Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 48 : Dilema


__ADS_3


Tubuh Elana seakan terpaku di tempat, tak bisa digerakkan. Ada rasa ngeri yang terasa ngilu merayapi sepanjang tulang belakangnya dan membuat bulu kuduknya berdiri. Lalu, logam dingin itu terasa menempel di lehernya, terasa menggigilkan ketika sisi tajam dari pisau yang berkilat itu menggesek permukaan kulitnya dengan sentuhan seringan jaring laba-laba. Pisau itu menggores kulitnya, menimbulkan nyeri tipis yang sakit tak terperi yang langsung mendera tubuhnya.


Elana mengerutkan kening dan tubuhnya gemetaran ketika menyadari sebuah lengan ramping tetapi kuat tengah melingkari tubuhnya, menahannya keras supaya tidak bisa bergerak. Lalu, sosok di belakangnya bergerak semakin dekat dan dekat hingga hawa panas dari tubuhnya menempel di punggung Elana, sementara uap hangat dari napasnya yang terhembus perlahan, terasa menggelitik di sisi telingannya.


Suara lembut nan menggoda terdengar kemudian, bagaikan senandung requirem kematian dari sang malaikat pencabut nyawa yang dia bisikkan ke telinga manusia-manusia sekarat sebelum dia mengayunkan sabitnya untuk memanen nyawa.


"Sudah kubilang, bukan? Aku akan menemukanmu, Elana," bisikan itu terdengar familiar sekaligus mengerikan.


Dengan gemetaran melanda yang semakin tak terkendali, Elana memaksakan lehernya yang kaku ketakutan untuk menolehkan kepala, mencari tahu sumber jawaban dari rasa penasarannya.


Matanya membelalak ketika menemukan sosok tampan yang tampak lemah, tetapi saat ini sedang menyeringai ke arahnya dengan senyuman gila tak terkendali.


Xavier!!


***



***


Elana membuka mata ketika kengerian yang hampir meledakkan jantungnya itu berhasil memaksa kesadarannya untuk naik ke permukaan dan membuatnya terbangun dari mimpi buruk yang mengerikan.


Terduduk di atas ranjang, Elana merasa dadanya sesak kehabisan udara, membuatnya tersengal ketika menghirup napas dengan panik, berusaha memasukkan oksigen sebanyak-banyaknya ke dalam rongga dadanya.


Nuansa kamar itu masih gelap, tanpa ada cahaya matahari yang menembus kisi ventilasi berlapis kaca tebal di bagian atas dinding dekat atap, menunjukkan kalau fajar bahkan belum datang menyapa langit. Keringat dingin menetes di dahi Elana, dan rasa ngeri ketika mimpi yang begitu jelas itu terbayang kembali, Elana begidik ketakutan sambil memeluk selimut di dadanya dengan begitu erat.


Mungkin berkas-berkas yang ditunjukkan oleh Akram kepadanya tadi, juga cerita mengenai kekejian Xavier yang melengkapi, ternyata tersimpan sebagai memori mengerikan pada alam bawah sadar di otak Elana, sehingga ketika Elana memejamkan mata dan larut di alam mimpi, memori itu menggeliat bangun, untuk kemudian menyusup ke dalam mimpi indah Elana dan mewujudkan diri sebagai sosok mimpi buruk paling mengerikan....


Elana mengerjapkan mata, mengembuskan napas panjang beberapa kali setelah dia berhasil menguasai diri dan menetralkan napasnya. Tenggorokannya terasa kering kemudian, membuat Elana memutuskan untuk menyibakkan selimutnya dan melangkah turun dari ranjang untuk mengambil air minum.


Sejenak, ketika kakinya menjejak karpet bulu tebal yang terbentang hampir memenuhi seluruh sisi kamar, Elana memandang kebingungan ke segala penjuru mencoba mencari tahu, dimanakah dirinya berada saat ini.


Ini di kamar Akram.


