
Dua sosok manusia itu berbaring di ranjang rumah sakit yang remang. Elana berbaring di pelukan Akram, setengah berbantalkan lengan lelaki itu yang kokoh. Sementara itu, tangan Akram bergerak sambil lalu, mengelus rambut Elana dan membelainya supaya jatuh terlelap dalam tidurnya.
"Akram?"
Ketika Akram hampir terlelap dalam kantuk, Elana tiba-tiba teringat sesuatu, bertanya memecah keheningan.
"Hmm?" Akram menjawab dalam gumaman, jemarinya masih bergerak konstan membelai rambut Elana.
"Apakah... bekas luka tembakmu masih sakit?"
Dalam berbagai masalah yang berkecamuk di dalam otaknya, Elana hampir saja melupakan perihal luka tembak di dada Akram. Rasa bersalah terlintas di benaknya karena Akram begitu memperhatikan kondisinya, sementara Elana tak melakukan hal yang sama.
"Aku beranjak sembuh," Akram menjawab santai, dan meskipun tak melihat, Elana bisa merasakan bahwa Akram menjawab sambil tersenyum.
"Kau demam kemarin... apakah itu berhubungan dengan itu?" tanya Elana lagi.
Kali ini senyum Akram makin melebar, senang menerima perhatian Elana kepadanya.
"Nathan sudah memeriksaku, tidak ada hubungannya. Tak ada infeksi di lukaku dan kemungkinan demamku kemarin karena kondisi fisikku yang menurun akibat aku mabuk-mabukan malam sebelumnya," sahut Akram kembali dengan suara menyesal.
Elana langsung teringat ketika dia bertemu dengan Akram di lift ketika lelaki itu tampak memendam rasa sakit di kepala yang hebat dan masih ditambah lagi dengan lingkaran hitam di sekitar matanya.
"Apakah kau mabuk-mabukan karena diriku?" Elana teringat perkataan Akram sebelumnya dan perasaan bersalah kembali menggayuti hati Elana. Entah kenapa semua permasalahan yang menimpa Akram selalu bermuasal dari dirinya.
Akram menunduk dan mempererat pelukannya, tak lupa dihadiahkannya kecupan ke dahi Elana.
"Aku tersiksa kalau jauh darimu, mungkin karena aku sudah terbiasa dengan kau di sisiku," suara Akram masih dipenuhi oleh senyum. "Tetapi, karena kau sudah bersedia menikah denganku, kurasa siksaan yang kuderita tak akan berlanjut lebih lama lagi," sambung Akram dengan nada bersemangat.
"Maafkan aku," kembali Elana meminta maaf, kali ini berhubungan dengan ketidaksiapan dirinya untuk menjadi patner kebutuhan biologis Akram.
Hidup bersama Akram begitu lama, Elana jadi tahu kalau lelaki yang memeluknya ini memiliki gairah yang seolah tak ada pupusnya dalam bercinta. Dengan Akram yang bertekad untuk menahan dirinya tak menyentuh Elana sampai dengan pernikahan diresmikan, itu sudah pasti adalah pengorbanan besar dari lelaki itu. Dan sekarang, dengan kondisi kehamilannya yang masih muda, tubuh Elana lemah. dan tentu saja akan beresiko jika memaksakan untuk melakukan hubungan seksual di masa sekarang.
Itu berarti Akram harus menahan diri lebih lama lagi dan juga sama saja Akram akan didera siksaan yang lebih panjang lagi.
Karena itulah Elana meminta maaf kembali. Matanya yang lebar seperti anak kucing tanpa dosa berkilauan menatap ke arah Akram di tengah cahaya redup lampu yang temaram, dan itu membuat perasaan Akram bergolak, antara berhasrat, gemas dan juga sayang.
Akhirnya yang bisa dilakukan oleh Akram adalah menangkup kedua sisi pipi Elana, lalu mendekatkan bibirnya ke bibir Elana dan menciuminya habis-habisan. Dia menikmati kemanisan bibir perempuan itu, menyesap dan meresapi kemanisan rasanya dengan penuh perasaan, sambil berusaha menahan diri sekuat tenaga agar tubuhnya tak mengambil alih, lalu bertindak lebih jauh lagi yang mungkin akan disesalinya.
Setelah sampai di titik batas pertahanannya, Akram mengerang, lalu melepaskan pertautan bibirnya dengan bibir Elana.
