Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 81: Kencan Rakyat Jelata


__ADS_3


Tempat itu benar-benar ramai, meskipun hari ini adalah hari kerja. Dipenuhi oleh keluarga-keluarga yang berjalan beriringan, lengkap dengan orang tua yang menyeringai bahagia bersama anak-anak mereka yang matanya berbinar penuh antisipasi. Juga tampak pasangan-pasangan yang bergandengan tangan dengan riang, saling memeluk dan saling menunjukkan kasih sayang di depan umum tanpa merasa malu.


Mereka berdua tadi melangkah turun dari mobil, lalu melewati lahan parkir nan luas sebelum kemudian behenti di hadapan pintu gerbang raksasa dengan patung hiu besar yang khas menghiasi di sana. Langkah Akram sendiri terasa melambat ketika lelaki itu mengawasi hiruk pikuk di sekelilingnya dengan ragu. Mereka berdua akhirnya berhenti sementara Akram tampak mengawasi situasi.


Sementara itu, Elana mengawasi ekspresi Akram dengan penuh kekhawatiran. Lelaki itu tampak sedikit pucat menatap sekitarnya, dan ekspresinya dipenuhi ketidaknyamanan nyata yang tak bisa disembunyikan.


Elana tahu bahwa sejak kecil sekalipun, lelaki ini selalu dibesarkan sebagai seorang tuan muda yang diistimewakan. Bahkan mungkin, untuk menikmati taman hiburan seperti ini, orang tuanya yang menjaganya secara ketat tidak akan membiarkannya lepas di tengah hiruk pikuk keramaian, apalagi dengan ancaman penculikan yang selalu mengincar setiap saat. Kemungkinan besar, orang tua Akram akan memilih melakukan reservasi penuh seluruh taman hiburan dan membiarkan Akram bermain sepuasnya di seluruh area taman yang dikuasainya sendiri, tanpa perlu repot-repot mengkhawatirkan harus berinteraksi dengan orang lain.


Ketika dewasa pun, Elana memperhatikan bahwa Akram masih memilih jalur istimewa itu untuk dirinya. Lelaki itu memililki lift khusus, tempat parkir mobil khusus, bahkan jalur gerbang khusus yang menjaganya supaya tetap terisolir dari interaksi antar manusia yang mungkin akan mengganggunya.


Sekarang, berada di tengah keramaian berbagai jenis manusia, laki-laki, perempuan, tua, muda, anak-anak dan masih banyak lagi, tentulah hal itu akan menjadi pengalaman sosial yang sangat menantang bagi Akram.


“Apakah… apakah kau yakin akan melanjutkan masuk? Sangat ramai di sana. Kita… kita bisa saja membatalkannya dan memilih duduk menyantap makan siang di café kecil yang nyaman dan tenang….” Elana menawarkan dengan tulus meskipun ada rasa sedih juga di jiwanya karena kehilangan kesempatan untuk memasuki Taman Rekreasi Ocean Garden yang sangat legendaris ini.


Akram menipiskan bibir, matanya masih memandang ke sekeliling dan keningnya berkerut dalam. Tetapi akhirnya lelaki itu menggelengkan kepala dengan penuh tekad.


“Tidak apa-apa. Ayo kita masuk,” Akram mencekal tangan Elana, lalu menariknya untuk memasuki gerbang.


***



***


“Akram! Bagus sekali, lihat ikan itu, besar sekali!"


Elana berseru lupa diri ketika mereka berada di terowongan di tengah akuarium dengan rongga lengkung di bagian tengahnya, dengan kaca bening tebal di dasar pijakan mereka, sekeliling mereka dan juga bagian atas mereka, yang kesemuanya menampilkan air laut berwarna biru jernih, penuh dengan berbagai macam biota laut berbagai ukuran melintas dan berenang tanpa merasa terganggu oleh penuhnya manusia-manusia yang menatap penuh kekaguman ke arah mereka.


Akram sendiri hanya terdiam membeku, melirik ke arah tangan Elana yang mungil dalam genggamannya dan tersenyum masam seolah memaksakan diri membaur dengan tempat yang tak disukainya.


Karena menjadi lokasi wahana paling favorit di Ocean Garden, lokasi tempat mereka berdiri begitu penuh sesak oleh manusia-manusia yang tak ingin melewatkan kesempatan mengagumi keajaibannya. Karena itulah Akram harus menahan diri tersenggol di sana sini oleh manusia-manusia tak tahu diri yang melangkah tanpa melihat ke kanan dan ke kiri di dalam keramaian. Hampir saja dia meledak marah ketika seseorang bertubuh besar, berjalan cepat menembus penuh sesaknya manusia dan tanpa sengaja menyenggol bahu mungil Elana hingga membuat perempuan itu hampir jatuh. Beruntung Elana menahannya dengan tatapan mengingatkan, mencegah Akram membuat keributan di tempat ini.