Setelah menyadari nuansa gelap dan luas kamar yang berbeda dengan kamarnya, Elana menyadari bahwa ini adalah kamar Akram. Semalam, di ataa sofa besar yang menjadi ruang tamunya, lelaki itu mewujudkan seluruh perkataannya untuk mengajari Elana berbagai macam hal yang akan memerahkan pipi jika diingat kembali, hingga akhirnya Elana terlalu kelelahan untuk bisa mengingat dengan jelas. Dia bahkan tidak ingat bagaimana Akram mengangkatnya sehingga dia bisa berakhir di tempat tidur lelaki itu.


Elana menggelengkan kepala untuk menyingkirkan pikiran berkabut yang memberati kepalanya, lalu melangkah kesudut ruangan yang diketahuinya terdapat minibar kecil dimana terdapat juga botol air mineral kemasan untuk diminumnya. Perlahan Elana mengambil satu air minum kemasan yang tersedia, lalu menenggaknya dalam beberapa tegukan besar untuk membasahi tenggorokannya yang kering dan sakit.


Ketika Elana meletakkan botol airnya yang telah tandas, sebuah gerakan terdengar berasal dari arah tempat tidur.


"Ada apa?"


Sebuah suara parau laki-laki yang terbangun paksa dari lelap terdengar tiba-tiba dari samping Elana, membuat Elana terperanjat dipenuhi keterkejutan.


Elana menolehkan kepala dan mendapati Akram telah terbangun. Mata Lelaki itu masih tampak berkabut, seolah-olah dia belum bangun benar dari tidurnya.


"A...aku sedang minum," Elana menelan ludah sebelum menjawab, memutuskan untuk tidak menceritakan tentang mimpi buruknya pada lelaki itu.


"Oh," lelaki itu seolah lambat mencerna jawaban Elana karena memberikan jeda sesaat sebelum kemudian bertanya kembali. "Sudah? Minumnya?"


Elana mengangguk cepat lalu memberikan jawaban lemah, "Sudah,"


Akram tanpa diduga menepuk-nepuk sisi ranjang, tepat di bawah lengannya, dekat dengan peluknya.


"Kalau begitu, kemarilah. Hari masih begitu pagi dan langit masih gelap. Kita bisa tidur sedikit lebih lama sebelum bersiap berangkat bekerja," tawarnya lembut, tetapi tentu saja tersirat nada menuntut yang ta menerima penolakan dalam suaranya.


Elana sebenarnya ingin menolak tawaran Akram untuk kembali ke tempat tidur bersamanya. Bukan karena memang jam kerja di kantor Akram yang mengadaptasi sistem ten to five yang baru dimulai jam sepuluh siang dan berakhir jam lima sore, tetapi lebih karena Elana takut Akram akan menyerangnya kembali dan memuaskan nafsunya sampai Elana benar-benar kehabisan tenaga.


Akram seolah bisa membaca apa yang bergolak di dalam pikiran Elana, Lelaki itu menipiskan bibir, kemudian kembali menepuk sisi ranjang untuk mengundangnya.


"Kemarilah. Aku hanya akan memelukmu dan tidur kembali. Aku ada pertemuan penting pagi ini dan kau juga harus bekerja. Semalam, aku telah terus menerus menyentuhnu dan tak membiarkanmu tidur sampai beberapa waktu lalu. Jadi, aku tahu bahwa kita berdua butuh beristirahat," janjinya dengan nada serius.


Sejenak, Elana meragu. Ingin rasanya dia kembali ke kamarnya dan tidur sendiri saja daripada mengambil risiko dengan Akram. Tetapi, ingatan tentang mimpi buruknya yang terjadi barusan membuat Elana begidik kembali dan dipenuhi ketakutan yang langsung nenerornya seketika.


Mungkin dengan berada di dekat Akram, dia bisa merasa lebih aman tak tidak mimpi buruk lagi...


***



***


Elana menyeret kakinya kembali ke ranjang, lalu naik ke sisi kosongnya dan berbaring di sana. Akram secara alamiah -seolah sudah sering melakukannya hingga ratusan kali- langsung melingkarkan lengannya ke tubuh Elana dan mendekatkan Elana ke pelukannya hingga Elana berbaring miring menghadapnya\, berbantalkan lengannya dengan wajah merapat di dada Akram.


