Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 122 : Peringatan


__ADS_3


Begitu nama itu terdengar, ekspresi jijik langsung muncul di wajah Akram tanpa bisa ditahan.


Maya adalah perempuan yang membuat Elana mual dan muntah tak terkira hingga harus dirawat di rumah sakit. Dirinya mungkin sudah berjanji kepada Elana untuk tidak melakukan apapun pada Maya, kecuali kalau tindakan Maya sudah sangat keterlaluan. Tetapi bagaimanapun, Akram tak bisa mengabaikan Maya begitu saja. Sikap obsesif perempuan itu terhadapnya sudah mulai mengganggu hingga di titik Akram ingin melenyapkannya dari muka bumi.


"Ada apa dengan Maya?" Akram akhirnya bersuara setelah Xavier tidak mengatakan apapun di seberang sana.


"Aku bisa mendengar nada ingin tahu di dalam suaramu. Apakah itu berarti kau juga merasa?" sekali lagi Akram bisa mendengar nada penuh senyum di suara Xavier, membuatnya ingin menggertakkan gigi karena jengkel.


"Sudah kubilang jangan berputar-putar atau akau akan menutup sambungan telepon ini," sahut Akram dengan nada geram, tak sedang main-main dengan ancamannya.


"Hei.. jangan tutup teleponnya. Baiklah, baiklah aku akan berbicara...," Xavier memberikan jeda sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya. "Aku meretas laptop dan ponsel Maya."


Mata Akram melebar. "Kenapa kau melakukannya?" Akram melirik ke arah tubuh Elana yang bergerak sedikit seolah terusik dengan nada suaranya yang sedikit meninggi. "Tunggu sebentar, aku keluar ruangan dulu," Akram menyambung dengan nada rendah yang disahuti oleh gumaman penuh pengertian Xavier. Xavier sudah pasti tahu kalau saat ini Akram sedang berada di ruang perawatan Elana.


Menyadari bahwa percakapan mereka mengarah ke sesuatu yang serius, dengan perlahan Akram bergerak melepaskan Elana dari pelukannya. Perempuan itu tidak terbangun ketika Akram melepasnya dengan hati-hati, dan langsung berguling meringkuk membelakangi Akram dengan nyenyak.


Perlahan Akram duduk, lalu bergerak kembali dengan penuh kehati-hatian turun dari ranjang. Ditariknya selimut untuk menyelimuti tubuh Elana yang pulas, lalu Akram melangkah menjauhi ranjang dan melangkahkan kaki keluar dari kamar perawatan Elana.


"Lanjutkan," dengan tenang sambil bersandar di lorong rumah sakit yang sepi, Akram memberi isyarat kepada Xavier supaya terus berbicara.


Lorong rumah sakit di luar kamar Elana memang cukup memberikan privasi. Itu semua karena area kamar perawatan Elana adalah kamar khusus untuk pasien super VVIP sejenis Akram yang merupakan pemilik saham terbesar rumah sakit ini, sehingga bisa dipastikan tidak akan ada orang lain di sekitar sini, selain para bodyguard khusus yang memang sengaja Akram tempatkan di ujung terluar lorong ini untuk menjaga dan mencegah hal-hal yang tak diinginkan seperti penjahat yang menerobos masuk, misalnya. "Kenapa kau memutuskan untuk meretas peralatan komunikasi dan laptop Maya?" tanya Akram penuh rasa ingin tahu.


"Maya memiliki sikap pembully karena kelebihannya. Jadi secara alami, ketika dia berada di lingkungan baru, dia langsung memindai dan mencari siapa yang paling lemah untuk ditindas. Secara kebetulan, di lingkungan pekerjaan kita, Maya menemukan bahwa Elanalah yang paling lemah di antara kita semua," Xavier menjelaskan dengan tenang. "Karena itulah Maya mengincar Elana sebagai ladang untuk menumbuhkan kebenciannya."


"Aku sudah tahu itu. Kemarin di kamar rumah sakit, dengan bodohnya dia berusaha menjatuhkan Elana di depan mataku," Akram menjawab geram. "Perempuan sombong dan sok hebat seperti itu bagaikan benalu, mereka harus disingkirkan sebelum merusak hal lain di sekitar mereka."


Xavier mendesahkan persetujuan dalam kalimatnya.


"Semula, aku ingin menggunakan cara halus. Aku mendorong Elana untuk lebih berani melawan Maya, menunjukkan kalau dia kuat dan berani, sehingga Maya tidak punya nyali memandangnya sebagai sosok yang lemah lagi. Sayangnya, sepertinya obsesi Maya terhadapmu semakin memperburuk keadaan,"


"Apa maksudmu?" tanya Akram cepat.


