Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 79 : Rencana


__ADS_3


"Akram?"


Sekali lagi, ketika tak ada sahutan dari seberang sana ketika Nathan memanggil nama Akram. Kening Nathan berkerut ketika pikiran mengejutkan langsung menyambar kesadarannya.


Akram tidak mungkin sudah bercinta dengan Elana, bukan?


Dia hanya terlambat 1 hari saja menyangkut pemberitahuan ini, dan mengingat kondisi Akram yang terluka tembak serta Elana yang masih penuh memar akibat percobaan perkosaan yang menimpanya, tidak mungkin kan mereka berdua, terutama Akram, sempat memikirkan tentang bercinta?


"Kau sudah terlanjur melakukannya ya?" Nathan akhirnya memutuskan untuk menyuarakan pertanyaannya dengan nada menuduh yang kental.


Terdengar suara helaan napas dari seberang saja, lalu Akram berucap dengan rasa bersalah tersirat dalam suaranya.


"Memangnya kenapa?"


"Akram!" Nathan langsung menyela dengan keterkejutan yang nyata. "Kondisi tanganmu sedang sakit, Elana juga pasti kesakitan dengan memar di sekujur tubuhnya itu. Aku tahu hasratmu kepada Elana sudah sampai di titik yang cukup mengerikan untuk dibayangkan. Meskipun begitu, bagaimana mungkin kau segila itu memaksanya melayanimu dengan kondisinya, dengan kondisi kalian yang seperti itu?"


"Aku tidak memaksanya," Akram mengerutkan kening dalam di seberang sana, seolah tidak suka mendengar tuduhan itu. "Elana yang memintaku untuk bercinta dengannya,"


"Elana yang memintamu?" sekali lagi nada suara Nathan meninggi, dipenuhi dengan ketidakpercayaan. "Kau pikir aku akan percaya dengan alasan seperti itu? “Aku sendiri yang menjadi saksi hubunganmu dengan Elana, jadi aku sangat yakin bahwa Elana tidak akan mungkin mengambil inisiatif untuk bercinta denganmu, kecuali kau…. Membuatnya mabuk atau memberikan obat afrodisiak untuknya. Benarkah? Apakah kau melakukan itu?” Nathan memberondongkan serentetan tuduhannya tanpa ampun, menelisik dengan curiga untuk mencari kebenaran.


Keheningan kembali membentang di antara mereka. Ketika Akram berucap kemudian, suaranya dipenuhi oleh ketersinggungan yang nyata sehingga Nathan bisa membayangkan bahwa saat ini Akram mungkin tengah mengetatkan gerahamnya dengan tangan terkepal menahan marah.


“Jika kau tak percaya denganku, mungkin kau perlu menanyakan langsung kepada Elana untuk memastikan? Dia sendiri yang mengambil inisiatif, kalau tadi dia tidak bersedia, bagaimana aku bisa bercinta dengannya? Dengan kondisiku yang seperti ini, Elana harus berada di atasku dan aktif untuk bisa…” Akram langsung menghentikan kalimatnya ketika menyadari bahwa dia telah mengungkapkan hal-hal pribadi yang tidak seharusnya dia ungkapkan kepada Nathan. Dia terbawa emosi sehingga tidak bisa menahan diri. Itu semua karena perkataan Nathan sungguh menyinggung dirinya. “Aku bukanlah jenis lelaki rendahan yang suka menipu diri sendiri dengan memaksakan kesukarelaan seorang wanita dengan membuatnya kehilangan kesadaran,” Akram menyambung kemudian, dengan suara tegas mengancam.


“Ah ya, kau memang bukan jenis yang melakukan itu. Kau adalah jenis yang langsung memaksakan kehendakmu kepada orang yang kau inginkan, tanpa memikirkan apakah orang itu bersedia atau tidak!”


Nathan tidak bisa menahan lidahnya yang terselip begitu dia menanggapi perkataan Akram dengan impulsif. Ketika kalimat sanggahan itu terlanjur meluncur dari bibirnya, barulah dia menyadari konsekuensinya. Dia mungkin telah menyulut kemurkaan pria paling pemarah di seluruh area ini.


