Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
EOTL eps 90 : Janji Keluarga


__ADS_3

EOTL ( Essence Of The Light ) - EOTD Season 2 - Kisah Xavier dan Sera


****


****


****


 


 


“Sabun beraroma cream soup jagung?”


Akram hampir menyerukan perkataannya, menatap ke arah Xavier dengan pandangan tak percaya.


“Ya, Sera bilang dia ingin berendam di cream soup jagung, jadi aku menciptakan sabun foam dengan kekentalan busa yang menenangkan dan aroma menyenangkan dari cream soup jagung. Kau tahu, butuh berkali-kali percobaan untuk menghasilkan aroma yang sama persis dengan cream soup jagung di restoran itu. Untuk kali ini, aku pasti berhasil.” Xavier mengibaskan kertas di tangannya dengan puas. “Yang satu ini sudah pasti berhasil,” ulangnya kemudian seolah-olah berusaha meyakinkan dirinya sendiri.


Jawaban Xavier yang santai itu membuat Akram menggerakkan tangannya ke pangkal hidung dan memijit di sana dengan frustasi. Dia telah mendengar banyak suami yang menggunakan segala cara untuk menyenangkan istri hamilnya, dirinya sendiri sudah menjadi bagian dari suami-suami semacam itu. Tetapi baru kali ini dia menemukan manusia segila Xavier yang menciptakan sabun dengan foam kental beraroma cream soup jagung untuk berendam istrinya.


“Kau pikir Sera akan senang menerimanya?” Kembali Akram bertanya dengan nada tidak yakin.


“Kenapa tidak? Bukankah itu yang diinginkan oleh Sera? Dia yang mengatakan sendiri, bukan?” Xavier menjawab lugas, tanpa rasa bersalah.


“Kau tidak berpikir kalau itu hanyalah kalimat ungkapan hiperbola yang digunakan Sera untuk memuji kelezatan cream soup jagung yang dimakannya? Menurutku, dia tidak benar-benar ingin berendam di dalam cairan sup itu.” Akram menatap Xavier dengan pandangan jengkel. “Kau mungkin memiliki otak yang sangat jenius, tetapi kurasa kau harus mempelajari wanita dengan lebih baik, Xavier. Wanita biasanya menyukai aroma bunga atau aroma buah-buahan untuk foam sabun berendam mereka, siapa yang mau berendam di dalam sup beraroma bawang?”


“Istriku akan menyukainya.” Xavier menjawab dengan nada yakin, sama sekali tak tergoyahkan dengan nasehat Akram. “Kurasa istrimu juga akan menyukainya. Kau tahu kan kalau Elana sangat suka makan, dia pasti akan senang dengan sabun ini. Apakah kau ingin aku membuatkan satu ekstra untukmu?”


“Tidak terima kasih.” Akram mengibaskan tangannya dengan jengkel, tahu pasti bahwa lebih baik dia tidak ikut campur dengan urusan Sera dan Xavier lebih jauh. “Aku harus pergi sekarang. Beri kabar kepadaku jika kau sudah memiliki waktu untuk melihat mayat itu.”


Tanpa mengucap kata lagi, Akram membalikkan tubuh dan melangkah keluar dari pintu yang ditutupnya di belakang punggungnya, meninggalkan Xavier kembali tengelam di dalam ruang labnya seperti biasa.


***


 


Sera membuka mata ketika merasakan guncangan yang cukup kuat di perutnya. Dia menghela napas panjang ketika merasakan permukaan kulit perutnya meregang dan mengeras, sebelum kemudian sebuah tendangan terasa bertubi-tubi menekan dari dalam rahimnya hingga terasa di permukaan kulit perutnya.


Usia kandungannya belumlah tujuh bulan, tetapi kondisi perutnya yang sangat besar membuatnya mulai kesulitan bergerak sehingga di siang hari seperti ini, Sera menggunakan waktunya untuk tidur siang dan beristirahat.


Sesungguhnya, kondisi kehamilannya sama sekali tidak bermasalah, dirinya rutin memeriksakan kandungannya ke dokter sesuai dengan permintaan Xavier dan dokter mengatakan bahwa kedua bayinya sehat tanpa ada satu pun masalah yang berarti. Permasalahannya hanya ada pada Sera sendiri. Dia sebenarnya tidak mengalami gangguan makan yang berarti, tidak menolak jenis makanan tertentu dann juga tidak mengalami mual muntah parah, malahan bisa dibilang nafsu makannya meningkat drastis setelah dia melewati masa kehamilan empat bulan. Sayangnya, porsi makannya yang sangat besar itu sepertinya hanya terserap semuanya kepada kedua bayinya dan hampir tidak tersisa untuk dirinya, membuat tubuhnya cenderung lebih kurus daripada sebelumnya, sementara perutnya bertambah semakin lama semakin besar dengan proporsi yang tak seimbang.


