Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 113 : Ledakan Emosional


__ADS_3


Hai Beautiful Ladies,


Ini adalah 6 dari 10 episode yang akan diupload oleh author secara bertahap mulai hari Jumat 22 November 2019 sampai dengan minggu 24 November 2019.


Untuk lolos reviewnya kapan… sekali lagi author tidak tahu. Yang pasti, author akan post 10 episode minggu ini sesuai janji. Mudah-mudahan pihak Mangatoon cepat meloloskan Reviewnya ya.


MENGENAI SISTEM VOTE MENGGUNAKAN POIN


Kalian mungkin sudah tahu sistem ranking novel di mangatoon terbaru yang akan di samakan dengan noveltoon, dimana sistem ranking didasarkan oleh POIN yang disumbangkan sebagai Vote untuk author dan karyanya ya.


Dengar-dengar, per 25 November 2019, sistem vote menggunakan POIN akan mulai bisa dilakukan di MANGATOON ( Untuk sekarang, sistem vote dengan poin baru bisa dilakukan di NOVELTOON )


Karena itu nanti setelah tanggal 25 November 2019 ketika sistem vote dengan poin di mangatoon sudah berlaku, author mohon dukungan sebanyak-banyaknya dengan memberikan POIN mu untuk vote novel Essence of The Darkness karya author ya.


Untuk 3 pemberi POIN terbanyak dalam satu bulan, akan author berikan bonus sbb :


1. Ucapan terima kasih dan pengumuman di part terbaru untuk 3 orang yang akan disebutkan tertulis


2. Giveaway tempat minum unik/tumbler dari author yang bisa ditulisin nama by request dan akan dikirim langsung ke alamat masing-masing


3. Author akan follow akun mangatoon kamu untuk Private Chat dan meminta alamat untuk pengiriman giveawaynya juga untuk menanyakan request nama tulisan di tumblernya.Pengumuman


3 Pemberi POIN terbanyak yang mendapatkan hadiah, akan diumumkan di awal bulan berikutnya.


Regadrs, AY


***



***



“Masuk,” suara Nathan terdengar tak sabar, matanya menatap ke arah pintu yang akhirnya terbuka itu dengan harap-harap cemas. Lalu ekspresinya berubah lega ketika melihat bahwa petugas dari laboratorium-lah yang datang untuk mengantarkan sendiri hasil pemeriksaan darah Elana.


Rupanya hasil pemeriksaan darah berhasil diselesaikan lebih cepat dari perkiraan Nathan, dan itu berarti bagus, karena segera setelah dia membacakan hasil pemeriksaan darah ini, Nathan bisa terlepas dari rongrongan Akram yang menuntut dan mendesaknya. Akram mungkin tak bersikap kasar, tetapi tuntutan yang ada di dalam nada suaranya yang mengintimidasi, sama saja seperti lelaki itu telah menodongkan pistol ke pelipisnya dan memberikan ancaman hukuman mati.


Jika kondisi Elana stabil dan bisa dipastikan, maka Nathan bisa melepaskan penatnya segera dengan tidur di ranjang khusus yang ada di samping ruang kerjanya di rumah sakit ini dan baru melakukan pemeriksaan kembali pada Elana esok pagi ketika visit kunjungan dokter.


“Hasil labnya sudah selesai?” Nathan tetap bertanya untuk basa basi kepada petugas lab itu meskipun dia sebenarnya sudah tahu jawabannya.


Petugas lab itu menganggukkan kepala, lalu mengangsurkan amplop hasil pemeriksaan lab ke tangan Nathan. Segera setelahnya, petugas lab itu kemudian melangkah keluar ruangan dan meninggalkan kembali Nathan bersama Akram sendirian.


Dengan dipenuhi ketidaksabaran, Akram beranjak dari duduknya, lalu berdiri di seberang meja tempat Nathan duduk dan mencondongkan tubuhnya di sana dengan sikap mengintimidasi.


“Tunggu apa lagi? Cepat buka amplopnya dan lihat hasilnya,” seru Akram dengan nada memerintah yang terdengar arogan.


