Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 74 : Cermin Diri


__ADS_3


Di seberang telepon, Dimitri tampak tertegun ketika mendengar tuntutan Akram yang tak main-main. Saat ini matanya masih menatap waspada ke arah Elana yang tampak begitu waspada dengan seluruh tubuh menegang, seolah-olah begitu takut kalau-kalau Dimitri tanpa peringatan menyerbu dan menyerangnya.


Wajah Elana tampak pucat pasi, dan tanpa Dimitri harus menyentuh pun, dia tahu bahwa Elana saat ini sedang gemetaran tak terkendali menahan takut. Penampilan Elana benar-benar tampak menyedihkan, apalagi sudut bibirnya yang bengkak dan tadi berdarah akibat tamparan Tedy tampak mulai menggelap. Perempuan itu pasti sedang merasakan sakit di sekujur tubuhnya ditambah lagi dengan deraan trauma di jiwanya.


Yah, wanita mana yang tak trauma diserang lelaki bertubuh besar dan dikasari sampai seperti itu?


Dimitri mengerutkan kening. Tidak ada jalan lain. Dia benar-benar harus melimpahkan seluruh kesalahan pada Tedy kalau dia ingin semua berjalan lancar.


Dipegangnya penerima suara ponselnya untuk mencegah apa yang dia katakan terdengar oleh Akram, sebelum kemudian dia mendekat ke tepi ranjang dan berucap penuh peringatan ke arah Elana yang waspada.


"Akram ingin berbicara denganmu. Jangan berkata macam-macam, jangan memancing kemarahan Akram dan menghancurkan rencanaku kalau kau ingin bebas dalam kondisi hidup-hidup," ancamnya dalam desisan perlahan.


Elana tidak menjawab sepatah katapun, tetapi ketika Dimitri menempelkan gagang telepon ke telinganya, bibirnya yang pucat pasi membuka untuk memanggil.


"A...akram?"


Hening sama-sama membentang dari kedua sisi yang tersambung saluran telepon. Elana tampak menunggu, sementara Akram di sisi seberang seolah sedang berusaha mengatasi pergolakan perasaannya ketika akhirnya busa mendengar suara Elana yang tak didengarnya sejak perempuan itu diculik oleh Dimitri.


"Elana?" terdengar suara Akram yang setengah berteriak memanggil, lelaki itu kemudian berdehem seolah mencoba menguasai dirinya. "Apakah kau baik-baik saja?" tanyanya kemudian dengan nada suara berubah lembut.


Mendengarkan suara Akram menyebut namanya dan menanyakan keadaannya, entah kenapa membuat jiwa Elana dibanjiri oleh perasaan lega luar biasa.


Tiba-tiba saja dirinya dibanjiri oleh luapan perasaan yang tak tahu darimana asalnya, membuncah begitu kuat hingga membuatnya ingin menangis tersedu-sedu untuk melegakan dadanya yang penuh sesak. Takut, ngeri, trauma, dan segala macam perasaan menyesakkan lainnya seakan merayap dari dada dan berkumpul di tenggorokannya, mencekiknya di sana dan memaksa Elana menghela napas berkali-kali untuk menenangkan diri.


"Elana?" suara Akram terdengar kembali, kali ini ada nuansa penuh kecemasan menyelip di sana karena dia tak mendengar jawaban apapun atas pertanyaannya.


Elana menelan ludah, sekuat tenaga dirinya mencoba menahan tangis yang berkumpul di tenggorokkannya, dadanya nik turun menahan rasa ketika berucap.


"Akram... aku... ingin pulang," suara Elana gemetaran ketika air mata yang terasa panas berhasil membobol pertahanan dirinya, membuat matanya merebak oleh guliran bening yang mengalir tanpa kendali. Elana tidak tahu kenapa atau apa yang mendorongnya hingga kekuatannya pecah berantakan dan melemahkannya. Mungkin karena mendengar suara Akram, mungkin juga karena rasa sakit yang mendera sekujur tubuhnya terasa begitu menyiksanya.