Pipi Elana menempel di permukaan dada Akram yang terbuka. Kulit menyentuh kulit dan kehangatan tubuh Akram yang begitu dekat terasa menenangkan. Elana kemudian menghela napas panjang, memejamkan mata dan berusaha untuk tidur.

__ADS_1


Tak lama kemudian, dirasakannya dada Akram sudah bergerak naik turun dengan tenang, pertanda bahwa lelap telah melingkupinya lagi.


Sementara itu, Elana tetap berbaring di pelukan Akram sampai beberapa lama, mencoba untuk tidur tetapi masih kesulitan meraih mimpi. Lalu, di tengah keheningan yang membentang dari dalam kamar nan temaram itu, terdengar suara gemeretakan gigi dari Akram, yang membuat Elana segera menjauhkan tubuh sedikit, lalu mendongakkan kepala untuk menatap lelaki itu dengan terkejut.


Akram yang saat itu sedang tidur terlentang dengan sebelah lengannya merangkul Elana, sungguh tampak jauh berbeda ketika tidur dibandingkan dengan ketika lelaki itu sadarkan diri. Saat matanya terbuka, secara alamiah Akram seolah menebarkan aura mengerikan penuh ancaman kuat, membuat siapapun yang harus berdekatan dengannya menjadi segan dan ketakutan. Berbeda dengan ketika lelaki itu tidur, seluruh pertahanan yang membentenginya seolah dilepas, membuat Akram tampak begitu rileks dan tak berdosa. Juga, mata yang terpejam itu menutup akses ke bola matanya yang begitu tajam seolah menembus jiwa, membuat Akram tak menakutkan lagi.


Suara gemeretak gigi yang beradu itu pun terdengar kembali, kali ini terjadi tepat ketika Elana sedang menatap Akram serta memperhatikannya. Lelaki itu tampak membuat gerakan mengunyah dengan mengadu gigi-gigi gerahamnya, padahal sudah tentu tidak ada yang dikunyah di dalam mulutnya.


Apakah Akram memiliki kebiasaan menggemeretakkan gigi ketika tidur? Mungkin selama ini Elana tidak menyadarinya karena dia sudah terlalu kelelahan ketika tidur bersama Akram?


Tiba-tiba Elana mendapatkan sebuah ide di kepalanya, dia menelan ludah, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Akram dan berbisik perlahan.


"Salmon panggang," itu adalah menu yang dilihatnya sering dipesan Akram untuk makan siangnya, Elana berbisik dengan suara tegas, berusaha untuk menembus alam mimpi Akram.


Tak disangka Akram menanggapi, menggemeretakkan gigi kembali seolah mengunyah sesuatu.


Elana menipiskan bibir menahan senyum, lalu dia mencoba lagi.


"Steak sapi," bisiknya.


Senyumnya melebar ketika Akram menggemeretakkan gigi lagi, hampir saja Elana terkikik geli kalau dia tidak segera sadar bahwa tawanya bisa saja mengganggu tidur lelap Akram.


Benak Elana berputar mencari menu-menu aneh lain yang terlihat sering dipesan Akram. Karena tidak tahu nama-namanya makanan aneh itu, Elana akhirnya menyerah. Berikutnya, ketika berbisik lagi, Elana membisikkan nama makanan kesukaannya sendiri yang terlintas begitu saja di otaknya.


"Es krim dan cake stroberi,"


Seketika Akram mengerutkan kening dengan ekspresi muak yang nyata meskipun matanya terpejam. Lelaki itu bahkan tidak menggemeretakkan giginya lagi, membuat Elana menyadari bahwa Akram benar-benar tidak menyukai makanan manis.


Elana menutup mulutnya dengan tangan untuk menahan tawa geli yang hendak terlompat dari mulutnya, dia menghentikan kegiatan konyolnya mengganggu Akram yang sedang lelap, lalu bergelung lagi, menempel ke tubuh Akram, menyerap kehangatan lelaki itu serta mencari kenyamanan di sana, berbantalkan lengan dan dada Akram yang terbuka.


