Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 61 : Mengalah


__ADS_3


"Selamat malam,"


Sapaan itu langsung terdengar ketika Elana membuka mata. Pandangannya langsung berhadapan dengan dada Akram yang menempel dekat dengan wajahnya. Elana berusaha mundur, tetapi tubuhnya tertahan oleh lengan kuat yang memeluknya erat, mencegahnya menjauh.


Dengan canggung, Elana mendongakkan kepala, menatap ke arah Akram yang berbaring miring memeluknya dan tengah menatapnya dengan ekspresi tak terbaca. Sekali lagi Elana berusaha menjauh karena jengah dengan kedekatan yang dipaksakan itu, tetapi tentu saja Akram tidak semudah itu melepaskannya.Tangan lelaki itu kuat tapi lembut, menghela tubuh Elana supaya kembali tenggelam di peluknya.


Berbeda dengan tatapannya tadi pagi ketika Akram menyambut Elana yang baru bangun dengan ekspresi murka dan tatapan tajam menusuk. Kali ini, meskipun ekspresinya tidak terbaca, tatapan Akram yang ditujukan pada Elana sangatlah lembut. Sikapnya juga sedikit berhati-hati seolah takut akan menakuti.


"Ini jam setengah dua belas malam, kau tidur lama sekali. Mungkin juga itu efek serum dan racun di tubuhmu yang membuatmu mengantuk sepanjang hari." Akram menggerakkan jarinya untuk mengelus pipi Elana.


Ketika dirasakannya tubuh Elana menegang akibat sentuhannya, muncul kilatan di mata Akram. Tetapi, lelaki itu tidak mempermasalahkannya dan tetap melanjutkan mengelus pipi Elana dengan lembut.


"Apakah kau tidak lapar? Kau belum makan seharian. Tadi aku ingin membangunkanmu untuk makan, tetapi kau tidur pulas sekali, jadi aku memutuskan untuk menungguimu sampai bangun," Akram berucap tenang dan tampak lebih lunak daripada biasanya, membuat Elana mengerutkan kening kebingungan.


Mungkinkah Akram Night yang jahat dan arogan ini sedang merasa bersalah kepadanya?


Seolah memberikan jawaban atas pertanyaan Elana dengan menggunakan isyarat tubuh, Akram yang biasanya selalu memaksa itu tiba-tiba melepaskan pegangannya dari tubuh Elana dan membiarkan perempuan itu bebas dari sentuhannya.


Perlahan lelaki itu melangkah turun dari ranjang dan berjalan mendekati meja telepon sambil menawarkan.


"Kau ingin makan apa? Aku akan menghubungi pihak hotel untuk...."


"Aku tidak mau makan makanan restoran manapun," Elana berucap dengan nada suara yang datar dan dingin. "Aku ingin makan mie instant. Dan karena menu itu sudah pasti tidak akan ada di restoran manapun yang akan kau hubungi, jadi... aku ingin pergi sendiri ke minimarket terdekat dan membelinya!"


Tubuh Akram terpaku, dipenuhi keterkejutan karena tak menyangka bahwa makanan rakyat jelata yang berada pada daftar nomor satu di jenis makanan paling tidak sehatlah yang diminta oleh Elana malam ini.


Ekspresinya sendiri berubah ngeri, seolah-olah tak mampu membayangkan Elana memasukkan makanan itu ke dalam perutnya. Akram tidak pernah memakan mie instant sebelumnya. Selain karena mie instant termasuk makanan tidak sehat yang dilarang untuk dikonsumsi olehnya bahkan sejak dia masih kecil, Akram juga tidak menemukan manfaat dari mengkonsumsi mie instant tersebut.


Itu sudah jelas-jelas makanan sampah, yang tidak memberikan nutrisi apapun pada tubuh, hanya memberikan rasa kenyang saja.


"Mie instant?" ulangnya perlahan, menatap Elana dengan hati-hati. "Kau tidak boleh lupa kalau kau punya gastritis, Elana! Kenapa kau malah mengisi perutmu dengan mie instant?" celanya cepat, berusaha membuat Elana mengubah pikirannya.


"Aku tak peduli. Pokoknya aku mau mie instant," Elana mendongakkan kepala dengan angkuh. Di memang tidak peduli karena yang diinginkannya saat ini adalah mencari cara untuk menentang Akram sebanyak yang dia bisa.


Akram tertegun kembali, menatap ekspresi Elana yang tampak seperti anak umur delapan tahun yang sedang berada pada fase-fase pembangkangan dan pemberontakan, merasa puas ketika sudah berhasil melawan apa yang dikatakan oleh orang tuanya.


