Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
EOTL eps 17 : Penebusan Dosa


__ADS_3


Eps 3 / 6 Mingu ini


***


Keterkejutan melingkupi diri Xavier hingga lelaki itu untuk sejenak hanya bisa terperangah ketika Sera menyemburkan isi perutnya tepat mengenai keseluruhan bagian depan pakaian Xavier.


Tetapi, sudah terlanjur. Xavier tak bisa menghindar dari muntahan tersebut dan yang bisa dilakukannya adalah menahan tubuh Sera yang terhuyung, sementara dengan profesional, tangannya bergerak mengelus punggung Sera untuk membantunya melegakan diri.


Sera terus muntah tak terkendali hingga akhirnya tidak ada lagi yang bisa dimuntahkannya selain cairan kental berwarna kuning yang sangat getir hingga pahitnya membekas tanpa ampun, memenuhi lidah dan seluruh rongga mulutnya.


"Ma...maafkan aku...," suara Sera terdengar lemah gemetaran ketika dia memaksakan diri membuka mulut untuk berbicara. “Aku terkena serangan panik… dan obatku… obatku tidak ada,” suara Sera gemetaran ketika perempuan itu berucap di antara muntahnya, berusaha mengendalikan diri tapi tak mampu.


Xavier tidak bersuara, lelaki itu hanya menepuk dan mengelus punggung Sera perlahan, sikapnya tenang, dan entah kenapa, tepukan berirama di punggung Sera, bisa membimbingnya untuk mengendalikan napasnya yang tadinya tersengal tak beraturan.


Mata Sera masih terpejam, dia terus bernapas melalui mulutnya, lalu menghelanya dalam-dalam, memasukkan sebanyak mungkin oksigen ke paru-parunya yang tadi serasa diperas oleh tangan raksasa tak kasat mata.


Seiring dengan napasnya yang mulai teratur, detak jantung Sera juga perlahan kembali berdetak dengan irama normal.Sera lalu membuka mata, pandangannya yang tadi buram dan berputar sudah mulai bisa fokus dan jernih kembali. Tetapi, saat ini kakinya benar-benar terasa tak bertenaga, tak mampu menopang tubuhnya yang lunglai kehilangan daya. Satu-satunya yang menjaganya tetap bisa berdiri adalah Xavier yang mencengkeram pundaknya.


Beruntung lelaki itu tetap bersikap tenang dan seolah tidak terusik dengan tindakan Sera yang memuntahinya. Bahkan, sama sekali tidak tampak setitik pun kilasan jijik di mata lelaki itu saat ini.


"Apakah kau sudah selesai?" Cengkeraman Xavier di pundak Sera mengetat seiring dengan pertanyaan yang diajukannya.Ketika Sera tak juga menjawab, Xavier sedikit mendorong Sera ke dinding dan membiarkan dinding itu menjadi sandaran Sera. Sementara, tangan Xavier bergerak menyentuh dagu perempuan itu dan memindai wajahnya yang pucat pasi.


"Apakah sudah tak ada yang bisa dimuntahlan lagi?" Xavier bertanya kembali dengan sikap tenang.


Sera membeliak menatap Xavier, matanya menyiratkan rasa bersalah, tetapi entah kenapa Xavier sepertinya memiliki aura menghipnotis kuat yang membuat siapapun bersedia mengikuti perintah atau menjawab pertanyaannya. Sera menurut, memindai nuansa perutnya sendiri dan menyadari, bahwa meskipun mulutnya masih menyisakan jejak rasa getir, mualnya sudah mulai mereda.


"Sudah tidak mual lagi," Sera memandang ke arah kemeja putih Xavier yang tak karuan lagi wujudnya, dan rasa bersalah langsung menyergapnya kembali. "K-kemejamu...,"


"Abaikan itu. Hanya sedikit muntahan tak akan menggangguku. Apa kau lupa aku selalu berurusan dengan manusia-manusia yang terpapar racun dan efeknya bahkan lebih mengerikan dari sekedar muntah?" Xavier menyipitkan mata, mengawasi reaksi Sera dan berucap dengan sengaja. "Mereka semua menunjukkan reaksi yang lebih menjijikkan daripada hanya sekedar memuntahkan isi perut mereka. Ada yang seluruh organ dalamnya meledak lalu mereka menyemburkan cairan hitam kental berbau busuk, ada yang seluruh kulitnya melepuh, penuh dengan bilur berisi nanah beraroma anyir yang memuncrat kemana-mana....," Xavier menunduk, menatap kemejanya. "Tapi biasanya aku tidak sebegitu lengahnya sampai membuat diriku terpapar residu buangan dari efek racun."


