
Hello Beautiful Ladies,
Ini adalah 2 dari 10 episode yang akan diupload oleh author secara bertahap mulai hari Jumat 22 November 2019 sampai dengan minggu 24 November 2019.
Untuk lolos reviewnya kapan… sekali lagi author tidak tahu. Yang pasti, author akan post 10 episode minggu ini sesuai janji. Mudah-mudahan pihak Mangatoon cepat meloloskan Reviewnya ya.
MENGENAI SISTEM VOTE MENGGUNAKAN POIN
Kalian mungkin sudah tahu sistem ranking novel di mangatoon terbaru yang akan di samakan dengan noveltoon, dimana sistem ranking didasarkan oleh POIN yang disumbangkan sebagai Vote untuk author dan karyanya ya.
Dengar-dengar, per 25 November 2019, sistem vote menggunakan POIN akan mulai bisa dilakukan di MANGATOON ( Untuk sekarang, sistem vote dengan poin baru bisa dilakukan di NOVELTOON )
Karena itu nanti setelah tanggal 25 November 2019 ketika sistem vote dengan poin di mangatoon sudah berlaku, author mohon dukungan sebanyak-banyaknya dengan memberikan POIN mu untuk vote novel Essence of The Darkness karya author ya.
Untuk 3 pemberi POIN terbanyak dalam satu bulan, akan author berikan bonus sbb
1. Ucapan terima kasih dan pengumuman di part terbaru untuk 3 orang yang akan disebutkan tertulis
2. Giveaway tempat minum unik/tumbler dari author yang bisa ditulisin namamu by request dan akan dikirim langsung ke alamat masing-masing
3. Author akan follow akun mangatoon kamu untuk Private Chat dan meminta alamat untuk pengiriman giveawaynya juga untuk menanyakan request tulisan nama di tumblernya.
Pengumuman 3 Pemberi POIN terbanyak bulanan yang mendapatkan hadiah, akan diumumkan di awal bulan berikutnya.
Regadrs, AY
***
***
Kali ini ketika membuka matanya, tubuh Akram sudah terasa ringan. Dia bergegas duduk di atas ranjang, menegakkan punggungnya dan menoleh ke arah jendela. Hujan deras rupanya sedang turun di luar sana, entah sejak kapan. Membuat suasana tercipta menjadi gelap menyenangkan, diliputi udara sejuk alami beraroma tanah basah yang menenangkan.
Akram menyentuh kepalanya secara otomatis, ketika memastikan bahwa rasa pusing itu sudah tak bersisa lagi. Dia menggerakkan lengannya dan merasa senang karena tubuhnya terasa ringan sekarang, tak ada lagi rasa sakit berat yang menggayuti.
Perlahan Akram turun dari ranjang dan memandang ke sekeliling ruangan. Keheningan tampak ditelan oleh suara derasnya hujan yang memenuhi pendengaran. Akram kemudian melangkah keluar dari kamar, untuk mencari Elana, perempuannya.
Matanya langsung melihat perempuan itu tengah berbaring meringkuk di atas sofa, dengan buku terbuka di tangannya. Perempuan itu tampak lelap, dengan wajah damai dan polos, layaknya malaikat nan penuh senyum dan siap membagikan kedamaiannya kepada siapapun yang berinteraksi dengannya.Akram tidak bisa menahan diri untuk tidak melangkah mendekat. Dia lalu duduk perlahan di tepi sofa, mengamati Elana dengan lekat, sementara rasa cinta membuncah di dalam dadanya.
Sungguh, sebelumnya Akram tak pernah menduga akan memiliki perasaan sedalam ini kepada perempuan manapun. Tetapi sekarang, di sini, ditengah derasnya hujan yang melingkupi di luar sana laksana kubah perlindungan yang penuh kesejukan, Akram merasa begitu yakin dengan perasaannya.Tangan Akram bergerak menyentuh pipi Elana. Dan sentuhan itu langsung membuat Elana mengerjap, membuka mata, dan langsung terkesiap ketika melihat Akram sudah ada di dekatnya.
Bergegas, Elana menarik tubuhnya supaya duduk, sementara matanya yang lebar nan indah membelalak menatap ke arah Akram.
