Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
EOTL eps 95 : Rindu Ayah


__ADS_3

EOTL ( Essence Of The Light ) - EOTD Season 2 - Kisah Xavier dan Sera


****


****


****


"Dokter Oberon, saya membawa list pasien VVIP di rumah sakit ini seperti yang Anda minta berikut dengan rekam jejak catatan riwayat kesehatan masing-masing. Untuk softcopy datanya, Anda bisa melihatnya di data server bersama yang terkunci yang bisa dibuka dengan password pribadi Anda." Perawat itu melirik ke arah Aaron dan tersenyum malu-malu. "A-anda tidak melupakan password-nya, bukan?"


Aaron tersenyum kecut. Bahkan dengan penampilannya yang kuno ini, dokter Oberon masih mampu membuat para perawat berbisik-bisik ketika dia lewat dan membuat para wanita yang diajaknya berbicara merona merah dan tersipu-sipu karenanya.


"Tidak. Aku tidak lupa," jawabnya tenang.


Tentu saja dia tidak lupa. Ketika mengambil identitas dokter Oberon, Aaron telah memastikan bahwa dia telah meretas dan mendapatkan semua informasi pribadi yang dimiliki oleh sang dokter muda dengan karir gemilang yang telah mati dibunuhnya itu, sampai ke akar-akarnya, dan itu termasuk passwod serta segala hal rahasia lainnya yang dimiliki oleh sang dokter.


Aaron lalu menganggukkan kepala tipis dan memasang ekspresi datar ketika meminta perawat itu meletakkan setumpuk berkas yang diinginkannya di mejanya. Setelah perawat itu pergi meninggalkan ruangan, barulah Aaron melemaskan wajah kakunya dan menghela napas panjang.


Bagian paling menyulitkan dari penyamarannya sebagai dokter Oberon adalah memikul profesi seorang dokter di dalam namanya. Dokter Oberon sebelumnya adalah seorang dokter bedah yang sangat ahli, beruntung bagi Aaron, dua tahun lalu sang dokter mengalami kecelakaan ketika memenuhi panggilan operasi darurat dari rumah sakit di tengah malam yang membuat kondisi matanya menjadi rusak dan hampir buta sebelah hingga tak mampu menjalankan prosedur operasi apapun lagi. Pihak rumah sakit yang merasa bertanggung jawab karena dokter Oberon yang gemilang menjalani kecelakaan dalam situasi memenuhi panggilan pekerjaan, akhirnya memutuskan untuk menempatkan dokter Oberon di bagian keuangan.


Ya, saat ini dia menduduki posisi sebagai wakil direktur keuangan rumah sakit ini, sebuah profesi yang mirip dengan pekerjaan aslinya sehingga dia tak kesulitan menjalaninya secara alami.


Yang membuatnya lebih beruntung, Aaron tak perlu repot-repot bersandiwara sebagai seorang dokter, sebab rekan-rekannya jarang mengangkat percakapan mengenai pasien dan kedokteran jika dia hadir di antara mereka karena rekan-rekannya tidak mau menyinggung dirinya dan membuatnya teringat kembali akan trauma kecelakaan yang memupuskan kemampuan gemilangnya sebagai seorang dokter bedah. Rekan-rekannya di tempat kerja juga tak terlalu dekat dengannya dan cenderung menghindarinya. Dokter Oberon kehilangan jaringan hubungan kedekatannya dengan teman-temannya setelah kecelakaan itu, membuatnya menjadi penyendiri yang tak pernah dekat secara pribadi dengan orang lain, dan kondisi itu semakin membebaskan Aaron dari kewajibannya bersandiwara dan juga menghindarkannya dari drama yang tak perlu menyangkut hubungan pribadi sang dokter dengan orang lain.


Yang orang lain tak tahu, adalah bahwa kecelakaan dua tahun itu yang menghancurkan karier gemilangnya sebagai seorang dokter bedah, telah membuat dokter Oberon  secara diam-diam telah tenggelam ke dalam depresi dan kecanduan alkohol yang akhirnya merusak livernya dan menggerogoti kesehatannya.


