang dengan mata terpejam rapat dan napas teratur, menunjukkan kalau dirinya telah puas menyusu. Usianya baru enam bulan, dan tubuhnya yang montok dan sehat menunjukkan kalau Zac telah dirawat dan disusui dengan baik oleh ibunya.
Dua kesayangannya, dua harta yang paling berharga untuknya.
Akram mungkin telah mendapatkan apa yang bisa didapatkan oleh seorang lelaki sukses di puncak usia seperti dirinya, tetapi, tidak ada yang lebih disyukurinya daripada kehadiran Elana dan Zac dalam hidupnya.
Dengan lembut dan berhati-hati, Akram duduk di tepi tempat tidur, dekat dengan Elana, lalu tangannya bergerak untuk mengusap dahi perempuan itu, menyingkirkan anak-anak rambut yang menutupi dan tak bisa menahan diri untuk menghadiahkan kecupan lembut di sana. Sentuhannya, meskipun dilakukan dengan gerakan seringan jaring laba-laba, tetap saja mampu mengusik Elana dari tidur lelapnya. Mata Elana terbuka dan langsung bersirobok dengan mata Akram yang tajam. Sama seperti bibir Akram, seular senyum langsung terurai di bibirnya, senyum senang karena menyambut suaminya pulang.
“Selamat datang,” Elana menyapa dengan lembut, bangkit dengan hati-hati dari posisi berbaringnya di atas ranjang dan mengubah posisi menjadi duduk. “Maafkan aku, aku ketiduran,” Elana menambahkan gurat penyesalan di wajahnya, membuat Akram terkekeh dan kembali mengecup dahi istrinya.
“Sudah kubilang, kau tak perlu melakukan apa-apa. Tugasmu hanya tidur kalau aku sedang tak ada,” mata Akram meredup penuh arti. “Karena, ketika aku ada, aku akan memastikan kau tak bisa tidur.”
Pipi Elana langsung memerah, dia menatap Akram penuh peringatan, lalu melirik ke arah Zac yang masih tertidur dalam damai dan tersenyum lebar.
“Kau sudah makan?” Elana melirik ke arah jam kecil di nakas samping tempat tidur. Sudah jam sebelas malam. Hampir dua minggu ini Akram harus membagi waktunya untuk menyelesaikan urusan pekerjaannya, dan Elana bahkan hampir terbiasa dengan Akram yang pergi pagi-pagi sekali dan pulang ketika menjelang tengah malam.
Sebelum menikahi Akram, Elana sudah tahu bahwa meskipun lelaki itu menduduki jabatan tertinggi di perusahaan, bukan berarti posisi itu membuatnya bisa melenggang lepas dan bersantai. Akram pernah bilang, bahwa memegang kedudukan tertinggi berarti memegang tanggung jawab yang paling tinggi. Dengan kata lain, Akram harus menjadi orang yang paling bekerja keras di perusahaannya.
Karena pengertian itulah, sama sekali tidak terlontar kalimat protes dari Elana ketika Akram memfokuskan diri pada pekerjaannya. Toh, lelaki itu tak pernah berhenti menghubunginya ketika mereka terpisahkan sepanjang hari.
“Belum,” Akram mengawasi perubahan ekspresi Elana. “Aku ingin makan di rumah.”
Elana mendongakkan kepala, tubuhnya bergerak untuk turun dari ranjang.
“Koki sudah memasak makanan kesukaanmu. Tinggal dipanaskan, aku akan menyiapkannya.”
Elana hendak meninggalkan ruangan, tetapin rupanya anak mereka memiliki pendapat lain. Seolah menyadari ketika ibunya menjauh, ketika Elana bergeser turun dari ranjang dan berdiri sepenuhnya, tiba-tiba saja Zac yang tadinya tertidur lelap dengan tenang mulai menggeliat dan menggerakkan tangan dan kakinya. Bayi itu membuka matanya sedikit, mulutnya mencebik sebelum kemudian melontarkan tangisannya yang membahana memenuhi seluruh penjuru kamar.