Entah apa yang akan dilakukan Akram kepadanya nanti untuk membalaskan kemarahannya….


Tetapi, dugaannya ternyata salah. Tidak ada kemarahan di dalam nada suara Akram ketika lelaki itu menyahut dengan nada pertanyaan kemudian.


“Begitukah yang selama ini kau pikirkan tentangku?” ada nada terpukul yang terselip di sana, membuat Nathan mengerutkan keningnya. Dia tidak pernah mendengarkan Akram berucap dengan nuansa seperti itu sebelumnya, seolah-olah lelaki itu tengah menanggung rasa bersalah yang teramat besar.


Sedikit canggung, Nathan kemudian berdehem, tahu bahwa untuk saat ini dia harus menetralkan situasi dan mengembalikan perhatian mereka kepada hal mendesak yang lebih penting untuk mereka pikirkan.


“Kau tahu bahwa sejak awal aku tidak pernah menyetujui tindakanmu menculik, memperkosa Elana dan memutuskan seluruh hubungannya dari kehidupan lamanya. Aku bahkan menyuruhmu untuk mengunjungi psikiater untuk mencaritahu apa yang menyebabkan kau begitu terobsesi pada Elana,” Nathan mengucapkan kalimatnya dengan nada datar, berusaha untuk bersikap obyektif selayaknya sikap seorang dokter ketika menghadapi pasiennya. “Tetapi apapun pendapatku tentangmu, untuk saat ini tidak ada gunanya menelisik kembali masa lampau yang telah berlalu . Hubunganmu dengan Elana sudah berkembang sejauh ini, dan yang kulihat, kau juga telah sedikit demi sedikit menebus kesalahanmu,” Nathan kemudian merendahkan suaranya dengan hati-hati. “Yang perlu kau pikirkan sekarang adalah Elana. Kau bilang Elana menyerahkan diri kepadamu dengan sukarela. Oke, itu berarti hubungan kalian telah melangkah maju ke tahap berikutnya yang lebih baik. Kau juga sudah tidak memandang Elana sebagai budak seksmu semata dan lebih memandangnya sebagai pasanganmu. Elana bukan lagi obyek melainkan subyek, bagimu dia adalah partner yang sangat berarti , bukan?” tanya Nathan membiarkan pertanyaannya menggantung.


Akram di seberang sana terdengar berdehem, tidak mengucapkan kalimat apapun untuk menjawab Nathan, lelaki itu hanya bergumam mengiyakan.


“Kalau begitu, kau harus memikirkan nasehatku ini baik-baik. Seharusnya di titik ini, kalian berdua melangkah perlahan untuk bisa menelaah perasaan masing-masing dan mempelajari hubungan kalian serta membuat pijakan yang kokoh pada ikatan yang telah kalian jalin. Tetapi, sebuah kecerobohan yang tak disengaja, bisa saja memutar balik seluruhnya ke arah yang berlawanan. Kalian bercinta pada saat kondisi Elana sangat subur. Jadi, Elana mungkin saja hamil. Aku sendiri belum bisa memastikan kehamilan Elana sampai satu bulan kemudian atau lebih mengenai hal itu. Menurutku, sepanjang rentang waktu tersebut, gunakan waktu yang tersedia untuk mencari tahu, apa yang akan kau lakukan pada hubungan kalian.”


Nasehat Nathan tampaknya menggantung di udara karena Akram tidak mau repot-repot memberikan tanggapannya. Lelaki itu memutus hubungan pembicaraan tanpa basa basi dan membiarkan Nathan hanya bisa tersenyum masam sambil menatap ponselnya yang tak tersambung lagi.


***



***


Elana kemungkinan besar akan hamil?


Ponsel itu masih ada di sebelah tangannya, sementara Akram terpaku tak mampu bergerak. Pikirannya begitu penuh sehingga untuk memberikan perintah ke kakinya supaya menyeret langkahnya untuk di duduk di sofa yang tersedia di kamarnya saja, dia tidak mampu.

__ADS_1


Apa yang ditanyakan oleh Nathan kepadanya langsung menusuk ke dalam jiwanya dan membuatnya kebingungan setengah mati.


