Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
EOTL eps 55 : Menemani


__ADS_3

Sera membeliak, kehabisan kata-kata. Lelaki di depannya ini selalu berhasil memberikan kejutan demi kejutan dengan tingkahnya yang aneh dan tak terduga.


Xavier meminta Sera membantunya mandi setelah sikap berjarak dan pengusiran terang-terangan yang dilakukannya? Sebenarnya pemikiran rumit macam apa yang ada di kepala lelaki itu?


Mata Sera menyipit dan mengawasi ekspresi Xavier yang tampak tenang. Tatapannya menyelidik, sengaja bersikap galak. Bagaimanapun, Sera tak akan membiarkan dirinya jatuh ke dalam perangkap Xavier yang licik. Nasib Sera bisa berakhir mengenaskan kalau dia kehilangan kewaspadaan dan mengikuti arah jalur yang ditunjukkan Xavier kepadanya.


"Kurasa tidak pantas jika aku yang membantumu mandi. Pelayanmu -yang laki-laki- yang seharusnya membantumu mandi," tolaknya kemudian.


"Aku tidak mempercayai mereka untuk membantuku mandi," sahut Xavier tenang.


Ucapan itu membuat Sera bingung. "Apa maksudmu?" tanyanya kemudian.


"Kau tahu, aku berada pada kondisi paling lemah saat ini, dengan segala luka di dadaku dan semacamnya." Xavier menjawab datar, menyapukan tangan ke dada dengan sengaja supaya Sera melihatnya. "Aku juga baru saja meninum obatku, ada salah satu penghilang sakit di dalamnya yang menyebabkan tubuhku lemas dan sangat mengantuk segera setelah aku meminumnya."


Gurat kerut di antara kedua alis Sera tampak semakin dalam ketika dia berusaha mencerna apa yang dikatakan oleh Xavier.


"Lalu, apa masalahnya? Meskipun kondisinya seperti itu, bukankah pelayanmu tetap bisa membantumu?"


Sera tak habis pikir dengan alasan Xavier. Meskipun lelaki itu berada dalam kondisi lemah dan tak berdaya, tapi saat ini Xavier ada di dalam rumahnya sendiri yang aman.


Lagipula, para pelayan di rumah ini bukankah semuanya setia kepada Xavier? Selain karena racun di tubuh semua anak buah Xavier yang mengancam nyawa jika mereka berani berkhianat, sepertinya para pelayan di sini bersikap loyal kepada Xavier secara sukarela.


Tidak akan ada yang akan mencelakai Xavier di rumah ini, bahkan jika lelaki itu sedang berada pada kondisi lemah, bukan?


"Mereka adalah anak buahku yang tunduk di depanku karena aku kuat. Aku tak ingin tampak lemah di mata mereka. Sementara kau, kau sudah pernah melihat sisi terburuk diriku, dan aku yakin bahwa kau tak akan mencelakaiku, bahkan ketika aku tak punya pertahanan diri sekalipun." Xavier menatap penuh arti ke arah Sera, memiringkan kepala ketika melihat perempuan itu tak kunjung menyahutinya. "Lagipula, statusmu adalah istriku. Bukankah sudah sewajarnya seorang istri membantu suaminya yang sedang sakit?"


Xavier Light benar-benar lelaki licik yang sangat pandai memainkan lidahnya untuk membolak-balikkan emosi seseorang, demi membuat orang itu mengikuti kehendaknya. Sayangnya, meskipun mengetahui itu semua, Sera tetap lemah dan tak bisa menolak lelaki itu.


"Baiklah. Aku akan membantumu." Sambil menghela napas panjang, Sera menyetujui. Diabaikannya sinar kepuasan yang menyala terang-terangan di mata Xavier. "Kau tidak perlu bantuan untuk mendorong kursi rodamu, bukan? Silahkan duluan ke kamarmu." Sera sengaja bersikap ketus untuk membentengi dirinya dari Xavier.


