Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 112 : Menunggu Hasil


__ADS_3


Hai Beautiful Ladies,


Ini adalah 5 dari 10 episode yang akan diupload oleh author secara bertahap mulai hari Jumat 22 November 2019 sampai dengan minggu 24 November 2019.


Untuk lolos reviewnya kapan… sekali lagi author tidak tahu. Yang pasti, author akan post 10 episode minggu ini sesuai janji. Mudah-mudahan pihak Mangatoon cepat meloloskan Reviewnya ya.


MENGENAI SISTEM VOTE MENGGUNAKAN POIN


Kalian mungkin sudah tahu sistem ranking novel di mangatoon terbaru yang akan di samakan dengan noveltoon, dimana sistem ranking didasarkan oleh POIN yang disumbangkan sebagai Vote untuk author dan karyanya ya.


Dengar-dengar, per 25 November 2019, sistem vote menggunakan POIN akan mulai bisa dilakukan di MANGATOON ( Untuk sekarang, sistem vote dengan poin baru bisa dilakukan di NOVELTOON


)Karena itu nanti setelah tanggal 25 November 2019 ketika sistem vote dengan poin di mangatoon sudah berlaku, author mohon dukungan sebanyak-banyaknya dengan memberikan POIN mu untuk vote novel Essence of The Darkness karya author ya.


Untuk 3 pemberi POIN terbanyak dalam satu bulan, akan author berikan bonus sbb :


1. Ucapan terima kasih dan pengumuman di part terbaru untuk 3 orang yang akan disebutkan tertulis


2. Giveaway tempat minum unik/tumbler dari author yang bisa ditulisin nama by request dan akan dikirim langsung ke alamat masing-masing


3. Author akan follow akun mangatoon kamu untuk Private Chat dan meminta alamat untuk pengiriman giveawaynya juga untuk menanyakan request nama tulisan di tumblernya.


Pengumuman 3 Pemberi POIN terbanyak yang mendapatkan hadiah, akan diumumkan di awal bulan berikutnya.


Regadrs, AY


***



***



Akram merendahkan pandangannya ke arah Maya dan melemparkan tatapan dingin ke arah wanita itu secara terang-terangan. Rasa percaya diri Maya yang berlebihan memang sudah mengganggunya sejak awal. Akram tahu bahwa Maya diciptakan sebagai perempuan jenius yang sangat ahli dibidang akademis. Tetapi, seperti yang terjadi pada sebagian besar manusia jenius di dunia ini, mereka biasanya menjadi makhluk yang arogan, tidak punya empati, dan yang paling parah adalah memiliki rasa percaya diri berlebih karena merasa merekalah yang terbaik di atas segalanya.


Padahal tidak begitu. Sebab, kadangkala, kejeniusan seseorang itu malahan bisa menjadi titik kelemahan orang itu sendiri. Seperti halnya yang terjadi pada Maya. Perempuan itu dipenuhi rasa percaya diri hingga malahan tampak menjijikkan di mata Akram.


Oh, ketika Maya sengaja terhuyung sehingga tubuhnya jatuh ke arah Akram dan membuat Akram terpaksa menangkapnya, sudah jelas Akram tahu trik perempuan itu untuk menciptakan kontak fisik yang seakan tak disengaja terhadap Akram.


Maya saat ini mengenakan pakaian yang sangat seksi, gaun malam yang membungkus tubuhnya dengan rapat dan seolah tak menyisakan satu incipun dari permukaan kulitnya untuk bernafas. Seakan menonjolkan lekuk tubuhnya belumlah cukup, bagian bahunya terbuka, telanjang sempurna menampilkan pundaknya yang berkilauan dengan kulit selembut sutera, dengan potongan garis buah dada yang dibuat serendah mungkin sehingga buah dadanya terlihat menonjol dan ranum.


Lelaki lain mungkin akan melotot ketika melihat keindahan tubuh Maya yang dipamerkan secara sengaja ini, tetapi Akram malah merasa muak. Tubuh wanita yang terbuka dengan sengaja ini layaknya makanan busuk yang dirubungi lalat yang menjijikkan. Bagi Akram, dia lebih menginginkan segala yang ada pada Elana. Semua yang ada di tubuh wanita itu sangat pas melengkapinya, lengannya yang rapuh, permukaan kulit pucatnya yang mudah memerah dan membuat Akram selalu tergoda untuk meninggalkan tanda, serta buah dadanya yang berukuran tepat, tidak berlebihan pun juga tidak kekurangan, sangat pas dalam genggaman tangannya.


