
Episode 2/6 minggu ini
***
Nathan tidak menunggu Xavier menyusulnya. Dia keluar dari kamar perawatan Sera, mengabaikan para bodyguard yang berjaga, lalu terus berjalan melalui lorong rumah sakit tersebut dan menuju ruang kerjanya yang kebetulan berada di lantai yang sama.
Lantai rumah sakit ini hanya dibuka untuk pasien VVIP dengan kemanan tingkat tinggi dan akses terbatas yang memerlukan beberapa lapis pemeriksaan untuk bisa menjangkaunya. Karena itulah, keseluruhan lorong ini sangatlah sepi, sebab pada saat ini, hanya Sera-lah yang menjadi penghuni salah satu kamar yang tersedia di sini.
Dengan sekilas pandang, Nathan melirik ke arah Xavier yang akhirnya menyusul keluar dari ruangan itu dan berjalan dengan tenang di belakangnya. Nathan lalu tak menoleh lagi, membuka pintu ruang kerjanya dan duduk di kursi besar yang ada di balik meja kerjanya, lalu menunggu.
Tak lama kemudian, Xavier masuk ke dalam ruang kerjanya dan tanpa menunggu lagi, Nathan langsung memberondongnya dengan berbagai keberatan yang ada di pikirannya.
“Dengan menerimanya sebagai asisten pribadimu, maka dia adalah pegawai Night Corporation! Entah dendam masa lalu apa yang mengikat kalian berdua, aku tak peduli. Tetapi, sekarang kau sudah keterlaluan, bukan hanya kau membakar rumahnya, kau juga meracuninya! Kau pikir Akram akan diam saja kalau mendengar ini semua?”
Nathan langsung menyemburkan kalimatnya ketika Xavier melangkah mengikutinya masuk ke dalam ruangan miliknya di rumah sakit ini. Tatapan matanya penuh tuduhan dan celaan, bersiap untuk menyerang.
Sementara itu, Xavier malah membanting tubuhnya di sofa besar yang ada di ruangan Nathan, bersikap santai seolah-olah Nathan yang menatapnya tajam dari balik meja kerjanya itu bukanlah suatu ancaman.
“Dengan menyuntikkan racun, aku melakukan prosedur normal terhadap semua orang yang bekerja denganku. Dan racun itu tidak berbahaya, kecuali jika mereka mencoba mengkhianatiku. Silahkan jika kau ingin mengadu pada Akram. Tetapi, sesungguhnya Akramlah yang memberiku saran untuk mengambil langkah menahan Serafina dan menyingkirkan semua halangan,” jawab Xavier kemudian dengan santai.
Nathan mengawasi ekspresi Xavier dengan saksama. Lelaki di depannya ini memang licik, tetapi Xavier tak pernah berbohong jika menyangkut integritas. Jika dia bilang bahwa Akram mengizinkan semua hal ini terjadi, maka itu pasti benar.
Untuk saat ini, Nathan tahu bahwa sebaiknya dia tidak usah ikut campur dulu dengan apa yang dilakukan oleh Xavier, kecuali kalau ini menyangkut nyawa manusia.
“Serafina Moon sudah masuk ke dalam daftar karyawan Night Corporation sebagai asistenmu. Jika terjadi sesuatu kepadanya, maka pihak berwajib akan langsung mengarah kepadamu dan hal itu juga akan melibatkan Night Corporation.”
“Kau bisa membunuh kecemasanmu itu, karena tidak akan ada pihak berwajib manapun yang bisa mendekatiku. Tidak akan ada yang berani buka mulut jika itu menyangkut diriku,” ucap Xavier dengan yakin.
“Itu semua karena kau mengancam mereka atau sanak keluarga mereka dengan racun. Kau juga meracuni perempuan itu, bukan? Kau bahkan membakar rumahnya. Xavier yang kukenal, tidak akan melakukan tindakan seekstrim manapun pada seorang wanita… kecuali saat dia menginginkan wanita itu,” simpul Nathan dengan tatapan menyelidik.
“Apakah kau sedang mereferensikan pada apa yang kulakukan terhadap Elana? Ya. Dulu aku menginginkan Lana, tetapi saat aku tahu bahwa dia adalah milik adikku, maka aku membunuh perasaan ini.” Xavier menyipitkan mata, tatapannya terlihat berbahaya. “Tetapi untuk yang satu ini, dia bukan milik siapa-siapa, jadi aku bebas untuk memilikinya.”
