
"You make me vulnerable. I cannot defend myself against you. And that scares me. More than anything else"
Gabriella meringis merasakan nyeri yang semakin menggigit di ujung bibirnya. Dia mengusap wajahnya, tapi rasa sakit di bekas tamparan Akram malahan terasa semakin memburuk. Ketakutan membalur seluruh jiwanya ketika menyadari bahwa Akram saat ini amat murka dan tidak sedang bermain-main. Bibirnya bergetar ketika memberanikan diri untuk mengungkapkan rasa ingin tahunya.
"Kenapa... kenapa hanya karena seorang petugas cleaning service, kau... kau marah sampai sedemikian rupa...?" Gabriella mendongakkan kepala, menatap Akram yang menjulang tinggi di depannya. Rasanya dia ingin bangun, tetapi sikap Akram yang mendominasi membuat kakinya terasa begitu lemah, gemetaran dan tak mampu menopang tubuhnya berdiri.
Akram melirik sedikit ke arah Elana yang masih terdiam kaku di belakangnya, lalu dia kembali menatap ke arah Gabriella dan menyeringai.
"Karena, petugas cleaning service itu adalah wanitaku." Akram membungkuk di atas Gabriella, mengambil dagu perempuan itu dengan kasar dan memaksa Gabriella mendongak ke arahnya. Dinikmatinya keterkejutan yang melumuri mata Gabriella ketika mendengar ucapannya.
Akram mendekatkan bibirnya ke sisi wajah Gabriella, memastikan perempuan itu bisa mendengar dengan saksama setiap kata yang diucapkannya. "Dan wanitaku itu, dia beribu-ribu kali lebih baik dari dirimu. Dari segi apapun. Perempuan busuk sepertimu tidak pantas menyentuhkan tangan kotormu ke tubuhnya. Kau bahkan berani menyakiti milik Akram Night yang berharga, jadi kau akan menerima akibatnya. Aku sudah pasti akan menghancurkanmu sampai tandas hingga kau akan berpikir lebih baik mati saja." Akram mengucapkan kalimat ancamannya dengan kejam bagai vonis hukuman mati.
Akram mendorong Gabriella dengan kasar, kemudian menolehkan kepala ke arah Elios yang tampak menunggu dengan sabar di belakangnya.
"Elios." ucapnya memberi perintah dengan tenang.
"Baik, Tuan," Elios menganggukkan kepala, tahu apa yang harus dilakukan tanpa Akram perlu menjabarkannya secara terperinci. Dia menolehkan kepala ke arah para bodyguard yang sedari tadi menyaksikan semuanya dalam sikap diam yang terlatih, lalu memberi isyarat agar pada bodyguard itu bergerak.
Para bodyguard itu langsung merangsek ke arah Gabriella, mencengkeramnya. Lalu ketika Gabriella meronta dan menolak dipegang, mereka malahan berubah semakin kasar, menyeret Gabriella tanpa ampun ke arah lift.
"Akram! Akram! Kumohon... kau tidak bisa melakukan ini terhadapku! Akram! Akram! Kumohon...!" Gabriella beriba-iba berusaha melembutkan hati Akram. Dia menyadari bahwa menerima hukuman dari Akram Night sama saja menerima vonis kematian. Hidupnya akan hancur hingga ke titik terbawah dan tidak akan ada yang berani mengulurkan tangan untuk menolongnya, karena mereka semua takut pada Akram Night.
Sayangnya, Akram tampaknya menulikan diri terhadap jeritan permohonan ampun dan teriakan memilukan Gabriella yang terus terdengar sepanjang dirinya di seret ke lift. Hingga akhirnya suara perempuan itu hilang ditelan oleh pintu lift yang tertutup rapat.