Mungkin jika Aaron tak membunuhnya, dokter Oberon tetap akan mati muda tenggelam dalam kubangan alkohol yang meracuninya.


Aaron menyeringai tanpa sadar ketika memikirkan semua itu. Bagaimanapun, semesta sepertinya berpihak kepadanya dengan menyediakan seseorang yang sangat sempurna baginya untuk dicuri identitasnya. Rumah sakit tempat dokter Oberon bekerja ini, adalah rumah sakit yang dimiliki oleh Akram Night yang Aaron yakini akan menjadi rumah sakit pilihan bagi Sera untuk bersalin nantinya dan seolah itu belum cukup, rumah sakit ini juga membawahi fasilitas kesehatan khusus tempat ayah Sera dirawat dalam kondisi koma.


Seringaian Aaron berubah menjadi kekehan kepuasan ketika lelaki itu tak bisa menahan dirinya sendiri untuk berpongah-pongah atas jalan mulus yang menantinya.


Semesta memang menakdirkannya untuk bersatu dengan Serafina Moon. Aaron tak sabar menunggu saat itu terjadi.


***


"Menjenguk ayahku?" Ketika akhirnya berhasil mengeluarkan suaranya, Sera seperti mencicit seolah kesulitan berkata. Matanya melebar, menatap Xavier dengan tidak yakin. "Hari ini? Hari ini juga?" ulangnya lagi, meminta kepastian dengan bibir gemetaran.


Mata Xavier menatap tajam ke arah Sera, seolah ingin mempelajari reaksinya. Tentu saja dia melihat binar kebahagiaan yang meluap-luap di mata istrinya itu, seolah-olah Sera telah mendapatkan kejutan hadiah luar biasa yang sangat diinginkannya.


Ternyata Sera bisa sebahagia ini karena mendapatkan kesempatan menemui ayahnya.


Ah, tiba-tiba saja Xavier didera oleh penyesalan atas pikirannya jahatnya di masa lampu yang dikuasai oleh kecemburuan sehingga berniat melenyapkan ayah Sera saja dari dunia ini supaya tak menjadi beban bagi hubungan mereka berdua. Berapa lama Sera tak bertemu dengan ayahnya? Mungkin sudah bertahun-tahun yang lampau, bukan? Keluarga Dawn bisa dibilang menculik Sera dan membawanya ke Rusia dan memutus hubungan ayah dan anak dengan kejam. Ketika Sera kembali ke negara ini  pun, Xavier yakin bahwa saat itu meskipun Sera dan ayahnya sudah berada di negara yang sama tetap saja Sera tak bisa menemui ayahnya karena Salvatore masih berada di bawah kendali Roman Dawn. Lalu, seakan ujian perpisahan itu masih belum cukup, Xavier malah memanipulasi Sera dengan menggunakan alasan kehamilan Sera untuk menghalang-halanginya bertemu dengan ayah kandungnya sendiri.


Kalau sudah begini, bukankah dia telah bersikap sangat kejam kepada istrinya sendiri?


"Ya, hari ini aku hendak menemui dokter yang merawat ayahmu dan mengambil rekam medisnya seperti biasa. Kupikir... kalau kau mau, kau bisa ikut." Suara Xavier parau, seakan menutupi rasa bersalah yang menggilas nuraninya.


"Aku mau." Sera menyahuti cepat, pikirannya berkabut basah berkubang air mata yang akhirnya merembes ke sudut matanya.


"Sera." Xavier tampak terkejut melihat Sera tiba-tiba mengalirkan air mata deras yang mengalis membasahi pipinya. Tubuhnya bergerak maju, tangannya menangkup pipi Sera sementara ibu jarinya bergerak lembut untuk mengusap air mata yang membasahi itu. "Kenapa kau menangis?"

__ADS_1


Sera terkesiap. Butuh waktu beberapa lama hingga dia menyadari bahwa air matanya sudah menderas tanpa dia sadari. Dia sudah menahan diri begitu lama, mengekang perasaannya hingga tak melambung jauh jika menyangkut ayahnya. Ketika dia hidup dalam siksaan keluarga Dawn, Sera selalu berusaha menguatkan dan meyakinkan diri bahwa tak apa jika dia disiksa asalkan ayahnya yang berada jauh di sana baik-baik saja.


