
Xavier langsung berdiri, masih dengan senyumnya yang lebar. Sementara itu, Akram bergeming, berdiri dalam jarak yang cukup jauh dengan ekspresi gelap dan mata tajam, mengawasi setiap gerakan Xavier dengan waspada.
Lima tahun Xavier menghilang sejak kecelakaan besar itu untuk memulihkan diri. Tetapi, saat ini ketika Xavier itu berada di hadapannya, lelaki itu tidak tampak menua sedikit pun.
Meskipun usia Xavier lebih tua lima tahun dari Akram, tetapi lelaki ini memiliki penampilan wajah yang jauh lebih muda dibanding usia aslinya. Makhluk licik di depannya ini selalu tampil dengan wajah menawan bagaikan malaikat tanpa dosa, meskipun di dalam jiwanya begitu hitam penuh dosa dan dipenuhi kekejaman gila layaknya iblis dari kerak neraka paling dasar.
Dengan penuh percaya diri, Xavier melangkah mendekati Akram dan baru berhenti ketika dirinya sudah berada tepat di depan Akram. Tidak dipedulikannya tatapan dingin membekukan yang dilemparkan Akram kepadanya di setiap gerakannya, Xavier malah menghadiahkan senyum secerah matahari dan mengulurkan tangannya dengan sikap ingin bersalaman yang sangat ramah.
"Apakah kita tidak seharusnya berjabatan tangan setelah lama tak berjumpa? Aku sangat senang bisa bertemu kembali denganmu, Akram. Dan aku juga berasumsi bahwa kau juga senang bertemu denganku, bukan?" Xavier masih mengulurkan tangan seolah menawarkan perdamaian, menunggu balasan jabatan dari Akram.
Tetapi, Akram sama sekali tidak memiliki niat untuk membalas uluran tangan Xavier. Tangannya bersedekap semakin kuat, sementara tubuhnya bergeming, dengan wajah semakin muram.
"Kau punya nyali juga untuk menunjukkan batang hidungmu di areaku. Apakah kecelakaanmu lima tahun yang lalu tidak memberimu pelajaran?" Akram menyahut dengan geraman dingin. Penuh ancaman.
Melihat sikap bermusuhan yang diberikan oleh Akram dengan gamblang, Xavier sama sekali tak gentar. Dengan sikap penuh harga diri, lelaki itu menarik kembali uluran tangannya yang ditolak oleh Akram, lalu kembali menyunggingkan senyumnya yang luar biasa manis.
"Aku memang membutuhkan lima tahun untuk memulihkan diri." Xavier membentangkan kedua tangannya, seolah sengaja memamerkan tubuhnya yang kembali utuh dan sempurna setelah kecelakaan itu. "Bahkan seharusnya aku masih beristirahat di sarangku demi kesehatanku. Tetapi rasa cinta dan rinduku kepadamu, adik kesayanganku, membuatku tidak memedulikan kondisi tubuhku dan memutuskan datang kemari hanya demi bisa melihat dirimu lagi."
"Kau bukan kakakku. Tidak secara darah dan juga tidak secara hukum setelah ayah memaksamu mengganti nama keluarga sebelum kematiannya." Akram menyipitkan mata dengan tatapan membunuh yang kejam. "Aku sudah muak dengan mulut manismu, Xavier. Katakan apa tujuanmu kemari dan segera pergilah dari sini," usir Akram dengan nada kasar.
Xavier terkekeh, sama sekali tidak merasa sakit hati oleh sikap galak Akram terhadapnya. Kebencian Akram terhadap Xavier sepertinya tak pernah padam, bahkan setelah lima tahun berlalu tanpa interaksi.
Sepertinya seluruh bekas yang ditinggalkannya secara mendalam di jiwa Akram telah begitu terpatri hingga tak ada lagi sisa untuk emosi yang lain. Tetapi, Xavier senang karenanya. Kebencian Akram sangat sepadan baginya. Tidak sia-sia dia menggunakan segala cara untuk merusak jiwa Akram hingga menjadi gelap dan pekat penuh luka seperti sekarang. Xavier telah bersumpah akan membawa Akram ke dalam kerusakan yang sama besar seperti yang telah diderita jiwanya, dan dia telah berhasil melakukannya.
