Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
EOTL eps 8 : Perempuan Pemberontak


__ADS_3


4/6 episode yang akan diposting minggu ini


***


Ponsel itu hampir saja terjatuh dari tangannya ketika Sera mendengar perkataan Xavier tersebut, untung saja Sera berhasil menangkapnya sebelum ponsel itu terbanting ke lantai.


Sera menolehkan kepala dengan penuh teror ke arah bagian depan rumahnya. Wajahnya memucat, sementara tangannya yang gemetar mencengkeram ponsel di tangannya makin erat.


"Kau... eh Anda... ada di depan rumahku?" Sera menahan diri sekuat tenaga supaya suaranya tak terdengar gemetaran. Dia menghela napas pendek-pendek untuk menenangkan diri sambil tetap waspada menanti jawaban Xavier, sementara kepanikan mulai menyerangnya.


Astaga, dia bahkan belum merapikan rambutnya untuk memasang wig! Apa yang harus dilakukannya sekarang?


Hening sesaat. Entah kenapa Xavier tidak mengatakan apapun untuk menjawab pertanyaan Sera. Bahkan, suara bel di pintu rumahnya pun tidak terdengar lagi. Sementara itu, Sera masih memandang waspada ke arah bagian depan pintu rumahnya, bersamaan dengan jantungnya yang berdebar semakin kencang seiring dengan berlalunya detik ketika dia menunggu.


"Aku hanya bercanda." Xavier kemudian berucap dengan nada tenang menjengkelnya yang menyiratkan senyum.


Sera bahkan sampai harus menjauhkan ponselnya itu dari tangannya karena tidak yakin dengan apa yang didengarnya.


"Apa?" Akhirnya pertanyaan itu terucap dari bibir Sera yang kebingungan.


Benarkah lelaki ini hanya bercanda? Lalu apa yang terjadi dengan suara bel di depan pintu rumahnya? Benarkah itu hanya kebetulan semata?


"Aku hanya bercanda. Tidak mungkin aku menginvasi batas privasi calon asistenku dengan mendatangi rumahnya tanpa diundang." Xavier berucap dengan nada ramahnya yang biasa, tanpa rasa bersalah. "Tetapi, aku memang mengirimkan hadiah untukmu."


"Hadiah untukku?" Seperti orang bodoh, Sera membeo menirukan perkataan Xavier dengan nada bertanya.


"Anggap saja hadiah itu sebagai ucapan selamat karena telah diterima menjadi asistenku. Sepertinya hadiahnya sudah tiba ke alamatmu, kau bisa menerimanya." Xavier berucap santai, lalu menyambung dengan nada tegas tak terbantahkan. "Seorang supir akan datang menjemputmu malam nanti. Kita akan makan bersama direstoran pilihanku untuk merayakan. Kuharap kau mengenakan hadiah dariku untuk menghargaiku."


Setelah mengucapkan kalimat perintah layaknya ultimatum, tiba-tiba saja Xavier memutuskan pembicaraan secara sepihak, seolah-olah tak ingin menghabiskan waktunya untuk mendengarkan bantahan dari Sera.


Sejenak Sera terpaku menatap ponselnya dengan pandangan tak percaya bercampur jengkel. Xavier seenaknya saja menyampaikan sesuatu yang membuat jantungnya berhenti berdetak karna kaget dan panik, lalu tanpa berdosa mengatakan kalau itu hanya bercanda. Setelahnya, lelaki itu bahkan bersikap arogan dengan memberikan perintah tanpa mau mendengarkan pendapatnya.


Sera menggigit bibir sambil memikirkan kata-kata umpatan yang cocok untuk mengata-ngatai Xavier dalam hatinya. Tetapi, kemudian dia teringat perkataan Xavier sebelumnya bahwa lelaki itu telah mengirimkan hadiah untuknya.


Jangan-jangan bel pintu tadi...


Sera meletakkan ponselnya ke meja, lalu melangkah terburu-buru ke arah pintu depan rumahnya.


Sebelum mencapai pintu, dia mengarahkan kakinya terlebih dahulu ke arah jendela, lalu mengintip sedikit dari gorden yang tertutup rapat untuk melihat situasi di luar.


Siapa yang tahu kalau anak buah Xavier mungkin mengawasinya dari kejauhan?


Memikirkan itu membuat Sera langsung berbalik, menuju arah kamar mandi terdekat dan mengambil handuk dari susunan lipatan rapi di dalam kabinet yang terletak di dekat kamar mandi.