Sikapnya itu malahan membuat Xavier memasang senyum dan tanpa kata langsung menjalankan kursi rodanya mendahului Sera ke arah kamar. Sementara, Sera sendiri mau tak mau bergerak mengikuti di belakangnya.


***


"Jadi, bagaimana?"


Elana yang berbaring di ranjang tampak menatap penasaran ke arah punggung kokoh Akram yang baru saja menelepon Xavier.


Suaminya itu langsung menoleh, lalu menyipitkan mata dan menatap ke arah Elana dengan penuh peringatan.


"Bukankah tadi aku sudah menyuruhmu memejamkan mata dan tidur? Kenapa kau masih bangun?" tanyanya lembut.


Elana mengerjapkan mata lebarnya yang indah.


"Aku penasaran, apa kata Xavier menyangkut permintaan Aaron untuk bisa bertemu dengan Sera sebelum dia pulang ke Rusia." Kening Elana berkerut ketika melanjutkan kalimatnya. "Bagaimanapun, ada hubungan masa lalu yang erat antara Sera dengan Aaron yang tak bisa diabaikan begitu saja. Aku khawatir hal ini akan mempengaruhi kondisi Xavier yang masih dalam masa pemulihan."


Akram tidak mengatakan apa-apa, lelaki itu meletakkan ponselnya di nakas samping ranjang, sebelum kemudian menyusul naik ke atas tempat tidur, membiarkan istrinya menggeser tubuh menjauh sedikit untuk memberinya ruang. Tetapi, tentu saja Akram tak akan membiarkan Elana berjauhan darinya, lelaki itu langsung menarik Elana ke dalam rengkuhan lengannya lalu membiarkan Elana berbaring merapat ke dadanya, berbantalkan lengannya.


"Xavier melunakkan dirinya terhadap Sera. Aku tak tahu apakah itu disebabkan karena hilangnya semangat hidupnya sehingga dia lebih ingin fokus menyambut kematiannya, atau karena Xavier memang benar-benar sudah menyerah menyangkut Sera." Akram menggunakan jemarinya untuk mengusap rambut Elana dan membelainya lembut sambil menjelaskan perlahan.


Elana mendongakkan kepala. "Tetapi, mereka sudah sepakat akan memiliki anak bersama, bukan? Kurasa... masih ada harapan untuk Xavier dan Sera," sambungnya dengan nada penuh harap.


Akram menganggukkan kepala. "Yah, Xavier tadi bilang bahwa dia akan memberi kesempatan kepada Sera untuk menemui Aaron sebelum lelaki itu pergi meninggalkan negara ini dan kembali ke Rusia. Mungkin ada baiknya kita menunggu saja dan melihat perkembangannya nanti. Aku percaya bahwa baik Xavier maupun Sera sama-sama sudah dewasa dan mampu mengambil keputusan paling bijaksana untuk mereka sendiri." Tiba-tiba saja Akram menundukkan kepala dan menggerakkan tangannya yang bebas untuk menyentuh kerutan di antara kedua alis Elana. Ibu jarinya mengusap di sana dengan lembut. "Jangan sibuk memikirkan orang lain. Dalam kondisimu sekarang, kau harus lebih memikirkan dirimu sendiri," bisiknya dengan nada lembut penuh sayang.


Elana melebarkan senyumnya, matanya tampak berkilauan oleh kebahagiaan.


"Aku baik-baik saja," sahutnya, juga dengan suara berbisik.


Akram tak bisa menahan diri untuk tak menundukkan kepala dan mengecup bibir istrinya dengan penuh cinta. Dirinya menunggu penolakan dan sempat berpikir bahwa Elana akana mendorongnya, tetapi hal itu sepertinya tak terjadi, karena Elana malahan melingkarkan kedua lengannya ke leher Akram dan menarik suaminya semakin dekat.


