Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 14 : Bertolak Belakang


__ADS_3


"I have to keep breaking your heart.... until it open"


Elana mengerjapkan mata mengira bahwa dirinya sedang bermimpi.


"Akram?" bibirnya yang gemetar berhasil membisikkan pertanyaan itu dengan nada takut.


Predator itu tersenyum, matanya menggelap. "Ya, kucing kecil, ini aku...," jawabnya dengan suara dalam.


Mata Elana melebar, tetapi dia masih belum mendapatkan kesadarannya sepenuhnya. Dirinya diliputi kebingungan, terbangun tiba-tiba di tengah malam dan menemukan Akram yang seharusnya tidak mungkin ada di tempat ini.


Sosok yang membungkuk di atasnya, diselubungi kegelapan dengan mata penuh hasrat itu sudah jelas merupakan sosok Akram. Tetapi, Akram tidak mungkin berada di sini, bukan? Akram sendiri yang bilang bahwa dia hanya akan datang ke villa ini setiap akhir pekan dan itu sangat disyukuri Elana karena dia tidak harus menghabiskan waktu setiap harinya menjadi budak nafsu Akram.


Kalau begitu, jangan-jangan Elana sedang bermimpi? Apakah sebegitu mengganggunya Akram di dalam pikirannya hingga dia juga harus menghadapi Akram yang mengerikan itu di alam mimpinya?


Secara impulsif, Elana mengulurkan jemarinya dan menyentuh pipi Akram, berusaha memastikan apakah dia ada di alam nyata, ataukah benar-benar berada di alam mimpi. Jarinya yang kurus dan lembut menyentuh kehangatan permukaan kulit Akram, dan membuat Akram membeku seketika, dipenuhi keterkejutan.


Perempuan ini tidak pernah mau menyentuh dirinya sebelumnya, Elana selalu berbaring diam dengan tubuh kaku, menolak untuk memberikan tanggapan apapun atas cumbuannya. Bahkan ketika Akram sedang bercinta dengannya, hanya sekedar untuk memeluk punggungnya yang telanjang pun, Elana tidak mau. Akram  selalu memperhatikan bahwa tangan Elana selalu mencengkeram sprei di bawahnya, memejamkan mata erat-erat seolah berdoa supaya semua itu cepat berakhir.


Tangan Akram bergerak, menggenggam jari jemari Elana, lalu membawa jari mungil itu ke bibirnya, memberinya kecupan lembut.


"Kalau kau berpikir ini hanya mimpi, maka teruskanlah, anggaplah ini hanyalah mimpimu, Elana," Akram mendekatkan bibirnya untuk mengecup bibir Elana lembut, tidak sabar untuk menenggelamkan dirinya ke dalam kehangatan tubuh Elana yang bisa memuaskannya.


 



 


Ketika dini hari telah menjelang ditandai dengan memudarnya warna gelap di pucuk langit serta bergesernya bulan menuruni kaki langit untuk masuk ke peraduan, Akram yang baru saja mandi melangkah naik ke atas ranjang di sebelah Elana, dengan hanya mengenakan jubah tidurnya yang berwarna gelap.


Tangannya bergerak meraih berkas-berkas di dalam map tebal di meja samping. Berkas-berkas itu telah disiapkan dan disusun oleh Elios dengan rapih atas permintaannya. Tetapi beberapa detik mencoba membaca berkas itu, Akram sadar bahwa dirinya tidak bisa berkonsentrasi. Kehadiran tubuh hangat yang mungil di sebelahnya seakan meneriakkan eksistensinya, membuat Akram teralihkan perhatiannya.


Tatapannya lalu berpaling ke arah Elana, yang tertidur dengan posisi tertelungkup tertutup selimut. Kulit punggungnya yang lembut dan telanjang tampak jelas, tertutup sebagian oleh selimut putih yang membungkus tubuhnya seperti kepompong. Akram telah membuat Elana kelelahan beberapa jam terakhir ini, hingga ketika dirinya membebaskan perempuan itu, tidak perlu menunggu lama, tubuh Elana langsung lunglai dan perempuan itu tenggelam dalam tidurnya.


Akram tidak bisa menahan diri untuk menyentuhkan jemarinya ke ujung hidung Elana, ekspresinya melembut ketika melihat Elana mengerutkan kening, seolah sentuhan itu mengganggunya.Kemudian, dengan pertahanan diri yang kuat, Akram menarik tangannya sebelum dia tidak bisa menguasai diri lalu meraba tubuh Elana kemana-mana.


