
“Hentikan!” Sera menggerakkan tangannya untuk menyingkirkan tangan Xavier yang bergerilya dan seketika dia melangkah mundur menjauh. Kedua lengannya dia gunakan untuk memeluk dadanya, seolah melindungi tubuhnya dari jamahan Xavier.
Xavier sendiri memiringkan kepala, tampak santai menghadapi penolakan istrinya.
“Sebelum-sebelumnya kau tidak menolak,” ucap Xavier sambil memindai sikap tubuh Sera yang defensif. “Kenapa sekarang kau menolakku, istriku?” tanya Xavier dengan nada menyelidik.
Pertanyaan Xavier yang menunjukkan kepekaannya itu begitu menakutkan, apalagi ketika diterima oleh Sera yang sedang menanggung rasa bersalah akibat menyembunyikan sesuatu darinya. Bibir Sera mulai gemetaran ketika dia membuka mulutnya, mencoba untuk bersikap senormal mungkin di depan Xavier yang sangatlah jeli.
“A-aku merasa sangat kotor. Setelah perjalanan dan sebagainya… k-kurasa aku ingin mandi dulu.” Sera mencoba memberikan penjelasan yang paling logis untuk menutupi tingkah anehnya. Dia menelan ludah ketika menunggu reaksi dari Xavier, sambil berdoa dalam hati semoga Xavier mau menerima penjelasannya dan tak curiga.
Sayangnya, lelaki itu malahan melepaskan kancing kemejanya, menatap Sera dengan tatapan penuh isyarat sensual.
“Oh? Sesungguhnya aku juga merasakan hal yang sama.” Xavier mulai melepaskan kemejanya. “Bagaimana jika kita berendam air hangat di dalam bath tub bersama? Aku bisa membantu menggosok punggungmu, demikian juga sebaliknya. Aku bahkan akan memberikan bonus pijatan untuk meredakan pegal dan lelah tubuhmu akibat perjalanan jauh.” Xavier menyeringai, tidak menyembunyikan maksud sebenarnya dari ajakannya. “Bath tub ku cukup besar untuk menampung dua orang. Kita bahkan bisa leluasa bergerak jika ingin melakukan hal lain-lain, selain mandi tentu saja.
Kalau Sera membiarkan itu terjadi, Xavier sudah pasti akan melucuti pakaiannya dan lelaki itu akan langsung menemukan ponsel mini yang dia sembunyikan di balik bra-nya.
“T-tidak. Jangan,” pikiran Sera berputar, mencari cara untuk melarikan diri dari desakan Xavier yang hampir-hampir tak bisa ditolak. “A-aku… sesungguhnya aku sakit perut. Kau tak bisa ikut aku ke kamar mandi!”
Sera berseru panik, menggunakan alasan terbaik yang bisa diberikannya. Lalu, tanpa menunggu reaksi dari Xavier, Sera langsung melangkah setengah berlari, melewati Xavier dan langsung menuju kamar mandi, lalu membanting pintu dengan keras dan menguncinya dari dalam sana.
Xavier, yang lagi-lagi ditinggalkan sendirian ketika istrinya melarikan diri ke kamar mandi, hanya mengulas setitik senyum di bibirnya.
Tetapi, senyum itu tak sampai ke matanya.
Ketika bibirnya dipenuhi senyuman manis, matanya bertolak belakang dengan itu semua, malahan menyalakan bara sinar mengerikan yang tak bisa dideskripsikan dengan kata-kata.
***
Sera berusaha mengatur napasnya yang tersengal tak terkendali. Punggungnya disandarkan di pintu yang sudah dia pastikan terkunci rapat, sementara kedua tangannya kembali memeluk dirinya sendiri, seolah-olah berusaha menyalurkan kekuatan kepada dirinya sendiri. Tetapi, rupanya seluruh energi Sera telah terkuras habis oleh rasa takutnya, hingga kakinya goyah, gemetaran tak mampu menopang tubuhnya.
Perlahan, tubuh Sera melorot, duduk di karpet kamar mandi yang tebal sementara punggungnya masih bersandar di pintu kamar mandi.
