Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 132 : Dendam Kesumat


__ADS_3


Hai ini adalah episode 9/10 yang author upload sesuai jadwal. Untuk kapan lolos reviewnya, author tak tahu, tetapi sabar saja ya, karena memang untuk part yang menggunakan gambar, proses reviewnya lebih lama daripada yang tanpa gambar.


***



***



Hai, untuk yang sudah update Mangatoon versi terbaru 1.7.1 , kalian sudah bisa melakukan VOTE dengan menggunakan POIN melalui MANGATOON lho.


Tinggal Klik halaman depan novel Essence Of The Darkness di MANGATOON, lalu pilih tulisan VOTE di sebelah nama author annonymous yoghurt, dan berikan POIN mu untuk novel author ya


Tiga pemberi poin terbanyak bulan November dan Desember akumulasi akan mendapatkan hadiah tumbler  yang bisa dicustom tulisan nama di bulan Januari nanti.


 


***



***


Author akan update episode tamat novel ini di hari Kamis 12 Desember 2019. Semoga bisa lolos di hari yang sama ya, kalau tidak mungkin baru akan lolos di hari jumat 13 Desember 2019. Terima kasih telah menemani Akram dan Elana dari awal sampai menjelang akhir. Author sangat berterima kasih kepada kalian semua.



 


 


***



***


“Cacar Api?”


Mata Maya membelalak lebar ketika menerima hasil diagnosa dokter ini mengenai penyakitnya. Selintas terbersit rasa jijik akan penyakit yang saat ini menghinggapi tubuhnya.


Dia selalu hidup dengan gaya kelas atas yang bersih dan higenis. Bagaimana mungkin dia bisa terkena penyakit kulit kotor seperti cacar api?


Pantas saja seluruh tubuhnya terasa gatal dan panas tak terkira, belum lagi bercak-bercak merah yang muncul di permukaan kulitnya yang sudah pasti akan meninggalkan bekas jelek di kulitnya yang mulus. Kalau begini buruknya efek penyakitnya ini ke kulitnya, maka Maya harus segera menghubungi dokter perawatan kecantikan kulitnya setelah ini untuk melakukan prosedur laser guna menghilangkan jejak jelek bekas cacar api di tubuhnya.


Maya sibuk dengan pikirannya sendiri hingga hampir-hampir tak mendengar tentang dokter yang memberikan beberapa nasehat seperti tidak boleh menggaruk tubuh dan menjaga supaya tetap di dalam ruangan dan tak melakukan kontak dengan orang lain karena cacar api dikenal sangat menular.


Dengan cepat dokter juga menanyakan apakah Maya kemungkinan sedang hamil karena cacar api bisa membahayakan perempuan hamil. Setelah semua dipastikan aman dan Maya memang tidak sedang hamil, barulah dokter memberikan resep antivirus, penguat sistem imun dan pereda nyeri bagi Maya dan berpesan supaya Maya mengurangi aktivitasnya selama beberapa hari sampai sistem imun tubuhnya berhasil melawan penyakitnya.


Setelah mendapatkan obatnya, Maya melangkah keluar dari ruang periksa dan berjalan cepat menuju lobby untuk minta dijemput oleh supirnya di depan.


Ketika menunggu, matanya menjelajahi seluruh sisi rumah sakit yang terjangkau dalam pandangan matanya dan mendengus.


Ini adalah rumah sakit yang sama tempat Elana dirawat di lantai atas sana. Kalau bukan karena ini adalah rumah sakit paling besar dan paling bagus di kota ini, mana sudi Maya berada di sini dan ada di dekat sosok perempuan rendahan yang untuk saat ini berhasil memanjat naik dan melebihinya dengan memanfaatkan tubuhnya.


Kemarahan melingkupi hati Maya dan membuat tangannya terkepal.


Untuk saat ini mungkin dia harus fokus ke penyakitnya dulu, mencari cara terbaik supaya bisa sembuh. Paling tidak rasa sakitnya harus sudah reda sehingga kalau nanti Dimitri yang dijanjikan oleh Edward sudah datang ke negara ini dan mengatur janji temu dengannya, Maya sudah bisa menemuinya dengan penampilan meyakinkan, bukan dengan kondisi sakit dan wajah bopeng jelek karena bekas cacar api.

__ADS_1


Ketika Maya sedang sibuk melamun, sosok seorang perawat yang berjalan dari arah berlawanan dengannya tiba-tiba bersinggungan tubuh dengannya dan menabraknya. Tabrakan itu cukup keras hingga Maya yang memang sedang tak enak badan sampai mundur beberapa langkah untuk menahan dirinya supaya tak sampai jatuh.