Akram tahu bahwa dia tidak seharusnya menghadapi sikap Elana kali ini dengan sikap keras. Ketika Elana tengah tertidur tadi, Akram duduk termenung sendirian, menghabiskan beberapa jam hanya untuk mengawasi Elana yang lelap, sambil berjanji dalam hati bahwa dia akan berusaha bersikap lunak terhadap perempuan itu. Bahkan jika Elana mencoba merentangkan batas kesabarannya sampai ke titik yang paling kuat yang bisa dilakukannya, Akram sudah berjanji bahwa senar kesabarannya tidak akan mudah putus seperti yang sebelumnya.


Elana sendiri sungguh tidak membuang-buang waktu. Begitu dia membuka mata, di detik itu pula dia langsung menentang Akram.


Hubungan mereka sebelumnya telah berkembang di titik dimana mereka telah saling menghargai dan berbahagia dengan kehadiran satu sama lain. Tetapi, karena kesalahan Akram, saat ini mereka kembali lagi di titik awal yang penuh dengan permusuhan.


Salahnya. Ini semua salahnya. Andai saja dia tak lepas kendali menghadapi Elana....


Akram menghela napas panjang, berusaha membuang denyut penyesalan yang bergayut dalam jiwanya. Tidak ada gunanya menyesali masa lalu. Sekarang, dia harus fokus untuk memperbaiki segala kerusakan yang ada sebelum mereka terjerumus dalam kebencian mendalam satu sama lain yang tak bisa diselamatkan lagi.


"Baiklah, kau ingin mie instant? Aku akan menghubungi pihak hotel untuk menyediakan untukmu," Akram berusaha berkompromi, tangannya bergerak kembali hendak meraih gagang telepon.


"Tidak. Aku bilang ingin pergi sendiri ke supermarket dan membeli sendiri mie instant yang kuinginkan," Elana menyahut cepat dengan nada keras kepala, membuat tangan Akram yang telah meraih gagang telepon jadi membeku di udara.


Akram menarik napas panjang yang entah sudah keberapa kalinya, berusaha mengendalikan diri dan menumbuhkan sejumlah banyak kesabaran di dalam jiwanya.


"Kalau begitu aku akan meminta supir untuk menjemput di depan lift khusus...."


"Aku tidak mau naik mobil, aku mau berjalan kaki."


Mata Akram melebar. "Elana, ini sudah malam. Meskipun kawasan ini terletak di kawasan elite yang cukup ramai dan terjaga, berjalan-jalan di malam hari tetap saja berbahaya. Karena berjalan kaki itu tanpa perlindungan, bisa ditembak atau mudah diserang dari jarak dekat...."

__ADS_1


"Itu mungkin berlaku untukmu yang punya banyak musuh, tapi kalau untukku yang rakyat jelata ini, berjalan kaki sendirian bukanlah masalah!" Elana masih tetap keras kepala, tampak jelas ingin menggunakan segala cara untuk melawan. "Aku melihat minimarket dua puluh empat jam yang tak jauh dari tempat ini, terlalu dekat untuk ditempuh dengan mobil. Jadi, akan lebih efisien berjalan kaki daripada menggunakan mobil,"


Sekali lagi Akram menghela napas. Gerahamnya mulai mengetat akibat kemarahan merayapi jiwanya, tetapi Akram berhasil memadamkannya tepat waktu.


"Aku sudah memesankan pakaian baru untukmu, berganti pakaianlah dan aku akan mengantarmu membeli apapun yang kau mau," sahutnya kemudian dengan suara paling lunak yang bisa dia berikan.


***



***


Hujan deras langsung menyambut mereka ketika mereka berdua berdiri di pintu keluar hotel, pada bagian lobbynya yang megah itu.


Elana menatap dengan jengkel guyuran hujan yang seolah bersekongkol dengan Akram untuk menahan kepergiannya itu, sementara Akram sedang sibuk disampingnya, tampak berusaha menolak tawaran dari manager hotel yang tergopoh-gopoh mendatangi dan menawarkan mereka mobil untuk mengantar kemanapun mereka ingin pergi.


Akram menolak dengan suara tegas yang akhirnya membuat manager hotel itu menyerah lalu melangkah menjauh sesuai perintah, meskipun dari mata Elana, ekspresi manager hotel itu masih masih menunjukkan kebingungan melihat sang pemilik hotel yang lebih memilih berjalan kaki menembus hujan di tengah malam yang dingin dan basah ini.


"Dingin?" Akram bertanya dengan penuh perhatian ke Elana. Meskipun hasil lab dan juga Xavier sendiri telah mengatakan bahwa kondisi Elana akan sangat stabil setelah pemberian serum itu dan baru mulai memburuk setelah hari ketiga ketika tubuhnya menagih serum penawar lagi, tetap saja Akram tak bisa lupa kalau Elana baru saja lolos dari hipotermia akut yang menyerangnya.


