
LIGHT LAYERS OF THE DAY/ESSENCE OF THE LIGHT
BONUS MINI NOVEL
XaVIER’S Happy Family
DAFTAR ISI
1. NYANYIAN SANG AYAH
2. MENJEMPUT PULANG AYAH
3. TUGAS SEORANG AYAH
4. AYAH YANG CEMBURU
5. TERPISAH DARI AYAH
6. AYAH PASTI DATANG
7. SOSOK ASLI AYAH
8. CINTA SEORANG AYAH
9. AYAH YANG TAMPAN
10. KELUARGA BAHAGIA
Bonus Epilog EOTL ( FREE ) : Merengkuh Kesembuhan – Hanya diposting di PSA, SELASA 17 NOVEMBER 2020
Ebook Full plus BONUS 10 Part Xavier’s Happy Family ( PREMIUM ) akan diposting pada hari SELASA, 17 November 2020 hanya di projectsairaakira website/ PSA/ PSA Vitamins Readers )
Bonus EPILOG ( FREE) + Ebook EOTL Full dan 10 Part EOTL Xavier’s Happy Family ( KONTEN PREMIUM ) hanya bisa diakses baca eksklusif melalui projectsairaakira.com.
Bagian ketiga dari The Essence Series/ Season 3, yaitu Essence Of The Evening/ Dusk Layers of The Sunset ( Kisah Credence ) Hanya akan diposting secara bersambung di projectsairaakira, bisa dibaca gratis sampai tamat mulai 1 Januari 2021.
***
***
***
***
***
“Berapa lama aku tak sadarkan diri?”
Itu adalah pertanyaan pertama yang diajukan oleh dokter Nathan ketika dia memperoleh kesadarannya secara penuh. Saat ini, setelah dokter yang menanganinya melakukan observasi menyeluruh dan memastikan bahwa kondisinya sudah stabil, dokter Nathan akhirnya diijinkan untuk pindah ke ruang perawatan.
Credence yang kebetulan sedang berada di rumah sakit untuk memantau kondisi dokter Nathan langsung mendampingi seluruh proses pemindahan dokter Nathan ke kamar perawatan. Dia jugalah yang menjawab semua pertanyaan dokter Nathan dan menceritakan semua hal secara runut dan terperinci tentang semua hal yang terjadi ketika sang dokter sedang tak sadarkan diri.
Ketika dokter yang menangani dokter Nathan datang berkunjung melakukan pemeriksaan, Credence kemudian memutuskan untuk mengunjungi kamar perawatan Sera dan memberitahu tentang kondisi dokter Nathan yang sudah sadar.
Bagaimanapun, dokter Nathan yang sadarkan diri tentu akan melegakan kedua pasangan ini karena mau tak mau, peristiwa yang terjadi pada dokter Nathan terjadi karena disebabkan oleh Aaron, tokoh antagonis dalam kisah percintaan Sera dan Xavier.
Akram sendiri datang kemudian, lelaki itu langsung bergegas berangkat ke rumah sakit langsung dari kantornya begitu mendengar bahwa dokter Nathan sudah sadarkan diri.
Mereka berempat, Credence, Xavier, Sera dan Akram, tiba hampir bersamaan di depan pintu ruang perawatan dokter Nathan dan akhirnya memutuskan untuk masuk bersama-sama.
Dokter Nathan tampak lebih kurus dari sebelumnya, dan juga lebih pucat. Lelaki itu duduk di atas ranjang rumah sakit, mengenakan piyama rumah sakit dengan selimut menutup area pinggang dan kakinya, dan tampaknya sedang fokus membaca perkembangan berita informasi dari ponsel yang ada di tangan kirinya. Selang infus tampak terhubung di tangan kanannya karena dokter Nathan memang bertangan kidal.
Ketika pintu terbuka dan rombongan penjenguk masuk, dokter Nathan menengadah dan langsung mengangkat sebelah alisnya.
“Kenapa kalian semua datang bersamaan kemari?” tanyanya mengerutkan kening seolah melihat sesuatu yang aneh.
Credence menyeringai dan membanting tubuhnya ke sofa besar yang tersedia di sana, seolah-olah sedang berada di rumahnya sendiri.
“Sudah kubilang, kalian semua terlalu cemas. Ketika dia membuka mata, dia seperti orang yang tak pernah sakit dan kembali menjadi orang yang menyebalkan,” ujarnya dengan nada setengah mengejek.
