Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 31 : Kelemahan


__ADS_3


"Hate doesn't end hate. Love ends hate."


Elios berdehem sejenak ketika menemukan jejak ketidaksabaran dalam kalimat pertanyaan Akram. Tiba-tiba saja dia merasa gugup.


Idenya sebenarnya sangat sederhana dan dia memikirkannya secara spontan saja, tidak menduga bahwa Akram akan menanggapi idenya itu sebagai sesuatu yang penting.


Apakah Akram nantinya akan kecewa setelah mendengarkan idenya yang biasa itu?


Elios dengan cepat mengusir keragu-raguannya, tahu bahwa dia harus segera melontarkan idenya karena Akram tampak sudah menunggunya dengan tidak sabar.


"Saya berpikir bahwa Anda bisa menaklukkan Nona Elana melalui perutnya." ujarnya cepat.


Mata Akram langsung menyipit tajam. Melalui perutnya? Apakah maksud Elios, dia harus memfokuskan teknik bercintanya dengan mencumbu perut Elana? Elana memang sangat sensitif di bagian itu dan Akram ingat bahwa perempuan itu selalu berjingkat ketika Akram mengusapkan jemarinya di permukaan kulit perut Elana yang ramping.


Mungkin memang benar bahwa perut Elana termasuk salah satu bagian tubuh perempuan itu yang sensitif untuk disentuh. Tetapi... dari mana Elios tahu semua itu?


"Dari mana kau tahu bahwa perut Elana merupakan salah satu kelemahannya?" Akram menyuarakan pertanyaannya dengan nada penuh ancaman membunuh.


Sementara itu, Elios kebingungan mendengar nada suara Akram yang berubah kejam. Dia melirik ke ekspresi gelap Akram yang menatapnya dari kaca tengah mobil, dan sadarlah dia bahwa tuannya itu telah salah paham dalam mencerna kalimat yang dilontarkannya


"Maksudnya saya bukan seperti itu..." Elios berdehem, pipinya merona tanpa sebab ketika dia berusaha menjelaskan maksudnya. "Saya tidak... eh saya tidak bermaksud menyebut perut sebagai kelemahan dalam arti itu... saya eh..." suara Elios agak tertelan ketika dia berusaha berkonsentrasi dalam menyampaikan maksudnya. "Maksud saya, Anda bisa menaklukkan Elana dengan menggunakan makanan."


"Makanan?" Akram mengerutkan kening. Pernyataan Elios begitu menarik rasa ingin tahunya sehingga dia melupakan nafsu membunuh yang sebelumnya sempat memancar dari dalam jiwanya.


"Ya, makanan. Anda tahu, saya memerhatikan ketika mata Nona Elana berbinar begitu bahagia ketika saya memberitahu bahwa dia bisa membeli makanan apapun yang dijual di seluruh restoran sekitar perusahaan dengan menggunakan kartu karyawan. Bahkan ketika saya memberikan black card kepadanya ataupun menginfomasikan mengenai simpanan khusus yang anda buatkan untuknya, Nona Elana tidak seantusias itu."


Akram langsung mengingat reaksi Elana ketika dia membelikannya begitu banyak pakaian, aksesoris dan perhiasan, lalu membandingkannya dengan ketika dia mengamati bagaimana Elana yang selalu menikmati makanannya dengan lahap dan penuh syukur. Perempuan itu bertubuh kurus, tetapi memiliki selera makan besar dan selalu menikmati porsi besar makanannya dengan sangat lahap.


Yah... mungkin Elios benar. Kelemahan Elana mungkin ada di perutnya...


Salah satu dari perkataan Elios tiba-tiba mengingatkan Akram akan sesuatu sehingga dia memastikannya.


"Apakah kau sudah mengurus klausul tambahan mengenai pencairan simpanan atas nama Elana?"


"Bahwa jika terjadi sesuatu kepada Anda, maka seluruh isi simpanan itu akan diserahterimakan otomatis kepada Nona Elana? Pengacara sudah membereskan klausul tersebut, Tuan..." Elios tampak ragu sebelum melanjutkan. "Tetapi, apakah Anda yakin? Simpanan itu dibuat untuk menampung gaji bulanan Nona Elana, tetapi Anda malah menambahkan dana yang begitu besar di dalamnya yang mungkin cukup untuk biaya hidup sampai tua tanpa perlu bekerja lagi."


