
Keheningan membentang di dalam kamar itu dimana dua anak manusia terlarut dalam perasaan masing-masing.
Yang satu tenggelam dalam sendu sementara yang lain berusaha menghibur.
Entah berapa lama waktu berputar ketika Elana menyadari bahwa dia sudah terlelap dalam tidur-tidur ayamnya. Dalam kondisi diinfus penawar racun seperti ini, keadaan Elana seolah timbul dan tenggelam dalam kondisi sadar penuh atau lelap dalam mimpi. Bahkan kadang dia tidak bisa membedakan garis batas antara mimpi dengan kenyataan karena otaknya seolah dilumpuhkan dan tidak bisa bekerja secara sempurna.
Elana mengerutkan kening ketika merasa bahwa Xavier masih menindih di atas tubuhnya. Tubuh lelaki itu berat, seolah lelaki itu telah menumpukan seluruh beban tubuhnya ke tubuh Elana tanpa sadar. Elana tidak bisa melihat wajah Xavier karena lelaki itu menenggelamkan kepala di sisi wajahnya, dekat dengan bahunya. Hanya embusan napas panas Xavier yang menyentuh permukaan kulitnya dan gerak dadanya yang teratur saja, yang menjadi tanda bahwa lelaki itu masih bernapas.
Napas yang teratur? Apakah Xavier tertidur?
Elana langsung melebarkan mata ketika kesadarannya kembali sepenuhnya.
Xavier dan seluruh cerita pengakuan masa lalunya yang menghujam jiwa dan setelahnya lelaki itu menindihnya di atas ranjang dengan kerapuhan tak biasa, meminta dipeluk…. Itu semua bukanlah mimpi?
Tangan Elana bergerak untuk mengguncang bahu Xavier yang lunglai dengan gerakan canggung bercampur malu.
Astaga bagaimana bisa dia tertidur dengan lelaki ini lelap di atasnya?
“Xavier. Kau tertidur?” tangan Elana bergerak mengguncang dengan lebih keras ketika tidak ada reaksi dari lelaki itu. “Xavier, bangun… kau… berat,” Elana mengeraskan kalimatnya, berharap suaranya itu bisa menembus batas kesadaran Xavier.
Berhasil, tubuh lelaki itu bergerak dan tangannya menyangga tubuhnya perlahan supaya tidak menindih tubuh mungil Elana di bawahnya. Xavier mengangkat kepala dan Elana bisa melihat bahwa mata lelaki itu masih berkabut. Perlu beberapa saat bagi Xavier untuk mengembalikan kesadarannya sebelum kemudian lelaki itu menunduk ke arah Elana. mengerjap sejenak, lalu matanya yang tampak sembab melebar dipenuhi keterkejutan.
“Aku tertidur?” nada suara Xavier dipenuhi ketidakpercayaan, seolah-olah lelaki itu tidak pernah tidur dengan lelap sebelumnya.
“Ya, kau tertidur,” Elana mengerutkan kening ketika berusaha mempelajari ekspresi Xavier. “Bisa… bisakah kau… eh…. bergeser? Kau berat dan menindih tanganku… tanganku sakit…,” ujarnya kemudian.
Perkataan Elana seperti melecut Xavier dengan cambuk yang mengejutkan. Seketika itu juga Xavier beranjak dari posisinya menindih tubuh Elana dan melompat turun dari tempat tidur. Setelahnya Xavier berdiri di dekat ranjang dengan sikap canggung yang tak pernah ditunjukkan oleh lelaki itu sebelumnya.
“Ah, maafkan aku….” Xavier menghindari tatapan mata Elana dengan rona merah samar yang melintas di tulang pipinya. Tangan Xavier tanpa sadar mengusap rambutnya sendiri dengan gugup. “Kau baik-baik saja?” tanya Xavier kemudian setelah berhasil menguasai diri. Tatapan mata lelaki itu tampak tulus dan bersungguh-sungguh.
Elana menganggukkan kepala. “Aku baik-baik saja,” jawabnya tenang sebelum kemudian menyuarakan pemikirannya. “Sekarang, apakah kau akan membunuhku?”
Pertanyaan Elana itu membuat tubuh Xavier menegang dan matanya langsung menghujam Elana dengan tajam. Segala kegugupan dan kecanggungan layaknya anak kecil yang lolos dari ketenangan Xavier sebelumnya, hilanglah sudah, berganti dengan sikap kaku nan waspada.
“Kenapa kau bertanya seperti itu?” desisnya perlahan.