Akram bahkan bergerak lebih cepat dari Elana. Lelaki itu membungkuk, mengambil anak lelakinya dengan hati-hati, lalu menggendongnya dalam rengkuhan lengan hangatnya yang menenangkan. Dan seperti biasanya, Zac selalu tenang ketika berada di dalam gendongan ayahnya, seolah-olah bayi mungil itu menyadari bahwa yang memeluknya memiliki darah yang sama dengannya.
Bayi menggemaskan itu tidak menangis lagi, membuka matanya yang berwarna hazel terang lebar-lebar dan menatap langsung ke wajah Akram dengan penuh pengenalan. Tangan mungil Zac terkepal dan bayi itu berusaha memasukkannya ke mulut sambil mendengkung dengan suara khas bayi yang menggemaskan, membuat Akram tak bisa menahan diri untuk menunduk dan menghadiahkan ciuman sayang ke pipi montok bayi itu, sekaligus menghirup aroma menyenangkan yang mendamaikan hatinya.
Elana mengawasi dua versi makhluk kesayangannya dengan bahagia. Yang satu lelaki dewasa dan yang lainnya bayi mungil, tetapi kedua-duanya memiliki kemiripan yang sangat pekat hingga bagai pinang dibelah dua. Akram sendiri telah menunjukkan foto-foto dirinya semasa bayi yang ditata dan diatur dengan baik di album foto oleh ibunya, dan terlihat jelas di sana bahwa Zac memang sangat mirip dengan ayahnya.
“Seluruh urusan pekerjaan sudah berhasil diselesaikan dengan baik hari ini. Jadi, aku bisa bersantai beberapa lama. Aku akan menghabiskan akhir pekan ini bersama kalian berdua. Apakah ada tempat yang ingin kau kunjungi? Kita bisa melakukan perjalanan menyenangkan untuk bersantai dan berlibur,” Akram yang masih memeluk Zac di lengannya mendekat ke arah Elana, menatap istrinya itu dengan lembut. “Sejak kau melahirkan, kau hampir tidak pernah keluar dari rumah. Seluruh waktumu kau habiskan untuk mengurus Zac dengan baik hingga anak kita tumbuh besar dengan sehat saat ini. Belum lagi, urusan pekerjaan yang datang bersamaan membuatku tak bisa membantumu sepenuhnya. Kurasa, kau butuh berjalan-jalan untuk menyenangkan hati,” ucap Akram dengan nada tak kalah lembut.
Elana melebarkan mata. “Aku sudah cukup senang. Aku tak ingin pergi kemana-mana. Di rumah saja dengan kau bersama kami, sudah cukup untukku,” jawab Elana dengan nada yakin.
Akram melebarkan mata. Tak bisa menahan senyum dengan sikap Elana yang unik yang mungkin tak akan dimiliki oleh wanita-wanita lainnya. Perempuan lain mungkin akan melompat mengambil tawarannya untuk berlibur dan bersenang-senang menghibur diri, tetapi Elana, entah kenapa, selalu bisa menemukan cara berbahagia dengan sederhana dan unik.
“Kau benar-benar tidak ingin pergi bersenang-senang? Aku bisa membawamu pergi ke tempat manapun yang kau inginkan,” Akram kembali mengulang pertanyaannya, masih berusaha meyakinkan diri.
Pertanyaannya membuat Elana terkekeh, perempuan itu mendekat ke arah Akram.Dengan lembut Elana mengecup anak lelakinya yang ada di pelukan lelaki yang dia cintai, lalu menggerakkan tangannya untuk menangkup wajah Akram.
“Aku bisa bahagia di mana saja, asalkan ada kalian berdua di sana.”
“Kalau begitu, akan kupastikan kau sangat berbahagia, nanti malam,” mata Akram berkilat penuh arti dengan niat tersirat yang sudah pasti langsung dipahami oleh Elana, membuat pipi Elana memerah seketika.
Bahkan setelah begitu lama mereka bersama, Akram masih selalu berhasil membuat pipi Elana merah karena tersipu dengan rayuannya.
Perempuan itu menarik tanganya dari pipi Akram lalu bergerak mundur, membalikkan tubuhnya dengan canggung.