Akram menganggukkan kepala dan menyandarkan punggungnya dengan santai ke kursi.


"Jika terjadi sesuatu kepadaku, sesuai dengan warisan yang kuatur, maka seluruh perusahaan dan asetku akan ditinggalkan pada tangan profesional yang tepat yang menjamin perusahaan tetap akan berjalan normal dan seluruh karyawan tetap terjamin mata pencariannya. Serta, seluruh harta, aset, dan profit yang didapatkan dari perputaran usaha, akan disumbangkan kepada badan amal. Dunia akan baik-baik saja jika Akram Night tidak ada," Akram tampak merenung. "Tetapi bagi Elana, dia akan sebatang kara tanpa jaminan apapun jika terjadi sesuatu padaku. Karena itulah uang simpanan itu sangat penting. Setidaknya tanpaku, dia bisa memiliki pegangan untuk hidup mandiri, memiliki rumah, dan tidak kelaparan seumur hidupnya." Tiba-tiba Akram seolah ingat sesuatu, dimajukannya tubuh kembali ketika bibirnya mengucap perintah dengan tegas. "Putar mobilnya kembali, Elios. Ada sesuatu yang harus kubeli."


 



 


Elana mengintip keluar dari kamarnya dengan hati-hati. Rambutnya yang basah masih terbalut handuk, sementara tubuhnya sudah dibalut piyama tidur yang nyaman sehabis mandi. Tubuh Elana masih tertinggal di dalam kamar ketika kepalanya melongok dengan hati-hati keluar pintu. Matanya memandang sekeliling dengan waspada, berusaha memindai gerakan sekecil apapun. Sementara telinganya dipasang baik-baik, berusaha sesensitif mungkin atas bunyi yang mungkin terjadi.


Hening.

__ADS_1


Mata Elana melirik ke pintu kamar di sebelah kamarnya yang tertutup rapat. Bibi Elisa sempat mengatakan sambil lalu bahwa tuannya Akram tidur di kamar itu jika sedang tinggal di apartemen ini. Dan sekarang, melihat tidak ada tanda-tanda kehidupan dari kamar itu, sepertinya Akram memang belum pulang.


Keheningan membentang di ruang apartemen yang sangat luas itu terasa nyaris mengerikan. Beruntung lampu-lampu yang berteknologi sensor cahaya bisa langsung mendeteksi kegelapan yang merayapi udara, sehingga ketika malam tiba, lampu-lampu itu langsung menyala otomatis di setiap ruangan, membuat seluruh bagian apartemen ini terang benderang tanpa ada setitik kegelapan pun yang mendapat ruang untuk dikuasai.


Elana memang sudah terbiasa sendirian, tetapi itu juga sebagian besar dihabiskan di kamar kontrakannya yang berukuran kecil dengan area gerak terbatas. Jauh berbeda dengan apartemen ini yang luasnya benar-benar berpuluh-puluh kali lipat dari kamar kontrakannya. Bahkan luas kamar mandinya pun lebih besar dari keseluruhan kamar kontrakannya di masa lampau. Dan sekarang, sendirian di ruang sebesar ini terasa begitu mengintimidasi baginya.


Sebenarnya, kalau boleh memilih, malam ini Elana akan lebih suka mengurung dirinya di kamar, bergelung dalam balutan selimut tebal, dan berlindung di balik pintu kamar yang tertutup rapat. Dia mendengar dengan jelas ancaman dari Akram tadi siang tentang apa yang akan lelaki itu lakukan kepadanya malam ini, dan itu semakin mendorong naluri alaminya untuk bersembunyi. Sayangnya, perutnya tidak bisa diajak kompromi, terus bergemuruh seolah memprotes minta diisi.


Ini semua gara-gara Akram Night yang tak punya hati, merenggut waktu istirahat makannya dan membuatnya terseret pergi dari rumah makan di kantor, padahal dia baru melahap lima suap saja dari menu makan siangnya.


Elana melirik jam di dinding dan tangannya langsung mengusap perutnya yang terasa perih. Pantas saja dia kelaparan, ternyata sudah larut malam, sudah beberapa jam berlalu sejak perutnya diisi makanan.


