
Prakata,
Terima kasih atas bantuannya untuk take down plagiat di platform sebelah pada kasus kemarin. Sebagai ucapan terima kasih, abah persembahkan free bonus part dari EOTD. Enjoy.
Anonymous Yoghurt.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
“Nyonya Elana.”
Thomas, kepala pelayan di mansion tempat tinggal mereka tampak muncul dari ambang pintu ruang perpustakaan.
Pagi itu, Elana menghabiskan waktunya dengan membaca buku dan merajut. Ya, merajut menjadi hobi barunya akhir-akhir ini sejak Zelena masuk ke sekolah dasar dan Elana menghabiskan waktu sendirian setiap pagi hingga menjelang siang di rumah tanpa ditemani oleh putri kesayangannya itu.
Siang hari seperti ini, mansion tempat tinggal mereka cukup sepi, hanya berisi Elana dan para pelayan yang menjalankan tugas mereka masing-masing di sekitar bagian rumah. Zac dan Zelena biasanya sudah berangkat sekolah pagi-pagi sekali dengan diantar oleh supir, sementara Akram akan menghabiskan waktu lebih lama dengan Elana di pagi hari sebelum kemudian berangkat ke perusahaannya sekitar pukul sembilan pagi. Setelah itu, Elana akan menghabiskan waktunya sendirian hingga Zac dan Zelena pulang sekolah jam tiga siang.
Dulu, Elena mulai belajar merajut ketika dia sedang hamil, tetapi keahliannya di masa lampau hanyalah membuat rajutan benda-benda kecil seukuran bayi seperti kaus kaki, topi dan juga pakaian bayi. Sekarang, Elana mulai ahli membuat pakaian besar, dia berencana merajut sweater dengan nuansa warna senada untuk dirinya dan Zelena, juga untuk Akram dan Zac. Tentu saja warna anggota keluarga laki-laki dan anggota keluarga perempuan memiliki perbedaan warna yang kontras, untuk dirinya dan Zelena, Elana memilih warna pink pucat nyaris putih, sementara untuk Akram dan Zac, Elana memilihkan warna hitam. Zelena yang sangat memuja ayah dan kakaknya langsung memprotesnya, anak itu bilang bahwa dia ingin memakai warna hitam seperti ayah dan kakaknya, tetapi bagaimana mungkin anak perempuan berusia tujuh tahun yang sangat imut dan menggemaskan mengenakan sweater warna hitam kelam membungkus tubuhnya?
Panggilan Thomas membuat Elana menengadahkan kepala dan menatap. Ketika melihat ekpsresi serius Thomas yang tampak ragu, Elana seketika meletakkan rajutan sweater hitam di tangannya yang seharusnya diperuntukkan untuk Akram ke atas meja.
“Ada apa?” tanya Elana cepat.
Thomas adalah kepala pelayan berusia nyaris lima puluh tahun yang selalu memasang wajah serius tanpa ekspresi, sinar mata lembutnya hanya terlihat ketika dia berinteraksi dengan Zac dan Zelena, selebihnya, sang kepala pelayan bersikap profesional hingga nyaris seperti robot, tak menampakkan emosi apa pun di wajahnya.
Akan tetapi, sekarang Thomas menampakkan ekspresi cemas dan karena itulah Elana langsung merasakan jantungnya berdebar oleh firasat buruk yang tiba-tiba saja datang merasuki.
“Thomas?” Ketika melihat Thomas masih terdiam di sana seolah berusaha menyusun kata-kata, Elana bertanya lagi dengan nada tak sabar.
Thomas menatap Elana dengan tatapan berhati-hati.
“Ada telepon dari pihak sekolah Tuan Muda Zac. Anda diminta datang ke sekolah, guru wali murid dan guru bimbingan konseling meminta bertemu,” ucap Thomas menyampaikan.
Mata Elana melebar dan dia langsung beranjak bangun dari tempat duduknya.
“Zachary? Apakah terjadi sesuatu pada Zac?” tanya Elana cepat.
Thomas menghela napas panjang, kali ini tidak bisa menyembunyikan rasa cemasnya.
“Tuan Muda Zac berseteru dengan teman sekelasnya. Saya mendengar bahwa kedua-duanya terluka, karena itulah Anda diminta datang ke sekolah.” Melihat kecemasan di mata Elana, Thomas buru-buru menambahkan. “Ibu Diana, wali kelas Tuan Muda Zac mengatakan bahwa lukanya tidak serius dan sudah ditangani di klinik sekolah.”
