
Pipi Elana memerah, terutama ketika indra pendengarannya menangkap kata ‘kencan’ dan ‘pasangan’. Akram tampaknya sudah mengubah sikapnya, lelaki itu bersikap lebih seperti pasangan seiring dengan berjalannya waktu, membawa hubungan mereka ke tingkat yang lebih jauh. Elana bukanlah perempuan bodoh, dia juga menyadari perubahan itu tetapi memilih diam-diam dan mengawasi sejauh mana Akram akan bertindak.
Tetapi baru kali inilah Akram secara gamblang menyebut mereka berdua sebagai pasangan. Bukan lagi hubungan antara majikan kejam dengan perempuan yang ditawannya untuk menjadi pemuas nafsunya semata.
Apakah itu benar? Dengan menganggapnya sebagai pasangan, Akram sudah mulai menghargai dirinya dan juga martabatnya sebagai seorang wanita, bukan?
Elana tiba-tiba memalingkan wajah, merasa jengah dan tak ingin Akram sampai membaca dirinya lewat ekspresi wajahnya. Karena dia sendiri tidak tahu bagaimana menjabarkan perasaan bergolak yang dirasakannya sekarang.
Entah bagaimana perasaannya terhadap Akram. Entah dia merasa senang, ataukah merasa sedih karena ikatan dirinya dengan Akram seolah semakin menguat. Elana sendiri tidak bisa membaca perasaannya akibat perubahan drastis ini.
Akram tiba-tiba meraih dagu Elana dan menghadapkan ke arahnya, membuat mata Elana tak bisa menghindar lagi dari tatapan mata tajamnya.
“Apakah kalau aku meminta, kau akan memberiku kesempatan?” tanyanya dengan nada serius sedikit menuntut.
Elana mengangkat alisnya. “Meminta kesempatan untuk apa?” tanyanya bingung.
“Kesempatan untuk memulai semuanya dari awal lagi,” Akram menatap Elana lekat-lekat. Tangannya yang berada di dagu Elana bergerak untuk menangkup pipi Elana. Lelaki itu membungkuk di atas Elana dan menyatukan keningnya dengan kening Elana. Matanya terpejam, seolah-olah Akram tengah merasakan kesakitan yang amat sangat. “Aku minta maaf kepadamu atas segala perlakuanku kepadamu di masa lalu. Atas sikap kasar dan aroganku, atas kekejamanku, atas… pemaksaan yang kulakukan kepadamu selama ini,”
Ketika mengucapkan kalimatnya, suara Akram terdengar serak dan tersendat, tidak seperti nada bicara Akram Night yang selama ini dikenal oleh Elana.
Berkebalikan dengan mata Akram yang terpejam, Elana sendiri membelalakkan mata, terkejut oleh permintaan maaf yang sama sekali tak pernah diduganya akan meluncur keluar dari mulut lelaki itu.
Tetapi, sebelum Elana bisa berucap apapun untuk memberikan tanggapan, Akram tiba-tiba mengecup bibirnya. Beberapa detik kemudian, lelaki itu melepaskan pertautan bibir mereka tetapi tidak mundur menjauh. Hidungnya masih menempel dengan hidung Elana ketika lelaki itu berbisik dengan bibir menggesek bibir Elana ketika berucap.
“Kau tidak perlu menjawab permintaan maafku sekarang. Bahkan kau tidak perlu memaafkanku sekarang, Aku akan memberimu waktu,” ujarnya dengan nada lembut dan penuh pengertian." seolah tidak bisa menahan dirinya, Akram mengerang perlahan dan melumat bibir Elana lagi. Kali ini lebih lama dan lebih bergairah.
Ketika akhirnya lelaki itu melepaskan bibirnya lagi, napas keduanya beradu dengan bibir sama-sama basah terlumat satu dengan yang lainnya. Akram tersenyum penuh ironi sementara kedua tangannya menangkup pipi Elana, lalu mengecupi sudut bibirnya penuh nafsu.
