
Alat itu sudah datang di sore harinya dan Akram yang sudah tak sabar menanti, saat ini duduk sambil menyilangkan kakinya tak sabar, menatap ke arah Dimitri yang sedang berusaha mengoperasikan alat itu supaya bisa berfungsi sempurna.
“Kenapa lama sekali?” Akram menggeramkan kalimatnya kemudian, menatap Dimitri dengan tatapan menuduh yang kental. “Kau bilang alatmu itu sangat canggih. Tetapi, untuk mengoperasikannya saja butuh waktu begitu lama. Kau memang sedang kesulitan, atau kau sengaja mengulur-ulur waktu?” tuduhnya kemudian.
Dimitri mengerutkan kening, mengusap keringat dingin yang tiba-tiba saja mengaliri pelipisnya. Akram Night benar-benar memiliki temperamen buruk yang sangat jauh jika dibandingkan dengan Xavier Light yang meskipun penuh ancaman, tetapi selalu bersikap tenang dan penuh senyum.
Dimitri jadi bertanya-tanya, apakah ada wanita yang bisa tahan menghadapi temperamen Akram yang sangat buruk? Ditambah lagi dengan mulut pedasnya yang begitu menusuk ketika berucap, siapa yang tahan menerimanya setiap saat?
Dia tahu Akram punya istri, dan jika istri lelaki itu ternyata tahan dengan Akram, berarti wanita itu adalah wanita paling sabar di dunia.
“Biasanya aku mengoperasikan alat ini dengan bantuan teknisiku yang paling hebat. Kau tidak mengizinkanku membawa mereka ke negara ini, jadi saat ini, kau harus bersabar karena aku yang kurang ahli ini yang mengoperasikannya.”
Mencoba sedikit menentang, Dimitri menyanggah kalimat Akram.Meskipun begitu, hatinya terasa was-was, takut kalau Akram benar-benar kehilangan kesabaran, lalu memutuskan bahwa dirinya tak berguna lagi dan langsung meledakkan kepalanya.
Tidak. Dimitri tak ingin mati sekarang. Saat ini dia sudah berada di puncak kekuasaannya dan sedang memperluas jangkauan kekuatannya ke seluruh negeri. Banyak yang mengincar posisinya tapi tak punya kekuatan untuk melawannya. Jika sampai dirinya mati konyol hanya kerena telah salah menceburkan diri dengan urusan rumit di antara dua bersaudara yang mengerikan ini, maka orang-orang itu akan tertawa puas karena biasa merebut kursi pemimpin yang diduduknya dengan begitu mudahnya.
Tekad untuk hidup membuat Dimitri berjuang sekuat tenaga menjalankan alat itu, berusaha mendapatkan hasil secepat mungkin.
Lalu, ketika tampilan rumit di layar komputer di depannya bisa terbaca, keningnya berkerut dan tubuhnya menegang saat memberitahukan hasil pelacakan Sabina dari alat itu.“
Sabina ada di rumah sakit ini!” Serunya setengah terkejut, sama sekali tak menyangka kalau Sabina akan sebodoh dan senekad itu untuk datang kemari.
***
Seorang Cleaning Service menggeser meja tempat nampan sisa makanan Sera, membuat Sera terlonjak karena terkejut. Tubuhnya yang tadinya bersandar lunglai di punggung sofa langsung menengang, bergerak untuk duduk tegak di sana.
“Ma-maafkan saya, Nyonya.” gadis Cleaning Service yang bertugas itu membungkuk dalam, penuh rasa takut karena telah membangunkan Sera.
Sera langsung menganggukkan kepala, memasang senyum sambil menatap kasihan pada gadis muda yang gemetar ketakutan itu.
“Tidak apa-apa. Terima kasih telah membangunkanku. Memang aku tak seharusnya tertidur.”
Perlahan Sera berucap, sengaja ingin menyingkirkan rasa bersalah gadis cleaning service itu. Kamar perawatan Xavier sangatlah hening, hanya ada suara mesin penunjang kehidupan yang terdengar konstan mengisi udara di sekeliling ruangan yang tertutup rapat dalam senyap.