Elana menghela napas panjang, merasakan pelipisnya yang berdenyut pening tiba-tiba.
Zachary Night, anak sulung di keluarga ini. Ketika masih kecil dulu, Zac sangat tenang dan mudah diatur. Namun, ketika masuk sekolah dasar, anak itu tumbuh kuat dan lebih tinggi daripada anak-anak sebayanya dan kemudian memegang kesan sebagai ‘anak nakal’ karena sering terlibat masalah di sekolah. Ini mungkin sudah empat kalinya Elana dipanggil ke sekolah sejak tahun ajaran baru. Dua yang pertama adalah karena Zac memilih membolos di klinik kesehatan dan tak mengikuti kelasnya, dan satu yang terakhir adalah karena Zac melemparkan bola basket ke salah satu temannya dengan kekuatan penuh hingga mengenai wajah temannya dan membuatnya mimisan.
Dan sekarang... yang kelima kalinya, Zac terlibat perseteruan dengan temannya?
Thomas mungkin memperhalus perkataannya dan memilih menggunakan istilah berseteru, tetapi Elana jelas tahu bahwa yang terjadi adalah perkelahian sengit yang membuat anak lain sampai jatuh terluka. Dan yang membuat Elana cemas adalah karena tubuh Zac jauh lebih besar, kokoh dan tinggi dibandingkan anak sebayanya, hal itu membuat Zac jauh lebih kuat dari teman-temannya dan jika Zac terlibat perkelahian, secara otomatis anak itu yang akan selalu disalahkan karena penampilan fisiknya yang lebih besar.
Memikirkan itu membuat Elana menghela napas panjang.
Zac selalu bersikap baik dan penurut di rumah. Bahkan ketika menghabiskan waktu berdua bersama Zelena, Zac adalah kakak yang sangat sabar, bisa mengasuh Zelena dan selalu mengalah kepada adiknya.
Akan tetapi ketika di sekolah, kenapa sikap Zac berbalik seratus delapan puluh derajat? Sebenarnya apa yang terjadi? Apakah Zac memang sedang berada di fase-fase memberontak yang tak terkendali, ataukah ada alasan lain?
Melihat Elana tampak berdiri kebingungan dengan sikap kalut, Thomas menatap ragu ke arah sang Nyonya.
“Mobil dan supir sudah disiapkan, Nyonya. Apakah Anda ingin saya menyampaikan berita ini kepada Tuan Akram?” tanya Thomas dengan nada hati-hati.
Elana menghela napas panjang dan kemudian menggelangkan kepala.
“Tidak perlu. Aku yang akan menelepon Akram nanti. Minta supir untuk menunggu, aku akan berganti pakaian dulu sebelum berangkat,” ucap Elana kemudian, memutuskan dengan tegas.
***
“Seperti itu. Maafkan aku mengganggumu.”
Elana yang baru selesai menceritakan tentang panggilan guru ke sekolah menghela napas panjang dengan ponsel terpasang di pipinya.
“Bukan masalah.” Akram menyahuti cepat, mengetahui kekalutan Elana.
Tadi memang dia sedang berada di tengah meeting ketika Elana meneleponnya. Namun, tentu saja Akram tidak akan pernah mendahulukan pekerjaan dibandingkan istrinya. Karena itulah, dengan cepat dia meninggalkan meeting dan melangkah ke ruang tunggu di samping ruang meeting untuk menerima panggilan telepon istrinya.
Sama seperti ekspresi wajah Elana ketika diberitahu, saat ini kening Akram juga berkerut dalam ketika mendengar tentang Zac.
“Apakah kau tidak apa-apa sendirian ke sekolah Zac? Aku akan segera menyelesaikan meeting dan menyusulmu,” tanya Akram kemudian.
Elana tersenyum mendengar nada cemas penuh perhatian di dalam suara Akram. Suaminya memang bukan sosok seperti pujangga yang senang mengumbar kalimat manis dan bersikap lembut, bahkan terkadang kalimat demi kalimat yang terlontar dari mulut Akram selalu tanpa basa-basi, menyampaikan maksudnya dengan nada kuat yang memang sudah menjadi ciri khasnya. Akan tetapi, dari sikap dan tutur kata Akram, terlebih di saat seperti ini, Elana jelas tahu bahwa Akram sangat peduli kepadanya.