Karena jika Akram membencinya dengan begitu besar, kebencian Xavier terhadap Akram bahkan berkali-kali lipat lebih besar lagi. Sebuah dendam lama yang dipupuk sedikit demi sedikit hingga hatinya bahkan sudah tidak mampu menampung lagi. Membuat kebencian itu merembes keluar, mengaliri setiap pembuluh nadinya, meracuni setiap sel di tubuhnya dan mencemari setiap hembusan napasnya.
"Aku datang karena mencemaskan keadaanmu. Kudengar baru-baru ini kau mengalami kecelakaan. Sebagai seorang kakak yang baik, tentu aku harus datang membesukmu, bukan?" jawab Xavier dengan ketulusan palsu yang disengaja.
Akram menggertakkan gigi. "Omong kosong. Kecelakaan itu sudah jelas disebabkan olehmu. Kau kesini untuk melihat seberapa besar kerusakan atas perbuatanmu? Maaf jika kau kecewa, tetapi aku sama sekali tidak terimbas oleh kecelakaan tersebut."
"Aku bisa melihatnya." Xavier mengawasi Akram dan sebersit rasa iri terlintas di benaknya melihat betapa tegap dan kokohnya tubuh Akram.
Akram mewarisi genetik keluarga Night dengan darah kaum perintis mengalir di tubuhnya, membuatnya secara alami memiliki tubuh tegap, tinggi dan kokoh tanpa perlu melakukan latihan berarti. Sementara dirinya, yang sama sekali tak memiliki darah Night di tubuhnya, memiliki tubuh ramping yang tak bisa dikembangkan bahkan dengan latihan berat bertahun-tahun lamanya.
Meskipun begitu, Xavier telah menguasai hasil dari pelatihan bela diri khusus yang mampu membuatnya mengalahkan musuh dengan tubuh berkali-kali lipat lebih besar dan lebih tinggi, dengan menggunakan teknik serta kemampuan ilmu bela dirinya yang sangat ahli.
Xavier selesai memindai tubuh Akram, lalu menatap lelaki itu dengan penuh provokasi. "Kau tidak kekurangan suatu apapun. Kurasa kecelakaan seperti itu kuranglah kuat untuk melukai Akram Night yang sangat tangguh," simpulnya perlahan.
"Cukup basa basi memuakkanmu. Kau sudah mendapatkan keinginanmu dengan melihatku, jadi sekarang kau sudah bisa pergi, bukan?" Akram mengerutkan dahi, merasa muak melihat sikap provokatif Xavier yang sengaja ditampilkannya untuk membuat Akram jengkel.
Xavier mengangkat sebelah alisnya. "Jangan merasa sakit hati kepadaku, Akram. Kecelakaan itu hanyalah sekedar ucapan salam dariku, untuk menyampaikan kabar kepadamu bahwa aku sudah kembali," ujar Xavier tanpa rasa bersalah.
"Orang biasa akan menyampaikan kabar lewat telepon, sedang kau menyampaikan kabar lewat percobaan pembunuhan," Akram menggeram marah. "Kau masih bajingan gila yang sama bahkan setelah sekian lama. Sebaiknya kau angkat kaki, atau aku akan memerintahkan anak buahku mengusirmu dari sini dengan kasar, tidak peduli kau telah menunjukkan niat baikmu dengan tidak membawa senjata sama sekali."
"Ah... baiklah... baiklah, kurasa kau masihlah adikku yang berjiwa gelap dan kasar yang biasanya. Aku akan pergi supaya kau tidak meledak dalam kemarahan, Xavier menyeringai, sinar matanya menyiratkan kegilaan keji yang tanpa tanding. "Meskipun aku tidak bisa berjanji bahwa kita tidak akan bertemu lagi setelah ini. Aku masih belum puas melepas rindu. Jadi, aku tidak sabar menantikan saat dimana aku bisa terlibat di jalan hidupmu nanti," ujarnya penuh ancaman yang berbalut senyuman manis.