Keheningan itu entah kenapa terasa damai, apalagi Sera menghabiskan waktunya dengan menghitung-hitung helaan napas Xavier yang teratur yang seolah menjadi musik pengantar tidurnya. Lalu entah kapan, Sera tertidur di atas sofa itu dengan lelap sampai gadis cleaning service itu datang mengganggu.
Gadis itu menganggukkan kepala, sikapnya tampak gugup, tangannya meremas-remas tongkat pel di tangannya, seolah merasa ragu. Hal itu membuat Sera mengangkat alis, dan akhirnya tak bisa menahan diri untuk bertanya.
“Ada apa?” Sera memiringkan kepala, matanya memindai gadis cleaning service itu dengan bingung.
Gadis itu melirik ke arah kamera pengawas yang ada di sudut ruangan, lalu menghela napas panjang dan berpindah tempat memunggungi kamera. Tangannya menggerakkan tongkat pelnya, berpura-pura mengepel lantai hingga Sera mengerutkan kening melihat tingkah anehnya.
“Nyonya, maafkan saya….” Gadis itu berucap kembali sambil melirik takut-takut ke arah kamera pengawas. “T-tadi seorang perempuan menemui saya di lantai satu, dia memberikan uang dalam jumlah besar asalkan saya mau menyampaikan pesan kepada Anda.” Gadis itu berbisik lirih, masih berpura-pura mengepel. “M-maafkan saya, uang yang ditawarkannya sangat besar… jadi saya menerimanya. Saya… saya hanya harus menyampaikan ini kepada Anda….” Suara gadis itu terhenti, tertelan di tenggorokannya.
Keingintahuan langsung menyeruak dalam benak Sera, membuatnya kembali bertanya, “Pesan apa?”
“Pesannya singkat, Nyonya, perempuan itu bilang kalau dia ingin bertemu Anda di area taman parkir lantai dasar area 52P. Dia berpesan, seseorang yang bernama Aaron bisa celaka kalau Anda terlambat.”
Sera tertegun mendengar perkataan gadis cleaning service ini.
Seorang perempuan? Sabina?
“Nyonya….” Suara gadis cleaning service itu berubah gemetaran karena ketakutan. “P-perempuan itu bilang kalau… kalau Anda tak boleh mengatakan apapun kepada siapapun… k-karena nyawa Aaron bisa terancam….”
***
Butuh waktu beberapa lama bagi Sera untuk mempertimbangkan semuanya. Dia masih tertegun dengan pikiran kalut, bahkan ketika gadis cleaning service pengantar pesan itu sudah meninggalkan ruangan.
Perempuan yang dimaksudkan oleh gadis cleaning service itu pastilah Sabina.…
Tetapi, sungguh berani sekali bagi Sabina untuk datang ke rumah sakit ini, yang pasti dia tahu bahwa ada begitu banyak anak buah Xavier dan Akram Night yang terkonsentrasi di sini… belum lagi Dimitri. Mereka semua sedang mengejar dan melacak keberadaan Sabina yang katanya sangat ahli bersembunyi.
Tetapi, kenekatan Sabina datang ke tempat ini, sudah pasti didorong oleh sesuatu yang sangat penting. Entah perempuan itu terlalu percaya diri, entah mungkin dia terdesak oleh situasi genting.
Apakah… Aaron berada dalam bahaya? Mungkinkah nyawa Aaron sedang terancam… karena racun yang diberikan oleh Xavier?
Sera menelan ludah, dilanda kebimbangan tak terperi. Berkali-kali dia menghela napas panjang, bingung hendak melakukan apa. Tubuh Sera lalu bangkit dari posisinya duduk dan beranjak berjalan ke arah tempat tidur Xavier. Mata Sera terpaku pada sosok Xavier yang terbaring dengan mata tertutup rapat di atas ranjang, sama sekali tak bergerak, seolah-olah kesadarannya ditarik jauh ke dalam dan ditidurkan paksa oleh Dokter Nathan.
Sera menarik napas panjang, lalu mengambil keputusan.