“Bukan masalah. Jika seperti yang sebelum-sebelumnya, maka aku hanya perlu duduk diam dan mendengarkan nasihat dari guru wali kelas Zac dan juga guru bimbingan konseling.” Elana menghela napas panjang, mengingat masa lampau ketika dia datang ke sekolah untuk menjalani hal yang sama seperti sekarang ini. “Hanya saja, sekarang mungkin sedikit lebih sulit, sebab bisa saja para guru itu akan berpikir bahwa aku terlalu memanjakan Zac dan tak berusaha memintanya mengubah sikap. Mereka tidak tahu bahwa Zac begitu baik dan penurut ketika di dalam rumah, dia bahkan tak pernah melukai semut dan kupu-kupu, kenapa dia seperti itu ketika di sekolah?” tanya Elana seolah putus asa.
“Nanti setelah Zac pulang, aku akan berbicara dengannya.” Akram memutuskan dengan nada suara tegas kemudian, membuat Elana mengerutkan kening tak setuju.
“Aku tak ingin kau memarahi dan mengintimidasi Zac, Akram.” Elana memprotes suaminya cepat.
“Siapa bilang aku akan memarahi dan mengintimidasi? Memangnya kapan aku pernah melakukan itu kepada Zac?” Akram seolah tersinggung di seberang sana. Lelaki itu terdengar menghela napas kemudian, seolah memahami bahwa Elana sedang cemas memikirkan anak lelakinya. “Aku berjanji bahwa aku hanya akan berbicara dengan Zac. Saat kejadian-kejadian yang kemarin, dia selalu menutup diri dan menolak berbicara, tak mau menjelaskan apa yang terjadi dan aku membiarkannya karena berpikir bahwa anak sekecil Zac sedang berada dalam masa berlatih mengatur pergolakan emosi. Namun, kali ini sudah berlebihan. Aku akan memastikan Zac berbicara dari hati ke hati denganku malam ini,” ucap Akram dengan nada penuh tekad.
Elana menghela napas panjang. Sesungguhnya, dia mensyukuri sikap Akram yang tegas. Bagaimanapun, sebagai orang tua, mereka harus saling melengkapi dan mendukung. Sebagai seorang Ibu, Elana terlalu lembut hati dan terkadang tak tega bersikap keras kepada anak-anaknya, dan Akramlah yang mengisi kekurangan itu, mampu mencintai kedua anaknya tetapi tetap mampu membuat garis batas yang kokoh untuk menjaga supaya anak-anaknya tak keluar jalur.
__ADS_1
Jika Elana serupa pagar busa, maka Akram adalah pagar baja berlapis busa, tidak melukai tetapi kokoh mengarahkan anak-anak mereka.
“Jangan terlalu keras dan memaksa, kau tahu bahwa Zac akan memilih mundur seperti kura-kura masuk ke cangkang jika kau terlalu mendesaknya,” nasihat Elana dengan nada lembut kemudian.
“Aku akan melakukannya.” Akram menyahuti cepat. “Namun, kali ini yang dilakukan Zac cukup fatal. Jika dia berkelahi dengan temannya sampai temannya terluka, berarti akan ada orang tua lain yang datang menuntut keadilan untuk anak mereka. Situasinya akan cukup sulit. Apakah kau yakin bisa menghadapinya tanpaku?” tanya Akram dengan cemas kemudian.
Elana tersenyum dan menganggukkan kepala meskipun dia tahu bahwa Akram tak bisa melihat sikap tubuhnya itu.
“Aku akan baik-baik saja, Akram,” sahut Elana perlahan.
“Kau harus baik-baik saja. Aku akan segera menyusulmu ke sekolah.” Akram terdiam sejenak seolah memikirkan kalimat yang akan diucapkannya selanjutnya dan ketika berucap kemudian, nada suaranya terdengar serius. “Jika sampai ada orang tua murid yang mencelamu karena Zac, lawan mereka. Jika mereka bertindak kasar, balas seratus kali lebih kasar lagi. Kau adalah istri Akram Night, kau bisa bertindak semaumu dan aku akan melindungimu,” ucap Akram dengan tegas sebelum menutup panggilan telepon.
Elana menatap ponsel yang sudah terputus sambungan di tangannya dan tak bisa menahan diri untuk tak memutar bola matanya.