Secara refleks, tangan Akram bergerak kembali dan merangkul Elana merapat kepadanya, seolah hendak memberikan perlindungan bahkan di saat Elanan sedang tidur sekalipun.


Elana memejamkan mata, segala kengerian akan mimpi buruknya terusir sudah, berganti dengan rasa senang yang meringankan seluruh beban jiwa. Entah kenapa, kali ini dia merasakan kedamaian dan ketenangan hati yang berbeda di pelukan Akram.


Akram akan melindunginya. Dia akan aman jika bersama Akram. Elana memutuskan bahwa dirinya akan mempercayai Akram sepenuhnya dan meletakkan keselamatan dirinya di tangan Akram.


Sambil berpikir seperti itu, Elana makin terbuai ke alam mimpi dan tenggelam dalam tidur lelapnya yang begitu damai. Sesuatu yang telah sekian lama tak dirasakannya.


***



***


Selama beberapa waktu, lelaki itu hanya diam seolah memindai Gabriella Lalu, tanpa diduga lelaki itu menghela napas panjang, untuk kemudian berlutut di depan Gabriella dan menggunakan jemarinya yang ramping nan indah untuk menyentuh dagu perempuan itu, menengadahkannya supaya menatap langsung ke dalam matanya.


"Namaku Xavier," lelaki itu tersenyum lembut. "Maafkan aku karena semalam aku belum memperkenalkan diri dengan sopan,"


Mata Gabriella melebar ketika kelembutan lelaki yang memesona itu membuat napasnya tanpa sadar berubah terengah tak terkendali.


Jantung wanita mana yang tak akan berdenyut kencang tanpa kendali ketika ditatap sedekat ini dan dihadiahi sikap penuh kelembutan dari sosok sempurna yang layaknya perwujudan adonis sesungguhnya di dunia nyata?


"Kau... kau menemuiku semalam? Bagaimana bisa aku berakhir di sini ...." suara Gabriella tersekat ketika rasa sakit memukul kepalanya kembali, menciptakan nyeri kuat yang berdenyut di pusat sarafnya. Belum lagi, tubuhnya yang basah kuyup membuatnya menggigil dan tak nyaman.


Xavier berdecak menatap kondisi Gabriella, lalu dia memberi isyarat dengan tangannya ke arah anak buahnya.


"Ah, maaf sungguh akomodasi kami tak sopan dalam menyambut tamu," bisiknya lembut, masih dihiasi senyum ke arah Gabriella.


Tetapi, ketika matanya menoleh ke arah anak buahnya, kilat mengerikan yang menunjukkan sifat aslinya muncul di sana. "Ambilkan Nona cantik ini handuk untuk mengeringkan tubuhnya dan pakaian ganti. Jangan lupa berikan aspirin untuk meredakan hangovernya," setelah memberikan perintah, perlahan Xavier beranjak dari posisinya berlutut, lalu melangkah mundur.


Sikapnya elegan tanpa cela, tapi jika ditatap dengan jeli, ada seberkas rasa jijik di ekspresinya melihat kondisi Gabriella yang acak-acakan setelah teler karena alkohol, mengalami hangover ketika bangun dan saat ini dalam kondisi basah kuyup yang membuat make up tebalnya luntur tidak karuan.


"Silahkan membersihkan diri dan berganti pakaian, Nona. Aku akan menunggu di ruang makan. Anak buahku akan mengantarmu ke sana ketika kau sudah siap. Sarapan dan minuman hangat akan disiapkan untukmu di sana," Xavier membuat gerakan membungkuk ala pelayan dengan sikap setengah menggoda ke arah Gabriella, lalu membalikkan tubuh dan meninggalkan ruangan.


Sementara itu Gabriella masih terpaku menatap pintu yang tertutup di depannya. Keterpesonaan masih melingkupi dirinya, membuat jiwanya melayang oleh harapan.