Elana mengangkat bahu. “Aku memelukmu untuk menghiburmu. Mungkin kau akan berpandangan bahwa pelukanku adalah sikap pengkhianatan terhadap Akram yang memberimu alasan untuk membunuhku. Bukankah itu yang kau cari? Alasan untuk membunuhku?” sahut Elana tenang.
Sekarang, setelah dia sedikit mengerti apa yang ada di benak Xavier, Elana jadi tahu bagaimana cara menghadapi lelaki itu. Meskipun sangat jenius dengan kepintaran yang ditakuti serta sikap kejam tanpa ampun nan haus darah, di dalam jiwanya, Xavier masihlah memiliki cara pandang dan cara berpikir seperti seorang anak kecil. Lelaki itu memandang segala sesuatu hanya dengan hitam dan putih, baik dan jahat, sesuai standar dan tak sesuai standar, tanpa pertimbangan dan kompromi yang biasanya dimiliki oleh orang dewasa. Karena itulah, menghadapi Xavier juga harus dengan ketegasan yang sama, Elana tidak boleh bersikap lemah apalagi meragu di hadapan Xavier.
Elana menghembuskan napas pendek-pendek, berusaha menguatkan hatinya meskipun sesungguhnya dia sedang menahan rasa takut. Dia yakin bahwa jika dia bersikap kukuh di depan Xavier, sudah pasti lelaki itu akan mempertimbangkan untuk mendengarkannya.
“Apakah kau memelukku karena menginginkanku?” Xavier lalu bertanya perlahan. Setelah mengamati Elana dengan saksama tetapi tidak menemukan petunjuk yang dibutuhkannya, Xavier menyerah dan menjawab pertanyaan Elana dengan pertanyaan pula, nadanya terdengar serius seolah-olah jawaban Elana sangatlah penting dan menjadi dan penentu baginya.
__ADS_1
“Aku memelukmu hanya untuk menghiburmu. Tetapi, jika kau memang berpikiran lebih dari itu dan menganggap aku berusaha menggodamu, maka kau boleh membunuhku,” Elana menantang dengan sengaja. “Meskipun begitu, kau seharusnya merasa malu kalau membunuhku dengan alasan yang kau buat-buat sendiri. Karena aku sama sekali tidak tertarik kepadamu, dan pelukanku hanyalah bentuk empati atas penderitaan yang kau alami.”
Xavier langsung tertegun mendengar jawaban Elana yang sangat tegas dan menohok. Sesungguhnya, dia sama sekali tidak memiliki rencana untuk mencari-cari lagi alasan agar dia bisa membunuh Elana. Semua yang terjadi tadi, seluruh pengakuan dan pertujunkan kelemahannya, semua dilakukan tanpa rencana. Bahkan dirinya menikmati pelukan yang diberikan oleh Elana, sama seperti ketika dia merasa tenang di pelukan yang diberikan oleh Marlene, ibu angkatnya, ketika serangan trauma itu membawa kesedihan tak terperi dalam jiwanya dan melumpuhkannya hingga tak berdaya.
Xavier bahkan sempat tertidur dan membuang segala kewaspadaannya di dalam pelukan perempuan itu!
“Sepertinya aku harus menata hatiku,” Xavier menyeringai dengan ekspresi penuh ironi. “Baru kali ini ada seorang perempuan yang dengan lantang menolakku mentah-mentah,” langkah Xavier bergerak mundur seolah-olah ingin menjauh dengan segera dari Elana. “Aku tidak akan membunuhmu, kau boleh tenang. Jadi… jadi, beristirahatlah, Lana. Aku tidak akan mengganggumu lagi.”
Dengan gugup Xavier membalikkan tubuh dan melangkah terburu-buru keluar dari kamar, seolah ingin melarikan diri dari situasi yang tak mampu ditanganinya.
Elana sendiri menatap pintu yang tertutup di depannya itu dan mengangkat alis kebingungan. Sikap Xavier sangatlah aneh, di satu waktu lelaki itu bertingkah seperti psikopat mengerikan yang haus darah, di lain waktu dia bertingkah begitu mempesona dan lemah lembut dengan kemampuan merayu yang maksimal. Kali ini, Elana melihat lagi sisi lain kepribadian Xavier yang sederhana layaknya seorang anak-anak.
Memikirkan tentang Xavier membuat Elana memikirkan Akram dan hubungan kakak beradik yang rumit serta penuh dengan kesalahpahaman tersebut. Yang satu mencintai dengan cara ekstrim, sementara yang lain membenci dengan cara yang ekstrim pula. Itu semua terjadi karena ada kabut tebal yang menutupi kebenaran di antara Akram dan Xavier.
Apa yang harus Elana lakukan? Haruskah dia ikut campur dan berusaha meluruskan hubungan Akram dan Xavier yang begitu rumit bagaikan benang kusut?
