Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 7 : Terhapus Paksa


__ADS_3


"It doesn't matter how i call you : call you by your name, call you by another name, call you little wild kitten, call you princess, etc. At the end of the day they all mean the same : You are mine and only mine. Im not sharing. All rights reserved.


Ketika Elana membuka mata, yang dilihatnya adalah ruangan yang asing dan sama sekali tidak dikenalinya. Pikiran Elana terasa berkabut, seluruh ingatannya terpecah menjadi kepingan memori yang bertebaran, sulit untuk disatukan kembali dan membuat otaknya terasa sakit ketika dia berusaha melakukannya.


Dia ada di mana?


Kebingungan, Elana memindai ruangan itu dan malahan semakin tidak bisa menebak lokasi dirinya berada saat ini. Ruangan ini sangat indah, bahkan hanya sekilas pandang saja Elana tahu bahwa ruangan ini memiliki kemewahan yang seharusnya tidak bisa dimasuki oleh rakyat jelata sepertinya.


Kenapa dia bisa berakhir di tempat ini?


Elana mencoba menggali ingatannya, tetapi kepalanya malahan terasa sakit. Elana lalu mengangkat tangannya untuk menyentuh kepalanya, tetapi dia merintih terkejut ketika merasakan nyeri yang amat sangat dari pergelangan tangannya. Elana mengangkat kepala dan matanya melebar ketika dia melihat perban tebal yang membebat pergelangan tangannya, dan juga selang infus di punggung tangannya yang lain.


Dia berada di rumah sakit?


Elana memandang sekeliling kembali untuk memastikan, kali ini indera penciumannya sudah bekerja lebih baik sehingga dia bisa membaui aroma khas rumah sakit, bau obat bercampur dengan disinfektan yang steril tak terbantahkan yang memenuhi ruangan ini.


Tetapi, kalau ini memang kamar rumah sakit, kenapa dia bisa berakhir di dalam sebuah kamar yang begini mewah? Padahal, kalau ditengok dari kondisi keuangan Elana, mungkin dia hanya mampu membayar untuk area bangsal, area kamar pasien paling murah yang bisa ditempati sampai dengan enam belas pasien dalam satu ruangan.


Mata Elana berakhir kembali ke pergelangan tangannya dan otaknya bekerja keras untuk memompa kembali seluruh memori untuk mencari tahu apa yang menyebabkannya berakhir di tempat ini. Elana memejamkan mata, berusaha menenangkan diri dan mengingat kembali, menyatukan seluruh kepingan dan serpihan ingatan yang berceceran dan sekuat tenaga berusaha menyatukannya kembali lagi.


Akram Night.


Nama itu tiba-tiba terngiang di dalam kepalanya, lengkap dengan kelebatan ingatan yang menggambarkan sosok lelaki beraura gelap yang menatapnya dengan tatapan tajam mengerikan ketika menyebutkan namanya untuk memperkenalkan dirinya pada Elana.


Tubuh Elana menegang, tangannya langsung bergerak mencengkeram selimut tebal di pinggangnya dan menariknya ke dada, memeluk dirinya sendiri dengan gemetaran ketika teror dan ketakutan melingkupi dirinya tanpa ampun.


Kelebatan ingatan demi ingatan yang begitu jelas membanjiri kepalanya, mengembalikan kesadarannya sepenuhnya akan apa yang telah terjadi.


Bahkan rasa sakit yang begitu menggigit ketika lelaki jahat bernama Akram itu merenggut kesuciannya, masih terbayang jelas sampai sekarang, membuat Elana menggigit bibir dan menahankan air mata yang mulai terkumpul di sudut matanya. Bayangan akan perkosaan brutal yang dilakukan oleh Akram Night tanpa ampun dan tanpa menahan diri, memuaskan nafsunya tanpa peduli jerit kesakitan dan permohonan mengiba Elana agar dia berhenti, membuat Elana tidak bisa menahan lagi tangisannya. Air mata bergulir kencang membasahi pipi, diiringi isakan tak berdaya dari seorang perempuan yang telah kalah, kehilangan kesucian yang seharusnya dijaganya sampai waktunya untuk diserahkan.


