Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
EOTL eps 36 : Kepatuhan Sera


__ADS_3

Wajah Pramugrari itu langsung pucat menerima kalimat perintah Xavier yang diucapkan dengan nada membekukan udara. Sejenak, dia seolah kesulitan mencerna perkataan Xavier. Kepalanya lalu beralih, menoleh ke arah Sera dengan kening berkerut bingung, lalu kembali lagi menatap ke arah Xavier seolah tak enggan untuk pergi. Sinar matanya menyinarkan harapan supaya dirinya yang dipilih untuk menemani Xavier, bukannya malah dikalahkan oleh seorang perempuan bertubuh tak seksi yang tentu saja kecantikannya sangat jauh di bawahnya.


Sayangnya, Xavier sama sekali tak mengubah sikapnya. Lelaki itu malahan melempaskan tatapan gusar ke arah pramugrari wanita yang tak mau pergi tersebut, lalu memberikan isyarat tangannya dengan gerakan kasar.


“Enyahlah!” gertak Xavier geram yang seketika membuat tubuh pramugari itu terkesiap dan otomatis bergerak bangkit dari duduknya di samping Xavier.


Mata Xavier memberi isyarat ke arah beberapa bodyguardnya yang langsung bergerak sigap mendekati pramugrari itu dan mengawalnya di sisi kiri dan kanan tubuhnya, lalu menghelanya pergi dari ruangan itu.


Setelahnya, Xavier yang sedang duduk santai di sofa tersebut mengulurkan tangannya ke arah Sera sambil berucap dengan nada lembut berbalur sensual,


“Moya zhena, moya zaya,”” panggil Xavier pelan, meminta Sera mendekat.


Sera menelan ludah mendengarnya. Mau tak mau, jantungnya berdetak lebih kencang karena dia memahami arti kata yang diucapkan oleh Xavier tersebut. Itu adalah jenis panggilan sayang yang lazim di negara ini yang digunakan untuk memanggil wanita yang dicintai. Istriku, kelinciku. Kurang lebih seperti itulah artinya.


Ketika Sera malah mematung dan tak juga bergerak, Xavier malahan semakin menyiratkan sinar nakal di matanya. Tangannya bergerak, menepuk-nepuk pahanya.


“Kemari. Duduklah di pangkuanku,” perintahnya dengan nada tegas yang menyelipkan ancaman.


Sera melebarkan mata, sama sekali tak menyangka bahwa Xavier akan memberikan perintah kurang ajar itu di hadapan Aaron.


Tetapi, ini memang sudah menjadi ciri khas Xavier, bukan?


Lelaki itu sangat suka memprovokasi orang lain, jiwanya jahat dan suka membuat orang tak berdaya menderita tanpa bisa berbuat apa-apa.


“Kau sudah lama tak bertemu dengan Aaron dan aku cukup berbaik hati membiarkan kalian melakukan reuni. Tentunya, kau harus melakukannya sambil duduk di pangkuan suamimu ini,” Xavier menyeringai, tetapi nada suaranya semakin tajam, membuat Sera sadar bahwa tak ada kesempatan baginya untuk menolak.


Sambil menelan ludah, Sera akhirnya bergerak mendekat, lalu menyambut uluran tangan Xavier yang langsung menariknya supaya jatuh terduduk di pangkuan lelaki itu.


Xavier menahan Sera dengan lengannya yang kuat, sementara tangannya menarik Sera supaya semakin merapat kepadanya.


“Apakah kau tak ingin mengucapkan salam kepada Aaron?” pancing Xavier perlahan. Tangannya bergerak, mengarahkan dagu Sera perlahan supaya menghadap ke arah Aaron. “Mungkin ini menjadi kesempatan terakhir kalian untuk bercakap-cakap sebelum aku memutuskan untuk membunuh Aaron,”


“Xavier!” Sera menyela cepat, mendesahkan kalimatnya dengan panik dan penuh ketakutan. “Jangan,” bisiknya lagi dengan ngeri.