Pintu ruangan terbuka tepat pada saat perawat yang bertugas selesai melepaskan selang infus dari punggung tangan Sera. Sera mengangkat pandangannya dan matanya langsung bersirobok dengan mata Xavier yang menatapnya tajam seolah menembus jiwa.
Entah kenapa hawa dingin langsung terasa lebih pekat ketika Xavier memasuki ruangan…
Sera mengawasi perawat yang tengah mengurus tangannya dan menemukan bahwa tak ada perubahan ekspresi di wajah perawat itu. Itu berarti… rasa dingin yang membuat bulu kuduknya berdiri ini, jelas berasal dari tekanan psikologisnya yang tak nyaman dengan kehadiran Xavier di dalam ruangan ini.
Perawat itu memasangkan plester tipis berbentuk bulat ke bekas infus Sera, lalu berpamitan dengan sopan sambil tak lupa mendoakan kesehatan Sera di masa depan. Xavier sendiri hanya berdiri terdiam mengawasi sampai perawat itu selesai melakukan tugasnya dan meninggalkan ruangan. Setelahnya, lelaki itu melangkah mendekati ranjang dan meletakkan sesuatu di dalam kantong kertas besar di atas ranjang.
Sera yang duduk di samping ranjang, memijit pergelangan tangannya, lalu menatap ke arah Xavier dengan waspada.
“Ini apa?” tanyanya sedikit ketus.
Xavier tersenyum dengan penuh kemenangan.
“Pakaian untukmu. Aku meminta anak buahku untuk memilihkan pakaian casual untuk kau pakai.Kita akan meninggalkan rumah sakit ini. Jadi, tidak mungkin kau akan pulang dengan memakai piyama milik rumah sakit, kan?”
Sera tertegun. Matanya melirik kepada dirinya sendiri yang tengah mengenakan piyama bergaris vertikal warna biru muda dan tahu bahwa untuk kali ini, dia tak akan bisa membantah apa yang dikatakan oleh Xavier.
Xavier Light sialan! Setelah dua kali gagal, pada akhirnya pria itu berhasil memaksa Sera untuk mengenakan pakaian yang dibelikannya. Kali ini, Sera benar-benar terpojok, dia tidak punya pilihan lain yang bisa diambilnya.
Tangan Sera mengambil kantong kertas besar itu, lalu membawa pakaian tersebut ke pangkuannya. Setelahnya, dia mendongakkan kepala dan menatap Xavier dengan tatapan mencela.
“Apakah kau akan bersikap tak tahu malu dan memilih tetap berada di sini biarpun kau tahu kalau aku akan berganti pakaian?” tanyanya sedikit galak.
__ADS_1
Xavier mengangkat alis. “Kau wanitaku, bukan? Aku suka melihat wanitaku berganti pakaian, perlahan-lahan melepas lapis demi lapis dengan lambat menggoda. Karena apa yang tak terbuka sepenuhnya dan mengintip sedikit itu terasa lebih menarik daripada apa yang dipamerkan seutuhnya tanpa penutup.”
Sera mengencangkan tangannya yang mencengkeram tas kertas itu, menahan diri supaya tidak emosi dan menampar lelaki itu lagi. Xavier sepertinya memiliki sifat senang memprovokasi orang lain, dan itu sudah pasti tidak dilakukannya dengan sengaja. Xavier sangat licik, lelaki itu tahu, bahwa jika emosi menguasai diri seseorang, maka orang itu akan lengah dan kadang-kadang menurunkan dinding pertahanannya tanpa sadar.
Setelah menghela napas dalam-dalam beberapa kali untuk meredakan emosinya dan membungkam mulutnya sendiri supaya tidak membalas provokasi Xavier, Sera beranjak dari duduknya di tepi ranjang.
“Kau mau kemana?” Xavier bertanya setengah menahan senyum ketika melihat Sera berlalu melewatinya.
Sera melirik kesal, menatap Xavier dengan pandangan merendahkan yang tidak ditutup-tutupi.
“Ke kamar mandi untuk berganti pakaian. Aku tak bisa berganti pakaian di kamar karena ada orang mesum yang tak tahu diri.”
Setelah menjawab dengan nada sinis yang kental, Sera mempercepat langkah menuju kamar mandi dan membanting pintunya keras-keras dengan sengaja.
