Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 69 : Prahara


__ADS_3


“Kau tidak akan bisa kemana-mana,” Xavierlah yang berucap sementara Akram masih terlalu marah dan terkejut dengan perkembangan situasi yang tak diduga ini hingga tak mampu berkata-kata. “Apakah kau tak merasakan sakit di tubuhmu? Sebentar lagi kau akan mati,” sambung Xavier dengan sikap mengancam.


Regas membelalakkan mata, terkejut medengar kata-kata Xavier. Xavier bilang bahwa dia akan mati…


Itu berarti dia benar-benar telah diracuni? Apakah anggur itu….


Regas membelalak ke arah Xavier yang menatapnya tajam penuh arti. Kalau dipikir-pikir, tubuhnya sering merasa lemah tanpa kendali, dia juga sering berdebar tanpa sebab dan kepalanya terasa pusing setiap saat…. Hal itu sudah berlangsung beberapa lama, bahkan pada awal-awal Xavier mengangkatnya sebagai asisten pribadi.


Dulu Regas menyangka itu semua karena dia kelelahan bekerja, terengah-engah mengikuti ritme kerja Xavier yang melesat cepat seperti komputer canggih. Dia juga mengira bahwa itu adalah efek ketegangan sepanjang hari karena mengabdi pada Xavier yang gila dan mengerikan. Tetapi sekarang, setelah akal sehatnya bisa diajak berpikir, dugaan mengerikan langsung terwujud di dalam benaknya, membuat tangannya yang gemetar mulai tak terkendali.


Jangan-jangan… dia sudah diracuni sejak awal?


“Ya. Aku sudah memberikan dosis kecil sedikit demi sedikit di makananmu. Kau tidak menyadarinya, bukan? Karena efeknya sangat halus hingga bahkan tubuhmu juga tidak menyadari bahwa kau telah teracuni. Aku memperhitungkan dengan tepat dosisnya, hingga kau bisa hidup…. Sampai dengan saat ini. Sebentar lagi adalah puncaknya, dan kau sudah pasti akan mati. Kenapa kau tidak menghentikan sikap bodohmu dan melepaskan Lana?” Xavier membidik dengan kejam. “Apa kau pikir aku tidak akan bisa membidikmu dengan posisimu seperti itu?” ancamnya.


Mata Regas melotot hingga urat-urat darah yang mulai pecah di bola matanya mulai menyeruakkan gurat akar kemerahan yang mengerikan di sana, begitu kontras dengan warna putih bola matanya. Lengannya bergerak cepat dan mulai mencekik leher Elana yang rapuh. Kali ini bukan lengannya yang digunakan untuk menahan leher Elana, melainkan jari-jarinya yang kuat dan besar. Jari-jari itu mencengkeram leher Elana dengan keras seakan ingin mematahkannya, sementara tanganya yang lain semakin menekan ujung pistol mengerikan itu di pelipis Elana hingga terasa sangat sakit di sana.


“Bagaimanapun juga, aku akan mati, bukan?” Regas menyeringai seperti orang gila. Jantungnya berdegup tak terkendali sementara keringat mengaliri tubuhnya. Rasa sakit yang menyeruak di sana membuat Regas menyadari bahwa serangan puncak racun itu sudah mulai bekerja.


Bodohnya dia yang dengan mudah merasa yakin bahwa Xavier Light telah berhasil dia perdaya! Lelaki itu terlalu licik dan cerdas untuk diperdaya dengan mudah! Sekarang Regas harus menanggung sendiri kesalahannya.


Tetapi, bukan berarti dia tidak memiliki kesempatan membalaskan dendamnya. Sebelum dia mati, dia harus membalaskan dendamnya!


“Lepaskan dia, Regas,” kali ini Akram yang bersuara, matanya menyipit sementara keterkejutannya telah berubah menjadi kemarahan mengerikan ketika melihat bagaimana cekikan Regas telah menciptakan tanda kemerahan mengerikan di kulit Elana yang pucat.