"Hen-hentikan!" Sera menggerakkan tangannya untuk menutup mulut ketika perutnya mulai bergolak lagi. Hal-hal mengerikan yang dilontarkan Xavier tergambar jelas di otaknya, membuat perutnya kembali bergolak.


Xavier menyeringai, tetapi lelaki itu memutuskan untuk tak mengganggu Sera lagi. Langkah kakinya mundur dan pegangannya pada Sera terlepas. Lalu, tanpa kata dan dengan sikapnya yang tenang terkendali, Xavier melepaskan kemejanya.Sera mengerutkan kening melihat tingkah Xavier itu.


"K-kau mau apa?" tanyanya penuh curiga.


Setelah muntah tadi, Sera akhirnya berhasil sedikit demi sedikit menguasai dirinya. Meskipun saat ini napasnya masih tersengal dan keringat dingin mengucur di pelipisnya, bayangan memori mengerikan itu tak lagi mencekik jalur pernapasannya, hingga Sera mampu menenangkan dirinya perlahan-lahan.


"Kau masih bertanya?" Xavier mengangkat alis lalu melepaskan kemeja yang terkena muntahan itu dan membuangnya ke tempat sampah yang ada di sudut ruangan. "Petugas kebersihan akan mengurusnya nanti." Setelah berucap, Xavier melangkah kembali mendekati Sera dengan langkah lambat yang mengintimidasi.


Secara reflek, Sera mengangkat kedua telapak tangannya ke depan tubuhnya untuk menghalangi langkah Xavier."K-kau tidak memakai baju...," ucap Sera terbata sambil berusaha memalingkan muka.


Tubuh Xavier ramping, tetapi ternyata lelaki itu memiliki otot-otot keras yang terlatih di balik pakaian yang menyamarkannya. Dan sekarang, berada di posisi seperti ini dalam ruangan sempit dengan kondisi mentalnya yang belum pulih benar, membuat Sera merasa terpojok dan ngeri.


Sayangnya, Xavier sama sekali tak menunjukkan belas kasihan ketika menghadapi Sera. Lelaki itu tentu saja tahu bahwa Sera tak nyaman didekatinya yang tak berbaju, tetapi hal itu tak menahan langkahnya untuk berdiri dekat sekali dengan Sera.


Xavier menyentuh pundak Sera sekali lagi dan menegakkan tubuh perempuan itu yang menggunakan dinding di belakangnya sebagai penyangga dirinya. Matanya menelisik, memeriksa dengan saksama sebelum kemudian mengambil kesimpulan dengan tenang.


“Bajumu baik-baik saja, tidak terciprat apapun,” dengan lembut Xavier menyelipkan untaian rambut panjang yang menutupi sisi wajah Sera dan menyelipkannya ke belakang telinganya. Lelaki itu kemudian menghela tubuh Sera dan membimbingnya supaya berdiri menghadap wastafel yang berada di sisi lain dinding kamar mandi itu. “Mungkin kau perlu menyegarkan diri?” tanyanya perlahan.


Sera memang sangat ingin berkumur dan menyiramkan air dingin ke mukanya sambil mengutuki diri karena dia menunjukkan kelemahannya, bodohnya dia karena tak bisa mengontrol emosi dan malahan terkena serangan panik saat dia berhadapan dengan musuh terbesarnya itu.


Tidak bisa dipungkiri, Xavier pasti akan menggunakan kelemahannya ini untuk menyerangnya suatu saat nanti.


“Tidak bisakah kau keluar?” tanyanya perlahan.Xavier mengangkat alisnya, matanya melirik sedikit ke bekas muntahan, guci keramik yang pecah berkeping-keping, dan juga tempat sampah dimana dia membuang kemejanya.


“Apakah kau tidak apa-apa kalau ditinggal sendirian? Atau kau akan membuat masalah lagi?” tanya Xavier tak yakin.