"Enyah!" Akram membentak, hampir lepas kendali. Reaksinya itu malahan membuat seringai Xavier semakin lebar.
Xavier lalu melangkah melewati tubuh Akram yang membatu tak memberikan reaksi. Tetapi, ketika sampai di pintu dan membukanya, Xavier tiba-tiba menghentikan langkah dan menoleh kembali ke arah Akram.
"Rumor berkembang di luaran sana, bahwa Akram Night yang selalu berganti-ganti kekasih serta teman tidur seperti berganti dasi, selama tiga bulan terakhir ini sama sekali tidak terlihat memiliki kekasih yang biasanya selalu dia ambil dari kalangan kelas atas dan selebritis untuk dinikmati tanpa hati...." mata Xavier berkilat oleh tatapan mata menyelidik penuh penilaian. "Entah karena Akram Night terlalu sibuk dengan pekerjaannya, atau mungkin juga karena Akram Night telah memiliki gadis favorit dan tak ingin berganti lagi sehingga menyimpan gadis itu dalam sangkar tertutup untuk dinikmati seorang diri."
Xavier mengawasi punggung Akram dengan tatapan menilai, menyadari bahwa tubuh Akram menegang mendengar kalimatnya. "Jika tebakanku yang kedua yang benar, aku akan sangat penasaran untuk melihat langsung gadis seperti apa yang bisa membuat seorang Akram Night bertekuk lutut dan rela bersikap setia hingga tiga bulan tanpa berganti pasangan. Pasti akan terasa nikmat, jika aku bisa mencicipinya sendiri..."
Setelah mengucapkan kalimat menggantung itu, Xavier melangkah keluar meninggalkan ruangan dan menutup pintu di belakangnya, meninggalkan Akram yang masih membeku seorang diri.
Ekspresi Akram menggelap ketika hatinya berdenyut oleh rasa cemas yang langsung menyesaki dadanya. Solah-olah trauma di masa lalu yang telah disimpannya dengan begitu dalam di dasar jiwanya, menggeliat bangun lagi dan hendak meracuni seluruh pembuluh darahnya dengan ketakutan gelap yang menyiksa.
Akram mengepalkan genggaman hingga urat-urat di tangannya menonjol, lalu menyentuh kepalanya yang mulai terasa sakit dengan frustasi. Dia memejamkan mata dengan dahi berkerut dalam. Keringat dingin mulai menetes di pelipisnya ketika dirinya -dengan sekuat tenaga- berusaha membendung kenangan gelap masa lalu yang langsung datang membanjiri ingatannya.
__ADS_1
***
***
Xavier Light dulu bernama Xavier Night. Seorang anak laki-laki berusia empat tahun dengan kejeniusan di atas rata-rata yang diadopsi oleh Baron Night dan istrinya Marlene Night dengan niat baik untuk menjadikannya sebagai anak laki-laki mereka dan juga menobatkannya menjadi penerus keluarga Night selanjutnya.
Pernikahan antara Baron dengan Marlene sudah berlangsung selama sepuluh tahun, tetapi setelah segala upaya dilakukan, Marlene tak juga mengandung. Hasil pemeriksaan medis menunjukkan bahwa tubuh Marlene yang lemah membuatnya tak mampu menghasilkan sel telur sehat dengan ukuran sempurna untuk dibuahi. Sementara, Baron yang terlalu mencintai Marlene dengan seluruh jiwa raganya, tak mampu meniduri wanita lain bahkan demi alasan untuk melanjutkan garis keturunannya.
Meskipun Marlene dengan rela meminta Baron mencari wanita lain yang bisa mengandung anaknya demi melanjutkan garis darah keluarga Night, Baron bersikeras mengambil langkah sebaliknya.
Pada suatu hari, Baron membawa pulang Xavier, seorang anak yatim piatu yang diketahui memiliki kejeniusan luar biasa, dengan kemampuan otak setara anak tiga kali lipat usianya. Baron lalu memutuskan untuk mengadopsi Xavier, memberi nama keluarga Night di belakang namanya dan mengangkatnya menjadi putra mahkota yang nantinya berhak mewarisi seluruh kekuatan dan kekuasaan keluarga Night yang luar biasa besar.
