Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 104 : Tuduhan


__ADS_3


Halo, ini adalah part 9/10 dari Crazy update.


Author tidak bisa menjamin kesepuluh-sepuluhnya terposting berbarengan ya karena ada sistem review dari mangatoon.


Mudah2an saja bisa terposting berbarengan, tetapi jika tidak ( posting terpisah dengan jeda waktu jam/hari) maka diharapkan permaklumannya


Regards,Ay



Dengan kaki menghentak penuh kemarahan, Maya melangkah kembali hendak memasuki ruang kerja Xavier untuk berkumpul bersama para lelaki cerdas yang memang layak untuk bersamanya. Ketika langkahnya sampai di depan meja kerja Elana yang sedang fokus memandang layar komputernya, tampaknya sedang sok sibuk bekerja, langkah Maya melambat dan matanya mengawasi Elana dengan tajam.


Diawasi seperti itu tentu saja Elana merasa, dia mendongakkan kepala dan matanya langsung bersirobok dengan mata Maya yang mengamatinya dengan kilat aneh serupa tanda permusuhan.


Dengan bingung karena tak memahami kenapa wanita di depannya ini menatap dengan penuh antipati, Elana pun bertanya.


"Nona Maya? Ada yang bisa saya bantu?" suaranya terdengar polos dan tanpa dosa. Itu memang merupakan keaslian dari Elana, tetapi tentu saja Maya menangkapnya sebagai sesuatu yang palsu dan dibuat-buat, seolah-olah Elana sengaja menggunakan tampilan polos palsunya untuk memikat semua laki-laki kaya dan berkuasa di tempat ini.


Jangan-jangan, Elana juga mengincar Akram Night?


Sebab meskipun saat ini Elana menjadi simpanan Xavier dan berhasil merayu Elios, Akram Night adalah ikan tangkapan paling besar di tempat ini. Seorang perempuan tamak seperti Elana pastinya tak akan puas sebelum mendapatkan tangkapan ikan paling besar, bukan?


Pikiran Maya dipenuhi oleh kemarahan tak terkendali, dan itu semakin membuat dadanya membuncah oleh rasa panas mengerikan yang hampir-hampir membuatnya meledak.


Tangan Maya terkepal kuat ketika dia mengawasi Elana dan sekali lagi memindai untuk menilai dari ujung kepala sampai kaki, mencoba memperhitungkan apakah perempuan ini layak menjadi saingannya dalam usaha memenangkan cinta Akram atau tidak.


Wajah Elana nol besar, tidak secantik dirinya. Tubuhnya apalagi, tubuh kurus dan kecil, bahkan tidak bisa dibilang menarik untuk ukuran perempuan. Dan kemampuan otaknya... sudah jelas Maya dengan berbagai gelar dan prestasi yang diraihnya memiliki nilai jauh lebih tinggi dibandingkan Elana. Nilai Elana keseluruhan adalah nol besar dan nilai Maya hampir tak terhingga. Jarak antara mereka sudah terlalu jauh untuk dikejar, jadi seharusnya Maya tak perlu memperhitungkan Elana yang tak ada artinya sama sekali bagi dirinya.


Tetapi, kenapa sekarang Maya merasa terganggu? Mungkin karena kenyataan bahwa Xavier Night bersikap ketus kepadanya, tetapi memuji-muji gadis bodoh ini di depan Craden, mungkin juga karena rasa muak ketika melihat orang bodoh bisa duduk di kursi yang seharusnya diduduki oleh orang dengan level tinggi seperti dirinya, hanya karena menjual tubuhnya dengan cara kotor.


Mata Maya semakin berkobar penuh kebencian ketika dia melangkah mendekat ke arah meja Elana.


"Apa yang sedang kau kerjakan?" tanyanya sinis, melirik sedikit ke arah komputer Elana.


