Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
EOTL Eps 117 : Lepas Beban


__ADS_3

EOTL ( Essence Of The Light ) - EOTD Season 2 - Kisah Xavier dan Sera


****


****


****


Dokter Nathan melirik ke arah dokter Oberon yang berdiri di tengah ruangan. Lelaki itu sedang merentangkan kedua tangannya, sementara dua bodyguard yang bertugas memeriksa seluruh sisi tubuhnya untuk menemukan jika ada senjata yang tersembunyi di tubuhnya. Satu bodyguard yang lain tampak membidik ke arah dokter Oberon, bersiap menembak dengan sigap jika dokter Oberon melakukan tindakan berbahaya secara tiba-tiba.


Tetapi dokter Oberon tampak tenang dan mengikuti semua instruksi yang diberikan oleh para bodyguard itu hingga mereka memutuskan semuanya aman, lalu menghela tubuh dokter Oberon untuk duduk di atas sofa, menunggu proses berikutnya dilakukan.


Nathan mengalihkan pandangannya dari dokter Oberon, lalu menyiapkan jarum suntik dan mensterilkannya. Jarum suntik itu akan digunakannya untuk mengambil sampel darah dokter Oberon.


Setelah semua siap, Nathan bergerak mendekati dokter Oberon. Lelaki itu tampak tenang dan tak bergerak, seolah menunggu dengan pasrah mengenai apa yang akan dilakukan oleh Nathan kepadanya.


Yah, mungkin memang dokter Oberon tidak bisa berbuat apapun dengan tiga orang bodyguard yang berjaga di kiri dan kanannya, juga di belakangnya.


Nathan mendekat ke arah sofa. Lelaki itu lalu mengangkat sedikit bagian lengan kemeja lengan pendek yang dikenakan oleh Dokter Oberon, mengoleskan cairan khusus dengan kapas di sana untuk mempersiapkan pengambilan darah. Tak bisa menahan rasa ingin tahunya, Nathan mengangkat kepalanya dan menatap ke arah dokter Oberon dengan tajam.


“Tidak ada yang ingin kau katakan?” tanyanya pelan dengan nada menyelisik. “Apakah kau tidak ingin membela dirimu di hadapanku?”


Dokter Oberon terlihat menipiskan bibirnya.


“Bahkan jika aku membela diriku pun, tak ada gunanya,” sahutnya dengan suara tertahan.


Nathan mengangkat alis, menatap ke arah dokter Oberon dengan tatapan mengejek setelah dia mendapatkan kesimpulannya.


“Jadi, kau benar-benar adalah Aaron yang menyamar sebagai dokter Oberon?” tanyanya kemudian.


Ketika sosok dokter Oberon ini membisu di hadapannya, Nathan berucap kembali, kali ini dengan kemarahan tertahan.


“Tak kusangka kau berbuat sejauh ini, Aaron. Kau juga telah membunuh dokter Oberon yang asli. Apakah kau tahu bahwa kau menghadapi ancaman hukuman mati atas pembunuhan berencana tingkat satu atas kelakuanmu itu?”


Keheningan membentang di antara mereka saat Nathan berucap sambil menusukkan jarum suntiknya ke lengan dokter Oberon. Warna merah pekat langsung mewarnai jarum suntik itu, memenuhinya dengan jumlah sampel darah yang cukup untuk dilakukan pemeriksaan.


“Aku tahu.”


Dokter Oberon tiba-tiba berucap, membuat Nathan yang sedang mencabut jarum suntik yang telah penuh tabungnya itu menghentikan gerakannya yang hendak menyimpan jarum itu ke ke tempatnya. Nathan mengangkat kepalanya, menatap dengan bingung.


“Apa maksudmu?” tanya Nathan kemudian ketika dokter Oberon malahan memasang ekspresi misterius yang tak tertebak.


Dokter Oberon menggertakkan giginya. Matanya kemudian berkilat penuh tekat.


“Aku tahu bahwa aku akan dikukum mati karena telah melakukan pembunuhan. Namun, aku tidak keberatan untuk membunuh lagi dan lagi untuk mencapai maksudku. Dan kurasa… kau bisa menjadi korbanku berikutnya, dokter Nathan.” Sambil berucap, tiba-tiba saja dokter Oberon mengeluarkan sesuatu dari sakunya, lalu tangannya bergerak meraih Nathan yang sedang tidak siap dan tanpa pertahanan.