Sera menggunakan wig dalam penyamarannya menghadapi Xavier. Rambut panjangnya yang saat ini tergerai sama sekali tak boleh kelihatan...


Karena itulah dengan cepat Sera melilitkan handuk di kepalanya, dan membungkus rambutnya rapat seperti wanita-wanita yang baru selesai mencuci rambut.


Sera lalu berjalan kembali ke arah pintu dan kembali mempercepat langkahnya ketika dia sudah semakin dekat.


Dipegangnya handel pintu, lalu dibukanya dengan hati-hati.


Pertama Sera hanya mengeluarkan kepalanya sementara matanya masih sibuk memandang ke sekeliling. Tak lama kemudian, sesuatu tampak menarik perhatiannya, membuat Sera menunduk menatap benda itu dengan kening berkerut.


Sebuah kotak berwarna biru tua, dihiasi oleh pita perak yang terangkai indah di atasnya.


Mata Sera melebar, ragu.


Benda itu berasal dari Xavier... apakah sungguh tidak berbahaya bagi Sera jika dia membawanya masuk ke dalam rumah?


Kembali dia memandang sekeliling untuk melihat siuasi, dan setelah memastikan bahwa semuanya aman, Sera memutuskan untuk berbuat nekat. Tubuhya membungkuk sementara tangannya meraih kotak hadiah itu dan secepat kilat membawanya masuk ke dalam rumah. Setelahnya Sera menutup pintu kembali dan menguncinya.


Jantung Sera berdebar kencang ketika dia melakukan itu dan sekarang, dirinya menatap dengan penuh rasa ingin tahu ke arah kotak hadiah di tangannya.


Kotak ini terasa cukup ringan....

__ADS_1


Perlahan Sera melangkah menuju meja dapurnya yang luas. Dia lalu berdiri di depan meja dapur tersebut. Tangannya bergerak mengangkat kotak itu sejajar dengan matanya, mengawasi dengan saksama, meneliti seluruh bagiannya dengan sangat berhati-hati.


Tidak ada tempat tersembunyi untuk menyelipkan serum racun ataupun kamera dengan ukuran nano.


Kemungkinan besar, kotak ini aman.


Sera meletakkan kotak itu di meja dapur, lalu tanpa ragu lagi, tangannya meraih gunting dan memotong ikatan pita yang terjalin indah itu, sebelum kemudian mengangkat tutup kotak dari karton tersebut.


Sera terkesiap ketika menemukan apa yang ada di dalam kotak itu.


Sebuah gaun, berwarna biru tua nyaris hitam yang sangat indah, lengkap dengan satu set perhiasan mutiara putih berkilauan dalam kotak kecil yang melengkapi.


Dirinya langsung mengingat perkataan Xavier tadi bahwa lelaki itu berharap Sera mengenakan hadiah pemberian darinya untuk menghargainya.


Jadi, Malam ini Xavier ingin Sera memakai gaun hadiah darinya untuk menghadiri makan malam yang dipaksakan kepadanya tanpa memiliki kesempatan membantah?


 


 



 


"Lihat, dia makan banyak sekali!"


Elana terkekeh sambil menoleh ke arah Akram yang baru saja melangkah masuk ke dalam ruangan dan mengawasi tingkah anak dan istrinya sambil menahan senyuman.


Di usia Zac yang genap enam bulan ini, Elana memutuskan untuk mulai memberikan dan mengenalkan makanan padat pertama kepada Zac. Sebelumnya, Elana sudah mencoba-coba memberikan biskuit khusus bayi dalam genggaman Zac, dan anak itu merespon baik dengan memasukkan biskuit itu ke dalam mulutnya dan karena Zac masih belum punya gigi, anak itu akhirnya malahan menyesap-nyesap biskuit bayi tersebut sampai lumer dan belepotan kemana-mana, membuat Akram dan Elana tertawa bersama melihat betapa menggemaskannya anak mereka.


Menu perdana Zac adalah olahan bubur beras merah organik tanpa campuran apapun yang dibuat sendiri oleh Elana dengan menggunakan slow cooker otomatis yang bisa mengempukkan beras dan membuatnya menjadi bubur, sekaligus menjaga kandungan gizi di dalamnya tetap terjaga dan tidak menguap oleh proses pemanasan dalam pembuatan bubur.


