
Seperti ketika mereka berangkat ke tempat ini tadi, seorang supir telah menunggu, berdiri tegak di samping mobil dan bergerak cepat membukakan pintu untuk majikannya ketika mereka melangkah mendekat. Kondisi tangan Akram yang masih terbebat dan terhubung langsung dengan dadanya yang terluka memang membuat Akram memilih untuk tidak menyetir sendiri dahulu demi keamanan sampai lengannya sembuh benar.
Ratusan lampu bulat yang terpancang di ujung tiang yang menjulang tinggi dan berjajar di sepanjang area parkir raksasa itu tampak menyala dan mengawal langkah mereka dengan cahaya kuning hangatnya yang menentramkan. Suasana sedikit hening, hanya terdengar deru mobil yang bersahutan dan bergerak meninggalkan area parkir tersebut di dekat mereka.
Elana yang masuk ke dalam mobil terlebih dahulu, disusul oleh Akram. Mobil pun kemudian melaju meninggalkan halaman parkir yang sedikit lengang di tengah kegelapan yang melingkupi mereka.
Ketika mobil telah meninggalkan gerbang utama Ocean Garden yang melaju di jalan raya yang ramai, Elana akhirnya memberanikan diri mencuri pandang ke arah Akram dengan berhati-hati.
Entah kenapa, setelah ciuman mereka berdua di penghujung atraksi kembang api tadi, sikap Akram tampak berbeda. Lelaki itu memasang ekspresi keras yang menyiratkan kekejaman, sementara Elana melihat geraham lelaki itu mengeras, seolah sedang menahan kemarahan.
Tetapi, apa yang membuat Akram marah? Bukankah tadi mereka berhasil menciptakan nuansa damai sampai mereka pulang? Sebenarnya apa yang terjadi yang membuat Akram tampak begitu tegang dan kaku?
Sikap Elana yang memandanginya diam-diam ternyata disadari oleh Akram. Lelaki itu menoleh ke arah Elana dan dengan cepat dan langsung menangkap basah Elana yang seketika mencoba mengalihkan pandangan ke jendela luar dengan rasa malu.
“Aku tidak sedang marah,” Akram mendesis perlahan seolah bisa memahami pertanyaan yang berkecamuk di benak Elana. Lelaki itu lalu memajukan tubuhnya untuk memasang penutup kaca kedap suara yang memisahkan kabin penumpang dengan area supir di depan, untuk menjaga privasi mereka ketika bercakap-cakap.
Elana memberanikan menoleh kembali ke arah Akram, keningnya berkerut ketika dia akhirnya mengajukan pertanyaannya.
“Lalu… kenapa kau tampak begitu… tegang?” tanyanya perlahan.
Entah kenapa, pertanyaan Elana malah mengulaskan senyum ironis di bibir Akram, seolah-olah lelaki itu menahan jengkel atas kepolosan Elana yang tak ada ujungnya.
"Apakah kau sedang menggodaku?" desis Akram dengan nada berbahaya.
Napas Elana tertahan sementara wajahnya merah padam penuh rasa malu ketika mendengar ucapan Akram tersebut, Elana menarik tangannya dari genggaman Akram, lalu menjalinkan tangannya sendiri dengan sikap gugup.
“Aku tidak bermaksud menggoda atau memancingmu….” Elana mengucapkan kalimat membela dirinya dengan malu, yang tak disangka malah ditanggapi dengan kekehan Akram.
“Oh, ya, tak perlu kau jelaskan kepadaku Elana. Akulah yang paling tahu bagaimana kau tak pernah menggoda atau memancingku. Bahkan jika kau bisa memilih, tentu kau akan lebih memilih lari terbirit-birit dan menjauhi aku sejauh-jauhnya, benar bukan?” Akram tidak menjauhkan tubuhnya, mendesak Elana ke salah satu sisi mobil sehingga tidak ada kesempatan bagi Elana untuk melarikan diri.
Ketika Elana tak juga menanggapi pertanyaannya, Akram mengulurkan tangannya ke dagu Elana, menghadapkan perempuan itu ke arahnya supaya Elana benar-benar menatap dirinya ketika dia berucap kata.
“Tetapi kau tentu tahu bahwa semua itu tidak ada bedanya bagiku. Aku akan tetap mengejarmu meskipun kau menolakku,” Akram tiba-tiba membungkuk dan menghadiahkan kecupan kembali di bibir Elana. SetelahnyaAkram terkekeh. Lelaki itu, entah kenapa begitu mudah tertawa hari ini. “Tapi karena kita tak bisa di sini, kalau begitu…. Bagaimana kalau di tempat lain?” tanpa menunggu persetujuan dari Elana, Akram menconcongkan tubuhnya kembali maju ke arah kaca pembatas dan membuka kaca pembatas tersebut, lalu melemparkan serentetan perintah yang hampir-hampir tak bisa ditangkap oleh indra pendengaran Elana.