Beberapa kali Akram mendengus dengan nada tak puas hati. Apa sih bagusnya berdesak-desakan seperti ini hanya untuk melihat ikan-ikan berenang kesana kemari? Kalau memang Elana menyukai ikan, dia bisa memasang instalasi akuarium raksasa di apartemennya yang akan dipenuhinya dengan berbagai jenis ikan-ikan hias langka. Jadi, perempuan itu tak perlu harus kerepotan mempertahankan tubuh mungilnya di tengah keramaian hanya untuk melihat ikan-ikan berenang.


Terus dan terus Akram menggerutu dalam hatinya. Tetapi kemudian, perhatiannya teralihkan ketika sekali lagi, Elana mengguncangkan genggaman tangan mereka yang bertautan.


Akram menolehkan kepala dan langsung bertatapan dengan Elana yang mendongak ke arahnya. Mata itu penuh kilauan binar cerah yang tampak sangat menggemaskan, membuat jantung Akram berdetak lebih kencang entah kenapa.


“Terima kasih, aku… aku tidak akan melupakan hari ini! Ini hari yang sangat menyenangkan,” Elana harus berjinjit untuk berbisik di telinga Akram, mencoba menembus riuh rendahnya suara yang mengelilingi mereka.


Kemuraman yang melingkupi ekspresi Akram dan hati Akram langsung terurai seketika mendengar kalimat Elana itu, membuat senyum terulas di wajahnya.


Akram membawa tangan Elana ke bibirnya dan mengecupnya sambil lalu, membuat pipi Elana memerah tersipu malu.


“Mereka bilang puncak pertunjukan di area akuarium ini adalah pertunjukan memberi makan ikan hiu yang akan dilaksanakan beberapa saat nanti. Kau mau ke sana?” tanya Akram, menarik Elana ke dalam pelukannya dan berbisik dengan nada suara merayu.


Elana mengerutkan kening. “Tapi… tadi kan kita lewat di pintu masuk wahana ikan hiu dan antriannya sangat panjang. Kalaupun kita kesana sekarang, bangku auditoriumnya mungkin telah penuh dan kita tidak mungkin bisa mengejar waktu untuk melihatnya.”


Akram mengedipkan sebelah matanya dengan sikap santai, sesuatu yang tidak pernah dia tunjukkan kepada Elana sebelumnya. Diambilnya kartu berwarna emas dari sakunya dan dilambai-lambaikannya ke depan mata Elana.


“Aku memang menjanjikan kencan rakyat jelata kepadamu. Tetapi di saat mendesak, ada baiknya kita menggunakan jalan pintas supaya apa yang kita inginkan tercapai,” ucap Akram dengan seringai di bibirnya.


Mata Elana melebar, membaca dengan jelas apa yang tertulis di kartu itu.


”Kartu pass VVIP?” tanyanya dengan nada tak percaya. Dia bahkan baru mendengar bahwa ada fasilitas seperti itu di taman rekreasi ini.


Akram menganggukkan kepala dengan sikap angkuhnya yang biasa. “Aku membayar mahal untuk mendapatkan ini. Dengan kartu ini, kita bisa memasuki wahana apapun lewat pintu khusus tanpa mengantri,”


Elana menatap Akram dengan ragu. “Itu berarti… kita mencurangi pengunjung lain yang mengantri, bukan?” bisiknya perlahan, dipenuhi rasa bersalah dan takut kalau sampai terdengar oleh orang-orang yang mengelilingi mereka.


Akram tergelak mendengar sikap polos dan naif Elana, dia lalu balas berbisik, tepat di telinga perempuan itu.


“Kita tidak mencurangi siapa-siapa. Orang-orang itu membayar tepat sesuai dengan apa yang akan mereka dapatkan, begitu juga dengan diriku. Dan karena aku membayar lebih, aku berhak mendapatkan lebih juga,” ucapnya angkuh dan tak terbantahkan.

__ADS_1


***



***


Tempat untuk menonton wahana ikan hiu itu layaknya auditorium gelap dengan bangku-bangku berbentuk setengah lingkaran yang bertingkat dari posisi teratas sampai ke bawah, mampu menampung ribuan orang sekaligus dalam sekali pertunjukan.