Ketika Roman Dawn mengirimkan orang bayarannya untuk menyiksa dan memukul kepala ayahnya hingga ayahnya terbaring koma pun, yang bisa dilakukan oleh Sera hanyalah menangis dan menyalahkan diri karena tak bisa melindungi satu-satunya keluarga yang dicintainya. Ketika Sera tiba di negara ini dan Roman Dawn melarangnya menemui ayahnya pun, Sera menerimanya, menjanjikan dirinya sendiri bahwa dia akan berjuang menyelesaikan tugasnya supaya semua penderitaan akibat perpisahan ini berakhir dan dia bisa menemui ayahnya. Sera sudah belajar untuk menekan harapannya hingga setipis kertas. Bahkan, ketika semua rencana Roman Dawn hancur ke dalam kemurkaan Xavier, Sera terus menekan harapannya untuk bisa bertemu ayahnya supaya dia tak hancur dan kecewa di kemudian hari.


Bagi Sera, selama ayahnya hidup, maka belum pupuslah harapan baginya untuk berjuang, dia tak meminta lebih karena dia tahu bahwa harapan yang terlalu tinggi, hanya akan membawanya pada kesakitan yang lebih menghancurkan. Karena itulah, saat Xavier mengatakan bahwa dia berhasil memindahkan ayahnya ke fasilitas kesehatan yang lebih baik, Sera tetap tak mau menumbuhkan harapan bahwa dia memiliki kesempatan untuk menemui ayahnya. Pun ketika Xavier dengan kepala dingin memutuskan menunda janjinya untuk mempertemukan dia dengan ayahnya, Sera berhasil menahan kekecewaannya sekuat tenaga, menguburnya harapannya dalam-dalam dan bersikap diam, tunduk dan patuh tanpa menuntut apapun. Satu-satunya pegangannya adalah bahwa Xavier akan menepati janji untuk mempertemukannya dengan ayahnya di masa depan nanti, setelah anak-anak mereka dilahirkan di dunia ini.


Tetapi sekarang, ketika Xavier tiba-tiba membuka pintu yang selama ini terkunci rapat lalu mengatakan bahwa Sera bisa menemui ayahnya hari ini, harapan yang ditekannya dalam-dalam di jiwanya tiba-tiba menggeliat dan meluap tak terkendali, merobohkan semua penghalang dan memenuhi rongga dadanya hingga menyesak dan membanjiri matanya dengan rasa haru yang nyaris menenggelamkannya.


"Maafkan aku," Sera akhirnya berhasil mengeluarkan suara bercampur isakan dari mulutnya. Tangannya yang sedikit gemetar bergerak mengusap air matanya dengan gugup. "A-aku... aku tak tahu apa yang terjadi pada diriku. Kurasa... kurasa aku hanya sedikit terkejut," sambungnya kemudian dengan kepala tertunduk seolah malu pada kerapuhannya sendiri.


Xavier terpaku, menatap Sera dengan nuansa empati yang terasa asing dan memenuhi rongga dadanya. Secara impulsif, lelaki itu bergerak berdiri, lalu melangkah ke depan Sera yang duduk menunduk di kursi sebelum kemudian merangkul perempuan itu ke dalam pelukannya.


Tubuh Sera sedikit menegang karena terkejut oleh pelukan tak disangka itu. Tetapi kemudian, perempuan itu menerimanya. Tangannya bergerak terulur merangkul pinggang Xavier dan kepalanya tenggelam rapat di pelukan Xavier yang melindungi.


"T-terima kasih," Sera membisikkan kalimatnya perlahan, kembali dibaluri isak tangis yang mulai membasah. "Terima kasih, Xavier, karena telah mau mempertemukanku dengan ayahku."


Tangan Xavier yang memeluk Sera mengeras karena dorongan perasaannya. Lelaki itu menunduk, sementara batinnya campur aduk oleh pergolakan perasaan.


"Setelah kau tenang, kita bersiap-siap untuk berangkat, ya?" ujarnya dengan nada lembut yang disambut anggukan lemah Sera.


