
"The strongest position you can be in, is complete surrender."
Akram sama sekali tidak peduli dengan ekspresi syok yang membuat Elana tampak pucat pasi. Lelaki itu membungkuk di atas ranjang, mendekat seperti predator yang ingin mengunci mangsanya, dan membuat Elana semakin beringsut menjauh, tetapi tak berdaya karena tak bisa lari.
"Kau... kau mau apa?" Elena berhasil menyerukan suaranya yang tersekat, tangannya memeluk dirinya di dada, sebagai tameng perlindungan rapuh atas tatapan Akram yang begitu tajam sampai menusuk jiwanya.
"Kau bertanya aku ingin apa?" Akram setengah terkekeh, meskipun matanya sama sekali tak menyiratkan senyum. "Aku ingin kau."
Mata Elana melebar. Lelaki di depannya ini memang orang gila. Akram bahkan sama sekali tidak menutupi obsesi mengerikannya terhadap Elana. Dan lelaki ini begini arogan, seenaknya mengklaim apa yang diinginkannya, seolah Elana adalah sebuah benda yang tak punya kehendak. Apakah selalu seperti ini pengaturanya bagi golongan kuat? Apakah karena mereka kuat, berkuasa dan memiliki banyak harta, mereka bebas menghancurkan penghargaan atas hak asasi manusia?
"Kau tidak akan bisa berbuat semaumu! Aku… aku bukan barang yang bisa dimiliki sesukamu, aku manusia!" Elana memberanikan dirinya untuk melawan meskipun dia tahu kesempatannya untuk menang sangat kecil. Dia tahu Akram adalah tipe penindas, lelaki itu membabat habis golongan lemah tanpa ampun dan tanpa belas kasihan. Jika Elana tidak bisa melawan sama sekali, dia tahu pasti bahwa dia akan ditekan oleh kekuasaan lelaki itu hingga merendah sampai ke tanah. "Manusia memiliki hak pribadi atas tubuh mereka sendiri, meskipun kau memaksakan diri kepadaku, tubuh dan hatiku tetap milikku, tidak bisa dimiliki oleh orang lain!" sambungnya terbata, mengungkapkan maksudnya dengan nada sungguh-sungguh.
Sayangnya, kesungguhan Elana itu tampaknya sama sekali tidak mempan untuk mengetuk nurani Akram. Lelaki itu malahan tersenyum mengejek, sengaja memandangi seluruh tubuh Elana dengan pandangan sensual yang melecehkan.
"Oh ya? Kau bilang kau punya hak atas tubuhmu sendiri. Tapi bukankah aku sudah berhasil memiliki tubuhmu? Apa kau lupa semalam aku bisa menyentuhmu semauku dan kau sama sekali tidak memilki kekuatan untuk melawan?” Akram menyahut dingin, senyumnya muncul ketika melihat wajah Elana langsung pucat pasi mendengar perkataannya. Perempuan itu bersikap melawan, tetapi Akram tahu pasti bahwa di dalam hatinya, Elana begitu takut terhadapnya.
Tangan Akram bergerak menyentuh helai rambut Elana, membuat perempuan itu mengkerut ketakutan. ”Kucing penakut yang siap mencakar. Ternyata kau masih memiliki keberanian untuk melawanku. Aku jadi tidak sabar menunggu untuk menjinakkanmu hingga kau mendengkur di bawah elusanku." Akram mendesiskan kalimat sensual dengan sengaja, mengirimkan sinyal yang membuat tubuh Elana menegang kaku.
Mendengar perkataan Akram yang vulgar itu, kelebatan demi kelebatan malam laknat itu muncul di dalam pikiran Elana seketika. Tubuhnya gemetar setengah menggigil, tangannya mengepal sementara lengannya semakin kuat memeluk dirinya sendiri. Akram sengaja memancing trauma mengerikan yang muncul di kepalanya akibat perkosaan yang dilakukan lelaki itu kepadanya. Itu semua karena Akram tahu, bahwa ketika Elana tenggelam dalam ketakutan dan trauma, mentalnya semakin lemah dan semakin mudah untuk diintimidasi, hingga kehendaknya untuk melawan akan tertekan habis oleh penindasan dari Akram yang tak punya nurani.