Ketika pintu kamar mandi itu ditutup, Xavier masih mengawasi dengan senyum tipis tersungging di bibirnya. Dia lalu mengambil kesempatan sendirian itu untuk mengeluarkan ponselnya, dan menekan nama yang sudah sangat dikenalnya itu.
“Elios? Kau sudah menyiapkannya?”
Xavier langsung bertanya ketika mendengar suara Elios menyahut di seberang sana.
“Sudah. Jet pribadi sudah menunggu di bandara. Segala ijin sudah diurus dengan lengkap. Kau bisa berangkat sepagi mungkin esok hari.” Elios menyahut dengan cepat, dengan nada profesionalnya sebagai seorang asisten yang cekatan.
Dirinya memang sudah biasa diminta menyiapkan jet pribadi secara mendadak untuk keperluan mendadak bosnya. Memang kali ini sedikit lebih rumit karena paspor Sera yang terbakar, membuat Elios harus bergerak lebih jauh menemui orang-orang berpengaruh, supaya masalah administrasi itu bisa diselesaikan tanpa tersendat.
Dan sesuai dengan jadwal yang diinginkan oleh Xavier, dia berhasil menyelesaikan semua tugas yang dibebankan kepadanya tepat waktu.
Elios tidak bertanya kenapa Xavier mendadak memutuskan untuk pergi ke Rusia dengan membawa asisten barunya, sebab sedikit banyak dia sudah tahu latar belakang cerita Xavier dan Serafina Moon sehingga dia bisa menduga apa yang hendak dilakukan oleh Xavier di sana.
Lelaki itu akan mendatangi Keluarga Dawn secara terang-terangan….dan mungkin saja akan bertindak sebagai malaikat kematian bagi mereka semua.
“Baiklah. Terima kasih Elios, aku akan menghubungimu lagi nanti jika ada masalah.”
Xavier menutup sambungan ponselnya, lalu hendak memasukkannya ke saku ketika pada saat bersamaan, terdengar bunyi sesuatu yang terbanting pecah dengan suara keras dari dalam kamar mandi.
Insting Xavier langsung membuatnya bergerak cepat seolah terbang menuju pintu kamar mandi itu dan membukanya dengan tergesa.
Untungnya, Xavier memegang perkataannya. Anak buah Xavier sepertinya memilihkan pakaian yang cukup santai untuk dikenakan oleh Sera. Baju itu terbuat dari katun yang nyaman dan berukuran cukup normal.Sera menatap bayangan wajahnya sendiri di cermin, mengawasi rona kulitnya yang pucat, dan juga beberapa bekas luka yang telah mengering di pelipisnya akibat terkena serpihan kaca saat para penolongnya itu memukul dan memecahkan kaca untuk melepaskan panel jendela yang terpatri dalam di dinding rumah.
Sera mengerutkan kening ketika menyadari bahwa gaun indah yang diberikan oleh Xavier dan perhiasan mahal yang berada satu kotak dengannya, sudah pasti ikut terbakar habis di dalam kebakaran itu. Sera tadinya berniat untuk mengembalikannya segera kepada Xavier demi harga dirinya, tetapi sekarang sepertinya dia tidak bisa melakukannya.
Memikirkan kembali tentang kebakaran itu membuat seberkas firasat buruk melintas sayup di benak Sera.
Ketika tersadar dari insiden itu, pikiran jernih Sera masih menghilang, tertutup kabut ketidaksadaran yang membuatnya tak bisa berpikir dengan teliti seperti dirinya yang sekarang. Tetapi, setelah saat Xavier menunjukkan keasliannya dan menyatakan bahwa dia sudah mengetahui Sera sejak lama, dia langsung berpikir bahwa kebakaran ini terjadi atas campur tangan Xavier.
Rumah yang ditinggalinya memang tua. Tetapi, instalasi listrik di perumahan itu tergolong baru karena baru diinstal ulang setahun yang lalu. Dan karena tinggal sendirian, Sera selalu berusaha disiplin dengan memastikan tidak menyalakan benda-benda berbahaya yang bisa terbakar atau meledak saat dia meninggalkan rumah, atau saat dia pergi tidur.
Lagipula, sampai dengan sekarang dia dirawat, tidak ada satupun pihak berwajib atau pihak asuransi yang datang mengunjunginya untuk mengumpulkan keterangan atau bukti.