Ya, hanya perutnya yang tumbuh semakin besar seiring dengan bertambahnya usia kandungannya. Karena itulah, jika dilihat dari jauh, ketika Sera sedang berdiri, dia tampak seperti perempuan kecil malang yang memeluk buntalan bulat berukuran besar di perutnya.


Sesungguhnya itu bukanlah masalah bagi Sera, karena yang terpenting baginya adalah pernyataan dokter bahwa kedua bayinya tumbuh sehat dan kuat seperti seharusnya. Tetapi, tubuhnya berucap lain. Kakinya yang mungil sudah mulai bengkak karena tak kuat menahan beban perutnya yang berat, pun dengan punggung dan panggulnya yang terasa sakit, seolah-olah tulang dan otot tubuhnya memprotes karena harus bekerja keras habis-habisan untuk menyangga perutnya yang berukuran besar.


Tendangan itu terasa lagi, kali ini begitu kuat dan menekan kandung kemihnya, sehingga Sera merasakan dorongan kuat untuk buang air kencing yang mendesak.


Perlahan Sera menghela napas panjang. Dengan kondisinya yang seperti ini, bahkan untuk buang air kecil pun terasa sangat menyusahkan. Untuk menjangkau ruang kamar mandi yang sesungguhnya dekat, Sera harus menyeret-nyeret kakinya yang bengkak dan sakit guna membawa tubuhnya ke sana.


“Kalian lapar?” Dengan lembut Sera bermonolog sambil mengucapkan pertanyaan kepada bayinya. Tendangan di perutnya itu memang disertai dengan gemuruh di saluran pencernaannya, pertanda dirinya kelaparan. Tadi Sera memang tertidur hingga hanya sempat memakan snack menjelang siang dan belum sempat memakan makan siangnya. Xavier telah memberitahu para pelayan supaya membiarkan Sera beristirahat dan tak mengganggu tidurnya, sehingga tak ada satu pun yang berani membangunkan Sera untuk makan siang.


Mata Sera melirik ke arah jam dinding. Ternyata dia sudah tidur dua jam lebih karena jam sudah menunjukkan pukul setengah dua siang. Pantas saja dia merasa lapar.


Kepala Sera menunduk, lalu tangannya bergerak untuk mengusap perut buncitnya dengan sikap lembut berusaha menenangkan kedua anaknya yang menendang-nendang di dalam sana.


“Tunggu sebentar, biarkan ibu buang air kecil dulu, setelah itu kita makan, ya?”


Sera memang terbiasa berbicara dengan anak-anaknya di dalam kandungan bahkan sejak usia kandungannya masih sangat muda. Dia tahu bahwa anaknya mungkin belum mengembangkan sistem pendengaran yang sempurna sehingga belum bisa mendengar suaranya dengan jelas ataupun memahami makna kalimat yang diucapkannya, tetapi dia tahu bahwa anaknya memahaminya dengan bahasa kalbu, bahasa universal penuh kasih sayang yang bisa dipahami oleh dua makhluk yang terikat oleh untaian kasih sayang antara ibu dan anak.


Susah payah Sera menggeser tubuhnya dari ranjang. Akhir-akhir ini, kegiatan bangun dari ranjang memang terasa lebih sulit dari biasanya dan kadang-kadang Sera membutuhkan bantuan hanya untuk duduk dan berdiri dari ranjang.


Biasanya Xavier selalu membantunya dengan sabar, tetapi hari ini Xavier sedang sibuk mengurung dirinya di dalam lab pribadinya untuk melakukan penelitian misterius yang Sera tidak ingin menanyakannya lebih jauh.

__ADS_1


Hidup bersama selama beberapa bulan, tentu Sera paham betapa berbahayanya suaminya jika menyangkut racun dan virus. Suaminya adalah pencipta hebat, sayangnya hasil ciptaannya terasa terlalu mengerikan untuk dibayangkan. Lelaki itu mungkin sedang menciptakan racun pembunuh terbaru dan Sera memutuskan tidak akan bertanya. Dia tidak bisa membayangkan betapa mengerikannya mendengarkan Xavier menjelaskan dengan bersemangat bagaimana efek racun ciptaannya itu ke tubuh manusia atau betapa berbahayanya racun itu jika mengkontaminasi makhluk hidup.