Menanggapi dua orang yang mendesaknya untuk melepaskan perempuan dalam cengkeramannnya, Regas malahan tertawa terbahak-bahak semakin tak terkendali. Benaknya menggila luar biasa, layaknya orang yang sudah putus asa.


“Buang senjata kalian berdua lalu berlutut! Berlutut di depan kakiku dan tundukkan kepala menyembahku! Aku sudah muak melihat kalian bersikap paling berkuasa di dunia ini! Sekarang saatnya kalian membungkuk dan menyembah di kakiku!” teriak Regas dengan sikap menggila tanpa bisa mengendalikan diri.


Akram melirik ke arah Xavier, tatapannya penuh isyarat tanpa bisa menyembunyikan kecemasan di dalam jiwanya. Dia sendiri, tidak akan keberatan untuk berlutut dan merendahkan diri demi Elana. Tetapi Xavier… lelaki itu memiliki mental gila yang tak bisa ditebak. Berada pada situasi saat ini dimana anak buahnya menyerang dan berusaha merendahkannya, Xavier bisa saja malah mengambil sikap menyerang dan hal itu akan membuat Regas terdorong untuk berbuat nekat dan membahayakan Elana yang saat ini berada dalam sanderanya.


Dengan cepat Akram memimpin gerakan untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan terjadi, dia memberi isyarat kepada seluruh bodyguardnya untuk melemparkan senjata mereka, lalu tanpa bertahan langsung membuang senjatanya sendiri dan berlutut di depan Regas. Tidak malu merendahkan diri demi menyelamatkan perempuannya.


Yang Akram harapkan saat ini adalah Xavier mengikuti gerakannya tanpa melawan, dan tidak terdorong untuk melakukan provokasi yang sudah pasti akan memperburuk keadaaan.


Regas menyeringai puas melihat tingkah Akram, kekehannya mulai terdengar ketika dia mengeraskan cekikannya hingga wajah Elana pucat pasi hampir kehabisan napas, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Xavier yang mematung. Mata Regas melotot penuh ancaman ke arah Xavier dan ketika dilihatnya Xavier masih berdiam di sana tanpa niatan bergerak, jari Regas menekan kulit tenggorokan Elana dengan kasar dan menyakitinya, membuat air mata kesakitan menetes dari sudut mata Elana yang tak mampu bersuara karena lehernya tercekal.


“Xavier,” Akram mendesiskan nama lelaki itu dalam geraman penuh permohonan. Baru kali ini Akram berharap dia bisa bekerjasama dengan Xavier dan tidak bertentangan dengan lelaki itu.


Xavier menghela napas pendek mendengar permohonan Akram itu. Lalu lelaki itu bergerak memberi isyarat kepada seluruh anak buahnya untuk membuang senjata dan dirinya juga mengikuti membuang senjata di tangannya tanpa kata. Masih dengan sikap membisu, Xavier kemudian beranjak berlutut  di lantai, mengikuti gerakan Akram sebelumnya.


Mata Elana langsung membelalak ketika melihat bagaimana seorang Akram yang begitu angkuh mau berlutut demi keselamatannya, begitupun dengan Xavier yang terkenal kejam dan gila, lelaki itu juga berlutut mengikuti adiknya. Elana selama ini selalu merasa bahwa dirinya adalah perempuan tak berarti, terutama di mata Akram. Tetapi sekarang… melihat Akram rela berlutut dan menundukkan kepalanya….


Apakah… apakah setidaknya Elana memiliki arti bagi Akram? Apakah selama ini dirinya telah salah sangka menilai Akram?


Air mata menetes di pipi Elana ketika bibirnya bergetar penuh ketakutan. Dia takut bahwa sudah terlambat baginya untuk menyadari semuanya. Dia takut kalau waktunya akan berakhir di sini dan dia tidak sempat memastikan pertanyaan yang mengusik hatinya mengenai Akram.


Di lain pihak, Regas tak bisa menahan kepongahan yang membuncah ketika melihat dua lelaki berkuasa itu sekarang tak berkutik di depannya. Seketika itu juga Regas tertawa terbahak-bahak, begitu kerasnya tawanya hingga seluruh tubuhnya berguncang tak terkendali. Kepuasan menggelora membanjiri tubuhnya, hingga dia merasa luar biasa sehat dan tak merasakan lagi sakit dan nyeri dari efek racun yang mulai menguasai tubuhnya.


