
Tangan Xavier yang sedang memegang lembaran berkas laporan saham yang sedang dipelajarinya langsung membeku seketika saat mendengar kalimat Dokter Nathan.
Sera tidak hamil?
"Apakah hasil test itu benar-benar akurat?" Xavier bertanya sambil meletakkan berkas-berkas di tangannya pada nakas samping ranjang, kehilangan minat untuk bekerja. Tadi dia tak bisa tidur, karena itulah dia membaca berkas laporan saham yang dikirimkan oleh anak buahnya sebagai pengantar tidurnya. Tetapi sekarang, mendengar bahwa Sera ternyata tidak hamil, bukan hanya menghilangkan minat bekerjanya, tetapi juga sekaligus melenyapkan setitik kantuk yang sempat melandanya hingga tandas tanpa sisa.
"Hampir pasti akurat. Test HCG baik dari sampel darah maupun sampel urine, kedua-duanya tidak memenuhi minimal jumlah kandungan HCG untuk perempuan hamil. Kita bisa melakukan test ulang dalam dua atau tiga hari, atau menunggu saja dan melihat apalah Sera mendapatkan periode menstruasi bulanannya atau tidak. Berdasarkan perkiraanku, dia akan mendapatkannya dua minggu lagi."
Dokter Nathan memang telah mendapatkan data dari Xavier tentang laporan lengkap mengenai kalender kesuburan Sera yang dicatat secara digital. Kalender itu memuat secara pasti periode menstruasi Sera, rentang waktu antar siklus menstruasi sampai perkiraan masa subur dan juga catatan di tanggal-tanggal berapa Sera melakukan intercourse dengan Xavier.
Semua data itu sangat penting karena bisa digunakan untuk menentukan masa subur Sera secara akurat. Penentuan masa subur sangatlah penting, terutama bagi pasangan yang merencanakan kehamilan. Itu semua karena sel telur seorang perempuan, mencapai ukuran tepat pertanda matang dan siap dibuahi hanya selama dua puluh empat jam dalam sekali periode. Jika periode masa subur terlewat, maka mereka telah melewatkan kemungkinan kehamilan pada bulan itu dan harus menunggu hingga masa subur itu datang di bulan berikutnya.
Karena itulah, disarankan untuk melakukan intercourse selama tiga hari sebelum dan tiga hari sesudah dari perkiraan masa subur yang telah diprediksi, untuk menghindari melesetnya tanggal kesuburan dimana masa subur yang benar malahan terlewatkan.
"Dua minggu lagi terlalu lama." Xavier mengerutkan kening. Dia tak akan tahan berada dalam ketidakpastian dan tak bisa memutuskan apapun selama dua minggu penuh. "Lakukan test ulang dua atau tiga hari lagi, jika hasilnya sama, barulah aku membuat rencana."
"Dan apakah rencanamu itu, Xavier? Kalau aku boleh tahu?" sambar Dokter Nathan dengan nada penuh ironi.
Xavier mendongakkan kepalanya, menatap Dokter Nathan dengan intensitas ironi yang sama pekatnya.
"Menghamili Sera sekuat tenaga. Apalagi yang bisa kulakukan?" jawabnya kemudian, sedikit menyeringai.
Dokter Nathan menghela napas panjang.
"Kau tahu, aku masih tidak setuju dengan segala rencana memiliki anak secara transaksional untuk membalas budi. Sangat di luar nalarku, kalau aku boleh berpendapat." Dokter Nathan mengusap rambutnya dengan frustasi. "Jika kau memang ingin melepaskan dan membebaskan Sera, maka kurasa ini adalah saat yang paling tepat. Dia tidak sedang hamil, jadi kau tak perlu membebaninya dengan kewajiban mengandung dan melahirkan anakmu, lalu merawat anak -yang jika rencanamu untuk mati tanpa perlawanan itu bisa kesampaian- akan menjadi seorang anak tak berayah."