Sera menggigit bibir, benci kepada dirinya sendiri karena kelemahannya telah membuat Xavier memiliki alasan untuk mengejeknya.


“Aku sudah tidak apa-apa,” sahutnya cepat, ingin Xavier pergi dari sana segera.

__ADS_1


Beruntung kali ini Xavier memutuskan tak memperpanjang konfrontasi, lelaki itu melempar pandangan sekilas ke arah Sera, lalu melangkah keluar dari kamar mandi dan meninggalkan Sera sendirian.



Ketika Sera keluar dari pintu kamar mandi rumah sakit itu, seorang petugas cleaning service tampak sudah bersiaga dan menunggu di depan pintu. Petugas itu mengangguk dengan sopan, lalu melangkah masuk ke dalam kamar mandi dengan segera untuk membesihkan kekacauan yang telah dibuat oleh Sera sebelumnya.


Sera melirik ke arah kamar mandi itu, dan rasa bersalah tersirat di matanya. Dia telah berusa membersihkan apa yang bisa dibersihkan dengan peralatan seadanya di dalam sana, tetapi karena tidak ada cairan pembersih atau sikat yang bisa digunakan untuk menggosok lantai, Sera tak yakin apakah yang dilakukannya sudah cukup membantu petugas kebersihan itu.


“Sera. Kemarilah.”


Suara Xavier yang menyiratkan penguasaan arogan itu mau tak mau menarik perhatian Sera. Dia mengalihkan pandangannya dari pintu kamar mandi dan wajahnya langsung bersemuka dengan Xavier.


Lelaki itu sudah memakai pakaian baru, sweter berwarna cokelat lembut yang sangat cocok dengan wajahnya yang luar biasa menarik. Rambutnya tampak basah, seolah lelaki itu bukan hanya mengganti pakaian saja, tetapi juga menyempatkan diri untuk mandi dan membersihkan diri.


Dengan santai, Xavier duduk di tepi ranjang perawatan Sera dan mengulurkan tangannya ke arah perempuan itu. Sikapnya tegas, seolah memaksa supaya Sera menyambut uluran tangannya.


Sera tak punya pilihan lain selain berjalan mendekat. Tetapi, dia berhenti dengan ragu sejangkauan lengan jauhnya dari Xavier, menjaga jarak yang menurutnya paling aman di dekat Xavier dan mengabaikan uluran tangan lelaki itu.


Xavier menipiskan bibir melihat sikap defensif Sera, lalu lelaki itu meraih tabung kaca kecil yang terletak di nakas samping ranjang, mengeluarkan sebutir tablet dari sana dan mengulurkannya ke arah Sera.


Sera mengamati tablet yang tersaji di telapak tangan Xavier yang tertengadah ke arahnya dan ketika matanya terangkat kembali untuk bertemu dengan mata Xavier, dia tak menyembunyikan ekspresi ngeri yang menghiasi di sana.


“Racun apalagi yang hendak kau berikan kepadaku?” tanyanya dengan tuduhan terang-terangan.


Xavier terkekeh. “Aku sudah menyimpan racun terbaikku di tubuhmu, untuk apa aku meracunimu lagi?” jawabnya tanpa rasa bersalah, lalu menatap Sera dengan tegas. “Dokter Nathan tidak bisa kemari untuk menanganimu, dia memberikan resep obat ini untuk kau minum.”


Suara Xavier berubah rendah dan berhati-hati. “Ini obat penenang dan akan membuatmu tidur.”


“Apakah kau ingin membiusku lalu memaksakan kehendakmu kepadaku?” Sera tak menyerah, tak segan menyuarakan tuduhannya.


Kali ini, Xavier tidak menahan diri. Lelaki itu terkekeh. “Jika aku ingin melakukan sesuatu padamu, kau harus camkan baik-baik, karena aku lebih suka jika kau… dalam kondisi sadar saat aku melakukannya.”


Kalimat Xavier diucapkan dengan santai dan lambat-lambat supaya Sera memahami makna tersirat di baliknya, dan tentu saja Sera paham. Pipinya merah padam, penuh dengan sipu malu yang tak bisa disembunyikan.