Tetapi, manusia tidak mungkin bisa mendahului ketetapan takdir yang sudah ditentukan bahkan sejak sebelum manusia itu dilahirkan. Hanya beberapa bulan setelah mengangkat Xavier sebagai bagian dari keluarga mereka, Marlene tiba-tiba dianugerahi kehamilan yang tak disangka.
Ketetapan hati untuk mengangkat Xavier sebagai putra mahkota keluarga mereka pun berubah seiring dengan kebahagiaan Baron dan Marlene menyambut putra kandung, buah cinta yang mewarisi darah mereka berdua. Meskipun begitu, keduanya tetap memperlakukan Xavier dengan baik dan penuh kasih, menganggap Xavier sebagai pembawa keberuntungan, karena dengan kedatangannyalah, Marlene yang semula ditetapkan mustahil hamil, malah bisa mengandung dengan normal dan sehat.
Bagi Xavier sendiri, sebuah keluarga yang utuh untuk dirinya yang yatim piatu sangat disyukurinya. Dia mendapatkan kasih sayang melimpah dan dia tidak keberatan dengan kehadiran adik baru untuknya. Kenyataan bahwa dirinya tak lagi menjadi putra mahkota keluarga Night pun, diterimanya dengan baik.
Ketika Akram Night lahir, Xavier menjadi kakak paling protektif di dunia, menjaga dan menyayangi Akram dengan sepenuh hati, melindungi dengan segenap jiwa raganya, dan hal itu semakin menambahkan kebahagiaan pada keluarga kecil yang saling mencintai satu sama lain.
Pada saat itu, seolah-olah keluarga Night telah diberikan jalan yang terang tanpa halangan, untuk menjadi sebuah keluarga bahagia yang akan terus saling mendukung di masa depan....
Sayangnya, sekali lagi takdir membolak-balikkan keadaan. Pada saat usia Xavier sembilan tahun dan Akram empat tahun, kelompok penjahat yang mengincar anak keluarga kaya dan meminta tebusan, menculik Xavier.
Mereka salah mengiranya sebagai anak yang berharga, putra mahkota keluarga Night, dan menganggapnya sangat bernilai hingga mengajukan tebusan luar biasa besar, dalam jumlah fantastis yang bahkan bisa menghancurkan fondasi keuangan perusahaan keluarga Night sampai rubuh.
Tentu saja Baron Night menolaknya, bukan karena dia tidak mencintai anak angkatnya, tetapi lebih karena Baron Night memikirkan perusahaannya yang menyokong kehidupan puluhan ribu karyawan dan menjadi penyumbang besar stabilitas keuangan negara.
Jika perusahaan-perusahaan berpengaruh yang dikendalikan oleh keluarga Night sampai kolaps, bukan hanya puluhan ribu karyawan di bawahnya yang akan kehilangan mata pencarian, tetapi sistem perekonomian negara juga akan mengalami guncangan, yang akan berimbas pada ratusan juta warga negara yang bernaung di bawahnya.
Karena itulah, Baron memutuskan, lebih baik mengorbankan satu ikan kecil, untuk menyelamatkan jutaan ikan besar lainnya. Jadi, ketika proses negosiasi penurunan angka tebusan menemui jalan buntu, Baron merelakan Xavier dan menyerahkan semua upaya pembebasan Xavier pada pihak berwajib.
Ketika Xavier dirawat dirumah sakit, dokter mengatakan bahwa selama tiga bulan penculikannya, Xavier telah mengalami berbagai jenis penyiksaan luar biasa. Berbagai pukulan, sayatan, tendangan, dan juga tubuhnya menderita kelaparan dan dehidrasi hebat. Tubuh Xavier dibuang di parit untuk dibiarkan mati perlahan kehabisan darah. Tetapi, rupanya nasib masih menginginkan keikutsertaan Xavier di dunia ini, karena Xavier berhasil diselamatkan tepat sebelum nyawanya melayang.