"Aku tidak seharusnya menidurimu saat ini. Tetapi aku tidak tahan. Keberadaanmu di sini saja sudah cukup menjadi ujian berat bagi batas nafsuku," Akram menyelipkan bibirnya di sela bibir Elana dan menyesap kelembutan bibir Elana dengan penuh hasrat, menunjukkan puncak gunung es dari gairahnya terhadap Elana yang meluaap-luap. "Kurasa aku masih punya persediaan sekotak pelindung di laci mejaku. Aku bisa melakukannya kalau kau bersedia," Arkram menatap Elana lembut dan melemparkan pertanyaan sensual menggoda. "Apakah kau bersedia meniduriku lagi malam ini, Elana?"
Pipi Elana merah padam mendengar rayuan sensual yang vulgar itu. Kalimat Akram bahkan membuat Elana lupa bertanya apa yang dimaksud dengan persediaan sekotak pelindung milik Akram. Dia mencoba memalingkan wajah, ingin mengindar menjawab pertanyaan itu, tetapi Akram mengarahkan kembali wajah Elana kepadanya dan tanpa menunggu jawaban Elana, lelaki itu kembali melumat bibir Elana, kali ini dengan nafsu yang tak ditahan lagi.
Ciuman mereka berlangsung penuh gairah, melibatkan seluruh keahlian Akram untuk menggoda perempuan di depannya ini supaya jatuh dalam rayuannya. Dan sikap Elana yang tidak menolak ciumannya, membuat Akram tersenyum senang ketika kembali dia melepaskan bibirnya dari bibir Elana.
"Aku akan menganggap ini sebagai jawaban ya," desahnya serak sebelum kemudian bangkit berdiri dan membawa Elana berdiri bersamanya. "Ayo kita bercinta di kamar,"
***
***
“Apakah kau sudah menyiapkan semuanya?”
Akram berucap di telepon kepada Elios dengan nada penuh tuntutan. Saat ini dia masih ada di kamarnya, telah berpakaian rapi dan siap berangkat untuk janji kencannya yang akan dia habiskan bersama Elana seharian penuh ini. Elana sendiri sedang bersiap-siap di kamarnya, jadi Akram menggunakan kesempatan ini untuk memastikan apa yang sudah dia rencanakan dijalankan sesuai perintahnya.
“Semua sudah saya siapkan, tuan.” Elios menyahut cepat, suaranya sedikit meragu ketika dia bertanya kembali. “Apakah Anda yakin dengan ini? Bagaimana dengan sistem keamanan….”
__ADS_1
“Kita akan menempatkan penjagaan seperti yang sudah kurencanakan sebelumnya,” Akram menjawab dengan nada suara tegas. “Sebelum malam ini berakhir, aku akan membawa Elana ke sana dan memberikan penawaran terbaru untuknya. Kuharap kau sudah menyiapkan segala sesuatunya dengan sempurna,” sahutnya cepat tanpa mau menerima bantahan.
“Baik, Tuan.” Sekali lagi Elios menyahuti. Kali ini sungguh-sungguh tak ada lagi keraguan dalam kalimatnya.
"Elios," Elios sudah hampir menutup teleponnya kalau saja Akram tidak mencegahnya dengan memanggil namanya.
"Ya, Tuan?" sahut Elios cepat, siap untuk menjawab.
"Apakah kau tahu kencan seperti apa yang mungkin akan disukai oleh Elana?" tanya Akram kemudian, menyiratkan sedikit ragu dalam suaranya.
***
***
Akram sudah menunggu di dekat pintu keluar apartemen ketika Elana berlari-lari menuruni tangga dengan terburu-buru. Begitu melihat Akram sudah menunggunya, Elana langsung mempercepat langkah menghampiri dan baru berhenti ketika sudah berada di depan lelaki itu.