Tidak ada gunanya berkonfrontasi dengan Xavier. Mengenai obat yang ditawarkan oleh lelaki itu, meskipun dia sengaja mengucapkan kecurigaannya, Sera mengenali tablet itu dari wadahnya, dan menyadari bahwa itu sama dengan obat yang diberikan oleh dokternya untuk mengatasi serangan panik yang bisa menimpa dirinya sewaktu-waktu.


Setelahnya, Sera setengah membanting gelas air itu ke meja dan menatap Xavier dengan dagu terangkat angkuh.


“Apa lagi?” tantangnya gagah berani.


Mata Xavier cemerlang oleh rasa senang yang tidak disembunyikan.


“Setelah ini maksudmu?”


“Ya. Apalagi yang kau inginkan dariku setelah ini?” sahut Sera cepat.


Sekali lagi Xavier menatap Sera dengan tatapan yang seolah merunjam ke dalam jiwanya.


“Aku menginginkan segalanya darimu,” gumam Xavier tenang, setengah berbisik setengah berjanji. Lalu, tanpa menunggu reaksi Sera, lelaki itu bangkit dari posisi duduknya di tepi ranjang dan berjalan menghampiri Sera. “Tetapi, untuk saat ini, mari pulang bersamaku,” ajaknya lembut, tapi tentu saja tak mungkin mau menerima penolakan.



Sepanjang perjalanan pulang itu Sera tertidur pulas.


Mungkin karena efek obat yang diminumnya, mungkin juga karena efek kelelahan psikologis akibat serangan panik yang baru saja menyerangnya.


Serangan panik.


Dokter Nathan bilang kalau semua gejala yang dialami oleh Sera, hampir mirip dengan yang dialami Akram. Perempuan itu mengalami serangan panik, dan kesemuanya dipicu oleh kehadiran Xavier.


Yah, bagaimanapun juga hal itu mungkin mengingat baik Akram dan Sera, sama-sama mengalami trauma akibat melihat kondisi terakhir Anastasia yang mengerikan setelah perempuan itu melakukan bunuh diri. Akramlah yang menemukan mayat Anastasia pertama kali, dan Sera disiksa dalam ruangan gelap yang penuh gambar-gambar dari mayat Anastasia dalam kondisi terburuknya.


Entah kenapa, dua makhluk ini sama sama menghubungkan kondisi mengerikan itu dengan dirinya, hingga menyebabkan serangan panik mereka terpicu setiap terjadi interaksi dengannya.

__ADS_1


Untuk Akram, setelah mereka menyelesaikan kesalahpahaman, adiknya itu sepertinya juga telah berhasil mengatasi trauma berkepanjangannya. Sedangkan untuk Serafina….


Xavier melirik sedikit ke pundaknya, tempat perempuan itu menyandarkan kepalanya tanpa pertahanan diri sama sekali. Sera memiringkan kepalanya yang tertunduk dengan rambut menjuntai menutupi wajahnya, sementara perempuan itu menumpukan seluruh beban tubuhnya bersandar ke lengan Xavier.


Sesungguhnya, Xavier sudah memutuskan untuk menarik diri sebelum Sera datang ke dalam hidupnya. Dia merasa sudah cukup dan sudah mendapatkan pemenuhan tujuan hidupnya. Dia merasa sudah waktunya dia berhenti dan membebaskan dunia ini dari eksistensinya yang mencemari.


Tetapi, kemudian Serafina datang, membawa dendam masa lalu atas sesuatu yang sesungguhnya berada di luar kendali Xavier. Perempuan ini telah menghentikan jalannya menuju kepulangan yang telah bulat dia niatkan.


Tangan Xavier bergerak merangkul punggung Sera, lalu mengatur posisi tubuh perempuan itu supaya meringkuk lelap di dadanya. Sementara itu Xavier menyandarkan kepala ke belakang, lalu memejamkan mata.


Nanti. Setelah dia menyelesaikan semuanya yang berhubungan dengan hutang masa lalunya terhadap Serafina Moon, barulah dia akan berhenti sepenuhnya.


Xavier menghela napas panjang. Lalu seulas senyum damai tersungging di bibirnya ketika dia akhirnya membiarkan lelap menyambangi neuron sarafnya dan membujuknya masuk ke dalam dunia mimpi yang mampu memupuskan kelelahannya.


Ya. Serafina Moon mungkin adalah jalan yang akan membantunya untuk melakukan penebusan dosa, melepaskan semua beban, sebelum kemudian menyerahkan diri pada titik akhir.