Pada bodyguard itu bergerak sigap, tapi mereka terlambat karena pada detik mereka hendak menyerbu, Aaron sudah berdiri dengan membawa Nathan dalam pegangannya. Lelaki itu melingkarkan tangannya ke leher Nathan dari belakang sementara tangannya memegang jarum suntik yang siap disuntikkannya ke leher Nathan.


“Jangan bergerak, atau aku akan menyuntikkan cairan ini ke tubuh dokter Nathan! “ Aaron berucap dengan nada nekat seperti orang gila. “Aku memberikan dosis berkali-kali lipat dari seharusnya. Jika aku menyuntikkan cairan ini ke tubuhmu, maka kau akan mati karena overdosis, Nathan,” ucapnya kemudian ke arah dokter Nathan dengan suara mengancam yang tak main-main.


***


“Aaron terlibat dalam rencana balas dendam menyangkut Anastasia? Tetapi kenapa?” Sera bertanya bingung.


Dia sama sekali tidak menemukan hubungan antara rencana balas dendam Roman Dawn dengan Aaron.


Bukankah Aaron sama-sama menderita dan senasib dengan dirinya?


Karena Roman Dawn kehilangan Anastasia sebagai pewarisnya, lelaki jahat itu lalu menjemput Aaron yang merupakan salah satu anak saudaranya yang tidak mampu lalu membawanya ke Rusia dan mendidiknya dengan keras untuk menjadi pewarisnya.


Meskipun sebagai calon pewaris Aaron sudah jelas diperlakukan dengan lebih baik dibandingkan dengan Sera, tetap saja lelaki itu menderita, dipisahkan dari keluarganya lalu dipaksa untuk menjalani pendidikan ketat selama berjam-jam dan hanya bisa beristirahat di waktu tidur malam atau di jam makan. Aaron tidak pernah memiliki waktu bersantai. Satu-satunya waktunya waktunya bersantai dilakukan ketika lelaki itu menyelinap di jam-jam makan untuk menemui Sera yang menjalani hukuman dan membagi setengah porsi makanannya untuk Sera.


“Aku tahu kau mungkin akan sulit menerimanya. Tapi, aku memiliki bukti yang nyata. Kau tahu aku memiliki penyelidik yang sangat hebat dan sangat ahli mengumpulkan informasi berikut bukti pendukung tanpa kesalahan, bukan?”

__ADS_1


“Kau… mengirimkan orang untuk menyelidiki Aaron?” Sera menelan ludah, jantungnya berdegup oleh ketakutan akan sesuatu yang tak bisa ditebaknya. “Apa… yang kau temukan?”


“Aku tidak menyelidiki Aaron secara khusus, aku mengumpulkan informasi tentang Roman Dawn dan kebetulan, ada informasi tentang Aaron di dalamnya karena mereka berhubungan erat.” Xavier mendekat ke arah Sera dan menghadiahkan kecupan di dahinya. “Sera, Aaron Dawn adalah kekasih Anastasia.”


Xavier menatap ekspresi Sera yang shock dan diliputi ketidakpercayaan ketika mendengar kan informasi darinya. Lelaki itu lalu menganggukkan kepala untuk meyakinkan. “Ya, aku tahu mereka bersaudara. Bisa dibilang mereka adalah saudara sepupu. Tapi hal itu tidak membuat mereka berhenti menjalin hubungan terlarang itu. Aaron mengenal Anastasia sejak kecil, mereka selalu bermain bersama dan tumbuh bersama, sampai kemudian hubungan mereka terjalin ke tingkat yang lebih tinggi, hingga ke hubungan fisik yang tak boleh dilakukan.”


“Maksudmu… mereka berhubungan intim?” Sera memucat, terkejut luar biasa.


Xavier mengangguk.


“Hubungan terlarang itu membuat Anastasia hamil.” Xavier melanjutkan bercerita. “Mereka berdua kemungkinan besar panik. Bagaimanapun, meskipun Aaron mau bertanggung jawab, Roman Dawn tak akan mengizinkannya menikahi Anastasia. Mereka bersaudara dan berhubungan darah dekat, selain itu, Roman Dawn berharap anak gadisnya yang sangat cantik itu bisa meningkatkan kekayaan dan kelas keluarganya dengan menikahi lelaki kaya dari keluarga kaya pula. Aaron yang berasal dari keluarga tak mampu, masih remaja dan saudara pula, jelas-jelas tidak memenuhi kriteria itu. Karena itulah, akhirnya Anastasia dan Aaron membuat rencana… untuk menjebak Akram.”