Sera sungguh ngeri membayangkan jika tadi dia tidak cepat bergerak dan Xavier sampai tahu kalau ada ponsel mini yang terselip di balik bra-nya. Entah apa yang akan dilakukan oleh Xavier kepada Aaron jika sampai lelaki itu tahu kalau Aaron berusaha melawannya diam-diam dan menjalin komunikasi dengan Sera. Mungkin lelaki itu akan langsung membunuh Aaron tanpa belas kasihan, dengan racun paling mengerikan yang dimilikinya.
Membayangkan itu semua membuat gemetar yang melanda diri Sera jadi tak terkendali. Sera terpaksa harus menghela napas berkali-kali untuk menenangkan diri.
Meskipun telah terbiasa berada di dekat Xavier dan disentuh berulang kali oleh lelaki itu hingga dirinya hampir melupakan rasa traumanya. Tapi saat membayangkan Xavier akan melukai orang-orang terdekatnya, rasa trauma dan ketakutan tak terkendalinya kepada Xavier itu kembali muncul dan menyiksanya dengan serangan panik yang bukan hanya melukai psikisnya tetapi juga terasa mencekik fisiknya.
Betapa Sera merindukan obat penenangnya jika dia sedang didera oleh kesakitan seperti ini. Sayangnya, saat ini obat itu tak tersedia untuknya. Jadi, yang bisa dilakukan Sera adalah merapalkan mantra berisi kalimat penguat berkali-kali untuk menenangkan dirinya, meyakinkan dirinya sendiri supaya sadar bahwa dia kuat, bahwa dia bisa, dan bahwa dia mampu untuk menghadapi serta mengalahkan Xavier.
Butuh waktu beberapa lama hingga akhirnya dadanya yang naik turun oleh luapan emosi tak terkendali akhirnya bisa tenang dan dirinya mampu bernapas normal kembali. Keringat dingin yang membasahi dahi serta pelipisnya juga tak keluar lagi.
Sera akhirnya bisa membuka mata, tak lagi merasa terhimpit oleh beban berat yang tadinya sempat membuatnya megap-megap kesulitan bernapas.
Mata Sera lalu beredar ke sekeliling kamar mandi yang sangat luas itu, menjelajah ke seluruh titik, mencari tempat teraman untuk menyembunyikan ponsel mini yang diterimanya dari Aaron.
Dia mencari sebuah tempat yang dengan mudah bisa diaksesnya, tetapi sekaligus cukup aman dan jauh dari jangkauan Xavier.
Lama Sera menimbang-nimbang, akhirnya pilihannya jatuh pada sebuah pot bunga yang tergantung di salah satu sisi dinding. Pot bunga itu tergantung cukup tinggi, tetapi Sera bisa menggunakan kursi kayu mungil yang menjadi dekorasi di sudut ruangan untuk menjangkaunya.
Perlahan, Sera memaksakan kekuatan tubuhnya untuk mendorong dirinya yang lunglai itu bangkit dari posisi bersimpuh di karpet kamar mandi. Langkahnya sedikit goyah pada awalnya, tetapi kemudian dia mendapatkan semangatnya kembali dalam waktu singkat.
Setidaknya, sekarang dia bisa berkomunikasi dengan Aaron dan memastikan malaikat penolongnya itu baik-baik saja dimanapun lelaki itu ditahan sekarang.
Sera lalu menyeret kursi kayu dari posisinya dan membawanya menyeberangi ruangan. Dia sangat berhati-hati agar tak bersuara. Dia lalu menempatkan kursi itu tepat pada posisi di bawah tanaman gantung tersebut, sebelum kemudian menaiki kursi kayu yang untungnya cukup kokoh untuk menampung berat badannya.
Sera lalu mengeluarkan ponsel mini tersebut dari branya, sebelum kemudian berjinjit sedikit untuk mencapai pot tersebut. Ukuran pot itu cukup besar bahkan terlalu bersar untuk menampung tanaman yang berukuran sangat kecil di dalamnya. Pot itu hanya berisi dua tanaman kaktus kering sebagai dekorasi. Di bagian dasarnya, terdapat sedikit tanah dan jerami untuk menahan kaktus itu supaya berdiri tegak. Tanaman kaktus bukanlah tanaman yang membutuhkan air dan bisa hidup meskipun jarang disiram. Itu berarti, ponsel mini ini akan aman sementara disimpan di dalam pot ini karena terhindar dari kemungkinan disiram air, selain itu, posisi potnya yang digantung cukup tinggi di atas, rasa-rasanya akan membuatnya diabaikan oleh beberapa pelayan yang bertugas untuk membersihkan kamar mandi ini.