“Ah, maafkan aku…. Pelayan menyajikan anggur yang sangat bagus tadi, dan aku minum sedikit terlalu banyak,” Maya mengusapkan tangannya dengan sengaja, menggulirkan jemarinya yang dihiasi cat kuku warna terang ke dada Akram dengan gerakan sambil lalu yang dipenuhi godaan. “Jika aku mabuk, aku biasanya kehilangan keseimbanganku dan merasa kedinginan…”


“Merasa kedinginan?” Akram mengangkat sebelah alis. Bibirnya berkedut, menahan diri untuk menciptakan seringa penuh cemooh di sana.


Saat ini, Maya masih menyandarkan beban tubuhnya tanpa tahu malu ke tubuh Akram, seolah tak ingin melepaskan kontak fisik di antara mereka yang berhasil diciptakannya dengan mulus, posisinya sangat tepat sehingga Akram harus memegang lengannya yang telanjang untuk menahannya, pun karena Akram jauh lebih tinggi darinya, lelaki itu sudah pasti bisa menikmati pemandangan lekuk buah dadanya yang mengintip tanpa tahu malu di balik garis gaunnya yang rendah.


Maya sibuk kesenangan dengan pikirannya sendiri, yakin seratus persen bahwa Akram sudah pasti telah jatuh ke dalam godaan kemolekan tubuhnya sehingga dia tak menyadari situasi. Padahal pada saat itu,  Akram sendiri sedang menahan dorongan kuat untuk mendorong perempuan itu sampai jatuh terjengkang dan menjauh darinya.


“Ya… setiap aku meminum alkohol, badanku kedinginan dan aku… aku butuh dipeluk oleh lelaki untuk menghangatkanku,” Maya langsung menawarkan dirinya tanpa malu-malu. Yakin bahwa Akram Night tak akan sanggup menolaknya kali ini.

__ADS_1


Yah, siapa yang bisa menolak ketika perempuan yang secantik dirinya, sejenius dirinya dan juga berasal dari latar belakang keluarga ningrat, tiba-tiba bersikap pasrah dan menawarkan tubuhnya tanpa syarat?


Sudah sejak lama  Maya mengagumi Akram Night yang selalu ditampilkan sebagai taipan kaya tetapi berhati bengis. Lelaki bengis adalah kesukaan Maya, dia suka diperlakukan kasar jika memang Akram adalah pelakunya, saat ini, tubuhnya sudah menggeleyar membayangkan bagaimana Akram akan memuaskan diri dengan kasar terhadap tubuhnya di atas ranjang.


Ketika Akram malahan tampak membeku, Maya mendongakkan kepala dengan bingung. Matanya langsung bersirobok dengan tatapan mata Akram yang tajam, seolah menusuk ke dalam jiwanya.Bola mata Akram tampak membara, dipenuhi oleh emosi yang sepertinya… marah?


Maya mengerutkan kening, langsung mengusir pikiran yang terasa mustahil itu. Tidak. Akram  tidak mungkin marah, lelaki itu pasti sedang sangat berhasrat terhadapnya, karena itulah Akram menatapnya dengan begitu tajam. Bukankah amarah dan nafsu memiliki nafas yang sama sehingga kadang sering disalahartikan?


“Kau membawa mobil, bukan? Aku datang bersama keluargaku, tetapi mereka sedang bersenang-senang di dalam sana,” Maya berbisik dengan suara sensual menggoda. “Aku akan bilang pada mereka kalau aku akan pulang lebih cepat bersamamu. Kau memiliki hotel tak jauh dari sini, bukan? Kita bisa kesana dan… aduh!”


Suara Maya yang diseret dengan nada merayu berubah ke nada tinggi berbaur pekikan kesakitan dalam sekejap. Dengan kasar, Akram telah mendorong perempuan itu tanpa belas kasihan, menghempasnya sampai jauh sehinggga Maya langsung jatuh terjengkang dan pantatnya membentur karpet tebal yang mengalasi bagian lounge restoran itu.