Sikap Sera yang ketakutan jika Aaron sampai dilukai malahan menyulut kemarahan Xavier. Lelaki itu melemparkan pandangan pada Aaron yang duduk kaku dengan wajah pucat dan tubuh gemetaran, memberikan tatapan tajam ke arahnya.


“Tidakkah kau senang, Aaron? Istriku ini masih saja mencemaskan keselamatanmu.” Xavier menyeringai, sengaja menunjukkan secara tersirat kepada Aaron bahwa Sera sama sekali belum tahu skandal hubungan Aaron dengan Anastasia yang menyebabkan Anastasia hamil lalu terdorong untuk menjebak Akram menjadi suaminya.


Kenyataan bahwa Sera masih mempedulikan Aaron menunjukkan bahwa Sera bahkan tak tahu kalau Aaron juga terlibat dalam upaya memperalat Sera untuk dijadikan alat membalas dendam kepada Xavier.


“Itu sangat bagus. Karena istriku masih mencemaskanmulah, maka nyawamu masih berharga untuk dipertahankan,” sambung Xavier kemudian.


Sera menelan ludah, hawa di dalam ruangan ini entah kenapa jadi begitu menyesakkan, seolah-olah Xavier menyedot semua oksigen yang tersedia dan menggantinya dengan udara beracun yang menguar dari auranya.


“Tapi itu tak akan berlangsung lama. Akan ada saatnya dimana aku tak perlu menggunakanmu lagi untuk menahan istriku tetap bersamaku, karena dia akan memilih berada di sisiku secara sukarela.” Kembali Xavier berucap lambat-lambat dengan mata tertuju tajam ke arah Aaron yang tak mampu berbuat apa-apa.


Tangan Xavier lalu bergerak menyentuh dagu Sera kembali, kali ini mengarahkan wajah Sera yang terpaku bingung ke arah Aaron untuk kembali menatap kepadanya.


“Kau akan menjadi istri yang penurut, kan?” tanya Xavier dengan nada tajam mengiris.


Sera tak bisa berbuat apapun selain menganggukkan kepalanya. Dia tahu bahwa Xavier sengaja menyuruh Aaron duduk di sini, di depan mereka, untuk mengintimidasinya dan memperingatkan dirinya supaya patuh.


“Katakan dengan jelas.” Xavier memerintah ketika Sera tak mengucapkan apapun selain memberikan isyrarat persetujuan.


Ada nada gusar terselip di sana, membuat Sera buru-buru membuka mulutnya untuk menjawab,


“Ya, Xavier,” ucapnya sedikit tersendat.


Xavier tersenyum dan Sera tahu dari sinar mata lelaki itu, bahwa lelaki itu jauh dari selesai. Skema provokatifnya sudah pasti lebih kejam dan lebih mengerikan daripada hanya sekedar memaksa Sera dan Aaron bertemu di bawah ancaman tanpa bisa berkomunikasi dengan benar.


“Bagus. Aku suka istri yang penurut, seperti yang kau tunjukkan di malam pertama kita, di sepanjang pagi dan di sesiangan yang kita habiskan di atas ranjang.” Xavier berucap vulgar, matanya melirik ke arah Aaron yang terkesiap mendengar kalimat Xavier tersebut. Sementara itu, tanpa belas kasihan, Xavier malahan terus mendera Sera yang wajahnya sudah merah padam karena malu tak terkira. “Baru sebentar saja tak menyatu denganmu, aku sudah rindu. Kau tentu tak keberatan untuk mencium suamimu ini, bukan?” pintanya cepat.


Sera terkinjat dari duduknya, matanya membeliak sementara bibirnya gemetar ketika berucap, dipenuhi oleh keterkejutan yang amat nyata.


“M-mencium?” ulangnya, bertanya kembali dengan nada tak percaya.