“Aku… aku akan menyiapkan makan malammu,” ucap Elana cepat, lalu terbirit-birit meninggalkan ruangan.
Akram yang ditinggalkan sendirian bersama anaknya hanya bisa terkekeh menertawakan tingkah Elana. Lelaki itu lalu menunduk, menatap mata hazel anaknya yang bening berkilauan dan tampak tenang di pelukan. Zac masih berusaha memasukkan kepalan tangan mungilnya ke mulut, menatap ke arah Akram dan begitu menyadari bahwa Akram tengah menatapnya, anak itu tersenyum lebar, sementara tangannya bergerak menggapai-gapai wajah Akram.
Senyum Akram tak tertahankan lagi. Hatinya dipenuhi oleh perasaan hangat tak bertepi. Sungguh, tak pernah dibayangkannya dia akan menjadi seorang ayah yang berbahagia dengan istri luar biasa dan satu paket anak yang telah mengambil hatinya bahkan di detik pertama Akram melihat anaknya terlahir di dunia ini.
Dulu Akram selalu berpikir bahwa dirinya yang penuh dosa ini, tak mungkin layak mendapatkan anugerah seperti ini, nyatanya dia ternyata begitu beruntung sehingga mendapat kesempatan untuk merengkuh harta paling berharga di hidupnya. Sebuah keluarga yang penuh cinta, sebuah rumah untuk berpulang, itulah kemewahan yang sesungguhnya, dan Akram sungguh beruntung bisa memilikinya.
Ketika Akram melangkah keluar menuju dapur luas di area belakang yang menyatu dengan ruang makan, aroma masakan langsung menguar ke udara, menggoda indra penciumannya. Beberapa pelayan tampak bersikeras membantu Elana menyiapkan makanan, meskipun Elana biasanya menolak bantuan mereka jika dia mengerjakan hal-hal yang sekiranya sederhana.
Dengan mereka berpindah ke rumah besar warisan kedua orang tua Akram ini, memang Elana harus membiasakan diri dengan kehidupan baru. Dulu, mereka hidup hanya berdua, tetapi, rumah ini memiliki begitu banyak pelayan yang siap melakukan apapun yang diperintahkan oleh tuan mereka. Akram tahu Elana sedikit tidak nyaman dilayani seperti itu karena perempuan itu terbiasa mengerjakan semuanya sendiri. Tetapi, Elana akhirnya berhasil berkompromi dan membiarkan dirinya untuk dibantu untuk hal-hal yang memang terlalu berat jika dikerjakan sendiri.
Akram juga lebih senang membiarkan Elana menerima semua bantuan yang bisa diterimanya, apalagi sekarang sudah ada Zac yang membutuhkan perhatian lebih dari ibunya.
“Kemarikan Zac dan makanlah dulu,”
Elana tersenyum lebar dan melangkah menghampiri Akram ketika melihat lelaki itu muncul di ruang makan. Tangannya terulur untuk mengambil Zac dengan lembut dari gendongan Akram sambil mengedikkan bahunya ke arah meja makan yang telah tertata rapi. Para pelayan tampak membungkuk berpamitan dengan sopan sebelum mereka melangkah pergi meninggalkan area dapur dan ruang makan itu, membiarkan tuan mereka menyantap sarapan mereka berduaan saja.
Akram melangkah ke area meja makan dan menarik kursi, lalu duduk di sana dan mulai mengambil makanan, sementara Elana masih berdiri di dekat meja makan, sambil menggoyangkan tubuh dengan ritme teratur dan bersenandung untuk membuat Zac tertidur kembali. Nuansa yang damai melingkupi mereka dalam kebersamaan di penghujung malam yang damai ini.
Tetapi sayangnya, kedamaian itu sepertinya tak berlangsung lama. Tiba-tiba saja terdengar keributan di luar sana yang membuat tangan Akram yang tengah menyuapkan makanan untuk kesekian kalinya langsung membeku waspada. Dengan cepat Akram meletakkan peralatan makannya, lalu berdiri sigap dengan punggung menegang dan menempatkan tubuhnya depan Elana dan Zac, secara otomatis menempatkan dirinya sebagai tameng untuk melindungi istri dan anaknya.