"Kau tahu apa yang harus kau lakukan, Elios," Asistennya itu tidak mampu melindungi Elana dan menyebabkannya terluka, tetapi Akram memilih tidak meluapkan kemarahannya, meskipun nada suaranya menyiratkan dengan tegas bahwa Elios harus membayar keteledorannya dengan keberhasilan menjalankan perintah tanpa cela. "Blow up seluruh skandal terburuk Gabriella ke media dan hancurkan karirnya sampai ke dasar. Pastikan bahwa dia tidak akan mendapatkan tawaran pekerjaan apapun setelah ini. Katakan bahwa siapapun yang berani membantu Gabriella akan berhadapan dan dihancurkan oleh Akram Night. Buat perempuan itu kehilangan seluruh sisa uang yang dimilikinya dengan cara apapun. Aku memberikan izin kepadamu untuk menempuh semua prosedur baik legal maupun ilegal dengan menggunakan seluruh sumber daya yang kita miliki. Aku ingin Gabriella kehilangan segalanya, hancurkan perempuan itu sampai ke dasar sampai dia berakhir terusir ke jalanan, menggelandang, dan tak punya harapan hidup lagi "
"Baik, Tuan." Elios menjawab patuh dengan segera.
"Berikan laporan berkala kepadaku nanti. Aku tidak mengizinkan ada kegagalan dalam hal ini," Akram memerintah tegas, lalu tatapannya berpusat pada Elana kembali.
Langkah kaki Akram hendak mendekat ke arah Elana, tetapi seketika itu juga, Elana meloncat mundur ketakutan.
"Tidak! Jangan mendekat!" Elana berseru, mengulurkan tangannya ke depan seolah berusaha mengusir Akram menjauh.
Langkah Akram langsung tertahan. Matanya menyambar tatapan Elana ke arahnya dan menyadari ada kilat ketakutan yang kental di sana.
Perempuan ini kembali ketakutan kepadanya setelah semua hal yang terjadi di antara mereka?
Akram tidak akan mengizinkan itu terjadi. Dia sudah terlanjur menikmati sikap Elana yang berani menantang dan dengan cerdas mengajukan kompromi kepadanya. Dia senang melihat Elana berusaha membantah dan membangkang kepadanya sementara dirinya semakin terpacu untuk berusaha menaklukkan perempuan itu. Akram tidak akan membiarkan Elana kembali menjadi kucing penakut yang lari terbirit-birit mencari tempat persembunyian ketika melihatnya. Dia ingin Elana menjadi kucing keras kepala, yang tak segan mencakar dan menggigitnya, hingga membuat seluruh proses penaklukannya terasa menyenangkan, dan kemenangan yang dia raih kemudian jadi lebih berarti.
Akram mengabaikan penolakan Elana seperti biasa dan melangkah kembali mendekati perempuan itu. Tangannya bergerak cepat, hendak meraih Elana ke dalam pelukannya dengan maksud menghilangkan ketakutan perempuan itu kepadanya. Tetapi, di detik itu jugalah Elana secara reflek langsung mengangkat tangannya untuk melindungi diri, membuat Akram membeku seketika.
Elana takut dipukul olehnya? Apakah karena tadi dia telah menampar Gabriella tanpa berkedip sekalipun? Jadi hanya karena itu, Elana berpikir bahwa Akram adalah lelaki yang suka melakukan kekerasan terhadap perempuan?
Akram menggertakkan gigi marah, berusaha menahankan kesabarannya.
"Aku tidak akan pernah memukulmu, Elana." Akram mendesis, tangannya bergerak untuk menarik paksa Elana mendekat ke arahnya.
"Tuan Akram,"
Tiba-tiba saja terdengar suara Elios di belakangnya, membuat Akram menghentikan semua gerakan. Kepala Akram menoleh dengan tatapan mengancam ke arah Elios yang telah berani menginterupsinya, tetapi asistennya itu tetap memasang wajah datar yang tak tertembus sebelum kemudian berucap dengan nada formal.
"Tuan Akram, Tuan Fabian menelepon dan menginformasikan bahwa beliau barusan sudah tiba di lobby dan bersiap menaiki lift kemari. Saya rasa, sebaiknya kita memindahkan Elana dari sini dahulu untuk menghindari pertanyaan yang tidak diinginkan," Elios melirik ke arah dua bodyguard yang kembali muncul dari dalam lift, siap untuk menjemput Elana. "Saya akan mengurus perihal keterlambatan Elana ke divisinya, mengatakan bahwa terjadi kecelakaan dan memastikan untuk mengantar Elana ke klinik supaya diperiksa oleh dokter Nathan." sambung Elios dengan nada meyakinkan.