Akram tersenyum mendengar kalimat Credence, lelaki itu melangkah ke tepi ranjang dan tatapannya yang tajam memindai sosok dokter Nathan dengan penuh penilaian.
“Kau memang tampak sehat.” Sinar mata dokter Nathan yang hidup membuatnya tak tampak seperti orang yang baru bangun dari koma selama sebulan penuh. Akram tak bisa menyembunyikan ekspresi penuh syukur kemudian di wajahnya. “Dokter yang menanganimu bilang bahwa sungguh ajaib organ-organ tubuhmu tidak rusak parah karena pengaruh efek overdosis itu.”
“Mungkin karena aku banyak berbuat baik, jadi aku selamat.” Dokter Nathan menyahuti Akram dengan nada santai sambil menyeringai lebar. Lelaki itu kemudian melabuhkan pandangannya ke arah Xavier dan mengerutkan keningnya. “Kenapa kau masih ada di sini? Bukankah kau seharusnya sudah melakukan operasi transplantasi sumsum tulang belakang?” tanyanya cepat.
Xavier yang melangkah pelan mendekat ke sisi ranjang satunya sambil merangkul Sera di pinggangnya langsung tersenyum mencemooh ke arah dokter Nathan.
“Sebelum kau memikirkan orang lain, lebih baik kau memikirkan dirimu sendiri dulu. Apa kau sebegitu menghayatinya menjadi seorang dokter hingga kau lupa bahwa saat ini dirimu adalah seorang pasien?” tanyanya kemudian.
Perkataan Xavier itu membuat dokter Nathan terkekeh.
“Ah ya. Kali ini aku adalah pasien.” Lelaki itu menatap ke sekeliling, lalu tersenyum lebar ke arah Sera. “Aku sudah mendengar semuanya, aku senang segala sesuatunya sudah selesai, Sera,” ucapnya pelan. “Nanti kalau sudah sembuh aku akan sering datang ke rumahmu untuk menengok si kembar.”
Xavier langsung mengerutkan kening mendengar kalimat dokter Nathan itu.
“Buat apa kau sering-sering mengunjungi si kembar? Lebih baik, saat kau mendapatkan kesempatan kedua dan tak jadi mati dalam kondisi lajang, kau segera memanfaatkan kesempatan itu mencari istri dan membuat anak-anakmu sendiri, jadi kau tidak mengganggu anak orang lain,” ujarnya dengan nada ketus yang langsung membuat Sera menyikut suaminya dengan penuh peringatan.
“Kau boleh datang kapanpun, sesering apapun semaumu.” Sera segera mengoreksi kalimat Xavier dengan kalimat yang berlawanan dengan suaminya, membuat ekspresi Xavier berubah cemberut.
Namun, tentu saja Sera tak memedulikan protes yang tercermin di wajah suaminya itu. Perempuan itu menatap dokter Nathan dengan pandangan penuh permintaan maaf yang dalam. “Dan… dan maafkan aku. Karena permasalahan Aaron, kau jadi korban dan harus terbaring di sini sebagai pasien…,” sambungnya kemudian dengan penyesalan yang nyata.
“Aku tidak apa-apa, Sera.” Dokter Nathan langsung menyahuti dengan tulus. “Aku akan segera sembuh. Tubuhku terasa enak dan segar. Mungkin sesungguhnya ini adalah kesempatan bagiku untuk mengistirahatkan tubuhku selama sebulan penuh.” Lelaki itu berucap seolah-olah koma yang dialaminya adalah sesuatu yang remeh, untuk menenangkan hati Sera. “Dan juga, seperti yang kukatakan tadi, aku senang semuanya berakhir baik untuk kalian semua.”
Dokter Nathan mengalihkan tatapannya ke arah Xavier dan menatap lelaki itu dengan pandangan menyesal.
“Aku mendengar dari Credence mengenai dokter Rasputin, aku turut berduka cita dan menyesal,” sambungnya kemudian dengan nada berhati-hati.
Xavier menganggukkan kepala sebagai tanggapan. Sekarang setelah dia melepaskan serta merelakan dengan hati yang penuh maaf, jiwanya tidak terasa sakit lagi ketika pembicaraan mengenai dokter Rasputin diangkat. Dia bahkan mampu menanggapinya dengan senyuman. “Seperti katamu, semua sudah baik-baik saja sekarang,” sahut Xavier dengan penuh syukur.