Apa yang akan dia lakukan kalau Elana sungguh-sungguh hamil? Dirinya dan Elana... dia bahkan baru belajar untuk menempatkan Elana sebagai individu yang sejajar dengannya, dan seorang anak....


Akram mengembuskan napas panjang beberapa kali untuk menenangkan detak jantungnya yang bergolak, meskipun itu sebenarnya tak ada gunanya. Dia masih saja tetap kalut, tak bisa menemukan jawaban apapun.


Tangan Akram sedang bergerak untuk mengusap rambutnya dengan sikap frustasi ketika suara pintu diketuk mengejutkannya.


Akram mengerutkan kening ke arah pintu, hendak mengusir siapapun yang mengganggu, tetapi kemarahanya surut seketika ketika mendengar suara yang terdengar ragu dari balik pintu.


“Akram? Kau bilang aku harus memberitahumu kalau makanannya sudah siap,” Elana terdengar berucap dari balik pintu yang tertutup rapat, membuat Akram langsung melangkah ke sana dan membukanya.


Mereka berdua langsung berdiri berhadapan, Elana dengan wajah polosnya yang sedikit bingung, dan Akram yang menatap tajam mengawasi.


Ketika tak adal satu kalimat pun yang terucap dari bibir Akram dan lelaki itu malahan memandanginya dengan sinar mata misterius, Elana mengangkat sebelah alis dan balas menatap Akram dengan pandangan penuh tanya.


“Ada apa?” tanyanya bingung.


Sejenak Akram membuka mulutnya, tetapi suaranya seolah tertahan di tenggorokan, membuatnya harus berdehem sebelum bisa bersuara.


“Tidak ada apa-apa. Aku hanya lapar,” ucap Akram mencari alasan.


Ada sedikit senyum yang muncul di sudut bibir Elana, menyambar langsung ke sinar matanya yang berkilauan.


“Kalau begitu, ayo kita makan mumpung makanannya masih hangat,” tanpa menunggu reaksi Akram, Elana langsung membalikkan tubuh dan melangkah menuruni tangga, membuat Akram mau tak mau mengikutinya.


Dengan langkah ringan, Elana melompati satu demi satu anak tangga, bibirnya menggulirkan senandung dalam gumaman tak jelas, menunjukkan suasana hatinya yang sedang riang. Sementara itu, tak ada yang bisa dilakukan oleh Akram selain mengikuti di belakang dalam jarak hanya sejangkauan dekatnya, sementara matanya tak lepas-lepasnya memaku punggung Elana yang sepertinya tidak menyadari pandangannya yang lekat.


Lalu, tiba-tiba lagkah kaki Elana terselip, membuatnya kehilangan keseimbangan dan terhuyung ambruk, hampir saja dia jatuh dari tangga kalau saja Akram tak menangkapnya dengan sigap menggunakan sebelah tangannya yang sehat.


“Hati-hati,” Akram berucap dalam geraman jelas sementara keningnya berkerut dalam. Ketika Elana tidak menjawab apa-apa, Akram akhirnya melepaskan pelukannya dan memegang kedua bahu Elana, merrmas bahunya pelan sebelum kemudian membebaskan pegangan tangannya. “Perhatikan langkahmu kalau sedang berjalan di tangga, aku tak mau kau terjatuh lalu…,” suara Akram terdengar tersendat oleh sesuatu yang misterius. “Lalu kau mematahkan tangan dan kakimu, bahkan mungkin juga mematahkan lehermu,” sambung Akram tanpa perasaan.


Hal itu membuat Elana langsung begidik dan membalikkan tubuh, melanjutkan langkahnya memunggungi lelaki itu dengan perasaan jengkel karena lelaki itu telah menyakitinya.


Bagimanapun juga, sikap Akram tadi sungguhlah aneh. Lelaki itu tidak perlu segalak itu ketika memberitahu Elana supaya berhati-hati menuruni tangga. Akram juga tidak perlu berdebar dengan begitu kencangnya seolah ketakutan bahwa Elana akan terjatuh dan terluka parah.