Yang lebih menyedihkan, Xavier ternyata mengalami pelecehan seksual tanpa ampun tak terhitung jumlahnya dari para laki-laki penculiknya. Sebuah kekejaman mengerikan yang tidak seharusnya ditanggung oleh seorang anak kecil berusia sembilan tahun. Marlene bahkan langsung pingsan dipenuhi rasa penyesalan dan duka mendalam begitu mendengar informasi itu dari dokter yang merawat Xavier.
Xavier mengalami koma selama tiga bulan, sementara seluruh tubuhnya yang hancur, penuh luka memar, sayatan dan tulang yang berpatahan, dirawat dengan segala cara untuk membuatnya pulih kembali.
Setelah tiga bulan berlalu, Xavier akhirnya membuka mata, tubuhnya pulih, tetapi jiwanya yang rusak sudah tak bisa diperbaiki lagi.
Pada awal kepulangannya ke rumah, Xavier menolak berbicara, hanya mematung dengan tatapan kosong seperti cangkang tanpa nyawa. Tetapi, tanpa menyerah, Marlene merawat Xavier dengan penuh kasih, terus berjuang demi kesembuhan mental Xavier, bahkan sampai mengabaikan Akram, anak kandungnya sendiri.
Seiring berjalannya waktu, mental Xavier tampaknya tersembuhkan, anak lelaki itu memang menjadi lebih pendiam, tetapi dia tampak mulai menyesuaikan diri dengan kehidupan dan melupakan traumanya.
Sayangnya, apa yang sudah hancur tak bisa disatukan kembali, bibit-bibit kebencian kepada Akram dan kegilaan tak berujung mulai bertumbuh dalam jiwa Xavier, berkembang subur dan menguasai jiwanya. Xavier menyalahkan Akram atas kejadian penculikan yang menimpanya, membuatnya ingin membalas dendam dan juga memberikan rasa sakit yang sama.
Semula diawali dari hal-hal kecil. Apa yang disayangi oleh Akram, Xavier pasti berhasrat merebutnya. jika dia tidak bisa merebutnya, maka akan dirusaknya sampai hancur.
Baginya, jika dia tidak bisa memiliki apa yang dicintai oleh Akram, maka Akram juga tidak boleh sampai memilikinya.
Kegilaannya dimulai dari hal remeh seperti mainan-mainan Akram. Jika Akram menunjukkan ketertarikan sekecil apapun seperti lirikan mata saja, maka Xavier akan merebut dan menghancurkannya. Pada masa itu, Baron yang sibuk dengan bisnisnya jarang berada di rumah, sementara Marlene yang masih diliputi rasa bersalah, membiarkan kekejaman Xavier merajalela, hingga mengorbankan anaknya sendiri.
Xavier kemudian tumbuh menjadi anak manipulatif dan licik, tahu bahwa Marlene merasa bersalah dan memanfaatkannya sampai akhir.
Setiap dia merenggut milik Akram dan Marlene menegurnya, Xavier akan mengingatkan kembali akan peristiwa penculikan yang dialaminya. Menekankan kembali bahwa Akramlah yang sebenarnya diincar dalam penculikan itu, dan jika bukan dia yang dikorbankan untuk mengambil tempat Akram, maka mungkin Akramlah yang akan berakhir dengan nasib mengerikan seperti dirinya, disiksa dengan kekejaman tak tertandingi.
Setiap Xavier mengatakan itu, maka Marlene akan mundur dan mengalah, tak berdaya dan membiarkan Akram ditindas habis-habisan oleh Xavier.
__ADS_1
Rasa dengki Xavier yang gila bukan hanya berakhir pada mainan, buku-buku, barang-barang Akram dan benda mati lainnya. Kegilaannya lalu merambah pada makhluk hidup.
Ketika Akram memungut seekor anak kucing lucu yang hendak dirawatnya, anak kucing itu berakhir tergantung di langit-langit, tercekik di lehernya dan mati dengan mengenaskan. Ketika Baron memberikan hadiah ulang tahun ke sepuluh untuk Akram, berupa seekor anak anjing lucu yang sangat disayangi Akram, anak anjing itu berakhir mati dengan tubuh termutilasi di halaman belakang, menyisakan syok bagi pelayan yang tak sengaja menemukan mayatnya.