Meskipun gairahnya masih cukup kuat untuk menyentuh Elana lagi, Akram tidak bisa melakukannya. Jam lima pagi nanti, helikopter sudah menantinya untuk membawanya kembali ke ibukota karena masih banyak pekerjaan penting menunggunya. Dirinya bahkan sudah mandi air dingin di pagi buta nan membekukan, hanya untuk memadamkan gairahnya yang menggelora seolah tak pernah padam, padahal sudah berkali-kali dia mencapai kepuasan atas tubuh Elana sebelumnya.

__ADS_1


Akram menggerakkan tangan untuk menyalakan lampu baca di sisi ranjang, memusatkan matanya pada berkas di tangannya. Berkas-berkas itu adalah seluruh laporan mengenai kehidupan Elana sejak dia dilahirkan sampai dengan sekarang, menyangkut tanggal lahir, foto-foto masa kecilnya dan segala hal yang berhubungan dengannya. Akram memerintahkan Elios untuk menghapuskan berkas ini sampai tidak tersisa, supaya dia bisa sepenuhnya menghapuskan jejak Elana dari dunia ini, tetapi sebelumnya, Akram memutuskan untuk memeriksa kembali kalau-kalau ada sesuatu yang bisa dia simpan untuk dia gunakan di masa depan.


Dengan cepat Akram membaca sekilas berkas-berkas itu. Kemampuan otaknya yang jenius membuatnya mampu membaca cepat dan langsung menghapal apa yang sedang dibacanya di luar kepala. Akram telah mengetahui seluruh riwayat hidup Elana berikut semua informasi penting mengenai perempuan itu, mengenai tanggal lahirnya, mengenai nilai-nilainya yang mengagumkan di sekolah, bahkan mengenai catatan riwayat kesehatan Elana di panti asuhan tempatnya dibesarkan.


Akram melewati berkas-berkas yang dia anggap tidak penting dan memutuskan untuk memusnahkannya. Semakin lenyap seluruh bukti tentang kehidupan perempuan itu di dunia, semakin Elana tidak memiliki kekuatan untuk melepaskan diri darinya. Tetapi kemudian, gerakan tangannya terhenti ketika matanya menangkap gambaran sebuah foto kecil yang menampilkan wajah Elana yang masih remaja. Sepertinya foto itu diambil ketika kelulusan sekolah menengah atas Elana, sebelum perempuan itu memutuskan untuk hidup mandiri dan meninggalkan panti asuhan yang membesarkannya.


Akram tahu jelas bagaimana kehidupan penat yang dilalui oleh Elana sampai dia tumbuh dewasa, perempuan itu sejak bayi berada di panti asuhan, tanpa orang tua yang bersedia bertanggung jawab atas keberadaannya. Elana bekerja keras di panti asuhan begitu dia cukup dewasa. Perempuan itu bekerja ganda, bersekolah di siang hari dan melakukan segala pekerjaan rumah tangga di panti asuhan, memasak untuk adik-adiknya yang lebih muda darinya, membersihkan rumah, mencuci pakaian penghuni panti asuhan, bahkan sampai dengan mengurus kebun kecil di halaman belakang panti asuhan. Begitu Elana lulus dari sekolah menengah atas, dia memutuskan untuk hidup mandiri, merantau ke kota, tinggal di rumah kontrakan kumuh dan melakukan pekerjaan kasar seperti menjadi kasir dan pembersih toilet.


Tatapan mata sendu dan gurat kelelahan di wajah yang terpampang pada foto anak remaja perempuan di depannya itulah yang membuat Akram terpaku. Jemari Akram bergerak menelusuri foto itu dan benaknya seolah diremas oleh pemikiran ironis mengenai betapa bertolak belakangnya hidupnya dengan hidup Elana. Mereka berdua saat ini sama-sama sebatang kara tentu saja, tetapi kehidupan Akram sangat jauh lebih baik dibandingkan dengan Elana. Akram dilahirkan sebagai tuan muda dari sebuah keluarga kaya aristrokat berdarah bangsawan yang sangat dihormati. Orang tuanya memiliki pengaruh yang sangat besar baik di bisnis legal maupun bisnis ilegal yang tersembunyi dalam bayang-bayang kekerasan dunia malam. Dan Akram menjadi sebatang kara ketika kedua orangtuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan kapal pesiar yang mereka gunakan dalam bulan madu kedua mereka setelah ayahnya memutuskan untuk pensiun dari segala pekerjaan duniawi dan ingin menghabiskan masa tuanya dengan berlayar ke seluruh penjuru dunia dengan kapal pesiar mewah milik keluarga mereka.