"Dengan menganggap Elana lemah, Maya telah menjadikan Elana target penindasannya, Credence bilang Maya telah menuduh Elana merayu Elios dan bersikeras bahwa Elana adalah perempuan murahan yang menjual tubuhnya..."


"Kurang ajar," Akram menggeram penuh kemarahan, "Elios tidak akan berani mengganggu Elana, dia sudah tahu kalau dia akan mati mengenaskan kalau dia berani-beraninya menumbuhkan setitikpun rasa kepada Elana. Dan Elana, mana mungkin dia melirik Elios kalau ada aku yang jelas-jelas mengejarnya?" Akram berucap dengan nada tegas dan yakin, meskipun begitu, ada nada cemburu yang pekat dalam suaranya, yang membuat Xavier tak mampu menahan tawa, karena bisa- bisanya Akram merasa cemburu kepada asistennya sendiri?


"Credence bilang tentang insiden di ruang toilet wanita di kantor yang melibatkan Elana dan Elios. Maya bersikeras menjadi saksi..." suara Xavier memelan penuh perhitungan. "Kau tahu sesuatu tentang itu?"


Meskipun sama yakinnya dengan Akram **menyangkut ketidakmungkinan hubungan Elana dan Elios, tetap saja Xavier merasa harus memastikan. Sebab, selain dia masih memegang prinsipnya untuk menindak siapapun orang yang berani mengkhianati Akram, Xavier akan merasa tertampar setengah mati kalau ternyata ketika memutuskan untuk berselingkuh, Elana malahan memilih berselingkuh dengan Elios dan bukan dirinya.


"Insiden di kamar mandi?" Akram mengerutkan keningnya, mengulas kembali memorinya dan mencoha mengingat. Lalu terlintas kembali ingatan ketika dirinya menyergap Elana ketika perempuan itu sedang berada di ruang toilet perempuan kantor, untuk meminta ciuman. Setelahnya, Akram memanfaatkan ketidaksiapan Elana untuk mencumbu dan menciumi Elana sepuasnya hingga membuat penampilan itu berantakan dan kakinya goyah sehingga harus bertumpu di meja marmer dekat wastafel toilet.


Senyum terkembang di bibir Akram ketika kenangan itu jelas tergambar di depan matanya. Mengejutkan Elana lalu menyergapnya terasa sangat menyenangkan dan memuaskan. Dia sudah pasti akan melakukannya lagi di masa mendatang.


"Akulah pelaku utama insiden di dalam ruang toilet perempuan itu, tapi aku kemudian pergi setelahnya dan kemungkinan besar telah tanpa sengaja menempatkan Elios di dalam situasi tertuduh," Akram tidak bisa menahan diri untuk menyeringai penuh rasa bangga ketika berucap.


Di seberang sana, Xavier langsung terbahak.


"Apa kau tak malu pada dirimu sendiri Akram? Bercumbu dengan perempuan di ruang toilet, seperti anak remaja yang masih berkepala panas?" ejeknya terus terang.


Seberkas rona merah langsung melintas di pipi Akram, meskipun begitu, di berhasi menjaga suaranya agar tetap tenang.


"Kau akan berkepala panas ketika nanti menemukan perempuan yang terasa tepat untukmu," sahut Akram tanpa pikir panjang.


Ada jeda sejenak sebelum Xavier akhirnya bersuara dengan nada penuh ironi.


"Apakah kau sedang berusaha menyombongkan diri, Akram?" ucap Xavier kemudian.


Akram mengerutkan kening ketika mendengar ada kesedihan tersirat yang terasa samar pada suara Xavier. Lelaki itu memang sangat tertutup dalam kehidupan percintaannya, meski suka bersikap merayu dan mempesona para gadis-gadis dengan ketampanannya yang luar biasa, tak pernah sekalipun terdengar gosip Xavier berhubungan istimewa dengan gadis-gadis.


Kalau dipikir-pikir... mungkinkah Xavier masih menyimpan trauma mendalam akibat kekejaman yang dideritanya ketika mengalami pelecehan pada saat penculikan dirinya saat itu...?


Akram menggelengkan kepalanya untuk mengusir rasa bersalah yang menggayuti hatinya. Mungkin rasa cintanya kepada Elana telah melembutkan hatinya hingga rasanya, kebenciannya kepada Xavier tidaklah sebesar dulu. Tetapi, bagaimanapun juga, meskipun permusuhannya dengan Xavier saat ini tidaklah setajam dulu, Akram tak boleh lupa tentang kejahatan dan kekejaman Xavier di masa lampau terhadapnya. Akram masih berpikir kalau dia lengah dan bersikap lemah sedikit saja, Xavier yang licik itu bisa saja menusuknya dari belakang saat dia sedang tidak siap.