Apakah kesialan yang melingkupi dirinya setelah memancing kemurkaan Akram Night akhirnya berakhir? Lelaki tampan itu... mungkinkah dia tergila-gila pada kecantikannya dan memutuskan untuk mengentaskan Gabriella dari kelab malam kumuh itu, lalu menjadikan Gabriella kekasihnya?


Senyuman kepuasan tiba-tiba terulas di bibir Gabriella. Dilihat dari interior rumah yang megah ini dan banyaknya anak buah yang patuh pada lelaki itu, sudah pasti lelaki itu cukup kaya dan berkuasa. Gabriella sangat yakin, setelah ini dia akan berhasil kembali pada kehidupan mewahnya yang kemarin sempat meninggalkannya.


***



***


Xavier memainkan pisau di tangannya dalam keheningan yang tenang. Pisau itu terbuat dari perak murni, merupakan salah satu dari set peralatan makan mewah yang saat ini tertata dalam susunan teratur di atas meja makan, di samping piring-piring berulir emas yang ditata rapi di sana.

__ADS_1


Pisau ini mungkin hanya diperuntukkan untuk memotong makanan... tetapi, jika ditusukkan ke tubuh manusia, Xavier yakin bahwa kerusakannya akan sama fatalnya jika dia menggunakan belati nan tajam. Malah, efek kerusakannya bisa lebih fatal karena pisau yang lebih tumpul akan menyobek lebih banyak jaringan daging dan kulit, menyebabkan luka menganga tak beraturan yang akan membuat dokter kesulitan menjahit untuk menyatukannya....


Suara pintu terbuka dan anak buahnya yang memasuki ruang makan mengalihkan perhatian Xavier dari lamunan, membuatnya meletakkan kembali pisau perak itu ke posisinya semula di atas meja.


"Tuan Xavier, Nona Gabriella sudah siap," ucap anak buahnya dengan sikap sopan dipenuhi keseganan.


Xavier menganggukkan kepala, lalu memberi isyarat supaya anak buahnya membawa Gabriella masuk dan mereka ditinggalkan sendirian.


Tak lama kemudian, Gabriella melangkah masuk ke dalam ruang makan. Dengan wajah bersinar dan ekspresi segar penuh percaya diri, mengenakan gaun putih selutut yang menempel pas di lekuk tubuhnya, serta tak lupa memamerkan kaki jenjangnya nan indah. Kepalanya masih sedikit nyeri, tetapi obat yang diberikan oleh salah seorang anak buah Xavier telah meredakannya hingga terasa jauh lebih baik. Sekarang, Gabriella dipenuhi tekad untuk membuat Xavier semakin terpesona kepadanya.


Tidak ada make up untuk memoles wajahnya, tetapi wajahnya yang tanpa pulasan dia yakini sudah cukup cantik, belum lagi Gabriella mengerahkan segala keindahan tubuhnya dengan berlenggak-lenggok menggoda menghampiri meja makan.


Ekspresi Xavier tidak terbaca ketika dia bangkit dan dengan sikap sopan menarikkan kursi bagi Gabriella, lalu duduk lagi di kursinya dan mempersilahkan Gabriella menikmati sarapan.


Mata Gabriella melebar melihat menu sarapan mewah lezat yang membuat bagian dalam mulutnya terasa perih karena air liur yang menetes tanpa henti. Sejak Akram Night menghancurkan kariernya dan membuatnya bangkrut, Gabriella harus bertahan hidup dengan makanan kelas rendahan yang rasanya menjijikkan.


Sungguh saat ini Gabriella ingin melahap hidangan di depannya dengan begitu rakus. Tapi, tentu dia tak bisa melakukan itu di depan Xavier. Ditahannya nafsu makannya sekuat tenaga dan Gabriella memaksakan dirinya untuk menikmati hidangan di depannya dengan sikap elegan, seperti yang dilakukan oleh Xavier saat ini di depannya.


Mereka menikmati hidangan dalam keheningan hingga Gabriella hampir menyelesaikan santapannya. Xavier sediri tampak menunggu dengan tenang dan tidak mencoba memulai percakapan sampai Gabriella mengosongkan piringnya dan menyesap te heh hangat nan harum yang tersaji untuknya.