Sekali lagi, Akram Night adalah penyebab utama yang membuatnya terkurung di apartemen dalam kondisi kelaparan. Supir perusahaan yang tampak kaku seperti robot mengantarkan Elana sampai ke depan pintu apartemen, menunggu Elana sampai masuk ke dalam ruang apartemen, lalu menutup pintunya dari luar, mengurung Elana seorang diri di apartemen itu. Ketika baru saja masuk, Elana sempat mencari-cari apakah ada orang lain di dalam. Tetapi apartemen itu memang kosong. Bibi Elisa, pelayan yang tadi pagi dikirim ke tempat ini, sepertinya sudah kembali ke rumah pusat yang dia sebut sebagai tempat asalnya.


Sepeninggal supir itu, tentu saja Elana tak mau berdiam diri dan menyerah pasrah. Dia sudah mencoba memencet beberapa tombol dari kotak digital yang tampak canggih dan terletak tepat di sebelah pintu itu dengan berbargai macam variasi kode yang diingatnya. Seperti yang dilihatnya tadi pagi, Bibi Elisa, pelayan yang dikirimkan oleh Akram untuk membangunkannya dan mengurusnya sampai siap berangkat kerja, tampak menekan tombol tertentu saat membuka pintu untuk Elios dan Nathan. Sekarang Elana menyesal karena waktu itu dia tidak mencoba mengintip kode yang ditekan oleh Bibi Elisa.


Akhirnya, karena kepalang basah, Elana mencoba menekan berbagai macam kode secara random. Sayangnya, usahanya tidak menghasilkan apapun, pintu apartemen itu tetap saja tidak mau berbaik hati membukakan diri untuknya, dengan tega mengurung Elana sendirian di dalam tanpa persiapan apapun.


Elana langsung berharap, Akram Night - entah di mana dia berada saat ini - juga mengalami kesialan seperti dirinya. Semoga saja pria itu merasa kelaparan sama sepertinya di luar sana, tapi tidak bisa menemukan makanan.


Elana akhirnya menyerah untuk mencoba keluar dari apartemen itu. Dia juga menenangkan diri, karena toh kalau pun dia berhasil keluar, masih ada 'ranjau' lift dengan kartu dan kode khusus yang hampir mustahil untuk dilewati. Selalu ada pilihan untuk menggunakan tangga, tetapi Elana tahu bahwa tempat ini berada puluhan lantai dari atas tanah, dan juga menyusuri tangga darurat sendirian di malam hari tentulah bukan ide yang bagus. Karena itulah Elana akhirnya memutuskan untuk mandi air hangat saja, guna melemaskan otot-ototnya yang lelah sehabis bekerja.


Dan akhirnya disinilah dia, mengendap-endap seperti pencuri saat melangkah keluar dari kamar apartemen itu dan menuruni tangga ke lantai bawah yang terang benderang.


Sejenak Elana menghentikan langkah di anak tangga terbawah, matanya tertuju pada area dapur bernuansa gelap yang langsung terlihat ketika dirinya selesai menuruni tangga.


 



 


Dengan bersemangat, dibukannya pintu kulkas itu dan matanya membelalak melihat isi dalam kulkas itu yang tak sesuai dengan harapannya.


Kulkas itu hampir kosong, begitu bersih seolah tak pernah dipakai, sebagian besar isinya yang hanya memenuhi salah satu rak, adalah botol-botol kaca berisi berbagai macam saus dan minuman dengan tulisan asing yang tidak dimengerti oleh Elana. Tentu saja Elana tidak akan mengambil risiko mencicipi sesuatu yang dia tidak tahu itu apa, karena itulah dia mengabaikan botol-botol kaca tersebut.


Mata Elana memindai isi kulkas itu lagi, dan akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa satu-satunya benda yang layak makan di dalam situ hanyalah beberapa butir apel berwarna merah yang tergeletak menyedihkan dengan kulit sedikit keriput serta layu seolah sudah begitu lama tak disentuh.