"Kau... kau tidak akan bisa memilikiku... kau tidak akan bisa!" napas Elana tersengal ketika suaranya tertelan di tenggorokan, menahan isakan kuat yang hendak menyembur akibat rasa ngeri yang menyelimuti dirinya. "Lebih baik aku mati!" teriaknya kemudian putus asa.
Tak disangkanya, kalimat terakhirnya itu seperti pemantik yang langsung mengobarkan api kemarahan di jiwa Akram. Lelaki itu langsung menyerang, naik ke atas ranjang dengan kekuatan penuh, membuat Elana memekik ketakutan ketika diterjang tanpa ampun.
Tubuh lelaki itu menindihnya di atas ranjang, kedua tangannya yang kuat menahan kedua lengan Elana, sementara pahanya menekan kuat di sisi samping kiri dan kanan pinggul Elana. Wajah Akram gelap, dipenuhi kemurkaan.
"Jangan coba-coba untuk membunuh dirimu sendiri. Jangan coba-coba melakukan itu lagi!" Akram mendesis sambil menundukkan kepala, mendekatkan wajahnya ke wajah Elana hingga hidung mereka saling bersentuhan. "Nyawamu adalah milikku, Elana, akulah yang bisa memutuskan kapan kau bisa mati,"
Kepala Akram langsung menunduk, hendak mencium perempuan itu, tetapi Elana bergerak cepat, di detik ketika bibir Akram hampir menyentuh bibir Elana, perempuan itu memiringkan kepala, menghindar tangkas hingga bibir Akram hanya berhasil mendarat di pipinya.
Akram tersenyum dalam diam. Perempuan itu benar-benar tidak tahu bahwa sikap membangkangnya malah akan membuat akram semakin terobsesi untuk menaklukkannya. Semakin Elana berusaha menolaknya, semakin Akram ingin menguasainya. Semakin Elena berusaha menjauh darinya, semakin Akram ingin menyatukan dirinya.
Bibir Akram lalu bergerak dengan menggoda, menyusuri sisi pipi Elana, lalu berakhir di telinga Elana, menghembuskan napasnya yang panas di sana hingga Elana terkesiap dengan bulu kuduk berdiri.
__ADS_1
“Kalau kau berani-beraninya mencoba bunuh diri lagi, aku bersumpah akan menghentikanmu di waktu yang tepat hingga kau tak akan mati. Kalau kau berusah melakukan bunuh diri dengan cara apapun, aku tidak akan memberimu ampun. Akan kupertahankan kehidupanmu dalam penderitaan hingga kau akan memohon untuk mati saja. Tapi tak akan kubiarkan kau mati, akan kulumpuhkan tangan dan kakimu hingga kau menjadi perempuan invalid yang tidak bisa bergerak tanpa bantuan. Kau hanya akan menjadi sesosok tubuh yang berbaring bagai boneka, hanya berfungsi untuk memuaskan nafsuku. Dan jika aku sudah bosan, aku akan membuangmu tanpa ampun, dan kau hanya akan mati tersiksa dengan kondisi tubuh cacat permanen begitu aku selesai denganmu.”
Kalimat ancaman itu diucapkan dengan tenang, tetapi makna yang ada di dalamnya begitu mengerikan setelah dicerna, membuat Elana hanya bisa begidik ngeri. Tubuh Akram begitu kuat di atas tubuhnya, lelaki itu menindihnya dan memastikan bahwa Elana tidak bisa bergerak dengan bebas ataupun memberontak. Elana merasakan jantungnya berdebar keras, bukan karena kedekatan fisik Akram kepadanya, tetapi karena seluruh jiwanya dihujam oleh rasa ngeri tak terperi.
Monster jahat. Hanya itulah satu-satunya kalimat yang bisa menggambarkan betapa gelap dan kejinya hati Akram. Ancamannya sangat mengerikan bahkan hanya untuk dibayangkan sekalipun. Apa yang akan Akram lakukan kepadanya kalau Elana nekad mencoba membunuh dirinya sekali lagi? Apakah lelaki itu akan mematahkan tangan dan kakinya hingga lumpuh? Apakah lelaki itu akan memotong tangan dan kakinya?
Bahkan untuk mati saja, Elana harus berada di bawah kendali lelaki ini.