Lalu, pada saat yang sama, suara helikopter terdengar mendekat, semakin lama semakin keras, menghembuskan angin ke arah pepohonan di taman depan rumah Xavier yang luas, helikopter itu tampaknya mendarat di halaman depan rumah Xavier tempat helipad berada.

__ADS_1


Tawa Regas berganti senyum penuh kelegaan yang langsung merekah di bibirnya ketika dia mendengar suara helikopter itu, seolah-olah dia sudah menunggu siapapun yang hendak datang itu dengan penuh harap.


Akram menoleh penuh tanya ke arah Xavier, tetapi Xavier hanya mengangkat bahu sedikit, memastikan bahwa keduanya sama sekali belum memiliki petunjuk mengenai siapa orang yang memberikan dukungan di belakang Regas.


Semula, Xavier bahkan mengira bahwa Regas bergerak sendiri untuk membalas dendam kepadanya. Laporan dari penyelidiknya memang belumlah tergenapi, membuat Xavier tidak mendapatkan informasi yang memadai untuk menarik kesimpulan. Ternyata, sepertinya ada orang kuat yang menggerakkan Regas untuk kepentingannya sendiri. Pantaslah Regas berani mengkhianatinya dengan nyawa sebagai taruhannya.


***



***


Akram dan Xavier tidak perlu menunggu lama untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan mereka. Pintu rumah Xavier terbuka seketika, diiringi dengan derap langkah orang-orang asing yang memasuki rumah. Dimitri memimpin anak buahnya melangkah masuk, matanya langsung melebar penuh kesenangan ketika melihat pemandangan yang terpampang di depannya.


Regas tampak tengah mencekik perempuan tameng itu dari belakang, dan apa yang dikatakan Regas bahwa perempuan itu sungguh berarti bagi dua bersaudara itu terbuktilah sudah. Saat ini, Akram Night dan Xavier Light tampak tunduk dan menyerah, berlutut di depan Regas bagaikan seorang hamba yang mengaku kalah. Bahkan, anak buah Xavier dan Akram yang banyak jumlahnya, sama sekali tidak berani mengangkat senjata dan hanya membiarkan saja ketika Dimitri dan anak buahnya melangkah memasuki rumah.


Dengan riang Dimitri bertepuk tangan, membuat semua perhatian terarah kepadanya. Senyum Dimitri melebar ketika dia menikmati tatapan orang-orang yang membuatnya menjadi pusat perhatian. Sekarang semua orang akan melihat wajahnya dan mengenali sosok yang akan menjadi nomor satu dan pemimpin mereka semua di masa depan.


“Aku tidak menyangka akan mendapatkan pertunjukan yang menarik di sini. Bayangkan! Akram Night dan Xavier Light yang berlutut bersamaan! Ini adalah peristiwa bersejarah!” dengan gayanya yang berlebihan layaknya pemain di pertunjukan opera, Dimitri melangkah mendekati arah Regas, membuat dirinya berdiri tepat di hadapan Akram dan Xavier yang masih berlutut di depan mereka.


“Siapa kau?” Akramlah yang langsung bertanya, sementara Xavier tampak memindai Dimitri dengan seksama sebelum sinar pengenalan muncul di matanya.


Dimitri Kazak. Pewaris kekuasaan mafia rusia yang baru, mendapatkan tampuk kekuasaan dari ayahnya setelah lelaki ini dengan gila membunuh dengan kedua tangannya sendiri saudara-saudara kandungnya yang dia anggap menjadi penghalang bagi jalannya untuk menjadi nomor satu.


Xavier langsung paham alasan  Dimitri terlibat dalam hal ini untuk melawan mereka. Dirinya, Akram dan juga Dimitri, sama-sama bergerak di bidang pengembangan senjata yang ditakuti di dunia bawah tanah. Sayangnya, bayang-bayang Dimitri yang terlambat masuk ke dunia gelap penuh persaingan dan keras itu, sudah tentu terhalang oleh bayangan kuat dari Akram Night disusul oleh Xavier Light yang mengekor di belakangnya.