Kehidupan macam apa yang dijalani oleh Akram Night di apartemen ini? Bagaimana bisa lelaki itu sama sekali tidak menyimpan bahan makanan atau snack di dalam apartemennya yang dingin dan steril ini? Elana di masa lampau tentu tidak mungkin mampu mengakomodasi kemewahan semacam kulkas di kamar kontrakannya. Tetapi seandainya dia beruntung bisa memiliki kulkas, dia akan mengisinya dengan berbagai macam bahan baku masakan, snack, buah dan kue-kue kering sampai penuh


Tidak ada pilihan lain, Elana mengambil sebutir apel itu, mencucinya, dan kemudian menggigitnya. Sari kental dari apel yang manis itu langsung membasahi mulutnya ketika Elana mengunyah daging buah apel itu dengan bersemangat.


Lumayan juga untuk pengganjal perutnya, Elana membatin dalam hati sambil mencatat untuk dirinya sendiri bahwa besok dia harus membeli makanan dengan kartu karyawan dan sengaja dibungkus pulang guna menghindari insiden terkurung dan kelaparan itu terulang lagi.


Ketika Elana hampir menghabiskan apelnya sambil bersandar di konter dapur itu, suara 'bib' keras terdengar dari arah pintu masuk. Elana menegang, kepalanya menoleh dengan waspada ke arah pintu. Dan dugaannya benar, apa yang paling tidak diinginkannya hadir sekarang, sudah berdiri di ambang pintu yang terbuka itu.


Akram Night, yang masih mengenakan setelan jas lengkap dan membawa kantong berukuran besar di tangannya, tampak melangkah memasuki apartemen tersebut. Mata Akram langsung bersirobok dengan mata Elana ketika lelaki itu melangkah lurus menuju area dapur dan meletakkan kantong yang dibawanya di konter dapur dekat Elana dengan ekspresi kaku.


"Apa yang kau lakukan di sini?" Akram mengawasi bagaimana tubuh Elana menegang seolah-olah perempuan itu siap meloncat kabur kalau dia melangkah dan melanggar jarak aman di antara mereka. Ekspresi Akram berubah muram ketika dia melepaskan jasnya, meletakkannya begitu saja di konter dapur dan melonggarkan dasinya.


Seolah tertangkap basah, Elana terpaksa menunjukkan sisa apel yang barusan dihabiskannya.

__ADS_1


"Makan malam," jawabnya perlahan.


Akram menatap Elana dan sisa apel di tangannya berganti-ganti, lalu mengangkat alisnya. "Dengan selera makanmu yang besar itu, memangnya sebutir apel cukup untukmu?" ejeknya telak, membuat pipi Elana memerah.


"Supirmu mengurungku di sini dan hanya apel ini satu-satunya benda layak makan di tempat ini." Elana menjawab datar, mencoba menahan emosinya di depan lelaki itu.


"Bibi Elisa khusus datang di pagi hari untuk membereskan rumah dan pulang di siang hari. Aku jarang berada di rumah dan kalau aku pulang pun, itu sudah larut malam sehingga aku langsung tidur. Karena itulah jarang ada makanan di sini." Akram menjelaskan sambil lalu. "Tapi kalau kau ingin, kau bisa meminta bibi Elisa menyiapkan stock untuk makan malam sebelum dia pergi. Jadi, di malam hari, kau tinggal memanaskannya dengan microwave." Akram memberi usul dengan nada datar sementara matanya mengawasi reaksi Elana dengan saksama.


Elana langsung menggeleng seketika, matanya bersinar dengan nyala pembangkangan yang nyata.


"Tidak. Aku akan membeli makanan baik makan siang dan makan malam di rumah makan kantor, dengan menggunakan kartu identitas karyawanku, dan kau bisa memotong semuanya dari gajiku di akhir bulan nanti." ujarnya cepat.


Ekspresi Akram mengeras. "Apakah Elios tidak bilang padamu kalau akulah yang akan melunasi apapun tagihanmu? Gajimu akan tetap utuh ditransfer ke dalam rekeningmu sebagai uang simpananmu."


"Aku tidak ingin kau melunasi semua tagihanku! Aku bukan pengemis yang menumpang hidup cuma-cuma kepadamu. Aku sudah bekerja dan aku ingin memenuhi kebutuhan hidupku sendiri!"


Akram menyipitkan mata, tatapannya menyusuri Elana dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan sikap melecehkan.


"Kau tidak menumpang hidup kepadaku dengan cuma-cuma, kau membayarnya dengan tubuhmu." desisnya sinis sekaligus menghina.