"Kau tentu bingung kenapa kau bisa berakhir di rumahku. Tetapi, percayalah kalau kita memiliki keterkaitan. Aku berniat memberi bantuan kepadamu, tetapi sebelumnya aku membutuhkan kejelasan mengenai seseorang yang terkait dengan kita berdua." Xavier langsung berucap ketika Gabriella meletakkan gelas tehnya.


Gabriella mengerutkan kening. Tidak bisa menahan diri untuk bertanya.


"Siapa?"


"Akram Night," Xavier langsung menjawab dengan nada tajam. "Kurasa kau telah membuat Akram Night begitu murka hingga hidupmu terperosok sampai begini malangnya, ya?" mata Xavier redup oleh sinar simpati mendalam, membuat Gabriella merasa dadanya sesak ingin merengek dan menangis manja.


Apakah Xavier merasa cemburu dan meragu bahwa kemungkinan Gabeiella masih memiliki perasaan pada Akram Night? Gabriella harus berusaha meyakinkan Xavier bahwa dirinya siap memulai hubungan baru dengan Xavier sepenuhnya dan melupakan Akram Night sebagai masa lalunya!


"Aku sama sekali tidak bersalah... dan aku juga tahu bahwa Akram sesungguhnya sama sekali tidak ingin mencampakkanku! Dia terlalu mencintaiku untuk melakukannya!" bulu mata Gabriella mengerjap dengan indahnya, mulai basah oleh air mata yang merembes turun. "Tapi penyihir itu... dia...di pasti menggunakan sihir untuk membuat Akram Night tunduk kepadanya!" dada Gabriella naik turun oleh emosi, sementara suaranya tersekat dipenuhi kemarahan yang bergolak membakar hati.


"Penyihir itu?" Xavier memiringkan kepala tampak tertarik, memancing Gabriella untuk berbicara lebih jauh lagi.


"Ya, penyihir perempuan rendahan yang miskin itu! Dia... entah bagaimana wanita rendahan itu bisa memikat hati Akram Night hingga tak waras lagi. Bayangkan!! Aku menampar perempuan cleaning service rendahan itu karena dia tak becus dan merusak gaunku. Tapi kau tahu apa yang dilakukan oleh Akram Night? Dia malah menggunakan tangannya sendiri untuk menamparku! Semua itu hanya untuk membela perempuan rendahan itu!!" wajah Gabriella kali ini memerah karena emosi, dan dadanya berombak-ombak menahan rasa marah menggelora. "Akram pasti terkena sihir! Bahkan setelahnya, Akram masih menyimpan dendam kepadaku! Menghancurkan hidup dan karirku hanya demi seorang perempuan rendahan! Padahal secara logika, kalau bukan karena sihir... bagaimana mungkin seorang cleaning service...."


"Cleaning Service?" Xavier menekankan kembali pertanyaannya dengan suara mendesak. Tangannya mengepal ketika firasat buruk mulai merayapi jiwanya. "Apakah kau yakin bahwa perempuan yang begitu berharga bagi Akram Night dan dibelanya mati-matian, hanyalah seorang cleaning service?"


"Perempuan busuk itu mengenakan seragam cleaning service! Mana mungkin aku salah?! Lalu... oh!" mata Gabriella bersinar ketika dia mengingat sesuatu yang penting. "Penyihir busuk itu memiliki nama! Menempel di dadanya! Namanya adalah Lana! ya, Lana!" Gabriella menatap ke arah Xavier penuh harap. "Kalau kau memang ingin membantuku... kau harus menemukan penyihir bernama Lana itu untukku, Xavier! Kau harus menemukannya dan membawanya kemari! Biarkan aku menghajar perempuan itu sampai babak belur sebelum menghadiahkan kematian kepadanya!"


Tangan Xavier mengepal mendengar seluruh rentetan kata-kata Gabriella yang mengganggu. Kepalan tangannya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Sementara, Xavier tampak pucat pasi dengan kening. berkerut dalam seolah menahan sakit yang amat sangat mendengarkan kenyataan yang dilemparkan oleh Gabriella kepadanya.