Nathan menghela napas panjang, sekali lagi berusaha membuncahkan rasa sabarnya, sementara tanpa kata, tangannya bergerak untuk membuka segel amplop yang tertutup rapat itu dan mengambil kertas hasil pemeriksaan lab untuk kemudian membacanya.


Jika pemeriksaan dengan menggunakan testpack standar baru bisa digunakan 14 hari setelah pembuahan dan kadang belum menunjukkan hasil maksimal hingga 4 minggu setelah pembuahan, maka pemeriksaan darah untuk mengetahui  kehamilan ini merupakan metode pemeriksaan yang bisa dilakukan sedini mungkin sejak pembuahan terjadi. Biasanya pada 7 sampai 15 hari setelah pembuahan, test darah ini bisa menunjukkan hasil yang sangat akurat.


Ketika seorang perempuan hamil, maka hormon pertama yang diproduksi oleh tubuh adalah hormon hCG, hormon ini berperan penting dalam pembentukan plasenta dan langsung muncul ketika tubuh mulai menciptakan plasenta sebagai jalur makanan dan oksigen pada bayi.


Hormon hCG ini bisa dideteksi pada darah ibu hamil, juga terkonsentrasi tinggi pada malam hari, sehingga akan mudah terdeteksi pada urine ibu hamil yang dikeluarkan  pertama kali di pagi hari.


Tujuan dari test darah ini hampir sama dengan test urine yang menggunakan alat testpack kehamilan, keduanya sama-sama berfungsi untuk mendeteksi kadar hormon hCG yang terkonsetrasi pada tubuh. Jika alat testpack kehamilan digunakan untuk mendeteksi kadar hormon hCG pada urine, maka test darah digunakan untuk mendeteksi konsentrasi hormon hCG pada darah.


Jika hormon hCG ditemukan dalam tubuh seorang perempuan, maka hampir bisa dipastikan bahwa kehamilan telah terjadi.


Kelebihan dari test darah ini, selain bisa digunakan untuk mendeteksi kehamilan sedini mungkin, test ini juga bisa mendeteksi kadar hormon hSG dalam konsentrasi terendah sekalipun. Jika alat testpack kehamilan standar hanya bisa mendeteksi kadar hSG di urine sebanyak 50 mIu HCG/ml urine, maka test darah bisa mendeteksi kadar hSG sebanyak 5 mIu HCG/ml darah, sehingga kehamilan, dengan tanda sekecil apapun, langsung bisa dipastikan dengan mudah.

__ADS_1


Saat ini Nathan membaca laporan hasil test Elana dan alisnya terangkat sedikit, meskipun ekspresi wajahnya sama sekali tak berubah.


“Bagaimana? Kenapa kau lama sekali hanya melihat satu hasil test saja?” Akram menumpukan lengannya di meja depan Nathan, menatap lelaki itu dengan pandangan tak sabar.


Nathan meletakkan kertas itu di tangannya lalu mengangkat bahunya dengan sikap sambil lalu, meskipun lelaki itu tak bisa menahan seringaian lebar di wajahnya.


“Yah, hasilnya sesuai dugaan.”


Ekspresi Akram berubah tegang luar biasa, dan Nathan bisa memastikan, bahwa jantung Akram saat ini pasti sedang berdebar kencang memukul-mukul dadanya. Niat jahilnya untuk semakin menyiksa Akram dengan melambat-lambatkan memberi jawaban terhadap lelaki itu terasa menggelitik, tetapi sebesar apapun niatnya, Nathan berhasil memadamkannya dengan bijaksana.


Dia tahu ini adalah titik yang sangat genting bagi Akram, dan lelaki itu bisa marah besar tak terkendali kalau Nathan mempermainkannya.


Karena itulah, Nathan mengulurkan tangannya, menawarkan jabatan tangan dan ucapan selamat ke arah Akram.


“Selamat Akram. Hasil test darah sudah bisa memastikannya. Elana sedang hamil dan dipastikan mengandung anakmu.”