Ciuman mereka begitu menyenangkan dan menghanyutkan bagi kedua belah pihak dan pasti akan berlanjut ke hal-hal lainnya kalau saja Akram tidak memiliki pertahanan diri yang kuat dan berhasil membuat dirinya melepaskan pertautan bibir mereka dan menjauhkan kepalanya.


Ibu jari Akram mengusap bibir bawah Elana yang meranum akibat ciuman kuat mereka tadi.


"Kehamilanmu yang kedua ini berbeda dengan saat kau mengandung Zac. Dulu kau langsung mual dan muntah-muntah hebat ketika aku mendekatimu." Akram mengusap rambut Elana dengan sayang. "Ketika Dokter Nathan mengatakan kalau hasil test telah menunjukkan kepastian kehamilanmu dengan akurat, aku langsung berpikir bahwa aku harus memasukkan kembali ke kamar ranjang single kecil yang pernah kupakai saat kondisi kehamilan Zac memaksa kita berpisah ranjang." Aram menyusurkan jemarinya dengan lembut ke wajah Elana, lalu mendongakkan dagu Elana ke arahnya. "Sekarang, kau terasa berbeda... kau sangat manja, suka memeluk dan menciumiku, lalu merajuk ketika aku tak ada di dekatmu."


Elana memutar bola matanya dan tersenyum lebar.


"Apakah kau tidak suka jika aku bersikap manja?" tanyanya riang, hampir-hampir menyembunyikan tawa. Apa yang dikatakan oleh Akram benar adanya. Kehamilannya ini benar-benar membuatnya sangat mencintai suaminya. Akram tidak pernah setampan itu di depan matanya seperti sekarang, aroma lelaki itu juga sangat menyenangkan, membuat dadanya mengembang oleh kebagiaan dan mendorong dirinya untuk terus menerus mendekat kepada suaminya demi bisa menghidu aromanya. Elana juga sangat suka dipeluk, disentuh dan diciumi oleh Akram.


Seolah-olah kehamilan keduanya ini, membuat rasa cintanya yang besar berlipat-lipat dan berlimpah ruah terhadap suaminya.


"Aku senang ketika kau bersikap manja kepadaku, kuharap kau meneruskannya sampai kau menjadi nenek-nenek dengan rambut putih, lalu tak malu-malu meminta cium kepadaku di depan anak cucu kita nanti." Akram terkekeh ketika melihat pipi Elana memerah malu akibat godaannya, lelaki itu menunduk lagi dan mengecup dahi Elana. "Aku sangat mencintaimu, istriku. Sudahkah kukatakan kepadamu betapa aku beruntung karena bisa menemukanmu dalam kehidupanku?"


Elana ikut terkekeh, tangannya menangkup kedua pipi suaminya, lalu bibirnya mengecup lembut di sana.


"Kau mengatakannya hampir setiap malam," sahutnya dengan suara riang.


"Dan aku akan mengatakannya terus menerus di setiap malam yang akan kita jalani di masa depan kita bersama, supaya kau menyadari, betapa bersyukurnya aku bisa memilikimu." Akram kembali menempatkan Elana dengan nyaman di pelukannya. "Tidurlah, sayang. Kau akan membutuhkan seluruh energi yang bisa kau kumpulkan untuk mengandung dan melahirkan anak perempuan kita nanti."


Elana memgerutkan kening."Usia kandunganku masihlah muda, bagaimana kau bisa yakin kalau anak kedua kita ini adalah anak perempuan?" protesnya bertanya.


Akram menyeringai, senyumnya tampak percaya diri yang hampir-hampir bisa dibilang angkuh ketika menjawab.


"Karena biasanya, aku memiliki pesona yang tak bisa ditolak oleh para gadis, dan melihat betapa tergila-gilanya kau kepadaku saat kehamilanmu ini, maka aku sangat yakin kalau anak kedua kita adalah anak perempuan."