Lebih baik dia menutup mata dan berpura-pura tak tahu. Sera begidik dan memutuskan sambil menggelengkan kepala sedikit guna mengusir pikiran mengerikan itu dari benaknya.


Pada saat bersamaan, pintu ruang kamarnya terbuka dan Xavier berdiri di sana, melangkah masuk ke dalam ruangan. Langkahnya semakin cepat mendekati ranjang ketika dilihatnya Sera sedang bersusah payah berusaha turun dari ranjang.


“Kau ingin ke kamar mandi?” tanya Xavier cepat, menantap perut Sera yang membuncit besar dengan sedikit cemas. Usia kandungannya belumlah tujuh bulan, tetapi perutnya sudah sebesar ini dan membuat Sera kesulitan bergerak.


Padahal masih ada dua bulan lagi... bagaimana nasib istrinya nanti jika perutnya semakin membuncit lebih besar dari ini?


“Aku ingin buang air kecil.” Dengan topangan tangan Xavier, Sera telah berhasil duduk di ranjang, mata lebarnya terangkat, menatap suaminya dengan tatapan malu bercampur harap. “Maukah kau membantuku ke kamar mandi?” tanyanya kemudian.


Senyum lembut segera terulas di bibir Xavier. Dia mengenal istrinya itu dengan pasti, Sera adalah tipikal perempuan yang sangat ingin mandiri dan tak mau menggantungkan dirinya kepada orang lain. Tetapi, kondisi kehamilannya ini sepertinya sudah menekan batas kekuatan Sera sampai ujung, karena itulah perempuan itu terpaksa meminta bantuannya.


Xavierlah yang paling tahu betapa sulitnya bagi Sera untuk meminta bantuan kepada orang lain, karena itulah, ketika Sera meminta seperti barusan, sudah jelas dia tak akan menyia-nyiakannya.


“Tentu saja.” Xavier menjawab cepat, lelaki itu lalu membungkukkan tubuh dan meraup Sera ke dalam pelukannya sebelum kemudian mengangkat tubuh Sera ke dalam gendongannya, tidak mempedulikan pekikan Sera yang terkejut karena tubuhnya berayun cepat secara tiba-tiba ke dalam gendongan suaminya.


“Xavier!” Sera memanggil nama suaminya dengan pekikan terkejut. “Aku hanya meminta bantuan untuk dipapah ke kamar mandi, bukan untuk digendong. Turunkan aku, tubuhku berat,” seru Sera kemudian dengan nada panik.


Xavier terkekeh dan terus berjalan ke kamar mandi tanpa mempedulikan perkataan Sera.


“Tidak berat sama sekali,” jawabnya kemudian dengan nada menenangkan. “Kau harus memberi kesempatan kepadaku, Sera. Kapan lagi aku bisa menggendong istri dengan dua anakku sekaligus kalau tidak sekarang?” sambungnya kemudian sambil tertawa dengan nada riang.


***


“Kau seharusnya menekan tombol di samping ranjangmu untuk meminta bantuan ketika kau tidak bisa bangun dari tempat tidur, jangan berusaha sendiri dan jangan memaksakan diri.” Xavier mengawasi Sera dengan cemas ketika memberikan nasehat. Istrinya itu sungguh keras kepala dan kadang harus dipaksa untuk menurut. “Apa kau dengar apa yang kukatakan?” tanyanya kemudian.


Pipi Sera masih memerah. Xavier seolah sedang menasehati anak kecil yang tidak menurut kepada orang tuanya dan itu membuat Sera merasa malu.


Tidak ada yang bisa dilakukan oleh Sera kemudian selain mengganggukkan kepalanya perlahan untuk menjawab pertanyaan Xavier. Dia tahu dirinya salah dan keras kepala, dan dia tidak ingin berdebat lebih lanjut dengan Xavier.


Sudah beberapa bulan mereka hidup bersama sebagai suami istri yang saling mendukung, dan tidak disangka ternyata kehidupan pernikahan mereka cukup tenang tanpa ada riak-riak yang berarti.