Selama bertahun-tahun, keluarga itu menoleransi kegilaan Xavier yang tanpa tanding. Bahkan Akram sendiri tumbuh dengan jiwa yang rusak, dia terlatih untuk tidak pernah menunjukkan ketertarikannya meskipun hanya setitik pada apapun juga pada siapapun. Karena, Akram tahu jika Xavier menemukan setitik cahaya di matanya tanda tertarik, maka Xavier akan menghancurkannya, apapun itu.
Puncaknya adalah ketika Akram remaja telah lulus dari sekolahnya. Untuk melindungi Akram dari Xavier, Baron telah memasukkan Akram ke sekolah asrama khusus lelaki, sejak Akram menginjak usia sekolah menengah. Tetapi, tentu saja Akram tidak bisa berlindung di balik tembok asrama sekolah selamanya, dia harus pulang ke rumah.
Ternyata, kepulangannya ke rumah itu membawa malapetaka besar yang membuat Baron akhirnya turun tangan terhadap Xavier....
Akram tidak bisa menahan diri untuk jatuh cinta pertama kalinya pada seorang anak perempuan teman masa kecilnya yang telah tumbuh menjadi gadis muda yang menawan. Darah mudanya bergejolak, dipenuhi oleh cinta masa muda romantis yang berwarna-warni. Keindahan pelangi jatuh cinta itu membuat Akram lengah, lupa bahwa ada didekatnya ada iblis gila yang selalu mengintainya dengan penuh kebencian.
Tak butuh waktu lama bagi Xavier untuk menurunkan tangannya yang penuh dosa dan menghancurkan wanita itu sampai berkeping-keping. Xavier menculik wanita yang dicintai Akram, memperkosa dan menyiksanya dengan keji, lalu membayar segerombolan penjahat untuk merusak tubuh perempuan itu hingga hancur tak tertolong lagi.
Ketika pertama kali sadarkan diri di rumah sakit setelah diselamatkan, perempuan itu langsung mengambil langkah bunuh diri, menggantung dirinya dengan selimut yang diikatkannya di langit-langit dan menjerat lehernya sampai mati tercekik dengan mengenaskan.
Pada saat itulah, Baron bertindak, tahu bahwa Xavier sudah tak bisa ditoleransi lagi. Kekuasaan dan uangnya memang membuat Xavier lolos dari penjara, tetapi Baron langsung memberikan sejumlah besar warisan yang menjadi hak Xavier untuk menutupi rasa bersalahnya, lalu mengusir Xavier dari garis keturunan keluarga.
Baron memaksa Xavier melepaskan nama Night dari belakang namanya secara hukum, dan membuat Xavier yang tak berdaya melawan kekuatan Baron akhirnya mengganti huruf depan nama keluarganya hingga menjadi Xavier Light. Dan mulai detik itu, Xavier tidak memiliki hubungan apapun lagi dengan Keluarga Night.
Sayangnya, meskipun Xavier akhirnya pergi, kerusakan yang ditinggalkan oleh Xavier di jiwa Akram sudah terlalu dalam. Akram telah ditinggalkan oleh cinta pertamanya dengan cara yang sungguh keji. Dan dia bersumpah tidak akan lagi menunjukkan ketertarikannya pada apapun. Terutama, dia tidak akan pernah jatuh cinta lagi, karena dia tahu bahwa Xavier tidak akan berhenti, bagaikan iblis gila yang terus mengincar dalam kegelapan.
Tahun demi tahun berlalu dan bukannya teredam, Xavier malah mengumpulkan kekuatan hingga akhirnya menjadi musuh terbesar yang selalu menghalangi jalan Akram, duri dalam daging yang tak pernah bisa dilenyapkan Akram sampai ke dasar karena terikat janji.
Bahkan sebelum kematiannya pun, ibunya masih mencintai Xavier dan dipenuhi oleh rasa bersalah. Memaksa Akram bersumpah untuk tidak membunuh Xavier apapun yang terjadi.