Tetapi, saat ini, yang paling diinginkannya adalah berada di sisi lelaki itu, lalu meringkuk dalam perlindungannya yang kuat. "Tolong jemput aku... aku ingin pulang...." mohonnya lagi di tengah tangis yang menderas, tak berdaya ketika Dimitri segera mengambil ponsel itu dan memutus kesempatan Elana untuk mendengar suara Akram lagi.


***



***



Bukan hanya Akram yang tertegun. Semua orang yang berada di dalam ruangan itu dan mendengarkan kalimat yang diucapkan Elana dengan nada memelas dari seberang sana pun ikut tertegun bersama Akram.


Nada suara Elana, meskipun tempak ditahan, terdengar begitu pilu dan menyedihkan. Ada sedu sedan serta isakan tak terkendali, seolah-olah perempuan itu tengah didera oleh ketakutan dan kesedihan yang amat sangat. Bahkan Xavier yang seharusnya memiliki paling sedikit empati di antara semua manusia normal di dalam ruangan ini pun, bisa merasakan jantungnya seolah diremas sakit saat mendengar nada suara Elana ketika memohon pada Akram untuk dijemput pulang.


Elana adalah wanita paling kuat yang pernah mereka kenal, dia bertahan di bawah dominasi Akram, dia pun tak gentar menghadapi Xavier yang luar biasa kejam. Tetapi sekarang, perempuan itu terdengar begitu rapuh, seolah telah kehilangan asa yang tertinggal dan tak mampu lagi bertahan.


Tangan Akram langsung mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Sekali dengar saja, dia sudah tahu bahwa Elananya sedang tidak baik-baik saja.


Apa yang sebenarnya terjadi kepadamu, sayang?


"Kau sudah mendengar suara Elana, bukan? Dia masih hidup dan bisa berbicara. Tetapi, aku tidak menjamin keselamatannya setelah ini. Apapun bisa terjadi padanya kalau kau tidak memenuhi undanganku sekarang dan melakukan proses akuisisi yang legal untuk menebusnya," kali ini suara Dimitri yang terdengar dengan nada mengancam dari sambungan ponsel tersebut.


Kening Akram berkerut dalam ketika dia menggeramkan tuduhannya.


"Brengsek! Elana tidak sedang baik-baik saja! Apa yang telah kau lakukan kepadanya?" hardiknya tanpa kendali.


Hening sejenak seolah Dimitri tengah berusaha menyusun kata-kata. Tak lama kemudian, lelaki itu akhirnya berucap dengan rangkaian kalimat yang sepertinya telah disusun dengan hati-hati.

__ADS_1


"Bukan aku yang menyakitimu perempuanmu, tetapi Michaela dan cecunguk bodoh bernama Tedy yang sengaja kukirimkan kepadamu sebagai hadiah. Kau memegang ponsel ini, bukan? Lihat video yang tersimpan di dalam file ponsel ini dan kau akan berterima kasih karena aku telah mengirimkan lelaki di depanmu itu sebagai pembawa pesan untukmu," Dimitri memberi jeda sejenak pada kalimatnya sebelum kemudian menyambung kembali, "Ingat Akram, aku menginginkan kehadiranmu dan saudaramu di rumahku dalam satu jam kedepan,"


Setelah mengucapkan ultimatumnya, Dimitri sama sekali tidak menunggu tanggapan dari Akram dan langsung menutup pembicaraan.


Akram mengerutkan kening semakin dalam ketika dia mengalihkan pandangannya dengan tatapan tajam membunuh ke arah Tedy. Sementara, yang ditatap langsung gemetaran tak terkendali, menahan ketakutan yang luar biasa. Otaknya yang lambat baru bisa memahami bahwa Dimitri ternyata melemparnya ke tempat ini bukannya sebagai pembawa pesan, tetapi ternyata lebih sebagai tumbal.


Dia didatangkan kemari untuk menyerahkan diri pada pencabut nyawa!


Didorong oleh kepanikan yang luar biasa, Tedy berbalik pergi dengan putus asa Lelaki itu menahan sakit di pundaknya yang telah tertembak sebelumnya dan mencoba kabur sambil terseok-seok membawa langkahnya, dalam usaha terakhirnya untuk melarikan diri.