***


"Apakah kursi rodamu bisa dibawa ke kamar mandi?"

__ADS_1


Sera yang sedang berdiri canggung di tengah kamar Xavier yang luas, bertanya sambil menatap ragu ke arah kursi roda yang saat ini sedang diduduki oleh Xavier.


Bagaimanapun, itu kursi roda elektrik. Bagaimana kalau percikan air membuat benda canggih itu korslet lalu rusak? Yang lebih mengerikan lagi, bagaimana kalau kursi itu menyetrum Xavier yang sedang duduk di atasnya?


Sera langsung begidik ketika bayangan tentang sosok tahanan yang menjalani hukuman mati di kursi listrik tiba-tiba melintas di benaknya, membuatnya merasa ngeri hingga harus mengerjapkan matanya berkali-kali untuk mengusir imajinasinya yang terlalu liar.


Xavier sendiri mengamati Sera dengan geli. Perempuan itu, meskipun memiliki kepandaian dan aura keras kepala yang sangat kuat, tetap saja tak bisa menghilangkan kepolosan yang merupakan warna aslinya. Saat ini, apa yang terlintas di dalam kepala Sera, bisa terbaca dengan jelas layaknya buku yang terbuka, membuat Xavier harus menahan diri supaya tak tersenyum lebar karenanya.


"Pihak pabrik pembuatnya mengatakan bahwa kursi roda ini tahan air." Xavier berucap sambil menepuk-nepuk punggung tangan kursi rodanya. Ketika melihat kengerian masih menghiasi wajah Sera, Xavier pun terkekeh. "Tapi kalau kau tidak yakin, aku punya alternatif lain." Xavier mengulurkan tangan ke arah belakang tubuh Sera. "Bisakah kau mengambilkan tongkatku?"


Mendengar permintaan itu, Sera langsung menurut dan memutar tubuhnya ke belakang. Matanya bergerak mencari ke arah yang ditunjuk oleh Xavier dan menemukan sebuah tongkat sederhana berwarna hitam polos disandarkan di sana.


Sera mengambil tongkat itu, dan mengulurkannya ke arah Xavier.


"K-kau bisa berdiri dan berjalan sendiri ke kamar mandi?" Sera bertanya tanpa mampu menyembunyikan keraguannya.


Xavier menganggukkan kepala. "Aku bisa, dengan sedikit bantuanmu. Kau berdiri di sini, ya. Untuk berjaga-jaga kalau saja aku jatuh." Setelah berucap, Xavier menghela napas panjang, memusatkan kekuatan di kakinya serta menumpukan tubuhnya di tongkat yang ada di tangannya. Setelahnya, Xavier membawa tubuhnya bangkit dari kursi roda itu. Pertama kali terlihat berat, ekspresi Xavier berubah keras sementara tanganya mempererat cengkeraman di tongkat tumpuannya hingga urat-uratnya muncul di sana.


Sera tanpa sadar menahan napas, dan baru berhasil mengembuskan napas lega ketika akhirnya Xavier berhasil berdiri tegak dan menyeringai senang ke arahnya.


"Akhirnya berhasil, aku hanya harus sedikit membiasakan diri. Maklum, tubuhku lebih banyak menempel di kasur rumah sakit selama beberapa waktu belakangan, jadi tubuhku hampir-hampir lupa bagaimana caranya bergerak." Xavier tidak menunjukkan rasa sakit pada ekspresinya ketika berucap. Tetapi, tetap saja Sera merasa cemas.


"A-apakah kau bisa berjalan?" tanyanya lagi.


Xavier menganggukkan kepala, lalu mengangkat sebelah lengannya.


"Kemarilah, kurasa aku membutuhkanmu untuk memapahku," ajaknya lembut.