Pintu kemudian terbuka, dan kepala bodyguard Akram melangkah masuk dengan wajah sedikit pucat dan sikap serba salah.
“Siapa?” Akram mendesiskan kalimat pertanyaannya dari sela gerahamnya yang terkatup rapat, jelas sekali menunjukkan sikap bahwa dia tidak suka diganggu di waktu pribadinya bersama Elana. Elana sendiri malahan mengintip dari punggung Akram yang lebar, penuh rasa ingin tahu tentang siapa tamu tak diundang yang datang malam-malam begini.
“Mohon maaf Tuan Akram, Tuan Xavier datang dan memaksa bertemu. Saya sudah mengatakan bahwa saat ini Tuan Akram sudah beristirahat, tetapi beliau tetap memaksa,” rasa bersalah tampak memenuhi ekspresi kepala bodyguard itu dan Elana merasa kasihan karenanya.
“Biarkan saja Xavier masuk, Akram. Tidak biasanya dia datang malam-malam begini, mungkin ini memang urusan penting…” Elana menyentuh punggung Akram untuk memberikan pendapatnya.
Seperti biasanya\, Elana selalu berhasil melunakkan Akram. Punggung Akram yang menegang berubah rileks dan lelaki itu menganggukkan kepala ke arah kepala *bodyguard-*nya.
“Suruh dia masuk.” perintah Akram kemudian.
__ADS_1
Ekspresi lega kali ini membanjiri wajah kepala bodyguard itu sebelum menganggukkan kepala dan meminta izin meninggalkan ruangan. Yah, berurusan dengan Xavier Light yang sama kejam dan keras kepalanya dengan Akram Night bisa jadi sangat menyulitkan. Bagaimanapun, kepala bodyguard itu tentu berpendapat bahwa lebih baik jika mereka menghindari konflik dengan Xavier Light.
Langkah kaki Xavier terdengar mendekat ke area ruang makan itu, disusul tak lama kemudian, sosoknya muncul di ambang pintu.
“Halo, selamat malam,” tanpa rasa bersalah Xavier menyapa, menatap ke arah Akram yang menunjukkan ketidaksenangannya secara terang-terangan sambil kembali menyelesaikan makan malamnya.
Elana yang masih berdiri menggendong Zac tersenyum dan mengedikkan dagunya ke arah meja makan.
“Selamat malam. Apakah kau sudah makan malam? Kau bisa bergabung bersama kami.”
“Tenang saja, aku sudah makan,” dengan jenaka Xavier mengedipkan sebelah matanya. Dia lalu menatap ke arah Zac yang masih terbangun dalam gendongan Elana, tatapannya berubah tertarik dan langkahnya bergeser menuju Elana. “Zac masih bangun jam segini?” tanyanya senang.
Dalam enam bulan usia Zac, kesibukan Xavier membuatnya jarang bisa bertemu dengan keponakannya itu, karena itulah, melihat Zac sudah tumbuh besar dari terakhir kali dia melihatnya itu membuatnya takjub dan senang.
Xavier mendekat ke arah Elana, ingin melihat Zac lebih jelas, tetapi Akram tiba-tiba membanting peralatan makannya dengan suara keras di piring, membuat Xavier kembali mengalihkan perhatiannya kepada Akram.
“Kau seharusnya mandi dan membasuh seluruh tubuhmu dengan benar sebelum mendekati anakku. Siapa yang tahu racun mengerikan apa yang menempel di tubuhmu?” ucap Akram dingin dengan nada penuh peringatan.
“Akram…” Elana berucap untuk menegur sikap Akram yang kasar, tetapi seperti biasanya, kekasaran Akram sama sekali tidak mengena bagi Xavier. Lelaki itu malahan tertawa terbahak-bahak, membuat kalimat yang hendak diucapkan oleh Elana jadi terhenti.
