
“Pelan-pelan,”
Michaela setengah memaksa supaya kakak tirinya yang bertubuh besar itu mempercepat langkah untuk mengikutinya. Mereka saat ini sedang berjalan menuju ke sayap belakang rumah tempat perempuan kesayangan Akram Night dikurung.
Hari sudah larut malam tetapi banyak yang masih terjaga di rumah Dimitri. Karena saat ini ada tahanan penting yang disimpan di rumah dan harus dijaga baik-baik demi keberhasilan proses negosiasi, maka Dimitri menempatkan banyak sekali pengawal bersenjata di sekitar rumahnya.
Sebagian besar merupakan anak buahnya yang dilengkapi dengan persenjataan khusus dan kemampuan membunuh yang mumpuni, sebagian lagi adalah tentara bayaran yang dibayar mahal demi menambah kekuatan bagi Dimitri. Karena Dimitri tahu bahwa Akram Night dan Xavier Night sama-sama memiliki kekuatan besar, jika dua orang itu memilih mengambil risiko untuk melakukan penyerangan berdarah dan mengambil Elana secara paksa, maka Dimitri telah menyiapkan kekuatan besar dan siap menghadapi serangan mereka yang bisa terjadi kapan saja.
Beruntung dalam kondisi berpenjagaan ketat seperti itu, Michaela masih bisa dengan mudahnya menyusupkan Tedy ke dalam rumah ini. Statusnya yang diketahui oleh semua orang sebagai kekasih Dimitri membuatnya leluasa bergerak, membuat rencana yang telah disusunnya bisa berjalan dengan mulus.
Di dalam rumah sendiri, hanya ada beberapa penjaga yang berlalu larang di lorong-lorong dan di sekeliling rumah untuk berjaga-jaga. Sementara, di depan kamar Elana, penjagaannya khusus dan diperketat. Ada hampir sepuluh penjaga di sana dan Michaela tahu bahwa dirinya harus bisa mengusir mereka semua agar rencananya berhasil.
Tentu saja dia sudah menyiapkan diri, itu semua ditambah kemampuan beraktingnya yang mumpuni, dia yakin dirinya akan dengan mudah memperdaya para penjaga yang hanya mengandalkan otot, tetapi tidak berotak. Mereka sama seperti Tedy yang saat ini berdiri di sampingnya, mudah dikendalikan dan gampang dikuasai oleh manusia yang lebih cerdik dan manipulatif.
Di tangannya, Michaela membawa nampan yang penuh dengan makanan, senyumnya terkembang ketika dia menatap wajah-wajah para penjaga yang terpesona dengan kecantikannya. Michaela memang telah berdandan secara khusus untuk menikmati kemenangannya malam ini.
“Selamat malam, aku datang hendak mengantarkan makanan bagi tamu kita di dalam kamar,” ujarnya ramah.
Para penjaga itu saling melempar pandang, lalu salah satu yang sepertinya menjadi pemimpin di antara semua, menjawab Michaela dengan ragu.
“Tawanan di dalam sudah mendapatkan jatah makan malamnya jam tujuh tadi. Dan kami diperintahkan supaya pintu ini tidak boleh dibuka oleh siapapun kecuali oleh Tuan Dimitri sendiri,”
Seketika Michaela tertawa menggoda sambil mengedipkan mata merayu. “Aku sudah mendapatkan izin dari Dimitri, dia mengizinkanku datang berkunjung dan menghibur tamu kita sebagai sesama perempuan. Kalian bisa menelepon Dimitri langsung jika kalian tak percaya, tentu saja aku tidak bisa menjamin jika Dimitri menghardik dan memarahi kalian karena meneleponnya untuk sesuatu yang remeh yang sudah pasti seperti saat ini. Oh ya, Kata Dimitri, kalian semua diminta berjaga di area depan, karena kemungkinan besar Akram Night akan mengirimkan pasukannya untuk menyerang dan memusatkan kekuatannya di sana. Yang menjadi tugas utama kalian sekarang adalah mempertahankan garis depan pertahanan rumah supaya tidak bisa dimasuki oleh musuh. Dimitri sendiri yang menugaskanku menemani tamu kita di dalam, dan cukup dengan Tedy untuk menjaga,”
Dengan lancar Michaela memberikan rentetan kalimat meyakinkan. Senyumnya mengembang ketika tahu bahwa dirinya sudah hampir berhasil mempengaruhi para penjaga bodoh di depannya itu. “Buka pintunya untukku,” sambungnya kemudian dengan nada menuntut kasar.