Setelah menempatkan ponsel mini itu ke dalam pot. Sera langsung meloncat turun dari kursinya lalu bergegas mengembalikan kursi tersebut ke tempat semula, memastikan kursi itu berada di tempatnya semula dan tak bergeser seinci pun, karena Sera menyadari betapa cermatnya Xavier. Dia juga melangkah kembali ke karpet bekas kursi tersebut berada, lalu merapikan kembali karpet itu, untuk menghilangkan jejak kursi yang membekas di sana.
Setelahnya, Sera melepaskan pakaiannya dan memutuskan untuk mandi. Entah karena Xavier berkali-kali menjamahnya, atau mungkin hanya karena kondisi psikis Sera saja, dia merasakan bahwa aroma Xavier melingkupinya dengan sangat kuat, membuatnya didera rasa ingin melarikan diri yang kental.
Satu-satunya cara untuk menghilangkan bekas jamahan lelaki itu adalah dengan mandi, meskipun Sera tahu, bahwa sesungguhnya itu tak ada gunanya. Karena dia menduga, bahwa Xavier sudah pasti akan menyentuhnya kembali dan meninggalkan jejaknya di tubuh Sera begitu ada kesempatan.
***
Xavier melangkah memasuki ruang kerja pribadinya yang kedap suara, lalu menyalakan ponselnya dan menelepon.
Suara disana menyahut, dipenuhi oleh nada tidak suka yang tak disembunyikan.
__ADS_1
“Halo, Dimitri.” Xavier menyeringai, menyelipkan ancaman mengerikan dalam suaranya. “Kau mungkin sudah tahu kenapa aku menghubungimu.”
Keheningan membentang di seberang sana, entah karena Dimitri kehabisan kata-kata karena terkejut, atau mungkin saja lelaki itu sedang sibuk memeras otak, memikirkan arti dari kalimat bersayap yang diucapkan oleh Xavier.
“Apa maksudmu?” ujarnya kemudian, berusaha bersuara datar meskipun setitik kegelisahan lolos dari nada suaranya.
Xavier tertawa, tetapi itu bukanlah tawa senang, melainkan tawa sinis penuh ironi.
“Jangan berpura-pura bodoh. Untuk apa kau menyusupkan black widow dalam pesawatku? Kau pikir, dengan segala reputasi buruknya terhadap korban-korbanya, aku tak akan langsung mengenalinya ketika kau menyamarkannya menjadi pramugari pesawatku?” Xavier tidak berbasa-basi, langsung menembak tepat sasaran dan membuat Dimitri tergeragap di seberang sana.
“A-aku hanya memintanya mengawasimu. Kau tahu bahwa dengan kondisiku yang tergantung pada penawar yang formulanya hanya ada di dalam otakmu, aku tak mungkin berbuat sesuatu untuk mencelakaimu. Aku menugaskan Sabina untuk memata-mataimu demi keamananku sendiri. Jadi, jika tiba-tiba kau berubah pikiran dan ingin membunuhku, aku akan tahu lebih dulu dan bisa membuat rencana cadangan untuk menyelamatkan nyawaku. Sabina juga bisa mengawal dan melindungimu. Dia adalah salah satu anak buahku yang cukup tangguh. Apakah kau tak ingin mempekerjakannya?” Dimitri menjelaskan maksudnya dengan gamblang. Dia tidak berbohong karena memang itulah tujuan utamanya menempatkan Sabina untuk mendekati Xavier.
Untuk saat ini, karena nyawa Dimitri yang teracuni tergantung pada penawar yang hanya bisa dibuat oleh Xavier tanpa ada stoknya yang bisa dicuri, sudah tentu Dimitri akan menjadi orang nomor satu yang akan melindungi Xavier supaya tidak mati. Sebab, jika Xavier sampai mati, maka dirinya pun akan mati.
Tetapi, tentu saja Dimitri masih menyimpan maksud tersembunyi yang tidak mungkin dikatakannya kepada Xavier.
Dengan mengirimkan Sabina, Dimitri berharap anak buahnya itu bisa menaklukkan Xavier.
Sabina memiliki reputasi tak terbantahkan untuk menaklukkan kaum lelaki. Perempuan itu memiliki wajah eksotis yang sangat cantik, kecerdasan luar biasa, kemampuan bela diri yang mumpuni dan yang paling utama, tubuhnya sungguhlah indah dan dia pandai melayani laki-laki.