“Akram? Kau sudah berjalan-jalan? Bagaimana kondisimu?”
Akram tersenyum, menatap Elana dengan menggoda. “Aku baik-baik saja,” ketika Elana menatapnya dengan tatapan tak yakin, Akram langsung mengambil tangan mungil perempuan itu dan menyentuhkannya ke dahi. “Rasakan, aku tak demam lagi,” ujarnya meyakinkan.
Elana mengerutkan kening ketika memastikan kondisi Akram. Setelah merasa yakin, dia mengehela napas dan menganggukkan kepala, membuat Akram terkekeh melihatnya.
Elana menatap Akram dengan tatapan bingung kembali, dan segera bertanya.“Kenapa kau tertawa?” ujarnya ingin tahu. Karena dilihat saja bisa langsung ketahuan kalau Akram sedang menertawakannya.
“Aku menertawakanmu,” segera Akram menyahuti dugaan Elana. “Kau sangat cantik. Biasanya aku selalu berpikir bahwa wanita yang baru bangun tidur itu tidak meyenangkan untuk dilihat. Tapi kau berbeda, kau sangat cantik.”
Suara Akram benar-benar mengungkapkan kejujuran yang nyata hingga membuat pipi Elana bersemu merah karena malu. Dia berusaha memalingkan muka, tetapi Akram yang sudah begitu dekat menahan wajahnya dan tanpa izin menghadiahkan ciuman panas di sana.
“Sangat cantik dan terasa manis. Karena itulah aku tergila-gila kepadamu,” sambung Akram kemudian sambil melumat bibir Elana dengan hasrat kental yang mulai naik
.Elana tidak menolak, tangannya semula ragu, tetapi akhirnya dia memberanikan diri untuk merangkulkannya di leher Akram. Elana sudah berjanji untuk mencoba mencintai Akram, dan dia benar-benar berniat untuk melakukannya.
Sikapnya itu membuat Akram senang, sehingga lelaki itu tak menunggu lebih lama lagi untuk memperdalam ciumannya, melumat bibir Elana, mencecap bibir perempuan itu dan merasakan kenikmatannya tanpa menahan-nahan diri lagi.
Ketika Akram mengakhiri ciuman panas itu lama kemudian, napasnya sudah terengah tak karuan dan tubuhnya terasa nyeri seolah-olah akan meledak oleh hasrat yang tak tersalurkan. Ditempelkannya hidungnya di hidung Elana sebelum kemudian berbisik penuh hasrat menggoda.
“Aku akan mati kalau harus disiksa seperti ini terus-terusan. Kurasa aku tak akan tahan menunggu sampai genap sebulan berselibat. Bagaimana kalau kita menikah sekarang saja?” godanya sambil menggesekkan bibirnya merayu ke bibir Elana.
Pipi Elana langsung merah padam. Didorongnya tubuh Akram supaya menjauh sedikit darinya. Dia membelalakkan mata dan menatap Akram dengan napas yang sama-sama terengahnya.
“Akram! Jangan membuat pernikahan sebagai bahan bercandaan,” celanya cepat.
__ADS_1
Akram terkekeh. “Kenapa kau pikir aku bercanda? Aku serius,” mata Akram menggelap ketika melanjutkan perkataannya, menunjukkan kalau dia memang benar-benar serius. “Seluruh dokumenmu sudah siap. Aku hanya tinggal menikahimu begitu kau mengatakan ya, kapanpun itu,” sambungnya kemudian.
Elana tertegun, mengawasi Akram seolah tak percaya, tetapi dilihat dari sisi manapun, jelas benar kalau Akram mengatakan kebenaran. Entah sebesar apa pengaruh lelaki itu sehingga bisa memenuhi dokumen pernikahan dengan mudah dan cepat, padahal jelas-jelas kalau seluruh asal usul Elana yang sebelumnya telah dihilangkan oleh lelaki itu tanpa sisa.