Para penjaga itu ternyata berhasil diyakinkan dengan mudah, apalagi mereka terpengaruh oleh kedudukan Michaela yang tinggi sebagai kekasih dari atasan mereka, belum lagi status Michaela sebagai artis cantik yang luar biasa terkenal, yang membuat sebagian besar di antara mereka menjadi penggemarnya dan mudah jatuh terpesona kepadanya.
Pemimpin para pengawal itu akhirnya memutuskan membuka kunci pintu tempat tawanan mereka berada, memberikan akses bagi Michaela dan Tedy memasuki kamar.
“Tunggu apalagi? Jalankan tugas kalian untuk berjaga di luar dan pergilah dari sini,” dengan sikap sedikit memaksa, Michaela mendesak semua orang yang berjaga di depan pintu untuk pergi, membuat semua orang yang ada di sana tak bisa berbuat selain menuruti apa yang didesakkan oleh Michaela itu.
***
__ADS_1
***
"Benarkah tidak apa-apa?” Tedy memandang ke sekeliling dengan was-was, matanya yang menonjol dipenuhi kecemasan.
Michaela menipiskan bibir, memandang ke sekeliling untuk memastikan tidak ada lagi orang di sekitar yang bisa mendengar percakapan mereka. Dia lalu mengangkat dagunya dengan penuh tekad.
“Kenapa kau begitu ketakutan, Tedy? Aku sedang memberikanmu hadiah tubuh wanita untuk kau nikmati dengan bebas. Wanita ini adalah wanita jahat yang membuatku direndahkan dan dipermalukan! Kau tentu mau membantu adikmu untuk menghukum wanita ini, bukan?” Michaela berbisik perlahan, lalu mengangkat nampan di tangannya untuk menarik perhatian Tedy yang masih ragu. “Cepat buka pintunya, tanganku sudah pegal memegang nampan sialan ini!”
***
***
Elana tengah duduk di pinggir ranjang sambil menautkan kedua jemarinya yang berkeringat karena gelisah.
Sudah seharian dia dikurung di dalam kamar ini tanpa kejelasan mengenai apa yang akan terjadi padanya di masa depan. Meskipun Dimitri memperlakukannya dengan kasar, menyeretnya masuk ke dalam kamar lalu mendorong tubuhnya hingga terbanting di atas ranjang, lelaki itu tidak melakukan hal lebih dari pada itu.
Dimitri sendiri mengucapkan kalimat untuk menenangkannya, bahwa karena Elana merupakan sesuatu yang berharga untuk proses pertukaran yang sangat penting, maka Elana tidak akan disentuh ataupun disakiti, bahkan dirinya akan dijaga agar tetap utuh, supaya nilainya tidak berkurang sama sekali.
Sebenarnya pertukaran apa yang dimaksudkan untuk Dimitri? Dan… dan apapun pertukaran itu… akankah Akram menyetujuinya… demi dirinya?
Apakah benar… bagi Akram… dirinya cukup berarti sehingga lelaki itu rela berkorban untuknya? Apakah nasibnya saat ini benar-benar tergantung pada nilai dirinya di mata Akram?
Dan Akram tertembak… lelaki itu berbaring di sana tertelungkup penuh darah dan Elana tidak bisa memastikan kondisinya, membuat hatinya bergolak oleh rasa cemas yang tak seharusnya ada.
Apakah Akram baik-baik saja? Apakah lelaki itu bisa bertahan? Jika Akram ternyata tidak baik-baik saja….
Suara pintu terbuka membuat Elana terlepas dari lamunannya yang menyesakkan dada, dia mengangkat kepala dan mengerutkan kening ketika melihat sosok wanita yang luar biasa cantik tampak melangkah masuk ke dalam ruangan, diikuti oleh seorang lelaki bertubuh besar dan berwajah mengerikan di belakangnya.