Dimitri membuktikan sendiri hal itu karena dia sudah mencicipi perempuan tersebut, tetapi karena dia tahu betapa berbahayanya Sabina, Dimitri cukup pandai untuk tak terlena apalagi memakai hati, karena dia tak mau berakhir sebagai laki-laki korban Sabina yang sebagian besar menemui ajalnya dengan mengenaskan.
Dengan semua kelebihan Sabina itulah, dia sempat berharap jika Sabina berhasil memesona dan memperdaya Xavier supaya terjatuh dan terbelit dalam jeratnya, hingga Dimitri akan bisa mengendalikan Xavier melalui tangan Sabina.
Sayangnya, melihat sikap Xavier sekarang yang sudah mengetahui jati diri Sabina yang terkenal, sepertinya rencana harapan Dimitri itu sudah pasti pupuslah sudah.
Xavier adalah pria yang sangat cerdas, penuh perhitungan dan sangat berhati-hati dalam setiap langkahnya, dan Dimitri tahu bahwa lelaki itu tidak mungkin akan jatuh dalam jeratan Sabina setelah mengetahui betapa berbahayanya Sabina bagi kaum laki-laki.
“Tidak. Aku tidak membutuhkan perempuan murahan itu. Para pengawalku lebih ahli dan lebih kompeten dari pada anak buahmu itu, dan mereka sudah jelas lebih setia.” Xavier menyahut dengan nada dingin, menolak tawaran Dimitri mentah-mentah. "Lagipula, Sabina sepertinya memiliki rencana lain yang bertentangan dengan instruksimu. Kau terlalu memberikan kepercayaan kepada anak buahmu, Dimitri, sehingga mereka berpikir mereka bisa bertindak semaunya dan melangkahi otoritasmu." Xavier menyambung kalimatnya dengan nada misterius lambat-lambat.
"Apa maksudmu?" Dimitri menyambar. Perkataan Xavier langsung memantik api firasat buruk yang berkobar di hatinya.
"Sabinamu itu, dia bermain mata dengan tawananku, membuat rencana di belakangku. " Xavier berucap dingin, lalu tanpa memberi kesempatan pada Dimitri untuk bertanya, lelaki itu memutus sambungan telepon, menggantung Dimitri dalam deraan rasa penasaran yang kejam.
Xavier lalu meletakkan ponselnya dan duduk di kursi besar di belakang meja kerjanya. Tangannya menekan salah satu tombol di mejanya untuk menyalakan layar digital yang terletak pada dinding ruang kerjanya. Tampilan yang muncul di sana tampak begitu jelas, memunculkan visualisasi yang didapat dari beberapa kamera pengawas di kamar mandi. Setiap sudutnya terpampang nyata, tak ada satu titik pun yang lolos dari pandangan.
Karena berada di area yang sangat privat, hanya Xavierlah yang bisa mengakses kamera di kamar mandi pribadinya ini.
Mata Xavier yang tajam mengikuti gerakan Sera di dalam sana, ketika perempuan itu menyeret-nyeret kursi dengan susah payah ke bawah sebuah pot tanaman gantung, lalu menaiki kursi itu sebelum kemudian mengeluarkan benda hitam mungil berbentuk kotak dari balik pakaian di area dadanya dan menyembunyikan benda itu dengan aman di dalam pot gantung.
Xavier bahkan hampir-hampir terkekeh ketika melihat Sera dengan cermat mengukur dan memastikan kursi yang tadi ditariknya, dikembalikan ke tempatnya semula tanpa bergeser seinci pun. Perempuan itu bahkan repot-repot merapikan dan menepuk-nepuk bulu-bulu karpet bekas tempat pijakan kursi untuk mengilangkan jejak di sana.
Yah, Sera adalah perempuan cerdas. Sayangnya, perempuan itu tak sadar bahwa dia sedang berhadapan dengan lelaki yang jauh lebih cerdas dan lebih culas dibandingkan dirinya.
***
Sera mengintip keluar dari kamar mandi dengan was-was. Tubuhnya hanya mengenakan handuk yang membungkus, karena dia telah meletakkan pakaian kotornya di laundry bag di kamar mandi.