“Jangan menatapku seperti aku akan membawamu ke ladang pembantaian,” Akram tersenyum penuh ironis. “Pernikahan ini, meskipun aku terlihat mudah mengatakannya – bagiku juga bukanlah permainan. Aku sendiri merasa agak tak nyaman, kau tahu, mengikat janji dengan satu wanita… mempercayakan hatiku kepada satu wanita,” Akram menyentuh dagu Elana sekilas. “Tetapi, jika wanita itu adalah kau, aku yakin kalau semua akan baik-baik saja,”
Elana menelan ludah, hatinya tersentuh akan ketulusan yang jelas nyata di dalam suara Akram, tetapi… masih ada setitik keraguan di dalam sana, sebuah keraguan yang harus dihapuskannya sebelum dia benar-benar memutuskan untuk mengikat pernikahan yang sakral dengan lelaki itu.
“Akram… aku….” Elana terbata, berusaha susah payah mengungkapkan apa yang ada di dalam pikirannya. Tetapi dengan cepat pula Akram mendaratkan jemarinya di bibir Elana, menahan perkataannya.
“Jangan memaksakan dirimu,” sahut Akram dengan penuh pengertian. “Aku hanya bergurau, aku tak akan menyeretmu ke dalam janji pernikahan secepat ini. Aku sudah bilang kalau aku akan memberimu kesempatan untuk belajar mencintaiku, bukan?” tanyanya lembut.
Elana mengawasi mata Akram, lalu dia menghadiahkan senyum terbaiknya dan berucap dengan ketulusan jujur yang berasal dari dalam hatinya.
“Terima kasih, Akram,” bisik Elana kemudian.
Akram terkekeh, lalu menyandarkan punggungnya di punggung sofa dan menggerakkan tangannya untuk merangkul Elana, membawanya ke pelukan.
“Sama-sama,” sahutnya lembut dan mengusap rambut Elana seperti mengusap rambut anak kecil.
“Sekarang, karena ini hari libur yang akan kita habiskan bersama, kau ingin jalan-jalan kemana? Atau kau ingin makan sesuatu? Aku akan mengantarmu,” Akram menawarkan dengan senang.
Situasi di luar memang masih hujan, tetapi Akram tak keberatan. Hujan maupun cerah matahari, sama menyenangkannya bagi jiwa yang dimabuk kepayang oleh cinta.
Elana mendongakkan kepala dan menatap Akram meragu.
“Bukankah… kau masih sakit?” tanyanya cepat. “Kau tak seharusnya pergi kemana-mana….”
“Aku sudah sehat, tidakkah kau lihat dan rasakan sendiri?” Akram terkekeh. “Kurasa tidur yang pulas sepagian ini telah menyembuhkanku,” sambungnya meyakinkan.
Elana termenung, menelan ludah perlahan seolah ingin melenyapkan keraguannya, lalu kembali dia menatap Akram dengan tatapan mata sendu penuh permohonan.
“Kau pernah bilang… kalau kita harus menanti saat yang tepat untuk mengungkapkan segalanya dengan Nolan,” ucapnya berhati-hati. “Tetapi… aku ingin bertemu dengannya… bolehkah… bolehkah aku menemuinya? Kau bisa memperkenalkan aku sebagai siapa saja, aku hanya ingin bercakap-cakap dan berada di dekatnya,” mohonnya kemudian dengan nada terbata.
Tangan Akram yang tadinya membelai rambut Elana dengan gerakan sinkron yang teratur sempat membeku beberapa detik, tetapi lelaki itu akhirnya menatap Elana lagi dengan pandangan bertanya.
“Kau ingin bertemu Nolan sekarang?” tanyanya mengulang seolah ingin melihat keyakinan Elana.
Dan Elana langsung menganggukkan kepala, menatap Akram penuh harap, sesuatu yang sudah pasti tak bisa ditolak oleh Akram.
“Kalau kau mengizinkan, Akram.”
***
***
Sekali lagi, mereka sampai di rumah besar di pinggiran kota itu. Rumah yang terakhir kali membawa pengalaman buruk bagi Elana karena Akram yang ketika itu diliputi oleh kemarahan, telah memaksakan kehendaknya kepada Elana dengan begitu kejam.
Mereka berhenti di parkiran mobil yang sama, di bawah bayang-bayang keteduhan pohon rindang yang melingkupi mereka, dan Akram menolehkan kepala ke arah Elana, menatap perempuan itu dengan pandangan khawatir.
Bagaimanapun juga… kenangan terakhir kali mereka di sini tidaklah baik.