Satu-satunya pembahasan terlarang yang bisa membuat Xavier kehilangan sikap lembutnya adalah ketika Sera mengangkat pembicaraan tentang Aaron. Ketika nama Aaron disebut, Xavier langsung berubah menjadi dirinya yang mengerikan seperi dulu, gelap dan penuh aura membunuh yang menyeramkan. Mereka kemudian bertengkar hebat yang berujung pada ancaman keji Xavier untuk melipatgandakan hadiah sayembaranya supaya para pembunuh bayaran itu memenggal kepala Aaron dan mengantarkannya kepadanya.


Insiden itu akhirnya membuat Sera belajar bahwa dia lebih baik tak mengangkat pembicaraan mengenai Aaron di hadapan Xavier demi keselamatan Aaron sendiri. Setidaknya, dia bisa menenangkan hatinya sementara, karena dari apa yang dikatakan oleh Xavier waktu itu, kemungkinan besar nyawa Aaron masih terselamatkan sampai sekarang dan lelaki itu masih hidup di suatu tempat entah di mana sekarang.


Mengetahui bahwa Aaron masih hidu, sudah cukup bagi Sera dan dia memutuskan tak akan mengungkit tentang Aaron serta menekan seluruh rasa ingin tahunya tentang kondisi Aaron saat ini, setidaknya sampai dia melahirkan anak-anaknya nanti.


Saat ini Sera sudah duduk di atas ranjang, menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, sementara Xavier duduk di pinggir ranjang dan menyuapkan suapan terakhir puding susu lembut sebagai hidangan penutup makan siangnya.


Tadi, setelah membantu Sera di kamar mandi, ketika mengetahui bahwa Sera belum makan siang, dengan cepat Xavier meminta koki untuk mengirimkan menu makan siang lengkap ke kamar sebelum kemudian menyuapi Sera dengan tangannya sendiri sebelum Sera bisa menolaknya.


Sebelumnya, menu makanan yang dikirimkan oleh koki untuk mencukupi selera makan Sera yang besar selama kehamilannya tampak memenuhi meja saji hingga hampir tak ada tempat tersisa, lengkap dengan hidangan penuh gizi dan mengeyangkan yang mungkin porsinya terlalu berlebihan untuk disantap oleh satu orang saja. Tetapi sekarang mata Sera mengawasi seluruh piring kosong yang tandas di atas meja itu dan hanya menyisakan semangkuk puding yang sedang disuapkan oleh Xavier kepadanya.


Ya, selera makan Sera sangat besar sehingga dia bisa menghabiskan porsi makanan itu sendirian.


Tangan Sera mengusap perutnya lembut dan bibirnya mengulas senyuman. Kedua bayinya mungkin sudah puas kekenyangan, karena itulah mereka tenang di dalam sana dan tidak menendang-nendang dengan aktif seperti sebelumnya.


Mata Xavier sendiri mengikuti arah gerakan tangan Sera dan bibirnya ikut mengulas senyuman.


“Mereka sangat suka makan. Karena itulah mereka menjadi begitu besar secepat ini.” Tangan Xavier akhirnya meletakkan mangkuk puding yang telah ditandaskan oleh Sera ke atas meja, lelaki itu lalu mengikuti gerakan tangan Sera untuk mengusap perut buncit Sera dengan lembut. Ketika mengangkat kepalanya kemudian, tatapan mata Xavier berubah luar biasa cemas. “Mereka masih akan bertambah besar lagi, sementara kau malahan semakin kurus. Apakah kau bisa menanggungnya? Apakah tidak lebih baik kita melakukan operasi caesar saja untuk mengeluarkan mereka lebih cepat? Dokter bilang prosedur itu memungkinkan, bukan?” tanyanya perlahan.


Sera tersenyum, perempuan itu meletakkan kedua tangannya untuk menangkup tangan Xavier di perutnya, lalu meremas tangan lelaki itu lembut.


“Xavier, kedua bayi kita ini adalah bayi kembar. Bahkan ketika dilahirkan saat tepat umur di sembilan bulan sepuluh hari pun, mereka akan lahir dengan bobot dan ukuran tubuh yang lebih kecil dari bayi biasa. Bagaimana mungkin kita memaksa mereka lahir di usia tujuh bulan? Kelahiran prematur akan sangat berisiko bagi kedua bayi kita. Lagipula, aku tidak apa-apa. Hanya tinggal dua bulan lagi dan akulah yang paling tahu tentang kondisi tubuhku sendiri. Kurasa, aku akan kuat.”