"Tidak dingin, aku baik-baik saja," Elana menjawab tegas, dirinya bahkan tidak mau menoleh ke arah Akram dan memilih memandang hujan deras yang mengguyur lebat.


"Bagaimana? Tetap mau melanjutkan?" Akram mengembangkan payung di tangannya, memancing keraguan Elana sambil berharap perempuan itu mau mengurungkan niatnya.


Elana malah menjawab dengan anggukan penuh tekad, membuat Akram memasang senyum penuh ironi. Tahu bahwa dia tidak punya pilihan lain.


Dasar perempuan keras kepala.


Akram mendesah dalam hati, lalu tangannya bergerak merangkul Elana supaya merapat ke dalam naungan perlindungan payung besar bersamanya, sebelum kemudian membawa perempuan dalam rangkulannya itu berlari menembus hujan.


***



***


Minimarket dua puluh empat jam itu biasanya ramai, menyediakan kursi-kursi dan meja di bagian depannya untuk pelanggan yang ingin sekedar duduk-duduk minum kopi, merokok atau memakan snack yang baru saja dibelinya dari sana. Tetapi, malam ini, suasana cukup sepi, kontras dengan biasanya. Mungkin dikarenakan hujan deras tampaknya telah mengguyur sisi kota ini sejak sore tadi dan menahan orang-orang yang lebih memilih berlindung dalam kehangatan atap rumah.


Dengan riang, Elana melangkah melewati lorong-lorong minimarket menuju rak mie instant, sementara Akram mengikuti dengan canggung di belakang, dipenuhi ketidaknyamanan berada di tempat yang terasa asing baginya. Tentu saja ini adalah kali pertama bagi Akram Night memasuki minimarket yang ternyata penuh dengan makanan non organik dan cemilan tidak sehat.


Jika bukan karena Elana, tidak mungkin dalam seumur hidupnya Akram akan menginjakkan kaki di tempat seperti ini.


Tetapi, melihat Elana begitu riang saat memilih dari antara berbagai variasi mie instant yang hendak dipilihnya, seolah melupakan rasa syok dan kesedihan yang menggayuti sebelumnya, Akram jadi sama sekali tak menyesali keputusannya untuk setuju menemani Elana kemari.


Mata Elana masih sembab, tetapi binar yang muncul di sana ditambah lagi dengan kulitnya yang mulai merona tak pucat lagi, sungguh membuat kelegaan membanjiri Akram hingga menorehkan seulas senyum tipis di bibirnya.


"Akram?"


Suara Elana berbisik membuat Akram tergeragap dari lamunannya sendiri. Dipasangnya ekspresi paling datar sebelum kemudian dia menolehkan kepala ke arah Elana yang sudah berada di hadapannya dan menatapnya dengan serius.


"Ada apa?" sahut Akram penuh rasa ingin tahu karena Elana tak juga berbicara.


"Apakah kau membawa uang tunai? Karena di sini tidak memfasilitasi pembayaran dengan kartu kredit," Elana menoleh ke arah kasir dengan ekspresi cemas, lalu menatap kembali ke arah Akram dengan penuh harap.


Kali ini, bibir Akram tidak bisa menahan diri untuk mengurai senyum. Sekuat tenaga Akram mencegah tangannya yang tak tahan ingin bergerak mengusap rambut Elana seperti mengusap rambut anak kecil, ingin menjaga supaya nuansa hati Elana yang mulai terang ini tetap terjaga.


"Kau bisa membeli apapun yang kau mau, Elana. Tentu saja aku membawa uang," jawab Akram menahan perasaan.


***

__ADS_1



***


"Kau yakin akan memakannya langsung dari wadah styrofoam itu?"


Mereka tengah duduk di kursi-kursi kecil dalam naungan halaman minimarket tersebut. Meskipun tidak ingin memakan makanan tidak berkualitas, Akram terpaksa membeli sepotong sandwich dengan isian keju asin yang tak menggiurkan bagi dirinya sendiri karena dia tahu bahwa dia harus mengisi perutnya. Sementara itu, Elana memakan mie instant dalam wadah styrofoam berbentuk gelas yang dimasaknya benar-benar dengan cara instant, hanya dengan menuangkan air panas yang telah disediakan oleh minimarket tersebut.


"Memangnya kenapa?" Elana malah kembali bertanya sambil melahap mie dari wadah di tangannya tanpa rasa bersalah.