“Apa?” Sera berseru dengan suara tercekik. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa Aaron berhubungan dengan seluruh masa lalu yang melibatkan mereka dengan cara serumit ini.


“Ya, Aaron mendorong Anastasia untuk menjebak Akram. Anastasia berencana merayu Akram untuk ke tempat tidur bersamanya, lalu membuat Akram mengakui dan bertanggung jawab atas anak haram yang ada di dalam kandungannya.” Xavier menatap Sera dalam-dalam. “Semua rencana itu terhenti ketika aku yang ingin mencegah Akram berakhir dengan Anastasia, membuat rencana yang melibatkan ayahmu untuk memperingatkan Anastasia dan menakut-nakutinya supaya mundur serta tidak mendekati Akram lagi. Kau tentu tahu bagaimana ujung kisah ini, bagaimana semua ini berakhir dengan hasil buruk yang merubah seluruh jalan hidup kita.”


Xavier menghela napas panjang lagi untuk menenangkan diri. Setiap membahas tentang hal ini, dadanya selalu terasa sesak. Dia dipenuhi oleh kontradiksi yang membuatnya seolah sulit bernapas, didera oleh kesadaran yang saling berlawanan.


Jika dia tidak melakukan kejahatan untuk menyingkirkan Anastasia, mungkin Sera bisa selamat dari nasib buruk di kehidupannya yang menyisakan luka dan menderanya selama bertahun-tahun, tetapi kalau itu yang terjadi, maka kemungkinan besar nasib Xavier dan Sera tidak mungkin bisa berakhir bersama seperti sekarang ini, bukan?


Apakah itu berarti dia harus mensyukuri kejahatan yang telah dia lakukan di masa lalunya?


“Setelah kejadian itu, Roman Dawn mendapatkan informasi tentang hubungan Aaron dan Anastasia. Dia marah besar dan memutuskan untuk mengambil Aaron serta memasukkannya ke dalam nama keluarganya untuk membuat Aaron bertanggung jawab dan Aaron setuju. Dia menyimpan dendam yang sama terhadap diriku, juga terhadap ayahmu yang dianggapnya bertanggung jawab atas kematian Anastasia.” Xavier menatap Sera dengan berhati-hati. “Informanku mengatakan bahwa Aaron pada saat itu sungguh mencintai Anastasia. Sedang bagi Anastasia sendiri, Aaron adalah lelaki pertamanya, karena itulah Aaron memiliki tempat sendiri di hatinya. Informanku menemukan surat-surat yang ditulis oleh Aaron kepada Anastasia. Dengan jelas isinya menyatakan seluruh rencana mereka. Mereka berdua berencana melanjutkan affair percintaan itu bahkan setelah Anastasia menikah dengan Akram nanti.”


Xavier berhenti berucap, memberi jeda dalam kalimat penjelasannya, lalu setelah menimbang- nimbang lelaki itu berucap kembali.


“Informanku masih memiliki surat-surat itu. Kau bisa membacanya jika kau lebih ingin merasa yakin.”


“Tidak.” Sera langsung menyahuti dengan tegas. Wajahnya pucat pasi, tapi ekspresinya  tampak kuat. “Aku percaya kepadamu, Xavier. Kau tidak akan membohongiku. Lagipula… aku tidak ingin membaca surat-surat itu.” Sera tak akan mampu menahan perasaan terkhianati yang meledak perih ke dalam jiwanya jika dia sampai membaca surat-surat itu. Bukan karena Aaron menjadi kekasih Anastasia, tetapi karena di dalam surat itu, terungkap motivasi kenapa Aaron berbuat baik kepadanya dan membantunya selama ini.


Ternyata… lelaki itu hanya ingin membalas dendam kepadanya?


“Jadi, Aaron bekerjasama dengan Roman Dawn?” Sera bertanya kemudian ketika Xavier tak juga berbicara, tatapannya tampak berkaca-kaca, tetapi dia menahan diri sekuatnya.


“Mereka berdua sepakat untuk menjadikanmu alat pembalas dendam kepadaku. Mereka berpikir bahwa sekali pukul dua musuh mereka akan mati sekaligus. Karena mereka berdua kalah kekuatan dan tak bisa menyerangku secara langsung, maka mereka berencana menggunakan cara pengecut dengan menyusupkanmu ke dekatku untuk meracuniku dengan dosis sedikit demi sedikit yang akhirnya akan membunuhku.” Xavier menatap ke arah Sera tajam. “Itu rencana awal kalian, bukan? Itulah tujuanmu saat menyusup dan melamar menjadi asistenku, bukan?”