Reaksi Akram sungguh di luar dugaan. Tadinya Nathan mengira bahwa lelaki itu akan menjabat tangannya dengan seringai bangga dan dada yang membusung karena berhasil menunjukkan kebanggaannya telah menikahi seorang perempuan yang memang ingin dimilikinya.


Tetapi, alih-alih berbangga diri sebagai seorang laki-laki, Akram malahan termangu, menatap tangan Nathan yang terulur, lalu beralih kembali menatap ke arah wajah Nathan seolah tak percaya.


“Apa maksudmu?” tanya Akram dengan nada ragu. “Apakah maksudmu…. Elana hamil?” tanyanya kemudian seolah masih tak yakin.


Nathan mendecakkan lidahnya, memutar bola matanya kembali dengan jengkel. Dia sama sekali tak menyangka ketika menghadapi sesuatu yang berhubungan dengan Elana, Akram bisa berubah drastis dari seorang pemilik perusahaan jenius berjiwa kejam nan gelap yang tak akan segan membabat musuh-musuhnya, menjadi lelaki linglung yang bahkan kesulitan mencerna sebuah informasi sederhana sekalipun.


Tapi, pengalaman menjadi seorang ayah memang terasa menakjubkan bagi laki-laki. Apalagi bagi Akram yang telah sebatang kara tanpa keluarga semenjak usianya muda. Yah, Akram memang memiliki Xavier sebagai kakak angkatnya, tetapi kejahatan Xavier yang mengerikan selama ini, membuatnya tak pantas dipandang sebagai seorang saudara.


Karena pertimbangan itulah, Nathan membangun permaklumannya dan berusaha untuk bersikap sabar menghadapi Akram.


“Aku akan melakukan pemeriksaan lanjutan esok pagi untuk memantau perkembangan janin dan ibunya. Tetapi untuk saat ini, aku bisa memastikan bahwa Elana sedang hamil,” Nathan mengulang kembali penjelasannya, kali ini nadanya lambat-lambat supaya otak Akram yang berkabut lebih mudah mencerna kalimatnya.


“Kau bilang janin…. Berarti ada bayi di perutnya,” Akram berucap terbata, wajahnya berubah pucat.


Nathan tersenyum, memahami bahwa sahabatnya ini mulai dibanjiri oleh berbagai emosi yang bergolak di dalam dirinya sehingga menjadi bebal dan tumpul. Lelaki itu kembali menganggukkan kepala.


Sekujur tubuh Akram yang tadinya menegang langsung melemas seolah tulang-tulangnya dilolosi dari tubuhnya. Akram merosot dan jatuh terduduk di kursi yang terletak di depan meja kerja Nathan. Lelaki itu membungkukkan tubuh, menumpukan sikunya pada lututnya, sementara jemarinya bergerak menutup wajahnya.


Hening, diam, tak bergerak dan tanpa ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.


Dan Nathan juga ikut tak bersuara, diam dan menunggu hingga Akram bisa mengatasi ledakan emosi luar biasa yang dia tahu pasti, sedang membanjiri tubuh lelaki itu.


***



***


Nuansa di kamar itu gelap dan remang ketika Elana membuka mata. Dia mengerutkan kening dan langsung terkesiap ketika menyadari bahwa saat ini, dia berada di ruangan asing yang sekaligus terasa familiar untuknya.


Astaga. Lagi? Dia berada di kamar rumah sakit lagi?


Ingatan terakhirnya adalah ketika dia memuntahkan seluruh isi perutnya dengan hebat di ruang toilet perempuan restoran itu, setelahnya, begitu membersihkan semuanya dan mengusap perutnya, Elana merasakan hantaman sakit kepala yang begitu kuat hingga level mengerikan yang membuatnya langsung terhuyung dengan pandangan berputar. Jemarinya yang mencengkeram pinggiran marmer wastafel akhirnya tak bisa bertahan lagi dan Elana masih ingat pemandangan langit-langit ruangan ketika tubuhnya terhuyung jatuh menimpa karpet lantai kamar mandi.


Seseorang pasti telah menemukannya dan menghubungi Akram sehingga dirinya langsung di bawah ke rumah sakit ini.