Tangan Elana langsung terayun tanpa bisa dikendalikan, emosinyalah yang menguasai tubuhnya, membuatnya menampar Akram dengan marah, tanpa ingat akan konsekuensi di belakangnya. Suara tamparan terdengar keras di udara dan telapak tangan Elana terasa panas setelah dia menampar Akram. Elana lalu mengepalkan tangannya sambil menatap Akram tajam, napasnya tersengal oleh kemarahan dan luka karena terhina.


"Aku bukan pelacur!" sembur Elana dengan mata berkaca-kaca. Segera digigitnya bibir untuk menahan isak yang keluar.


Tidak! Elana harus kuat! Dia tidak akan menunjukkan lagi kelemahannya di depan Akram! Lelaki itu tidak sepadan untuk mendapatkan air matanya!


Akram mengusap pipinya yang bekas ditampar oleh Elana. Bibirnya menipis dan kilat mengerikan tampak bersinar di mata hazelnya yang tajam. Lalu, seketika Akram bergerak merangsek ke arah Elana, mendesaknya ke konter dapur dengan gerakan mengancam, membuat tangan Elana terangkat melindungi diri, takut kalau Akram akan balas menamparnya.


"Kau memang bukan pelacur, tetapi kau adalah wanitaku." Akram mendesiskan kalimatnya dengan penuh penekanan. "Dan perempuan-perempuan milik Akram Night tidak akan pernah berkekurangan. Lebih dari itu, mereka tidak perlu memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Aku punya begitu banyak uang yang tak akan habis meskipun kau berfoya-foya sekalipun, dan kau malahan hendak membayar biaya makanmu sendiri, dipotong dari gaji kecilmu yang menyedihkan sebagai cleaning service?" Akram menarik dagu Elana supaya menatapnya lekat, tepat di matanya yang menusuk dalam. "Tidak akan terjadi, Elana. Tidak selama aku masih hidup! Dan kau tidak perlu menggunakan tanganmu untuk melindungi dirimu! Aku tidak akan pernah merendahkan diriku dengan memukul wanitaku!" ujar Akram ketus sambil melangkah mundur melepaskan Elana, lalu tiba-tiba mengambil kantong besar yang tadi diletakkannya di atas konter dan menekannya ke tubuh Elana sehingga mau tak mau Elana memeluk kantong berisi kotak besar yang terasa hangat itu dengan bingung.


"Ini apa?" Elana tak bisa menahan diri untuk bertanya, rasa ingin tahu mengalahkan keinginannya untuk bersitegang dengan Akram.


Akram menipiskan bibir sementara gerahamnya mengeras ketika dia berucap dari sela giginya yang terkatup jengkel.


"Pizza dan soda. Junk food yang tidak sehat. Tetapi kau menyukainya, bukan?" Akram tentu saja mengingat dengan jelas mengenai detail data diri Elana yang pernah dibacanya. Pada salah satu biodata yang diisi oleh Elana, perempuan itu dengan polosnya menuliskan bahwa pizza adalah makanan paling enak yang pernah disantapnya meski Elana tidak bisa makan sering-sering sebab pizza baginya adalah makanan mewah yang mahal harganya.


Elios bilang bahwa memberikan makanan kesukaan Elana bisa menjadi salah satu cara supaya Elana perlahan-lahan bisa menerima hubungan mereka dan tidak lagi menganggapnya sebagai suatu keterpaksaan. Tetapi sepertinya cara itu tidak terlalu sukses, seolah-olah mereka berdua memang ditakdirkan untuk selalu bersitegang.


Memikirkan itu semua membuat ekspresi Akram semakin gelap. Dia menunduk, memberikan tatapan mengancam pada Elana dan bibirnya mengucap ultimatum tak terbantahkan.


"Habiskan junk food itu. Lalu tunggu aku di kamarmu. Aku akan mandi, membersihkan diri, dan ketika aku mengunjungimu nanti, aku ingin kau sudah siap untukku."


Akram tidak menunggu sampai Elana bisa memberikan reaksi atas perintahnya yang arogan. Lelaki itu langsung membalikkan tubuh, melangkah menaiki tangga menuju kamarnya, lalu memasuki kamar sambil membanting pintu di belakangnya, meninggallkan Elana yang berdiri kaku sambil memeluk kantong berisi pizza di tangannya dengan perasaan marah bercampur sakit hati.


 




__ADS_1


__ADS_2