Elana langsung memasang senyum ramahnya yang biasa. Sikap tanpa prasangkanya membuatnya tidak berpikir bahwa kebencian Maya memang dikhususkan langsung kepadanya. Dia malah berpikir mungkin Maya sedang datang bulan jadi moodnya tak baik,atau memang sudah sikap pembawaan Maya untuk berperilaku ketus seperti itu.


Dengan sikap tenang, Elana menunjukkan catatan yang diberikan oleh Elios kepadanya.


"Saya sedang melakukan instruksi kerja yang diberikan oleh Elios dalam hal penyortiran data digital secara efisien menggunakan software khusus untuk asisten pribadi," sahut Elana dengan bersemangat. Dia telah mencapai progress kemajuan yang sangat bagus di pekerjaannya, dan saat ini senang berbagi untuk membicarakan kemajuannya karena hatinya dipenuhi oleh rasa syukur bercampur bangga.


Sayangnya, tanggapan Maya luar biasa sinisnya. Perempuan itu mengangkat alis, lalu menatap Elana dengan pandangan mencemooh yang nyata.


"Memangnya sudah berapa lama kau menjadi asisten pribadi Xavier?" tanya Maya menelisik tajam.


"Baru dua hari," Elana menjawab ringan, tak menduga bahwa kali berikutnya  perempuan itu membuka mulut, dia langsung menyemburkan kebenciannya dalam celaan tanpa ampun.


"Hanya belajar hal remeh seperti ini dan kau membutuhka seharian untuk melakukannya? Aku bahkan bissa menguasai itu hanya dalam beberapa detik. Sebenarnya kau sadar tidak sih fungsimu sebagai asisten pribadi Xavier? Seorang asisten yang baik harus bisa memperingan pekerjaan atasannya dan membuat segala sesuatunya efisien bagi atasannya. Meskipun kau baru dua hari berada di sini, tetapi kenyataan bahwa Xavier, sang Dewa dalam probabilitas saham, memilihmu sebagai asistennya, maka aku berpikir bahwa kau pasti memiliki kualifikasi yang cukup tinggi. Sama sekali tidak kusangka kalau kau malahan duduk di sini tanpa rasa bersalah dan mempelajari pelajaran dasar dalam pekerjaan menjadi seorang asisten. Kalau kau teruskan seperti ini, bukannya kau menjadi asisten yang membantu atasannya, tetapi kau malahan memperlambat dan menjadi beban," Maya berkacak pinggang, menatap Elana dengan arogan. "Kusarankan, kalau kau sadar diri bahwa kau tak pantas duduk di kursi yang kau duduki itu, lebih baik kau mengundurkan diri saja daripada terus menerus memasang wajahmu yang tak tahu malu itu!"

__ADS_1


Tanpa menunggu tanggapan dari Elana, Maya langsung membalikkan tubuh, lalu melangkah dengan kaki menghentak dipenuhi emosi dan masuk kembali ke dalam ruangan Xavier.


Ditinggalkan sendirian, Elana langsung termenung. Pandangan matanya masih tertuju pada pintu ruangan Xavier yang sekarang tertutup rapat di depannya. Benaknya bertanya-tanya, dipenuhi kebingungan karena sama sekali tak menyangka kalau Maya akan langsung menyerangnya dengan kejam, padahal mereka baru saja bertemu.


Yah, meskipun begitu, Elana sama sekali tak merasa marah atau kesal kepada Maya. Sebab, meskipun diucapkan secara galak bercampur nada kasar, hampir semua perkataan Maya itu benar adanya. Dalam hal kualifikasi, tentu saja Elana sama sekali tak memenuhi syarat untuk menjadi asisten Xavier. Dalam hal pendidikan, dia hanyalah lulusan SMA biasa, dalam hal pengalaman kerja, mungkin Maya akan semakin mengamuk kalau tahu bahwa sebelumnya, pengalaman kerja Elana hanyalah menjadi seorang kasir minimarket dan seorang cleaning service.