Elana sengaja membuat bubur itu hambar, tidak menambahkan gula atau garam, karena selain dia ingin menonjolkan rasa gurih manis alami dari beras merah, Elana tahu bahwa bayi yang berusia di bawah satu tahun, sistem pencernaannya masih dalam proses penyempurnaan sehingga lebih baik tidak diberikan garam dan gula dahulu sampai nanti usianya sudah di atas satu tahun.


Zac adalah anak pertama Elana, dan Elana sendiri tidak punya pengalaman menjadi seorang ibu. Dahulu ketika tinggal di panti asuhan, dirinya yang remaja memang biasanya selalu membantu mengasuh adik-adik asuhnya di sana. Tetapi, untuk penanganan bayi yang masih kecil, biasanya ibu pengasuh panti asuhan sendirilah yang menanganinya.


Pada saat Zac lahir, Akram berniat mempekerjakan pengasuh dan perawat anak berlisensi untuk menjaga Zac, tetapi Elana menolak usulan itu. Waktu berharga yang dihabiskannya untuk anaknya itu tiada duanya dan sudah pasti tak bisa diulang kembali. Elana ingin menikmati setiap detiknya tanpa terlewatkan. Karena itulah dia bersikeras merawat Zac sendiri, mencoba yang terbaik dengan berbekal buku-buku dan artikel ilmu pengetahuan merawat bayi, juga berkonsultasi dengan dokter yang memantau tumbuh kembang anak, serta menerima sedikit bantuan dari para pelayan di rumah untuk hal-hal rumit seperti memandikan bayi.


Keputusan Elana membuahkan hasil yang manis. Zac yang telah berusia enam bulan kini tumbuh menjadi bayi montok yang sehat dan ceria. Anak itu juga telah belajar duduk sendiri, menegakkan punggungnya sehingga lebih mudah saat didudukkan di kursi makan khusus bayi untuk disuapi.


Ketika pertama kali bubur beras merah itu masuk ke dalam mulutnya, reaksi Zax sangat lucu. Bayi tampan itu mengerutkan kening, mengerucutkan bibir saat indra perasanya mencecap sesuatu yang baru yang tak pernah dirasakannya sebelumnya. Tetapi, kemudian Zac tampaknya memutuskan bahwa dia menyukai bubur beras merah itu, karena pada suapan kedua, anak itu membuka mulutnya lebar-lebar lalu menelan makanannya dengan senang di setiap suapan berikutnya.


Akram akhirnya tak bisa menahan kekehannya ketika dirinya melongok dari belakang pundak Elana dan melihat bahwa mangkuk makanan Zac sudah licin dan tandas.


"Jika dia terus makan seperti itu, dia akan segera tumbuh besar dengan cepat." Akram berkomentar lembut, tubuhnya merapat di belakang Elana, lalu lelaki itu menyelipkan lengannya ke bawah lengan istrinya dan memeluk pinggang Elana dari belakang.


Dengan sikap sayang, Akram sedikit membungkuk dan meletakkan dagunya di pundak Elana yang mungil. "Sepagian kau sibuk memasak menu makanan Zac dan menyuapinya. Bagaimana denganku? Aku harus puas dengan masakan koki kita dan makan siang sendirian di ruang makan, sementara anak dan istriku malahan asyik sendiri di sini,"


"Akram," Elana berseru dengan nada memperingatkan sambil sedikit menyikut ke belakang, ekspresinya penuh senyum menanggapi keluhan lucu suaminya. "Apa-apaan kau? Bukankah kau yang selalu mencerca masakanku dan membanding-bandingkannya dengan masakan kokimu yang berpengalaman dan ahli meramu kelezatan hidangannya itu?" sanggahnya cepat.


Akram tertawa. "Yah, sesungguhnya, meskipun masakanmu tidak seenak dan sesehat masakan kokiku, kadang-kadang aku merindukan rasanya. Bagaimanapun, yang dimasak oleh istri pastilah yang paling enak," lelaki itu lalu mengecup sisi pelipis Elana dan menurunkan bibirnya sebelum kemudian berbisik perlahan di telinga Elana dengan sikap menggoda, "Kau pasti setuju denganku, Nyonya Night?"


Elana tertawa kembali, dia lalu mendorong Akram dan melepaskan diri dari rangkulannya.