Akram terdiam. Di satu sisi, dia ingin mempertahankan Elana tetap berada di dekatnya, mengurus bekas tamparan di pipi Elana dan mengabaikan segalanya demi perempuan itu. Tetapi di sisi lain, secara profesional, Akram tahu bahwa dia harus menemui Fabian. Fabian adalah salah satu dari CEO perusahannya yang sangat kompeten dan berdedikasi. Kenyataan bahwa Akram telah membuang aktris pemeran utama dari film berbudget besar yang telah direncanakan dan disusun dengan matang, membuat Akram merasa bertanggungjawab untuk membantu menyelesaikan permasalahan yang akan dihadapi oleh Fabian karenanya.
Mereka harus membicarakan mengenai artis pengganti, lalu merombak seluruh rancangan budget dan menginformasikan pada seluruh pendukung film tersebut mengenai perubahan yang ada. Perubahan artis utama akan merombak total semuanya dan mereka harus mengatasinya dengan cepat jika ingin produksi film tetap berjalan sesuai jadwal.
__ADS_1
Akram akhirnya memutuskan mundur untuk saat ini. Nanti, setelah masalah ini selesai, dia akan memfokuskan seluruh dirinya kepada Elana.
Dengan tegas, Akram menyerahkan kartu karyawan Elana kepada Elios, memilih untuk tidak menoleh lagi ke arah Elana.
"Pergi dan urus semua sekarang. Aku akan menunggu Fabian." Akram membalikkan tubuh dan melangkah menasuki ruang kerjanya kembali sambil membanting pintu di belakangnya hingga menutup dengan suara keras.
Di dalam lift yang bergerak turun, sambil menggenggam kartu karyawan yang barusan diberikan oleh Elios kepadanya, Elana berdiri gelisah menatap punggung Elios yang membelakanginya. Sementara itu, di sudut kiri dan kanan lift, para bodyguard tampak berdiri diam menjaga.
Entah kenapa Elana merasa bahwa tadi Elios sengaja menyela di saat genting untuk menyelamatkannya. Jika tidak, Akram saat ini pasti sudah memaksakan kehendak kepadanya lagi.
"Terima kasih," Elana tiba-tiba berucap ke punggung Elios, dia tidak tahu kenapa mengatakan itu, entah kenapa Elana merasa perlu berterima kasih kepada Elios.
Kepala Elios menoleh ke arahnya, lelaki itu terdiam sejenak, seolah-olah menimbang-nimbang terlebih dahulu apa yang akan diucapkannya.
"Saya berani menjamin, dari pengalaman selama sepuluh tahun mengabdi kepada Tuan Akram, bahwa beliau sama sekali tidak pernah memukul atau menampar kekasih-kekasihnya. Apa yang anda lihat, ketika Tuan Akram menampar nona Gabriella tadi merupakan bentuk hukuman yang layak didapatkan oleh Nona Gabriella, tanpa melihat gender. Yakinlah bahwa Tuan Akram tidak akan pernah memukul Anda, dan janganlah Anda memelihara ketakutan yang tidak perlu," Elios terdiam seolah berpikir, lalu dengan cepat menambahkan. "Tetapi Anda harus tetap menjaga sikap Anda, jangan sampai Anda berbuat kesalahan fatal, yang membuat Anda jadi layak ditampar oleh Tuan Akram."
Elana hanya mengangguk tipis menanggapi perkataan Elios meskipun batinnya bergolak ingin membantah.
Akram saat ini mungkin bersih dari perlakukan kekerasan fisik kepadanya. Tetapi... bagaimana dengan kekerasan psikis? Bukankah kerusakan yang disebabkan oleh kekerasan fisik hampir sama buruknya dengan kerusakan yang disebabkan oleh kekerasan psikis?
Klinik megah khusus karyawan yang berada di area perusahaan ini memang dikepalai langsung oleh dokter Nathan. Tentu saja Nathan tidak pernah turun tangan langsung menangani pasien, ada dokter-dokter lain yang menjalankan tugas itu sesuai jabatan mereka, sedangkan Nathan yang menjadi dokter pribadi Akram memang hanya bertugas memberikan pelayanan kesehatan kepada Akram saja.
Tetapi mengenai Elana, karena ini kasus khusus, tentu saja Nathan harus turun tangan langsung.
Elana mengerutkan kening ketika rasa sakit menusuk tajam terasa akibat sentuhan itu, membuat dokter Nathan mengangkat alis.