Air mata frustasi membuat mata Elana terasa panas. Dia menahannya sekuat tenaga, menggigit bibirnya sampai terasa sakit. Dia harus melawan! Tetapi bagaimana caranya? Akram terlalu mengintimidasi, terlalu kuat untuk dilawan. Dan Elana tidak ingin menangis di depan lelaki jahat ini karena itu sama saja menunjukkan kelemahannya kepada monster itu. Elana menggigit bibirnya kuat-kuat, menahan air mata yang bergolak dan isak yang menekan dadanya hingga terasa sesak. Sekuat tenaga dia menahan tangisnya.
Akram sendiri tampaknya tak peduli dengan emosi yang bergolak di dalam jiwa Elana, sementara tubuh Elana yang masih lemah sama sekali tidak berdaya untuk melawan kekuatan Akram yang begitu bugar di atasnya.
“Kau tentu tidak ingin kalau sampai aku membuatmu invalid permanen, bukan? Kalau itu terjadi, untuk bergerak, berdiri atau bahkan untuk buang air saja, kau membutuhkan bantuan dari pelayan-pelayanku, dan kau akan sepenuhnya bergantung pada kebaikan hatiku,” Aslan menyeringai, tampak senang membayangkan kalimat terakhirnya itu. “Dan aku tentu saja lebih memilih kau patuh sehingga aku tidak perlu terpaksa melumpuhkan tangan dan kakimu untuk mendisiplinkanmu.” Akram menghadiahkan kecupan di lekukan antara leher dan pundak Elana, menggigit kembali pada permukaan kulit lembut di sana dengan menggoda. “Aku tidak suka bercinta dengan boneka yang hanya bisa berbaring ketika aku memuaskan diri. Aku lebih suka bercinta dengan perempuan yang bisa menggunakan lengannya untuk mencakarku ketika aku memberinya kepuasan, aku lebih senang memuaskan diri dengan perempuan yang bisa melingkarkan kakinya di pinggangku ketika aku menyatukan diri dengannya.”
Pipi Elana merah padam mendengar perkataan vulgar Akram itu. Seketika itu juga, lupa dengan tangannya yang masih sakit dan dibebat di pergelangan, lupa pula dengan tangannya yang lain yang masih disambungkan dengan selang infus, Elena sekuat tenaga menggerakkan kedua tangannya untuk mendorong dada lelaki itu menjauh. Sebuah gerakan yang sia-sia karena tubuh Akram yang sekokoh batu begitu keras dan tidak bisa digeser sama sekali.
Gerakan kasar dan tiba-tiba yang dilakukannya berakhir fatal. Selang infusnya terlepas paksa, menciptakan rasa nyeri mendera seiring dengan rembesan darah di punggung tangannya. Dan ditangannya yang lain, gerakan kasar di pergelangan tangannya membuat jahitan rapuh yang masih belum kering benar terbuka kembali, mengucurkan darah segar yang langsung membasahi perban putih bersih itu.
Elana mengaduh kesakitan karena rasa nyeri yang langsung menggigit di kedua tangannya. Dan Akram langsung mengangkat tubuhnya untuk melihat apa yang terjadi.
Mata Akram melebar ketika melihat kedua tangan Elana yang sama-sama terluka, lalu beralih ke arah wajah Elana yang berubah pucat pasi.
Sementara itu, pandangan Elana mulai berkunang-kunang, seolah-olah semua yang ada di sekitarnya berubah kabur dan buram, diselubungi oleh titik-titik berkilauan yang mengambang dalam gerakan berputar di sekitarnya. Lalu gelap kembali datang memeluk Elana, membuat dirinya kehilangan kesadarannya sepenuhnya.
- - -
- - -
Ketika Elana membuka mata kembali, kepalanya terasa sangat pening. Dia mengerjapkan mata berkali-kali untuk menguraikan pandangannya yang kabur, tetapi yang tampak di depannya hanyalah bayangan samar yang berputar-putar, membuatnya merasa makin mual.
“Pelan-pelan. Kau berdarah banyak tadi karena jahitanmu terbuka,”
Suara tenang itu membuat Elana terkesiap. Dia menyipitkan mata, berusaha menahan rasa tak enak yang bergolak di tubuhnya dan menolehkan kepala ke arah sumber suara. Jantungnya langsung berdegup ngeri ketika menyadari bahwa monster itu, Akram Night, duduk di kursi dekat dengan tempat tidurnya, mengawasinya dengan mata hazelnya yang menusuk tajam.
