Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 58 : Rahasia


__ADS_3


Sekarang Elana mengerti kenapa Akram memintanya naik ke pangkuan. Sebab, dengan posisi mereka saat ini, wajah Akram jadi begitu dekat dengannya pun dengan tatapan Akram yang tajam menusuk ke arahnya.


Dengan posisi seperti ini, sama sekali tidak ada kesempatan bagi Elana untuk berbohong, sebab dari jarak yang sebegini dekat, Akram pasti akan bisa mengetahui kebohongan Elana dari ekspresinya yang tampak jelas.


Elana menelan ludah, bingung untuk mulai bicara dari mana guna menjawab pertanyaan Akram tersebut. Ada hal-hal yang tidak ingin diceritakannya kepada Akram, tetapi Elana sungguh bingung bagaimana menyembunyikan semua itu dari insting Akram yang tajam.


"Apakah Xavier berkata-kata manis kepadamu hingga membuatmu terbuai?" karena Elana tak juga berbicara, Akram langsung menebak dengan ekspresi muram dan hal itu malahan membuat Elana semakin gugup.


"Xavier sama sekali tidak berusaha merayuku. Dia... benar-benar hanya mengajakku berbicara," Elana akhirnya mampu menjawab dengan suara terbata.


Akram mengerutkan kening. "Berbicara tentang apa?" sambarnya cepat, nadanya menelisik. "Apakah dia berusaha menyanggah semua keburukannya yang kukatakan kepadanya? Apakah dia berusaha membela diri?" tebaknya cepat.


Elana menggelengkan kepala kuat-kuat.


"Ti... tidak! Xavier sama sekali tidak menyangkal, dia malah bilang bahwa semua yang kau katakan tepat adanya." serunya jujur.


Akram mengerutkan kening, merasakan ada yang tidak cocok dalam gambaran di benaknya. Dia mengenal Xavier, lelaki itu selalu bertingkah tanpa dosa, lemah lembut dan bertopeng malaikat di depan korban-korbannya untuk menipu mereka semua di permukaan.


Tetapi, kenapa di hadapan Elana, Xavier malah membuka topengnya dan mengakui seluruh keburukannya?


"Kalau begitu, apa lagi yang dikatakan oleh Xavier kepadamu? Dia sudah repot-repot memperdaya Elios dan Nathan demi bisa bicara berduaan denganmu. Tidak mungkin Xavier melakukan itu semua hanya untuk mengakui dosa-dosanya kepadamu, bukan?" suara Akram terdengar penasaran dan tak sabar, membuat jantung Elana jadi berdebar.


Sungguh, Elana tak ingin mengatakan tentang tawaran Xavier itu kepada Akram. Dia membutuhkan waktu untuk memikirkan semuanya dan Elana tahu pasti bahwa dia tidak akan bisa mendapatkan waktu berpikir kalau Akram belum-belum sudah mengetahui tentang hal itu.


"Xavier... eh... Xavier menceritakan tentang sesuatu yang bertentangan dengan apa yang kau duga..." tiba-tiba Elana teringat tentang bagian penting dari pembicaraannya dengan Xavier tadi dan langsung memutuskan untuk mengangkatnya ke permukaan guna menunda Akram mendapatkan kebenaran. "Dia bilang, semua hal yang dilakukannya selama ini adalah karena dia mencintaimu dan ingin melindungimu."


Pegangan Akram di tubuh Elana mengencang, pun dengan ekspresinya yang menegang seolah menahan marah.


"Mencintai dan melindungiku? Dan kau mempercayainya?" Akram menggeram sambil setengah mengguncang tubuh Elana. "Kau harus ingat, dia telah menghancurkan semua yang kucintai. Dia bahkan membuat kekasih pertamaku bunuh diri dengan cara yang brutal! Dia juga melakukan percobaan pembunuhan terhadapku berkali-kali. Bagaimana bisa logika manusia menerima bahwa itu semua adalah wujud dati cinta dan sikap ingin melindungi?"


"Tapi... tapi Xavier bilang..." suara Elana terhenti di tenggorokan ketika tatapan tajam Akram yang dipenuhi kemarahan menghujam ke arahnya.


Elana sebenarnya ingin mengungkapkan semua perkataan Xavier kepadanya tadi. Tentang Xavier yang sengaja memusuhi Akram demi menarik musuh-musuh tersembunyi Akram agar lengah dan memunculkan diri, tentang Xavier yang memiliki peran menggagalkan upaya pembunuhan Akram di detik terakhir dan masih banyak lagi. Bagaimanapun, segala penjelasan Xavier itu sesungguhnya bisa diterima dengan akal sehat hingga Elana sungguh ingin Akram mau mendengar serta mempertimbangkannya.