Seolah-olah kebakaran itu dibuat untuk memisahkan Sera dari dunianya yang sebelumnya. Menghapuskan seluruh dokumen dan berkas atas nama dirinya, pakaiannya, benda-benda miliknya, dan seluruh kenangannya dari masa lalu.
Memikirkan itu semua, membuat jantung Sera bergetar didera oleh ketakutan.
Apakah Xavier… ingin menghapuskan jejak eksistensi dirinya dari dunia ini?
Pertanyaan itu menguar dari batin Sera yang dilanda ketakutan, menyebar ke udara dan menguap bersama keheningan yang menyiksa jiwa.
__ADS_1
Kembali, bayangan mayat Anastasia yang tergantung menemui ajal di langit-langit kamar rumah sakit itu langsung menyergapnya dan menghantui jiwanya. Mata yang melotot, lidah yang terjulur dengan lebam-lebab di wajah dan sekujur tubuhnya… semua itu menghantui Sera dengan amat mengerikan.
Samantha Dawnlah yang mengusulkan supaya Sera mendapatkan beberapa jam setiap harinya, dengan dikurung di kamar gelap yang dipenuhi gambar-gambar raksasa memenuhi dinding yang menampilkan mayat Anastasia, baik itu saat terbaring kaku di kamar mayat, maupun saat pertama kali ditemukan tergantung mati.
Samantha Dawn berpendapat bahwa Sera layak mendapatkan itu, karena bagaimanapun juga, ayahnya ikut andil dalam penyiksaan mengerikan yang membuat Anastasia akhirnya memilih bunuh diri. Samantha juga berharap, dengan melihat kekejian yang tertinggal jejaknya pada mayat Anastasia itu, akan bisa membangun kebencian Serafina kepada Xavier Light. Tetapi yang tidak Anastasia ketahui, bahwa apa yang dia lakukan itu adalah kesalahan besar yang bisa menjadi ganjalan dalam upaya balas dendamnya. Mengurung Sera di dalam ruangan gelap penuh foto mengerikan itu, bukannya berhasil mencuci otak Sera supaya membenci Xavier, tetapi malah menumbuhkan trauma mendalam dan ketakutan bercampur ngeri tingkat tinggi terhadap Xavier Light.
Selama ini dengan sekuat tenaga Sera berusaha menyembunyikan rasa takutnya itu dari keluarga Dawn, karena dia takut dianggap tak berguna lagi sebagai senjata pembalas dendam dan ayahnya akan dihabisi. Karena itulah Sera menggunakan bantuan obat untuk menekan serangan panik dan ketakutannya ketika dia harus berhadapan dengan Xavier Light.
Memikirkan itu semua membuat rasa mual langsung bergolak di perut Sera, dia mengatupkan tangannya ke mulut untuk menahannya. Tetapi gelombang mual itu datang bergulung-gulung memenuhi saluran pencernaannya.
Ketika bayangan mayat Anastasia yang penuh lebam berkelebat layaknya kilasan film di otaknya, ketika itulah hati nuraninya menjerit-jerit meneriakkan kebenaran.
Serafina telah didoktrin sejak remaja untuk takut, membenci dan membalas dendam kepada Xavier. Jiwanya seolah-olah dihancurkan, lalu dibentuk kembali hanya dengan tujuan menjadi alat pembalas dendam bagi Samantha dan Roman Dawn.
Tetapi… bagaimanapun, Serafina tidak bisa menekan hati nuraninya yang berbisik tanpa henti untuk kemudian berganti-ganti meneriakkan kebenaran saat dinding perlindungan diri Serafina lengah dan bisa dimasuki.
Karena bagaimanapun juga, ayahnya turut terlibat andil dalam penyiksaan dan pelecehan yang dialami oleh Anastasia. Seluruh bekas-bekas lebam, luka dan semua hal mengerikan yang terpampang di mayat Anastasia itu, dilakukan oleh kelompok penjahat yang dipimpin oleh ayahnya.
Jika begitu adanya,bagaimana jika memang seluruh tindakan keji yang dilakukan para penjahat itu merupakan inisiasi ayahnya?