"Permukaan kulitmu rapuh sekali, mungkin juga karena ukuran pembuluh darahmu lebih kecil dan lebih rapuh dari orang lain, hingga kau mudah sekali memar," Nathan tampak mengingat-ingat. "Ketika di rumah sakit pun, aku kesulitan menemukan pembuluh nadimu, dan setelah ditusuk infus, pembuluh nadimu cepat sekali bengkak dan meradang karena ukurannya yang kecil tidak mampu menampung aliran cairan infus yang besar, hingga aku harus memindahkannya beberapa kali."
Elana hanya menganggukkan kepala saja ketika menerima informasi itu, dia tidak berniat mengatakan apapun karena bibirnya terasa sakit ketika digerakkan.
Elios yang mengantar sendiri Elana ke klinik tampak tidak sabar menunggu Nathan yang menangani Elana sambil terus menyerocos tanpa henti.
"Apakah kau sudah selesai, dokter? Aku harus segera mengantar Nona Elana kembali divisinya dan menjelaskan 'kecelakaan' yang dialaminya kepada atasannya." ujar Elios tanpa menyembunyikan ketidaksabarannya.
"Oh, aku sudah selesai. Kau hanya harus mengoleskan salep yang kuberikan kepadamu untuk meredakan memarnya, Elana. Dan jika kau merasa nyeri sampai mengganggu kau bisa menggukanan pereda nyeri dosis kecil ini dariku," Elana menerima tabung mungil berisi tablet bulat warna putih dari Nathan dan langsung menyimpannya di saku
Setelahnya, Elios menghela Elana supaya melangkah meninggalkan ruangan periksa itu, sedikit mendorong Elana supaya bergegas cepat.
"Elios?" tiba-tiba saja Nathan memanggil, membuat Elios dan Elana menoleh bersamaan.
"Ada apa lagi?" Elios bertanya dengan alis berkerut di balik kaca matanya.
Nathan menyeringai lebar.
"Bilang pada bosmu, luka di sudut bibir Elana belum sembuh benar. Jadi dia tidak boleh mencium Elana untuk sementara, karena meskipun akan terasa enak untuk Akram, itu akan menyakiti Elana," Nathan berucap dengan nada puas, tak peduli dengan pipi Elana yang merah padam karena malu.
__ADS_1
"Bus jemputan sudah datang, ayo naik, Lana," bu Winda dengan rekan-rekan kerjanya yang lain beranjak berdiri ketika beberapa bus dengan warna emas hitam berkilat melaju mendekat ke arah para karyawan yang telah menunggu di halte.
Jarak antara gedung kantor dengan gerbang utama cukup jauh. Untuk meuju ke gerbang utama, mereka harus melewati jalanan berpaving merah, yang dipagari paduan pepohonan dan taman hijau yang rindang di kiri dan kanannya, hingga beberapa kilometer jauhnya.
Karena itulah, perusahaan memberikan fasilitas bus antar jemput khusus bagi karyawan yang tidak memiliki kendaraan pribadi, dan bus itu saat ini mendekat ke arah mereka.
Elana menelan ludah, menunggu sampai bus itu mendekat, baru dia berakting memasang ekspresi terkejut.
"Ah... sepertinya kartu karyawanku tertinggal di meja... aku harus mengambilnya, kalau tidak besok tidak bisa masuk absen di gerbang..." Elana berucap cepat, berpura-pura panik. Absensi di perusahaan ini memerlukan scan sidik jari dan scan kartu karyawan yang telah dipasang baricode khusus. Absensi dilakukan dua kali, di gerbang masuk utama, dan di masing-masing divisi. Absensi di gerbang juga sekaligus membuka akses masuk ke area perusahaan, sebab tanpa membawa kartu identitas, karyawan tidak akan diizinkan masuk ke dalam area perusahaan.
Ibu Winda tampak ragu, menatap berganti ke arah bus yang sudah menunggu lalu kembali lagi ke arah Elana. Kalau dia melewatkan yang ini, masih ada lagi kloter bus jemputan yang akan datang menjemput, tapi itu masih setengah jam lagi.
"Apakah kau perlu ditemani? Bus berikutnya baru setengah jam lagi, kalau kau takut kembali sendirian ke dalam, aku bisa..."