“Si… siapa kalian?” entah kenapa senyuman jahat dan tatapan mata penuh kebencian di wajah perempuan cantik itu langsung menyiratkan firasat buruk di hati Elana. Tangannya terkepal sementara tubuhnya menegang penuh kewaspadaan.
“Aku adalah malaikat kematianmu,” Michaela menjawab kejam, meletakkan nampan di tangannya ke meja, lalu menoleh ke arah Tedy. “Ayo, Tedy. Lakukan tugasmu dengan benar!” sambil berucap begitu, Michaela mengeluarkan ponsel dari tangannya, berniat untuk merekam bukti mengerikan yang sudah pasti akan membuat Akram Night luar biasa jijik pada wanita di depannya ini.
Elana sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk melarikan diri ketika tiba-tiba saja dan tanpa peringatan, Tedy melompat menerjangnya. Dia langsung meronta sekuat tenaga, tetapi kedua tangannya dicengkeram dengan kekuatan luar biasa hingga pergelangan tangannya seakan terasa diremukkan tanpa ampun.
Meskipun begitu, Elana tidak menyerah, Tedy tampaknya memang memiliki kekuatan otot yang luar biasa, tetapi tubuh besarnya membuatnya memiliki kelemahan, hingga Elana yang mungil bisa bergerak, menyelipkan lututnya lalu menendang sekuat tenaga dengan lututnya berkali-kali di area sana.
__ADS_1
Seketika itu juga Tedy mengaduh kesakitan, pegangan tangannya di tubuh Elana terlepas, membuat Elana mampu menyelinap dan segera berusaha turun dari atas ranjang.
“Tangkap dia, Tedy!” Michaela yang sibuk merekam dengan kamera ponselnya berteriak tak sabar ketika melihat Elana hampir terlepas dan hendak meloncat dari ranjang.
Mendengar perintah galak itu, Tedy langsung bergerak layaknya robot, dan menyergap Elana dengan kasar. Elana langsung merasakan pandangannya berkunang-kunang, dia hampir-hampir kehilangan kesadaran karena begitu besarnya rasa sakit yang diterima oleh tubuhnya.
Kedua tangan Teddy bergerak mencengkeramnya kuat sehingga ketika Elana mencoba menggelengkan kepala untuk melepaskan diri, perempuan itu malahan terhalang napas dan hampir tersedak. Teddy tersenyum senang, merasa hampir menang. Sebentar lagi dia akan menguasai perempuan ini...
Tetapi sayangnya, apa yang diinginkan oleh Teddy ternyata tak kesampaian, belum juga berhasil menguasaiElana, tubuhnya tiba-tiba tertarik ke belakang hingga terjengkang di ujung ranjang. Lalu terdengar suara ledakan keras menggema di kamar, disambut oleh teriakan kesakitan Tedy yang membahana.
Tubuh Tedy langsung jatuh meringkuk ke lantai dekat kaki ranjang, membungkuk-bungkuk menahan nyeri sementara tangannya memegang pundaknya yang ditembak dari jarak dekat.
Jeritan Michaela terdengar dari dekat pintu, dipenuhi kengerian ketika melihat bagaimana Tedy roboh karena tertembak. Dia tidak bisa berbuat apa-apa karena kedua pengawal Dimitri mencekal lengannya di sisi kiri dan kanan, begitu kuat sehingga dia tidak bisa meronta untuk melepaskan diri.
Dimitri yang memegang pistol dan baru saja menembakkannya ke arah Tedy menyipitkan mata dan menatap ke arah Elana. Matanya menyapu Elana dengan tatapan menelisik sekali pandang, lalu dengan murka lelaki itu membalikkan tubuh, melangkah menyerbu ke arah Michaela dan mengayunkan tangannya untuk menampar pipi Michaela dengan pukulan keras.