Tapi saat ini, Akram tampak seperti dinamit yang sumbunya hampir terbakar habis. Membuat Elana menyadari bahwa jika dia terus menerus berusaha memberikan pembelaan untuk Xavier, sudah pasti Akram akan berakhir dengan meledak marah luar biasa.


"Aku tahu Xavier sangat hebat dalam memanipulasi pikiran manusia. Dia sangat sulit dihadapi jika menyangkut sandiwara dan bermain kata. Xavier mampu membolak-balikkan fakta hingga sampai di titik ketika dia bilang bahwa daun itu sesungguhnya berwarna merah pun, kau akan langsung mempercayainya tanpa syarat," Akram tampak khawatir dan menyentuhkan menangkupkan kedua telapak tangannya ke pipi Elana. "Apapun yang terjadi nanti, kau tidak boleh jatuh ke dalam perangkapnya," ucap Akram kemudian. dengan nada bersungguh-sungguh.


Keraguan langsung merayapi jiwa Elana ketika mendengar kalimat Akram tersebut, membuat Elana berpikir apakah tawaran kebebasan Xavier kepadanya tadi sebenarnya hanyalah sebentuk jebakan untukmemerangkapnya? Haruskah dia menceritakan tawaran Xavier itu kepada Akram? Ataukah dia sebaiknya menyimpannya terlebih dahulu dan memastikan perasaannya sebelum berbicara?


"Apa lagi yang dikatakan oleh Xavier kepadamu?" seolah menagih di saat yang tepat, Akram menyuarakan pertanyaannya kembali dengan nada menuntut.


Elana tertegun, sejenak bimbang. Tetapi, akhirnya pikiran impulsifnya mengambil alih kemudian. Elana tak ingin Akram menjadi lebih marah daripada ini. Nanti jika Akram mendengar tentang tawaran kebebasan dari Xavier untuk Elana, lelaki itu sudah pasti akan murka luar biasa.


Saat ini Elana terlalu lelah untuk memulai adu argumentasi panjang yang akan menguras energinya. Karena itulah Elana memutuskan bahwa akan lebih baik baginya untuk menunda mengungkapkan hal ini pada Akram, sekaligus mencuri sedikit waktu baginya untuk memikirkan semuanya.


Sambil memasang tatapannya yang paling polos dan merapal doa dalam hati supaya Akram tidak menyadari kebohongannya, Elana menggelengkan kepalanya kuat-kuat.


"Ti... tidak ada lagi. Mungkin masih banyak yang ingin dikatakan oleh Xavier, tetapi Nathan dan Elios terburu mengetahui tentang tipuan pintu kaca digital itu sehingga... sehingga Xavier bergegas pergi," jawab Elana dengan suara terbata.


Akram langsung menyipitkan mata, pandangannya bertambah tajam ketika berucap dengan nada mengancam.


"Kau tidak menyembunyikan sesuatu dariku, bukan?" tanya Akram dengan nada curiga.


Elana sekali lagi menggelengkan kepala kuat-kuat, menekan rasa bersalah di dadanya.

__ADS_1


"Aku tidak menyembunyikan apapun..." sahut Elana berusaha meyakinkan.


Sejenak Akram hanya berdiam saja, mengawasi Elana dalam-dalam, sengaja menciptakan suasana mengintimidasi yang begitu menyesakkan dada. Di saat yang sama, Elana sekuat tenaga berjuang supaya debaran di dadanya tidak menjadi lebih kencang daripada sekarang. Dia sungguh takut kalau Akram sampai menyadari betapa cepatnya detak jantungnya dan akhirnya mengetahui bahwa Elana sedang berbohong.


Tetapi, apa yang ditakutkan oleh Elana ternyata tidak terjadi. Jemari Akram tiba-tiba bergerak untuk menyentuh untaian rambut Elana yang menutupi sisi wajahnya, lalu menyisipkan untaian itu ke belakang telinga Elana dengan gerakan lembut. Tatapan Akram sangat serius, memandang lurus ke arah Elana ketika bibirnya berucap kata.