Semarah-marahnya Sera atas sikap egois Xavier yang selalu mengambil keputusan sendiri tanpa menanyakan pendapatnya, sebenci-bencinya Sera akan sikap licik Xavier yang manipulatif dan suka memanfaatkan kelemahan orang lain demi kepentingannya sendiri, siapa yang bakalan kuat hati menolak permintaan seorang lelaki dengan penampilan fisik luar biasa tampan yang berpadu dengan tatapan polos dan nuansa lemah tanpa dosa di depannya ini?


Sera mengembuskan napas panjang, mengutuki kelemahan hatinya sendiri jika menyangkut Xavier. Tetapi, dia akhirnya melangkah juga, masuk ke dalam rangkulan Xavier, dan membantu menopang tubuh serta memapah lelaki itu perlahan, langkah demi langkah, masuk ke dalam kamar mandi.


***


Sesampainya di kamar mandi, Sera mengerutkan kening, kembali dipenuhi rasa ragu dan canggung, sebelum kemudian dia mendorong dirinya sendiri mendongak ke arah Xavier dan bertanya,


"Kau ingin dibantu mandi dengan cara bagaimana?" tanyanya pelan.


Xavier membawa langkah mereka ke sisi kamar mandi, lalu melepaskan rangkulannya dari Sera dan menyandarkan tubuhnya ke dinding kamar mandi.


"Maukah kau mendorong bangku itu ke dekat shower? Kurasa aku akan mandi sambil duduk di sana," pintanya sopan.


Sera menganggukkan kepala, lalu dengan gerakan cepat, dia menarik salah satu bangku kayu yang berfungsi sebagai tempat duduk sekaligus dekorasi itu ke dekat shower. Setelah selesai, tanpa bertanya lagi, Sera kembali berbalik ke arah Xavier, lalu membantu memapah lelaki itu dan mendudukkannya di bangku kayu itu.


Keheningan sejenak tercipta di sana. Jenis keheningan yang dipenuhi oleh nuansa canggung yang tak mengenakkan.


"Aku ingin mencuci rambutku, tapi bebat di dadaku tidak boleh basah dan baru akan diganti setiap pagi. Apakah kau bisa membantuku melepas pakaianku, menyeka tubuhku, dan mencuci rambutku tanpa membasahi perbanku?"


Xavier tentunya tahu bahwa Sera tak mungkin menolaknya. Karena itulah sambil menghela napas kembali, Sera menganggukkan kepala mengiyakan.


Lelaki ini, entah kenapa saat ini tidak tampak sedang berusaha memanipulasi Sera. Dia tampak benar-benar lemah dan... lelah


Rasa iba mendorong Sera untuk membungkuk di hadapan Xavier yang duduk di bangku tersebut. Tangannya bergerak, sedikit gemetaran, membuka kancing kemeja Xavier.


Rasa gugup menguasai diri Sera, membuatnya gagal berkali-kali melepaskan kancing itu dari lubangnya. Pipinya memerah malu, lalu dia mengangkat pandangannya dan matanya langsung bersirobok dengan Xavier yang ternyata sedang mengawasinya lekat-lekat.


"M-maaf." Entah kenapa Sera terdorong untuk meminta maaf karena dia tak bisa membuka kemeja Xavier dengan cepat.


Sebentuk seringaian langsung terbentuk di bibir Xavier ketika mendengar permintaan maafnya.


"Santai saja," jawabnya dengan suara parau.


Tanpa suara, Sera berusaha mengabaikan Xavier dan memfokuskan diri dengan tugasnya untuk membuka kancing kemeja Xavier sampai selesai. Setelah terbuka semuanya, Xavier menggerakkan tangannya untuk membantu Sera melepaskan kemejanya itu. Dan lelaki itu sekarang duduk di sana, memperlihatkan bebat yang membungkus dari bahu lalu melingkar di dadanya yang kokoh.


Tangan Sera gemetaran ketika dia tak bisa menahan jemarinya untuk menyentuh permukaan perban itu. Ketika sapuan jarinya tanpa sengaja menyentuh permukaan kulit Xavier, lelaki itu terkesiap, membuat Sera langsung mendongakkan kepala cemas.