Ketika Akram kembali ke posisi duduknya dengan sikap sedikit lebih santai ditambah dengan senyuman puas, Elana langsung bertanya kembali.
__ADS_1
“Kau… kau bilang akan ke hotel?” dari apa yang ditangkap oleh Elana tadi, Akram telah memerintahkan supirnya untuk berbelok ke arah hotel terdekat dan bukannya pulang ke apartemennya.
Akram menoleh sedikit ke arah Elana, lalu tersenyum miring penuh arti.
“Apartemen kita terlalu jauh,” jawabnya singkat, membuat pipi Elana menjadi merah padam.
***
***
Ketika mereka melangkah memasuki pintu hotel, Akram tidak menunggu lama, lelaki itu langsung meraih Elana dan membawanya ke dalam pelukan.
Kedekatan pelukan mereka membuat Elana menyadari bahwa Akram sungguh telah menahan diri begitu kuat untuk tidak menjamahnya di luar sana. Dan sekarang, ketika Akram berada di dalam kamar berdua dengannya, sudah pasti tidak akan ada yang bisa menghentikan lelaki itu.
“Akram… tunggu dulu,” napas Elana terengah ketika kedua tangannya berusaha mendorong dada Akram untuk memberikan kesempatan bagi dirinya sendiri menghirup oksigen masuk ke paru-parunya. Dia memalingkan wajah ketika Akram berusaha memagut bibirnya kembali, membuat Akram menggunakan jemari untuk mengangkat dagunya dengan jengkel.
“Apakah kau sedang berusaha menolakku?” tanya Akram dengan nada tajam dan mata berkilat.Elana menatap Akram dengan canggung, berusaha mencari alasan.
Lelaki ini tampak begitu berhasrat hingga terasa mengintimidasi, membangunkan insting Elana sebagai mangsa yang terancam dan ingin bersembunyi, menjauh sejenak guna melindungi dirinya dari serangan predator lapar yang jelas-jelas ingin melahapnya hidup-hidup.
Gerakan itu tentu tak lepas dari pengawasan Akram. Kedua lengan lelaki itu mencengkeram sisi kiri dan kanan lengan Elana dengan gerakan berhati-hati, lalu mengusap sisi lengan itu dengan lembut untuk membantu menghangatkan tubuh Elana dengan gesekan kulit mereka yang hangat.
“Kau kedinginan?” nada cemas muncul di dalam suara Akram, seketika dia teringat bahwa masih satu kali lagi serum penawar racun itu harus diberikan kepada Elana.
Xavier dengan gamblang sudah menjelaskan bahwa dia tak ingin melepaskan kesempatannya yang tinggal satu kali untuk bisa berada di dekat Elana tanpa terhalangi dan bahkan sempat meninggalkan pesan yang dititipkan kepada Elios untuk disampaikan kepada Akram, bahwa besok, Elana harus diantarkan ke rumahnya pagi-pagi sekali guna menerima pemberian serum yang ketiga.
Sungguh jika saja dia mampu, Akram tidak akan pernah mengizinkan Elana pergi ke rumah Xavier lagi. Siapa yang tahu malapetaka apa yang akan mengenai Elana ketika harus berdekatan dengan kakak angkatnya yang seolah-olah selalu membawa kesialan sebagai auranya itu?
Elana menganggukkan kepala sedikit ke arah Akram, menyadari akan hawa dingin yang tadinya tidak dia rasakan, tetapi sekarang merayapi tubuhnya tanpa bisa ditutupi.
“Racun yang tersisa di tubuhmu tampaknya mulai bangun dan efeknya mulai terasa, itu karena kau sudah mendekati waktunya diberikan penawar,” Akram membungkuk dan meraup tubuh Elana tanpa peringatan, lalu membawanya ke dalam gendongan sambil melangkah menuju ranjang, meletakkan Elana di sana kemudian menyusul untuk memeluknya. “Besok aku sendiri yang akan mengantarmu ke rumah Xavier guna mendapatkan penawar racun. Untuk sekarang, biarkan aku menghangatkanmu,”
Akram kembali menundukkan kepala, hendak melumat bibir Elana, tetapi kembali Elana menahan dadanya dengan tangan, membuat Akram mengerutkan kening dengan ekspresi tak sabar.
“Ada apa lagi?” tanyanya cepat dengan nada menuntut.
__ADS_1
Pipi Elana merona. “Kau… kenapa kau selalu…. menganggapku sebagai maninanmu?"
Pertanyaan Elana yang tak diduga itu membuat Akram tertegun. Perempuan ini tidak pernah mempertanyakan ini sebelumnya, tidak secara gamblang seperti saat ini. Yah, mungkin karena selama ini tidak pernah ada kesempatan bagi perempuan ini untuk bertanya. Elana lebih sibuk menolak dan mencoba melarikan diri darinya sementara Akram yang tidak menerima penolakan, sama sekali tidak memberi kesempatan perempuan itu untuk bersuara dan langsung mengklaim hasratnya pada Elana secara sepihak.