"Tak perlu meminta maaf, sayang," Akram mengangsurkan bibirnya ke sepanjang sisi wajah Elana sambil menyeringai. "Ini memang siksaan... tetapi ini siksaan yang menyenangkan," Akram menjauhkan kepalanya untuk memandang ekspresi wajah Elana ketika dia bertanya kemudian. "Kau tak perlu mencemaskan apapun, oke?"
Mata Elana menatap ke arah Akram dengan ragu, entah kenapa, meskipun Elana belum mengutarakan kalimatnya, dia sudah tampak malu luar biasa. Wajahnya merah padam, bahkan kali ini terlihat jelas di bawah lampu tidur temaram, sampai ke telinga dan lehernya.
"Kalau... kalau kau... tidak tahan lagi, aku... aku mungkin bisa membantumu... dengan... dengan cara... lain..."
"Apa?" mata Akran langsung melebar, antara terkejut bercampur antusias, sama sekali tak menyangka bahwa tawaran itu akan terlontar dari mulut Elana. "Kau bilang apa Elana?" tanyanya lagi memastikan, seolah tak percaya.
Elana mencoba menundukkan kepala, tetapi dia tak bisa melakukannya. Tangan Akram menahan dagunya, memaksanya tetap menatap wajah Akram tanpa bisa mengalihkan mata.
Bibir Akram mengulas senyum, dan matanya menyiratkan sinar nakal penuh godaan.
"Darimana kau mendapatkan ide untuk menawarkan itu? Lagipula, dengan kepolosanmu yang tak tertandingi yang kubuktikan sendiri ketika pertama kali aku menyentuhmu, bagaimana bisa kau memiliki pengetahuan dengan apa yang kau sebut dengan 'cara yang lain-lain'?" desak Akram mencecar, menikmati bagaimana wajah Elana semakin memerah dan tentu saja tak mau melepaskan perempuan itu begitu saja.
"Aku... aku mungkin memang tak... tak punya pengalaman dengan laki-laki sebelumnya, tapi aku tak sepolos itu, aku juga banyak belajar... dengan membaca buku, jadi aku tahu...." Elana menjawab terbata, berusaha untuk jujur.
"Astaga, buku jenis apa yang kau baca dan bisa memberikan penjelasan tentang cara yang lain-lain itu?" sela Akram terkejut.
Elana bersungut-sungut, tampak cantik sekali dengan pipinya yang merona.
"Bukan jenis buku-buku seperti yang ada dalam pikiran kotormu!" sahutnya sedikit mencela, membuat Akram terkekeh karenanya. "Itu buku yang kutemukan di perpustakaan nasional saat aku berkesempatan mengunjunginya ketika aku sedang tidak mendapatkan shift di hari kerja. Kau tahu dulu tempat kerjaku berdekatan dengan perpustakaan nasional. Jadi... jadi aku menemukan buku itu tanpa sengaja. Pendidikan seks untuk pasangan yang sudah menikah...." Elana tampak malu luar biasa. "Jadi... jadi karena aku ingin tahu, aku mengambilnya dan membacanya diam-diam di sudut perpustakaan...."
__ADS_1
Kalau diingat-ingat lagi, memang betapa memalukannya perbuatan Elana waktu itu. Dia mengambil buku itu diam-diam dengan pipi panas seperti maling yang takut ketahuan, lalu berjalan mengendap-endap ke sudut paling sepi di perpustakaan, membaca dengan nuansa tegang serta waspada, masih pula ditambah dengan tubuh yang selalu terkesiap ketika mendengar suara orang mendekat karena takut ketahuan.
Padahal di saat itu, seharusnya Elana bersikap biasa saja, karena buku yang dipegangnya itu adalah buku pendidikan seks dengan bahasa formal dan materi bahasan yang sesuai norma karena memang seyogyanya digunakan sebagai sarana pendidikan dan bukanlah sejenis buku pornografi atau buku mesum yang melanggar norma.
Ketika Elana terlepas dari kenangan masa lalunya dan kembali menatap Akram, bibirnya langsung cemberut ketika melihat Akram tampak geli dan menahan tawa.
"Jangan menertawakanku," ujarnya malu. "Waktu itu kupikir buku itu berisi hal-hal dewasa yang tidak sepantasnya... karena itulah aku merasa begitu malu tak terperi ketika membacanya. Tetapi, ternyata isinya bukanlah sesuatu yang vulgar melainkan lebih ke pengetahuan tentang... tentang itu, juga disertai pertimbangan medis yang lengkap di dalamnya."