Pipi Sera memerah, dipenuhi oleh rasa malu. Ya. Xavier memang benar. Roman Dawn bahkan memberikan pendidikan khusus untuk Sera, lalu memasukkannya di perusahaan bonafit dengan koneksinya untuk memberikan latar belakang prestasi yang menarik dan meyakinkan di curriculum vitae lamaran pekerjaannya kepada Xavier. Sera memang masuk ke perusahaan itu dengan bantuan Roman Dawn, tapi otaknya yang cerdas dan kemampuan belajarnya yang cepatlah yang membantunya meraih prestasi terbaik sebagai sekertaris dan asisten yang kompeten dan memiliki kualifikasi kelas satu dalam bidangnya.


“Ya… itulah rencana awal Roman Dawn. Aku menyusup sebagai asistenmu, meraih kepercayaanmu, lalu… meracunimu diam-diam sampai kau mati.” Sera menghela napas panjang. “Pada saat itu, aku menyimpan dendam dan trauma kepadamu, aku menganggapmu sebagai monster jahat yang….” Sera menelan ludahnya. “Aku tak mau membicarakannya lagi, Xavier.”


Membicarakan masa lalu dimana Sera masih salah paham kepada Xavier dan memelihara benci kepada lelaki itu, membuat hatinya terasa sakit. Sera tahu jika Xavier akan merasakan kesakitan yang sama, karena itulah dia tak mau mengangkat pembicaraan mengenai itu lagi ke permukaan.


“Aku mengerti, Sera. Kita tidak usah membahasnya. Aku hanya ingin menjelaskan bahwa semua rencana itu, dibuat dengan akal busuk Roman Dawn dan juga dengan persetujuan Aaron.”


“Tapi… Aaron tampak pasif ketika Roman Dawn memutuskan bahwa sudah waktunya mengirimku kepadamu. Dia… tampak sangat sedih dan menyesal, dia tampak tidak setuju….”


“Itu bagian dari sandiwaranya. Tahukah kau, bahwa Roman Dawn dan Aaron Dawn berusaha mencuci otakmu? Mereka mengambil peran si jahat dan si baik, untuk membuatmu mudah dikendalikan oleh mereka. Roman Dawn bersikap sebagai si jahat yang menindas dan menekan serta menyiksamu, sementara Aaron berperan sebagai si baik yang menyelamatkanmu, menjadi tempatmu bersandar serta berlindung dan menjadi satu-satunya orang yang bisa kau percayai.” Mata Xavier berkilat tajam. “Pada akhirnya, mereka bisa mengendalikanmu dari dua sisi yang berlawanan. Roman Dawn mengendalikanmu dengan ancaman dan memanfaatkan rasa takutmu kepadanya, sementara Aaron mengendalikanmu dengan hutang budi dan rasa setia kawan yang akan terus menggayutimu. Kedua-duanya memiliki tujuan yang sama: membuatmu tidak bisa mengkhianati mereka.”


Air mata langsung bergulir di sudut mata Sera yang sejak tadi telah berkaca-kaca. Semua pengetahuan ini membuatnya terkejut luar biasa. Namun, di atas semua itu, ada perasaan terkhianati yang terasa sangat sakit menusuk dan menggores hatinya yang selama ini berpikiran baik. Ketika Xavier mengkonfirmasi semua dengan kalimatnya, ketika itulah Sera tak bisa menahan diri untuk tidak menumpahkan air matanya.


“Jadi… semua kebaikan yang dilakukan Aaron kepadaku… semua itu… hanya sandiwara?” Bibir Sera mulai gemetaran ketika dia berucap. Dadanya sesak, dipenuhi oleh kepahitan yang mulai meluap dan mendesak keluar.


Xavier mengulurkan tangan dan mengusap air mata Sera dengan lembut.


“Aku tidak mau mengungkapkan kepadamu karena aku tak ingin kau tersakiti sampai seperti ini. Tapi, ya, Sera. Aku harus jujur kepadamu. Aaron Dawn bersandiwara kepadamu. Dia tidak pernah bersikap baik dengan tulus kepadamu. Dia bahkan bekerjasama dengan Roman Dawn untuk mengatur jadwal kapan kau dicambuk hingga dia bisa mengirimkan obat kepadamu, serta kapan kau dikurung dengan hukuman kelaparan supaya dia bisa menyelipkan makanan untukmu dan berperan sebagai malaikat penyelamatmu.” Xavier meragu, kalimatnya terhenti seolah dia sedang menimbang-nimbang apakah akan mengungkapkan satu hal lagi kepada Sera atau tidak.


