
Halo,
ini adalah part 7/10 dari Crazy update. Author tidak bisa menjamin kesepuluh-sepuluhnya terposting berbarengan ya karena ada sistem review dari mangatoon.
Mudah2an saja bisa terposting berbarengan, tetapi jika tidak ( posting terpisah dengan jeda waktu jam/hari) maka diharapkan permaklumannya
Regards,
Ay
***
***
"Kau tentu sudah mengenal Akram dan Elios. Dan yang satu lagi, kenalkan, dia adalah Elana, asisten pribadiku," Xavier langsung memperkenalkan dengan nada riang, sementara tangannya bergerak memberi isyarat supaya Elana maju ke depan.
"Oh, hai, Elana. Aku Cradence Evening. Sungguh menyenangkan mengetahui seorang Xavier Light memiliki seorang asisten yang sangat dibanggakannya. Dia menyebut namamu beberapa kali dalam pembicaraan kami, sehingga aku yakin bahwa kau pasti istimewa," lelaki itu berucap dengan nada sopan luar biasa dengan suaranya yang sangat elegan.
Mau tak mau, Elana menyambut uluran tangan Craden, dengan sikap sedikit gugup karena dia tahu pasti bahwa Akram tengah memandang dengan tatapan tajam menusuk di belakangnya.
"Terima kasih, tuan..."
"Panggil saja Craden, santai saja. Kita akan banyak berinteraksi di masa depan dan bekerjasama untuk menyelesaikan masalah pekerjaan ini, jadi akan lebih enak jika kita meninggalkan sikap formal satu sama lain." sela Craden, masih dengan nada sopannya yang elegan
Elana menganggukkan kepala. "Baik, terima kasih, Craden," entah kenapa meskipun lelaki di depannya itu berucap lembut, Elana merasakan dorongan kuat untuk tak membantah. Mungkin itulah sebenarnya kekuatan kharisma dari Craden yang sesungguhnya, kemampuan untuk memaksa orang lain mengikuti kehendaknya, tetapi dengan cara yang elegan.
"Mungkin kita sudahi dulu perkenalan di sini dan mulai membahas masalah pekerjaan," Akram tiba-tiba bergerak maju dan memaksa Elana mundur sehingga posisi tubuh Elana terhalang dan tertutupi oleh tubuhnya. Jelas sekali terlihat bahwa Akram ingin memutus interaksi antara Craden dan Elana.
"Aku membutuhkan waktu untuk membaca seluruh data laporan keuangan yang ada di sini sebelum aku bergerak untuk mengumpulkan bukti," Craden sama sekali tidak membantah perkataan Akram, lelaki itu menoleh ke arah Xavier dan langsung bertanya. "Dan mengingat watakmu, kau pasti sudah menyiapkan data itu, bukan?"
"Tentu saja aku sudah menyiapkannya. Dengan rapi dan tersusun sesuai dengan standarmu. Sekali lagi terima kasih pada asistenku yang membantuku," Xavier melemparkan lirikan menggoda kembali ke arah Elana yang hanya diterima Elana dengan anggukan tipis menahan sipu malu.
Memang sepagian ini, Xavier telah memerintahkannya untuk menyortir seluruh data digital dengan rapi tanpa cela sesuai standar yang telah ditetapkannya. Lelaki itu juga menyempatkan diri untuk mengajarinya dengan sabar dan sama sekali tak menunjukkan sikap merendahkan atau kesal ketika Elana membuat kesalahan karena ketidaktahuannya. Terima kasih kepada Xavier karena Elana akhirnya menyelesaikan pekerjaannya itu dengan gemilang.