Akram menyeringai, memutuskan untuk terus menggoda Elana karena rasanya sungguh menyenangkan.
"Buku pendidikan seks untuk pasangan menikah. Sungguh buku yang aneh. Sebab, pasangan menikah yang mana yang masih membutuhkan pendidikan seks dengan cara membaca teori di buku? Mereka kan bisa langsung mempraktekkan sendiri...." suara Akram yang bercampur tawa itu terhenti karena Elana memukul lengannya ringan dengan malu, "Apa? Aku mengatakan hal yang benar, bukan?" sahutnya menyanggah pukulan Elana sambil menyeringai lebar.
Elana mengerutkan keningnya bersungut-sungut menatap Akram.
"Banyak pasangan yang baru menikah yang sama sekali tak punya pengalaman," sekali lagi Elana melemparkan tatapan mencela ke arah Akram, "Tidak semuanya sangat berpengalaman sepertimu," sambungnya lagi.
Akram tersenyum lebar, kali ini tak membantah.
"Jadi, kau mendapatkan pengetahuan tentang cara yang lain-lain ini di buku itu?" tanyanya cepat, mengejar kembali ke pokok permasalahan.
Elana menganggukkan kepala. Rona merah kembali menjalari wajahnya.
"Di buku itu dikatakan kalau ada masanya perempuan tak bisa... kau tahu, tak bisa melakukannya... jadi seorang istri bisa membantu dengan cara yang lain-lain karena... karena jika kebutuhan biologis tak disalurkan, bisa berakibat pada frustasi seksual yang pada akhirnya akan berimbas pada fisik juga," Elana menatap Akram dengan tatapan bersungguh-sungguh. "Aku tak ingin kalau kau sampai sakit karena menahan diri, jadi aku menawarkan kepadamu...."
"Kau menawarkan kepadaku atas ketidaktahuanmu," Akram mengangkat dagu Elana dan tersenyum penuh ironi. "Kau benar-benar tak punya bayangan bagaimana cara melakukannya, kan?"
"Aku bisa belajar... kau...kau bisa mengajariku," jawaban Elana terdengar polos, tetapi itu merupakan godaan luar biasa bagi Akram yang sudah menahan dirinya dengan keras beberapa waktu terakhir ini. Sekuat tenaga Akram menahan diri supaya tidak menarik perempuan itu dan mengajari Elana cara menyenangkan dirinya saat itu juga.
Perempuan ini sedang lemah, dan sedang mengandung anaknya. Akram terus mengulang kalimat itu kepada dirinya sendiri. Dia tak boleh egois dan mengutamakan kebutuhan dirinya sendiri. Ada bayinya di dalam perut Elana yang sedang berjuang untuk tumbuh, dan tentu saja prioritas utama bagi Akram tetaplah Elana dan bayinya. Dirinya sendiri dan kebutuhan fisiknya, adalah hal lain yang bisa dikesampingkan.
Meskipun tawaran Elana terasa menyiksa karena membuatnya harus berjuang menahan godaan, Akram tetap merasa tersentuh dengan tawaran Elana. Perempuan itu jelas-jelas menunjukkan perhatiannya dengan mempedulikan kebutuhan Akram, itu berarti Elana menyayanginya, kan? Karena kepedulian adalah perwujudan dari rasa sayang, dan rasa sayang tinggal setahap lagi menuju cinta, bukan?
Akram menghadiahkan kecupan lembut ke bibir Elana, lalu berbisik dengan penuh perasaan.
"Terima kasih karena telah mempedulikan kebutuhanku, tetapi percayalah, kalau sampai dengan detik ini aku masih mampu menahannya...." suara Akram berubah merendah ketika lelaki itu melanjutkan kalimatnya, "Tetapi aku berjanji, nanti jika aku sudah tak tahan lagi, akan kupastikan bahwa kaulah yang paling pertama tahu, sehingga kau bisa membantuku dengan... cara yang lain-lain," sambung Akram dengan nada sensual menggoda.
Lengan Akram memeluk Elana kembali, memosisikan Elana dengan nyaman di lingkaran lengan dan lingkupan dadanya. Jemari Akram bergerak mengusap rambut Elana dan lelaki itu berbisik lembut.