Elana begitu putus asa dan merasa begitu kotor setelah Akram menyelesaikan nafsunya. Lalu ketika akhirnya lelaki itu melepaskan dirinya dan meninggalkannya sendirian, Elana hanya bisa terbaring pilu di atas ranjang, berharap kematian segera menjemputnya. Kemudian, mata Elana tak sengaja melihat ke arah gelas air yang ditinggalkan oleh Akram untuknya, dan pikirannya menjadi nekad.


Yang dia tahu bahwa pada detik itu, kematian merupakan jalan keluar yang paling mudah dan paling tidak menyakitkan. Elana tidak sempat berpikir lagi ketika dia memecahkan gelas itu, mengabaikan rasa ngeri dan akhirnya berhasil menyayat nadinya dengan pecahan gelas nan tajam tersebut.


Dia seharusnya sudah tertidur lelap dalam kematian yang merangkul semua deritanya dan menghapus semua petakanya di dunia ini. Tetapi kenapa dia masih hidup? Kenapa dia malahan berbaring di atas ranjang rumah sakit ini dengan luka percobaan bunuh dirinya yang diperban untuk perawatan? Kenapa dia diselamatkan? Kenapa dia tidak dibiarkan mati?


Bagaimana dia menjalani kehidupannya setelah ini? Bagaimana bisa dia melangkah ke depan dengan mengetahui bahwa tubuhnya sekarang sudah begitu kotor? Terjamah tanpa izin dan ternoda dengan kejam? Apa yang akan dia gunakan sebagai bukti pertanggungjawaban moralnya sebagai seorang perempuan kepada suaminya di masa depan nanti?


Elana selalu seorang diri di dunia ini, dia sebatang kara di panti asuhan, lalu berjuang hidup sendiri, bekerja keras dan sekuat tenaga menghidupi diri dengan kekuatannya sendiri. Pada malam-malam sepi, Elana bahkan harus memeluk dirinya sendiri, dalam kesepian dan rasa iri akan orang lain yang begitu beruntung memiliki keluarga sebagai tempat bersandar dan berkeluh kesah. Seorang ibu untuk dipeluk, seorang ayah untuk mengadu, saudara-saudara untuk berbagi tawa dan kesedihan... itu semua tidak dimiliki oleh Elana. Meskipun begitu, Elana merasa bahwa masih ada harapan untuknya bisa menemukan teman hidup untuk selamanya di masa depan, impian akan seorang lelaki baik-baik yang bertanggung jawab, yang menjadi tempatnya bersandar dan membentuk sebuah keluarga bahagia. Mereka akan menciptakan keluarga kecil yang indah, dianugerahi anak-anak yang ceria dan memenuhi rumah mereka dengan gelak tawa.


Tetapi, itu semua mungkin akan menjadi impian yang tak akan pernah terwujud setelah ini. Dengan kesuciannya yang terenggut, dengan tubuh kotornya yang ternoda, Elana tidak punya nyali untuk mencari lelaki baik yang mau menerimanya apa adanya.


Air mata menderas kembali, membuat pipinya basah hingga Elana terpaksa menutup wajahnya dengan kedua tangan untuk menahan isakanya yang makin tak terkendali. Mungkin... mungkin memang Elana ditakdirkan untuk membuang impiannya membentuk keluarga impian di masa depan, mungkin memang Elana ditakdirkan menjadi sebatang kara, hidup seorang diri sampai ajal menjemputnya nanti.


 


__ADS_1


 


Pintu ruangan tiba-tiba terbuka, membuat Elana langsung menahan isakannya sekuat tenaga dan berubah waspada. Kepalanya terangkat cepat untuk melihat siapa yang memasuki ruangan, sementara tangannya mencengkeram selimut makin erat, menaikkannya hingga ke atas dada sebagai bentuk perlindungan dirinya yang rapuh.


Seorang lelaki tampan yang masih berusia muda, berpenampilan rapih dengan jas abu-abu setelan tiga potong yang sangat licin, berpadu dengan rambut tatanan konvensional yang disisir ke belakang tanpa cela dan juga kacamata bening yang bertengger di hidung mancungnya nan kokoh. Dari sekilas pandang saja, Elana langsung tahu bahwa lelaki ini memiliki kemampuan akademisi di atas rata-rata. Seluruh pembawaannya mencerminkan sikap elegan dari lelaki berpendidikan. Dan dibelakang lelaki itu, tampak seorang berjas putih khas dokter yang mengikuti.