Tentu saja, kenyataan sudah terpampang nyata di depan mata tanpa Maya perlu menjabarkannya, bahwa Maya berada jauh, jauh lebih tinggi dalam hal kapabilitas dibandingkan oleh Elana sekarang.


Tetapi, tentu saja Elana tidak akan menyerah dengan kenyataan yang ada. Dia mungkin bodoh, tak berpengalaman dan tidak sehebat Maya. Tetapi Elana bertekad untuk bekerja dengan baik, bukan untuk memenangkan persaingan, tetapi lebih supaya dia tidak mengecewakan orang-orang yang berada di dekatnya.


Sepertinya, Maya tidak boleh sampai mengetahui hubungannya dengan Akram. Saat ini saja perempuan itu jelas memandang rendah diri dan kemampuannya. Kalau sampai Maya tahu bahwa Elana memiliki hubungan dengan Akram, bisa-bisa Maya akan menganggapnya menjual tubuhnya untuk mendapatkan kedudukan tinggi dari Akram.




"Besok kita akan mulai lebih pagi," Craden melangkah keluar dari ruang kerja Xavier dengan diikuti oleh Maya. "Kurasa kita akan mulai dengan laporan sumber pemasukan dulu, untuk menelisik pola pemilihan sumber dana untuk menyamarkan kebocoran keuangan yang dilakukan dengan sangat hati-hati tersebut," dengan gerakan elegan, Craden merapikan dasinya, lalu mengangkat sedikit tangannya untuk memberikan isyarat perpisaha kepada Xavier. "Sampai jumpa esok pagi," ucapnya cepat sebelum membalikkan tubuh meninggalkan Xavier yang berdiri di ambang pintu ruang kerjanya.


Langkah Craden cepat menuju ke lift, dan dia harus melewati meja Elana yang masih sibuk bekerja untuk mencapai pintu lift yang akan mengantar mereka turun.


"Lana, masuk kemari. Ada hal-hal yang ingin kubicarakan," suara Xavier tiba-tiba terdengar dari belakang punggung Craden, memanggil Elana dengan nada tegas dan kuat.


Gerakan Elana sigap ketika dia berdiri cepat untuk menanggapi panggilan itu. Pada saat yang sama, Craden Evening yang tengah lewat bersirobok mata dengannya, sementara Maya tampak mengikuti di belakangnya.


Mau tak mau Elana menganggukkan kepala dengan sopan yang langsung dibalas dengan anggukan tulus berurai senyum.


Elana lalu mengalihkan tatapannya kepada Maya, berniat menyapa tetapi langsung pupus ketika menyadari bahwa perempuan itu telah memelengoskan mukanya ke arah berlawanan seolah malas untuk berinteraksi lagi dengan Elana.


Dengan senyum kecut, Elana mengalihkan perhatiannya kepada Xavier, menyahuti panggilannya lalu melangkah cepat menuju Xavier yang menunggunya di ambang pintu.



Mata Maya berkobar di dalam lift ketika mengawasi Elana yang melangkah menuju Xavier yang tengah menanti di ambang pintu. Xavier yang ketika bersama mereka memasang wajah dingin tak bersahabat, kali ini tampak sumringah dengan senyum tersungging di bibirnya seiring dengan langkah kaki Elana yang semakin mendekat.


Cih! Sungguh tak tahu malu. Dua orang itu sekarang berada sendirian di lantai atas gedung ini, dan mereka sudah pasti menggunakan kesempatan yang ada untuk berasyikmasyuk dengan menjijikkan karena yakin bahwa tak ada satupun orang yang bisa mengusik mereka.


Xavier Light memperlakukannya dengan sikap merendahkan sepanjang diskusinya di ruangannya tadi, seolah Maya bukanlah wanita istimewa dengn kecerdasan luar biasa, lelaki itu memperlakukannya seperti orang biasa yang tak punya kompetensi, padahal dia memiliki segudang kelebihan yang luar biasa jika lelaki itu mau membuka mata. Sekarang, Xavier light memasang senyum lebar ketika menyambut asistennya yang datang mendekat? Lelaki itu mungkin pandai di bidang akademisi, tetapi otaknya sudah tumpul seketika saat menyangkut perempuan.