Mata Maya melotot lebar ketika memandang perawat perempuan itu dengan marah, dia hendak membentak tetapi perawat perempuan itu sudah membungkuk-bungkuk untuk meminta maaf kepadanya hingga Maya tak bisa mengatakan apapun lagi selain menganggukkan kepala. Lagipula, lobby ini ramai orang, dia harus menjaga imagenya dan tak boleh tampak berhati buruk serta marah-marah hanya karena ditabrak oleh seorang perawat rendahan.


Perawat itu bergerak menjauh setelah meminta maaf sekali lagi yang diterima Maya dengan setengah hati sambil mengumpat-umpat dalam hati dan dia bahkan sempat mengharapkan yang terburuk bagi perawat itu, yaitu supaya perawat itu tertular sakitnya dan sama menderitanya seperti dirinya.


Maya sudah hampir beranjak pergi sambil bersungut-sungut ketika percakapan dua orang perawat di belakangnya menarik perhatiannya.


“Bagaimana, apakah pesanan vitamin untuk pasien super VVIP kita sudah datang?” seorang perawat yang baru mendekat terdengar menyapa.


“Tadi aku mengecek ke bagian kedatangan obat, tetapi katanya baru akan tiba dari Jerman nanti siang,” jawab perawat yang menabraknya tadi.


Begitu mendengar kata pasien super VVIP, telinga Maya langsung terpasang dengan tajam, karena dia tahu, siapa lagi di rumah sakit ini yang bisa mendapatkan keistimewaan sebagai pasien VVIP selain Elana? Kemarin, tempat perempuan itu dirawat sangatlah mewah dan bahkan mendapatkan satu lantai terpisah tersendiri di rumah sakit besar ini untuk menjaga privasi pasien dan keluarganya. Lagipula, sudah pasti dengan kekayaan dan kekuasan yang dimiliki oleh Akram Night, lelaki itu jelas akan memilihkan fasilitas terbaik untuk perempuannya.


“Vitamin kehamilan itu sangatlah mahal. Sepertinya keluarga pasien super VVIP itu sangat kaya ya sehingga memesan vitamin kehamilan yang sangat mahal itu langsung dari pabriknya di jerman. Seandainya saja aku bisa memiliki suami seperti itu….”


Perawat itu saling bercakap-cakap sambil melangkah pergi sehingga suara percakapan mereka tak kedengaran lagi. Sementara tubuh Maya terpaku kaku ketika menerima informasi yang didengarnya tanpa sengaja dan tak disangka-sangkanya itu.


Vitamin kehamilan? .... hamil? Elana sedang hamil?


***



***


“Sudah selesai?”


Malam sudah berlalu dan beranjak mendekati dini hari ketika Xavier menerima telepon dari Credence. Terdengar suara sirene bercampur dengan dengungan percakapan manusia nan riuh rendah di belakang Credence.


“Edward sudah ditangkap. Dia tak akan bisa lari lagi. Semua bukti sudah kuserahkan ke orang yang tepat. Tak lama lagi, Edward dan semua orang yang terlibat dengan penggelapan uang ini akan segera ditangkap tanpa kecuali.” Credence yang berada di lokasi penangkapan menjawab dengan nada tegas. “Sekarang, bagaimana rencanamu?” tanyanya kemudian.


“Rahasiakan penangkapan ini dari media dan pers, juga dari siapapun yang berada di lingkup perusahaan. Aku akan membuat seolah-olah Edward sedang berlibur ke luar negeri sehingga tidak ada yang menanyakan keberadaannya di perusahaan. Begitupun, aku akan menjaga supaya Dimtri tidak tahu mengenai penangkapan Edward. Nanti setelah Dimitri datang ke negara ini dan aku membereskannya, barulah kita buka seluruhnya kepada pers,”


“Ya?”


“Apakah masih yakin untuk tak mengatakan apapun mengenai hal ini kepada Akram?”


Xavier menyeringai. “Kurasa, tanpa aku mengatakannya pun, Akram akan segera tahu mengenai hal ini. Dia memiliki mata dan telinga di mana-mana. Aku akan mencoba bekerjasama dengan Akram, jangan pikirkan itu.” Sahut Xavier dengan suara yakin, lalu mengakhiri pembicaraannya dengan Credence.


***



***


“Suapan terakhir, lalu minum vitaminmu.” Akram menyuapkan sesendok penuh makanan ke mulut Elana yang menerimanya dengan senang. Saat Elana sibuk mengunyah, Akram menatapnya dengan penuh senyum.“Kau sudah tak merasa mual lagi?” tanyanya lembut.


Tadi, di pagi hari, Elana mulai merasakan mual dan rasa tidak enak di sekujur tubuhnya, perutnya bergolak tak terkendali dan beberapa kali Akram harus mengantarkannya ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.