Seulas senyum kurang ajar langsung dihadiahkan oleh Xavier kepada istrinya mendengar pertanyaan itu. Lelaki itu menggerakkan telunjuknya ke bibirnya sendiri, lalu mengusap bibirnya dengan provokatif.


“Ya, mencium. Di bibir,” jawabnya dengan nada tak tahu malu.


Sera melirik ke arah Aaron yang sama tercengangnya dengan dirinya. Dia lalu menoleh kembali ke arah Xavier, seolah berharap Xavier hanya bercanda.


“D-di tempat ini?” tanyanya lagi.


Xavier berdecak, seolah tak sabar. “Kenapa kau harus ragu? Sudah biasa jika seorang istri mencium suaminya. Ayo, lakukanlah,” perintahnya dengan nada provokatif.


Kembali Sera menelan ludah, sementara jantungnya berdetak antara rasa takut bercampur antisipasi. Dia tahu pasti bahwa inilah bentuk kekejaman Xavier yang sesungguhnya, memaksa Sera menunjukkan penyerahan dan merendahkan dirinya tepat di depan mata Aaron secara langsung.

__ADS_1


Tetapi, seberapapun Sera marah dan ingin memberontak, dia tahu bahwa dia tak bisa membantah apapun yang diperintahkan oleh Xavier kepadanya.


Sebelah tangan Sera bergerak mencengkeram kain kemeja Xavier untuk menjaga keseimbangan tubuhnya yang masih duduk di atas pangkuan lelaki itu, kepalanya menengadah kemudian, menatap ke arah Xavier dengan tatapan ragu luar biasa.


Sayangnya, hal itu sama sekali tak menyentuh hati Xavier. Lelaki itu menunduk, menggesekkan ujung hidungnya ke hidung Sera, sementara bibirnya yang mengular senyum terbuka, sengaja berbisik tepat di depan bibir Sera, mengembuskan napas panas nan menggoda.


“Kau bisa menciumku, bukan? Atau kau butuh bantuan untuk melakukannya?” tanya Xavier dengan nada serak penuh arti.


Sera menelan ludah. Dia tahu bahwa Xavier akan menantangnya sampai batas akhir, memprovokasinya dengan kejam sampai di titik dimana Sera tak berdaya dan kalah.


Tetapi, untuk kali ini Sera tak akan menyerah. Jika Xavier ingin Sera menciumnya, maka Sera akan menciumnya. Biar lelaki itu tahu rasa ketika nanti menyadari bahwa Sera juga bisa membuatnya terbuai dalam ciuman!


Dengan tangannya, Sera meraih kemeja Xavier, menarik kain kemeja itu untuk membuat lelaki itu membungkuk dekat ke arahnya, sebelum kemudian bibirnya yang gemetaran menyambar bibir lelaki itu dan langsung menciumnya.


Sera masih bisa merasakan bibir Xavier yang mengulas senyum lebar ketika menerima ciuman darinya. Lelaki itu seolah sengaja berdiam sejenak dan membiarkan Sera berbuat sesukanya, menikmati ketika bibir Sera yang tak berpengalaman mencoba-coba mencicipi rasa dirinya.


Tapi sikap acuh Xavier tak berlangsung lama, sebab ketika dirasakan napas panas Sera berpadu dengan gerakan ciumannya yang gugup, ditambah lagi dengan tubuh mungil perempuan itu yang merapat kepadanya dengan erat, batas pertahanan Xavier akhirnya rubuhlah sudah.


Lelaki itu menggerakkan sebelah tangannya untuk menangkup belakang kepala Sera dan mendorong perempuan itu untuk memperdalam ciumannya. Bibirnya terbuka, memberikan akses pada Sera untuk menjelajah masuk, sementara lidahnya bergerak provokatif, merayu, menggoda dan mengajak Sera hanyut ke dalam keahlian dan bimbingan cara menciumnya yang sangat hebat.