"Masih ada tiga pertemuan lagi dengan Xavier. Kuharap kau tak tergoyahkan," ada seberkas. kekhawatiran di mata Akram ketika melanjutkan kalimatnya. "Xavier mengatakan kepadaku bahwa dia akan menggunakan seluruh waktu yang diperolehnya untuk membuat dirimu jatuh ke dalam pesonanya. Aku mengenal Xavier, dia akan mengerahkan seluruh daya upaya yang dimilikinya untuk membuatmu tertipu, terpesona kepadanya, lalu mengikuti setiap perkataannya bagaikan tersihir," tatapan Akram ketika berucap entah kenapa menyiratkan kesedihan dan penyesalan mendalam. "Wanita-wanita lain selalu jatuh dalam perangkapnya. Aku tak mau hal yang itu juga terjadi kepadamu. Karena nasib semua wanita yang terjebak oleh Xavier akan selalu sama. Mereka akan mati secara mengenaskan."


Akram selalu bersikap keras, kasar dan tegas, baik dalam perbuatan maupun perkataan. Tetapi entah kenapa saat ini Akram memberi nasehat dengan sikap lembut persuasif, bukan menuntut seperti biasanya.


Seolah-olah dia ingin Elana mendengarkan kata-katanya dengan sungguh-sunguh.


Dan Akram berhasil. Bayangan kekejaman Xavier langsung muncul kembali di benak Elana seolah diingatkan, hingga secara otomatis tubuh Elana begidik ngeri.


"Dingin?" Akram rupanya menyadari gerakan Elana tersebut dan salah mengartikannya. Tangannya bergerak pelan menarik tubuh Elana supaya rapat ke tubuhnya. "Hari masih pagi, mau tidur lagi sebentar?" tawar Akram dengan lembut, membuat Elana lega karena Akram akhirnya mengakhiri pembahasan percakapan mereka menyangkut Xavier.


Elana sendiri sudah tidak sanggup menolak pelukan Akram, terlalu kelelahan juga terlena dengan kehangatan tubuh lelaki itu yang saat ini terasa begitu menyenangkan.


"Tidak dingin lagi," jawab Elana dengan jujur. Tiba-tiba, setelah mencerna kalimat Akram mengenai hari masih pagi, Elana seolah tersadar dan menjauhkan kepalanya sedikit dari dada Akram untuk menatap wajah lelaki itu. "Kau... kau tidak pergi bekerja hari ini?" tanyanya kemudian.


Akram menyeringai mendengar pertanyaan itu, seolah-olah hendak menertawakan kepolosan Elana.


"Apa kau lupa bahwa aku adalah bos di perusahaanku? Aku bisa mengambil libur kapanpun aku mau. Lagipula, teknologi sudah semakin canggih hingga kita tetap bisa bekerja tanpa memerlukan kehadiran fisik terus menerus. Aku bisa meminta file data di kirim ke tempatku dan aku bisa memimpin meeting secara online," Akram menatap Elana dengan tatapan penuh arti. "Lalu, menjawab pertanyaanmu tadi, maka tidak, Elana. Aku tidak akan kemana-mana hari ini. Bagaimanapun juga, aku harus memantau keadaanmu setelah kau menerima serum penyembuh itu." jawab Akram dengan nada santai.


Ketika Elana membuka mulut hendak menanyakan tentang pekerjaannya, Akram seolah bisa membaca pikiran Elana dan langsung meletakkan jarinya di bibir Elana untuk mencegahnya berbicara.


"Jangan berpikir tentang pekerjaanmu. Kau masih sakit jadi sudah diputuskan bahwa kau tidak akan bekerja," Akram mengultimatum dengan nada arogan.


Saat dilihatnya ada kecemasan membayangi wajah Elana, suara Akram melembut. "Jangan khawatir, Elios sudah mengatur seolah-olah kau sedang ditugaskan sebagai perbantuan ke cabang yang lain. Sistem perbantuan ke cabang lain sudah biasa terjadi di perusahaan dan berlaku untuk semua divisi, jadi rekan-rekan kerjamu tidak akan curiga," tangan Akram bergerak mendorong bagian kepala Elana supaya kembali merapat ke dadanya, mengelusnya dengan lembut. "Sekarang tidurlah, aku akan memelukmu supaya kau tidak kedinginan."


Sikap Akram yang lembut ditambah lagi dengan kantuk yang datang setelah rasa lapar di perutnya terpuaskan, membuat Elana tak punya tenaga untuk memberontak. Elana menurut memejamkan mata di pelukan Akram, sementara hatinya tersentuh akan kenyataan bahwa Akram bahkan mau repot-repot mengurusi masalah pekerjaannya sebagai cleaning service di perusahaannya.


Akram menganggukkan kepala tipis tanpa suara, lalu menghadiahkan kecupan di kening Elana. Sementara itu jemarinya tetap bergerak mengelus rambut Elana dengan ritme konstan yang lembut dan menenangkan.