"Tidak boleh merayu istri di siang hari," ucap Elana tegas, lalu melirik ke arah Zac yang melambai-lambaikan tangan ke arah kedua orang tuanya sambil mengeluarkan gumaman-gumaman lucu dari bibirnya untuk mencari perhatian. "Karena di siang hari, istrimu menjadi milik anakmu," sambungnya lucu sambil tersenyum lebar ke arah Akram.


Akram tidak membantah Elana, lelaki itu mendekat ke arah Zac, lalu mengecup dahi anaknya dengan penuh kasih sayang.


"Kau dengar itu? Usiamu baru enam bulan, tapi kau sudah merebut istriku..." Akram berucap menggoda ke arah Zac yang semakin bersemangat menggerakkan tangan dan kakinya ke arah Akram, sementara Elana terkikik geli melihat tingkah ayah dan anak di depannya itu.


Sejak pernikahan mereka, lalu disusul dengan kelahiran Zac, Akram telah menepati janjinya untuk berubah menjadi pribadi lebih baik. Lelaki itu memang sudah jauh berubah jika dibandingkan dengan awal-awal ketika Elana mengenalnya. Sekarang, Akram terlihat lebih lembut, lebih terbuka mencurahkan kasih sayangnya, dan lebih banyak tertawa. Bahkan sekarang, lelaki itu sudah bisa bercanda seperti yang barusan dilakukannya, menghangatkan hati Elana dan membuatnya mensyukuri kebahagiaan yang kini begitu berlimpah membanjiri kehidupannya.


Suara dering ponsel di saku Akram membuat tangan Akram yang tadinya hendak mengangkat Zac ke dalam gendongannya jadi membeku. Dia mengurungkan niatnya, membiarkan Elana yang bergerak membersihkan mulut Zac dan menggendongnya, lalu mengangkat ponselnya.


"Xavier?" Kening Akram berkerut ketika mendengar suara dari seberang sana. Lelaki itu lalu diam dan mendengarkan sejenak sebelum kemudian berucap. "Ya, Elios sudah melaporkan semua kepadaku. Aku berpikir bahwa tindakan yang kau ambil itu berisiko, tetapi aku setuju dengan keputusanmu untuk menahan perempuan itu di dalam pengawasan kita sampai kita bisa menemukan apa motif sesungguhnya dan siapa yang menjadi dalang di belakangnya...." Akram kembali terdiam, mendengarkan Xavier yang berucap di seberang sana.


"Kau melibatkan Dimitri? Apa kau sudah gila?" Suara Akram sedikit meninggi, membuat Elana yang sedang menggendong Zac langsung menolehkan kepala dengan terkejut.

__ADS_1


Kejadian dimana Dimitri menculik Elana dan menjadikannya sandera untuk merebut pabrik senjata perang dan senjata biologis milik Akram dan Xavier memang sudah berlangsung lama. Tetapi, tetap saja nama Dimitri menyisakan trauma yang tak mau lepas dari benak Elana.


Elana menunggu sampai Akram menyelesaikan percakapan teleponnya dengan Xavier. Suaminya itu tampak marah dan tidak setuju, tetapi entah apa yang diucapkan oleh Xavier di seberang sana hingga akhirnya berhasil meredam kemarahan Akram.


Elana hanya mengawasi Akram yang tampak berdiskusi dengan nada suara rendah di teleponnya, kemudian setelah Akram menutup percakapan, barulah Elana bertanya,


"Dimitri?" suara Elana terdengar berhati-hati, sementara matanya tak bisa menyembunyikan keingintahuan bercampur kecemasan di sana.


Akram menghela napas panjang.


"Sebenarnya aku ingin menahan informasi ini darimu karena tak ingin memberatkan pikiranmu. Tetapi, kurasa karena ke depannya Xavier mungkin akan melakukan tindakan-tindakan nekad, maka kau sebaiknya mengetahuinya." Akram mendekat ke arah Elana yang masih menggendong Zac yang kini tampak mengantuk karena kekenyangan dan senang dibuai ibunya, lalu merangkul dua harta paling berharga di hidupnya itu dengan penuh sayang. "Ini semua berhubungan dengan seorang perempuan yang menjadi kandidat asisten Xavier. Xavier berhasil menemukan latar belakang tersembunyi perempuan itu, dan itu berkaitan dengan.... Anastasia."


Akram memulai penjelasannya, bersiap untuk mengungkapkan apapun yang diketahuinya secara terperinci tanpa terlewat kepada istrinya.