Lampunya dibuat gelap pekat, supaya orang-orang bisa memfokuskan perhatiannya pada kaca cembung yang menjadi dinding akuarium raksasa di depan mereka.


Dengan menggunakan kartu yang dimiliki oleh Akram, mereka bisa masuk melalui lorong khusus yang tidak dilalui oleh orang lainnya yang mengantri, lalu memilih posisi tempat duduk paling enak pada saat para pengunjung biasa belum diperbolehkan memasuki auditorium ini.


Ketika bangku-bangku telah penuh orang dan suasana sekeliling mereka semakin pekat sementara Elana tengah memandang lurus ke depan, ke arah pertunjukan memberi makan ikan hiu yang indah sekaligus memancing adrenalin, Akram tidak menatap ke arah akuarium raksasa itu. Dia malah menolehkan kepala ke samping, mengawasi wajah Elana yang terlihat jelas akibat pantulan lampu dari dalam akuarium raksasa tersebut.


Sekali lagi, bahkan dalam nuansa remang seperti saat ini, kebahagiaan terpancar jelas dari mata Elana dan membuat hati Akram terenyuh seolah diremas oleh tangan tak kasat mata.


Perempuan ini begitu mudah dibahagiakan. Dan saat ini, Elana telah mulai bersedia untuk berbahagia di sampingnya. Apa yang akan terjadi nanti kalau ternyata Elana benar-benar hamil? Akankah perempuan itu mengamuk dan membencinya karena seolah terjebak dibuat hamil tanpa kemauannya sendiri?


“Yang satu itu mirip dirimu."


Elana tiba-tiba berucap, membuat Akram lepas dari kekalutan pikirannya dan langsung mengerutkan kening, menatap ke arah akuarium itu dengan penuh rasa ingin tahu.


Pertunjukan di sana menampilkan para penyelam terlatih dengan nyali tinggi. Para penyelam itu berada di dalam kerangka berbentuk kandang dan memberikan makanan kepada berbagai jenis ikan hiu dengan ukuran raksasa yang berputar mengelilingi kandang besi tersebut, menyambar dengan rakus ke tongkat panjang tertancap ikan yang diulurkan oleh para penyelam, keluar dari kerangka yang melindungi mereka.


Akram malahan tidak bisa menahan diri untuk tersenyum penuh ironi ketika melihat pertunjukan itu. Di dunia bahwa air, manusia yang selalu menjadi makhluk superior ternyata harus mau tunduk menyerah dan mengalah. Merekalah sekarang yang berada di dalam kandang dan dikelilingi oleh raksasa laut buas yang lepas bebas.


“Yang mana?” Akram berusaha mencari tahu yang dimaksudkan oleh Elana, tetapi tak menemukannya.


Dengan bersemangat Elana menunjuk ke arah akuarium, berusaha memberitahu ikan hiu yang dimaksudkannya.


“Yang di sebelah situ, yang di ujung. Kau bisa lihat? Dia tidak berbaur dengan yang lain dan tidak ikut berputar-putar menyambar makanan. Dia memilih diam di sudut dan memandang sinis ke arah rekan-rekannya yang mau-mau saja bertindak bodoh terpancing oleh makanan, hanya demi kepentingan pertunjukan. Dia tidak mau diatur, angkuh dan tak mau bekerjasama. Tetapi tetap saja, dia terlihat sebagai ikan hiu yang paling elegan di bandingkan semua yang ada di sana. Aku akan menyebutnya ikan hiu ningrat yang angkuh,” Elana menunjuk ikan hiu besar yang tampak malas berbaur dan memilih berenang di bawah bayangan tersembunyi, memilih mengawasi daripada ikut berebut makanan. Perempuan itu lalu terkekeh dan menoleh ke arah Akram dengan tatapan mata berbinar. “Mirip seperti dirimu, bukan?” tanyanya kemudian tanpa rasa bersalah dan tanpa niat mengejek sedikitpun.


Kejujuran Elana sama sekali tidak membuat Akram tersinggung. Hatinya malah membuncah oleh perasaan senang mendengar penilaian itu.


Hal itu menyenangkan Akram sehingga bukannya menjawab pertanyaan Elana, Akram malah menundukkan kepala untuk menyambar bibir perempuan itu dalam kecupan penuh hasrat.


Semula Elana berusaha menolak, menyadari bahwa meskipun kegelapan melingkupi mereka dan melindungi mereka dari pandangan mata, tetap saja saat ini mereka berada di tengah-tengah orang banyak.