Karena itulah senyum sinis penuh ejekan langsung tersungging di bibir Akram ketika menjawab.


"Oh, kau benar. Aku memang sedang menyombongkan diri. Kau dengan jiwamu yang gelap dan gila itu, kurasa tak akan mungkin bisa mendapatkan merasakan kenikmatan menemukan cinta sejati seperti yang kurasakan," ejek Akram dengan sikap angkuh yang disengaja.


Xavier yang sudah terbiasa saling melempar ejekan dengan Akram tentu saja tak kehabisan kata untuk membalas lelaki itu.


"Tentu saja aku bisa. Kalau nanti aku menemukan perempuan seperti Elana, atau kalau aku bisa mendapatkan Elana," Xavier menambahkan kalimat terakhirnya dengan sengaja, untuk memancing kemarahan Akram.

__ADS_1


Dan seperti biasanya, dia berhasil.


"Jaga bicaramu Xavier. Aku akan membunuhmu kalau kau sampai menyentuhkan seujung jarimu saja pada Elana dengan paksa," geram Akram bersungguh-sungguh.


Tawa Xavier terdengar lepas kemudian. Lelaki itu menggelengkan kepala sejenak untuk menyingkirkan kepuasannya karena telah berhasil memancing kemarahan Akram, lalu setelahnya menurunkan nada suaranya kembali serius.


"Apakah kau tidak tahu apa yang kudapatkan setelah meretas peralatan komunikasi dan laptop Maya?" tanyanya kemudian, kembali lagi ke pokok permasalahan.


"Maya mencari tahu tentang Elana?" tebak Akram dengan tepat.


"Kau benar. Dia mencari tahu sekuat tenaga dengan penuh rasa penasarannya. Di awal dia menduga Elana adalah kekasihku yang berselingkuh dengan Elios, kemudian aku memberi izin kepada Credence untuk mengatakan mengenai hubunganmu dengan Elana kepada Maya, untuk menilai reaksinya. Dan kurasa kau juga** tahu apa yang terjadi," jelas Xavier setengah berteka-teki.


Akram menganggukkan kepala meskipun tahu kalau Xavier tak akan bisa melihatnya.


"Dia malah semakin berusaha menyingkirkan Elana dan bukannya mundur," simpulnya cepat.


"Yah, melihat caranya yang begitu menggebu untuk mencari informasi tentang Elana kurasa dia sedang mencari sesuatu menyangkut keburukan Elana...untuk diberitahukan kepadamu," Xavier menyahut dengan santai.


"Dia tak akan menemukannya. Tak ada sesuatupun tentang Elana yang tak diketahui olehku sebelumnya. Baik dan buruk, aku sudah tahu semua," geram Akram gusar.


"Yah, Elios juga sudah memasang data terbaru mengenai Elana di semua platform yang bisa diakses secara online dan ofline, pun juga di data pemerintahan yang bisa diakses publik. Maya memang tidak akan menemukan apapun... tapi..." Xavier memberi jeda sejenak sebelum berucap, "Kau tentu tahu di kepala Maya akan selalu berkembang ide ide gila karena kepintarannya yang berpadu dengan fantasi, malahan menjadikannya seperti orang bodoh, kemungkinan besar dia akan mendatangimu esok hari dengan segala pikiran gila dan fitnahnya. Aku meneleponmu untuk memperingatkanmu tentang hal itu," simpul Xavier akhirnya.


"Terima kasih atas perhatianmu, tak kuduga kau begitu perhatian," sahut Akram tanpa menyembunyikan nada sinis dalam suaranya.


Xavier terkekeh. "Aku melakukannya untuk Elana, bukan untukmu," sanggahnya santai dengann nada meremehkan seperti biasanya.


"Apakah kau akan melenyapkannya? Sebab jika kau hendak melakukannya, aku harus mengingatkanmu untuk melakukan pekerjaan kotormu itu di luar perusahaanku. Aku tak ingin kau mencemari wilayahku dengan metode pembunuhanmu yang kebanyakan menjijikkan itu," desis Akram memperingatkan.


Perkataan Akram itu membuat Xavier menyeringai lebar.


"Tenang saja, aku belum berniat melakukannya terhadap Maya karena perempuan itu belum bertindak keterlaluan terhadap Elana," menyebut nama Elana membuat suara Xavier melembut. "Bagaimana kondisinya?"