Akram tiba-tiba saja merasa bodoh karena membawa Elana kembali lagi kemari untuk menemui Nolan. Padahal bisa saja dia bersikap sedikit bijaksana dan memerintahkan Elios menjemput Nolan, lalu membawa anak itu ke tempat pertemuan yang lebih nyaman, bukan di sini, di tempat dimana dia bersikap seperti monster keji dan memperkosa Elana tanpa ampun. Sebuah perbuatan yang disesalinya setengah mati dan ingin dihapuskannya dari ingatan.
Tatapan mata Akram yang khawatir langsung menembus ke dalam benak Elana. Dan dia juga langsung paham, apa yang menyebabkan Akram menatapnya seperti itu
.Tadi begitu mobil ini memasuki gerbang perumahan yang mewah dan rimbun oleh pepohonan yang menyejukkan, Elana langsung teringat kembali pengalaman traumatisnya di mobil ini. Beruntung untuk saat ini, kondisinya cukup berbeda. Akram sendiri yang menyetir mobilnya dan mereka saat ini duduk di kursi depan mobil, dan itu sedikit membantu Elana untuk menenangkan diri serta memaksa dirinya untuk tak mengingat-ngingat kembali semua yang telah lalu.
Lengan Elana tanpa sadar bergerak memeluk dirinya sendiri, seolah berusaha menopang diri untuk menguatkan hati. Dia sudah berjanji kepada dirinya sendiri untuk memaafkan dan melupakan, bukan? Akram sudah meminta maaf dan menyesal. Lelaki itu sungguh berusaha keras berubah menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih menghargainya sebagai seorang perempuan… jadi, sudah tak ada gunanya Elana memelihara ketakutannya lagi.
“Maafkan aku,” suara Akram yang sedih tiba-tiba terdengar, menciptakan nada sendu di tengah derasnya hujan yang mengguyur mobil mereka sehingga mengaburkan pemandangan di luar jendela mobil.
Elana langsung mendongakkan kepala, seolah tercabut dari lamunannya. Tatapannya bersirobok dengan mata Akram yang dipenuhi penyesalan, dan entah kenapa kali ini dirinya bisa tersenyum tulus.
“Aku sudah memaafkanmu sejak lama,” ujarnya kemudian.Jawabannya itu membuat Akram langsung melepaskan diri dari sabuk pengamannya, lalu bergerak ke arah Elana, dan menarik perempuan itu serta membawanya ke dalam pelukan eratnya.
“Kau adalah wanita yang kucintai. Apapun perbuatan kejiku di masa lalu, kau harus mengingat bahwa aku sekarang adalah lelaki yang mencintaimu dan sangat ingin kau cintai kembali,” ujar Akram dengan suara parau, penuh perasaan.
Elana memejamkan mata, sekali lagi dia membawa lengannya untuk bergerak memeluk Akram, kali ini tubuhnya bergerak lebih mudah, tanpa rasa canggung melingkarkan lengannya di punggung kokoh lelaki itu yang kali ini melingkupinya dalam pelukan penuh perlindungan.
Akram seolah menghapuskan kenangan mengerikan itu, dengan kenangan baru yang lebih baik. Dan lelaki itu berhasil karena saat ini, rasa takut di dalam hati Elana sudah menghilang dan tak ada lagi.
***
__ADS_1
***
“Elios sudah ada di sana,”
Akram membukakan pintu untuk Elana dengan payung hitam berukuran besar di tangannya. Ketika Elana melangkah turun dari mobil, lelaki itu langsung melingkarkan lengan untuk merangkulnya, melindunginya dari derasnya aliran hujan yang menerpa keras kepala, seolah-olah berusaha keras mencari sisi yang bisa ditembus dari perlindungan payung, untuk menabrakkan tubuhnya ke permukaan kulit manusia.
Elana mendongakkan kepala, dirinya berada dalam rangkulan erat Akram sehingga kesulitan menatap wajah lelaki itu yang saat ini berdiri menjulang di atasnya.
“Kau meminta Elios untuk datang kemari di hari liburnya? Apakah kita tidak mengganggu waktu istirahat Elios?” Elana bertanya cepat dengan nada khawatir.