Sungguh Akram luar biasa, bagaimana mungkin dia berucap begitu kepadanya? Memangnya dia ingin Elana berkeliaran di mana-mana dan bersikap sebagai istri arogan dengan membawa nama Akram sebagai tamengnya?
Elana jelas harus memastikan bahwa Akram tak boleh mengucapkan kalimat semacam itu kepada Zac dan Zelena. Jika tidak, bisa-bisa anak mereka akan tumbuh menjadi perundung yang suka menginjak kaum lemah hanya karena mereka kuat.
***
Bangunan sekolah Zac dan Zelena adalah kompleks bangunan besar yang sangat luas sehingga bisa dibilang memenuhi satu blok jalanan yang ada di distrik mewah di pusat kota. Jalur-jalur menuju sekolah ini sangat luas, dengan trotoar-trotoar lebar yang rapi dan juga pepohonan berjajar rimbun meneduhi kiri dan kanan jalan.
Bangunan ini adalah sekolah internasional yang melingkupi jenjang pra sekolah sampai sekolah menengah atas. Tiap jenjang memiliki wilayah dan gedung sendiri yang dihubungkan dengan dinding gerbang tembusan antara satu dan yang lainnya dan setiap jenjang juga memiliki fasilitas lengkap selayaknya nama baik yang disandang oleh sekolah internasional nomor satu di negeri ini.
Pada awalnya, Akram ingin memasukkan Zac ke asrama tempatnya bersekolah dulu di luar negeri. Karena masalah insiden penculikan Xavier dan berbagai hal yang mengikuti di belakangnya, Akram memang masuk ke sekolah itu ketika usianya sudah cukup besar, tetapi sesungguhnya sekolah itu sudah membuka asrama untuk anak-anak sekolah dasar yang seumuran dengan Zac. Ditambah lagi, di anak-anak Keluarga Night secara turun-temurun, dari kakek buyut Akram, kakek Akram, ayah Akram sampai Akram sendiri, semuanya mengenyam pendidikan di tempat yang sama. Namun, Elana mencegah Akram melaksanakan rencananya terlalu dini, mengatakan bahwa Zac masih terlalu kecil dan juga dia belum siap berpisah dengan putranya yang masih kecil. Elana mengusulkan jika lebih baik Zac masuk ke sekolah itu di usia remaja di saat dia sudah mampu hidup mandiri dan berpisah dari orang tuanya.
Tentu saja, karena Akram biasanya selalu menuruti permintaan Elana, maka dengan mudah suaminya itu membatalkan rencananya dan sebagai gantinya, dia memasukkan Zac dan Zelena di sekolah internasional terbaik di negeri ini.
Ketika mobil mencapai gerbang, petugas keamanan gerbang memeriksa kartu tamu yang datang untuk memastikan identitas mereka. Karena anak-anak di sekolah ini sebagian besar adalah anak-anak konglomerat dan pejabat, maka sistem keamanan terutama di jalur keluar masuknya sangatlah ketat. Hal itu dilakukan untuk menghindari hal-hal tak diinginkan seperti kasus penculikan atau tindakan jahat lain yang mengincar anak-anak yang bersekolah di tempat ini.
Setelah petugas keamanan memastikan identitas mereka, mobil yang membawa Elana pun diizinkan untuk memasuki area sekolah. Mereka melaju membelah jalan dengan taman dan lapangan rumput luas di kiri dan kanannya hingga supir baru menghentikan mobil ketika sampai di lobby sekolah.
Sang supir membuka pintu dan Elana pun melangkah keluar. Dia mengangguk ke arah sang supir, memberi isyarat bahwa dia akan menghubungi nanti jika mereka siap dijemput dan sang supir membungkuk dengan hormat kepadanya sebagai jawaban.
Setelah mobil melaju meninggalkannya, Elana pun berdiri di depan area depan lobby dan menghela napas panjang untuk menyiapkan diri. Dia kemudian melangkah masuk ke area pintu lobby, membuat pintu otomatis itu terbuka dan langsung menuju ke area resepsionis.
“Elana Night, Ibu dari Zachary Night.” Elana memberitahukan identitasnya kepada resepsionis yang bertugas, lalu berdiri di sana sambil menunggu sang resepsionis melakukan konfirmasi dengan pihak-pihak yang akan ditemuinya.
Saat Elana berdiri, tatapannya nanar menatap dinding, merasakan ketidaksabaran untuk segera melihat Zac.