Napasnya sedikit tersengal setelahnya, membuat Akram mengerutkan kening dengan ekspresi tidak suka.
“Kupikir semalam aku telah menasehatimu supaya berhati-hati ketika melangkah di atas tangga itu? Kau pikir apa yang sedang kau lakukan sekarang?” marahnya dengan suara tertahan.
Elana menundukkan kepala, sedikit merasa bersalah.
“Maaafkan aku… aku terburu-buru karena aku terlambat bangun dan membuatmu menunggu,” jawabnya cepat sementara kedua tangannya saling berjalinan dengan gelisah.
Elana yang melawannya menumbuhkan gairahnya, tetapi Elana yang menunduk dan menyerah menumbuhkan kasih sayangnya, membuat Akram memutuskan tidak akan memperpanjang pertikaian mereka. Apalagi hari masih cukup pagi dan bahkan kencan yang mereka rencanakan belum juga dimulai.
Akram mengawasi Elana dan menyadari bahwa perempuan itu menggunakan sejenis kosmetik untuk menutupi memar gelap di sudut bibirnya. Kulit Elana yang pucat memang membuat memar itu mencolok, beruntung perempuan itu bernisiatif untuk menutupinya, sebab jika tidak, ketika mereka berada di tempat keramaian nanti, bukannya tidak mungkin orang-orang akan memandangnya sebagai lelaki yang suka memukul dan menampar pasangannya ketika melihat bekas memar di bibir Elana.
Tidak bisa menahan diri, Akram menyentuhkan ibu jarinya di sudut bibir Elana dan mengusapnya lembut.
“Dari mana kau mendapatkan kosmetik untuk menutup ini?” tanyanya ingin tahu.
Ekspresi Elana tampak malu, tetapi perempuan itu tidak menyingkirkan tangan Akram dari pipinya.
“Itu… itu semua sudah ada di dalam kamarku. Mungkin itu dibeli bersamaan dengan gaun dan segala macam yang kau sediakan untukku di sana?” jawab Elana ragu.
Akram memiringkan kepala sedikit dan berpikir. Dirinya langsung tahu bahwa Elioslah yang mengatur ketersediaan kebutuhan Elana sampai ke detail paling kecil secara sempurna. Setelah bekerja bertahun-tahun untuknya, Elios mampu melakukan semua dengan sempurna, bahkan untuk detail-detail kecil yang tak diinstruksikan oleh Akram sekalipun, Elios sama sekali tak melewatkannya. Akram mengingatkan dirinya untuk menaikkan gaji Elios nanti untuk menghargai kerja kerasnya.
“Kau tampak cantik,” Akram berucap kembali, kali ini bibirnya tidak sedang mengucapkan kebohongan. Elana mengenakan gaun santai yang sangat feminim bercorak bunga-bunga kecil yang samar. Perempuan itu dengan bijaksana mengenakan gaun berkerah tinggi yang bisa menutup lehernya yang memar, juga berlengan panjang sehingga pergelangan tangannya yang juga didera memar menggelap, tak kelihatan lagi. Sepatu Elana pun berwarna senses sedikit gelap, tanpa hak hingga menyerupai sepatu yang dikenakan oleh para penari balet. Untuk tasnya, Elana mengenakan tas selempang kecil berwarna putih yang sangat pas dipadu padankan dengan pakaiannya.
Akram mengawasi gaun Elana dan menyadari bahwa potongan gaun itu melebar tepat setelah garis bawah dada Elana, mengembang dan jatuh layaknya riapan air terjun yang berkecipak ke segala arah, dengan bahan tipis berlapis yang sangat indah membalut tubuh Elana.
Elana akan sangat cantik mengenakan gaun itu kalau dia benar-benar hamil dan perutnya membesar dengan cepat...
Akram tertegun dengan pikirannya yang melantur, dia sedikit menggelengkan kepala untuk mengusir pikiran gila itu, lalu memfokuskan diri untuk menatap Elana kembali.