Dua sejoli itu lupa diri, tenggelam dalam perpaduan bibir yang membuat senyar menjalari tubuh, membuat perukjan makin erat dan perpaduan kulit makin rapat, lupa kalau ada orang lain di dalam ruangan ini.


Lama kemudian, ketika Xavier akhirnya melepaskan ciuman mereka, Sera hanya bisa terengah, berusaha menetralkan napasnya dan tubuhnya yang bergolak. Bahkan Sera sendiri tak mengerti apa sebenarnya yang sedang terjadi pada dirinya. Dia terus berusaha menguatkan hati, menjaga pikirannya supaya tetap waspada dan membenci Xavier, sayangnya tubuhnya berkata lain, selalu luluh lantak ketika lelaki itu menggunakan keahliannya bermesraan untuk merayunya.


Lelaki itu berhasil memantik sesuatu di dalam diri Sera yang tak pernah bisa dinyalakan orang lain. Hal itu sangat berbahaya, karena membuat Sera lengah, dikuasai oleh kebutuhan jasmani hingga seolah tak menjadi dirinya lagi.


Tangan Xavier bergerak, merangkul perempuannya dan menangkupnya dalam pelukan untuk menjaga tubuh Sera yang sedikit limbung supaya tidak terjatuh dari pangkuannya. Sementara itu, matanya beralih menatap Aaron yang menundukkan kepala, tampak begitu jengah melihat adegan kemesraan suami istri yang dengan sengaja dipamerkan di depan matanya.


“Kurasa sudah waktunya kau menyingkir, Aaron. Aku ingin bercinta dengan istriku.” Xavier memeluk Sera erat-erat, lalu memberi isyarat ke arah para bodyguard-nya. “Bawa dia pergi, tutup semua akses ruangan, tinggalkan kami berdua,” perintahnya dengan nada tegas menyeramkan.


Pada bodyguard itu sudah terlatih untuk bergerak seperti robot. Mereka dengan sigap langsung mengawal Aaron dan menarik lengan lelaki itu supaya berdiri, menjaganya di sisi kiri dan kanan sehingga tak ada yang bisa dilakukan oleh Aaron selain mengikuti seretan orang-orang bertubuh kekar dan berjas hitam dengan ekspresi wajah kaku itu.


Para bodyguard tersebut kemudian menarik roller blinds warna pekat untuk menutup akses pemandangan menembus pintu kaca , lalu melangkah keluar dari ruangan itu setelah menutup pintu rapat-rapat di belakang mereka, meninggalkan atasan mereka hanya berdua dengan istrinya.


Sera membeliak, hatinya menjerit karena dirinya tak bisa berbuat apapun ketika melihat Aaron diseret pergi begitu saja oleh para bodyguard Xavier. Ingin rasanya dia melakukan sesuatu untuk menyelamatkan Aaron, tetapi dia tak berdaya.


Lagipula, saat ini ada sesuatu yang lebih berbahaya di dekatnya dan mengancam akan menguras habis seluruh kekuatannya, itu adalah suaminya yang sedang sangat berhasrat kepadanya dan ingin bercinta dengannya sekarang juga.


Astaga. Lelaki ini seperti musafir dipadang pasir yang tersiksa rasa haus dalam perjalanan panjangnya, hingga ketika mendapatkan air untuk memuaskan dahaganya, rasa puasnya tak mencapai ujung, ingin terus dan terus minum lagi.


Xavier bahkan sudah mengalihkan tubuh Sera supaya berbaring di atas sofa besar itu, melingkupi tubuh Sera dengan membungkuk di atasnya, memerangkapnya supaya tak bisa lari.


Bagaimana jika ada orang masuk dan melihat mereka sedang bermesraan?


Xavier rupanya memperhatikan kecemasan Sera. Lelaki itu menyentuh dagu Sera dan dengan lembut memalingkan wajah Sera yang semula fokus menatap ke arah pintu hingga menatap langsung ke matanya.