"Selamat siang nona Elana, nama saya Elios Smith. Seharian Anda tidak sadarkan diri, dan malam ini begitu saya melihat Anda sudah tersadar, saya langsung membawa dokter untuk memeriksa kondisi Anda." lelaki itu berdiri di tengah ruangan dengan elegan dan tenang. Tangannya lalu bergerak untuk memberi isyarat kepada dokter itu supaya bergerak memeriksa Elana.


Seperti robot yang patuh, dokter itu langsung memeriksa Elana dengan seksama, dari mata, sampai dengan detak jantungnya. Elana hanya diam saja menjalani pemeriksaan, tetapi, matanya tetap tertuju pada sosok lelaki yang menyebut dirinya sebagai Elios Smith itu.


Meskipun penampilan lelaki itu tampak tidak berbahaya, bukan berarti Elana akan menghilangkan kewaspadaannya.


Elana telah kehilangan kewaspadaannya di malam laknat itu, dengan membiarkan Karel si supervisor petugas kebersihan yang baru dikenalnya itu mengantarkannya ke kelab malam yang ternyata menjebaknya untuk jatuh ke dalam genggaman si jahat Akram.


Kebodohannya itu telah membuat Elana berakhir diperkosa dalam sebuah malam yang akan selalu dikutuknya seumur hidup. Sekarang, Elana tidak akan mengulang kebodohan yang sama. Dia tahu bahwa dirinya tidak boleh mempercayai Elios begitu saja. Lelaki ini tentu memiliki hubungan dengan kejadian di kelab malam yang menimpanya, kalau tidak lelaki ini tidak mungkin ada di rumah sakit tempat Elana dirawat saat ini.


Lagipula, lelaki ini mengatakan bahwa dia langsung tahu ketika Elana sadarkan diri, padahal jelas-jelas dia tidak ada di ruangan ini untuk melihat. Mata Elana langsung mengawasi sekeliling dengan curiga. Apakah mungkin mereka memasang kamera pengawas cctv di dalam kamar ini untuk mengawasi gerak-gerik Elana sehingga, ketika Elana sadarkan diri, mereka bisa langsung mengetahuinya?


Kalimat tiba-tiba dari si dokter yang selesai memeriksanya yang mengatakan bahwa Elana tidak boleh banyak bergerak dan harus fokus untuk beristirahat beberapa waktu, berhasil mengalihkan perhatian Elana dari Elios. Elana hanya bisa mengangguk-angguk ketika dokter itu mengucapkan beberapa penjelasan teknis singkat mengenai kondisi Elana saat ini. Setelahnya si dokter melangkah mendekati Elios yang berdiri di tengah ruangan dan mereka bercakap-cakap dengan suara perlahan yang tak tertangkap oleh telinga Elana.


Ketika diskusi dua orang itu selesai, dokter itu membungkuk dengan sikap hormat kepada Elios lalu berpamitan dan meninggalkan ruangan dengan pintu tertutup di belakangnya.


Suasana menjadi hening ketika Elana mengarahkan perhatiannya lagi kepada Elios yang masih berdiri tenang di tengah ruangan.


“Kau siapa?” akhirnya Elanalah yang memecah keheningan tersebut. Kedua tangannya terkepal seolah siap untuk bertarung. Lelaki ini tampak baik, tetapi entah kenapa firasat buruk tetap memenuhi diri Elana.


Dengan tenang, Elios mengangkat berkas dalam amplop cokelat yang dari tadi dipegang di tangan kanannya.


“Mohon maaf karena aku belum memperkenalkan diriku dengan lengkap tadi,” Elios tersenyum lebar ketika melemparkan bom keterkejutan yang dimilikinya. “Aku adalah Elios Smith, asisten pribadi dan sekertaris dari Tuan Akram Night. Keberadaanku di sini adalah karena diperintahkan oleh Tuan Akram untuk memberikan satu-satunya dokumen milikmu yang tersisa.”