“Kau harus kuat dan aku akan mendukungmu sekuat tenaga.” Suara Xavier terdengar serak ketika lelaki itu tampak berjuang keras untuk menekan kecemasan dan emosinya yang meluap.


Sera menatap Xavier dengan sayang. Entah kenapa semakin lama dia hidup bersama dengan lelaki itu, rasa cintanya yang tak terungkapkan hingga detik ini semakin meluap-luap hingga hampir tak tertampung lagi. Hal itu membuat Sera merasa takut, takut jika nanti dia tak bisa menahan diri lagi lalu mengutarakan cintanya dengan sembrono hingga membuat Xavier merasa muak lalu meninggalkannya.


Ketakutan itulah yang membuat Sera sekuat tenaga mengunci perasaannya kuat-kuat, menjaganya supaya tak terbaca.Tetapi sekarang, melihat Xavier begitu rapuh di hadapannya, membuat cinta Sera meluap tak terkendali. Matanya melembut ketika perempuan itu membuka kedua tangannya ke arah Xavier, lalu menawarkan dengan hangat ke arah suaminya.

__ADS_1


“Mau berpelukan?” bisiknya lembut.


Tidak perlu menunggu lama, Xavier langsung menerimanya, lelaki itu menggeser tubuhnya mendekat, lalu memeluk Sera dengan hati-hati, menjaga supaya beban tubuhnya tidak menekan perut Sera yang membuncit besar.


“Maafkan aku karena membuat tubuhmu harus menanggung beban seperti ini.” Xavier berbisik serak di telinga Sera, lalu mengecup pelipis perempuan itu dengan penuh sayang.


“Aku menyukai seluruh proses kehamilanku dan aku tidak menyalahkanmu, Xavier. Kehamilan ini adalah anugerah bagi tubuh semua perempuan, ini bukan beban. Jadi, jangan terus berkubang dalam rasa bersalah dan kecemasan, ya? Aku perempuan kuat dan aku baik-baik saja.” Sera berbisik pelan di dada lelaki yang memeluknya, berusaha menenangkan.


“Aku tahu kau perempuan kuat. Tetapi, menjadi perempuan kuat bukan berarti kau dilarang untuk bersandar. Berjanjilah kepadaku, jika kau sudah tak mampu menopang dirimu dan membutuhkanku untuk membantumu, kau harus mengatakannya kepadaku tanpa ragu-ragu.” Xavier mengusap rambut Sera dengan lembut. “Bersandarlah kepadaku. Untuk saat ini, aku adalah keluargamu. Keluarga harus saling menopang, bukan? Berjanjilah kepadaku bahwa kau akan kuat. Berjanjilah kepadaku bahwa kau akan bertahan bersamaku.”


Sera menganggukkan kepala. Kata ‘keluarga’ entah kenapa menyentuh hatinya dan membuat matanya merebak dipenuhi oleh air mata haru.


“Aku berjanji Xavier. Aku akan datang kepadamu jika aku tak kuat lagi. Aku akan bertahan bersamamu,” bisiknya kemudian, memejamkan mata dalam rengkuhan lengan kuat yang menenangkannya.


Entah kenapa tiba-tiba saja Sera diserang seberkas ketakutan. Sebuah rasa takut jika ternyata nanti dia tak bisa menepati janjinya kepada lelaki itu.


 


***


***


***


***


Hello.


Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.


Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD SUDAH tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book.


EOTD / Essence of The Darkness ---> Kisah Akram dan ELana


EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera ( Ebook BELUM tersedia)


Kata kunci di g00gle book :


Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt


JIKA ANDA MENDAPATKAN EBOOK INI BUKAN DARI GOOGLE PLAYBOOK, BERARTI ANDA TELAH MELAKUKAN TINDAKAN KRIMINAL PENCURIAN DAN BERKONTRIBUSI DALAM PEMBUNUHAN KREATIVITAS PENULIS.


DUKUNG PENULIS KESAYANGANMU SUPAYA BISA TERUS BERKARYA DENGAN TIDAK MENGAKSES DAN MENYEBARKAN BUKU BAJAKAN.


 


Yours Sincerely


AY


 


***


***


***


 


Mohon maaf atas keterlambatan posting belakangan ini dikarenakan masih ada gangguan sedikit yang menghalangi author untuk bisa menulis. Semoga diterima dengan senang hati. Thank You.


 

__ADS_1


 


__ADS_2