Setelahnya, Akram memesan vitamin khusus untuk ibu hamil atas rekomendasi dokter Nathan yang didatangkan langsung dari pabriknya. Menurut rekomendasi dokter Nathan, vitamin itu bisa menekan efek mual akibat kadar hormon pembentuk plasenta yang tinggi di dalam tubuh Elana. Vitamin itu memang belum datang meskipun telah dikirimkan dengan pengiriman kilat, tetapi syukurlah, seiring dengan naiknya matahari ke atas langit dan hari berlanjut malam, rasa mual di perut Elana berangsur-angsur mereda dan hilang sepenuhnya saat langit sudah gelap.


Elana mengusap mulutnya dengan serbet putih yang disodorkan oleh Akram, lalu membiarkan Akram mengambil serbet dan piring kotor sebelum kemudian meletakkannya di meja khusus yang berada di ujung ruangan.


Petugas kebersihan dari bagian catering akan mengambil piring-piring kotor itu sesuai jadwal nantinya.


Perlahan, Akram kembali ke sisi ranjang dan melangkah duduk di tepiannya. Lelaki itu menatap Elana dengan penuh kasih, tangannya bergerak menyelipkan untaian rambut Elana yang terleps ke belakng telinganya lalu mendorong kepala perempuan itu sedikit ke depan untuk mengecup dahinya.


“Aku sedikit merasa bersalah melihatmu mual di pagi hari tadi… kupikir, sepertinya aku terlalu memforsirmu tadi malam,” bisik Akram penuh perhatian.


Pipi Elana langsung memerah ketika Akram menyebut kembali tentang pengalaman luar biasa yang diajarkan lelaki itu dengan sabar tadi malam kepadanya.

__ADS_1


Perlahan Elana berdehem untuk mengusir rona malu di pipinya, kepalanya menengadah, menatap Akram dengan sungguh-sungguh.


“Dokter Nathan bilang memang wajar seorang perempuan hamil mual di pagi hari karena konsentrasi hCG di darahnya yang tinggi pada waktu itu. Semua bukan karenamu… dan kurasa ini akan terus terjadi di pagi hari sampai hormon hCG yang berperan penting dalam pembentukan plasenta menyelesaikan tugasnya dan plasenta bayi terbentuk sempurna di usia dua belas sampai dua puluh minggu maksimal…”


Mata Akram melebar. “Jadi, kau harus terus mengalami mual muntah tiap pagi selama tiga atau lima bulan?” serunya sedikit terkejut. “Aku tak tahan melihatmu mual seperti itu. Kau sangat kesakitan. Vitamin yang direkomendasikan oleh dokter Nathan haruslah berfungsi baik untuk menekan mualmu, kalau tidak…”


“Akram,” Elana menyentuhkan jemarinya ke tangan Akram untuk menahan pikiran apapun yang mungkin ada di benak lelaki itu. “Kondisi kehamilanku ini sangat baik, apalagi jika dibandingkan dengan yang dialami oleh wanita hamil lainnya. Tadi aku membaca-baca buku tentang kehamilan yang ditinggalkan oleh dokter Nathan di sini, ada banyak wanita hamil lain di luar sana yang mengalami lebih parah dariku, mereka bisa mual muntah sepanjang hari bahkan dalam frekuensi yang terlalu berlebihan sehingga dokter harus memberikan infus ke tubuh mereka,” Elana tersenyum malu-malu. “Lagipula, mual muntahku benar-benar hilang di malam hari, jadi… untuk memberiku energi saat muntah di pagi hari dan tak bisa sarapan, aku hanya perlu makan banyak di malam hari.”


Sikap optimis Elana menghilangkan kecemasan di wajah Akram, lelaki itu tersenyum lembut kembali dengan sedikit lebih tenang.


“Kalau begitu aku akan memastikan mereka membawa banyak makanan untukmu di malam hari, dengan gizi lengkap tentu saja,” ujarnya memutuskan. Sejenak, Akram tampak ragu, lalu akhirnya dia berucap sambil menilai reaksi Elana atas perkataannya. “Menurutmu, kalau aku menjawadwalkan pemeriksaan USG setiap hari, apakah kau keberatan?”


Biasanya, di waktu lampau, Akram akan memutuskan segala sesuatunya sendiri tanpa merasa perlu untuk repot-repot mendengarkan pendapat Elana. Tetapi sekarang, Akram sudah belajar bahwa sebuah hubungn akan bisa berjalan dengan seimbang kalau kedua belah pihak belajar untuk berkompromi dan menghargai pendapat satu sama lain. Karena itulah dia melembutkan hatinya dan menurunkan kekeraskepalaannya yang dominan dan bersedia untuk meminta pendapat Elana terlebih dahulu sebelum memutuskan hal-hal yang berkenaan dengan kondisi kehamilan Elana.


Mata Elana melebar karena terkejut mendengar usul Akram.