Elana menundukkan kepala, memicingkan mata untuk melihat kondisinya dan menyadari bahwa dia sudah dibersihkan dan pakaiannya sudah diganti dengan piyama rumah sakit yang berwarna pink bergaris-garis. Sebelah tangannya juga terasa ngilu, membuat Elana seketika tahu bahwa selang infus telah dihubungkan ke tubuhnya.


Sebenarnya dia sakit apa? Tadinya dia baik-baik saja…. Bahkan sama sekali tidak ada tanda-tanda kesakitan seperti pusing, demam ataupun mual yang terjadi pada dirinya.


Atau jangan-jangan, ketika merawat Akram dan memeluk lelaki itu menggunakan metode skin to skin yang diminta oleh lelaki itu, tanpa sengaja Elana malahan tertular oleh semacam virus misterius yang juga telah menyerang Akram sebelumnya?


Dengan tangannya yang bebas Elana menyentuh dahinya sendiri, mengerutkan kening ketika dia tidak merasakan demam seperti yang dialami oleh Akram kemarin. Kepalanya juga tak terasa pusing lagi dan rasa mualnya…. Juga tak terasa lagi.


Mengingat rasa mual yang menyerang dirinya dengan hebat di restoran sebelumnya, mau tak mau ingatan Elana langsung mengarah pada bayangan sosok Akram yang memunggunginya, dengan wanita bertubuh seksi dengan gaun biru ketat yang sengaja menjatuhkan diri ke dalam pelukannya.

__ADS_1


Seketika itu juga, rasa mual yang tadinya sama sekali tak terasa, langsung membanjiri diri Elana kembali. Dia menggerakkan tangan untuk membekap mulutnya, sementara dirinya sekuat tenaga menahan rasa mual itu. Elana memaksa tubuhnya yang lemah untuk bergerak duduk sementara matanya mencari-cari dengan putus asa pintu toilet, berharap dirinya cukup kuat untuk menahan mualnya hingga sampai ke toilet kamar perawatan tersebut.


"Elana!” suara seruan Akram yang cemas dari sudut ruangan membuat Elana langsung menolehkan kepala dan baru menyadari bawah ada orang lain di dalam ruangan tersebut.


Sepertinya Akram tadi tertidur di sofa besar yang terletak di sudut ruangan, sementara nuansa remang dari lampu yang dimatikan melingkupi mereka dengan pekat sehingga Elana tidak menyadari bahwa ada Akram di ruangan ini, pun dengan Akram yang tak menyadari bahwa Elana sudah terbangun.


“Kau mau apa? Jangan duduk dulu, berbaringlah.”Akram memberi perintah dengan tegas sementara tubuhnya bergerak mendekati Elana dan dalam sekejap telah sampai di tepi ranjang. Tatapan matanya yang cemas berubah semakin pekat ketika menyadari bahwa Elana sedang membekap mulutnya menahan mual.“Kau ingin muntah?” tebak Akram dengan cepat.


Elana menganggukkan kepala, mulai panik karena rasa mualnya telah sampai di tenggorokan, menyeruak paksa hendak meloncat dari mulutnya.


“Sebentar. Tahan,” Akram meraup tubuh Elana dengan hati-hati ke dalam pelukan, lalu dia mengedikkan dagunya ke arah tiang infus Elana. “Kau bisa membawa tiang infusnya?” tanyanya perlahan dengan nada lembut luar biasa.


Kembali Elana menganggukkan kepala, menggunakan tangannya yang bebas untuk mencengkeram tiang infusnya, sementara tangannya yang lain masih membekap mulutnya.


Akram membawa Elana dengan langkah berhati-hati, berusaha menjajarkan kakinya dengan pergeseran tiang infus itu. Mereka akhirnya sampai di depan wastafel yang terletak di toilet ruang perawatan tersebut dan Akram langsung mengambil alih tiang infus itu dari tangan Elana, sementara sebelah tangannya yang lain mengusap tengkuk Elana dengan lembut, lalu menyingkirkan rambut Elana yang berjuntai dan menjaganya supaya tak terjatuh ke depan ketika Elana membungkukkan tubuhnya ke arah wastafel.