Akram menggelengkan kepala. “Tanpa diperintahpun, di akhir pekan, biasanya Elios memang menyempatkan diri untuk mengunjungi Nolan dan menghabiskan waktu bersamanya,” jawabnya dengan nada tenang.
“Melihat… melihat Nolan bersama Elios waktu itu, kurasa… mereka sangat akrab ya?” tanyanya pelan, sedikit berteriak karena menembus derasnya hujan yang menimpa mereka. Saat ini, mereka harus melangkah menembus derasnya hujan dari lokasi parkir mobil ke lobby depan rumah, hanya menggunakan payung yang melindungi tubuh mereka.
Para pelayan sudah berniat menjemput dengan membawa payung tadinya, tetapi Akram menolak perlakukan istimewa dan memilih memayungi Elana sendiri.
Akram menganggukkan kepala, mempererat rangkulannya ke tubuh Elana sambil membawa perempuan itu melangkah lebih cepat melalui jalan setapak dengan pepohonan besar di kiri dan kanannya, dan menghampiri bagian depan lobby rumah yang beratapkan tinggi.
“Aku menugaskan Elios untuk mengurus Nolan sejak dia dibawa pulang dari panti asuhan. Dan sepertinya, karena Elios juga berasal dari panti asuhan serta sebatang kara, dia merawat Nolan dengan sepenuh hati seperti memperlakukan adiknya sendiri,” Akram terkekeh ironis ketika membayangkan asistennya itu. “Kau tahu tidak, sampai dengan detik ini, Elios tidak pernah memiliki hubungan serius dengan wanita manapun. Dia kadang berkencan dengan gadis-gadis, tetapi tidak berpacaran. Pada hari liburnya seperti ini, kau bisa melihat sendiri nanti, bukannya menghabiskan waktunya dengan para gadis, Elios akan memilih untuk melewatkan waktu di sini bersama Nolan,”
“Aku… aku mungkin juga akan memilih melakukan itu jika bisa,” Elana berucap spontan, membuat Akram langsung menunduk dan mentapnya dengan tajam.
Seketika Elana melebarkan matanya dan bertanya. “Tidak… tidak boleh?” tanyanya tanpa rasa bersalah.
Akram menipiskan bibir, memasang senyum ironis.“Kau tahu kalau aku adalah kekasih posesif yang egois. Prioritas waktu liburmu adalah untuk kau habiskan bersamaku,” sahut Akram dengan suara tegas. “Tetapi kalau kau bersikap baik dan menyenangkan hatiku, aku akan membuat pengaturan supaya kau bisa lebih sering menghabiskan waktumu bersama adikmu, tanpa harus mengurangi waktuku bersamamu, tentu saja,” sambung Akram kemudian dengan suara tak terbantahkan.
Elana hendak membuka mulut untuk membantah perkataan Akram, tetapi kalimatnya terhenti ketika mendapati para pelayan sudah berdiri menunggu di depan pintu rumah. Salah seorang pelayan langsung meminta payung hitam basah itu dari tangan Akram, sementara yang lain bergerak cepat untuk membantu Akram maupun Elana melepas mantel tebal mereka yang juga sedikit basah.
Elana akhirnya mengurungkan niatnya untuk berbantah kata dengan Akram menyangkut pengaturan pertemuannya dengan adiknya karena ada banyak orang di sini, dia mungkin harus mengangkat topik pembicaraan ini nanti kalau mereka berdua sudah sendirian.
“Aku juga belum pernah menemui Nolan sebelumnya,” Akram membuat pengakuan sambil mengamit lengan Elana dan membawanya berjalan melalui lorong rumah. “Tapi Elios sudah memberitahu Nolan tadi, bahwa kita akan datang.”
“Apakah menurutmu, aku boleh memperkenalkan diri sebagai… sebagai kakak Nolan?” tanya Elana dengan nada ragu.
Akram menunduk menatap Elana, lalu tersenyum lembut.
“Bagaimana kalau kau lihat saja dulu, menilai sikap dan reaksi Nolan, baru kaulah yang akan menentukan?” ucapnya tak kalah lembut.
Elana menghela napas panjang. “Apakah menurutmu… dia akan suka? Memiliki seorang kakak seperti aku?”