Matanya memindai ke seluruh penjuru ruangan, dan ketika menyadari bahwa ruangan itu kosong, barulah Sera melangkah keluar dari kamar mandi, menapakkan kaki telanjangnya menyeberangi karpet, langsung menuju ke lemari pakaian yang tertanam memenuhi satu sisi dinding kamar tersebut.
Dia harus segera berpakaian sebelum Xavier datang...
Tangan Sera bergerak cepat membuka pintu lemari yang paling besar, berharap bisa menemukan pakaian yang tersedia untuknya seperti yang sebelum-sebelumnya. Tetapi, keningnya berkerut ketika hanya menemukan pakaian-pakaian Xavier yang tersusun rapi di sana.
Penasaran, tangan Sera bergerak cepat membuka pintu-pintu lemari yang lain. Dan seperti yang sebelumnya, hanya ada pakaian Xavier yang tertata di sana. Bahkan, di beberapa rak lemari yang dibukanya, isinya kosong melompong tak ada apapun di sana.
Xavier biasanya mempersiapkan semuanya dengan rapi. Bahkan terakhir Sera di sini, pakaian-pakaian untuknya sudah siap di lemarinya sebelum kemudian sebagian dipacking oleh para pelayan dalam persiapannya pergi ke Rusia kemarin.
Apakah pakaian-pakaian itu belum dikeluarkan dari koper? Kening Sera berkerut, bertanya-tanya ketika tak menemukan satu pakaian pun yang cocok untuknya di dalam lemari itu.
"Kau bisa memakai pakaianku dulu untuk sementara."
Suara Xavier tiba-tiba terdengar di belakang Sera, membuat Sera hampir terloncat karena terkejut. Sera membalikkan tubuh dengan jantung berdebar dan matanya langsung bertemu dengan mata tajam Xavier yang sudah berdiri dekat dengannya, memerangkap Sera hingga dirinya terjepit, tertahan oleh lemari yang menempel di punggungnya.
Bagaimana Xavier bisa memasuki ruangan ini tanpa suara?
Sera bertanya-tanya dalam hati, merasa jengkel karena Xavier sepertinya memiliki hobi mengejutkannya, lalu menertawakan tingkah konyol Sera ketika terkejut.
"Kenapa kau begitu kaget? kau seperti pencuri yang mengendap-endap dan ketahuan oleh pemilik rumah." Xavier mengangkat alis, mengawasi Sera dengan saksama. "Apakah kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Xavier kemudian, dengan nada tajam dan tepat sasaran.
Wajah Sera langsung pucat pasi. Lelaki itu memang mengucapkan kecurigaannya dengan sikap santai penuh senyum, tetapi Seralah yang paling tahu, betapa mengerikannya dan betapa tak tertebaknya jalan pikiran Xavier di balik senyum manis yang selalu tersungging di bibirnya itu.
__ADS_1
"Aku hanya bingung karena tak menemukan satu pun pakaian yang bisa kukenakan," seru Sera dengan nada defensif, mencoba memupuskan kecurigaan Xavier.
Mata Xavier sama sekali tak berkedip ketika mengawasi Sera lekat-lekat.
"Sebagian pakaianmu belum dibongkar dari koper, sementara yang lainnya, ada yang sedang dipilah di bagian rumah tangga, ada pula yang sedang dalam proses pengerjaan oleh beberapa desainer yang khusus kupilih untuk menangani pakaianmu. Tetapi aku akan memastikan bahwa besok kau sudah memiliki sebagian besar pakaian di lemarimu." Xavier mengarahkan dagunya penuh isyarat ke arah sisi lemari yang isinya kosong, menunjukkan pada Sera bahwa dia sudah menyediakan tempat untuk pakaian-pakaian Sera di masa mendatang. "Untuk sementara, kau bisa memakai kemeja piyamaku atau t-shirtku. Pakaian itu cukup longgar dan nyaman untuk tidur meskipun celananya tak akan bisa kau pakai, karena terlalu kebesaran untukmu."
Sambil berucap, Xavier membuka pintu lemari di sisi belakang Sera, lalu mengeluarkan sehelai atasan piyama berwarna putih, dan menyerahkannya ke tangan Sera.
"Pakai ini saja," perintah Xavier dengan nada tegas.