Maya jadi membayangkan seandainya saja dia menyimpan bukti-bukti Elana yang bercumbu dengan Elios di ruang toilet wanita tadi lalu melemparkannya seluruh bukti itu ke muka Xavier. Mungkin dia akan berhasil menggoreskan malu di wajah tanpa cela itu, karena ternyata dirinya yang dimabuk asmara telah dikhianati oleh perempuan jalang itu di depan batang hidungnya sendiri.


Pintu lift tiba-tiba menutup, membuat Maya tak bisa mengawasi lagi tingkah amoral pasangan tak berkelas yang tadinya terpampang di depan matanya. Maya mengubah posisi berdirinya, menyandarkan punggungnya  ke dinding lift di belakangnya dan mendengkus dengan kesal tanpa sengaja.


Sikapnya itu tentu saja diperhatikan oleh Craden yang sangat teliti. Meskipun ekspresi wajah lelaki itu tak berubah, dia langsung mengawasi Maya dan bertanya.


"Apa yang mengganggu pikiranmu? Sejak tadi kau masuk kembali ke ruangan Xavier, kau seolah-olah hendak meledak karena kemarahan," ujar Craden dengan penuh rasa ingin tahu.


Seketika Maya mendongakkan kepalanya, tak sabar untuk melampiaskan ketidakpuasannya.


"Perempuan itu... kau tahu jalang asisten Xavier itu? Ketika kau menyuruhku memesankan minuman kepada Elios, aku melihatnya sedang bercumbu dengan Elios di ruang toilet wanita!"

__ADS_1


Craden biasanya berhasil menjaga emosinya supaya tak terlihat, tetapi kali ini, keterkejutan tampak jelas di matanya, membuat pupil matanya yang bening melebar karenanya.


"Hati-hati dengan perkataanmu, Maya. Sebab, jika kau tak mempunyai bukti, kau bisa berakhir sebagai pemfitnah. Ingat, yang kau bicarakan itu bukan orang biasa," mata Craden menyipit, dipenuhi ketidakpercayaan. "Apakah kau melihat dengan mata kepalamu sendiri kalau Elana tengah bercumbu dengan Elios?"


Maya mengerutkan kening, tetapi akhirnya berucap dengan nada tergeragap.


"Eh... memang aku tidak melihat sendiri... tapi mereka berdua sungguh mencurigakan. Elios berdiri di depan lift dekat ruang toilet perempuan, lalu terburu-buru pergi dengan bilang bahwa Akram sudah menunggunya untuk meeting di luar. Lalu, perempuan itu, Elana, keluar dari kamar mandi dengan rambut kusut masai, bibir bengkak seperti habis dicium dan tubuh berbalur aroma minyak wangi perempuan! Memangnya apalagi yang bisa terjadi selain mereka telah bercumbu sebelumnya dan terpergok olehku?" sambarnya berusaha meyakinkan Craden.


Mendengar penjelasan Maya tersebut, Craden tampak lebih santai. Lelaki itu mengurai senyuman di bibirnya yang tipis, lalu mengangkat sedikit alis ketika bertanya kepada Maya.


"Saat kejadian itu, apakah kau tahu dimana Akram berada?" tanyanya dengan nada misterius.


Maya langsung meradang ketika menyadari bahwa Craden tampak meremehkan kesaksiannya.