“Perempuan bodoh! Hampir saja kau menggagalkan semua rencanaku!” Dimitri berteriak, membentak dengan napas tersengal menahan amarah. Dia lengah dan tidak menyangka bahwa Michaela akan bertindak licik, didorong oleh kecemburuannya sebagai seorang perempuan. Ternyata, kekasihnya itu masih menyimpan perasaan pada Akram Night! “Kurung perempuan ini di kamar sampai aku bisa mengurusnya nanti!” dengan kasar Dimitri menggerakkan tangan, menunjukkan sikap pengusiran yang tak kenal ampun.
“Dimitri…” pipi Michaela membengkak akibat tamparan Dimitri, dia berusaha membujuk kekasihnya itu, tetapi rupanya kemarahan Dimitri sudah terlalu besar hingga tak bisa dipadamkan lagi.
“Diam! Tunggu saja nanti aku akan menghajarmu!” sela Dimitri tanpa mau mendengarkan apapun yang hendak dikeluarkan dari bibir Michaela, lalu membalikkan badan seolah tak sudi melihat bagaimana Michaela yang berteriak-teriak memohon dan memanggil namanya, diseret pergi oleh anak buahnya.
Dimitri kembali melangkah mendekati ranjang, ke arah Elana yang masih terengah dan berusaha mengumpulkan kembali kesadarannya yang hampir menguap hilang. Seketika tubuh Elana menegang, dipenuhi kengerian yang amat sangat. Apalagi, di lantai dekat ujung ranjangnya, masih ada sosok bertubuh besar mengerikan yang hendak menyerangnya, lelaki menjijikkan itu terdengar masih mengaduh-aduh penuh rintihan kesakitan.
“Tenang, aku tidak akan menyakitimu,” Dimitri berucap perlahan. Ibu jarinya menyapu sudut bibir Elana yang masih berdarah, matanya menelisik ke arah permukaan kulit leher Elana yang memerah bekas jari-jari Tedy yang mencengkeram di sana. Belum lagi pergelangan tangan Elana yang mulai memerah gelap menyedihkan.
Sialnya, perempuan di depannya ini rupanya memiliki kulit sensitif yang mudah memar hanya dengan tekanan kasar sedikit saja.
Rencananya harus diubah secara darurat akibat insiden ini. Akram Night dan Xavier Light tidak boleh melihat perempuan kesayangan mereka penuh memar di sekujur tubuhnya. Hal itu bisa membahayakan kesempatan yang sudah terbuka lebar di depan matanya untuk menguasai perusahaan senjata milik Akram dan Xavier.
Dengan kondisi Elana yang seperti ini, maka daya tawar Dimitri tidak lagi di atas angin. Bisa saja dia malah menyulut kemarahan Akram dan Xavier, hingga mereka membuyarkan seluruh perjanjian yang hendak diajukannya.
“Singkirkan lelaki ini. Pindahkan tawanan kita ke kamar lain dan panggil tenaga medis untuk mengobatinya. Lakukan apapun untuk menahan supaya bekas di permukaan kulitnya tidak membiru terlalu cepat,” Dimitri mengeluarkan rentetan perintah dengan suara tegang ke arah anak buahnya yang langsung bergerak. Dia tahu bahwa dirinya harus bertindak cepat dan memastikan seluruh proses akuisisi diselesaikan sebelum memar-memar di tubuh Elana menjadi jelas dipandang mata.
“Panggil pengacaraku kemari dan kirimkan orang untuk mengunjungi rumah Xavier Night guna memberitahukan bahwa tawaran pertukaran tawanan dan perjanjian akuisisi perusahaan akan dilakukan di sini, saat ini juga. Bersiap semuanya, kita akan menerima dua tamu penting yang sangat kuat malam ini!” ekspresi Dimitri berubah jahat ketika tiba-tiba rasa marah yang menggumpal di dalam dirinya berubah menjadi sebentuk ide yang sangat brilian, ditatapnya sosok Tedy yang masih mengerang dan mengaduh akibat tembakan di pundaknya lalu seringainya melebar.
Dihentikannya kedua anak buahnya yang hendak menyeret Tedy pergi. “Tunggu dulu. Kurasa aku tahu siapa orang yang bisa dikirim ke sarang musuh untuk mengirimkan undangan bagi Akram Night dan Xavier Light,”
__ADS_1
***