“Mereka sudah diberi perintah, tidak akan ada yang berani melanggarnya. Tidak akan ada yang berani mengganggu kita.” Xavier menghadiahkan kecupan lembut di bibir Sera, menghentikan semua kalimat protes yang dia tahu hendak meluncur dari sana. “Shhh, diamlah dan nikmati saja. Kau ingin segera mengandung anakku, bukan? Biarkan aku melakukan tugasku dengan baik,” bisiknya menggoda, dipenuhi oleh hasrat mendesak dan tak sabar ingin dipuaskan.


***


Selama perjalanan dalam pesawat ini, Aaron memang diperlakukan secara manusiawi. Jelas terlihat bahwa Xavier memang ingin menjaga agar nyawanya tetap terpasang ditubuhnya. Dia mendapatkan perawatan medis kelas satu untuk menetralkan tubuhnya dari efek gas beracun merusak yang sempat dihirupnya, bahkan ketika dibawa untuk berangkat menggunakan pesawat jet ini, Aaron masih dirawat di rumah sakit untuk pemulihannya.


Mungkin Sera yang meminta kepada Xavier supaya dia tidak dilukai.


Saat ini, Aaron dikurung dalam sebuah ruangan sempit, mungkin hanya seluas dua kali satu meter, sebuah ruangan tanpa perabotan, hanya terdiri dari empat dinding dengan lantai beralaskan karpet tebal warna beige yang empuk.


Ruangan ini hanya bisa digunakan untuk duduk, atau tidur meringkuk jika dia memang ingin tidur.


Tetapi Aaron tak bisa tidur, dia duduk diam sejak tadi di sudut ruangan dalam kekalutan. Otaknya berputar keras, mencari jalan untuk menyelamatkan nyawanya dari cengkeraman Xavier yang kejam.


Lelaki itu telah meracuninya, itu berarti nyawa Aaron hanya bergantung kepada Xavier. Hal itu sama saja nyawanya sedang berada di ujung tanduk, bisa tercabut kapan saja jika dia tidak berhati-hati.


Yang paling jelas, Seralah yang menjadi kunci untuk menyelamatkan nyawanya. Xavier sendiri yang bilang bahwa Seralah alasan satu-satunya bagi Xavier untuk mempertahankan nyawa Aaron, karena saat ini Xavier menggunakan Aaron sebagai sandera untuk membuat Sera patuh kepadanya.


Itu berarti, kepatuhan Sera dan kecemasannya akan nyawa Aaron yang menjadi penentu keselamatannya. Jika nanti Xavier berhasil menguasai Sera dalam pesonanya lalu membongkar segala kebusukannya kepada Sera dan membuat Sera tak ingin melindunginya lagi, saat itulah kematian akan menjemput nyawa Aaron seketika.


Aaron tak mau mati. Dia masih punya banyak mimpi di masa depan yang ingin diraihnya.


Selama ini, dia telah mengumpulkan hartanya mati-matian untuk hidup enak di masa depan. Diam-diam, dia bahkan telah mengalihnamakan segala kepemilikan aset milik Roman Dawn atas namanya dan mengambil sebagian besar kepemilikan uang tunai Roman Dawn tanpa diketahui oleh lelaki tua itu.


Ya, Roman Dawn terlalu fokus pada usaha balas dendamnya sehingga terlalu mempercayai Aaron dan lengah ketika hartanya dicuri diam-diam di depan hidungnya sendiri.


Sekarang, setelah kematian Roman Dawn, jalan mulus Aaron untuk menguasai kekayaan keluarga Dawn bahkan semakin terbuka lebar. Hanya dialah salah satu pewaris Roman Dawn, itu berarti dia akan mendapatkan kastil, perusahaan dan berbagai aset berharga lain yang belum sempat dicuri atau dialihkan atas namanya.