 



 


 


Seperti biasa, ketika memilih makan di sebuah restoran yang membuatnya terpaksa harus berinteraksi dengan orang banyak, Xavier akan memilih ruang privat VIP yang akan melindungi privasinya.


Restoran yang dipillihnya ini adalah restoran langganannya. Restoran ini memiliki sajian yang nikmat dan sudah mendapatkan bintang michelin sebagai ganjaran atas kelezatan menu hidangan prancisnya. Kepala kokinya bahkan merupakan koki berwarganegaraan asing kelas satu yang didatangkan langsung dari perancis untuk menjaga keautentikan rasa dari sajian menu-menunya.


Di tempat ini, sebagai seorang pelanggan tetap yang sangat dihormati, Xavier mendapatkan kartu gold khusus dan pelayanan VIP dengan segala fasilitas yang mungkin tidak akan mudah didapatkan oleh pelanggan lain. Dia bisa melakukan reservasi kapanpun dan langsung mendapatkan kursi tanpa harus masuk daftar tunggu panjang dan dia bisa menutup restoran ini serta menggunakannya untuk kepentingannya kapanpun dia mau.


Untuk saat ini, Xavier sudah merasa cukup puas dengan duduk di ruang VIP yang disiapkan untuknya dan tidak merasa perlu menutup seluruh restoran.


"Tuan," salah satu pengawalnya yang berjaga di depan membuka pintu perlahan dan. memberitahu dengan sikap hormat. "Nona Sera sudah tiba."


"Antar dia masuk," Xavier menyipitkan mata dengan penuh antisipasi, tak sabar menanti untuk melihat penampilan Sera mengenakam gaun malam mewah pemberiannya.


Gaun malam itu hanya ada satu di dunia, dibuat dengan pesanan khusus oleh desainer terbaik dari perancis yang memiliki keahlian mumpuni untuk menciptakan gaun-gaun indah yang mampu menonjolkan kecantikan pemakainya secara maksimal. Begitupun dengan perhiasan mutiara yang menyertainya, mutiara asli itu sangat indah, mahal dan dirangkai dengan tangan oleh perancang perhiasan berlisensi yang setiap karyanya selalu menjadi rebutan meskipun harganya selangit.


Xavier yakin bahwa warna biru tua itu sangat cocok dengan Sera, belum lagi modelnya yang elegan, pastilah sangat cocok dikenakan oleh perempuan itu. Belum lagi perhiasan mutiara itu sudah pasti akan menambahkan cahaya dalam penampilan Sera.


Pintu pun terbuka dan Xavier langsung memusatkan pandangannya ke arah pintu, penuh antisipasi.


Sera memasuki ruangan, membalas tatapan mata Xavier dan lelaki itu langsung mengangkat alis dengan senyuman penuh ironi khas yang langsung muncul di bibirnya. Gurat kemarahan sempat menyala di matanya meskipun hanya sedetik karena Xavier berhasil memadamkannya dengan cepat dan menggantinya dengan tatapan tajam penuh minat.


Sebagai seseorang yang memiliki 'kelebihan' Xavier terbiasa menyusun segala sesuatunya dengan perencanaan yang tepat dan rapi sampai ke detail terkecil untuk meminimalisir kegagalan. Sampai dengan saat ini, Xavier bisa dibilang hampir belum pernah gagal ketika membuat rencana.


Sayangnya, malam ini Xavier harus kecewa dan menerima kenyataan bahwa dia terlalu meremehkan Sera dengan berpikir bahwa perempuan ini akan mengikuti kemauannya tanpa perlawanan.


Sera, perempuan pemberontak ini ternyata memutuskan untuk melawannya dan mengobarkan bendera peperangan.


 


 




Essence Of The Light ( EOTL) adalah Season Dua dari Essence Of The Darkness yang khusus menceritakan tentang Xavier Light.


Semoga kalian semua senang menemani author dan Xavier untuk menjalani kisah hidupnya sampai ke ujung jalan.


Terima kasih untuk Vote Poin, Like, Komen, Rating bintang lima dan Koinnya


Dan yang paling penting, dukungan tulus semangat dari kalian semua adalah yang utama.


Karena sudah ada fitur grup chat di Noveltoon ( di Mangatoon belum ada ) maka Author akan membuat pengumuman upload naskah, update jadwal up dan semua hal yang berhubungan dengan novel di grup chat author. Silahkan bergabung di sana ya.


 

__ADS_1



__ADS_2