Anak itu berkelahi untuk pertama kalinya dengan temannya dan gurunya mengatakan bahwa mereka sama-sama terluka. Tentu saja, meskipun Elana yakin kalau Zac tidak terluka parah karena anak itu bertubuh kuat, kokoh dan memiliki dasar ilmu bela diri dari kegiatan ekstrakurikuler yang diikutinya, hati seorang ibu tetap saja mencemaskan putranya.
Dia benar-benar tak sabar untuk melihat kondisi Zac saat ini. Elana tidak sadar bahwa ketika dia berdiri seperti itu, banyak mata orang yang lalu lalang di lobby yang tak bisa melepaskan pandangan darinya dan bahkan beberapa yang melihat sepintas tanpa sadar berhenti untuk melihatnya dua kali dengan lebih intens.
Elana sendiri tidak pernah berdandan berlebihan ketika keluar, dia tak pernah mengenakan perhiasan megah selain anting-anting mungil di kedua sisi telinganya dan cincin pernikahan di tangannya, gaun yang dipilihnya juga selalu berwarna lembut dan tak mencolok. Kali ini Elana mengenakan gaun warna ivory lembut yang semakin menonjolkan kecantikannya, semua itu dengan rambutnya yang disanggul rapi rendah di tengkuknya dan riasan tipis yang menarik, sudah cukup untuk membuat orang-orang tak bisa mengalihkan mata darinya.
Akram yang pencemburu biasanya tak sudi membiarkan Elana keluar ke tempat umum dengan dandanan yang cantik tanpa didampingi olehnya langsung. Akram selalu bilang bahwa karena Elana tak tampak seperti seorang istri yang sudah memiliki dua anak, dia harus bertugas sebagai pengusir tikus-tikus yang datang mendekati istrinya tanpa tahu malu.
Elana mengangguk dan tersenyum, lalu tanpa memerlukan petunjuk arah, dia langsung memasuki lift dan menekan tombol lantai tiga.
Tentu saja dia tak memerlukan petunjuk arah, sebab ini sudah kelima kalinya dia berkunjung ke ruang konseling untuk menjemput Zac.
***
Ruangan itu memiliki pintu besar yang sejuk dengan dua bilah pintu kayu sama sisi berjendela kaca berbentuk persegi di bagian kotaknya. Elana mengetuk pintu perlahan dan ketika suara mengizinkan terdengar dari dalam, dia pun segera membuka pintu itu dan melangkah masuk.
Ruangan konseling memang dimaksudkan untuk melakukan konseling bagi siswa dan juga orang tua murid. Karena itulah, suasana di dalamnya, baik ambience maupun interiornya dibuat senyaman mungkin. Di area luas berdinding dan berlantai putih itu, terdapat satu set sofa besar berwarna abu-abu yang tampak sejuk, jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan kota juga tampak di salah satu sisi dinding, menjadi media bagi masuknya cahaya matahari yang terang benderang.
Ada beberapa orang di dalam ruangan itu, tetapi pandangan Elana hanya tertuju pada satu mahkluk. Makhluk mungil yang duduk sendirian di sofa tunggal di salah satu bagian set sofa besar itu.
Putranya, Zachary Night.
Anak itu mengangkat kepalanya begitu Elana memasuki ruangan. Zac biasanya selalu tenang dan tampak jauh lebih dewasa dari usianya, tetapi sekarang anak itu menatapnya seperti kucing bermata besar yang ketakutan.
“Zac.” Elana melangkah mendekat dan secara refleks membuka tangannya, menunjukkan bahwa apa pun yang dilakukan oleh Zac, senakal apa pun dia saat ini, Elana tak akan menghakimi dan memarahinya. Mereka mungkin akan saling berbicara, tetapi Elana berjanji bahwa dia tak akan marah.
Semula Zac tampak ragu, tetapi ketika melihat ekspresi lembut Elana, anak itu memangkas keraguannya sampai habis. “Ibu.” Zac bergumam pelan dan matanya menatap lengan ibunya yang terbuka, sebuah godaan yang tak mungkin ditolak oleh seorang anak yang masih membutuhkan perlindungan induknya. Karena itulah, Zac segera bangkit dari duduknya dan kemudian menghambur ke pelukan Elana, membiarkan dirinya dipeluk oleh ibunya.