“Akram…?” Maya masih menatap Akram dengan pandangan tak percaya.


Lelaki itu tak mungkin mendorongnya untuk menolaknya, bukan? Tidak ada lelaki manapun yang rela menolak dirinya yang sempurna ini! Akram pasti sedang mabuk! Ya! Lelaki itu pasti sedang mabuk!


Akram mengeluarkan sapu tangan dari balik saku jasnya dan mengelap tangannya dengan sikap jijik, lelaki itu seolah sengaja mempertontonkan gerakannya itu untuk membuat Maya malu setengah mati. Seolah itu belum cukup, Akram langsung membuang sapu tangannya ke tempat sampah.


“Kau pikir siapa dirimu sehingga merasa bisa melampaui garis batas dan mendekatiku?” Akram merendahkan pandangannya, menyipitkan mata dengan tatapan menghina ke arah Maya. “Jika kau merasa kedinginan, mungkin kau bisa menggunakan otakmu yang katanya jenius itu untuk mengambil keputusan bijaksana dan menggunakan pakaian yang lebih tertutup di cuaca hujan seperti ini. Mereka bilang kau orang jenius, tetapi di depanku, kau layaknya seorang pelacur rendahan yang tak punya otak,” desis Akram kejam, lalu langsung membalikkan tubuhnya dan tak menoleh lagi ke arah Maya yang tertegun dengan muka merah padam menahan malu.


Maya masih menatap punggung Akram yang menjauh lalu menghilang di balik lorong yang berlawanan dengan arah pandangannya. Rasa malunya langsung berubah menjadi kemarahan dan sakit hati, sementara tangannya mengepal diiringi dengan napasnya yang tersengal tak beraturan.


Beberapa pelayan yang ada di lounge itu sejak tadi tampak menahan diri ketika melihat interaksi antara Akram Night dengan wanita yang merayunya. Mereka tak berani bertindak, karena semenjak Akram Night menginjakkan kaki ke restoran ini, seluruh karyawan dari yang berada di posisi teratas maupun yang berada di posisi terbawah sekalipun, langsung mendapatkan peringatan darurat untuk memberikan pelayanan yang terbaik dan tidak mengganggu urusan dari Akram Night yang merupakan pemilik saham terbesar restoran ini.


Karena itulah para pelayan menunggu terlebih dahulu sampai punggung Akram Night menghilang di balik lorong, baru kemudian salah satu dari pelayan itu memberanikan diri untuk mendekati Maya dan berusaha menawarkan tangannya untuk membantu Maya berdiri.


Sayangnya, niat baiknya tidak mendapatkan balasan yang baik pula. Bukannya diberi ucapan terima kasih, setelah pelayan itu membantu maya berdiri, tangannya malah dihentakkan dengan kasar seolah wanita itu menganggap bahwa tangan pelayan tersebut sangat menjijikkan dan tak layak menyentuhnya.


“Minggir kalian semua dari sini!” bentak Maya kasar sebelum kemudian tertarih menyeret langkah kakinya yang sedikit bengkak karena terdorong jatuh tadi untuk melangkah menuju lobby restoran.


Dengan tak kalah kasar, Maya memerintahkan petugas valet parkir untuk mengambilkan mobilnya, sementara dirinya berdiri menahan sakit di kaki dengan mata nyalang penuh tekad yang semakin berkobar.


***



***


Akram melangkah menyusuri lorong yang mengarah kepada area toilet perempuan dan mengerutkan keningnya. Ini sudah begitu lama dan Elana tampaknya belum keluar dari ruang toilet tersebut.


Tidakkah sebelumnya Elana bilang bahwa dia hanya akan merapikan diri sebentar saja sebelum mereka pulang?


Jantung Akram tiba-tiba berdegup oleh pikiran buruk. Dia sudah sampai tepat di belokan lorong pendek yang mengarah ke satu jalur yang berujung pada pintu ruang toilet perempuan.


Hatinya berseru dan memerintahkannya untuk melanggar segala norma aturan dan langsung merangsek ke dalam toilet perempuan itu, tetapi sisi hatinya yang lain yang lebih bijaksana menahan keputusan impulsifnya itu.