“Ayo, muntahlah,” bisik Akram lembut, mengusap tengkuk Elana pelan dan hatinya langsung terasa perih seolah ditusuk sembilu ketika kembali Elana muntah sejadi-jadinya, dan kali ini langsung dihadapannya.


***



***


Elana telah dibaringkan kembali di ranjang dan perawat telah dipanggil untuk menambahkan dosis anti mual di infusnya. Perut Elana benar-benar kosong setelah muntah yang kedua, hingga yang dikeluarkan oleh dirinya pada muntahnya yang terakhir kali tadi hanyalah cairan pekat berwarna kuning serupa kuning telur yang terasa sangat pahit luar biasa.


Perawat tersebut telah memberinya minuman dengan sedikit rasa untuk membasuh mulutnya, dan setelah sang perawat menyuntikkan obat anti mual di selang infusnya, perempuan itu langsung berpamitan kepada Elana dan Akram lalu langsung meninggalkan ruangan.


Elana menatap Akram yang duduk di tepi ranjang dengan penuh rasa malu. Tadi, lelaki itu begitu sabar mengurusnya dan membersihkannya sampai Elana puas memuntahkan isi perutnya dan akhirnya hanya bisa bersandar lemas tanpa daya ke tubuh Akram.


Sungguh garis kisah manusia kadang dibolak-balikkan dengan begitu cepatnya. Kemarin baru saja Elana yang merawat Akram ketika lelaki itu sakit, sekarang, malah gantian Akram yang merawatnya ketika dia sakit.


“Maafkan aku….”


Elana akhirnya berhasil mengeluarkan kata-kata dari tenggorokannya yang masih terasa panas dan perih, seolah terluka oleh cairan asam lambung yang ikut naik ke sana ketika dia muntah tadi.


Akram mengerutkan kening mendengar perkataan Elana. Lelaki itu sebelumnya tidak berbicara sepatah kata pun, hanya menghujami Elana dengan tatapan tajam serupa ketakjuban nan aneh dan tidak diketahui sebabnya, dan ekspresinya baru terlihat terusik ketika Elana meminta maaf kemudian.


“Kenapa kau meminta maaf? Kau tidak salah apa-apa,” sahut Akram cepat.


“Tapi…. Aku tiba-tiba sakit dan merepotkan semua orang… kau bahkan membuatku dirawat di rumah sakit, padahal kemungkinan besar sakitku ini hanyalah sakit biasa dan langsung  bisa sembuh setelah aku minum beberapa butir obat dan tidur dengan nyenyak selama beberapa lama…..karena itulah aku meminta maaf kepadamu,” jelas Elana cepat dengan suara terbata.


Akram mengawasi Elana lekat-lekat. Pemindaiannya langsung menemukan, bahwa bukan hanya suara Elana yang serak setelah muntah hebat, wajah perempuan itu juga pucat pasi dan bahkan hampir tak ada sama sekali rona yang tampak menghiasi bibirnya.


Akram mengerutkan kening ketika rasa bersalah menerpanya tanpa ampun. Diraihnya tangan Elana dan dikecupnya perlahan penuh perasaan. Ketika dia mengangkat kepalanya, matanya tampak berkaca-kaca, membuat Elana terkesiap diterpa kebingungan karena sebelumnya, dia tak pernah melihat Akram seemosional ini.


“Kau tak perlu meminta maaf apa-apa. Akulah… akulah yang seharusnya meminta maaf telah membuatmu menderita seperti ini,” suara Akram terdengar bergetar dan rasa bersalah di dalam nada suaranya begitu kental hingga menohok hati Elana.


Meskipun begitu, Elana masih juga tak mengerti. Kenapa Akram meminta maaf dan merasa sangat bersalaha kepadanya? Apakah… Apakah Elana benar-benar tertular virus Akram sehingga lelaki itu meminta maaf telah menularinya? Atau jangan-jangan, makanan yang dia makan  tadi beracun atau menimbulkan alergi baginya sehingga Akram menyesal telah mengajaknya makan di sana?


***




***



***


__ADS_1


__ADS_2