Dokter Nathan menghentikan kalimatnya, menatap ke arah Xavier dengan frustasi sebelum kemudian mengajukan pertanyaan yang terus mengganjal hatinya sejak lama. "Jika kau tidak berniat memanfaatkan sel punca dari plasenta bayi itu untuk menyelamatkan nyawamu, kenapa kau harus menghadirkan satu kehidupan tak berdosa lagi di dunia ini?"
Ekspresi Xavier tampak mengeras ketika mendengar berondongan pernyataan sekaligus pertanyaan Dokter Nathan yang menjadi satu. Tetapi ketika akhirnya menjawab, suaranya terdengar sangat tenang.
"Apakah kau tidak mendengarkan dengan saksama penjelasanku sebelumnya? Bukan aku yang menginginkan anak itu, tetapi Sera yang bersikeras menginginkan anak itu." Xavier mengungkapkan kejujuran dengan gamblang ke arah Dokter Nathan.
"Tapi kau bisa saja menolaknya. Dengan seluruh kemampuan otakmu, kemampuan nalarmu dan juga kemampuan logika berpikir secara rasional, kau pasti tahu bahwa masalah beruntun akan datang ketika kalian berdua memutuskan untuk memiliki anak bersama." Dokter Nathan menyanggah dengan suara jengkel. "Jika kau memang ingin melepaskan Sera, maka lepaskan dia sepenuhnya. Tetapi, jika kau ingin memiliki Sera, maka jangan setengah-setengah memilikinya. Saat ini kau memilih menginjakkan kedua kaki di sisi berlawanan, hendak melepaskan Sera tapi tetap mengikatnya dengan seorang anak, seorang anak yang akan kau tinggalkan mati dan jadi anak tak berayah." Kalimat terakhir Dokter Nathan memang terdengar kejam, tetapi lelaki itu mengungkapkan kenyataan yang sebenarnya dengan lugas.
"Xavier." Dokter Nathan berucap perlahan ketika Xavier masih saja tak menyahuti kalimat panjang yang dilontarkannya. "Kau masih bisa menghentikan ini. Sera tidak hamil, dia bisa bebas sebebas-bebasnya. Lepaskan dia."
Cukup lama Xavier tak mau membuka mulutnya entah untuk menyanggah ataupun menyetujui, lelaki itu tampak merenung, membiarkan keheningan menggayuti udara kamar yang mulai terasa menyesakkan, membuat Dokter Nathan sampai menggeser-geser kakinya dengan gelisah, tak sabar menunggu reaksi Xavier atas usulannya.
"Xavier." Dokter Nathan akhirnya memilih bersuara terlebih dahulu, lelaki itu hendak membujuk Xavier kembali. Tetapi tiba-tiba Xavier menolehkan kepala dan menatap langsung ke arah Dokter Nathan dengan tatapan tajam.
"Meskipun aku memilih menyerah pada penyakitku dan rela menyambut kematianku tanpa perlawanan, tetapi jauh di dalam hatiku aku ingin memiliki seorang anak, aku ingin meninggalkan jejak DNA-ku pada sesosok individu yang mewarisi genetikku. Aku tak ingin ketika diriku meninggalkan dunia ini semua citra diriku lenyap begitu saja dan tak ada yang tersisa dari diriku untuk dikenang. Keinginan semacam itu mungkin tak pernah kau rasakan, karena kau beruntung dilahirkan di sebuah keluarga sedarah denganmu dimana kau memiliki orang tua, juga saudara-saudara yang berbagi genetik denganmu." Xavier membuat pengakuan dengan nada suara takzim.
"Tetapi bagi diriku yang sendirian di dunia ini, keinginan memiliki satu sosok yang berbagi darah, berbagi genetik, memiliki keturunan sendiri, itu merupakan mimpi yang sangat luar biasa jika bisa terwujud." Xavier melanjutkan perkataannya dengan sikap sedih. "Di saat yang sama, Sera bersikeras untuk mengandung anakku demi balas budi. Sekarang, jika kau menjadi diriku, bagaimana mungkin kau bisa menolak tawaran itu?"