Jika dia memang berniat membuka hatinya kepada Xavier, maka dia harus menyelesaikan segala urusannya dulu dengan Aaron, setidaknya, ketika dia sepenuh hati melangkah ke jenjang yang baru, tidak ada beban hutang budi dan rasa bersalah lagi yang menggayuti kakinya.
“Xavier…. Aku harus turun untuk menyelamatkan Aaron, kau tahu… aku harus membalas budi karena selama ini, dia adalah penyelamatku.” Sera berbisik lembut. “Tapi… tapi kau tak perlu khawatir. Aku tak akan mengkhianatimu. Aku… aku pasti kembali.” Sera berucap perlahan, memohon izin dengan suara gemetaran. Lalu, dia akhirnya memilih mengabaikan peringatan Dokter Nathan dan bergerak maju, mendekat ke tepi ranjang lelaki itu dan membungkukkan tubuh untuk menghadiahkan kecupan lembut di dahi Xavier.
“Aku pasti kembali.” Sera mengulang janjinya, sebelum kemudian melangkah mundur, membalikkan tubuh dan meninggalkan ruangan itu tanpa menoleh lagi.
***
__ADS_1
Jangan pergi.
Meskipun dia dibius dan didorong pada kondisi tak sadarkan diri, entah kenapa setelah sempat terbangun dan mendapatkan penanganan Nathan tadi, Xavier bisa mendengar semua yang dikatakan oleh Sera.
Indra pendengarannya berfungsi dengan sangat baik. Dia mendengar semuanya, bahkan dia bisa merasakan kecupan lembut Sera di dahinya. Seluruh batinnya meneriakkan permintaannya dengan keras, sayangnya, tubuhnya yang dipaksa tidur, tidak bisa memberikan respon, tak mampu bergerak, apalagi mengeluarkan suara.
Jangan pergi, Sera.
Xavier berusaha bangkit dan memperoleh kesadaran ragawinya kembali, ingin memberikan teriakan peringatan untuk mencegah Sera pergi.
Jangan pergi. Itu jebakan. Jika kau tak bisa melaluinya, kau akan celaka!
Teriakan peringatan itu terus bergaung, menggema berulang dalam echo yang konstan tanpa henti. Sayangnya, suaranya hanya memenuhi alam bawah sadar Xavier sendiri, tak bisa diteriakkan dan tak bisa sampai ke telinga Sera.
Perempuan itu tak mendengar apapun, karena setelah mengecup dahinya dengan janji yang diragukan oleh Xavier, tubuh Sera berlari pergi, menghilang di balik pintu yang tertutup rapat.
***
Sabina mondar-mandir tanpa henti di area sudut taman dekat tempat parkir nomor 52P yang dipilihnya sebagai tempat pertemuannya dengan Serafina Moon.
Tempat ini berada di ujung, tertutup pepohonan rimbun dan merupakan satu dari sedikit area di kompleks rumah sakit ini yang tidak terpantau oleh kamera pengawas, dan sangatlah sepi. Sabina bisa melihat siapapun yang datang kemari karena di hadapannya terbentang luar hamparan parkir tanpa penutup yang sangat lebar. Itu akan sangat membantunya, karena siapapun yang menyergapnya dari depan, dia bisa langsung melihatnya.
Sementara itu, bagian belakangnya adalah taman besar yang dipenuhi dengan pepohonan. Sabina memang tak bisa melihat siapa yang datang menyergap dari belakang. Tetapi, dia sudah memeriksa seluruh area taman itu sebelum memutuskan untuk menggunakan area parkir ini sebagai tempat pertemuan. Area taman itu aman dan kosong, bahkan Sabina berencana untuk menggunakannya sebagai tempat melarikan diri untuk menyelinap dan bersembunyi jika sampai terjadi sesuatu yang mendesaknya dan mengharuskannya lari.
Tetapi, sepertinya sampai dengan detik ini, semua baik-baik saja. Tidak ada pengamanan berlebihan, tidak ada penyergapan atau penjagaan ketat di rumah sakit ini. Itu semua karena Sabina yakin, bahwa semua orang tak ada yang menyangka kalau Sabina akan nekad menantang bahaya dan mendatangi rumah sakit ini.