Dokter Nathan menganggukkan kepala, lalu lelaki itu menatap Xavier dengan serius. “Tapi kau masih punya tugas penting. Operasi itu harus segera dilakukan.” Mata dokter Nathan menyipit mengawasi Xavier. “Kulihat kondisimu tak begitu bagus. Sepertinya kau jauh lebih pucat dari biasanya.”
Sekali lagi Xavier menipiskan bibir, memandang penuh ironi pada dokter Nathan yang sebenarnya sama-sama pucat seperti dirinya, tetapi bersikap seperti seorang dokter yang sedang menganalisa kondisi pasiennya terhadap Xavier.
“Jangan membebani pikiranmu tentang diriku. Tenang saja. Aku sudah mengatur jadwal pertemuan dengan dokter ahli di rumah sakit ini, untuk persiapan operasiku.” Xavier menyahuti dengan nada suara bercampur senyum untuk menenangkan dokter Nathan.
***
“Ayah.”
Sera duduk di samping ranjang ayahnya yang terbaring koma dan tak sadarkan diri. Wajahnya dipenuhi haru dan matanya berkaca-kaca penuh kerinduan.
__ADS_1
“Ayah, aku datang lagi untuk menjenguk ayah.” Sera berbisik pelan. Tangannya mengambil tangan ayahnya yang kurus dan keriput dimakan usia, lalu menempelkannya ke pipinya yang basah. “Maafkan aku baru datang sekarang,” sambungnya kemudian. Suaranya pecah ditelan tangisan.
Xavier yang berdiri di belakang Sera meremas pundak perempuan itu seolah memberikan dukungannya.
Sera mendongakkan kepala, menatap suaminya dengan pipi basah penuh air mata.
“Terima kasih karena mengizinkan kita mampir kemari dahulu sebelum pulang,” bisiknya dengan suara parau penuh keharuan.
Xavier tersenyum dan menganggukkan kepala.
“Kau pasti rindu pada ayahmu, aku mengerti.” Tangan Xavier bergerak mengelus kepala Sera seperti mengelus anak kecil kesayangannya. “Lagipula, kita harus memamerkan kepada ayahmu bahwa dia telah memiliki cucu-cucu yang cantik, bukan? Nanti kita akan sering berkunjung sambil membawa si kembar, supaya ayahmu bisa melihat perkembangan si kembar,”
Xavier berucap sambil menolehkan kepala ke belakang, memberi isyarat kepada dua pengasuh yang mendorong kereta bayi si kembar.
Dengan sigap kedua pengasuh itu langsung mengambil si kembar dan membawanya ke dekat ranjang. Ainee diserahkan ke tangan Xavier sementara Elaine digendong dalam buaian Sera.
“Ayah, ini adalah cucu-cucumu. Mereka sangat cantik.” Sera berucap dengan suara lembut penuh cinta. “Ayah cepat sembuh ya? Semoga ayah bisa bangun dan membuka mata, lalu melihat cucu-cucu ayah yang bertumbuh besar dan bisa bermain dengan kakeknya.” Suara Sera bergetar ketika berucap mengutarakan mimpi dan harapannya terhadap kondisi ayahnya.
Entah hanya bayangan saja, atau memang itu nyata terjadi, Sera seolah melihat, meskipun mata ayahnya masih terpejam rapat dan tak bergerak, tetapi sudut mulut ayahnya melengkung dan terangkat sedikit, membentuk seulas senyum tipis yang terasa sangat indah di matanya. Hal itu membuat Sera dipenuhi rasa haru yang meluap-luap di dadanya, hingga matanya basah lagi penuh air mata. Air mata ketulusan penuh haru dari seorang anak perempuan yang sangat mencintai ayahnya.
***
“Aku sangat bahagia bersamamu.”
Ketika malam menjelang dan si kembar sudah lelap di dalam boks mereka masing-masing, Sera bergelung di dalam pelukan Xavier dan menatap suaminya dengan penuh cinta.
Xavier memberikan tatapan mesra yang sama, tangannya yang memeluk erat istrinya bergerak mengusap punggung Sera dengan menggoda.
“Aku juga sama. Kau membuatku bahagia, Sera,” jawabnya kemudian dengan suara parau penuh kesungguhan.