Dokter Nathan tergugu, segala argumentasi yang terkumpul di pangkal tenggorokannya dan siap untuk diucapkan lumerlah sudah begitu dirinya mendengar pengakuan jujur Xavier yang terasa menyayat hati itu.
"Kurasa, aku lebih baik meninggalkanmu dulu supaya kau mendapatkan ruang untuk berpikir." Dokter Nathan akhirnya memilih menutup pembicaraan. Lelaki itu menekan pangkal hidungnya dengan lelah. "Beristirahatlah, ini sudah larut. Aku akan melakukan test ulang kepada Sera tiga hari lagi."
Setelah berucap, Dokter Nathan pun melangkah pergi meninggalkan ruangan.
"Nathan." Suara Xavier tiba-tiba memanggil, membuat Dokter Nathan yang sudah hendak melangkah keluar jadi menghentikan langkahnya.
"Ada apa?" tanya Dokter Nathan ketika Xavier tak juga bersuara.
"Ini tentang Sera yang ternyata tidak hamil, padahal aku telah memastikan sel telurnya bagus dan dia bahkan mendapatkan injeksi kesuburan. Apakah mungkin, masalahnya ada pada diriku?"
Dokter Nathan membalikkan kembali tubuhnya ke arah Xavier dan mengangkat alisnya.
"Apa maksudmu? Kau sudah menjalani pemeriksaan penuh dan tidak ada masalah pada kesuburanmu," jawabnya lugas.
Xavier mengerutkan keningnya. "Aku hanya berpikir, apakah jangan-jangan penyakitku membuat kualitas benihku memburuk, sehingga aku tak berhasil menghamili Sera."
"Kau baik-baik saja, begitupun Sera, hanya memang kebetulan saja Sera belum berhasil hamil." Dokter Nathan memamasukkan tangannya di saku celana dengan sikap canggung. "Kehamilan terjadi bukan hanya karena faktor fisik yang sudah sempurna benar, ada faktor psikis yang harus disiapkan juga, keduanya bersinergi sehingga memperbesar kemungkinan terjadinya pembuahan." Mata Dokter Nathan mengawasi Xavier tajam, lalu tiba-tiba suasana hatinya berubah, ditandai dengan bibirnya yang mengulas senyum ketika berucap. "Atau bisa saja, durasi yang berlebihan menggagalkan pembuahan."
"Durasi yang berlebihan?" Xavier langsung bertanya. Dia sudah bisa meraba arah pembicaraan Dokter Nathan, tetapi memutuskan untuk bertanya demi memastikan.
__ADS_1
"Yah, kau tahu, setiap pengantin baru kadang lupa diri dan memforsir dirinya." Dokter Nathan menyeringai. "Saranku, ketika nanti tiba masa membuahi Sera, sehari sekali itu cukup, selama enam hari berturut turut untuk membentengi masa suburnya supaya tak terlewat." Setelah menjawab dengan nada santai sedikit mencela, Dokter Nathan pun menganggukkan kepalanya ke arah Xavier, lalu melangkah pergi meninggalkan ruang perawatan itu tanpa mau repot-repot mendengarkan reaksi Xavier atas perkataannya sebelumnya.
***
"Tidak hamil?"
Tangan Sera yang sedang memegang gagang ponsel sedikit menguatkan cengkeramannya di sana ketika mendengarkan penjelasan Dokter Nathan melalui sambungan telepon di seberang sana.
Ini adalah laporan hasil test yang kedua kalinya dimana sampel darah dan urine-nya diambil kembali setelah tiga hari dari pemeriksaan pertama yang juga menyatakan kalau hasilnya negatif.
Setelah hasil test pertama menyatakan bahwa Sera tidak hamil, Dokter Nathan datang berkunjung untuk mengambil sampel darah dan urine Sera untuk yang kedua kalinya, guna mengadakan test lagi yang bertujuan untuk memastikan keakuratan hasil test yang pertama.