Sebab, ketika kakinya terselip tadi, langkahnya hanya tingga menuruni dua anak tangga yang tersisa. Itu berarti, kalau saja tadi Akram tidak menangkapnya dan Elana terjatuh, dia paling hanya terbentur sedikit di karpet tebal dan tidak akan terluka parah karenanya.


Mencoba mengusir kebingungannya akan tingkah Akram yang aneh, Elana mempercepat langkah menuju dapur. Dia bergegas mengambil nampan kayu besar yang selebar tubuhnya, lalu meletakkan dua piring lebar berisi omelet tebal berisi jamur, sayuran dan keju meleleh hangat yang menguarkan aroma harum menggiurkan.


Elana juga menyempatkan diri membuat sepoci teh hangat yang tak kalah harumnya, yang telah dia seduh dengan cara sebaik mungkin sesuai dengan apa yang telah diajarkan oleh Akram kepadanya, untuk menghindari lelaki itu memprotesnya nanti ketika sudah menyesapnya. Diletakkannya semua itu di atas nampan, lalu lengan mungilnya mencengkeram pinggiran nampan tersebut dan bersiap menangkapnya.


Sayangnya, sebelum Elana bisa melakukan apa yang dimaksudkannya, tiba-tiba saja Akram sudah berdiri di belakangnya. Lelaki itu menyingkirkan tangan Elana, mengambil alih nampan tersebut dan membawanya tinggi ke atas kepala Elana hingga melewatinya dan tak terjangkau olehnya. Seolah-olah nampan yang penuh dan berat tersebut sangatlah ringan bagi Akram.


“Duduklah di kursi makan, aku akan membawakan nampan ini ke meja makan,” perintah Akram dengan tegas, membuat Elana tidak bisa melakukan hal lain, selain menurutinya.


***



***


Mereka duduk bersisian yang tidak biasanya dilakukan oleh Akram ketika sedang bersantap bersama dengan Elana di meja makan.


Biasanya, lelaki itu akan mengambil posisi duduk di kepala meja, lalu memerintahkan Elana duduk di sisi lain meja yang paling dekat dengannya. Kali ini, Akram malahan mengambil tempat duduk di sebelahnya, membuat Elana tidak mungkin mencuri-curi pandang dan mengawasi diam-diam dengan penuh kekaguman atas betapa elegannya cara Akram makan.

__ADS_1


Akram sama sekali tidak bersuara saat makan, lelaki itu menyantap hidangan di depannya, tanpa memprotes dan mencela rasa masakan Elana, pun lelaki itu juga tidak memberikan reaksi memuji. Tidak ada sepatah pun kalimat yang keluar dari bibirnya, seolah-olah Akram sedang sibuk dengan pikirannya sendiri dan lupa untuk memulai percakapan.


Situasi itu tentu saja membuat Elana merasa canggung. Meskipun demikan, tidak ada yang bisa dilakukannya selain menyambut keheningan itu dengan keheningan yang sama.


Berdua mereka menyantap hidangan sampai tandas, sebelum kemudian Elana mendorong piringnya dengan kenyang, diikuti oleh Akram yang langsung meraih teko teh, lalu menuangkannya ke dua cangkir putih berulirkan emas yang telah tersedia.


Aroma harum langsung menyebar ke seluruh penjuru ruangan, menguarkan nuansa pucuk daun teh yang terseduh sempurna dengan keeleganannya yang membuat indra penciuman mereka berpesta pora kesenangan.


Akram mengangsurkan cangkir teh milik Elana yang langsung disambutnya dengan bahagia. Menangkupkan kedua tangannya yang mungil ke cangkir teh hangat tersebut untuk menyerap kehangatannya, Elana langsung menyesap cairan keemasan beraroma harum tersebut dan tidak bisa menahan senyum kepuasan yang langsung terukir dari mulutnya.


Akram benar. Daun teh yang diseduh dengan cara yang benar, rasanya sungguh luar biasa nikmatnya.