Lelaki itu lalu menyentuhkan jarinya ke dagu Sera dan mendongakkan wajah perempuan itu ke arahnya. Ibu jarinya menarik dagu Sera sedikit dan membuat bibir ranum yang indah itu membuka untuknya. Melihat itu, seketika mata Xavier menggelap dipenuhi oleh hasrat. Lelaki itu segera menundukkan kepala dan menanamkan bibirnya sendiri ke biir Sera yang terbuka, memainkan lidahnya untuk menggoda dan menyesap kelembutan penuh rasa manis dari mulut perempuan itu, sebelum kemudian berbisik mesra di telinga Sera.
“Aku rindu menyatu denganmu,” bisiknya parau penuh hasrat. “Apakah kau… sudah bisa?” tanyanya pelan dipenuhi ketidakyakinan.
Sera menatap Xavier dalam senyuman. Sesungguhnya dia sudah siap untuk menerima suaminya kembali setelah sebulan lebih proses penyembuhan dirinya dengan sempurna. Dan saat ini, hatinya terasa bergema oleh rasa cinta yang meluap ketika melihat bagaimana suaminya yang dipenuhi hasrat tak tertahankan itu, masih menyempatkan diri untuk mengkhawatirkan kondisinya.
“Aku juga merindukanmu,” Sera tidak memberikan jawaban gamblang atas pertanyaan Xavier. Namun, matanya yang bersinar penuh cinta itu sudah cukup memberikan lampu hijau bagi suaminya untuk bertindak lebih jauh.
Xavier menerima isyarat Sera dengan penuh hasrat. Lelaki itu bergerak hingga tubuhnya berada di atas tubuh istrinya, dan kepalanya kembali menunduk untuk menciumi istrinya sepenuh hati, bersiap untuk menuntaskan hasratnya.
Tentu saja tak ada penolakan dari Sera, perempuan itu melingkarkan lengannya di leher suaminya, kakinya bergerak memeluk panggul Xavier, menunjukkan penerimaan sepenuh hati.
Dan dua manusia itu menyatu, dalam cinta yang dipadu hasrat meluap atas keinginan menyatukan perasaan dan dua tubuh mereka yang dipenuhi oleh rasa rindu.
***
“Selama proses rawat inap seminggu ini di rumah sakit, Tuan Xavier sudah menyelesaikan prosedur persiapan sumsum tulang untuk operasi. Jadwal operasi akan dilaksanakan esok hari, pukul tujuh pagi.”
Suara dokter Yonora, dokter bedah ahli yang berusia hampir setengah abad itu terdengar lembut di dalam ruang periksa. Matanya menatap ke arah pasangan suami istri yang mendengarkannya dengan saksama sambil bergenggaman tangan seolah saling menopang dan menyalurkan kekuatan satu sama lain.
Xavier berbaring di atas ranjang perawatan rumah sakit tempatnya dirawat selama seminggu untuk persiapan pra-transplantasinya, sementara Sera duduk di tepi ranjang dan menggenggam tangan suaminya. Keduanya mendengarkan dengan saksama ketika dokter Yonora, kepala dari tim medis yang akan menjalankan operasi cangkok sumsum tulang belakang Xavier, menjelaskan seluruh prosedur yang akan mereka jalani untuk operasi itu dengan terperinci.
Xavier telah menjalani seluruh prosedur pra-transplantasi dengan sempurna. Membutuhkan waktu hampir sebulan lamanya untuk mempersiapkan kondisi fisik Xavier hingga prosedur operasi dinyatakan siap dilakukan dan kemudian langsung disambung dengan seminggu penuh rawat inap untuk proses pra-transplantasi.
Dia telah menjalani evaluasi riwayat kesehatan dan evaluasi emosional serta psikologis. Hasil pemeriksaan EKG, rontgen dada, test darah, CT Scan, MRI, Biopsi sumsum tulang dan juga test HLA untuk menentukan kecocokan sel punca donor dengan penerima transplantasi juga telah dilakukan dan semua menunjukkan hasil yang bagus.
“Saya rasa kita akan berhasil melalui seluruh prosesnya dengan baik. Namun, kalian juga tidak boleh lupa, bahwa setelah proses pemulihan diselesaikan, kesempurnaan penyembuhan total tetaplah membutuhkan waktu tiga bulan sampai dengan satu tahun, karena itulah kerjasama pasien untuk selalu mengikuti anjuran dan perkataan dokter sangat dibutuhkan guna mencapai kesembuhan yang benar-benar sempurna.” Dokter Yonora tersenyum lembut ke arah Sera yang tampak gugup dan sedang meremas tangan suaminya dengan sangat kuat.