Akram menipiskan bibir, memutuskan untuk mengungkapkan apa yang ada di dalam pikirannya dengan jujur.
“Dulu aku mungkin menganggapmu sebagai mainanku. Tetapi sekarang, tidakkah kau menyadari perbedaan dari perlakuanku kepadamu? Saat ini, aku memposisiskanmu sebagai kekasihku. Bukankah bercinta merupakan hal-hal yang memang sudah seharusnya dilakukan oleh sepasang kekasih?” dengan kalimat lambat-lambat, Akram menjawab, menggunakan pertanyaan untuk memancing reaksi Elana.
Dan benar saja, Elana langsung melawan, mata perempuan itu berkilat penuh bantahan.
“Pa… pasangan kekasih tidak melakukan itu… mereka… mereka mungkin bergandengan tangan dan berkencan seperti yang kita lakukan tadi di taman hiburan, mereka kadang bercakap-cakap dan menghabiskan waktu bersama… tetapi…. Tetapi mereka hanya akan bercinta kalau....” suara Elana tertelan di tenggorokan, dia tidak bisa mengeluarkan kalimat yang menyatakan bahwa mereka seharusnya baru boleh melakukan seks jika mereka telah menikah, karena dia tidak mau Akram menganggapnya sebagai wanita haus status yang sangat ingin dinikahi oleh Akram seperti wanita-wanita lain yang selama ini mengejar lelaki itu.
Tidak! Menikah dengan Akram adalah hal terakhir yang ada di dalam pikiran Elana. Latar belakangnya dan latar belakang Akram… mereka berdua tidak akan pernah cocok. Belum lagi, statusnya yang rendah di mata Akram, jelas-jelas membuat lelaki itu menganggapnya hanya pantas dijadikan sebagai kekasih, sebagai wanita simpanan, sebagai pemuas nafsu. Sementara, Akram jelas akan memilih wanita dari kalangan terhormat yang pantas dengan statusnya untuk dijadikan sebagai istrinya.
Elana juga tidak pernah memiliki mimpi atau pikiran apapun tentang dia yang menjadi istri Akram di masa depan. Dia… dia masih menyimpan harapan untuk melarikan diri dari Akram, bukan?
Meskipun Akram telah mengubah sikapnya dan memperlakukan Elana seperti apa yang dikatakannya tadi… menganggap Elana sebagai kekasihnya… tetapi… tetapi Elana seharusnya tetap berusaha melepaskan diri dari lelaki itu, bukan?
Keraguan yang berkelebat di ekspresi wajah Elana membuat geraham Akram mengeras. Lelaki itu menggunakan sebelah tangannya untuk menangkup dagu Elana, menghadapkan wajah Elana ke arahnya, lalu mendekatkan wajahnya sendiri begitu dekat, dengan mata memandang lekat-lekat.
“Apa yang salah dengan keinginan untuk memelukmu? Aku akhirnya menemukan seseorang yang bisa membuatku ingin memeluk seorang perempuan tanpa merasa jengah atau bosan setelahnya…. Apa yang salah dengan berusaha sedekat mungkin denganmu? Hanya itulah satu-satunya ekspresi kasih sayang yang kuketahui. Jadi, apa yang salah dengan itu?” mata Akram menyipit ketika lelaki itu mendekatkan hidungnya hingga bersentuhan dengan hidung Elana. “Kita sudah sejauh ini, Elana. Mungkinkah kau masih punya keinginan untuk melepaskan diri dariku?” tanyanya dengan nada menyelidik tajam yang membuat Elana sedikit terkesiap, terkejut karena Akram seolah bisa membaca apa yang ada di dalam jiwanya.
Reaksi Elana menciptakan kilas getir bercampur kepedihan di mata Akram. Bibir Akram mengguratkan senyuman penuh ironi ketika lelaki itu tampak memaksa dirinya menjauh dari Elana dan beranjak duduk kembali di tepi ranjang.
“Ternyata benar. Cara apapun yang kulakukan, tetap tidak bisa mengubah hatimu dan membuatmu bersedia tinggal di sisiku. Kau masih menyimpan keinginan melarikan diri dariku,” ekspresi Akram berubah dingin, meskipun begitu, tangannya dengan lembut bergerak untuk menyelimuti tubuh Elana yang kedinginan dengan bed cover tebal hingga ke bawah dagunya.
Lelaki itu kemudian beranjak berdiri dari ranjang, matanya menatap Elana yang kelu tak mampu berucap kata.
“Tidurlah. Aku akan membersihkan diri terlebih dahulu,” dengan suara kaku, Akram membalikkan tubuh, lalu melangkah cepat membuka pintu kamar mandi, dan tubuhnya pun kemudian menghilang di balik pintu kamar mandi yang ditutupnya rapat.
***
***
__ADS_1