“Akram…” suara Elana langsung tersekat di tenggorokan ketika menyebutkan nama dari lelaki laknat yang telah memperkosanya itu. Dadanya terasa berdenyut sakit ketika trauma mendalam mulai merayapi nadinya, mengalir dengan deras dalam darahnya, membuatnya seolah-olah akan meledak. “A.. apa maumu? Apakah kau ingin melenyapkan saksi? Aku… lepaskan aku! Aku berjanji tidak akan mengatakan apapun mengenai kejadian ini, aku akan menghilang dari kalian dan tidak akan… tidak akan melibatkan diriku setitik pun dengan kalian lagi!” seru Elana panik, berusaha menekan dorongan untuk melarikan diri yang membuat seluruh tubuhnya gemetar.


Mata Elios menyipit mendengar perkataan Elana, meskipun begitu, senyum tetap bertengger di bibirnya ketika berkata.


“Kalau Tuan Akram ingin kau mati atau ingin kau lenyap, kau akan langsung jadi mayat dan tidak akan berakhir dalam perawatan di rumah sakit mewah ini,”


Elana ternganga, terkejut mendengar jawaban Elios itu. Firasat buruk mulai merayapi dirinya, membuat jantungnya semakin berdentam tak kendali, memukul rongga dadanya hingga terasa sakit.


Akram… lelaki jahat itu tidak ingin Elana mati, dia juga tidak ingin Elana menghilang dan lenyap dari pandangannya… jadi…. Apa yang diinginkan lelaki itu dari Elana?


“Aku… aku hanya ingin bebas…. Apapun akan kulakukan supaya aku bisa pergi, menjauh dan tak bertemu lagi dengan Akram Night, monster jahat itu…” suara Elana tenggelam ditelan isakannya, tidak mampu melanjutkan karena kengerian masih meliputi dirinya ketika membayangkan tentang pelecehan dan siksaan yang terjadi pada dirinya sebelumnya.


“Aku takut keinginanmu tidak bisa terwujud, Nona Elana.” Elios bersedekap dengan tenang, berkas yang dia sebutkan itu masih ada di tangannya, “Karena kau sudah tidak memiliki tempat untuk pulang lagi di dunia ini selain kepada Tuan Akram,”


Kalimat itu diucapkan dengan nada santai dan tenang, tetapi arti yang terkandung di dalamnya langsung membuat Elana tersentak waspada.


“Apa maksudmu?” tanya Elana cepat, firasat buruk langsung melingkupinya kembali, membuatnya merasa ngeri.


“Tuan Akram memerintahkan untuk melenyapkanmu dari dunia ini. Melenyapkanmu dan bukan membunuhmu. Itu berarti aku harus melakukan pekerjaan pembersihan dengan sempurna. Kami tidak khawatir mengenai saksi atas apa yang dilakukan oleh Tuan Akram padamu semalam, karena seluruh saksi telah kami lenyapkan tanpa sisa,” ada kilat tanpa nurani yang muncul di dalam mata Elios ketika berucap. “Semua orang yang mengetahui keberadaanmu di kelab itu sudah kami lenyapkan. Sachi, pemilik kelab, Karel dan bahkan orang-orang yang tanpa sengaja menyadari kehadiranmu di kelab itu, mereka semua sudah dibungkam untuk selamanya. Aku bahkan memerintahkan penyelidikan ke tempat kerjamu, ke lingkungan rumahmu dan juga melakukan penelusuran atas ponselmu untuk menemukan adakah kau menyebut tentang pekerjaanmu di kelab itu kepada orang lain selain yang kusebutkan di atas, dan syukurlah, kau tidak melakukannya, jadi kami tidak perlu menambah lagi korban jiwa untuk menghilangkan saksi.”

__ADS_1


Elana melebarkan mata, bibirnya gemetaran ketika menyadari makna mengerikan dari ucapan Elios itu. Melenyapkan saksi… itu berarti mereka semua…. Dibunuh?


“Karena itulah, kau tidak perlu berjanji untuk tidak menuntut kami di masa depan atas apa yang terjadi pada dirimu. Kami sudah membereskannya sampai tuntas. Tidak ada orang yang bisa menghubungkan Elana Maresha dengan Akram Night. Bahkan bagi semua orang, Elana Maresha sudah tidak ada lagi di dunia ini.”


“Sudah tidak ada lagi di dunia ini?” seperti orang bodoh yang ditelan keterkejutan bertubi-tubi, Elana hanya bisa mengulang kalimat Elios tanpa daya.