Entah kenapa timbul rasa kasihan di hati Elana kepada Xavier. Lelaki itu mencintai dengan tulus, tetapi yang dicintai tidak mengetahui betapa besar dedikasi dan pengorbanan yang dilakukannya.
Elana mengepalkan tangan, berusaha mengumpulkan semangat. Akram tampak sangat menakutkan dengan suasana hati yang luar biasa buruk jika membicarakan tentang Xavier. Tetapi, setidaknya Elana harus mencoba. Hati nuraninya akan selalu terusik ketika dia mengetahui ada kesalah pahaman tetapi tidak berusaha untuk meluruskannya.
Elana mencoba memejamkan matanya ketika dia sedikit begidik menahan takut ketika membayangkan betapa marahnya Akram nanti ketika Elana membawa nama Xavier dalam pembicaraan mereka.
***
***
Seharian ini dia merasa tak punya nyali lagi untuk mendatangi Lana dan membiarkan perempuan itu seorang diri di kamar perawatannya. Seolah-olah saat ini dia sedang ketakutan bahwa topengnya akan dibuka kembali oleh Lana itu sampai ke dasar.
Xavier sadar bahwa dia telah menyia-nyiakan waktu yang dicurinya secara paksa dari Akram yang sedianya akan dipergunakannya untuk merayu Lana. Dirinya bahkan lupa dengan alasan awalnya untuk menggunakan waktu yang dimilikinya selama Lana di rumah ini untuk merayu perempuan itu. Dia tahu bahwa itu sudah tidak ada gunanya lagi. Apapun yang dia usahakan sekarang, Xavier sudah meruntuhkan topeng dirinya yang mempesona di hadapan perempuan itu, dan dia yakin bahwa Lana tidak mungkin bisa jatuh pesona kepada dirinya yang asli.
Xavier membasuh wajahnya dengan air dingin di wastafel untuk mengembalikan keseimbangan dirinya. Kucuran air dingin yang membasahi membuatnya tersadar sepenuhnya dari mabuk yang sedikit merenggut akal sehatnya karena terus menerus minum alkohol di dalam kamarnya sejak tadi.
Dirinya masih tidak siap akan efek mengerikan yang bisa diberikan oleh Lana kepadanya. Berada di dekat Lana seolah mengubahnya menjadi layaknya buku yang terbuka yang bisa dibaca sampai menembus jiwa. Seolah-olah seluruh topeng yang selama ini melindungi kepribadiannya yang asli berubah menjadi transparan.
Dia bahkan bisa tertidur lelap di dalam pelukan Lana, tanpa harus mengalami mimpi buruk….
Selama ini tidur malamnya selalu dihantui mimpi buruk mengerikan yang gelap, membawa kembali seluruh ingatan menyeramkan tentang apa yang dialaminya ketika peristiwa penculikan itu, dalam adegan yang terus terputar dan terputar kembali hingga membuatnya selalu terbangun dengan keringat dingin membasahi sekujur tubuh dan jantung yang berdetak begitu kencang seolah akan meledak.
Mata Xavier terangkat untuk menatap pantulan wajahnya sendiri di depan cermin. Menatap matanya yang sembab karena tangis.
Mungkin dia tidak bermimpi buruk karena telah menumpahkan beban di hatinya dalam tangis. Xavier tidak pernah merasa selega ini sebelumnya setelah menumpahkan isi hatinya. Bahkan, ratusan sesi konsultsi dengan para psikiater yang memintanya berbicara tanpa henti untuk meringankan bebannya pun, tidak memberikan efek meringankan sampai seperti ini kepadanya.
Gerakan berkelebat di belakang tubuhnya membuat Xavier langsung membalikkan badan dengan waspada. Tangannya bergerak meraih pistol yang tersembunyi di bawah marmer wastafelnya dan bersiap menembak. Lalu, ekspresinya berubah ketika melihat Regaslah yang berdiri di sana,
__ADS_1
“Ada apa?” tanya Xavier tanpa menyembunyikan ekspresi terganggu di wajahnya. Matanya menatap Regas yang tampak lebih pucat dari biasanya, dan tiba-tiba saja seulas senyum penuh arti terurai di bibirnya. Meskipun begitu, Xavier menutup mulutnya dan lebih memilih menunggu Regas untuk berbicara.