"Memangnya apa hubungannya semua ini dengan Akram? Tidak ada hubungannya sama sekali! Kita saat ini tengah membantah skandal antara Elios dan Elana di tempat kerja. Sungguh menjijikkan, bercumbu di toilet layaknya hewan yang tak bisa menahan nafsu birahi!" mata Maya berkilat penuh kebencian ketika dia memberikan bumbu pada imajinasi liarnya. "Dan kau tahu? Menurutku Elana sangat tidak kompeten untuk bisa menjadi asisten Xavier. Dia bahkan tak tahu dasar-dasar pekerjaan asisten pribadi! Kurasa dia menjual tubuhnya dan menjadi simpanan Xavier untuk mendapatkan posisi kedudukannya saat ini..."


"Jaga bicaramu, Maya. Sudah kubilang kau harus menjaga sikapmu di sini. Orang-orang yang kau libatkan dalam perkataanmu itu bukanlah orang-orang biasa, mereka bisa melibasmu tanpa ampun jika kau mengusik mereka," dengan suara tertahan Craden memberi peringatan, mulai tidak suka dengan sikap Maya yang menghakimi karena didorong oleh kebencian tanpa alasan.


"Aku bukannya mengusik mereka. Kau tahu sendiri, Craden, aku paling tidak suka jika ada ketidakadilan di depan mataku. Menurutku, Akram Night harus disadarkan akan betapa jalangnya Elana yang menjual tubuhnya pada dua lelaki di kantornya di jam kerja, dan Xavier juga harus tahu bahwa Elana berselingkuh di depan matanya dengan Elios!"


"Pikiran apapun yang ada di dalam benakmu dengan maksud menciptakan rangkaian benang khusus perseteruan di antara orang-orang itu, batalkan semuanya!" Craden menegakkan punggung dengan sikap tegang dan kaku, melupakan sikap sopan elegannya yang biasa dan beralih menjadi arogan yang sangat tegas. Ditatapnya Maya dengan tajam. "Kita di sini untuk bekerja, bukan untuk turut campur dalam affair orang lain. Aku tak mau mendengar lagi suara-suara darimu menyangkut masalah pribadi orang-orang di tempat ini. Apa kau mengerti?"


Pertanyaan Craden terdengar menuntut, dan saat ini lelaki itu tampak menjulang mengerikan di atas Maya, hingga mau tak mau, maya menekan ambisi serta kebenciannya, lalu mengangguk lemah tanda menyerah.


"Baik, Craden, aku mengerti." jawabnya dengan nada tak kalah lemah.


"Bagus kalau kau mengerti. Sebab aku tak akan mentoleransi sikap burukmu lagi. Terutama pada Elana, berhenti mengganggunya, oke?" sahut Craden dengan nada sedikit naik.


Kali ini Maya tak menjawab, perempuan itu hanya menganggukkan kepala tipis, lalu memalingkan muka seolah sengaja memutus pembicaraan di antara mereka.


Craden menghela napas panjang, mengumpat dalam hati karena terpancing untuk lepas dari batas kesabarannya dalam menghadapi Maya. Setidaknya dia berharap Maya akan mendengarkan perkataannya dan mengesampingkan sikap arogan serta pencemburunya yang tak beralasan sehingga dia akan terselamatkan. Tentu saja Xavier sudah menceritakan semuanya tentang hubungan Akram Night dan Elana yang istimewa, dan Craden tahu pasti, jika Maya sampai menyakiti Elana, maka perempuan itu akan tamat tanpa bisa ditolong lagi.





Halo, ini adalah part 9/10 dari Crazy update. Author tidak bisa menjamin kesepuluh-sepuluhnya terposting berbarengan ya karena ada sistem review dari mangatoon.


Mudah2an saja bisa terposting berbarengan, tetapi jika tidak ( posting terpisah dengan jeda waktu jam/hari) maka diharapkan permaklumanny


Regards,


Ay


Note Author : Kisah tentang Cradence Evening ini rencananya akan menjadi proyek novel baru author. Tapi belum tahu apakah akan diposting disini setelah Essence Of The Darkness tamat atau tidak. Jika iya, pasti akan author buat pengumuman di sini. dan tentu saja dia TIDAK BERPASANGAN DENGAN MAYA.


__ADS_1




__ADS_2