Akram mengerutkan kening. "Maksudmu Elana?" tanyanya ketus.


"Tentu saja Elana, siapa lagi?" sahut Xavier kemudian seperti sedang berbicara dengan orang bodoh.


Akram memasang wajah masam. Kalau dipikir-pikir, sebelum kehadiran Elana dalam kehidupannya, tak pernah terpikirkan olehnya kalau dia akan mampu bercakap-cakap dengan Xavier di telepon dalam jangka waktu lama seperti ini, tanpa salah satu memutus sambungan pembicaraan dengan penuh kemarahan ataupun tanpa saling melemparkan ancaman pembunuhan satu sama lain.


Memang benar kalau kehadiran Elana, benar-benar merubah seluruh aspek dalam kehidupannya.


"Kau sudah memberitahunya tentang kehamilannya?" Xavier tentu saja sudah tahu bahwa Elana telah hamil, dia menduga dengan tepat, kemudian mendapatkan kepastian mengenai kondisi Elana dari dokter Nathan.


Akram berdehem. "Dia sudah tahu," kelegaan yang tadi terlewatkan olehnya karena tersapu oleh rasa bahagia bersama Elana, tiba-tiba membanjiri dirinya, membuat suaranya berubah parau.


"Selamat," suara Xavier terdengar datar, tapi ada kejujuran tulus dalam nada suaranya. "Semoga kalian berbahagia." setelah mengucapkan kalimat terakhirnya, Xavier menutup pembicaraan teleponnya


Sementara itu, Akram menatap ponsel di tangannya dengan takjub.


Xavier menghadapkan kebahagiaanya? Apakah telinga Akram tidak salah dengar?


***



***


"Aku senang kau berhasil makan sarapanmu dan menghabiskannya sampai banyak," Akram meletakkan sendok kosong yang tadi dia gunakan untuk menyuapi Elana dengan telaten, lalu menyingkirkan nampan dengan mangkuk-mangkuk dan piring kosong yang tadinya penuh berisi makanan.


Elana, yang tampak jauh lebih cerah pagi ini seolah seluruh beban permasalahannya terangkat, mengurai senyum lebar sambil menatap Akram.


"Karena ada bayi di perutku, jadi aku tahu kalau aku harus sehat," Elana mengusap perutnya tanpa sadar ketika berbicara. Hal itu tak luput dari pandangan Akram, membuat hatinya terasa hangat dan lembut seketika.


Kenyataan bahwa Elana dengan mudah mencintai anaknya, anak mereka berdua yang tumbuh di rahimnya, membuat Akram semakin dibanjiri oleh cinta. Akram lalu bergerak bangkit, dan mengecup dahi Elana lembut.


"Aku akan pergi bekerja dulu," pamitnya dengan nada tak kalah lembut.


Mata Elana menelusuri sosok Akram yang begitu tampan dengan kemeja gelap yang berpadu dengan setelan jas tiga potong yang tampak elegan di tubuhnya. Pagi ini, Akram seperti biasanya tampak tampan dan mempesona.


Tiba-tiba saja perasaan tak enak memenuhi benak Elana, **membuanya langsung bertanya.


"Apakah... apakah kau akan bertemu Maya di sana?" tanyanya terbata.


"Tentu saja, Credence akan membahas hasil temuannya dan Maya sudah pasti akan bersamanya...." tadinya Akram menjawab sambil lalu, tetapi ketika dia menatap Elana, ekspresinya berubah penuh perhatian."Apakah kau merasa mual lagi? Kalau kau tak ingin aku bertemu Maya, aku bisa..."

__ADS_1


"Tak apa-apa, Akram, aku percaya kepadamu," Elana mencegah dengan cepat, merasa malu sendiri karena kecemburuannya yang tak beralasan.


Akram tersenyum lembut, dia melangkah berdiri di tepi ranjang, lalu merangkul Elana yang duduk di atas ranjang ke dalam pelukannya.


"Kau tahu. Aku adalah milikmu dan aku tak berniat menyerahkan hak kepemilikkanmu itu pada wanita lain," Akram terkekeh, dan senyumnya berbinar ketika melihat Elana tersenyum bersamanya. "Aku akan segera kembali bersamamu begitu pekerjaanku beres. Oh ya, kau pasti akan senang hari ini," mata Akram berbinar misterius.


"Kenapa?" tanya Elana segera dengan penasaran.


Akram menatap Elana lembut. "Aku meminta Elios membawa Nolan menjengukmu hari ini sepulang sekolahnya, jadi kau bisa menghabiskan waktu dengannya lebih lama,"


Binar kebahagiaan langsung memenuhi mata Elana, menelan kecemasannya yang sebelumnya.