Sesungguhnya, ketika mendengar pertama kali bahwa dirinya tak hamil, Sera sudah kehilangan harapan. Jadi, saat mendapatkan informasi bahwa hasil test yang kedua pun menyatakan bahwa dia tidak hamil, Sera sudah menduga sebelumnya.
Tetapi entah kenapa, ada kesedihan yang menyusup ke dalam jiwanya, mengusik ke sela relung hatinya, lalu mengembuskan nuansa kepedihan yang membuat dadanya terasa sesak.
"Sera?" Dokter Nathan terdengar memanggil di seberang sana, nada suaranya khawatir karena Sera begitu hening dan tak bersuara lagi. "Kau masih di sana?"
"A-ku masih di sini, Dokter." Sera tergeragap dan menyahuti dengan nada formal.
"Bagus. Karena kalian belum berhasil untuk kali pertama, maka kalian harus mencoba lagi." Dokter Nathan berucap dengan lembut karena tahu bahwa ini adalah pembahasan yang sensitif dan bisa membuat Sera malu. "Kurasa, untuk masa suburmu yang berikutnya, kalian harus melewatkannya mengingat kondisi Xavier yang belum pulih benar. Kita akan memfokuskan diri pada masa subur yang berikutnya lagi."
"Aku mengerti, dokter." Sera menjawab perlahan. Tangannya bergerak menangkup pipinya yang terasa panas karena malu. Sungguh, dia benar-benar tak nyaman membahas masa subur dan juga pembuahan dengan seorang dokter lelaki yang masih belum begitu dia kenal dengan baik.
"Aku ingin tubuhmu benar-benar dipersiapkan untuk menyongsong jadwal pembuahan yang telah direncanakan." Dokter Nathan menyambung kembali ucapannya, mengabaikan nuansa canggung yang mulai terbentang. "Kau akan mendapatkan vitamin dan juga injeksi selama rentang periode ini, untuk memastikan kau benar-benar subur dan sel telurmu benar-benar sehat. Aku juga menyarankan kau untuk relaks, jangan memforsir diri dan membuat tubuhmu lelah. Kau bebas menghabiskan waktu untuk bersenang-senang dan melakukan apa yang kau suka serta menghindari stres, karena suasana hati yang baik akan meningkatkan kemungkinan terjadinya pembuahan yang berhasil."
"Baik, Dokter." Sera menjawab dengan patuh karena ingin cepat-cepat mengakhiri pembahasan mengenai itu. Dia kemudian mengalihkan pembicaraan dengan sengaja, mengajukan pertanyaan yang mengusik hatinya sejak lama. "Bagaimana dengan kondisi Xavier?"
Keheningan membentang, menciptakan jeda sejenak dari pihak Dokter Nathan yang menunjukkan bahwa lelaki itu tak menyangka akan ditanyai langsung oleh Sera.
Dokter Nathan berdehem sejenak, lalu menjawah dengan nada netral.
"Xavier baik-baik saja. Dia juga sudah mulai pulih. Sesungguhnya, aku telah menawarkan pada Xavier untuk menggunakan metode lain seperti inseminasi buatan atau bayi tabung, dengan memperhitungkan kondisi tubuhnya yang belum pulih benar. Prosedur itu secara teknis juga akan menjaga hati kalian berdua, karena tidak akan ada keintiman terpaksa yang wajib dilakukan untuk mendapatkan seorang anak." Suara Dokter Nathan merendah. "Tetapi, Xavier menolak usulan itu mentah-mentah, dia bilang semua prosedur tersebut akan mengobrak abrik privasimu. Xavier juga berpandangan kolot, bahwa jika prosedur alami masih bisa dilakukan, kenapa harus menggunakan prosedur buatan?"