Tatapan Akram berubah penuh sayang. “Siapapun juga menurutku akan suka memilikimu sebagai bagian keluarga mereka,” jawabnya jujur. “Jangan terlalu memberati pikiranmu dengan perkiraan-perkiraan yang mungkin akan membuat nyalimu ciut, Elana. Temui saja Nolan terlebih dahulu, kenali dia lebih dekat, barulah kau mengambil keputusan hendak membuka jati dirimu atau tidak kepadanya.”
Elana menatap Akram dengan harap-harap cemas.
“Apakah kau… tidak keberatan kalau aku mengatakan tentang diriku kepada Nolan?” tanyanya berhati-hati.
Akram tersenyum penuh ironi. “Kenapa aku harus keberatan? Kau memiliki hak untuk mengatakan kepada anak itu bahwa kau adalah kakaknya,” jawab Akram tegas.
Elana menghela napas. “Aku belum mengucapkan terima kasih kepadamu… karena menemukan Nolan, dan membuat kami berdua bisa bertemu. Kalau bukan karena dirimu, aku tidak tahu bahwa aku ternyata memiliki seorang adik yang berhubungan darah denganku di dunia ini,”
Akram kembali memasang senyum penuh ironi. Kali ini diselingi oleh rasa bersalah yang pekat.“Kau tidak perlu berterima kasih kepadaku. Alasanku semula berusaha menemukan Nolan untukmu bukanlah alasan yang baik. Bahkan bisa dibilang sepenuhnya merupakan niat jahat.” Akram menghentikan langkahnya ketika mereka sampai di depan pintu kaca besar yang menghubungkan bagian dalam rumah dengan taman belakang yang luas. Ada gazebo besar yang tampak di taman belakang itu, dihubungkan oleh lorong terbuka di kiri dan kanannya yang beratapkan kaca, membuat hujan deras yang turun tampak bagaikan tirai indah yang menaungi siapapun yang berjalan di bawah lorong kaca itu.
Tatapan Akram menghujam ke arah Elana, membuat Elana mau tak mau mendongakkan kepala untuk menatap lelaki itu.
“Kau mungkin harus tahu, bahwa niat awalku menemukan Nolan adalah untuk menjadikannya kelemahanmu. Aku hendak menggunakannya sebagai sandera, karena saat itu, aku begitu putus asa untuk menahanmu tetap di sampingku,” Akram berucap dengan nada jujur dan lugas. “Jadi, jangan berterima kasih kepadaku, Elana. Karena bahkan saat ini, kalau kau sampai berani-beraninya meninggalkan dan mengkhianatiku, aku masih tetap akan menggunakan Nolan untuk menahanmu supaya tetap di sisiku.”
Suara Akram terdengar penuh janji, bagaikan bayangan gelap hitam yang mengendap-endap perlahan penuh ancaman, membuat bulu kuduk berdiri bahkan sebelum korbannya bisa menolehkan kepala dan melindungi diri.
Elana menelan ludah. Bagaimanapun, Akram sama sekali tidak berusaha berpura-pura menjadi sosok putih baik hati dan menyembunyikan sisi gelapnya dari diri Elana. Lelaki itu menunjukkan sisi gelap dirinya dengan gamblang, memastikan Elana mampu menerima sisi baik maupun sisi jahatnya. Dan Elana menghargai itu. Dia lalu mendongakkan kepala, meraih tangan Akram yang masih berdiri di depannya sambil menatapnya tajam, lalu menggenggamnya dengan tangannya yang kecil tetapi penuh tekad.
“Aku tak akan meninggalkanmu, Akram,” kali ini kalimat Elana dipenuhi kepastian, tanpa menyisakan setitikpun keraguan di dalamnya.
Akram menyeringai. Ekspresinya terlihat kejam, meskipun begitu, ada percik rasa senang yang berbinar di matanya.
“Oh, kau tak akan punya kesempatan Elana. Bahkan untuk memikirkannya pun kau tak akan sempat, karena aku akan membuatmu cukup sibuk bersamaku,” janjinya kemudian dengan nada pasti sembari menyelipkan nada sensual di dalamnya yang langsung membuat rona merah menyebar di pipi Elana.
***
***
***
__ADS_1