“Jangan khawatir. Teknologi dan perkembangan dunia kesehatan sudah berkembang saat ini. Supaya tak merasa ngeri, Anda bisa membayangkan prosedur transplantasi ini seperti proses transfusi darah, dengan memasukkan sel punca dari donor secara perlahan dan bertahap ke tubuh penerima melalui akses vena sentral dan sel punca akan bergerak masuk ke sumsum tulang dengan sendirinya. Lagipula, persiapan untuk operasi transplantasi ini sudah dilakukan dengan sangat berhati-hati dan nyaris sempurna, karena itulah secara kalkulasi medis, risiko kegagalan transplantasi sangatlah kecil.”
Sera menganggukkan kepala, melebarkan matanya dan menatap ke arah dokter Yonora dengan penuh harap.
“Sa… saya berharap Anda melakukan yang terbaik untuk kesembuhan suami saya, dokter.” Bisiknya pelan dengan nada penuh harap.
Dokter Yonora tersenyum lagi. Pengalamannya sebagai dokter bedah ahli yang menangani berbagai kasus dengan keberhasilan membuatnya mampu menatap pasangan di depannya dengan kepercayaan diri tinggi.
“Saya akan melakukan yang terbaik,” jawabnya kemudian dengan nada yakin, berusaha memberikan ketenangan kepada dua pasang anak manusia di depannya itu.
***
Ketiga pagi menjelang, Sera duduk di tepi ranjang perawatan Xavier dan menangkupkan tangan lelaki itu ke pipinya.
Proses operasi akan dilakukan beberapa saat lagi, dan perempuan itu masih ingin menggenggam tangan suaminya, menatapnya dengan penuh cinta dari hati yang dipenuhi harapan akan kesembuhan suami serta ayah dari anak-anaknya.
“Aku akan sembuh dan baik-baik saja.” Xavier tersenyum. Lelaki itu sudah mengenakan pakaian operasi dan menunggu tim medis menjemputnya untuk membawanya ke ruang operasi.
“Aku tahu bahwa kau akan sembuh.” Sera menyahuti dalam senyuman yang sama. “Aku dan anak-anak terus berdoa untuk keberhasilan operasi ini,” bisiknya kemudian dengan nada kuat meskipun perempuan itu tampaknya tak mampu menyembunyikan kecemasan di dalam suaranya.
Xavier mengelus pipi Sera dengan sikap tenang. Lelaki itu sudah begitu lama menyiapkan hatinya untuk prosedur transplantasi ini, hingga ketika saatnya tiba, tidak ada lagi rasa cemas yang tersisa, hanya ada rasa tak sabar penuh antisipasi menunggu seluruh prosesnya selesai dan berhasil.
“Kita pasti akan bisa melalui ini. Aku akan berhasil melalui ini. Aku berjanji akan pulang kepadamu dalam kondisi Sehat, Sera.” Xavier meraih tangan Sera dan membawanya ke bibir, lalu mengecupnya dengan lembut. “Tunggulah aku. Aku akan berhasil,” ucapnya kemudian dengan suara serak, membuat mata Sera langsung menderas penuh air mata ketika mendengarnya.
“Ya. Kau harus berhasil. Penuhilah janjimu, Xavier. Aku dan si kembar menunggumu,” bisiknya parau dengan penuh harap.
Perempuan itu lalu membungkukkan tubuh dan mengecup bibir suaminya dengan penuh sayang.
***
Lima jam penuh berlalu ketika akhirnya Sera yang duduk di sofa ruang tunggu operasi melihat pintu ruang operasi yang terbuka.
Sera tidak menunggu sendirian, ada Elana yang datang bersama Akram suaminya dan juga Credence.
Anak-anak Elana ditempatkan di ruang apartemen di lantai atas rumah sakit ini, bersama juga si kembar yang dibawa Sera untuk tinggal sementara di apartemen atas kamar rumah sakit ini selama prosedur rawat inap Xavier untuk proses pra-transplantasi dilakukan.