Misi pertamanya untuk memastikan kondisi Xavier sudah terlaksana, dia tahu bahwa Xavier dirawat di lantai VVIP khusus rumah sakit ini dalam penjagaan ketat. Itu berarti, lelaki itu masih hidup dan tujuan awal Sabina untuk menguasai Xavier di bawah cengkeraman pesonanya, masih bisa terlaksana.
Sekarang, tinggal dia membujuk si bodoh yang menghalangi jalannya untuk memiliki Xavier.
Serafina Moon.
Dia harus membuat wanita itu tersingkir sekaligus bersama dengan Aaron, supaya jalannya bersih dari cacing-cacing pengganggu yang membuat langkahnya tersendat untuk memiliki Xavier.
Serafina Moon dan Aaron Dawn sangat cocok untuk jatuh bersama di kubangan dalam yang menenggelamkan mereka hingga tak bisa selamat lagi. Dua pasangan bodoh, memang paling cocok mati bersama.
Sembari melamun, Sabina tetap waspada dengan sekelilingnya. Karena itulah, ketika menyadari ada orang yang mendekat ke arahnya, Sabina langsung menggenggam erat pistol di tangannya dan bersiap siaga.
Ketegangannya agak melemas ketika matanya menemukan siapa sosok yang datang mendekat itu.
Serafina Moon.
***
Apa sebenarnya yang menarik dari wanita kurus dan pucat ini?
Sabina tak habis pikir kenapa Xavier repot-repot menikahi makhluk seperti itu. Wanita-wanita seperti Sera ini, seharusnya langsung dibuang saja setelah dipakai, karena tak ada nilai lebih di penampilan fisiknya.
Sera melangkah semakin mendekat, lalu berhenti di jarak aman dari tempat Sabina berdiri. Perempuan itu tentu tahu bahwa ada pistol yang lekat di tangan Sabina, siap untuk dibidikkan sewaktu-waktu.
Mungkin bukan keputusan yang tepat datang kesini seorang diri menemui Sabina tanpa perlindungan sama sekali….
Sera berpikir dengan cemas, langsung teringat kembali akan apa yang pernah diperingatkan oleh Xavier kepadanya.
Sabina adalah anak buah Dimitri yang sangat berbahaya, dia bisa membunuh tanpa belas kasihan kalau dia mau….
“Kenapa kau memanggilku kemari?” Sera akhirnya memberanikan diri memulai percakapan. Dia masih berdiri dengan jarak yang cukup jauh dari Sabina, untuk melindungi dirinya.
Mata Sabina memindai Sera dari ujung kaki sampai ujung kepala.“Aku membawakan pesan Aaron untukmu.” Sabina berucap perlahan-lahan, penuh perhitungan.
Kening Sera berkerut dalam. “Kenapa kau membantu Aaron? Bukankah kau baru mengenalnya di atas pesawat itu? Tetapi mereka bilang bahwa kau menolong Aaron melarikan diri dari tahanan Xavier. Apa sebenarnya motivasimu melakukannya?” Dengan cepat, sebelum pembicaraan berlarut-larut kemana-mana, Sera langsung menanyakan hal yang paling mengganjal di dalam benaknya.
Sabina menyeringai mendengar pertanyaan Sera itu. Dia memutuskan untuk berterus terang saja. Toh mereka bisa bekerjasama dan akhirnya sama-sama untung, bukan?