Tangan Elana melingkarkan tubuh Zac dan perempuan itu menepuk-nepuk punggung Zac lembut untuk menenangkannya. Setelah yakin bahwa Zac lebih tenang, Elana pun menyentuhkan tangannya ke bahu Zac, menjauhkan putranya sedikit darinya untuk memeriksa kondisinya.
Mata Elana menyipit cemas saat dilihatnya ada bekas cakaran di pipi Zac yang memang tak terlalu dalam tetapi pastilah perih jika terkena air. Luka itu sepertinya sudah diusap dengan antiseptik, pertanda petugas kesehatan telah melakukan pekerjaannya dengan baik.
Kedua tangan Elana menangkup pipi Zac dan mengusapnya lembut, menghindari bagian yang terluka.
“Apakah kau baik-baik saja? Bagian mana lagi yang sakit?” tanya Elana cemas sambil memindai seluruh tubuh Zac dengan saksama. Dari tampak luar, selain pakaiannya yang acak-acakan dengan seragam yang lepas kancing serta keluar dari celananya, Zac tampak baik-baik saja dan tak ada luka luar lainnya yang kasat mata.
Zac yang tampan tersenyum menatap ibunya seolah sang ibu adalah pahlawan yang datang untuk menyelamatkannya. Ketika tersenyum dan menatapnya memuja itu, anak itu benar-benar mirip dengan Akram.
“Aku baik-baik saja, Ibu. Hanya luka kecil, jangan khawatir—”
“Tentu saja ibumu tak perlu khawatir! Kau pem-bully dan baik-baik saja! Tidakkah kau lihat kondisi anakku?”
Suara yang tajam terdengar di belakang Zac, membuat Elana menegang dan langsung melemparkan pandangan ke arah sofa. Di sana, dua orang guru, Ibu Diana wali kelas Zac dan Ibu Karin, guru bimbingan dan konseling tampak duduk di salah satu sudut sofa. Sementara itu, di bagian sudut lainnya, ada seorang perempuan cantik dan elegan dengan penampilan yang sangat mewah sedang duduk mendampingi seorang anak lelaki... yang tampak sangat mengenaskan.
Ya, anak itu benar-benar mengenaskan secara harafiah. Sebenarnya tubuh anak itu cukup tinggi, nyaris setinggi Zac, tetapi jika Zac memiliki tubuh kokoh yang kuat, anak itu sedikit lebih kurus. Saat ini, bagian kepala anak itu tampak diperban tebal dan Elana melihat bahwa ada perban juga yang membalut kakinya. Yang lebih buruk lagi, bagian sebelah mata kanan anak itu tampak bengkak dan lebam dengan lingkaran ungu mengelilinginya, sementara mata itu terlihat menyipit tak bisa membuka saking bengkaknya.
Untuk sejenak, Elana terpana dengan mata melebar. Dia tahu bahwa Zac berkelahi dengan anak lain, dia juga tahu bahwa mereka terluka. Akan tetapi, dia sama sekali tak menyangka bahwa kondisi anak yang bertikai dengan Zac akan seburuk itu.
Mata Elana kemudian berpindah ke arah Zac.
“Kau melukai kepala anak itu?” tanyanya tak percaya. Perban yang membalut kepala anak itu tampak tebal dan ada bekas noda darah di sana. Apa yang dilakukan oleh Zac hingga anak itu sampai terluka separah itu?
__ADS_1
Pertanyaan Elana membuat Zac menipiskan bibirnya, tatapan matanya terlihat terluka, seolah tak terima mendengar tuduhan dalam kalimat Elana.
“Aku hanya memukulnya sekali di matanya.” Zac menyahuti bersungut-sungut. “Siapa yang menyangka kalau dia tak bisa menjaga keseimbangan dan malahan jatuh serta melukai dirinya sendiri?” gerutu Zac kemudian. Yang dikatakan oleh Zac memang kejadian yang sebenarnya, dia memukul lawannya di bagian mata, lalu tiba-tiba saja anak itu terhuyung jatuh dan berguling, melukai kepalanya yang terantuk batu saat jatuh dan membuat kakinya terkilir sendiri.
“Zachary Night!” Elana mendengar kalimat serampangan Zac dan tak bisa menahan diri untuk tak menegur. DI saat bersamaan, Ibu Diana wali kelas Zac beranjak berdiri dan berucap dengan nada lembut.