__ADS_1
Elana berusaha menggerakkan tangannya untuk menyentuh kepalanya yang sakit, tetapi dia mengerutkan kening bingung ketika menyadari bahwa lengannya tidak bisa digerakkan. Elana menundukkan kepala untuk melihat tangannya, dan matanya membelalak ketika menyadari bahwa kedua tangannya diikat masing-masing ke besi yang memagari sisi ranjang rumah sakit itu.
Tangannya yang diinfus diikat erat di dengan sesuatu yang tampak seperti pita hitam satin yang sangat kuat di pergelangan. Sementara, tangannya yang memiliki jahitan akibat sayatan, diikat kuat di bagian lengan, mendekati sikunya dengan ikatan yang sama kuatnya pula.
“Aku yang mengikatmu sendiri, supaya kau tidak bertindak bodoh dan melukai dirimu dengan sengaja.” Akram menyipitkan mata. “Lain kali, jika kau berbuat kebodohan yang sama lagi, aku tidak akan sebaik hati ini dengan hanya mengikatmu. Aku akan langsung memutus saraf tangan dan kakimu sehingga lengan dan kakimu akan lumpuh tak tersembuhkan,” ancamnya dengan nada gelap mengerikan.
Elana menghela napas panjang, tubuhnya setengah menggigil ketika ancaman menakutkan itu menusuk ke dalam jiwanya, membuatnya dipenuhi kengerian yang amat sangat.
Lelaki ini benar-benar monster tak berhati. Dia tidak menutup-nutupi sikap kejam dan jahatnya. Dan Akram sudah pasti tidak hanya menggertak ketika mengancam Elana dengan kekejaman tak kenal ampun. Jika Elana berani membangkang lelaki itu, sudah pasti Akram akan benar-benar membuatnya lumpuh tak berdaya.
Elana tidak punya pilihan, bukan? Terpenjara tetapi masih memiliki kekuatan atas tubuhnya sendiri jelas-jelas lebih baik daripada menjadi sosok invalid yang hanya bisa menggantungkan diri pada orang lain. Akram dengan jahatnya tidak memberikan pilihan pada Elana.
Akram bergerak dan berdiri di tepi ranjang, sementara Elana yang terikat tak berdaya di atas ranjang, tak mampu mendorong dirinya menjauh, hanya mampu menatap Akram dengan mata membelalak penuh kewaspadaan.
“Apakah kediamanmu itu berarti kau berniat untuk patuh?” Akram bertanya dengan seringai dingin yang keji. Lelaki itu duduk di tepi tempat tidur, lalu menelusurkan jemarinya ke pipi Elana.
Seketika Elana memalingkan wajahnya menghindar, membuat senyum jahat terurai di bibir Akram. Lelaki itu melepaskan sentuhannya dari pipi Elana, lalu bergerak untuk membuka jas hitam yang dipakainya, melemparkannya begitu saja ke kursi di samping ranjang rumah sakit.
Sepanjang gerakan Akram, Elana berusaha bertahan, menatap Akram dengan mata melebar penuh ketakutan bercampur waspada, dan Akram sendiri juga membalas menatap Elana tajam dengan senyum menantang, seolah-olah sengaja mengadu kekuatan hati dengan Elana.
“Kau… kau mau apa…?” serunya panik setengah menjerit. Lelaki ini tidak akan melakukan ‘itu’ di dalam kamar perawatan rumah sakit, bukan? Bagaimana jika para perawat atau dokter memasuki ruangan? Dan juga, bukankah Elana masih sakit? Apa lelaki itu sebegitu tak mempunyai belas kasihannya sehingga tega memaksa Elana ketika Elana sedang sakit seperti ini?
"Kau masih ingin bertanya?" tanya Akram dengan nada mengejek kasar.
Dan ketika lelaki itu menyentuhkan bibirnya ke bibir Elana, memperlakukannya sesuka hati tanpa izin, Elana hanya bisa memejamkan mata dengan perasaan bergolak di dalam jiwanya.
Marah, terhina, sedih, sakit hati, semua emosi itu bergolak dalam hatinya, membuat setetes air mata frustasi menetes jatuh tak tertahankan, membasahi pipinya
- - -
__ADS_1