Sera menggenggam pakaian itu di tangannya, memeluknya di dada untuk melindungi tubuhnya yang hanya dibungkus handuk dari pandangan Xavier. Kalimat yang diucapkannya kemudian malahan memperburuk segalanya, membuat wajahnya merah padam hingga menjalar sampai ke leher dan dadanya.
"A-aku tak punya pakaian dalam ganti," ujar Sera terbata dengan bibir gemetaran kemudian.
Perkataan itu membuat Xavier menyeringai, menatap Sera dengan penuh arti.
"Siapa bilang kau butuh memakai pakaian dalam, malam ini? Lagipula, tujuanku menawarkanmu piyama itu, adalah supaya aku bisa dengan senang hati membuka kancingnya satu persatu, dengan perlahan-lahan dan menggodamu malam ini."
***
Aaron mondar mandir di dalam ruang sempit tempat dia ditawan. Matanya ditutup di sepanjang perjalanan hingga dia tak tahu sedang dibawa kemana. Tetapi, perjalanannya cukup jauh dan ditempuh dalam waktu lama, membuat Aaron yakin bahwa dia dibawa ke area pinggiran kota yang sepi.
Karena sejak kecil tinggal di Rusia bersama kedua orang tuanya dan tak pernah pulang ke negara ini, Aaron sama sekali tidak familiar dengan tata kotanya. Ketidaktahuannya ini menciptakan rasa frustasi yang menggila di dada membuatnya gelisah setiap saat.
Hanya Sera yang saat ini bisa membantunya untuk memetakan lokasinya saat ini berada.
Aaron langsung teringat pada alat komunikasi yang disembunyikannya di balik celananya. Beruntung anak buah Xavier kali ini tak melakukan penggeledahan ke tubuhnya, dan membiarkan Aaron lolos sambil membaw ponsel mini ini ke dalam kamar tahanannya yang tertutup rapat.
Dia benar-benar seperti menang lotere ketika pramugari bernama Sabina itu termakan bujukannya dan bersedia untuk membantunya. Benar dugaannya kalau wanita itu bukanlah wanita biasa, karena Sabina kemudian memberikan alat komunikasi mini yang bisa digunakan untuk berukar teks dan menyuruh Aaron menyembunyikan alat itu.
Sabina juga menyuruh Aaron menulis pesan untuk Sera dan mengirimkannya ke nomor kode khusus yang sudah tercatata di sana. Sabina bilang dia punya dua alat, satu untuk Aaron, sementara yang laim akan diberikannya kepada Sera, sehingga mereka berdua bisa berkomunikasi.
Sekarang, di dalam ruang sempit tertutup rapat dengan ventilasi tak terjangkau karena berada di tempat tinggi, Aaron jadi ragu apakah Sabina berhasil menyelipkan posel mini itu kepada Sera.
Mata Aaron masih terpaku pada ponsel mini di tangannya, sementara tangannys menimang-nimang benda itu sambil berpikir keras.
Apakah dia harus menghubungi Sera saat ini juga melalui pesan teks ini untuk memastikan bahwa ponsel mini yang satunya benar- benar sudah ada di tangan Sera?
***
***
***
REKOMENDASI NOVEL BAGUS DARI AUTHOR
JUDUL NOVEL : The Fragrance Of Frozen Plum Blossom
PENULIS : YOZORA
***
***
***
___PRAKATA DARI AUTHOR___
- Terima kasih atas sumbangan POIN yang digunakan untuk VOTE author sehingga EOTD bisa masuk ranking.
-Terima kasih atas dukungan semangat, favorite, like, poin, komentar, dan juga rating bintang limanya
- Baca novel lain author judulnya INEVITABLE WAR, klik aja profil author, lalu cari karya dan scroll bagian paling bawah.
- Kenapa tak ada gambar seperti dulu? Karena novel bergambar itu lama lolos reviewnya. Sementara, novel tanpa gambar sangat cepat lolos reviewnya.
Jadi, author upload naskah polos tulisan doang tanpa gambar dulu, biar cepat lolos review dulu.
Kalau dah lolos dan bisa dibaca kalian, baru author edit dan ditambahi gambar ( kalau ga percaya, silahkan cek episode 1 sd 20 an, sudah full gambar visualisasi semua).
- Naskah per part selalu minimal 2500++ kata, bahkan kadang lebih dan prakata author cuma 100++ kata. Biasakan membaca dengan terperinci yak.
__ADS_1
Thank You
Yours Sincerely - AY