Akram memang ditinggalkan sebatang kara, tetapi dia ditinggalkan dengan kekuasan besar dan kekayaan melimpah yang tak akan habis meski dihambur-hamburkan seumur hidupnya, itu pun masih ditambah dengan berbagai warisan aset dan bisnis yang terus bertambah nilainya. Mengenai kekayaan, uang dan kebutuhan hidup, Akram tidak pernah merasakan bagaimana berkekurangan, dia selalu mendapatkan apa yang diinginkannya, baik itu benda maupun pemujaan buta dari orang-orang. Karena itulah, ketika membaca tentang informasi riwayat kehidupan Elana yang berhasil dikumpulkan dengan begitu lengkap, Akram merasakan sedikit rasa bersalah akan kerasnya hidup Elana sebelum bertemu dengannya.


Akram meletakkan seluruh berkas itu di meja samping ranjang, memutuskan menyimpan foto remaja Elana dan memusnahkan yang lainnya. Matanya kembali terarah kepada Elana yang masih tertidur pulas kelelahan, tampak rapuh tanpa pertahanan diri sedikit pun yang tersisa.


Bersamaan dengan itu, pintu ruangannya diketuk, membuat Akram menipiskan bibir dan memaksa dirinya bangkit dari ranjang. Dengan langkah tegas dia melangkah menyeberangi ruangan besar di lantai tiga vila tersebut dan membuka pintu, membuatnya langsung berhadapan dengan Elios yang telah memakai pakaian kerja lengkap di depannya.


Elios sudah bangun sejak beberapa jam yang lalu. Kalau boleh dikatakan, dia tidak bisa dibilang tidur nyenyak malam ini. Ketika Akram memutuskan secara impulsif bahwa dia ingin membatalkan semua rencana malam ini dan pergi ke villa untuk menemui Elana yang telah dipaksa menjadi wanita simpanannya, Elios dan seluruh pegawai Akram yang lain pontang panting untuk mewujudkan apa yang diperintahkan oleh Akram kepada mereka. Elios bahkan begitu gelisah malam ini, takut kalau-kalau dia kesiangan dan tidak tepat waktu bersama Akram untuk kembali ke ibukota pagi ini. Hari ini ada jadwal pertemuan penting dengan gubernur dan perwakilan pemerintahan, menyangkut kerjasama sewa lahan untuk kepentingan ekspansi kerajaan bisnis Akram. Pertemuan itu sangat penting karena melibatkan transaksi modal yang sangat besar dan membuat janji dengan pejabat pemerintahan membutuhkan birokrasi berbelit yang memakan waktu lama. Jika sampai pertemuan yang satu ini sampai dibatalkan, akan membuang banyak dana dan energi bagi mereka di kemudian hari.


Dan di pagi buta, Elios sudah siap, tetapi dia akhirnya menghabiskan beberapa lama untuk mondar-mandir di depan pintu Akram, antara takut dan ragu mengganggu Akram yang sedang memuaskan kesenangannya di dalam sana. Tetapi, setelah dia melirik jam tangannya dan tahu bahwa mereka harus benar-benar berangkat kalau tidak mau terlambat, Elios akhirnya memberanikan diri mengetuk pintu kamar Akram.


Begitu dia berhadapan dengan Akram, atasannya itu terlihat baru selesai mandi, dengan rambut basah dan jubah mandi berwarna gelap yang dikenakannya.


"Musnahkan itu semua tanpa sisa. Aku akan siap beberapa menit lagi." setelah mengucapkan perintahnya dengan nada tegas, Akram kembali membanting pintu itu menutup di muka Elios.


 



 


Ketika Elana membuka mata, cahaya terang sudah memenuhi kamar, merambat masuk melalui jendela besar yang ada di atas ruangan. Elana mengerutkan kening ketika merasakan seluruh tubuhnya terasa kaku dan tak nyaman. Dia menggeliat, membuat selimut putih yang menutupi dirinya melorot sampai ke pinggang.