"A-apakah sakit?" tanyanya khawatir.


Xavier menggelengkan kepala, bibirnya mengulaskan senyum tipis dan menatap Sera penuh arti.


"Lukaku tidak apa-apa. Sekarang yang nyeri bukanlah di situ," bisiknya kemudian, dengan suara makin parau.


Pipi Sera langsung merah padam ketika menyadari arti perkataan Xavier. Dia menghela napas pendek-pendek, berusaha menenangkan diri dan mengabaikan isyarat lelaki itu, lalu melangkah mundur dan berucap dengan nada tegas.


"Apakah kau bisa sedikit membungkukkan tubuhmu dan memajukan kepalamu? Aku akan mencuci rambutmu," ujarnya dengan nada tegas.


Xavier tersenyum, lalu menganggukkan kepala tipis dan mengikuti perkataan Sera, dengan hati-hati, membungkukkan tubuh dan menundukkan kepalanya di dekat Sera.


Sera mengambil keran shower dari tempatnya, dia menyalakan temperatur air hangat, sementara sebelah jemarinya mengusap rambut Xavier perlahan untuk mengoleskan shampoo lembut beraroma vanila di sana.


Lelaki ini benar-benar diciptakan dengan fisik sempurna, bahkan rambutnya saja terasa begitu lembut seperti beludru, membelit jari jemarinya dan meninggalkan nuansa menyenangkan di permukaan kulitnya.


Sera menyalakan keran air shower lalu membasahi rambut Xavier dan mengusapnya lembut hingga berbusa. Dia menyempatkan diri memijit permukaan kulit kepala Xavier dengan tak kalah lembutnya.


"Emh," gumaman kesenangan meluncur dari bibir Xavier sebagai reaksi atas pijitan Sera. "Enak sekali. Terima kasih, kelinci kecil."


Panggilan itu membuat pipi Sera memerah, tetapi kembali dia berjuang mengendalikan perasaanya yang bergolak dan meneruskan kegiatannya memijit kepala Xavier, mencuci rambutnya, lalu membilasnya dengan siraman shower air hangat sampai bersih. Dengan sikap lembut, Sera lalu mengambil handuk dan menggosok rambut Xavier sampai kering.


"Aku akan menyeka tubuhmu," Sera berbisik pelan, lalu melangkah meninggalkan Xavier untuk menyiapkan air hangat dan kain lembut guna menyeka kulitnya.

__ADS_1


Sera mengusap permukaan kulit Xavier dengan lembut, menggosok perlahan di area yang terbuka, sambil tetap berhati-hati supaya tidak sampai mengenai dan membasahi area yang dibungkus perban.


Pada saat itulah, Sera menyadari bahwa kepala Xavier sedikit lunglai, seolah-olah lelaki itu kehilangan daya di lehernya untuk menopang kepalanya.


"Xavier?" seketika Sera memanggil, dipenuhi kecemasan, takut kalau kalau Xavier pingsan.


Panggilan itu membuat Xavier tergeragap, matanya yang sempat terpejam membuka lagi, pun dengan kepalanya yang kembali terangkat.


"Aku mengantuk sekali. Kau tahu obat itu membuatku mengantuk. Lelaki itu menyeringai sementara matanya tampak berat, seolah menahan kantuk yang luar biasa.


Xavier benar, saat ini kondisi lelaki itu tampak sungguh-sungguh pada titik terlemahnya. Seluruh aura jahat, kejam dan mengintimidasi yang mendominasi di balik aura penuh pesonanya, tampak hilang lenyap tak berbekas.


Tangan Sera menyentuh celana Xavier, bibirnya gemetar gugup ketika dia memaksa dirinya bertanya.


"A-apakah kau juga mau kubantu menyeka di sini?"


Xavier mengangkat sebelah alis, sekelebat percikan berbahaya melintas di matanya.