“Tidak apa-apa, Elana. Akram benar. Daya tahan bayi masih belum sempurna, manusia dewasa yang ingin menyentuhnya harus memastikan bahwa dirinya tidak membawa virus dan bibit penyakit yang bisa tanpa sadar mengkontaminasi bayi itu,” Xavier melangkah mundur menjauh dari Elana, lalu menuju area meja makan dan menarik kursi di hadapan Akram dan mendudukinya.“Aku memang mengembangkan penelitian terhadap virus dan racun di lab terbaru milikku. Tetapi, bukan berarti aku memandikan diriku dengan virus dan racun tersebut. Aku selalu menjaga diriku tetap steril dari semua itu,” Xavier bersedekap dan menatap Akram dengan serius. “Izinkan aku menginap di sini malam ini.”
“Tidak.” Akram langsung menjawab tanpa perasaan. “Pulang dan tidurlah ke rumahmu sendiri.”
“Apa kau tidak melihat bahwa aku pulang selarut ini karena dirimu? Aku bekerja sampai larut malam di perusahaanmu dan rumahmu adalah yang terdekat dari kantor. Lagipula, kau tentu tahu kalau aku sedang melakukan renovasi rumah? Aku membangun area lab rahasia di ruang bawah tanah rumahku dan mereka bekerja dua puluh empat jam sehari. Setiap malam, sangat berisik dan udaranya kotor karena debu….”
“Itu bukan urusanku. Kau bisa berkubang dalam debu dan reruntuhan di rumahmu dan aku tak peduli. Lagipula, ada banyak hotel di sekitar sini. Kau bisa tidur di hotel.”
“Kenapa aku harus tidur di hotel sementara ada rumah besar adikku yang memiliki puluhan kamar menganggur?” Xavier menantang dengan sikap keras kepala.
“Xavier benar, Akram. Dia bisa beristirahat di sini. Toh ada banyak kamar di sini,” Elana memutuskan untuk menyela kembali percakapan penuh ketegangan itu.
Akram melirik ke arah Elana, lalu kembali ke arah Xavier. Mata tajam saudara angkatnya yang menyebalkan itu menyiratkan sesuatu yang penuh isyarat, dan tiba-tiba saja Akram tersadar. Lelaki itu mendorong piring makannya dan beranjak berdiri.
“Baiklah. Tetapi hanya untuk satu malam saja. Aku tak peduli besok kau akan kembali ke rumahmu atau mencari hotel, yang penting besok kau sudah harus angkat kaki dari sini. Besok adalah hari liburku setelah sekian lama dan aku ingin menghabiskan saat-saat pribadi dengan keluargaku tanpa gangguan dari siapapun.”
Akram melangkah berdiri, lalu mendekat ke arah Elana dan merangkul perempuan itu, matanya terpaku ke arah Zac yang dengan tenang telah tertidur kembali di pelukan ibunya. Zac memang telah menjadi bayi yang baik sejak dia dilahirkan, dia tidak pernah menangis berlebihan, menyusu dengan kuat dan mudah jatuh tertidur. Anak itu bahkan tumbuh besar dengan sehat dan kuat tanpa ada halangan berarti, sesuatu yang sangat disyukuri oleh Akram sampai detik ini.
“Tidurkan Zac dulu dan tunggu aku, ya. Aku akan berbicara dengan Xavier sebentar dan menyusulmu,” dengan lembut Akram mengecup dahi Elana dan Elana langsung memahami isyarat itu. Perempuan itu menganggukkan kepala, dan menghadiahkan senyum penuh pengertian ke arah Akram, lalu menuruti lelaki itu dan menggumamkan kalimat berpamitan ke arah Xavier. Setelahnya, Elana melangkah menuju pintu keluar dan meninggalkan ruangan.
Setelah pintu ruang makan itu tertutup kembali, Akram mengalihkan tatapannya ke arah Xavier, kali ini sinar matanya begitu tajam dan menuntut.
“Kau tidak akan meminta menginap di sini tanpa sebab dan jelas. Ada apa?” tanya Akram dengan suara tajam.