Elana  langsung merasakan semburan rasa dingin menyentuh permukaan kulitnya dan dia langsung menunduk, membuka mata lebar ketika menyadari tubuhnya yang telanjang.


Matanya berkerut ketika dia berusaha mengembalikan seluruh kesadaran dan ingatannya yang berkabut. Terbayang kelebat wajah Akram yang begitu dekat di atasnya dalam selubung kegelapan, lalu lelaki itu menyentuhnya dan bercinta dengannya dengan nafsu yang seolah tak tertahankan.


Elana menyentuh permukaan kulitnya yang penuh dengan bekas-bekas merah, jejak yang seolah ditinggalkan oleh Akram untuk menandai Elana dengan sengaja semalam. Matanya langsung memandang ke sekeliling dengan waspada, dan hatinya dipenuhi kelegaan ketika tidak menemukan siapapun di sana.


Jika semalam bukan mimpi, kenapa sekarang Akram tidak ada di sini?

__ADS_1


Pintu ruangannya diketuk dan terdengar suara Bibi Ana, kepala pelayan di vila ini yang meminta ijin untuk masuk. Elana langsung menarik selimut untuk menutupi tubuhnya sampai ke dada dan barulah dia memberikan ijin.


Pintu terbuka dan Bibi Ana masuk sambil membawa senampan penuh sarapan yang khusus diantarkannya untuk Elana.


"Selamat pagi, Nona Elana. Maafkan saya yang terlambat mengantarkan sarapan. Saya mendapatkan instruksi langsung dari Tuan Akram untuk membiarkan Anda tertidur sampai puas dan tidak menggangu Anda sampai jam sepuluh siang."


Elana melebarkan mata, bertanya dengan ragu pada Bibi Ana untuk memastikan.


"Apakah... apakah Tuan Akram ada di sini semalam?"


Bibi Ana menganggukkan kepala, tatapan matanya tampak bingung ketika menangkap bahwa Elana tidak menyadari kehadiran Tuan Akram semalam.


"Anda tidak menyadarinya? Tuan Akram tiba hampir tengah malam dan beliau menghabiskan waktunya di kamar ini dan baru pergi ketika fajar tadi."


Pipi Elana langsung merah padam menyadari pesan tersirat dari kalimat Bibi Ana. Seluruh pegawai di villa ini tentu tahu bahwa Elana adalah perempuan yang disimpan oleh Akram di vila ini sebagai pemuas nafsunya. Jadi, jika Akram melewatkan malamnya di tempat ini, tentu saja tujuannya untuk memuaskan nafsunya terhadap Elana. Karena itulah, merupakan hal yang aneh jika Elana sampai tidak menyadari kehadiran Akram di tempat ini semalam.


Lagipula... apa yang sebenarnya ada di benak Akram? Kenapa lelaki itu datang bukan di akhir pekan, tengah malam dan kemudian pergi lagi pagi-pagi sekali? Jika memang Akram datang hanya untuk memuaskan nafsunya, bukanlah lelaki itu memiliki kekasih-kekasih yang tak terhitung banyaknya yang siap melayaninya dengan sukarela di luar sana?


 



 


Suara ketukan di pintu ruang kerjanya membuat Akram mendongakkan kepala dengan ekspresi masam, dia kemudian mengalihkan matanya yang tadinya masih terarah pada cetak biru untuk detail konstruksi pembangunan gedung bertingkat yang direncanakan menjadi kantor cabang terbaru mereka.


Tanpa bertanya pun, Akram tahu siapa yang berada di balik pintu itu. Hanya Elioslah yang berani mengetuk pintunya di saat Akram jelas-jelas mengatakan bahwa dirinya tidak ingin diganggu. Elios tidak akan mengusiknya kecuali terdesak, karena itulah Akram langsung memberikan perintah supaya Elios masuk ke ruangannya.


"Ada apa?" Akram langsung bertanya, mengerutkan kening ketika melihat ekspresi Elios yang gelisah.


"Tuan Akram.... Nona Michaela, dia datang untuk menemui Anda. Sekarang dia sedang menunggu bersama manajernya di ruang tunggu VIP yang telah disediakan...."


 




__ADS_1



__ADS_2