“Aku menginginkan suamimu, Xavier Light.” Sabina menjawab dengan angkuh dan penuh percaya diri. “Hanya akulah wanita yang paling cocok untuk mendampingi seseorang dengan kharisma sekuat Xavier Light. Kau sendiri, bukankah kau tak menyukai suamimu dan ingin melepaskan diri darinya? Kau ingin bersama Aaron, bukan?” Sabina menatap Sera dengan tatapan tajam sedikit sinis. “Jadi, disinilah aku. Aku menawarkan kerjasama denganmu. Aku akan membantumu menyelamatkan Aaron, lelaki itu diracun oleh Xavier, tetapi menurutku, akan mudah bagimu untuk mencuri penawarnya dari suamimu itu nanti setelah dia sembuh. Selama proses itu, aku berjanji akan melindungi Aaron dalam penantiannya akan pertolonganmu. Sebagai ganti atas perlindunganku terhadap Aaron, setelah kau mendapatkan penawar racun untuknya, kau harus meninggalkan Xavier dan pergi bersama Aaron menghilang dan tak muncul lagi. Aku juga akan membantu proses menghilang kalian dengan mulus. Aku punya banyak sekali koneksi yang bisa memuluskan jalan kalian. Kau dan Aaron bisa hidup bahagia di sebuah tempat yang damai tanpa gangguan lagi. Sementara itu, tinggalkan Xavier bebas seorang diri, sehingga bisa kumiliki.”
Sera melebarkan mata. Sabina mengucapkan semuanya seolah-olah itu adalah hal yang mudah dan remeh untuk dilakukan. Padahal, kenyataannya tak semudah itu.
Semua langkah yang disebutkan oleh Sabina itu, membutuhkan pergulatan perasaan yang sangat sulit.
Mencuri obat penawar dari Xavier? Meninggalkan lelaki itu lalu melarikan diri bersama Aaron?
Sebelum pernikahan mereka dan kedekatan Sabina dengan Aaron, hal itu mungkin mudah untuk dilakukan karena saat itu Sera menganggap Xavier sebagai monster mengerikan yang pantas dihukum. Tetapi sekarang, setelah mengenal lelaki itu lebih dekat, mengetahui sisi manusianya, membuka mata terhadap deritanya, menyimpan empati terhadap rasa sakitnya…. Sera tahu bahwa dia tak bisa melakukannya.
Xavier sedang sakit dan membutuhkan Sera untuk menyelamatkan nyawanya. Aaron sedang keracunan dan membutuhkan penyelamatan dari Sera untuk mendapatkan penawar racun… semuanya terasa berat untuk dipilihnya, tetapi Sera harus memilih, tak ada alasan.
Sera menelan ludah, mencoba menguatkan hati sebelum kemudian menjawab dengan suara tegas.
__ADS_1
“Aku memiliki janji kepada Xavier Light yang tak bisa kuingkari. Tentang Aaron, aku akan mengusahakan supaya dia mendapatkan penawar racunnya. Hanya itu yang bisa kujanjikan.” Sera sekuat tenaga berusaha keras untuk mengeraskan hatinya yang lembut ketika memberikan jawaban.
Jawabannya itu menciptakan ekspresi tak senang di wajah Sabina. Mata perempuan itu menajam, menatap Sera dengan penuh kebencian.
“Kau perempuan tamak yang licik. Kau tak mau meninggalkan Xavier ya? Kau ingin memiliki dua laki-laki itu untukmu sendiri, jadi kau menggenggam kedua-duanya di dalam tanganmu!” Sabina berucap dengan geram. Perempuan itu tiba-tiba menodongkan pistolnya ke arah Sera. “Kurasa, aku harus menggunakan cara kedua. Melenyapkanmu. Kau bisa menjadi kunci bagiku untuk mencapai tujuanku, tetapi ternyata kau memilih menjadi penghalang terbesarku. Dan aku sangat suka jika bisa menyingkirkan penghalang terbesarku secepatnya.” Mata Sabina menyipit dan perempuan itu mulai membidik ke arah Sera.
Tubuh Sera menegang kaku, tak bisa bergerak sama sekali. Dia tahu bahwa tak ada gunanya baginya untuk mencoba melarikan diri. Sabina adalah anak buah Dimitri yang sangat ahli, itu berarti, perempuan ini memiliki keahlian menembak yang mumpuni. Jika dia mencoba lari pun, sudah pasti Sabina akan menembak punggungnya.
Mungkin, ini adalah jalan keluar yang terbaik. Kalau dia mati, dia tak akan menjadi pembawa sial lagi.