"Tidurlah, sudah larut. Tak baik bagi wanita hamil untuk tetap terjaga di saat malam semakin larut," ucapnya sayang.
Elana tak berkata apa-apa dan menurut. Dia menenggelamkan wajahnya ke dada Akram, berusaha memejamkan mata. Tetapi kemudian, satu lagi hal yang mengganjal terlintas di pikirannya, membuatnya tak bisa memejamkan mata.
Elana mendongakkan kepala ke arah Akram, kembali mengutarakan pikiran lain yang mengganjalnya. Sepertinya malam ini Elana berniat untuk mengungkapkan semua yang ada di dalam pikirannya dengan jujur, supaya tak ada lagi yang mengganggu nanti di kemudian hari.
"Kalau kita menikah nanti, apakah kau... masih mengizinkanku bekerja?"
Akram yang sudah hampir memejamkan mata mendongakkan kepala kembali. Tangannya meraih dagu Elana dan mendongakkannya.
"Kau punya suami kaya raya, kau bisa duduk-duduj seperti nyonya besar dan meminta segala kemewahan melingkupimu tanpa perlu repot-repot. Kenapa kau masih ingin bekerja?" sahutnya setengah menggoda.
Pipi Elana kembali merona.
"Aku ingin... banyak belajar, supaya... supaya aku memiliki lebih banyak keahlian, juga bisa menyambung obrolan denganmu... dan supaya... supaya aku tak mempermalukanmu," jawab Elana dengan jujur, mengutarakan kekhawatirannya.
"Elana," Akram menggeramkan nama Elana seolah gemas. "Apa maksudmu dengan menyambungkan obrolan denganku? Ketika bersamamu, aku menikmati mengobrol tentang hal-hal yang menyenangkan. Aku suka membicarakan apapun denganmu, dan tanggapanmu sangat pas serta menyenangkanku. Lagipula, aku tak pernah ingin membicarakan tentang teknis pekerjaan kepadamu di saat santai kita," Akram menyanggah dengan cepat, menyelipkan nada ketidaksetujuan di matanya. "Ditambah lagi, istriku tak akan pernah mempermalukanku. Tidak sama sekali. Jika ada satu manusia pun yang berani mempermalukanmu, maka aku akan melenyapkannya," suara orang terdengar gelap dan penuh ancaman nyata.
Jika orang biasa yang mengatakannya, mungkin itu bisa dianggap bercandaan semata, tetapi jika Akram yang mengatakannya, sudah pasti lelaki itu serius dengan apa yang dia ucapkan. Elana tentu saja tak ingin Akram menambah lumuran noda di tangannya dengan darah orang-orang tak berdosa hanya karena Elana yang memang kurang memiliki kompetensi untuk bersanding di sisi Akram.
"Jangan lakukan itu," Elana berseru cepat, membuat Akram mengangkat alis.
"Melakukan apa?" tanya Akram penasaran.
"Melenyapkan orang-orang yang mungkin akan memandang rendah dan mengejekku di sisimu... mereka mungkin melakukannya karena mereka benar," Elana menghela napas dan dilihatnya Akram membuka mulut, hendak membantah dengan disertai ekspresi ketidaksetujuan di seluruh wajahnya. Segera Elana menggerakkan tangannya untuk mencengkeram bagian depan kemeja lelaki itu dan mencegahnya berbicara. "Aku sendiri yang akan berusaha supaya mereka tak menertawakanku. Karena itu, Akram... kumohon, biarkan aku tetap bekerja dan meraih pengalaman meskipun kita sudah menikah nanti. Aku ingin belajar banyak, aku ingin memiliki pengetahuan dan keahlian, aku ingin orang-orang tidak menertawakanmu karena memilihku untuk mendampingimu."
__ADS_1
Suara Elana yang penuh tekad bergaung di ruangan itu, dan Akram tertegun, seolah terpesona dengan kekuatan energi yang seolah menyala menyelubungi Elana dan melingkupinya dengan aura semangat.
Mungkin karena sikap Elana yang tegar dan pantang menyerah inilah yang menjadi salah satu alasan bagi Akram untuk jatuh cinta kepada Elana. Dan lagi, Akram tahu bahwa Elana sesungguhnya sangatlah cerdas, perempuan itu cepat belajar, dan dari laporan Elios kepadanya selama melatih Elana, hasil dari pekerjaan dan pembelajaran Elana selalu di atas ekspetasi.