"Selamat siang, Tuan Akram. Nama saya Maya, saya adalah asisten Tuan Craden yang saat ini khusus datang untuk mendampingi Tuan Craden dalam rangka usahanya memberikan bantuan pada perusahaan Anda. Saya sangat senang atas kesempatan bertemu dengan Anda, karena saya mengagumi Anda, maksud saya, saya mengagumi kehebatan Anda dalam mengelola perusahaan ini hingga bisa menjadi besar berjaya dan berada di posisi puncak dibandingkan dengan perusahaan lain sejenisnya." wanita cantik yang sejak tadi mendampingi Craden tiba-tiba memutuskan untuk mengambil alih panggung. Dia berdiri sedikit maju di depan Craden, mengulurkan tangannya dengan tatapan mata penuh semangat dan binar kekaguman yang tak ditutup-tutupi ke arah Akram.
Akram tertegun, sedikit memiringkan kepala untuk menatap sosok yang memperkenalkan diri sebagai Maya itu. Setelahnya dia menganggukkan kepala tipis, dan menerima uluran tangan Maya dengan perkenalan singkat.
"Baik. Mengingat kau adalah asisten Craden, aku yakin bahwa kau adalah orang yang kompeten." ucap Akram dengan nada formal yang kaku.
Craden terkekeh dan menganggukkan kepala.
"Kau tak mengenal Maya Ameer? Jika kau menghabiskan waktu dengan membaca buku-buku bisnis dan ekonomi, kau pasti mengetahui tentangnya. Dia adalah anak jenius di bidang keuangan dan perekonomian, memperoleh nilai terbaik di kelas akselerasi padahal dia adalah siswi termuda, mendapatkan gelar magisternya ketika usianya baru tujuh belas tahun, lalu memperoleh pencapaian gemilang di bidang keuangan lainnya, hingga dia menjadi rebutan semua perusahaan besar yang ingin menyimpan harta berharga ini," Craden tersenyum miring dan melirik ke arah Maya. "Aku cukup beruntung karena dia memilihku untuk menjadi mentornya."
__ADS_1
"Itu semua karena kau memiliki keahlian yang sangat hebat dan aku berharap bisa mendapatkan banyak ilmu darimu," Maya menyahut dengan sikap malu. Perempuan itu tersipu tetapi matanya terus mencuri-curi pandang ke arah Akram, seolah-olah dia berusaha memastikan kalau Akram mendengar dengan jelas pujian yang ditujukan kepadanya.
Sayangnya, Akram Night hanya memasang wajah tanpa ekspresi. Lelaki itu cuma menganggukkan kepala sedikit, lalu mengalihkan perhatian kembali kepada Xavier.
"Karena seluruh data sudah disiapkan? Apakah kalian akan mulai bekerja hari ini? Jika iya, aku akan meminta ruangan meeting di sebelah yang juga ada di lantai ini disiapkan untuk Craden."
"Tidak perlu," Craden menyahut cepat. "Aku tahu ruang meeting di sebelah itu seluas auditorium yang mampu menampung seratusan orang lebih. Akan sangat merepotkan untuk merombak ruangan itu hanya demi aku yang cuma sementara di sini. Lagipula, bekerja di ruangan seluas itu tidak akan terasa nyaman. Aku rasa masalah kebocoran keuangan ini dan pengumpulan bukti, jika dikerjakan dengan intens maka bisa diselesaikan dalam waktu singkat. Jadi, aku tak perlu mendapatkan ruangan khusus. Tambahkan saja satu meja di dalam sini biar aku bekerja seruangan dengan Xavier, dan juga satu meja lagi di luar untuk asistenku."
"Aku rasa aku akan bekerja lebih efektif jika aku bekerja di dekatmu, Craden," Maya tiba-tiba menyahut dengan penuh rasa percaya diri. Keberadaan Akram Night yang dikaguminya di ruangan ini membuatnya ingin terlihat hebat dan mempesona di matanya, sehingga dia jadi terdorong bertindak sedikit arogan tanpa sadar. Selama menjadi asisten Craden, lelaki itu telah memperlakukannya sebagai teman, rekan dan sahabat, karena itulah kadang Maya lupa bahwa statusnya adalah asisten Craden dan bukan rekan sejawatnya. "Jadi, biarkan aku juga mendapatkan meja di dalam ruangan ini." sambungnya cepat.