Ketika dirasakannya tubuh Elana lunglai dalam pelukan dan napas perempuan itu baik turun secara teratur sebagai pertanda bahwa perempuan itu benar-benar telah larut dalam tidur lelapnya, Akram semakin mempererat pelukan sementara ekspresi wajahnya berubah gelap nan muram.


Elana telah berbohong kepadanya...


Perempuan itu jelas-jelas sedang menyembunyikan sesuatu dan terlalu polos dalam upaya sandiwaranya untuk menutup-nutupinya. Akram tidak akan semudah itu bisa diperdaya karena dia sudah terlalu lihai untuk dibohongi oleh perempuan tak berpengalaman seperti Elana.


Apa sebenarnya yang dikatakan oleh Xavier kepada Elana sehingga perempuan itu memutuskan untuk merahasiakannya darinya? Tipu muslihat apa lagi dari Xavier kali ini yang sedang digunakannya untuk menjerat Elana ke dalam perangkapnya?


Jemari Akram mengepal ketika ekspresinya mengeras dipenuhi kemarahan.


Seumur hidupnya, Akram hanya diam saja ketika Xavier merenggut segala kesayangannya dengan sikap kejam. Semua wanita dalam hidupnya yang terlintas sambil lalu maupun yang sempat menorehkan luka, tidak ada satupun yang mampu bertahan dari godaan Xavier yang akan menyia-nyiakan mereka semua sampai ke dasar. Bahkan, perhatian ibu kandungnya sendiri pun, telah direnggut oleh Xavier tanpa Akram bisa melawan.


Tetapi kali ini berbeda. Akram bersumpah tidak akan membiarkan yang satu ini direnggut darinya. Dia akan mempertahankannya meskipun itu harus menumpahkan darah dan korban nyawa.


***



***


"Ini hasil test darah dari Nona Lana, Tuan," dokter Renault yang memegang tanggung jawab pada keseluruhan proses penginfusan serum penawar ke tubuh Elana tampak mengangsurkan lembaran kertas hasil lab ke tangan Xavier.


Xavier menerimanya, lalu mempelajari data-data yang terjadi di kertas itu dengan saksama. Hasil test darah di tangannya merupakan hasil pemeriksaan lab terhadap darah Elana yang diambil segera setelah proses penginfusan penawar racun tahap satu diselesaikan. Test lab itu berfungsi untuk melihat seberapa efektif pemberian penawar racun tersebut ke tubuh Elana.

__ADS_1


Setelah mendapatkan kesimpulan sesuai dengan keinginannya, Xavier menganggukkan kepala puas.


"Sesuai perkiraan, serum penawar itu mulai melibas efek racun tersebut sedikit demi sedikit," Xavier menatap dokter Renault dengan pandangan serius. "Siapkan kembali serum untuk pemberian tahap kedua. Aku menyerahkan seluruh tanggung jawab kepadamu. Lana harus sembuh total," wajah Xavier masih tampak ramah, tetapi sinar matanya yang berkilat tajam sungguh sangat berkebalikan. "Kalau kau tidak berhasil, aku akan mengambil jaminan nyawamu dengan cara paling menyakitkan yang bisa kulakukan," sambungnya kemudian dengan nada mengancam.


Dokter Renault hampir saja berjingkat karena ketakutan mendengar ancaman itu. Tetapi, dia berhasil bertahan dan berdiri diam di tempat sambil menganggukkan kepala dengan patuh.


"Ba... baik, Tuan Xavier," sahutnya cepat dengan nada terbata.


Xavier menganggukkan kepala tipis. "Kau boleh pergi," usirnya sambil memberikan isyarat tangan pertanda pengusiran, tanpa merasa perlu menoleh dua kali ke arah dokter Renault yang tergopoh-gopoh meninggalkan ruangan.


Perhatian Xavier teralih pada Regas yang sejak tadi berdiri diam dengan setia di sampingnya.


Tangan Xavier terulur ke arah Regas, lalu berucap dengan nada memerintah yang tegas.


"Ambilkan ponselku. Aku harus menghubungi Akram untuk membuat pengaturan baru,"


***



***


Hari masih begitu pagi ketika Akram duduk di sofa besar apartemennya dengan secangkir kopi di tangannya. Mata Akram tertuju pada layar digital di depannya yang menampilkan laporan menyangkut pekerjaan dan memerlukan keputusan strategis darinya dengan segera.


Akram menyesap kopinya sementara matanya melirik ke arah Elana yang tengah tidur pulas, meringkuk dengan tubuh terbalut selimut tebal dekat dengan tempat Akram duduk. Setelah Elana tertidur pulas tadi pagi, Akram memutuskan membaringkan Elana si sofa besar ini dan menyelimutinya, sementara dirinya mulai bekerja dengan serius.