Akram percaya bahwa Elana akan menjadi hebat, apalagi dengan didukung tekad kuat dan sikap ulet Elana yang selalu bersemangat untuk belajar. Dan dengan Xavier sebagai mentornya... mungkin memang sebuah keputusan tepat untuk membiarkan Elana terus bekerja dan belajar meskipun mereka sudah menikah nanti.
"Baik, aku akan mengizinkanmu terus bekerja meskipun kau sudah menikahiku nanti. Tetapi ada syaratnya," Akram menyambung cepat begitu melihat mata Elana berbinar kesenangan menerima izinnya. Senyumnya langsung terkembang ketika dia melihat sinar di mata Elana berubah jadi penuh tanya. "Syaratnya adalah kau harus menjaga dirimu sebaik mungkin. Jangan memforsir diri, beristirahatlah jika kau merasa lelah, karena kau harus ingat bahwa mulai sekarang kau tidak membawa dirimu sendiri, ada anak kita yang sedang bertumbuh di dalam rahimmu. Anak itu buah hati dan kesayangan kita, jadi dia harus dijaga baik-baik," jelas Akram dengan nada **lembut.
Elana menganggukkan kepala dengan bersemangat, kali ini benar-benar menurut ketika tangan Akram menghelanya lembut supaya perempuan itu semakin tenggelam di dadanya.
"Terima kasih, Akram," bisik Elana penuh perasaan, mendorong Akram untuk melingkarkan lengannya semakin erat dan menghadiahkan kecupan lembut di pucuk kepala perempuan itu.
"Sama-sama, sayang. Sekarang tidurlah," perintahnya lembut tanpa mendapatkan perlawanan**.
***
***
**Ketika ponselnya yang ditaruh di atas nakas samping ranjang rumah sakit itu berbunyi, Akram yang sudah terlelap dalam tidur yang dalam sambil memeluk Elana yang nyenyak di peluknya langsung terjaga seketika. Sepertinya dini hari sudah menjelang, tetapi hari masih terlalu dini sehingga tampaknya manusia-manusia masih tertidur dan belum ada aktivitas apapun di sekeliling mereka.
Dengan cepat dan masih belum mendapatkan kesadarannya sepenuhnya karena baru bangun tidur, Akram menggerakkan tangannya untuk meraih ponsel itu dan mengangkat panggilan telepon tersebut tanpa melihat siapa peneleponnya, sebab dia tak ingin suara dering ponsel ini terus bergema di dalam ruangan, lalu menembus alam mimpi Elana dan mengusik tidur nyenyaknyai.
"Sebaiknya ini penting," Akram menggeram kasar dengan suara parau dan menuntut.
Kekehan yang terdengar di seberang sana langsung membuat mata Akram terbuka lebar. *Xavier. Lelaki sialan itu***...
"Begitukah caramu menyapa panggilan telepon yang kau angkat, Akram? Aku tak menyangka kalau kau kasar sekali," sahut Xavier dengan nada mengejek yang kental.
Akram menggertakkan giginya. "Kau sungguh memilih waktu ajaib yang tepat untuk menelepon,"sindir Akram sinis. "Katakan segera apa maumu dan enyahlah," sahutnya kasar.
Sekali lagi Xavier tergelak, tetapi ketika berucap kemudian, nada suaranya berubah serius.
"Aku ingin membicarakan sesuatu yang penting," ujarnya kemudian.
Akram mengerutkan kening. "Tentang apa?" tanyanya cepat, mau tak mau merasa ingin tahu.
"Tentang Maya,"
***
***
Dukung author dengan memberikan rating dengan menyumbangkan POINMU ke novel ini ya.
Tiga orang pemberi poin terbanyak akan mendapatkan tumbler yang bisa dicustom tulisan sesuai requestmu dan akan dikirim ke alamatmu masing-masing.
Terima kasih atas dukungan POIN, rate, favorit, like dan komen dari kalian semua.
Oh ya, Cerita Akram dan Elana akan tamat di tanggal perkiraan 10-12 Desember 2019
Nantikan season kedua tentang Xavier yang akan dimulai awal Januari 2019 ya.
Ps : hari ini kemungkinan perkiraan bisa lolos SATU atau DUA bab.
Salam Hangat,
AY
__ADS_1