"Hmm," Craden hanya menggumam. Ada sekilas ketidaksukaan berkilat di matanya ketika mendengar Maya mengambil keputusan sendiri melangkahinya. Tetapi dengan cepat Craden bisa menguasai diri, memasang senyum dan wajah sopannya yang biasa dan menatap Xavier dan Akram dengan penuh pertanyaan. "Kalau begitu, kami berdua mungkin akan merepotkan kalian. Bisakah kalian membuat pengaturan itu? Menambahkan meja sementara untukku dan Maya di ruang Xavier?"
Kali ini Craden menoleh ke arah Xavier dan menatap ingin tahu. "Tentu saja kalau kau tak keberatan. Aku tahu bahwa kau tidak suka bekerja dengan orang asing." Craden tidak menunjuk kepada dirinya sendiri, dia membicarakan tentang Maya. Ya, karena Xavier dan Craden sudah dekat satu sama lain sejak lama, bukan masalah jika Craden datang menginterupsi ruang kerja Xavier selama beberapa waktu. Tetapi Maya yang meminta berada di ruangan yang sama tentunya tidak diduga sama sekali. Dan Craden tak mau kalau sampain Xavier yang introvert itu merasa tak nyaman dengan pengaturan ini.
Tetapi, tanpa diduga Xavier hanya mengangkat bahunya seolah tak peduli.
"Bukan masalah. Ruangan ini cukup luar untuk semuanya," Xavier menatap ke arah Akram dengan penuh perhitungan. "Mungkin aku juga akan membuat pengaturan supaya Elana bekerja di ruangan ini supaya lebih mudah bagi kita..."
"Tidak," Akram menggeram cepat. Suaranya begitu posesif, nyaris menakutkan hingga membuat semua yang ada di ruangan itu menolehkan kepalanya bingung campur terkejut. Tetapi, tatapan mereka sama sekali tidak mempengaruhi Akram. Lelaki itu menatap lurus ke arah Xavier dengan pandangan mengancam yang nyata. "Elana akan berada di luar, di mejanya yang sama bersama Elios. Itu keputusanku."
"Apakah kau pikir tidak akan menyulitkan bagiku harus bolak-balik keluar masuk ruangan jika aku memerlukan Elana untuk membantuku? Secara efisiensi itu..."
"Xavier," Akram menyebut nama Xavier untuk menghentikan kalimat apapun yang mungkin akan dilontarkan oleh Xavier. Dagunya terangkat dan tatapan matanya begitu mengerikan. Seolah-olah Akram siap mencabik-cabik Xavier jika lelaki itu berani melawannya. "Aku adalah atasanmu dan keputusanku absolut di sini. Jika kau tak terima dengan keputusanku, kita bertemu di rapat dewan direksi berikutnya dan mari kita lihat, seberapa banyak dari mereka yang membelamu dan seberapa banyak dari mereka yang membelaku." dengan gerakan arogan, Akram membalikkan tubuh tanpa menanti reaksi orang-orang yang ditinggalkannya. Tetapi tak lupa, dia menoleh ke arah Elios dan memberikan perintah singkat tak terbantahkan. "Bawa Elana bersamamu," ucapnya cepat, lalu melangkah mendahului semuanya dan meninggalkan ruangan.
Keheningan membentang di antara semua orang yang telah ditinggalkan Akram dengan dramatis. Elioslah yang lebih dulu menyadari situasi lalu berucap untuk membelah keheningan itu.
"Mohon maaf. Karena Elana masih baru di sini, Tuan Akram menugaskan saya untuk menjadi mentor Elana. Saya rasa jika dipandang dari sudut efektif atau tidak, Elana masih harus belajar dan itu berarti memerlukan pendampingan dari saya. Saya rasa, pengaturan supaya Elana duduk di sebelah saya adalah pengaturan terbaik untuk saat ini," Elios mengalihkan matanya dan menatap ke arah Xavier, penuh permohonan supaya Xavier tak membuat permasalahan ringan seperti pengaturan tempat duduk ini menjadi sesuatu yang rumit. "Saya rasa, Tuan Xavier juga bisa memahami hal ini," sambungnya dengan nada berhati-hati.