Hasrat tak terkendali Dimitri untuk menjadi nomor satulah yang membuatnya bergerak dalam diam dan akhirnya maju setelah menemukan celah kelemahan Akram dan Xavier yang kebetulan bertumpu pada satu perempuan yang sama.


Xavier melirik ke arah Elana yang pucat pasi tak bisa bersuara di dalam cengkeraman Regas. Tadi dia sedikit tenang karena tahu bahwa sebentar lagi racun itu akan memukul mundur Regas dan membuatnya melepaskan Elana. Karena itulah, sama seperti halnya Akram, Xavier sama sekali tidak keberatan untuk merendahkan dirinya dan berlutut.


“Namaku Dimitri Kazak, aku akan sangat sakit hati kalau tak mengenaliku, Akram Night. Karena saudaramu di belakangmu sepertinya telah mengenaliku,” Dimitri mengusap rambut pirangnya yang pucat, lalu meraih Elana dan merenggutnya dari tangan Regas.


Dimitri lebih tinggi dan tegap, dan sudah pasti kondisinya saat ini jauh lebih kuat dari Regas. Karena itulah, ketika Elana meronta saat dipindahtangankan, rontaan seorang perempuan lemah sama sekali tak ada gunanya dan perlawanannya langsung dilumpuhkan seketika oleh cekalan Dimitri yang menelikung tangannya ke belakang serta membuatnya tak mampu bergerak.Saat itu Regas sendiri sudah mulai melemah sehingga dia tidak bisa berbuat apa-apa ketika Dimitri merenggut perempuan tameng pelindungnya dari tangannya yang mulai gemetaran hingga hampir tak mampu menggenggam pistolnya dengan kuat.


Dimtri mengeluarkan pistolnya dan langsung menodongkannya ke kepala Elana, matanya menyipit penuh perhitungan saat menatap Xavier dan Akram berganti-ganti.


“Aku akan membawa pialaku ini sebagai sandera. Besok aku akan mengirimkan orang untuk mengajukan persyaratanku yang harus kalian penuhi sebagai tanda kalian tunduk dan menyerah kepadaku. Perempuan ini adalah jaminannya. Jika kalian tidak bisa memenuhi persyaratan yang kuajukan, maka… dor!” Dimitri menirukan suara tembakan dengan nada bercanda yang tak lucu. “Maka aku akan meledakkan kepala perempuan ini sampai berkeping-keping,”


Dimitri membawa Elana dalam cengkeramannya sambil menodongkan pistol di tangannya menempel ke kepala Elana. Lelaki itu lalu berbalik sambil menyeret Elana dan berusaha membawanya keluar dari rumah Xavier.


“Kau tak bisa melakukannya!” dengan kuat Akram bangkit dari posisinya dan bergerak maju, lelaki itu merangsek berdiri dan meraih pistolnya kembali. Akram bersiap menembak, tetapi gerakannya terhenti ketika Dimitri membalikkan tubuh, masih dengan mencengkeram Elana dalam todongan senjatanya dengan sikap penuh kemenangan.


“Siapa bilang aku tak bisa membawa perempuanmu ini pergi?” Dimitri terkekeh kesenangan. “Coba tembaklah aku dan di saat yang sama aku akan menembak kepala wanitamu ini. Apa kau tahu bahwa pistol yang kugunakan ini adalah temuan terbaru dari pabrik senjataku? Ukurannya memang kecil, tapi kerusakan yang ditimbulkannya sangat dahsyat. Jika ditembakkan dari jarak jauh akan menimbulkan lubang besar tak terhindarkan karena kekuatan peluru ini yang bahkan bisa menembus rompi anti peluru sekalipun. Jadi, kau pasti bisa membayangkan sendiri jika pistol ini ditembakkan dari jarak dekat… contohnya ke kepala wanitamu ini…. Maka kepalanya akan meledak menjadi serpihan daging dan darah berkeping-keping…. Kau bahkan tidak akan bisa melihat wujud kepalanya secara utuh lagi di mayatnya nanti. Itukah yang kau inginkan untuk menjadi akhir dari kekasihmu?” tanya Dimitri dengan guratan kekejaman luar biasa.