Xavier menghela napas panjang setelahnya, memejamkan mata dengan rasa sakit di dada kerena dia tahu pasti bahwa dia tak berhak menerima ucapan terima kasih itu. Bukan hanya karena dia dengan kejam telah mengabaikan perasaan Sera dan berpikir untuk melenyapkan ayah Sera demi keinginan posesifnya agar perempuan itu hanya memperhatikan dirinya, tetapi juga karena kenyataan yang tak bisa dihapuskan bahwa langsung atau tidak langsung, dirinyalah yang menjadi sumber dari penderitaan Sera.


Seandainya saja waktu itu dia tidak meminta ayah Sera melakukan pekerjaan kotor baginya, apakah dia bisa menghindarkan perempuan ini dari derita dan siksa yang membolak-balikkan kehidupannya?


Xavier menundukkan kepala, lalu sedikit menunduk dan mengecup puncak kepala istrinya itu dengan penuh kasih sayang. Sementara, batinnya membisikkan pertanyaan yang nyaris terasa menakutkan bagi dirinya yang biasanya bernyali besar.


Jika dia mengatakan bahwa dia jatuh cinta kepada Sera, akankah perempuan itu lari dan menghindar darinya?


***


Suara panggilan itu membuat Aaron yang merenung sendirian di dalam ruang lift kosong mengangkat pandangannya dan menatap sumber suara di depannya. Pintu lift itu terbuka, dan sosok seorang rekannya masuk ke dalam lift sehingga mereka hanya berdua saja di lift yang pintunya kemudian menutup dan bergerak naik itu.


Aaron memasang ekspresi datar dan menganggukkan kepalanya sedikit untuk menyapa.


"Ah, dokter Nathan. Selamat siang. Hendak turun untuk makan siang?" sapanya dengan suara formal. Tentu saja dirinya sebagai Aaron mengenali lelaki yang berdiri di sebelahnya ini. Dokter Nathan, dokter dengan jabatan tertinggi yang merupakan dokter kepercayaan pemilik rumah sakit ini.


Dokter Nathan adalah dokter pribadi Akram Night dan hampir bisa dipastikan dia juga menangani Xavier Light dan... Sera. Lelaki ini jugalah yang menanganinya ketika dia masih berwujud sebagai Aaron di negara ini. Dokter Nathan di sebelahnya ini termasuk orang yang paling tidak boleh tahu mengenai penyamarannya sebelum waktunya. Aaron tahu bahwa dia harus sangat berhati-hati.


"Bagaimana liburan Anda? Anda mengambil cuti liburan cukup lama di negara yang penuh dengan sinar matahari, jadi saya mengira Anda akan pulang dengan kulit kecokelatan." dokter Nathan memasang senyum ramah dan bersahabat sebelum melanjutkan kalimatnya. "Tetapi, Anda malah tampak lebih pucat dari sebelumnya?"


Pertanyaan itu membuat Aaron terkesiap. Beruntung dia langsung bisa menutupinya dengan berdehem pelan dan mengeluarkan suara datarnya yang biasa.


Kurang ajar dokter yang satu ini. Dokter Nathan mungkin terlihat santai dan ramah. Tetapi lelaki itu memiliki mata jeli dan pikiran tajam yang membuat Aaron semakin yakin bahwa dia harus sangat berhati-hati jika berhadapan dengan lelaki ini.  Bagaimana tidak? Dalam sekejap saja, dokter Nathan bisa langsung menohok ke titik kekurangan dalam penyamarannya. Ya, itu adalah warna kulitnya. Berada di ruang bawah tanah secara berbulan-bulan dalam persembunyian dan dalam proses kesembuhan operasinya, membuat warna kulitnya lebih pucat dari biasanya, itu pun masih ditambah pula dengan iklim di Rusia yang dingin bersalju tanpa kesempatan sinar matahari untuk menyinari.