Selama lima jam itu, Sera dan Elana bergantian, bolak balik dari ruang tunggu operasi ini ke kamar apartemen di atas untuk menyusui bayi mereka. Memang ada ASI botol yang disiapkan, namun produksi ASI Sera dan Elana yang sama-sama melimpah membuat mereka memilih untuk menyusui bayi mereka secara langsung guna mengosongkan hasil produksi ASI mereka.
Beruntung Sera sedang ada di ruang tunggu itu dan menunggu di sana ketika pintu ruang operasi itu akhirnya terbuka. Perempuan itu langsung berdiri, menatap penuh harap ke arah dokter Yonora yang masih mengenakan baju operasinya dan menghampiri mereka.
“Prosesnya sudah selesai. Untuk saat ini dan beberapa saat ke depan, karena produksi sel darah pasien sangat rendah, maka tubuh pasien sangat rentan terkena kontaminasi serangan virus dari luar. Karena itulah, hanya satu orang saja yang diperbolehkan menjenguknya sampai kondisi pasien dinyatakan aman.” Dokter Yonora menoleh ke arah Sera dengan penuh pengertian. “Anda boleh masuk ke dalam, perawat akan membantu dan menemani Anda masuk,” ucapnya kemudian.
Kelegaan langsung membanjiri hati Sera ketika melihat betapa tenangnya ekspresi dokter Yonora ketika berucap. Hal itu sudah jelas menunjukkan bahwa kondisi Xavier sangat baik dan tak ada yang perlu dikhawatirkan.
“Pergilah, sampaikan salam kami untuk Xavier.” Elana meremas tangan Sera lembut dan setengah menghela perempuan itu untuk melangkah masuk ke dalam ruangan.
Sera tersenyum penuh rasa terima kasih ke arah Elana, juga ke arah Akram dan Credence yang menemaninya pada saat penantian yang sulit ketika menunggu proses operasi Xavier.
“A-aku akan menyampaikan salam kalian,” Sera berbisik lemah dengan mata berkaca-kaca, lalu mengikuti langkah seorang perawat yang menunggunya dan membawanya masuk ke dalam ruangan.
***
__ADS_1
Xavier ada di sana, terbaring dengan pakaian operasi dan selimut yang membungkus tubuhnya. Lelaki itu masih berada di ruang observasi dan perlu menunggu beberapa jam sampai dokter memutuskan dia bisa dibawa kembali ke ruang perawatan. Kondisinya yang masih rentan membuatnya harus menjalani isolasi sementara setelah prosedur transplantasi selesai.
Lelaki itu langsung menyadari kehadiran Sera yang memasuki ruangan, senyumnya langsung terkembang meskipun tampak lemah.
“Hai,” bisiknya parau, menatap istrinya yang mendekat dengan penuh cinta.
Sera yang sejak tadi menahan emosi yang membanjir, tak bisa menahan air matanya yang menderas. Perempuan itu melangkah dan duduk di kursi yang tersedia di tepi ranjang dan menangis terisak-isak, tak mampu bersuara.
Xavier mengangkat tangannya dan dengan lembut menghapus air mata Sera.
“Jangan menangis,” bisiknya parau, menahan haru yang sama. “Kau lihat, bukan? Aku baik-baik saja. Aku akan sembuh setelah ini, Sera.”
Sera menganggukkan kepala dengan dipenuhi kesungguhan.
“Kau akan sembuh,” sahutnya kemudian, membawa tangan Xavier ke bibirnya dan mengecupnya. “Kau akan sembuh dan pulang kepada kami,” sambungnya dengan suara bergetar.
Senyuman Xavier tampak semakin lebar.
“Kemarilah dan cium aku,” bisiknya kemudian.
Sera menatap lelaki di depannya itu dengan penuh cinta, dia membuka masker penutup wajahnya dan mengecup bibir Xavier yang terasa dingin. Setelahnya, Sera meraih tangan Xavier lagi dan menempelkannya ke pipinya, seolah menjadikan tangan itu sebagai pegangannya.
“Setelah ini kita akan benar-benar berbahagia. Aku akan menjadi ayah yang sehat dan kuat, yang bisa melindungi kalian semua sampai habis usiaku nanti.” Suara Xavier terdengar lemah, tetapi ada tekad kuat di dalam suaranya.
“Aku yakin kau akan begitu. Aku… aku juga akan menjadi istri yang baik dan selalu mencintaimu, Xavier,” sahut Sera dengan ketulusan sepenuh hati.