“Kalau begitu, ayolah, kita pergi,” Akram mengulurkan tangannya ke arah Elana, sementara tangannya yang lain membuka pintu.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang, Elana menerima uluran tangan itu, dan untuk pertama kalinya, mereka berdua melangkah keluar dari apartemen itu dengan bergandengan tangan tanpa adanya pertentangan satu sama lain.
Di dalam lift yang membawa mereka turun, Elana melirik ke arah Akram dengan berhati-hati, lalu akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
“Kita… akan kemana?”
Akram hanya menoleh sedikit pada Elana, lalu mengarahkan pandanganya kembali ke depan.
“Perlu kau ketahui, bahwa aku sangat awam berkencan dengan seorang perempuan ketika hari masih terang. Bahkan di akhir pekan sekalipun, kencanku dengan para perempuan baru dimulai pada acara makan malam, baru kemudian….” Akram menghentikan kalimatnya ketika menatap ke arah mata lebar Elana yang berbinar penuh rasa ingin tahu.
Rona merah melintas di pipi Akram ketika akhirnya dia berdehem dan memutuskan untuk menahan kalimatnya. Saat ini dia sedang berusaha membangun pondasi hubungan yang kuat dengan Elana, jadi bukan tindakan yang bijaksana baginya membicarakan tentang kencan dan percintaan masa lalunya dengan wanita-wanita yang pernah ditidurinya.
Ya, para wanita teman kencannya itu sudah tentu selalu berakhir di tempat tidur untuk menutup malam kencan mereka yang sempurna. Polanya selalu sama di setiap kencannya. Di setiap kencannya, Akram membayar mahal untuk reservasi makan malam di restoran kelas tinggi dengan harga yang berkelas pula. Sebelum kencan dimulai, pada pagi harinya, dia akan mengirimkan gaun luar biasa mahal keluaran perancang edisi terbatas, dilengkapi dengan set perhiasan yang tak kalah mahalnya. Itupun, masih ditambah dengan rangkaian bunga mewah yang dirangkai secara khusus dan dipesan dengan sempurna oleh Elios yang terbiasa menangani hadiah-hadiah mewah yang diberikan Akram kepada para wanitanya.
Setelah makan malam yang mewah, mereka akan berakhir di tempat tidur, biasanya di president suite sebuah hotel yang sekali lagi telah dipesankan oleh Elios dengan sempurna.
Ketika percintaan itu selesai, biasanya Akram jarang melewatkan satu malam penuh bersama wanita yang telah selesai ditidurinya. Dia akan meninggalkan wanita itu sendirian guna melanjutkan waktu yang tersisa di kamar hotel yang telah dipesannya untuk seharian penuh. Tak lupa dirinya meninggalkan hadiah perpisahan kencan yang biasanya dalam bentuk perhiasan dalam wujud yang lebih pribadi dan dipesan khusus, biasanya berupa jam tangan atau liontin berukirkan nama wanita itu.
Saat ini, ketika menggenggam tangan Elana di lift kecil yang hanya terisi oleh napas mereka berdua, Akram akhirnya menyadari betapa kosong perasaannya setiap dia menyelesaikan kencan dengan wanita-wanita sempurna menurut kriterianya itu.
Setelah kencan, dirinya akan pulang dalam kesendiriannya, lalu segera mandi, membersihkan diri sebersih-bersihnya seolah-olah baru selesai melakukan hal menjijikkan yang akan mengkontaminasi tubuhnya. Kemudian Akram akan berbaring di atas ranjangnya dalam hening mencekam, menatap langit-langit kamarnya dalam siksa yang membuatnya nyalang hampir sepanjang waktu istirahatnya. Bisa dibilang, Akram membeli seks dalam wujud kencan makan malam dan menggantinya dengan berbagai macam hadiah mewah serta perhiasan.