"Styrofoam mengandung zat karsinogen yang akan muncul dan bermigrasi ke makananmu ketika bahan styrofoam itu berinteraksi dengan panas. Sama seperti yang kau lakukan sekarang. Zat karsinogen bisa memicu kanker dan berbagai penyakit mengerikan lainnya," Akram menyipitkan mata seolah sengaja membuat Elana tak enak makan. "Styrofoam merupakan plastik yang salah satu komponennya adalah benzena yang masuk dalam 100 daftar toksikologi racun di dunia. Dia juga merupakan jenis plastik yang sulit terurai meskipun seratus tahun terpendam di tanah, dan juga tidak bisa diaur ulang seperti plastik-plastik yang lain,"


Elana mengerutkan kening mendengar penjelasan Akram yang tak perlu itu. Dia malahan sengaja menghabiskan mie instantnya dengan lahap, lalu meminum habis kuah mie instant yang hangat itu hingga menimbulkan suara seruputan keras yang membuat wajah Akram berubah masam.


Hati Elana entah kenapa merasa senang ketika berhasil membuat Akram jengkel dan tak suka. Dengan riang, dia bangkit dari duduknya, lalu membuang wadah mie instannya itu ke tempat sampah, sebelum kemudian duduk kembali ke depan Akram sambil menatap lelaki itu dengan wajah polos tak berdosa.


"Aku sudah kenyang,kenapa tak kau habiskan sandwichmu?" tanya Elana dengan sengaja, tahu bahwa Akram terpaksa membeli makanan yang pasti dianggapnya tak sesuai standar itu dan hendak menghabiskannya dengan setengah hati.


***



***


"Kau basah kuyup,"


Akram melangkah menyeberangi ruangan hotel dan mengambil handuk putih tebal nan lembut yang tersedia di rak dekat pintu kamar mandi. Hujan deras masih mengguyur dalam perjalanan pulang mereka tadi, bahkan malahan lebih deras dibanding saat mereka berangkat. Hujan itu disertai angin, sehingga membuat tubuh mereka tidak terlindungi dari hempasan airnya, bahkan meskipun mereka menggunakan payung.


Elana menerima handuk itu, lalu menggosokkan ke rambutnya yang basah. Dia sedikit menggigil ketika tubuhnya yang kuyup bersinggungan dengan pendingin ruangan hingga memberdirikan bulu kuduknya.


Hal itu tentu tak luput dari pandangan Akram sehingga dengan cepat, tangan Akram meraih tangan Elana dan dengan lembut menghelanya ke kamar mandi.


"Ayo, kita harus mandi dengan air hangat kalau tidak mau jatuh sakit,"


Gerakan Akram sangat cepat, hingga Elana tak sempat menolak. Ketika sadar, dia sudah berada di bawah shower yang menyala, diguyur air hangat yang membasahinya dari ujung kepala sampai ujung kaki.


Mata Elana melebar ketika melihat Akram yang dengan santai membuka pakaiannya yang juga basah kuyup. Lelaki itu berada di bawah shower yang sama dengan Elana, dekat sekali dengan tubuhnya.


"Tunggu apalagi? Lepaskan pakaian basahmu dan mandilah," ujar Akram dengan sambil mengangkat sebelah alisnya, seolah bingung melihat sikap kaku Elana yang membeku.


Elana menatap Akram yang telah melepas pakaiannya, pipinya merah padam dan matanya tak mampu menatap lurus, merasa malu dan canggung luar biasa.


"Kau... kau juga mandi?" akhirnya Elana berhasil mengeluarkan pertanyaan konyol itu dengan nada terbata.


Akram merapatkan Elana ke dinding, lelaki itu berdiri menjulang di atasnya, sementara tangannya tanpa meminta izin bergerak membantu Elana melepaskan pakaiannya.


"Memangnya kenapa? Kau mandi, aku mandi. Aku juga sama kedinginannya denganmu dan butuh air hangat untuk menghangatkan diri," tatapan Akram bersinar penuh arti, sedikit menggoda perempuan di depannya ini. "Aku tidak akan mengganggumu, Elana. Kecuali kalau kau memintanya," ucapnya dengan santai, membuat Elana semakin memalingkan muka dan bergerak mundur menjauh dengan panik.


Akram terkekeh dengan reaksi Elana. Tetapi, tidak seperti dugaan Elana sebelumnya bahwa Akram akan memaksanya, lelaki itu malah melangkah mundur setelah selesai membersihkan dirinya sendiri dengan air hangat.


"Aku sudah selesai. Jangan terlalu lama mandinya, gunakan air hangat hanya untuk membasuh air hujan dari tubuhmu. Nanti aku akan membantumu mengeringkan rambut di kamar sebelum kita kembali tidur sebentar. Besok aku akan menyingkirkan semua pekerjaanku dan membawamu  ke tempat yang paling kau inginkan..." suara Akram terhenti sedikit ragu. "Untuk menebus kesalahanku kepadamu," sambungnya kemudian dengan nada suara lembut penuh permohonan maaf, lalu melangkah dan meninggalkan Elana sendirian di bawah guyuran shower untuk melanjutkan mandinya sendirian.


***


 


 


***

__ADS_1


***



__ADS_2