“Bagi semua orang di dunia ini, kau sudah mati dalam kebakaran semalam,” ada suara lain yang lebih tegas dan dalam yang menyahut dari arah pintu yang terbuka.


Elana menolehkan kepala ke arah suara, dan teror seketika mendera tubuhnya, membuatnya terkesiap dalam kengerian dan dengan tubuh gemetaran, langsung beringsut menggeser tubuhnya dengan putus asa hingga berada di sisi ranjang terjauh dari sosok beraura mengerikan yang saat ini sedang melangkah memasuki ruangan.


 



 


Akram Night memasuki ruangan dengan langkah lebar dan tubuh tegap. Lelaki itu memakai pakaian formal sama seperti asistennya. Jas setelan tiga potong yang menempel pas ditubuhnya,berwarna hitam pekat dilengkapi kemeja dan dasi berwarna gelap senada. Penampilan Akram yang gelap itu membuatnya tampak seperti malaikat kematian tak kenal ampun yang hendak merenggut jiwa-jiwa malang tak berdosa dan melemparkannya ke neraka.


“Aku akan menanganinya sendiri, kau boleh pergi.” Akram berucap singkat ke arah Elios, dan asistennya itu langsung mematuhinya.


Elios setengah membungkuk memberi hormat untuk berpamitan, lalu menyerahkan berkas yang di bawanya ke tangan Akram sebelum kemudian meninggalkan ruangan dan menutup pintunya, meninggalkan Elana sendirian dengan lelaki jahat mengerikan yang berdiri menatap ke arah Elana tanpa ditutup-tutupi.


Lalu, dalam keheningan yang mencekam, lelaki itu melangkah mendekat ke arah Elana, membuat Elana beringsut menjauh tanpa daya ke ujung ranjang, dan akhirnya bertahan di ujung terjauh ketika akhirnya Akram berhenti, berdiri tepat di tepi ranjang.


“Aku memerintahkan Elios untuk membakar rumah tempat tinggalmu yang bobrok dan menyedihkan itu. Sebelumnya Elios telah meletakkan mayat perempuan di atas tempat tidurmu. Ketika kebakaran besar itu berhasil dipadamkan, mereka hanya menemukan tulang belulang terbakar yang terlalu rusak untuk dikenali, dengan begitu, pihak berwajib tanpa ragu langsung mengklaim sisa tulang itu sebagai dirimu.” Akram melemparkan berkas di tangannya ke pangkuan Elana dengan kejam. “Kau saat ini tidak punya apa pun, kau tidak punya tempat tinggal, kau tidak punya barang-barang pribadi, kau tidak punya berkas-berkas pendukung seperti kartu identitas, kartu jaminan sosial, atau bahkan ijazah pendidikanmu. Aku sudah melenyapkan semuanya.”


Akram menyeringai ketika tangan Elana yang gemetar memegang berkas di tangannya dan matanya menatap berkas itu dengan kebingungan.


“Lihat berkas itu. Itu adalah satu-satunya bukti eksistensimu yang tersisa di dunia ini. Dan setelah itu, kau benar-benar tidak memiliki apa-apa lagi. Bahkan, identitas pun sekarang kau tidak memilikinya, karena di mata dunia, Elana Maresha sudah mati."


Elana menyobek amplop cokelat itu dengan gemetaran, tangan mungilnya bergerak terburu-buru, mengeluarkan selembar kertas tebal berwarna putih bersih yang tersimpan di dalam amplop cokelat itu, ditariknya kertas itu ke depan wajahnya, mencoba membaca tulisan di kertas itu dengan seksama, mencari tahu kenapa Akram menyebut berkas itu sebagai bukti terakhir eksistensi dirinya di dunia ini.


Dan ketika Elana membaca keseluruhan surat itu, suaranya memekik terkejut bercampur syok luar biasa. Seluruh tubuhnya gemetaran tak terkendali, pun dengan tangannya yang kehilangan kekuatan hingga membuat kertas itu jatuh terlempar ke lantai.


Akram memang tidak membunuhnya secara fisik. Tetapi lelaki itu telah membunuh eksistensinya sebagai Elana Maresha di dunia ini...


Berkas yang dibacanya itu…. Itu adalah surat keterangan kematian resmi dari negara, atas nama Elana Maresha.


 





 


__ADS_1


__ADS_2