"Ti.. tidak, jangan!" Elana menyela niat baik Ibu Winda dengan cepat. "Rumah ibu kan jauh, kalau ibu tidak ikut bus yang sekarang, nanti ibu bisa terjebak macet panjang. Kalau aku kan hanya perlu ke panti asuhan di belakang yang cukup dekat, menunggu kloter bus berikutnya tidak masalah," sambung Elana dengan nada meyakinkan.
"Oh, baiklah kalau begitu," Ibu Winda mengangguk-anggukkan kepala. "Kalau begitu aku pulang dulu, sampai jumpa besok ya. Oh ya, berhati-hatilah, jangan sampai jatuh lagi dari tangga seperti tadi," Ibu Winda merujuk pada luka lebam di wajah Elana yang diakui sebagai luka akibat jatuh dari tangga.
Elana menganggukkan kepala dan melambaikan tangan ke arah bus yang ditumpangi oleh Ibu Winda. Setelah bus itu melaju pergi, buru-buru Elana mengambil kembali ponsel yang bergetar terus-menerus dari dalam tasnya.
Sebuah pesan baru dari Elios. Mengatakan bahwa sebuah mobil lengkap dengan supirnya telah disiapkan terparkir di lorong parkiran khusus di area barat gedung, khusus untuk menjemputnya.
Elana langsung berlari-lari menuju area barat gedung untuk menghampiri mobil tersebut. Dalam hati dia berpikir untuk membicarakan pengaturan berangkat dan pulangnya ke perusahaan ini untuk ke depannya, tidak mungkin dia berbohong membuat alasan ketinggalan barang terus menerus setiap hendak menaiki bus jemputan, tidak mungkin juga dia menggunakan mobil dan supir dari Akram yang begitu mencolok setiap harinya, bagaimanapun mereka berhati-hati, akan ada saat dimana ada orang lain yang memergokinya dan membuyarkan semuanya. Dia akan membicarakan dengan Akram, dan semoga saja, Akram mau berkompromi.
Malam telah beranjak larut sementara kegelapan yang terkalahkan oleh lampu jalan serta pencahayaan lampu mobil yang lalu lalang, melingkupi semua sisi jendela mobil berkaca gelap yang dinaiki oleh Akram, menciptakan kilasan terang kekuningan yang seolah berusaha keras menembus lapisan kaca pekat itu.
Akram membisu selama hampir setengah perjalanan menuju pulang, dirinya tampak sedang berpikir keras. Ketika akhirnya mobil melaju melewati gerbang utama apartemen Night Heaven Hills, barulah Akram berucap, memulai percakapan dengan Elios yang menyetir di depannya.
"Sepertinya Elana ketakutan kepadaku. Sungguh ironi, dia pernah melihat aku menghajar pengkhianat itu di toilet kelab sampai babak belur dan berdarah-darah, dan dia tidak terlihat takut. Tetapi sekarang, hanya dengan melihat aku menampar Gabriella saja, dia ketakutan padaku seperti melihat monster paling jahat yang pernah ada," tanyanya memecah keheningan.
Mata Elios tampak melirik dari kaca tengah ke arah kursi penumpang untuk memindai reaksi Akram sebelm kemudian berucap.
"Nona Elana seorang perempuan. Melihat Anda menampar perempuan lain dengan gamblang, tentu akan membuatnya merefleksikan hal itu pada dirinya... bahwa Anda mungkin bisa melakukan hal yang sama kepadanya."
"Empati sesama perempuan yang merepotkan," Akram berucap jengkel, mengepalkan tangannya, "Dia seharusnya tahu bahwa aku tak akan pernah memukulnya." sambungnya ironi
Elios menganggukkan kepala. "Saya rasa, pada akhirnya Nona Elana akan belajar. Tapi tentu saja butuh waktu." Elios kembali menimbang-nimbang, berpikir apakah dia akan mengucapkan idenya pada tuannya atau tidak. Tapi tak urung, Elios akhirnya membuka mulut juga. "Saya punya ide, mungkin... mungkin itu bisa membuat Nona Elana melupakan rasa takutnya kepada Anda."
Akram mengerutkan alis, ekspresinya datar meskipun ada sinar tertarik di matanya.
"Dan apakah idemu itu?" tanya Akram dengan nada tak sabar.
__ADS_1