“Tidak ada ibu hamil di dunia ini yang melakukan pemeriksaan USG setiap harinya. Bayi yang sehat dan tidak terindikasi bermasalah, hanya memerlukan pemeriksaan USG sekali dalam satu bulan, dan ketika sudah mendekati usia 9 bulan baru USG dilakukan setiap minggunya,” Elana berucap dengan nada pasti karena dia masih ingat jelas dengan apa yang dikatakan oleh dokter Nathan setelah proses USG pertamanya.


Akram menipiskan bibir. “Aku hanya ingin melihat anakku setiap hari dan memastikan kondisinya baik-baik saja,” lelaki itu memasang ekspresi seperti merajuk yang entah kenapa terasa menggelitik benak Elana dan memaksa senyumnya melebar. “Lagipula, USG adalah pemeriksaan menggunakan gelombang suara, sama sekali tidak melibatkan radiasi sinar X berbahaya yang dilakukan pada Rontgen, jadi USG bisa dilakukan sesering mungkin. Apakah kau juga tak akan senang, bisa melihat anak kita setiap hari dan mendapatkan fotonya sebanyak mungkin ketika sedang berada di dalam perutmu?” tanyanya sambil menatap Elana dengan tatapan menusuk dalam.


Bayangan tentang memasang foto USG harian di album foto khusus memang terasa menyenangkan bagi Elana, tetapi pikiran logikanya tentu saja tak bisa ditinggalkan  begitu saja, jika Akram memaksa melakukan penjadwalan USG setiap hari, bukan hanya mereka membuat dokter melakukan hal yang mubazir, juga akan merepotkan jadwal mereka di kemudian hari.


Saat ini, Elana berada di rumah sakit sehingga mudah baginya untuk bolak-balik melakukan USG, tetapi nanti kalau dia sudah pulang ke rumah, akan merepotkan mengatur jadwal untuk ke rumah sakit besar yang terletak di tengah kota dan berada pada jalur pusat yang cukup macet di jam-jam tertentu.


Tetapi, Elana mengenal Akram, dan jika menginginkan sesuatu, Akram bisa sangat keras kepala, satu-satunya cara yang bisa ditempuh Elana adalah dengan bernegoisasi supaya lelaki itu mau melembutkan hatinya.


“Bagaimana kalau… dua minggu sekali?” dua minggu sekali cukup bisa ditoleransi, masih terlalu sering jika dibandingkan dengan satu bulan sekali, tetapi setidaknya tidak sesering jika dilakukan setiap harinya.


Ekspresi Akram menggelap.


“Tidak,” jawabnya dengan nada tegas tak terbantahkan.


Elana menghela napas panjang, sengaja memasang sinar mata memelas ketika menatap lelaki itu.


“Akram, aku… aku akan kelelahan kalau harus menempuh perjalanan bolak-balik ke rumah sakit setiap harinya untuk melakukan USG…” ujarnya perlahan.


Akram menyipitkan mata, menatap Elana dengan saksama seolah mempelajarinya.


“Kalau begitu, kau bisa tinggal di rumah sakit ini sampai kau melahirkan. Di sini aman dan nyaman dan petugas medis akan selalu siap sedia jika terjadi apapun. Kurasa itu merupakan keputusan yang tepat….”


“Tidak, Akram. Aku tak mau tinggal di sini sampai waktunya melahirkan. Tidak mau,” Elana langsung membantah sekuat tenaga. Tidak terbayangkan dia harus tinggal di rumah sakit, di dalam kamar ini dan tak menjalani kehidupan seperti manusia normal selama sembilan bulan sampai anaknya dilahirkan.


Elana menatap Akram dengan berhati-hati, lalu akhirnya kembali membawa dirinya untuk berkompromi.


“Bagaimana kalau seminggu sekali?” tanyanya dengan suara membujuk.


Sejenak Akram tampak tercenung, tetapi tak urung kepalanya kemudian mengangguk setelah mempertimbangkan semuanya.


“Baiklah, aku bisa menerima kalau seminggu sekali,” lelaki itu menyeringai. “Kita akan mengatur jadwal USG di pagi hari setiap awal akhir pekan, bagaimana menurutmu?”


Elana menganggukkan kepala. Menahan senyum simpulnya. Meskipun saat ini Akram sedang menunjukkan kekeraskepalaannya, bagaimanapun, pengetahuan bahwa lelaki itu ingin melihat kondisi bayi di dalam perutnya dan memantaunya setiap hari, entah kenapa terasa begitu menghangatkan hati.


Lalu tiba-tiba, ponsel Akram berbunyi,menginterupsi percakapan mereka. Akram meminta izin kepada Elana untuk menerima telepon di sana. Lelaki itu menyapa Elios yang menjadi lawan bicaranya di seberang sana, sebelum kemudian mendengarkan rentetan penjelasan di seberang sana, yang sepertinya berasal dari Elios, lalu ekspresi wajahnya berubah marah mengerikan.


 


***



***

__ADS_1




__ADS_2