"Bukan masalah. Aku akan menuruti cara yang paling efisien. Kau boleh pergi, Elios," mata Xavier beralih ke arah Elana dan tatapannya berubah lembut. "Dan kau juga, Elana. Lanjutkan apa yang kau pelajari dari Elios. Aku akan memanggilmu jika aku membutuhkanmu," perintahnya dengan nada santai berbalut ketegasan.
Elana menganggukkan kepala, dia juga mengucap salam berpamitan ke arah Craden yang memasang senyum dan ke arah Maya yang seolah baru menyadari keberadannya dan memperhitungkan dirinya dengan terang-terangan, ditandai dengan tatapan mata perempuan itu yang mengawasi Elana dari ujung kepala hingga ke ujung rambutnya. Setelahnya, Elana pergi meninggalkan ruangan itu mengikuti langkah Elios yang berada di depannya.
***
***
"Apakah kita akan langsung bekerja? Karena aku sudah siap..." Craden mengalihkan pandangannya ke arah meja kerja Xavier yang penuh berkas, tetapi perhatiannya kemudian teralihkan pada Xavier yang malah melangkah menjauhi meja kerjanya dan duduk santai di atas sofa.
"Tidak. Kau baru menempuh perjalanan jauh semalam, dan hampir keseluruhan pekerjaan sudah kulakukan. Kau hanya tinggal mengklarifikasinya untuk memastikan kebenaran semua data, lalu mengumpulkan bukti-bukti kita dan mengeluarkan hasil penyelidikan secara legal. Itu bisa dilakukan nanti. Tidak ada yang mendesak, karena bahkan para pelaku belum menyadari kalau mereka sudah ketahuan."
"Karena itukah kau menyuruhku datang kemari secara rahasia tanpa pengumunan sebelumnya?" Craden tersenyum, lalu mengambil tempat duduk di samping Xavier, sementara Maya yang juga ada di ruangan itu menyusul duduk di sofa seberang mereka.
"Apakah kau berhasil masuk ke negara ini tanpa membuat kehebohan?" tanya Xavier riang.
__ADS_1
"Tentu saja aku berhasil, aku menggunakan jet pribadi dengan penerbangan tak tercatat yang dirahasiakan oleh pihak pengamanan. Tak ada yang mengetahui kedatanganku kemari kecuali kau... dan Akram tentu saja. Dia telah menempatkan penyelidiknya untuk mengawasiku, bahkan sejak aku menginjakkan kaki ke negara ini."
"Akram akan selalu waspada kepadamu," Xavier terkekeh. "Dan aku senang karenanya."
"Tuan Xavier, saya ingin bertanya, kenapa tuan mengangkat seorang seperti Elana untuk menjadi asisten Anda? Saya telah membaca banyak artikel tentang Anda, Anda adalah dewa di bidang permainan saham karena semua keputusan bisnis yang Anda ambil selalu mengarah kepada keuntungan besar. Semua orang mengikuti saran dan pendapat Anda di bidang bisnis tanpa berani mempertanyakan Anda. Saya juga termasuk orang yang mengagumi kecerdasan Anda. Tetapi... asisten Anda, sama sekali tidak mencerminkan kecerdasan Anda yang luar biasa. Dia tampak terlalu polos, tidak berpengalaman dan masih memerlukan banyak belajar. Kenapa Anda tidak mengambil seoranga asisten yang kompeten..." Maya kembali memaksa mengambil alih percakapan dengan menyemburkan kalimat tanya yang panjang, membuat Cavier dan Craden mau tak mau menoleh ke arahnya.
"Seorang asisten sepertimu, maksudmu?" Xavier masih tersenyum meskipun ada kilat menyala di matanya.
Sayangnya, kilat peringatan di mata Xavier sama sekali tak ditangkap oleh Maya. Kewaspadaannya ditutupi oleh sikap percaya dirinya yang tinggi, sehingga dia lupa bagaimana harus bersikap.