Dengan semua hal itu, sudah jelas Aaron tak mau mati lebih dulu. Sudah sekian lama dia menahan diri, membungkuk, menjilat dan bersikap patuh di bawah sikap Roman yang arogan. Kini sudah tiba waktunya menuai hasil melimpah atas segala pengorbananya.


Aaron tak ingin mati konyol tanpa sempat menikmati semua kekayaan dan kemewahan yang sudah lama diidam-idamkannya.

__ADS_1


Kesempatannya untuk menyelamatkan diri sangatlah sempit. Dia harus bergerak cepat selagi Sera masih mempercayai dan berpandangan positif kepadanya. Dia harus segera memanfaatkan Sera selagi perempuan polos itu masih belum mengetahui kedok kebusukannya.


Aaron tahu bahwa sekarang dia sedang berpacu dengan waktu, berkejaran dengan Xavier yang sedang berusaha menjatuhkan Sera kedalam pesonanya dan memaksa perempuan itu beralih pihak untuk mendukung Xavier.


Saat ini, Sera harus berpihak kepadanya.Dia akan melakukan segalanya untuk menyelamatkan nyawanya sendiri. Bahkan jika itu harus mengorbankan Sera. Aaron tak peduli karena sejak dulu, Sera hanyalah salah satu pion untuk memuluskan jalannya.


Pada saat Aaron sedang berpikir keras, pintu ruangannya tiba-tiba terbuka.


Aaron yang saat itu tengah duduk di sudut ruangan mendongakkan kepala dan matanya langsung bertemu dengan mata si pramugari perempuan yang tadi melayani mereka minum di ruang duduk pesawat jet tersebut sebelum kemudian diusir Xavier dengan kejam.


Pramugari itu memasang wajah tanpa ekspresi, sementara di tangannya terdapat nampan berisi paket makanan yang menguarkan aroma harum memenuhi ruangan setelah dipanaskan di dalam microwave.


“Makanan untukmu,” ucap pramugari itu dengan nada formal ke arah Aaron, lalu membungkuk untuk meletakkan nampan makanan tersebut ke atas karpet di area dekat kaki Aaron yang sedang duduk.


Setelahnya, pramugari itu langsung menegakkan tubuhnya kembali dan membalikkan tubuhnya hendak pergi.


Pada saat yang sama, seberkas pencerahan melintas di kepala Aaron, membuatnya secara impulsif bangkit dari posisinya duduk dan bergerak ke arah sang pramugari tersebut sambil menyerukan teriakan memanggil.


“Tunggu!” serunya cepat, berusaha membuat langkah pramugari itu tersendat.


 


 


***


***


***


 


 


REKOMENDASI NOVEL BAGUS DARI AUTHOR


JUDUL NOVEL : The Fragrance Of Frozen Plum Blossom


PENULIS : YOZORA


 


 


***


***


***


 


 


___PRAKATA DARI AUTHOR___


- Terima kasih atas sumbangan POIN yang digunakan untuk VOTE author sehingga EOTD bisa masuk ranking.


-Terima kasih atas dukungan semangat, favorite, like, poin, komentar, dan juga rating bintang limanya


- Baca novel lain author judulnya INEVITABLE WAR\, klik aja profil author\, lalu cari karya dan scroll bagian paling bawah.


- Kenapa tak ada gambar seperti dulu? Karena novel bergambar itu lama lolos reviewnya. Sementara\, novel tanpa gambar sangat cepat lolos reviewnya.


Jadi, author upload naskah polos tulisan doang tanpa gambar dulu, biar cepat lolos review dulu.


Kalau dah lolos dan bisa dibaca kalian, baru author edit dan ditambahi gambar ( kalau ga percaya, silahkan cek episode 1 sd 20 an, sudah full gambar visualisasi semua).


- Naskah per part selalu minimal 2500++ kata\, bahkan kadang lebih dan prakata author cuma 100++ kata. Biasakan membaca dengan terperinci yak.


 


 


Thank You


Yours Sincerely - AY

__ADS_1


 


 


__ADS_2