Xavier tersenyum mendengar kalimat Sera itu, dia lalu mengusap wajah istrinya dengan penuh cinta.
“Dalam susah dan senang, selalu bersama,” bisiknya perlahan. “Aku berjanji untuk mewujudkan kebahagiaan kita bersama. Kau dan aku dan anak-anak kita berbahagia sampai nanti. Aku mencintaimu, Serafina Moon,” ucapnya dengan suara bergetar penuh perasaan.
Air mata semakin menderas memenuhi mata Sera dan membuat pandangannya buram. Meskipun begitu, Sera berusaha tersenyum dan menganggukkan kepalanya ke arah suaminya, sebelum berucap dengan penuh kesungguhan,.
“Aku juga mencintaimu Xavier Light. Kau dan aku, kita akan bahagia bersama,” sahutnya kemudian, menggenapi janji bahagia mereka dari hatinya yang terdalam.
[ END ] Bonus Epilog EOTL ( FREE ) : Merengkuh Kesembuhan – Eksklusif hanya diposting di PSA, SABTU 14 NOVEMBER 2020
***
***
***
***
***
LIGHT LAYERS OF THE DAY/ESSENCE OF THE LIGHT
BONUS MINI NOVEL
XaVIER’S Happy Family
DAFTAR ISI
1. NYANYIAN SANG AYAH
2. MENJEMPUT PULANG AYAH
3. TUGAS SEORANG AYAH
4. AYAH YANG CEMBURU
5. TERPISAH DARI AYAH
6. AYAH PASTI DATANG
7. SOSOK ASLI AYAH
8. CINTA SEORANG AYAH
9. AYAH YANG TAMPAN
10. KELUARGA BAHAGIA
Bonus Epilog EOTL ( FREE ) : Merengkuh Kesembuhan – Hanya diposting di PSA, SELASA 17 NOVEMBER 2020
Ebook Full plus BONUS 10 Part Xavier’s Happy Family ( PREMIUM ) akan diposting pada hari SELASA, 17 November 2020 hanya di projectsairaakira website/ PSA/ PSA Vitamins Readers )
Bonus EPILOG ( FREE) + Ebook EOTL Full dan 10 Part EOTL Xavier’s Happy Family ( KONTEN PREMIUM ) hanya bisa diakses baca eksklusif melalui projectsairaakira.com.
Bagian ketiga dari The Essence Series/ Season 3, yaitu Essence Of The Evening/ Dusk Layers of The Sunset ( Kisah Credence ) Hanya akan diposting secara bersambung di projectsairaakira, bisa dibaca gratis sampai tamat mulai 1 Januari 2021 - SEASON 3 mulai 1 JANUARI 2021
***
Hello, Ini AY.
Lama tak berjumpa. Author akan hiatus dari mangatoon setelah menamatkan EOTL. Terima kasih telah mengiringi perjalanan kisah Akram, Elana, Xavier dan Sera sampai akhir bersama kisah ini. Terima kasih atas dukungan kalian, semangat yang diberikan, kisah yang kalian bagi, komentar menyenangkan dari kalian dan semua hal indah yang kalian bagikan untuk mendukung author sampai akhirnya authbor berhasil menyelesaikan kisah ini.
Untuk saat ini, karena kesibukan dan kesulitan membagi waktu, maka author memilih untuk fokus di satu platform saja yaitu platform PSA yang memegang lisensi atas hak terbit kisah trilogi EOTL, EOTD dan EOTS ini secara legal.
Tak lupa author ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak Mangatoon yang telah memberikan wadah bagi kisah ini supaya bisa dibaca sampai tamat oleh para pembaca yang mencintai Akram, Elana, Xavier dan Sera dan juga menjadi platform yang berjasa mempertemukan author dengan kalian semua yang selalu mendukung author menyelesaikan kisah ini sampai akhir.
Akhir kata, ada pertemuan pasti ada perpisahan, tapi ini bukanlah perpisahan final, kalian masih bisa menemukan author di instagram @anonymousyoghurt atau di PSA dengan username @author7 / Aslanuthor7
Sampai jumpa lagi. Jika takdir menjodohkan kita, kita pasti akan bisa bertemu di dalam kisah indah lainnya di masa datang.
Yours and always yours
AY ( Anonymous Yoghurt )
__ADS_1