Tetapi… ayahnya selalu bersikap seperti ayah yang baik di rumah. Mungkin di luar Salvatore Moon adalah pemimpin penjahat yang ditakuti, yang mau melakukan tindakan kriminal apapun dengan uang sebagai imbalannya. Tetapi, Salvatore begitu mencintai keluarganya. Dia bahkan mengganti nama keluarganya dan menyembunyikan keberadaan keluarganya untuk melindungi Sera dan ibunya.
Ayahnya telah memisahkan antara dunia gelapnya dan dunia terang yang berisi keluarganya. Karena itulah, Serafina yakin bahwa ayahnya yang dia kenal, yang selalu memeluk dan menggendong dirinya dengan lembut dan penuh kasih sayang, yang selalu menatap wajah ibunya dengan penuh cinta, tak akan mungkin membiarkan tindakan sekeji itu terjadi pada seorang perempuan remaja yang waktu itu hampir seumuran dengan anak gadisnya sendiri.
Xavier Light… dialah penyebab semuanya. Jika dia tidak membayar ayahnya dan kelompoknya untuk menculik Anastasia, maka semua ini tidak akan terjadi….
Sera merasakan dadanya sesak dan napasnya tersengal, dia mengerutkan kening, mencoba menahan supaya serangan panik yang menyiksa akibat trauma yang terpanggil muncul ke permukaan itu, tidak datang seketika dan menguasai dirinya sepenuhnya.
Obatnya… obatnya ikut terbakar di rumah itu…
Jantung Sera mulai berdebar kencang, mengiringi keringat dingin yang mengucur deras dari tubuhnya ketika dia merasakan napasnya semakin sesak. Pandangannya berputar dan rasa mual bergulung-gulung semakin kuat, menanjak di tenggorokannya, memaksa ingin menyembur keluar dan menguras seluruh isi perutnya.
Sera melangkah mundur, terhuyung ketika dia tak mampu mengendalikan keseimbangan tubuhnya. Tanpa sengaja, tubuhnya menyenggol sebuah guci keramik kecil yang ditempatkan di bagian pojok dinding untuk dekorasi. Guci itu jatuh terbanting ke lantai, dan dengan segera hancur berkeping-keping dengan suara keras.
Hanya sedetik setelahnya, pintu kamar mandi itu terbuka. Xavier muncul di sana. Pertama kali, ekspresinya tampak curiga. Lalu, ketika melihat kondisi Serafina, wajahnya dipenuhi kekhawatiran.
“Kau kenapa?” Xavier menangkap tubuh Sera yang terhuyung dan hampir jatuh tertelungkup, menahan kedua tangannya untuk menjaganya tetap tegak berdiri.
“Obat… serangan panik…. Aku…,” Sera berusaha berucap untuk menjelaskan apa yang terjadi kepada Xavier.
Tetapi, satu kesalahan besar karena dia membuka mulutnya. Itu sama saja memberi jalan bagi mualnya yang sudah menggedor batas pertahannya, untuk mengalirkan muntahan yang meronta ingin dikeluarkan. Belum lagi saat ini tatapan mata Sera bertemu langsung dengan mata Xavier, lelaki keji yang menjadi sumber dari traumanya. Hal itu membuat seluruh benteng pertahanan diri Sera terlepas, membuatnya tak mampu menguatkan diri lagi.
Dan itulah yang terjadi, Serafina muntah semuntah-muntahnya, menyembur dari mulutnya hingga membasahi bagian depan kemeja putih yang dikenakan oleh Xavier.
***
***
Terima kasih untuk Vote Poin, Like, Komen, Rating bintang lima dan Koinnya.
Dan yang paling penting, dukungan tulus semangat dari kalian semua adalah yang utama.
Karena sudah ada fitur grup chat di Noveltoon ( di Mangatoon belum ada ) maka Author akan membuat pengumuman upload naskah, update jadwal up dan semua hal yang berhubungan dengan novel di grup chat author. Silahkan bergabung di sana ya.
Jika suka cerita romance fantasi, baca juga novel baru author berjudul INEVITABLE WAR yang sekarang sudah dipublish di Mangatoon, ya. Untuk berkunjung, silahkan cari judul "INEVITABLE WAR" di kolom pencarian, atau klik profil author ---> pilih "KARYA' ---> Scroll ke paling bawah ----> Di bagian Contribution, ada judul-judul Novel karya author di mangatoon, dan silahkan klik cover novel INEVITABLE WAR
__ADS_1
Thank You. By AY