Sayangnya, meskipun tubuh Tedy berukuran besar dan sangat kuat, sekarang dia sedang terluka parah, sehingga kekuatannya menurun drastis. Hal itu membuatnya tak berdaya ketika kedua bodyguard Xavier bergerak tanpa diperintah untuk meringkusnya hingga membuat Tedy jatuh dengan lututnya di lantai sementara kedua lengannya ditahan supaya dia tak bisa bangkit.


"Jangan lihat ponsel itu.... tidak ada apa-apa di sana," ketakutan karena Akram masih menodongkan pistol ke arahnya dengan niat membunuh yang kental, membuat Tedy sampai memohon-mohon untuk menyelelamatkan nyawanya yang sudah berada di ujung tanduk.


Tentu saja Akram tidak mendengarkan perkataan Tedy, Mata Akram malahan menajam menatap ponsel di tangan Elios, ekspresinya mengeras ketika fokusnya hanya tertuju pada ponsel itu.


"Cari file yang dimaksud oleh Dimitri," dengan kertak diantara dua gigi, Akram mendesiskan perintah galak kepada Elios.


Tanpa bersuara Elios langsung melakukan apa yang diperintahkan oleh Akram. Pekerjaannya sungguh mudah karena hanya ada satu video di dalam ponsel itu. Dibawanya ponsel itu ke depan Akram, lalu mendekatkan layarnya ke hadapan tuannya.


"Putar videonya," Akram menggeram tak sabar.


Jemari Elios menekan tombol play pada video itu dan seketika langsung tergambar adegan hidup yang sebelumnya telah direkam oleh Michaella dengan niat busuk penuh kedengkian.


Semuanya terpampang dalam gambaran yang sangat jelas dan nyata. Seluruh adegan dari betapa takutnya Elana saat Tedy menerjangnya di atas ranjang dengan tubuhnya yang besar, bagaimana Elana meronta sekuat tenaga, bagaimana tubuh mungil itu tak mau menyerah dan berusaha mempertahankan diri dari usaha rudapaksa oleh lelaki jahanam itu, bagaimana Elana menendang, bagaimana perempuan itu dengan menyedihkan berusaha merangkak lari, hingga kemudiannTedy berhasil menangkapnya dengannmenjambak rambutnya kasar, lalu menampar pipinya dengan kekuatan penuh....


Semua tertampil di sana dalam visual dan audio yang tampak nyata, seolah-olah hal itu terjadi secara langsung di depan mata Akram.


Video itu diakhiri dengan gambar yang bergoyang tak jelas dan gerakan-gerakan yang tergambar secara kabur. Kemudian gerakan di video itu berhenti mendadak, menampilan wujud langit-langit rumah yang konstan dan tak berganti di layar. Seolah-olah ponsel yang digunakan terenggut paksa dari tangan perekamnya.


Lalu, meskipun gambarnya tak berubah lagi, masih terdengar suara tembakan jelas yang menyusul di sana dan langsung disahuti oleh teriakan mengaduh Tedy yang kesakitan. Ada juga jeritan perempuan lain yang memanggil-manggil nama Dimitri di sana. Setelahnya tak ada lagi yang bisa dilihat, video itu gelap, pekat. Menyalakan ledakan amarah luar biasa di dalam jiwa Akram.


Elana tidak sedang baik-baik saja.... perempuan itu tidak sedang baik-baik saja....


Mata Akram terarah kepada Tedy yang sedang berlutut dan meracau memohon ampun. Bayangan bagaimana Tedy menghajar Elana dengan kekerasan dan juga gambaran tentang usaha Tedy untuk melecehkan tubuh Elana, langsung menghapuskan segala belas kasih yang hanya tersisa setitik di benak Akram.


Dia membidik, menarik pelatuk dan menembak ke arah tubuh Tedy dengan tak terkendali. Seluruh kemurkaan dan dorongan untuk membalaskan kesakitan Elana meluap-luap di tubuhnya hingga Akram terus menembak seperti kesetanan. Tak dipedulikannya tubuh Tedy yang ambuk dan oleng terkapar di lantai setelah rentetan peluru bersarang di tubuhnya. Suara tembakan itu tetap tak berhenti, terus menggila memenuhi ruangan dan tak ada satupun yang berani menghentikan Akram.