“Tuan, Anda meminta saya melaporkan jika ada gangguan pada perimeter keamanan di luar sana,” Regas menjawab dengan gugup. “Pengawas di gerbang menemukan bahwa mobil milik Akram Night yang terparkir sejak tengah malam lalu masih terparkir di sini sampai sekarang. Petugas memastikan bahwa yang ada di dalam mobil adalah Akram Night sendiri. Sepertinya dia bermaksud menjemput Nona Elana secara langsung,”
Xavier melirik jam tangannya dan mengerutkan kening. Sudah jam dua malam, sedangkan menurut perkiraan, Elana baru akan menyelesaikan dua puluh jam sesi pengobatannya kurang lebih pada pukul tiga dini hari nanti.
Ketika mendapatkan laporan tentang mobil milik Akram yang diparkir tengah malam tadi, Xavier mengabaikannya karena berpikir itu adalah supir yang dikirimkan oleh Akram untuk menjemput Elana. Tetapi sekarang, setelah mendapatkan kepastian bahwa yang ada di dalam mobil adalah Akram Night sendiri, sudah jelas Xavier tidak mungkin mengabaikannya.
Rupanya Akram benar-benar dimabuk asmara, adiknya itu sepertinya sudah tak sabar untuk menjemput kembali kekasih hatinya yang direnggut paksa dari tangannya.
"Buka gerbang rumah, kupikir akan menyenangkan jika aku menyambut sendiri tamu istimewa yang datang," sahut Xavier dengan seringai di wajahnya.
***
***
Akram menyandarkan punggungnya di kursi mobil dan membuka layar digital dengan tampilan grafik profit di tangannya. Keningnya berkerut ketika otaknya yang biasanya mampu bekerja keras tanpa jeda, saat ini seolah membeku dan tidak mampu mencerna angka-angka rumit yang tersaji di sana.
Sambil memijit pangkal hidungnya, Akram akhirnya menyerah dan meletakkan layar digital di tangannya dan menyandarkan kepalanya ke kursi mobil di belakangnya. Tubuhnya lelah, tetapi pikirannya meminta dirinya untuk bersiaga, dilanda oleh sebentuk firasat buruk tak terjelaskan yang membuatnya merasa was-was.
Akram memejamkan mata, berusaha menyingkirkan pikiran buruknya dalam kegelapan, sambil menunggu waktu berlalu hingga bisa mencapai detik dimana dia bisa mengambil Elana lagi ke sisinya.Tetapi, suara ketukan yang terdengar tiba-tiba di jendela mobilnya langsung membuat gerahamnya mengeras karena terganggu.
Akram menegakkan punggung, sekarang sudah bisa tahu dengan pasti manusia kurang ajar mana yang punya nyali untuk mengetuk kaca jendela mobilnya.
“Apa maumu?” Akram menurunkan kaca jendelanya dan menatap ke arah Xavier dengan marah. Sungguh, saat ini dia benar-benar tidak berminat menjalani lonjakan psikologis penuh provokasi yang sudah pasti akan selalu disajikan oleh Xavier ketika bersamanya.
Xavier, yang berdiri di depan jendela Akram tampak mengurai senyum penuh makna. Dia melirik ke arah anak buahnya yang menunggu di belakang untuk membuka gerbang rumahnya, lalu sedikit membungkuk untuk menatap Akram melalui kaca jendela sebelum kemudianmemberikan penawaran dengan suara ramahnya yang sempurna.
“Pasti akan sangat membosankan menunggu berjam-jam seorang diri di sini. Apakah menurutmu tidak lebih baik kau masuk ke dalam dan menghabiskan waktu menunggu dengan mengobrol bersamaku?” ujarnya dengan ketulusan yang sungguh palsu.
Akram mengerutkan kening. Mengobrol bersama Xavier sama sekali tidak menarik baginya dan kalau bisa pasti ingin dihindarinya sampai seratus tahun ke depan. Tetapi, pengetahuan bahwa dengan dia memasuki rumah Xavier, dia bisa menunggu lebih dekat dengan tempat Elana berada terasa menggodanya.
Berada lebih dekat dengan Elana juga akan memangkas kemungkinan Elana akan disakiti, karena dirinya sudah tentu telah berada di sekitarnya untuk melindungi.
Mungkin Akram bisa menekan egonya kali ini dan berkorban sedikit demi bisa lebih dekat dengan perempuan keras kepala itu.
Akram menatap Xavier dengan pandangan dingin, lalu berucap dengan nada kasar.
“Minggir, kau menghalangi jalanku,” kalimatnya langsung membuat Xavier menyingkir dari dekat jendela Akram.
Seketika Akram menutup kaca jendelanya, lalu memerintahkan supir untuk melajukan mobil memasuki pintu gerbang rumah Xavier yang terbuka lebar, mengabaikan sang pemilik rumah yang ditinggalkannya berdiri seorang diri di tengah jalan dan hanya bisa mengangkat bahu dengan wajah masam.
***
__ADS_1