Dokter Nathan kembali berdehem setelah melemparkan pertanyaan retorikanya. "Tetapi, jika pembuahan alami yang kedua kalinya ini nanti tak juga berhasil, kurasa kau harus siap jika prosedur inseminasi atau bayi tabung ini dilakukan. Apakah kau tidak apa-apa mengenai hal ini?"
"Aku tidak apa-apa, Dokter," sahutnya dengan suara bergetar.
Tak lama kemudian, setelah Dokter Nathan mengakhiri percakapan, Sera terhuyung ketika kakinya seolah kehilangan kekuatan. Tangannya bergerak mencari tumpuan, lalu Sera berhasil membawa dirinya untuk duduk di atas sofa sebelum dia jatuh ke atas karpet.
Sera menyandarkan tubuhnya ke punggung sofa dan memejamkan mata.
Apapun yang harus dia lakukan demi mengandung bayi Xavier, akan dia lakukan. Apapun itu.
***
"Kau sudah bangun."
Sebuah suara terdengar menyapa begitu Aaron mengerjapkan mata dan membukanya. Pandangan Aaron masih buram dan membutuhkan waktu beberapa lama sebelum dia bisa memfokuskan tatapan ke arah sumber suara yang tak mau membuang-buang waktu dan langsung menyapanya begitu Aaron sadarkan diri.
Ketika berhasil menjernihkan pandangannya, mata Aaron melebar saat menyadari siapa sosok yang berdiri di samping ranjang dengan sikap gagah sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana dan mengawasi Aaron dengan bola mata kemerahannya yang tajam.
Sosok yang pucat, dengan rambut putih dan mata merah itu.... sudah pasti itu adalah....
"Ya, aku Dimitri Kazak." Dimitri menyeringai sambil mengawasi ketakutan yang merayapi Aaron. "Tak perlu penjelasan karena aku sudah menyelidiki semua dan tahu situasimu."
"K-kau juga tahu tentang S-Sabina?" tanya Aaron dengan suara parau, tenggorokannya terasa begitu kering dan sakit ketika dia berbicara.
"Tentu saja aku tahu. Kau sudah terbaring tak sadarkan diri selama beberapa waktu. Itu semua karena kau mendapatkan penawar racun yang menjatuhkanmu dalam kondisi koma selama proses pembersihan racun yang mengendap di dalam organ dalammu." Dimitri berucap tanpa ekspresi. "Dokter bilang, ketika racun itu sudah bersih dari tubuhmu, kau akan tersadar. Kenyataan bahwa kau telah tersadar sekarang, menunjukkan bahwa kau telah benar-benar sembuh."
"Aku sudah mendapatkan penawar racun?" Aaron membeliak tak percaya. Dia berusaha menelaah kondisi tubuhnya, tetapi tak menemukan perbedaannya, tubuhnya malahan terasa nyeri dan sakit, begitupun dengan tenggorokannya yang kering ditambah dengan kepalanya yang terasa sakit, seolah ada palu yang dipukul-pukulkan di bagian belakang kepalanya.
"Kau, secara teknis, bisa dibilang sudah bersih. Rasa sakit dan ketidaknyamanan yang kau rasakan saat ini , kemungkinan besar disebabkan karena tubuhmu sedang menyesuaikan diri terbangun setelah tertidur beberapa lama." Dimitri menjawab lugas. "Tetapi, mari kita kesampingkan semua pembahasan teknis itu. Kurasa, kita seharusnya berjabatan tangan sekarang, sebagai tanda bahwa kita telah bersekutu." Dimitri menyeringai makin lebar, tangannya lalu terulur ke arah Aaron, menawarkan jabat tangan yang tak mungkin bisa ditolak.
***
__ADS_1
Sera sedang duduk di sofa ruang tamu sambil membaca sebuah buku yang diambilnya dari perpustakaan Xavier. Buku itu menarik hatinya, karena membahas mengenai sejarah dunia kuliner dan metode memasak pada masa kuno yang sangat menyenangkan untuk dipelajari.