"Ya. Seperti saya contohnya. Saya memiliki kualifikasi yang baik dengan kecerdasan tak diragukan lagi. Atasan saya akan merasa sangat terbantu dengan kinerja saya yang mendekati sempurna. Bukankah itu tujuan dari seorang atasan yang sibuk untuk mengambil seorang asisten? Mencari seseorang yang bisa mempermudah dan memperingan tugasnya? Jika Anda memilih anak muda seperti Elana untuk menjadi asisten, dengan kurangnya pengalaman dan kepolosannya, dia hanya akan menjadi beban dan batu sandungan yang akan merepotkan Anda."
Ekspresi Xavier sedikit menggelap ketika mencerna kalimat Maya yang menggurui, lelaki itu bersedekap dan terlihat santai, tetapi ada ketegangan yang menyelip dari otot-ototnya.
"Aku memiliki penilaianku sendiri dan penilaianku selalu tepat. Ketika aku menemukan potensi dari seseorang, maka serahkan orang itu di tanganku dan dia akan mendapatkan potensi terbaiknya yang gemilang. Lana mungkin terlihat polos dan kurang pengalaman, tetapi di tanganku, dia akan menjadi yang terbaik," Xavier menyipitkan mata. "Jangan terkejut jika nanti dia menjadi berkali-kali lipat lebih baik darimu. Sebab, orang yang merasa dirinya terbaik, biasanya lengah dan berhenti berusaha. Mereka akan disalip oleh orang yang menyadari dirinya masih bodoh sehingga mendorong dirinya untuk terus menerus belajar. Keberhasilan manusia tak pernah bersifat final, mereka harus terus bergerak kalau tak ingin dikejar oleh para pembelajar di belakang mereka."
Perkataan Xavier membentang di udara, menggaungkan kecanggungan nyata yang menusuk sampai ke dalam jiwa Maya. Dia sama sekali tak menyangka kalau usahanya untuk membantu malahkan mendapatkan tanggapan dingin sedikit menghina.
Sebenarnya potensi apa yang ada di dalam Elana yang tampak polos dan sudah tentu jauh lebih bodoh dari dirinya itu sehingga membuat Xavier ngotot mempertahankannya sebagai asistennya dan membelanya mati-matian?
Jangan-jangan... Elana adalah jenis perempuan yang menjual tubuhnya di balik topeng kepolosannya, lalu mengejar ambisi untuk memperoleh kedudukan tinggi dengan memaksa Xavier mengangkatnya menjadi asistennya? Ya, meskipun penampilan perempuan itu polos tak berdosa, Maya tak akan terkejut kalau Elana ternyata adalah wanita simpanan Xavier yang berjiwa rakus dan tak keberatan menggunakan cara tak senonoh untuk mencapai tujuannya.
Sebagai orang yang memperoleh karir dan kedudukan tinggi dengan menggunakan otak dan kemampuannya yang hebat, Maya sungguh sangat tidak menyukai wanita-wanita murahan yang menggunakan jalan pintas untuk mendapatkan kekuasaan.
Lihat saja nanti, Maya akan menunjukkan kepada Xavier, kepada Akram, kepada semua orang yang ada di tempat ini, bahwa perempuan seperti Elana, hanyalah sampah pengganggu yang sebaiknya disingkirkan karena tak memiliki guna untuk berada di tempat ini!
***
Halo,
ini adalah part 7/10 dari Crazy update. Author tidak bisa menjamin kesepuluh-sepuluhnya terposting berbarengan ya karena ada sistem review dari mangatoon.
Mudah2an saja bisa terposting berbarengan, tetapi jika tidak ( posting terpisah dengan jeda waktu jam/hari) maka diharapkan permaklumanny
Regards,
Ay
Note Author : Kisah tentang Cradence Evening ini rencananya akan menjadi proyek novel baru author. Tapi belum tahu apakah akan diposting disini setelah Essence Of The Darkness tamat atau tidak. Jika iya, pasti akan author buat pengumuman di sini. dan tentu saja dia TIDAK BERPASANGAN DENGAN MAYA.
***
__ADS_1