“Aku sengaja datang malam ini karena aku tahu bahwa besok kau sudah mengambil libur untuk kau habiskan bersama keluargamu. Siapa yang tahu kau akan pergi kemana? Bisa saja kau menghilang ke pulau terpencil bersama Elana dan Zac untuk berlibur dan aku tak bisa melacakmu untuk memberitahukan hal penting yang baru saja kuketahui tadi,” Xavier menghela napas. “Yah, kurasa… aku harus segera memberitahumu hal ini karena sedikit banyak hal ini berhubungan dengan kita. Dengan masa lalu kita,” Xavier menghentikan kalimatnya, suaranya tampak berteka-teki.
“Ada apa?” sela Akram dengan nada tak sabar.
Xavier mengacak rambutnya. “Kau tahu bahwa aku sedang mencari asisten baru, kan? Bukan hanya asisten untuk di perusahaan saja, tetapi asistenku sepenuhnya di rumah dan di perusahaan. Beberapa kandidat menarik telah masuk dan aku sedang melakukan seleksi.”
“Jika kau mendapatkan kandidat yang memenuhi kualifikasi, aku akan senang karena itu pasti akan meningkatkan kinerjamu di perusahaan. Tidak ada masalah dengan itu, bukan?”
“Memang tidak ada masalah. Tetapi…” Xavier mendongakkan kepala dan menatap Akram dengan tajam. “Aku menemukan sesuatu yang menarik setelah melihat hasil cek latar belakang yang kulakukan terhadap beberapa kandidat yang masuk dan kurasa…. Kau harus tahu tentang yang satu ini.”
Ketika Akram melangkah memasuki kamar, nuansa gelap remang yang menyenangkan langsung melingkupinya. Mata Akram terpaku ke arah boks bayi di dekat ranjang dan senyumnya muncul ketika melihat Zac telah terbaring lelap di sana, tertidur dengan nyenyak dan tenang.
Bayi itu akan terbangun untuk menyusu beberapa kali sepanjang malam, tetapi setelahnya, Zac selalu tidur kembali dengan tenang, menjadi bayi baik yang tidak merepotkan ibunya.
Akram lalu mendekat ke tepi ranjang, menatap Elana yang tengah membaca buku dengan diterangi lampu baca khusus yang ada di dekat ranjang. Lelaki itu memasukkan tangan ke saku celananya, mencoba menarik perhatian istrinya.
“Apakah kau akan memutuskan untuk terus membaca, Nyonya Night? Padahal ada suamimu di sini yang tersedia dengan rela untukmu?” ujar Akram dengan nada suara dalam menggoda.
Elana menutup buku yang dibacanya dan meletakkannya di nakas samping ranjang, senyumnya terkembang ketika dia menengadah untuk menatap ke arah suaminya.
“Tuan Night ingin aku melakukan apa?” tanya Elana malu-malu, tak sadar bahwa sikapnya itu merupakan godaan terbesar yang selalu berhasil memancing gairah suaminya.
Tanpa peringatan, Akram membungkuk, lalu meraup tubuh mungil Elana ke dalam gendongannya, tak memedulikan pekikan kaget Elana karena diangkat begitu saja ke dalam dekapan suaminya.
“Akram!” Elana memekik sementara tangannya berpegangan pada kain kemeja Akram saat tubuhnya berayun ketika Akram membalikkan tubuh sambil tetap menggendongnya. “Kau akan membawaku kemana?”
Akram menunduk, menatap Elana dengan tatapan dalam menggoda.
“Mandi,” jawabnya singkat.
“Kenapa kau harus membawaku?” Elana mengerutkan dahi kebingungan.
Akram menyeringai. “Karena kau, Nyonya Night. Akan memandikanku malam ini,” bisik Akram dengan nada parau nan sesual, lalu menundukkan kepala untuk melumat bibir istrinya dengan sikap tak sabar.
Lelaki itu lalu melangkah masuk ke dalam ruang mandi, berniat untuk merayu istrinya tanpa henti sepanjang malam, yang sudah pasti akan berlangsung sangat menyenangkan.
END OF BONUS PART EOTD
SAMPAI JUMPA DI EOTL ( Essence Of The Light - Xavier ) Minggu depan.
__ADS_1
Sekali lagi terima kasih untuk Vote Poin, Koin, Like, Komentar, Rating bintang lima yang telah diberikan.