Hari-hari berlalu dengan damai setelah hasil test kehamilannya yang menyatakan dirinya negatif telah disampaikan kepadanya. Sera sendiri kemudian menjalani hidupnya seperti robot, bangun, mandi, makan, membaca untuk mengisi waktu senggangnya dan melakukan hal-hal yang menarik hatinya dengan bebas. Tanpa terasa, waktu berlalu begitu cepat sehingga Sera bahkan kehilangan minatnya untuk mengikuti jejak hari yang terus berlalu seolah dikejar waktu.
Entah dia harus mensyukuri kondisi hidupnya yang penuh kedamaian saat ini, ataukah dia harus menangisinya.
Pengacara Xavier juga telah datang mengunjunginya sebanyak dua kali. Yang pertama, dia datang untuk menginformasikan bahwa ayahnya telah dipindahkan ke fasilitas terbaik, membuat Sera menangis ketika melihat foto-foto dan hasil rekaman yang ditunjukkan kepadanya yang memperlihatkan kondisi terakhir ayahnya di tempat barunya yang lebih memadai. Pengacara itu mengatakan bahwa Xavier sendirilah yang kemungkinan akan mengantar Sera menemui ayahnya jika kondisinya sudah memungkinkan nanti, Sera hanya harus bersabar dan menunggu.
Kali kedua kunjungannya, pengacara itu menyampaikan kabar melegakan bahwa Aaron sudah ditemukan dan sedang menjalani treatment untuk menawarkan racun dalam tubuhnya. Bukti rekaman juga ditunjukkan kepada Sera dengan penjelasan bahwa Aaron baru akan terbangun setelah beberapa lama.
Tak ada penjelasan dari pengacara itu apakah Sera diperbolehkan menemui Aaron, dan Sera juga tak ingin menanyakannya. Dia memilih menikmati kelegaan ini, dan menunggu bagaimana Xavier nanti mengarahkan jalannya.
Sepagian ini juga berlalu sama seperti hari-hari sendiriannya yang sebelumnya, tak ada hal berarti yang dilakukannya. Setelah membuat teh dan memanggang roti untuk sarapannya sendiri yang sesungguhnya membuat koki dapur keberatan tetapi tak mampu mencegahnya, Sera duduk membaca dan hampir tertidur setelah melibas setengah dari isi buku itu tanpa jeda.
Tiba-tiba, langkah-langkah kaki yang datang berderap panik melewatinya membuat mata Sera yang tadinya mengantuk jadi terbuka kembali. Dia menegakkan tubuh dan menatap bingung ke arah para bodyguard dan pelayan yang tampak bergegas dan bersiap berkumpul ke arah pintu rumah.
"Ada apa?" Sera bertanya penasaran, menarik perhatian seorang pelayan yang langsung menghentikan langkahnya ketika mendengar pertanyaannya.
Pelayan itu menatap Sera dengan bingung. "A-anda tidak tahu? Hari ini Tuan Xavier pulang dari rumah sakit. Mobil beliau akan tiba di rumah sebentar lagi."
***
***
***
Hello.
Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.
Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD SUDAH tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book.
EOTD / Essence of The Darkness ---> Kisah Akram dan ELana
EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera ( Ebook BELUM tersedia)
Kata kunci di g00gle book :
Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt
Diterbitkan oleh projectsairaakira.
Bonus khusus 10 Part EOTD ekslusif hanya ada di Ebook sebagai berikut :
EOTD Bonus 1 : Morning Sick
EOTD Bonus 2 : Penyesalan
EOTD Bonus 3 : Anti Akram
EOTD Bonus 4 : Menjaga Jarak
EOTD Bonus 5 : Perpisahan
EOTD Bonus 6 : Memeluk Lagi
EOTD Bonus 7 : Rekonsiliasi
EOTD Bonus 8 : Permintaan Istri
EOTD Bonus 9 : Anugerah Terindah
EOTD Bonus 10 : Ayah Bahagia
Terima Kasih.
__ADS_1
AY