Sampai kemudian tibalah di titik mana peluru dalam pistol Akram sudah benar-benar tandas, sementara lelaki itu masih menarik pelatuknya tanpa henti, dengan dada naik turun dan napas memburu tak terkendali.


Nathanlah yang bergerak kemudian, menyentuhkan tangannya ke pergelangan tangan Akram yang masih terus membidik dan berusaha menembakkan pistol kosongnya ke arah tubuh Tedy yang terkapar tak bergerak, lalu berucap hati-hati untuk menenangkan lelaki itu.


"Sudah, sudah Akram, dia sudah mati," bujuknya perlahan, mencoba menembus kesadaran Akram yang saat ini benar-benar dibakar oleh kemarahan menggila.


Usaha Nathan berhasil, Akram mengerjapkan matanya yang semula tampak hampir kosong dan hanya berisikan kobaran api. Lelaki itu menatap ke arah mayat Tedy yang tergeletak mengenaskan kehilangan nyawa setelah dihujani peluru, lalu akhirnya menurunkan tangannya yang membidik pistolnya.


"Kita... harus segera ke tempat Dimitri...," suara Akram terdengar parau dipenuhi emosi. Lelaki itu tampak hancur, sesuatu yang sebelumnya tak pernah terjadi pada jiwa Akram yang sekokoh baja. Seolah ada palu godam raksasa yang saat ini telah berhasil meruntuhkan pertahanan jiwanya. "Kita harus segera... aku akan berganti pakaian..." Akram membalikkan tubuh dengan cepat, lupa kalau kondisinya masih terluka parah oleh tembakan. Rasa sakit langsung menyerang kepalanya dan Akram terhuyung kehilangan keseimbangan.


Dia pasti akan terjatuh kalau Nathan tidak sigap menyangganya dengan kekuatan tubuhnya, membuat Akram terpaksa berpegangan kepadanya.


"Hati-hati!" seru Nathan dengan kecemasan yang nyata. "Ayo, aku akan memapahmu ke kamar," ujarnya tegas dengan nada kuat seorang dokter yang sedang mengultimatum pasien yang sulit dihadapi.


Kemudian, tanpa menunggu tanggapan Akram, Nathan tidak memberikan kesempatan bagi Akram untuk memberikan reaksi penolakan dan langsung menghela tubuh Akram membalik sebelum kemudian memapahnya menuju kamar tamu untuk mempersiapkan diri sebelum berangkat ke rumah Dimitri.


Elios sendiri yang masih ada di ruangan itu bergegas melangkah pergi, hendak menyiapkan segala perincian yang diperlukan untuk proses akuisisi yang akan terjadi. Tangannya bergerak mengambil ponselnya sendiri, lalu mulai menelepon tim pengacara Akram yang memang sudah diminta untuk stand by setiap saat, mengkoordinasikan semuanya agar seluruh proses akuisisi yang berlangsung nanti biss berjalan mulus tanpa gangguan.


Tidak ada yang memperhatikan Xavier yang masih berdiri kaku di sana tanpa suara dengan ekspresi gelap menyeramkan. Xavier hanyalah memberikan isyarat tangan supaya anak buahnya menyingkirkan mayat makhluk menjijikkan itu dari ruang tamunya. Setelah para anak buahnya bergerak sesuai instruksi, barulah Xavier menggerakkan tubuh dan melangkah ke dekat meja ruang tamunya.


Diambilnya ponsel yang tadi diletakkan oleh Elios di sana sebelum pergi, lalu diputarnya kembali video yang ada di dalam sana, kali ini dalam mode tanpa suara. Mata Xavier semakin menggelap ketika melihat dengan saksama adegan demi adegan yang terpapar di sana. Dirinya yang jeli langsung bisa menemukan kelebatan sosok seorang wanita berambut panjang berdandan menor yang sempat muncul hanya sepersekian detik sebelum kemudian rekaman itu bergoyang dan terhenti.

__ADS_1


Michaela. Itulah nama yang diucapkan oleh Dimitri tadi. Tentu saja Xavier tahu siapa Michaela. Dia sudah pasti tak ketinggalan mengikuti affair artis terkenal itu dengan Akram yang tampak berada dalam zona abu-abu, sehingga memancing berbagai pembahasan penuh spekulasi di media-media ternama.