Akram menyipitkan mata, ekspresinya gelap, dipenuhi oleh frustasi yang nyata. Apalagi ketika dilihatnya wajah ketakutan bercampur cemas di mata Elana yang basah oleh air mata ketika balas memandangnya. Saat itu jugalah, Akram tahu bahwa dia harus menyerah.


Demi keselamatan Elana, Akram bersedia menyerahkan segalanya.


Dengan gerakan kaku, Akram menurunkan pistolnya, membuat kekehan Dimitri berubah menjadi tawa terbahak-bahak.


“Aku tidak akan mendemonstrasikan kekuatan pistol ini pada wanitamu, tetapi ada baiknya aku mendemonstrasikannya langsung kepadamu!” tanpa peringatan sebelumnya, Dimitri langsung menarik pelatuknya ke arah dada kiri Akram, lalu menembak dengan cepat hingga terdengar suara keras di udara saat peluru itu dengan cepat menembus dada Akram tanpa bisa menghindar.

__ADS_1


“Akram!!” jeritan Elana langsung membahana penuh dengan ketakutan dan kengerian yang nyata ketika melihat darah memercik dari tubuh Akram berbarengan dengan tubuh Akram yang jatuh ke lantai.


Elana memberontak dan meronta tak terkendali dibarengi dengan air matanya yang mengalir deras. Sekuat tenaga dia berusaha melepaskan diri, ingin menghambur ke arah Akram dan melihat keadaan lelaki itu. Kecemasan akan kondisi Akram melingkupi dirinya, membuatnya nyaris histeris. Tetapi, seretan Dimitri yang bertubuh besar itu sangatlah kuat dan bukan tandingan dari tubuh mungilnya nan lemah. Elana tak berdaya meskipun dia terus berjuang meronta dalam seretan kejam Dimitri yang membawanya meninggalkan rumah, menuju helikopter yang menunggu di halaman.


“Akram!” Xavier kebingungan antara mengejar Elana atau menolong Akram, dia berlutut di samping tubuh Akram yang terjatuh di lantai, membalikkan tubuh telungkup adiknya itu dengan tangan gemetaran ketika menyadari ada darah yang begitu banyak mengaliri tangannya yang menyentuh punggung dan dada Akram.


Xavier memang haus darah dan sangat suka menumpahkan darah musuh-musuhnya. Tetapi sekarang, dengan darah Akram yang mengucur dari tubuhnya, Xavier benar-benar merasa takut luar biasa.


Akram mengerang, tangannya bergerak menyentuh tangan Xavier yang masih memegang pistol di tangannya. Wajahnya pucat pasi dan kesadarannya semakin menghilang ketika darahnya semakin banyak mengucur dengan deras dan menghabiskan isi di dalam pembuluh darahnya. Meskipun begitu, Akram masih berusaha berbicara dengan bibir gemetaran menahan kesadaran diri supaya tetap terjaga.


“Aku akan baik-baik saja. Elana! Elana! Kejar Elana!” Akram mendorong tangan Xavier, memaksanya untuk menjauh.


Hanya beberapa detik Xavier meragu, setelahnya dia berlari mengejar sambil membawa senjata keluar rumah, masih sempat dia memberikan instruksi kepada anak buahnya untuk memberikan pertolongan pertama kepada Akram sebelum dia pergi.


Xavier sampai di halaman, dekat dengan helikopter yang hampir mengudara itu. Pistol tertodong di tangannya tetapi dia ragu untuk menembak mengingat Elana masih ada di cengkeraman Dimitri dan dipasang di depan tubuhnya sebagai tameng.


***



***


Dimitri membawa Elana memasuki helilkopter yang sudah mengambang di udara dan siap naik ke langit. Saat itulah Dimitri menoleh dan mengangkat alis ketika melihat Regas yang yang dengan susah payah berusaha naik ke atas helikopter ingin ikut dibawa pergi.