Sikap Xavier itu membuat Sera curiga, dia mengusap air matanya, lalu berusaha berucap meskipun isak tangis masih mendera pita suaranya.


“Apakah... ada hal lain yang... harus kau katakan kepadaku?” tanyanya perlahan, menyiapkan hati untuk mendengar yang terburuk.


Kembali Xavier menjalinkan jari jemarinya ke jari rapuh dan mungil Sera. Lelaki itu meremas pertautan jari mereka dengan lembut, lalu mendekatkan tubuhnya ke tubuh Sera seolah ingin mengalirkan kekuatan dari dirinya sebanyak-banyaknya guna menopang Sera.


“Aku mendapatkan catatan transaksi pembayaran dan rekaman instruksi dari para tahanan yang berada satu sel dengan ayahmu. Mereka semua adalah orang-orang yang menyerang ayahmu dan membuat kepalanya terluka, hingga jatuh ke dalam koma. Mereka dibayar oleh Roman Dawn untuk melakukannya demi mengancammu supaya tak mencoba melawan atau melarikan diri dari Roman Dawn.” Xavier menatap Sera dengan tatapan lekat. “Tapi dari catatan transaksi dan semua rekaman pembicaraan yang ada di sana, Aaronlah yang menginisiasi upaya pemukulan dan penyerangan terhadap ayahmu di dalam penjara. Dia juga yang melakukan transaksi pembayaran terhadap para penyerang itu, membayar mereka dengan uangnya sendiri.”

__ADS_1


Suara Xavier menggema di dalam ruang kamar rumah sakit itu, terdengar perlahan tapi tegas, dan seketika membuat Sera seperti disambar petir. Mulut Sera terbuka karena shock yang menghantam dadanya dan membuat jantungnya seolah diremas keras, dan dia membeku di sana tak bisa berbuat apa-apa karena informasi itu terlalu mengejutkan baginya.


Pada saat itulah, pintu ruang perawatan itu terbuka dan Derek tampak muncul di sana dalam kondisi pucat pasi.


“Tuan Xavier!” Derek tadinya hendak berucap, tapi ketika menatap wajah Sera yang ada di atas ranjang, lelaki itu meragu dan suaranya tertahan seketika.


Xavier masih menjalinkan jari jemarinya dengan Sera. Lelaki itu menoleh menatap ke arah istrinya, lalu memutuskan bahwa mulai sekarang, tidak akan ada lagi rahasia antara dirinya dengan Sera, bahkan sampai kabar yang terburuk sekalipun, Sera harus tahu tanpa ada yang disembunyikan darinya.


“Ada apa?” Xavier bertanya dengan tenang, memberi isyarat kepada Derek. “Katakan saja,” sambungnya kemudian.


Setelah mendapatkan izin, Derek tidak ragu lagi.


“Tuan Xavier. Aaron saat ini sedang dalam upaya melarikan diri… dia membuat gerakan tak terduga saat dokter Nathan hendak mengambil darahnya. Pasukan kami tidak bisa berbuat apa-apa karena Aaron… menggunakan dokter Nathan sebagai sanderanya!”


 


 


***


***


***


***


Hello.


Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.


Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD SUDAH tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book


EOTD / Essence of The Darkness ---> Kisah Akram dan ELana


EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera ( Ebook SEGERA tersedia)


Kata kunci di g00gle book :


Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt


JIKA ANDA MENDAPATKAN EBOOK INI BUKAN DARI GOOGLE PLAYBOOK, BERARTI ANDA TELAH MELAKUKAN TINDAKAN KRIMINAL PENCURIAN DAN BERKONTRIBUSI DALAM PEMBUNUHAN KREATIVITAS PENULIS.


DUKUNG PENULIS KESAYANGANMU SUPAYA BISA TERUS BERKARYA DENGAN TIDAK MENGAKSES DAN MENYEBARKAN BUKU BAJAKAN.


Follow instagram author jika sempat yak, @anonymousyoghurt


Yours Sincerely


AY


 


 


***


***


***


 


 

__ADS_1


__ADS_2