Michaela. Michaela. Michaela


Xavier merapal nama itu sementara bibirnya mengurai senyum kejam layaknya pembunuh yang telah kehilangan kewarasannya.


Xavier akan memastikan bahwa dialah yang nanti dengan senang hati memberikan hukuman kepada jalang licik yang dipenuhi kedengkian itu


***



***


Akram yang masih berdiri menghadap cermin wastafelnya telah berganti pakaian. Dia mengenakan wadah pistol khusus untuk menyarungkan senjata lengkap di dada, tepat di atas lapisan rompi anti pelurunya. Kain penyangga lengannya akhirnya dilepas setelah dia bersikeras kepada Nathan.


Mereka sempat bersitegang sejenak sampai kemudian Nathan menyerah kalah dan membantu Akram untuk melepaskan kain penyangga lengan itu, lalu menggantinya dengan bebat perban yang kuat melingkar di bahu kiri Akram dan dadanya, sehingga lengan kiri Akram bisa bergerak bebas tetapi bahunya yang terluka tetap tersangga serta terlindungi.


Akram mengenakan jasnya, lalu tangannya bergerak untuk membuka tabung kecil berisi butiran tablet pereda nyeri yang tadi diberikan oleh Nathan kepadanya. Diambilnya beberapa tablet putih itu, lalu ditelannya dengan bantuan air sebelum kemudian Akram kembali beralih menatap cermin di depannya, menatap ke arah dirinya sendiri.


Wajahnya tampak sangat menyedihkan, dengan rona pucat efek kehabisan darah, lingkaran hitam di sekitar mata dan rambutnya yang acak-acakan.


Tetapi saat ini, tentu saja penampilannya bukanlah sesuatu yang dicemaskan oleh Akram, karena sekarang pikirannya tengah dipenuhi oleh sosok Elana.


Sepertinya Akram mulai bisa memahami apa maksud Xavier sebelumnya mengenai hubungannya dengan Elana. Selama ini, Akram yang angkuh selalu berpikir betapa beruntungnya Elana sebagai seorang jelata yang miskin ternyata bisa dipilih olehnya. Dia mematok standar secara egois, bahwa Elana sudah seharusnya menerima dengan penuh terima kasih serta mensyukuri perhatian yang diberikannya.


Tenggelam dalam pemikiran narsis tersebut, membuat Akram lupa bahwa Elana adalah individu penuh harga diri yang memiliki hak asasi serta kebebasannya sendiri.


Video percobaan rudapaksa oleh Tedy yang baru saja dilihatnya itu sungguh menghantui Akram dengan rasa bersalah yang amat mendalam. Akram benar-benar murka kepada Tedy, tetapi kemurkaannya itu ternyata sama besarnya dengan apa yang dia rasakan pada dirinya sendiri.


Dulu dia juga memperkosa Elana, dia juga memaksakan kehendaknya terhadap perempuan itu, dia juga hanya mengejar nafsunya sendiri, dikuasai oleh hasrat kelelakian dan dengan keji tetap menuntaskan nafsunya, tak peduli jika Elana saat itu menangis dan meronta sekuat tenaga untuk memohon belas kasihannya.


Hanya karena dia jauh lebih kaya dan lebih sempurna dalam penampilan fisik, tak membuatnya lebih baik jika dibandingkan dengan Tedy. Akram tahu dia sama menjijikkannya seperti Tedy, dan Elana memang pantas membencinya sepenuh hati.


***



***


Catatan author


✍️✍️✍️✍️


Hello beautiful people!


Episode 74 ( yang sedang kalian baca) diposting author pada hari Jumat (27 September)


Episode 75 akan diposting pada hari Sabtu (28 September)


Entah akan lolos review mangatoon kapan, mudah2an bisa lolos sabtu atau minggu ini, atau jika admin mangatoon libur review sabtu minggu, mungkin baru lolos Senin/Selasa.


Mohon bersabar dan doakan cepat lolos proses reviewnya.


Thank You - by AY


***


__ADS_1



__ADS_2