Seorang pelayan membangunkan Sera pagi-pagi sekali hari itu. Mereka langsung membuka jendela dan menyilaukan mata Sera dengan cahaya matahari, lalu membantu Sera berdiri, menggiringnya untuk mandi , berpakaian dan membantunya supaya bersiap-siap dengan koordinasi seperti robot, tidak peduli bagaimana Sera kebingungan mendapati dirinya terbangun dengan berada di dalam kamar yang sama dengan yang dulu pernah ditempatinya terakhir kali di rumah milik Xavier ini.


Ketika Sera sudah siap, dirinya melihat bahwa  para pelayan itu sudah menyiapkan baju dan segala peralatannya. Mereka juga mengemas pakaian-pakaian di dalam koper yang entah milik siapa dan menyiapkannya untuk Sera.


Apakah koper itu disiapkan untuknya? Mereka akan pergi kemana?


Sayangnya, tidak ada kesempatan bagi Sera untuk mendapatkan jawaban pertanyaan, karena setelahnya, tanpa memberikan kesempatan kepada Sera untuk bertanya ataupun membantah, mereka menggiring Sera melalui lorong panjang menuju area depan rumah yang tampak seperti ruang tamu luas dengan jendela-jendela kaca besar di semua sisi yang membuat binar matahari bisa masuk dengan bebas membidas lapisan kaca dan menerangi seluruh penjuru ruangan.


Xavier berdiri di sana, mengenakan setelan gelap yang kontras dengan kilau aura yang seolah menerangi seluruh tubuhnya. Lelaki menoleh ketika mendengar suara langkah Sera mendekat, lalu memasang senyumnya ketika melihat kehadiran Sera di dekatnya.


Dengan bermandikan cahaya matahari, Xavier mengulurkan tangannya ke arah Sera, meminta untuk disambut.Dan sekali lagi, Sera menolak uluran tangan itu. Dia menyembunyikan tangannya di belakang punggung untuk menunjukkan pembangkangannya, lalu kembali menatap Xavier dengan sikap curiga.


Matanya melirik ke arah koper-koper yang disiapkan, lalu dia bertanya.


“Kita akan pergi kemana?”


Xavier menarik kembali tangannya yang ternafikan, lalu menjawab dengan suara tenang penuh arti.


“Kita akan berangkat ke Rusia. Untuk mengunjungi keluarga yang telah lama hilang.”


Perkataan Xavier membuat Sera membelalakkan mata. Tidak perlu penjelasan lagi karena Sera langsung bisa mengerti artinya. Keluarga Dawn bersembunyi di Rusia, dan Xavier akan mengunjungi mereka.


"Apa... apa yang akan kau lakukan?" bibir Sera bergetar ketika dia memberanikan diri untuk bertanya.


Xavier menyeringai, ekspresinya yang gelap tampak kontras dengan  tubuhnya yang bermandikan pendar terang matahari.


"Aku akan membebaskanmu Serafina Moon." Mata Xavier berkilat keji seolah-olah tak sabar untuk menyimbahi tangannya dengan darah. "Dengan begitu, aku juga akan membebaskan diriku sendiri." sambungnya dengan nada misterius yang entah kenapa menyiratkan pedih menyembilu.


 




 


Terima kasih untuk Vote Poin, Like, Komen, Rating bintang lima dan Koinnya.


Dan yang paling penting, dukungan tulus semangat dari kalian semua adalah yang utama.


Karena sudah ada fitur grup chat di Noveltoon ( di Mangatoon belum ada ) maka Author akan membuat pengumuman upload naskah, update jadwal up dan semua hal yang berhubungan dengan novel di grup chat author. Silahkan bergabung di sana ya.


Jika suka cerita romance fantasi, baca juga novel baru author berjudul INEVITABLE WAR yang sekarang sudah dipublish di Mangatoon, ya. Untuk berkunjung, silahkan cari judul "INEVITABLE WAR" di kolom pencarian, atau klik profil author ---> pilih "KARYA' ---> Scroll ke paling bawah ----> Di bagian Contribution, ada judul-judul Novel karya author di mangatoon, dan silahkan klik cover novel INEVITABLE WAR


Thank You. By AY

__ADS_1


 


 


__ADS_2