Bagaimana kalau Elana ternyata tidak sendirian di dalam ruang toilet perempuan itu sehingga ketika dia merangsek masuk, wanita-wanita lain yang ada di dalam sana akan saling menjerit sehingga menciptakan kehebohan yang sudah pasti akan langsung disambar oleh pers secara tak terkendali?


Akram bisa langsung membayangkan headline berita yang akan penuh dengan gosip dirinya di halaman depan. Para pengejar berita itu pasti tanpa rasa bersalah akan menuliskan fitnah bahwa seorang Akram Night ternyata adalah lelaki mesum yang suka menerobos ke dalam ruang toilet perempuan. Demi mengejar oplah, memfitnah orang lain adalah hal yang biasa.


Ketika Akram masih menimbang-nimbang, tiba-tiba seorang pelayan perempuan melangkah melewatinya, hendak menuju ke arah yang berlawanan dengannya. Akram langsung memanggil pelayan itu, membuat sang pelayan tersebut segera menghentikan langkah dan memutar tubuhnya.


Sekilas pandang Akram mengawasi pelayan perempuan itu dan bersyukur karena yang ada dihadapannya, setidaknya dari pakaiannya yang berbeda dan usianya yang sudah setengah baya, sepertinya adalah salah satu supervisor pelayan di tempat ini. Tentu saja, semakin tua usia perempuan itu maka semakin baik, sebab perempuan tua biasanya memiliki kebijaksanaan yang tak dimiliki oleh perempuan muda, salah satunya kebijaksanaan untuk menutup mulutnya.


“Ada yang bisa saya bantu, tuan?” pelayan perempuan itu langsung menjawab dengan sikap sopan luar biasa. Jelas-jelas pelayan perempuan itu tahu kalau yang ada di hadapannya ini adalah Akram Night.

__ADS_1


Akram meliirik ke arah pintu ruang toilet perempuan itu dengan sikap cemas, lalu mengalihkan pandangannya ke arah pelayan perempuan itu.


“Teman perempuanku mengatakan akan merapikan diri di ruang toilet perempuan sejak tadi. Tetapi, aku sudah menunggu begitu lama dan dia tak juga keluar. Karena aku tidak mungkin masuk ke dalam ruang toilet perempuan, maka bisakah kau membantuku dan masuk ke sana untuk melihat kondisinya? Karena aku cemas kalau-kalau terjadi sesuatu kepadanya di dalam sana.”


Pelayan itu langsung menganggukkan kepala dengan sikap patuh. “Baik, Tuan Akram, saya akan masuk untuk melihat kondisi pasangan wanita Anda,’ ucapnya sopan, lalu melangkah cepat ke arah ruang toilet wanita itu dan masuk ke dalamnya.


Tidak perlu menunggu waktu lama bagi Akram untuk dipanggil dengan segera. Baru saja setengah helaan napas hendak dihirupnya dan pintu ruang toilet perempuan itu sudah terbuka lagi, kali ini yang terdengar adalah suara teriakan pelayan wanita itu yang sudah kehilangan ketenangannya.


“Tuan, pasangan wanita Anda, pingsan!” pekiknya meminta bantuan, membuat Akram langsung menghambur seolah terbang, lupa akan segala keraguannya dan langsung menghambur masuk ke ruang toilet perempuan tersebut.


***


“Jadi, apakah kau sudah menemukan penyebabnya?”


Akram tampak gelisah bercampur gusar. Entah sudah sejak berapa lama lelaki itu mondar mandir di dalam ruang kerja Nathan yang luas, membuat Nathan sendiri harus mendesah karena merasa terganggu.


Elana langsung dibawa ke rumah sakit dari restoran tempatnya pingsan tersebut, dan Nathan sendirilah yang dipanggil datang untuk menangani kondisi Elana secara langsung.


Perempuan itu sekarang sudah tertidur lelap di atas ranjang rumah sakit, mendapatkan infus dan juga obat khusus untuk membuatnya tidur yang tentu saja aman untuk ibu hamil.