Tetapi Akram menahan tubuh Elana, merapatkan kepadanya dan tetap menciuminya, merayu Elana supaya terlena dalam keindahan pertautan bibir mereka.


Dua anak manusia itu tenggelam dalam nuansa mesra yang melingkupi, seolah-olah hiruk pikuk manusia yang riuh rendah, tak ada lagi di sekeliling mereka. Seolah-olah hanya ada mereka berdua di tempat ini, mengungkapkan perasaan yang tak terucap dalam bentuk keintiman milik mereka sendiri.


***



***


“Aku ingin naik wahana yang itu!” Elana membawa es krim yang diberinya dari counter yang tersedia di perjalanan mereka melalui berbagai wahana permainan. Es krim itu sudah hampir habis dinikmati, tampak sedikit meleleh, berwarna pink cerah dengan rasa stoberi manis bercampur susu yang sangat terlihat lezat. Sementara itu, langkah Elana bersemangat ketika memimpin perjalanan mereka ke arah wahana yang sangat dia idam-idamkan ini.


Berdiri menjulang di hadapan mereka, adalah wahana roller coaster yang termasuk dari lima tertinggi di dunia. Bahkan ketika Akram mendongakkan kepala, ujung tertinggi dari wahana itu terlihat samar, seolah tertelan oleh awan saking tingginya. Keningnya berkerut dalam menatap roller coaster itu, sementara telinganya menangkap suara riuh rendah jeritan histeris dari manusia-manusia yang tengah mengadu nyali di atas sana.


Diliriknya tulisan besar papan peringatan di sana yang menyatakan bahwa anak-anak yang tidak memenuhi persyaratan tinggi badan, orang dengan riwayat penyakit jantung, dan wanita hamil, dilarang untuk menaiki wahana tersebut.


Wanita hamil?


Jika memang dia berhasil membuahi Elana dan wanita itu berhasil hamil, usia kandungannya memang baru satu hari. Tetapi, tetap saja seorang wanita yang baru hamil satu hari, termasuk ke dalam golongan wanita hamil, bukan?


Dengan kuat Akram menarik bahu Elana yang hendak memasuki gerbang antrian wahana tersebut yang saat ini memang tidak terlalu ramai. Mungkin karena ini adalah wahana yang membutuhkan nyali dan stamina tingkat tinggi, tidak semua orang berminat untuk menjajalnya.


Tentu saja Akram tidak akan membiarkan Elana menjajal wahana tersebut!


Elana menolehkan kepala, mengerutkan kening ketika Akram menghentikan langkahnya. Ekspresi Akram tampak serius dan seperti berpikir keras, membuat Elana bertanya-tanya.


Akram tidak mungkin takut menaiki roller coaster ini, kan?

__ADS_1


Elana membuka mulut untuk bertanya, tetapi bersamaan dengan itu, Akram berucap dan menghentikan pertanyaan yang belum sempat terlontar dari bibirnya.


"Aku lapar," setelah berpikir keras mencari alasan yang tepat, dengan lihai Akram akhirnya memutuskan untuk menggunakan kelemahan terbesar Elana. Selera makannya. "Tengah hari sudah lewat dan kita belum makan apapun selain es krimmu itu sejak sarapan tadi. Apakah tidak lebih baik kita mencari makanan terlebih dahulu?"


Elana tampak menimbang-nimbang perkataan Akram. Antara wahana yang sangat menarik dibandingkan dengan rasa laparnya....


Tangan Elana bergerak meraba perutnya sendiri dan layaknya orkestra yang menunggu aba-aba sang konduktor, perutnya tiba-tiba bergemuruh, memberi isyarat lapar yang sangat menuntut.


Dia akhirnya menganggukkan kepala.


"Baiklah, ayo kita cari makanan dulu," ujarnya riang, sama sekali tak menyadari kelegaan kental yang langsung melumuri bola mata Akram ketika mendengar persetujuannya.


***



***


Ternyata, bahkan untuk makanpun, mereka kesulitan di tengah keramaian seperti ini. Seluruh kantin yang tersedia penuh terduduki di semua bangkunya, cafe-cafe dengan harga lebih tinggi pun sama penuhnya, memaksa para pengunjung yang memiliki kesabaran tinggi berdiri berkerumun, bersedia mengantri di pintu masuknya untuk menunggu kursi kosong.