Akan tetapi, hal ini tak akan membuat Aaron gagal dan membuka kedok penyamarannya. Tidak akan semudah itu. Hampir selama dua puluh empat jam pada hari-hari ketika dia menanti kesembuhan luka operasi wajahnya, Aaron menghabiskan waktunya untuk menonton video yang diambil secara diam-diam mengenai keseharian dokter Oberon, dia menghapalkan seluruh informasi dokter Oberon, dia juga berlatih berucap degan gaya bicara dokter Oberon dan meniru gerak-gerik dokter Oberon dengan saksama. Aaron memiliki kemampuan di atas rata-rata dan dia yakin dia bisa menjadi dokter Oberon tanpa dicurigai. Tak akan dibiarkannya perkara remeh seperti warna kulit, menghancurkan segala rencananya.


"Saya salah mengambil tempat tujuan liburan. Di tempat wisata itu sangat ramai." Aaron berucap dengan sikap sedih dan penuh penyesalan. "Anda tentu tahu, sejak kecelakaan itu, saya tidak suka tempat yang ramai." Aaron mengangkat bahu dengan sikap alami sebelum melempar alasan paling wajar kenapa warna kulitnya tampak pucat. "Jadi... yah, bukannya menikmati liburan di luar, saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk tidur dan bersantai di dalam kamar hotel."


"Oh," Dokter Nathan menolehkan kepala dan tersenyum. "Meskipun begitu, liburan ini sepertinya berhasil menghibur Anda. Anda tampak lebih sehat dan lebih bugar dibanding sebelumnya," ujarnya kemudian.


"Saya harap juga begitu." Aaron memasang senyum tipis dan menganggukkan kepala. Pada saat bersamaan, pintu lift itu terbuka, membuat sebersit rasa lega langsung menerpanya.

__ADS_1


Setidaknya untuk saat ini, dokter Nathan akan melangkah menjauhi dan tak mengganggunya.


Sayangnya, ketika dia melangkah melewati lobby dan keluar dari pintu utama rumah sakit menuju tempat parkir khusus dokter, ternyata dokter Nathan masih berjalan beriringan dengannya ke arah yang sama. Lebih sial lagi, ternyata mobil mereka terparkir secara berdampingan.


"Kalau begitu, saya duluan." Aaron berucap sopan dan cepat-cepat melangkah ke arah mobilnya, ingin segera menghindar dari dokter Nathan dan berlalu menjauh. Sayangnya, sikap dokter Nathan yang terlalu ramah, menjadi penghalang untuknya.


"Anda mau keluar juga? Biasanya Anda jarang makan siang di luar." Apa yang dikatakan oleh dokter Nathan memang benar adanya. Dokter Oberon sangat jarang bersosialisasi dan tidak suka keramaian. Beliau hampir tak pernah keluar ruang kerjanya dan ketika makan siang, selalu meminta pesanan makannya diantar ke ruang kerjanya. "Anda hendak pergi ke mana?" dokter Nathan bertanya lagi ketika dokter Oberon tak juga menjawab.


Aaron menipiskan bibir, menjawab dengan seberkas ekspresi tegang yang berusaha disembunyikannya.


"Saya hendak berkunjung ke fasilitas kesehatan kemanusiaan khusus penyakit kronis yang berada di bawah naungan yayasan yang sama dengan rumah sakit ini. Sekalian berkunjung, sekalian saya ada janji dengan rekan di sana." Aaron membuka pintu mobilnya dan memasang senyum ke arah dokter Nathan. "Kalau begitu, saya permisi dulu," pamitnya sambil cepat-cepat masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya dengan segera meninggalkan area parkir itu.


 


***


***


***


***


Hello.


Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.


Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD SUDAH tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book.


EOTD / Essence of The Darkness ---> Kisah Akram dan ELana


EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera ( Ebook BELUM tersedia)


Kata kunci di g00gle book :


Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt


JIKA ANDA MENDAPATKAN EBOOK INI BUKAN DARI GOOGLE PLAYBOOK, BERARTI ANDA TELAH MELAKUKAN TINDAKAN KRIMINAL PENCURIAN DAN BERKONTRIBUSI DALAM PEMBUNUHAN KREATIVITAS PENULIS.


DUKUNG PENULIS KESAYANGANMU SUPAYA BISA TERUS BERKARYA DENGAN TIDAK MENGAKSES DAN MENYEBARKAN BUKU BAJAKAN.


 


Yours Sincerely


AY


 


***


***

__ADS_1


***


__ADS_2