Ya, meskipun Nathan belum mendapatkan kepastian tentang kondisi Elana, tetapi untuk berjaga-jaga jika Elana benar-benar hamil seperti dugaannya, maka Nathan langsung memastikan bahwa segala pengobatan yang diterapkannya kepada perempuan itu, adalah jenis pengobatan yang aman untuk ibu hamil.


“Karena hasil pemeriksaan tadi menunjukkan bahwa Elana telah memuntahkan seluruh isi perutnya dengan hebat sebelum kemudian jatuh pingsan, maka sudah pasti dugaanku mengenai kondisi tubuh Elana sudah jelas sama dengan dugaanmu. Meskipun begitu, masih terlalu dini untuk memastikannya. Aku tidak melihat apapun dari hasil USG dan kau juga tidak mengizinkanku untuk melakukan pemeriksaan dalam dengan USG transvaginal untuk melihat lebih dekat secara langsung kondiri rahim Elana. Karena itulah, satu-satunya hal yang bisa kita lakukan adalah menunggu hasil test darah keluar dan melihat kepastian mengenai kehamilan Elana,” jelas Nathan dengan nada sabar sambil mengangkat alis menatap Akram yang mondar-mandir seolah tak kenal lelah sejak tadi. “Bagaimana kalau kau menunggu sambil duduk saja, Akram? Hasil test darahnya baru akan tiba tiga puluh menit lagi,” sambung Nathan kemudian sambil melirik jam tangannya.


Akram menolehkan kepala dan menatap ke arah Nathan dengan pandangan tajam seolah hendak membantah. Tetapi, tak urung logikanya mengambil alih dan lelaki itu memutuskan untuk menuruti saran Nathan.


Dengan keras, dibantingnya tubuhnya ke sofa besar yang ada di ruang kerja Nathan, seolah ingin melampiaskan rasa frustasinya di sana.Akram menatap Nathan dengan pandangan menusuk, lalu tak bisa menahan diri untuk bertanya lagi.


“Apakah menurutmu, Elana hamil?” tanyanya kemudian.


Nathan langsung mendengus, tangannya bergerak untuk *** pangkal hidungnya dengan sikap frustasi.


Sudah sial dirinya dipanggil jelang tengah malam ketika tidur lelap sudah melingkupinya, sekarang dia harus bertahan melewati dini hari bersama Akram yang ditelan kepanikan hingga seperti orang linglung.


“Astaga, Akram. Apakah kau tak mendengar seluruh penjelasanku tadi? Aku tidak bisa memastikan kehamilan Elana sebelum hasil test darah keluar,” serunya jengkel.


Akram menipiskan bibir, menatap ke arah Nathan dengan pandangan mencela.


“Aku bukannya memintamu memberikan kepastian tentang kehamilan Elana. Aku hanya ingin menanyakan pandanganmu dari sisi seseorang yang memiliki latar belakang medis, apakah kemungkinan besar Elana sedang hamil saat ini?” tanyanya keras kepala.


Nathan mendengkus, lalu menegakkan punggung dan menatap Akram dengan serius.


“Ini hanya pandanganku dari segi kedokteran dan jika nanti hasil test darahnya tidak sesuai, maka kau tak boleh menyalahkanku,” Nathan lalu menghentikan kalimatnya dan menghela napas dalam-dalam sebelum melanjutkan berkata. “Elana memuntahkan makanannya. Kemungkinan seseorang memuntahkan makanannya secara tiba-tiba padahal sebelumnya dalam kondisi sehat, hanya ada dua. Satu adalah keracunan makanan, dan dua berarti dia hamil. Dari hasil pemeriksaanku, aku bisa memastikan bahwa sama sekali tak ada tanda-tanda keracunan di tubuh Elana, itu berarti untuk saat ini –sampai dengan hasil test darah keluar- maka kita berpegang pada kemungkinan yang kedua." ujarnya lugas dan berterus terang.


Ada binar yang berkerjap di mata Akram ketika mendengar kalimat Nathan itu. Bibirnya bergerak membuka, tetapi sebelum dia sempat mengucapkan sepatah katapun, suara ketukan terdengar dari pintu ruang kerja Nathan, mengalihkan perhatiannya.


***




***


__ADS_1


***



__ADS_2