“Enak?’ Akram bertanya dengan penuh rasa ingin tahu, meskipun sebenarnya, dari ekspresi Elana, seharusnya dia sudah bisa menebak jawabannya


Elana mengangguk dengan bersemangat, tak bisa menyembunyikan perasaannya.


“Enak sekali, aromanya sangat harum dan rasa khas tehnya begitu sempurna di lidah,” Elana memiringkan kepala untuk menatap Akram dengan ragu-ragu. “Maa… maafkan aku membuat teh. Kupikir, ini sudah malam dan kau mungkin perlu beristirahat. Kopi akan emmbuatmu terjaga sepanjang malam…”


“Kau benar, ada banyak hal yang harus kita lakukan besok. Karena itulah, kita harus tidur lebih cepat malam ini untuk beristurahat. Besok sepulang kerja, aku akan mengatur makan malam di luar untuk kita."


Elana hanya menganggukkan kepala tipis menanggapi nada suara Akram yang sedkit arogan. Dia tidak memiliki niat sama sekali untuk membantah perkataan Akram. Malam ini dia lelah dan beradu argumentasi sepertinya bukan pilihan baik kali ini.


Ketika tidak ada sanggahan dari Elana, Akram lalu menunduk dan menatap Elana dengan serius.


“Nanti setelah kondisimu cukup sehat dan bekas memar di wajah serta tubuhmu hilang, kita akan mengunjungi adikmu lagi. Saat itu kau boleh berinteraksi dengannya. Tetapi, menurutku lebih bijaksana jika di pertemuan kalian nanti, kau tidak lebih dulu mengatakan bahwa kau adalah kakak kandung Nolan, dan menunggu waktu yang tepat untuk melakukannya.


Elana tercenung, menyadari kebenaran kalimat Akram. Ya, Nolan pasti akan terkejut jika tiba-tiba saja dia datang, mengakui identitasnya sebagai kakak Nolan, dan merangsek masuk ke dalam dunia anak kecil itu tanpa peringatan sebelumnya. Akan lebih baik jika dia bertemu dengan Nolan serta tetap berstatus netral, lalu berusaha mengambil hati adiknya serta berusaha akrab dengannya, sehingga ketika Elana mengakui bahwa dirinya adalah kakak Nolan yang terpisahkan sejak lahir, adiknya itu akan mensyukuri keberadaannya dan menerimanya dengan tangan terbuka.


“Aku mengerti maksudmu, Akram,” Elana menjawab dengan patuh. “Bisa bertemu dengan Nolan saja aku sudah cukup senang. Aku akan menunggu saat yang tepat untuk mengatakan kepadanya… itupun… itupun jika kau mengizinkan,” sambung Elana kemudian dengan nada berhati-hati meskipun benaknya siap untuk berkonfrontasi.


Sekali lagi, Akram tampak mengawasi Elana dengan tatapan misterius. Lalu, lelaki itu menganggukkan kepalanya.


“Asal kau tetap di sampingku dan membuang pikiranmu untuk melarikan diri, tentu saja aku mengizinkannya. Tetapi nanti di saat yang tepat, setidaknya sampai kau benar-benar sembuh, baru kalian bisa bertemu” jawabnya lugas.


Hanya satu jawaban kecil saja, tetapi mata Elana langsung berbinar-binar seolah-olah Akram baru saja menghadiahinya dengan berlian langka yang sangat besar.


"Te… terima kasih,” ucap Elana kemudian dengan ketulusan yang nyata yang dibarengi oleh rasa syukur.


Elana benar-benar tak menyadari, bahwa reaksinya itu, benar-benar mampu melembutkan hati Akram yang langsung mengambil keputusan dengan impulsif karenanya.


“Tadinya aku hanya merencanakan makan malam di luar. Tetapi, sepertinya besok, aku akan mengatur jadwalku seharian untuk dihabiskan bersamamu” sambungnya kemudian dengan nada misterius, membuat Elana kembali menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu.


“Memangnya kita akan kemana?”


Akram menyeringai sebelum menjawab dengan nada sensual yang kental. “Kita akan berkencan. Seperti pasangan-pasangan yang sesungguhnya,” jawab Akram tanpa tahu malu.


***



***



__ADS_1


__ADS_2