Akram harus membereskan pekerjaannya hari ini, supaya ketika Elana bangun nanti, dirinya sudah tidak memikiki beban pekerjaan di pundak dan bisa menghabiskan waktunya sepanjang hari hanya berfokus pada Elana.


Suara dering ponselnya yang khas membuat tatapan mata Akram pada Elana yang masih tidur teralihkan. Wajah Akram langsung menggelap ketika membaca tampilan layar ponselnya dan menyadari siapa yang meneleponnya.


Diraihnya ponselnya dan dijawabnya dengan suara ketus.


"Xavier," Akram langsung menyebut nama musuhnya itu tanpa merasa perlu berbasa-basi.


Xavier langsung terkekeh perlahan di seberang sana, seolah-olah bukannya tersinggung, lelaki itu malah senang dengan sikap penuh permusuhan yang dikobarkan oleh Akram kepadanya.


"Akram," Xavier menyebut nama Akram dengan nada lambat-lambat yang disengaja supaya terdengar menjengkelkan. "Kau ternyata sudah memulai harimu sepagi ini. Kupikir tadinya kau masih bergelung di bawah selimut sambil memeluk perempuan favoritmu..."


"Cukup basa-basinya," Akram menyela cepat dengan nada marah, "Katakan saja apa maumu Xavier," geram Akram dengan nada tak sabar.


Sekali lagi Xavier terkekeh.


"Hari masih pagi dan kau sudah meraung kesana kemari seperti singa buas yang kelaparan," gumam Xavier dengan nada mengejek. "Aku hendak menginformasikan bahwa aku telah mengirimkan data digital hasil test laboratorium dari sampel darah Lana yang diambil setelah penerimaan serum tahap pertama. Kondisinya membaik dan racun itu sudah mulai dinetralkan dari darahnya,"


Akram mengerjapkan mata ketika aliran kelegaan membanjiri dirinya mendengarkan informasi dari Xavier itu. Tangannya bergerak ke layar digital di depannya, mencari-cari pesan dari Xavier dan mengunduh informasi dari sana. Ketika hasil lab itu muncul di depan matanya, Akram membacanya beberapa kali untuk meyakinkan kebenaran data itu. Setelahnya Akram berusaha menguasai dirinya, sebelum kembali berucap dingin pada Xavier.


"Bagus. Kau menepati janjimu. Kau tentu juga sudah mempersiapkan untuk pemberian serum tahap kedua, bukan?" suara Akram berubah sinis. "Untuk kali kedua, aku tidak ingin kau mencurangi kami seperti tipuan yang kau lakukan dengan menggunakan layar digital terhadap Nathan dan Elios," cela Akram dengan nada menuduh.


"Hei, jangan terlalu kau ambil serius tindakanku itu, Akram. Aku hanya senang berhasil menjahili kedua anak buahmu yang terlalu setia," ada keceriaan yang tersirat dari suara Xavier ketika berbicara. Bagaimanapun, keceriaan itu langsung lenyap saat Xavier mengucapkan kalimat selanjutnya. "Lagipula, untuk kali kedua nanti, aku akan memastikan bahwa Nathan dan Elios tidak akan terlibat sama sekali."


"Apa maksudmu, Xavier?" Akram langsung menyambar waspada sementara firasat buruk langsung menerpanya.


Tak perlu menunggu lama sampai firasat buruk itu benar-benar terwujud. Karena, Xavier langsung melemparnya seketika itu juga ke depan Akram.


"Untuk pemberian serum tahap kedua nanti, aku ingin Lana datang sendirian. Boleh dikawal oleh bodyguard yang akan berjaga di luar, tetapi tanpa Nathan dan Elios. Aku ingin Lana benar-benar menghabiskan waktunya hanya berdua denganku tanpa gangguan orang lain," ketika Akram tidak mengatakan apa-apa di seberang sana, Xavier langsung melanjutkan kalimatnya dengan cepat. "Kau sudah melihat efek serum penawar itu yang berimbas pada kesembuhan Lana. Kau tentu juga tahu jika dia tidak menerima serum tahap kedua ini, kondisi Lana akan menurun di hari ketiga dan bisa berakhir dengan kematian. Jadi, Akram, jika kau menolak persyaratan dariku, aku akan membatalkan pemberian serum tahap kedua dan kau silahkan menyiapkan liang kubur serta upacara kematian untuk Lana."


******

__ADS_1


******



__ADS_2