"Bantu aku melepaskan celanaku, aku bisa menyeka sendiri di area itu," jawabnya menggoda.


"B-baik." Sera langsung bergerak memenuhi permintaan Xavier, membantu lelaki itu melepaskan celananya. Setelah selesai, dia langsung berdiri, didorong oleh keinginan untuk melarikan diri.


"A-aku akan menyiapkan pakaian kering untukmu." Napas Sera terengah, menghindari menatap Xavier, lalu terburu-buru melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu untuk menyiapkan piyama tidur bagi Xavier.


Ketika dia kembali, Xavier tengah mengeringkan tubuhnya dengan handuk besar yang telah disiapkan Sera untuknya.


Sera menegarkan hati dan kembali menghindar menatap tubuh telanjang lelaki itu, lalu membantunya berpakaian. Untungnya, tidak ada insiden yang berarti ketika Sera membantu Xavier memakai pakaiannya.


"Aku akan membantumu ke kamar." Sera berbisik pelan ke arah Xavier yang sudah tak responsif, dikuasai oleh kantuknya. Susah payah dia memapah tubuh Xavier yang terasa lebih berat dibandingkan ketika dia memapahnya sebelumnya. Terseok-seok mereka melangkah keluar dari kamar mandi dan Sera langsung mengarahkan Xavier menuju ranjangnya.


Dengan mengerahkan seluruh tenaganya, Sera mendorong tubuh Xavier supaya berbaring di atas ranjang. Kaki lelaki itu masih menggantung di pinggir ranjang, sehingga Sera harus mengangkatnya supaya Xavier bisa berbaring lurus. Sera kemudian menarik selimut untuk menutup tubuh Xavier yang sudah memejamkan mata, hampir tenggelam menuju pulasnya.


Lelaki itu tampak lelap dan damai seperti anak kecil yang tak menanggung beban dunia jika tidur seperti ini.


Sera menghela napas panjang, tahu bahwa dia harus segera menyingkir dari tempat ini sebelum perasaan melankolis yang tak bisa diterjemahkannya bermunculan di hatinya.


Tanpa suara, Sera melangkahkan kaki, hendak pergi dari kamar itu, menuju kamarnya sendiri. Tetapi, tiba-tiba saja tangan Xavier yang kuat mencengkeram pergelangan tangannya, membuat langkah Sera terhenti dan menolehkan kepalanya kembali.


Xavier sedikit mengerjap, meskipun tampaknya kantuk sangatlah mendominasi dirinya hingga sepertinya berat sekali bagi lelaki itu untuk membuka matanya.


"Mau kemana? Temani aku tidur, ya?" pintanya dengan nada nyaris manja, seperti anak kecil yang sedang merajuk kepada ibunya.


***


***


***


Hello.


Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.


Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD SUDAH tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book.


EOTD / Essence of The Darkness ---> Kisah Akram dan ELana


EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera ( Ebook BELUM tersedia)


Kata kunci di g00gle book :


Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt


Diterbitkan oleh projectsairaakira.


Bonus khusus 10 Part EOTD ekslusif hanya ada di Ebook sebagai berikut :


EOTD Bonus 1 : Morning Sick


EOTD Bonus 2 : Penyesalan


EOTD Bonus 3 : Anti Akram


EOTD Bonus 4 : Menjaga Jarak


EOTD Bonus 5 : Perpisahan


EOTD Bonus 6 : Memeluk Lagi


EOTD Bonus 7 : Rekonsiliasi


EOTD Bonus 8 : Permintaan Istri


EOTD Bonus 9 : Anugerah Terindah


EOTD Bonus 10 : Ayah Bahagia


Terima Kasih pembaca semua atas like, favorit, komentar, rating bintang lima dan juga vote poin yang diberikan kepada novel ini sehingga EOTD masuk ranking mingguan 10 besar.


AY

__ADS_1


__ADS_2