Semua itu, sungguh berbeda dengan apa yang dirasakannya selama ini ketika bersama Elana. Seksnya memang luar biasa, itu tentu menjadi nilai lebih. Tetapi... bukan hanya seks. Dengan perempuan itu tidak ada kekosongan yang dirasakannya. Seolah-olah, Elana memang diciptakan untuk mengisi semua ruang kosong yang tersisa.
Dengan perempuan itu, segala sesuatunya... terasa lengkap.
“Kita akan pergi ke Ocean Garden,” Akram menjawab perlahan, mencoba bersikap biasa meskipun tidak bisa menahan diri untuk melirik guna melihat reaksi Elana.
Apa yang dilihatnya sesuai dengan apa yang dia perkirakan. Elana tampak ternganga, matanya melebar dengan binar takjub dan kegembiraan luar biasa, membuat Akram sekali lagi tidak bisa menahan senyum. Ternyata ada gunanya juga dia meminta pendapat pada Elios mengenai tempat kencan yang disukai oleh perempuan seperti Elana. Elios yang suka memperhatikan detail-detail kecil ternyata bisa menebak dengan tepat kesukaan Elana.
“Ocean Garden… Ocean Garden yang itu?” seru Elana tak percaya.
Tempat yang disebutkan oleh Akram adalah wahana hiburan berbasis petualangan ke dunia bawah laut yang sangat menakjubkan. Taman rekreasi meliputi 91,5 hektar kawasan yang meliputi 2 buah gunung yang dipisahkan oleh jurang terjal di antaranya. Para pengunjung yang ingin menjelajahi setiap area, butuh kereta gantung untuk berpindah dari satu gunung ke gunung lain. Selain terkenal dengan akuarium raksasanya yang berisi lebih dari 100.000 hewan laut dari lebih dari 800 spesies, tama rekreasi ini juga berisi berbagai wahana yang memicu adrenalin, juga wahana-wahana menarik lainnya.
Yang paling utama dari semuanya, adalah tiket untuk memasuki tempat itu sangat mahal dan selalu penuh hingga harus dipesan jauh-jauh hari. Penjualan tiket dibatasi maksimal hariannya untuk menjaga supaya pengunjung tidak berjubel dan harganya pun dihitung berdasarkan waktu. Semakin dekat periode tanggal tiket, maka akan semakin mahal harganya. Dan tiket yang dibeli secara mendadak bisa dibilang hampir mustahil didapatkan kecuali pembelinya mengeluarkan uang yang begitu besar untuk memperolehnya.
Elana melirik kembali ke arah Akram dan berucap dengan ragu.
"Tempat itu akan sangat ramai, bahkan pada hari kerja sekalipun... apakah kau tidak apa-apa?" Elana mengawasi wajah Akram, lalu mengerutkan kening ketika dugaan menakutkan melintas di benaknya. "Kau... kau tidak mereservasi seluruh area dan menutup wahana itu hanya demi dirimu, kan?" tanyanya ngeri.
Akram tersenyum masam seolah dugaan Elana itu membuatnya malu.
"Aku hampir saja melakukannya tadi, memesan seluruh tempat itu hanya untuk kita berdua. Tetapi, kau bisa berterima kasih kepada Elios karena dia mencegahku melakukan itu. Elios bilang, sebuah tempat hiburan akan kehilangan kesenangannya kalau sepi tanpa adanya hiruk pikuk manusia yang bergembira," jawab Akram dengan nada suara tegas. Tangannya bergerak meremas tangan Elana, tahu bahwa perempuan itu sedang begitu bahagia memikirkan tempat yang akan mereka kunjungi. "Jadi, mari kita bersenang-senang layaknya rakyat jelata yang sedang berkencan,"
Kalimat Akram yang diucapkan dengan angkuh dan tanpa dosa itu membuat Elana sedikit memerengutkan mulutnya kesal, tetapi memilih tak mengatakan apa-apa.
__ADS_1