"Ingat Akram, kalau bukan karena Xavier, kaulah yang akan menderita akibat penculikan itu. Dia menjadi penggantimu, dia menanggung penderitaan bagimu, jika bukan karena dirinya, kau tidak akan berdiri di sini dengan kondisi sempurna seperti sekarang!"
Begitulah pesan terakhir ibunya yang selalu terngiang di benak Akram, meracuninya dengan rasa bersalah hingga kadang-kadang Akram berharap bahwa dia sajalah seharusnya yang diculik waktu itu.
***
***
Xavier melangkah terhuyung dengan tangan *** kepalanya. Begitu melangkah dari ruang tunggu VVIP tempatnya bertemu dengan Akram, para bodyguard langsung mengikutinya tanpa basa-basi, menunjukkan dengan jelas niat untuk menggiring Xavier keluar dari area ini.
Tetapi, Xavier tidak memedulikan itu semua, dengan elegan dia malahan berbelok masuk ke pintu ruang toilet karyawan pertama yang ditemukannya, menatap dingin ke seluruh bodyguard yang ada di belakangnya, hingga tak ada satupun yang berani mengikutinya masuk dan hanya menunggu berjaga di depan pintu kamar mandi.
Ketika sendirian di kamar mandi itu, Xavier kehilangan sikap elegannya. Rasa sakit yang berdentam di kepalanya semakin menggila, memukul-mukul kepalanya hingga telinganya berdenging. Xavier susah payah melangkah menuju area wastafel yang sangat luas memanjang memenuhi satu area dinding dengan kaca-kaca besar di hadapannya, lalu bersandar di sana dengan kening berkerut dalam dan keringat sebesar biji jagung mengaliri wajahnya.
Kecelakaan itu mungkin berlangsung lima tahun yang lalu, tetapi imbasnya telah meremukkan tubuhnya sampai hancur. Sejatinya, tubuh Xavier masihlah lemah dan belum sembuh benar. Pada masa ini, dia seharusnya masih harus berbaring memulihkan diri. Sayangnya, hasratnya untuk mengobarkan bendera perang kembali secara langsung di depan muka Akram telah mengalahkan logika dan kepeduliannya pada tubuhnya sendiri.
Xavier meraba sakunya dan mengeluarkan sebentuk pil berwarna putih kecil untuk meredakan rasa sakit di kepalanya, dia menelannya begitu saja tanpa air, sementara hidung dan mulutnya mulai dipenuhi aroma anyir yang pekat, pertanda darah akan mengalir melalui hidungnya.
Xavier menghela napas pendek-pendek beberapa kali dan bersabar sampai obat itu bereaksi meredakan sakit di kepalanya. Tangannya bergerak menekan pangkal hidungnya untuk mencegah pendarahan. Sementara, matanya mencari-cari tissue yang biasanya tersedia di area wastafel, tetapi tidak menemukannya.
"Maaf? Mungkin Anda membutuhkan ini?" sebuah suara perlahan di belakangnya terdengar ragu sekaligus cemas.
Xavier langsung membalikkan tubuh dengan waspada. Matanya berlabuh pada sosok perempuan petugas berseragam cleaning service yang berdiri di depannya masih membawa ember di sebelah tangannya sementara tangannya yang lain mengulurkan sekotak tissue putih bersih ke arahnya.
Xavier sama sekali tidak menyadari kehadiran orang lain di toilet karyawan ini ketika tadi dia masuk. Sepertinya perempuan itu tengah membersihkan toilet di salah satu bilik tertutup ketika Xavier masuk tadi.
Mata jernih Xavier langsung mengawasi sosok mungil di depannya. Tak ada jejak sikap terpesona dari wanita itu terhadap kesempurnaan fisiknya. Hanya ada ketulusan di sana.
Ketulusan dan kecemasan yang terpatri kental di mata tak berdosa itu menyentuh hatinya hingga Xavier akhirnya menyambut tangan wanita itu dan menerima tissue yang diulurkan kepadanya.
"Terima kasih," bisiknya dengan suara serak sambil menghadiahkan senyumnya yang paling manis.
***
__ADS_1