Sera memejamkan mata, merasa siap menyambut kematiannya.Tetapi kemudian, bukannya ditembak, malahan terdengar suara langkah yang bergerak mengelilinginya, membuat Sera langsung membuka matanya kembali karena bingung.
Entah bagaimana caranya, sudah ada puluhan manusia berjas hitam dengan ekspresi keras menakutkan dan tubuh tinggi kekar mengintimidasi, tampak mengepung mereka berdua, kesemuanya menodongkan pistol ke arah Sabina.
Lalu tiba-tiba saja, sosok tinggi mendekat di belakang Sera, menyentuh pundaknya hingga membuat Sera menoleh dan mendongakkan kepala ke belakang. Matanya langsung bersirobok dengan mata tajam milik Akram Night.
Tetapi, tatapan mata lelaki itu tidak setajam sebelumnya, menyiratkan kelembutan yang seolah mustahil ada di sana.
“Pergilah. Biarkan aku yang membereskan ini. Kembalilah pada Xavier. Dia memaksakan dirinya untuk tersadar lagi dan tak mau dibius kembali.”
***
“Obat penahan sakit yang masuk secara intravena ke tubuhmu tidak akan membantumu secara maksimal.” Dokter Nathan berucap dengan khawatir, berusaha meluluhkan kekeraskepalaan Xavier yang tak mau ditidurkan lagi.
Entah seperti apa kekuatan yang dimiliki oleh Xavier sehingga dia bisa melawan dosis obat tidur yang harusnya bisa menekan kesadarannya supaya tak naik ke permukaan. Lelaki itu tiba-tiba tersadar kembali, membunyikan seluruh alarm yang terpasang di mesin penunjang kehidupannya dan membuat Dokter Nathan berserta tim medis berlari-larian tergopoh-gopoh ke kamar perawatannya.
Lelaki itu lebih stabil ketika terbangun yang kedua kalinya. Tetapi, tetap saja rasa sakit yang begitu menghujam di luka bekas tusukannya akan terasa menyiksa di setiap helaan napasnya.
Xavier seharusnya tidur, bukan memaksakan diri seperti ini.
“Aku tidak apa-apa.” Xavier melepaskan masker oksigennya dan berusaha berbicara. “Di mana Sera?” tanyanya kemudian.
Dokter Nathan mengerutkan keningnya. “Di saat seperti ini, kau masih menanyakan Sera?” geramnya khawatir. “Kau sebaiknya memikirkan dirimu sendiri, Xavier.”
Senyum Xavier terulas tipis di bibirnya. “Aku sudah memikirkan semuanya. Aku akan kembali pada jalanku yang telah kutentukan di awal mula.”
“Apa maksudmu, Xavier?” Dokter Nathan menyambar cepat, merasakan firasat buruk dari perkataan lelaki itu.
“Aku akan membebaskan Serafina Moon dan menyambut kematianku sendiri.” Xavier mengucapkan kalimatnya dengan susah payah, tetapi nadanya penuh tekad. “Aku tidak perlu lagi anak darinya untuk menyelamatkan nyawaku. Panggil pengacaraku, aku akan menceraikannya dan memberikan… apa yang diinginkannya,” suara Xavier tersekat seolah menahan nyeri di dadanya. “Semua yang dia inginkan…. Bahkan penawar untuk Aaronnya pun, akan kuberikan.”
****
Hello.
Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.
Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD telah tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book.
Kata kunci di g00gle book :
Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt
Diterbitkan oleh projectsairaakira.
Bonus khusus 10 Part EOTD ekslusif hanya ada di Ebook sebagai berikut :
EOTD Bonus 1 : Morning Sick
EOTD Bonus 2 : Penyesalan
EOTD Bonus 3 : Anti Akram
EOTD Bonus 4 : Menjaga Jarak
EOTD Bonus 5 : Perpisahan
EOTD Bonus 6 : Memeluk Lagi
EOTD Bonus 7 : Rekonsiliasi
EOTD Bonus 8 : Permintaan Istr
EOTD Bonus 9 : Anugerah Terindah
EOTD Bonus 10 : Ayah Bahagia
Terima Kasih.
__ADS_1
AY