"A... aku senang sekali, terima kasih, Akram," ujarnya dengan tulus.


Akram menganggukkan kepalanya.


"Mungkin kau bisa mempertimbangkan saat ini sebagai waktu yang tepat untuk mengungkapkan kebenaran tentang pertalian darah kalian berdua kepada Nolan. Dia anak yang cerdas dan dia pasti akan mengerti, lagipula, kurasa dia akan sangat senang bisa memiliki seorang kakak sepertimu, Elana. Dan menurutku, Nolan harus mengetahui kebenarannya sebelum kita menikah," Akram menyarankan dengan nada bijaksana, membuat Elana tertegun, masih digayuti rasa ragu yang memberatkan.


***



***


Hari masih terlalu pagi ketika Maya tampak mondar-mandir di area depan lift dekat meja kerja Elios yang masih kosong. Perempuan itu sudah datang ke kantor ini pagi-pagi hari sekali, tak sabar untuk menemui Akram secepatnya.


Sayangnya, karena dia terlalu bersemangat, dia akhirnya berangkat terlalu pagi dan tiba di kantor ketika jam kerja belum juga dimulai. Dengan gusar Maya melirik jam tangannya, langkahnya yang mondar-mandir semakin cepat karena hatinya yang dipenuhi antisipasi tak mampu menahan pantatnya supaya tetap duduk diam.


Maya mulai sibuk menyusun kata-kata untuk diungkapkannya kepada Akram nanti. Pertama, dia harus meyakinkan Akram tentang kesaksiannya mengenai insiden perselingkuhan tak bermoral Elana dan Elios di toilet karyawan, yang kedua, dia harus bisa menjelaskan hasil temuannya mengenai latar belakang Elana yang mencurigakan dan membuat Akram menyadari bahwa wanita yang tampak polos dan lemah yang dia tempatkan di sisinya itu, bisa saja menyimpan rahasia berbahaya dan tak sesederhana yang ditampilkannya.


Oh, Maya juga harus meyakinkan semua orang, bahwa dia melakukan ini semua bukan karena Elana adalah kekasih Akram dan Maya ingin menyingkirkannya, dia melakukannya karena dia peduli para Akram dan tak mau kalau sampai lelaki itu ditipu.


Setelah Akram mengetahui semua dan bisa mencerna penielasannya dengan baik, lelaki itu pasti akan sangat berterima kasih kepadanya. Disitulah jalan kesempatan Maya untuk lebih dekat ke hati Akram akan terbuka lebar.


Suara denting lift yang menandakan ada orang keluar dari sana membuat Maya tercabut dari lamunannya dan menolehkan kepala penuh harap.


***



***



Dukung author dengan memberikan rating dengan menyumbangkan POINMU ke novel ini ya.


Tiga orang pemberi poin terbanyak akan mendapatkan tumbler yang bisa dicustom tulisan sesuai requestmu dan akan dikirim ke alamatmu masing-masing.


Terima kasih atas dukungan POIN, rate, favorit, like dan komen dari kalian semua.


Oh ya, Cerita Akram dan Elana akan tamat di tanggal perkiraan 10-12 Desember 2019


Nantikan season kedua tentang Xavier yang akan dimulai awal Januari 2019 ya.


Ps : hari ini kemungkinan perkiraan bisa lolos SATU atau DUA bab.


Salam Hangat,


AY




Mengenai Editing part 21++ dari Mangatoon :


Mohon maaf jika mengecewakan dan menimbulkan ketidakpuasan. Tetapi di sini, author tidak bisa mengembalikan seperti semula.


Jika author memaksa mempertahankan part 21++ nya di cerita, maka cerita novel Essence of The Darkness ini akan ditendang dari ranking novel Mangatoon/Noveltoon dan bahkan bisa dihilangkan dari mangatoon.


Mohon maaf, author hanya mengikuti peraturan dari pihak Mangatoon yang menyatakan bahwa novel yang masuk ranking mangatoon&noveltoon, tidak boleh mengandung adegan 21 ++ sama sekali.


Jadi pilihannya daripada novel ini dihapus seluruhnya dari mangatoon, author lebih memilih ada versi editing yang masih bisa ditampilkan dan dibaca oleh kalian semua. Mohon maafkan author.

__ADS_1


Karena ini platform milik mangatoon dan jika author mau karyanya tetap ada di sini, author harus mengikuti peraturan mangatoon. Sekali lagi author mohon maaf.


__ADS_2