Wajah Regas mulai pucat tak terkendali sementara darah mengucur dari hidungnya, meskipun begitu, Regas tampaknya masih memiliki tenaga untuk mencengkeram pinggiran helikopter itu dan mencoba naik.


“Tuan… Tuan Dimitri! Saya mohon, bantu saya!” ketika helikopter itu makin meninggi, Regas yang ketakutan mengulurkan sebelah tangannya ke arah Dimitri dan meminta ditarik. Dia harus berteriak sampai tenggorokannya kering karena harus bersaing dengan suara baling-baling yang begitu keras dan hembusan angin kencang yang memedihkan mata.


Dimitri menipiskan bibirnya dengan kejam. “Kenapa aku harus membawamu? Darahmu berceceran dimana-mana, kau akan mengotori helikopterku,” tanpa perasaan Dimitri menggerakkan kakinya untuk menginjak tangan Regas yang berusaha bertahan dan bergantung ke helikopter.


Mata Regas membelalak ketakutan, dipenuhi ketidakpercayaan akan pengkhianatan. Bibirnya melolongkan jeritan protes bercampur teriakan kesakitan ketika sepatu kulit buatan itali Dimitri yang keras dan tajam menginjak tangannya dengan kejam dan membuat pegangannya terlepas.


“Tuan Dimitri… tidak! Anda tidak boleh melakukan ini…. Tidak! Tidaak!” teriakan Regas tak ada artinya ketika tubuhnya terbanting jatuh dari udara, ditinggalkan oleh helikopter yang semakin meninggi hingga tak terjangkau lagi.


Punggung Regas kemudian terbanting dengan keras ke rerumputan di halaman rumah Xavier, sementara matanya membelalak tak percaya, menatap helikopter milik Dimitri yang sudah berada jauh di langit sana sebelum kemudian menjadi titik hitam kecil yang semakin jauh dan menghilang dari pandangan.


Suara langkah kaki mendekat membuat Regas mengalihkan pandangan dari keterpanaannya. Dia menoleh dan matanya menangkap sepasang sepatu berkilat yang khas. Wajahnya seketika semakin memucat ketika menyadari siapa pemilik sepatu itu.


Kepala Regas mendongak dan dugaannya tak salah, matanya langsung bertemu dengan mata Xavier yang menatapnya dengan sinar kejam dan tak terperi.


Xavier berlutut tanpa suara di samping Regas, lalu tiba-tiba lelaki itu menusukkan sesuatu di leher Regas menggunakan suntikan berbentuk alat tembakan injeksi seukuran jari kelingking.


Tubuh Regas menegang dipenuhi ketakutan sementara tangannya bergerak refleks menyentuh bekas suntikan Xavier di lehernya yang meninggalkan jejak nyeri seperti digigit semut di sana.


“Apa… apa yang kau suntikkan kepadaku?” dengan panik Regas berteriak keras, suaranya gemetar bercampur ketakutan, apalagi ketika Xavier yang masih berlutut di dekatnya malah menyeringai penuh senyum yang mengerikan.


“Aku menyuntikkanmu penawar racun,” jawab Xavier lambat-lambat penuh ancaman yang membuat bulu kuduk berdiri. “Karena akan terlalu mudah untukmu kalau kau mati karena racun setelah semua perbuatan dan pengkhianatanmu. Segera setelah efek racun itu pulih dari tubuhmu kau akan tetap hidup... tetapi tidak dalam waktu yang lama. Karena kau kubuat hidup supaya kau bisa melalui proses kematian lambat penuh siksaan yang akan kuhadiahkan khusus untukmu,” Xavier mengulaskan senyum keji yang harus darah di bibirnya. “Aku jamin, ketika kau baru menjalani setengah saja dari apa yang akan kulakukan kepadamu, kau akan menjerit dan berteriak-teriak memohon kepadaku untuk langsung dibunuh saja,” janjinya lekat dengan kekejian tak terperi terpancang di sana.


***


__ADS_1


***



__ADS_2