Meskipun memiliki kartu VVIP untuk semua wahana, Akram tidak mungkin menggunakan kartu itu untuk mendapatkan keistimewaan guna menerobos antrian makanan atau mendapatkan bangku kosong secara paksa, karena di siang bolong semacan ini, hal itu akan menarik perhatian khalayak ramai, sesuatu yang tidak diinginkannya terjadi karena bisa merusak kencan rakyat jelata mereka.


Satu-satunya pilihan makanan mereka ada di gerai makanan cepat saji, yang meskipun juga memiliki antrian penuh, tetapi pelayanannya cukup cepat, karena menu berbagai burger dan sandwich dengan berbagai isian memang cukup mudah disiapkan bagi para pembeli.


Akram mengamati bahwa antrian berjalan cukup cepat dan para pembelinya pun tidak perlu harus menunggu bangku kosong di dalam kantin untuk makan. Dengan menu makanan yang praktis yang tak membutuhkan sarana meja untuk disantap itu, mereka bisa makan sambil duduk di bangku-bangku taman yang tersedia melimpah dan menikmati makan siang mereka dengan efisien tanpa repot.


Mata Akram yang awas memukan sebuah bangku kosong yang belum terisi di tempat sedikit tersembunyi di bawah pohon besar yang cukup rindang dan sejuk. Dihelanya tubuh Elana ke sana, lalu didudukkannya Elana di bangku itu dengan sikap tegas.


"Duduk di sini dan jangan kemana-mana, aku akan membelikan makanan untukmu di sana," Akram mengedikkan dagunya ke arah gerai makanan cepat saji di dekat mereka, lalu menolehkan pandangannya kembali ke arah Elana. "Apakah kau mengerti?" Akram bersikap seperti seorang ayah yang membawa anak berusia lima tahun dan memperingatkan anak itu supaya tidak kemana-mana karena takut anak itu hilang.


Sikap Akram sendiri cukup mengintimidasi. Lelaki itu membungkuk dengan kedua tangan mencengkeram bahunya, sementara wajahnya dekat dengan wajah Elana, tak lupa sambil menusukkan tatapan matanya yang tajam.


Diperlakukan seperti itu, tak ada yang bisa dilakukan Elana selain menganggukkan kepala.


Ketika Akram melangkah menjauh, Elana menyandarkan punggungnya di sandaran bangku kayu itu, mengembuskan napas, lalu memejamkan mata dengan senyum terkembang di bibirnya, menikmati saat-saat mendamaikan ketika kesejukan angin segar dari gerakan dedaunan pohon yang menari-nari di atasnya menyapa pipinya dengan lembut.


Sayangnya, kedamaian Elana tidak berlangsung lama, karena tiba-tiba saja, ada suara hiruk pikuk yang terdengar dekat dengannya, membuat perhatian Elana tertarik dan dia langsung membuka mata.


Tampak serombongan orang berjalan ke arahnya. Mereka membawa peralatan besar yang seperti peralatan pemotretan dan sibuk memasangnya di area dekat Elana.


Kepala Elana menoleh ke arah kerumunan yang lebih besar di dekat situ, dan matanya langsung menemukan sosok yang menjadi pusat perhatian di tengah kerumunan itu. Itu adalah sosok tinggi seorang perempuan berpenjagaan ketat, mengenakan kacamata hitam dan pakaian yang sangat elegan, saat ini perempuan itu tengah dikerumuni oleh penggemarnya yang histeris meminta tanda tangan atau sekedar meminta bersalaman.


Sepertinya seorang artis terkenal yang sangat cantik dan artis itu hendak menjalani pemotretan di tempat ini...


Elana begitu terpaku dengan pemandangan unik tersebut sehingga dia tidak menyadari bahwa dua orang bertubuh kekar yang merupakan bodyguard artis itu telah datang mendekat ke arahnya, lalu berdiri di depannya dengan sikap mengintimidasi.


"Minggir!" bentak salah seorang bodyguard itu dengan kasar.


Elana mengerutkan kening, ternganga karena bingung dibentak tanpa tahu letak kesalahannya.


"Apa-apaan....." sebelum sempat Elana menyelesaikan kalimatnya, dia mengaduh kesakitan karena lengannya tiba-tiba dicekal, tepat di tempat memar yang masih sakit, menciptakan nyeri menusuk yang hampir tak tertahankan.


"Minggir sana dan cari tempat lain! Nona kami ingin beristirahat sambil menunggu proses persiapan pemotretan selesai, dan beliau ingin duduk di bangku ini!"


***



***




__ADS_1


__ADS_2