"Hanya aku yang boleh menghancurkan gadis kesayangan Akram Night," ketika berucap kemudian, jejak rasa sakit di wajah Xavier tiba-tiba lenyap, diganti kegilaan mengerikan yang tak disembunyikan lagi, menodai ketampanan wajahnya. "Kau, yang seorang perempuan rendahan, tidak akan mendapatkan kesempatan untuk menyentuhkan tanganmu kepadanya!"


"A... apa?" Gabriella menengadah dan menatap Xavier bingung. Perubahan sikap dan ekspresi Xavier yang tiba-tiba entah kenapa membuatnya dirayapi rasa takut. "Apa... maksud...mu?" suara Gabriella terpatah ketika secara tiba-tiba dia merasakan nyeri yang mendera dan memukul tubuhnya tanpa ampun. Rasa sakit itu membuat darahnya bergolak, hingga Gabriella seakan bisa mencium aroma amis darah yang memenuhi hidung dan mulutnya.


Gabriella refleks menggerakkan tangan menyentuh hidung dan mulutnya. Matanya membelalak ketika merasakan cairan hangat darah ternyata mengalir dari sana. Ditatapnya Xavier dengan mata membelalak takut bercampur kebingungan. Dia ingin berteriak dan bertanya, tetapi tenggorokannya penuh dengan darah yang bergolak menggelegak, hingga ketika Gabriella membuka mulut, bukannya suara yang keluar, tetapi darahlah yang tersembur.


Xavier tampak duduk dengan tenang di kursinya, mengamati Gabriella dengan ekspresi lembut nan mengerikan.


"Kau tahu, aku memiliki perusahaan yang bergerak di bidang pengembangan senjata biologis." Xavier berucap lambat-lambat dan senyumnya melebar di setiap kata yang meluncur dari bibirnya. "Selamat, Gabriella. Kau mendapat kehormatan untuk mencicipi senjata biologis terbaru kami. Para peneliti menyebutnya dengan sebutan 'racun peleleh darah', jenis obat yang tidak berbau, tidak berasa dan tidak terdeteksi, bahkan oleh seekor anjing pelacak yang paling hebat sekalipun. Karena itulah, dengan mudah bisa dicampurkan di makanan dan minuman tanpa ketahuan. Racun itu melelehkan seluruh pembuluh darah di tubuh korbannya hingga menjadi bubur.... Pada akhirnya, ketika korban menyadari rasa sakitnya.... semua sudah terlambat. Pendarahan sudah terjadi di mana-mana dan tubuh sudah rusak tak terperi. Bisa dibilang.... kau akan meleleh dan berakhir menjadi gumpalan darah busuk nan menjijikkan hingga mayatmu tak bisa dikenali lagi, " Xavier tersenyum lebar menatap mata melotot Gabriella yang memerah gelap karena pembuluh darah di sana mulai berhancuran.


"Kau... kau bilang.... akan.... menolongku....." Gabriella masih berusaha berucap seiring dengan kehancuran dan rasa sakit dahsyat yang mendera tubuhnya.


Xavier mengelap mulutnya dengan kain putih yang tersedia di meja, lalu melangkah berdiri dari duduknya. Tatapan matanya dipenuhi kekejaman dan kilasan rasa jijik yang memenuhi.


"Aku memang menolongmu. Aku menolongmu mengakhiri hidupmu yang busuk dan sudah tak ada gunanya lagi," dengan dingin Xavier berucap, lalu melangkah elegan meninggalkan ruangan. Sama sekali tak peduli dengan tubuh Gabriella yang rubuh tak berdaya, kehilangan nyawa dengan cara mengenaskan, dimana aliran darah yang menyeramkan terus mengalir bercucuran tanpa henti dari setiap pori-pori tubuhnya.


***


😱😱😱😱😱😱😱😱😱😱😱😱😱


😱😱😱😱😱😱😱😱😱😱😱😱😱


😱😱😱😱😱😱😱😱😱😱😱😱😱


***


JUST REMINDER





__ADS_1




__ADS_2