“Silakan duduk dulu Nyonya Night. Kami rasa, kita bisa membicarakan ini dengan baik dan—”
“Apalagi yang perlu dibicarakan?” Perempuan yang rupanya adalah ibu dari anak lelaki yang terluka itu menyentak dan menyela perkataan Ibu Diana sehingga sang wali kelas tak bisa menyelesaikan kalimatnya. “Semua tampak jelas dan nyata! Siapa yang salah dan siapa yang benar sudah kelihatan! Anak itu bertubuh besar dan dia suka membully anak-anak yang lebih lemah dan kecil! Sungguh anak berjiwa jahat!” seru perempuan itu sambil menunjuk ke arah Zac dengan murka.
Sebagai seorang ibu, dorongan alaminya adalah melindungi putranya. Elana seketika merangkul Zac ke dalam pelukan lengannya dan menatap ke arah perempuan marah itu dengan tatapan tegas.
“Zac tak mungkin memukul anak lain tanpa sebab! Sebagai seorang ibu saya sangat mengenalnya. Bukankah sebaiknya kita bertanya dulu pada Zac alasan apa yang membuat dia memukul temannya sebelum menghakimi?” Elana menyanggah dengan nada dingin, lalu tanpa memberi kesempatan pada lawannya yang tampak kembang kempis menahan murka, Elana menatap Zac dan bertanya dengan lembut. “Zac, katakan kepada kami, apa alasanmu memukul anak itu? Kau pasti punya alasan, bukan? Kemukakan kepada kami sehingga kami bisa menilai,” ucap Elana dengan nada membujuk.
Akan tetapi, harapan Elana supaya Zac bisa membantunya menyelesaikan masalah initidak terkabul, Zac malahan bergeming diam, memilih tak menjawab.
“Zac?” Elana bertanya lagi, mulai merasa cemas. Akan tetapi, anak itu tetap diam, ekspresinya tegang seolah tidak bisa mengucap kata. “Zac, kau tak mungkin memukul anak lain tanpa alasan, bukan?” Elana berbisik ke arah Zac. “Jika kau tak mengatakan alasannya, maka mereka akan menghakimimu—”
“Sudahlah! Tidak usah memaksa! Tampak jelas bahwa anakmu memang suka merundung orang lemah tanpa alasan jelas! Tak perlu bersikap elegan dan pura-pura menjadi ibu berbudi yang pandai merawat anak! Lihat anakku sudah luka parah seperti ini gara-gara anakmu! Kau tahu siapa suamiku? Suamiku adalah pejabat nomor satu di kota ini! Kami tidak akan membiarkan ini begitu saja! Kami tidak akan berhenti sampai anakmu itu dapat pelajaran dan dikeluarkan dari sekolah dan masuk penjara anak-anak!” Perempuan cantik itu berdiri dan meluapkan emosinya tanpa ditahan lagi. Wajahnya sesungguhnya sangat cantik, tetapi entah kenapa saat ini terlihat mengerikan ketika marah, dahinya berkerut dalam, matanya melotot dan bibirnya yang bergincu merah gelap terlihat membuka menutup, mengeluarkan kalimat demi kalimat tajam yang menusuk hati.
Mata perempuan itu kemudian menyapu penampilan Elana yang begitu cantik dan elegan dan entah kenapa, kemarahan yang sudah meluap tampak mendidih lagi di dalam darahnya.
“Mungkin memang anak seperti itu harus ditempatkan di penjara! Kau tahu, akar yang busuk, meskipun dirawat dengan pupuk mahal dan ditempatkan di pot emas, tetap saja akan menumbuhkan tanaman busuk yang tercela! Begitu juga anakmu! Tidak bisa diperbaiki lagi!” serunya marah dengan nada menghina ke arah Elana.
Kalimat itu begitu tajam hingga Elana memucat menahan marah mendengarnya. Elana sangat jarang marah, tetapi dia jelas tak akan tinggal diam jika putranya dan dirinya dihina begitu saja.
“Jaga kalimat Anda!” seru Elana marah, dia hendak membuka mulut, tetapi Zac tiba-tiba menggoyangkan tangannya, membuat Elana menoleh ke arahnya.
Tatapan Zac tidak sedang tertuju kepadanya, tetapi menatap kedua gurunya berganti-ganti. Ekspresi Zac tampak angkuh, mengangkat dagunya penuh martabat ketika berucap kemudian.
“Aku memukul anak itu karena—” Mata Zac menatap tajam ke arah anak terluka yang sejak tadi diam tak bersuara ketika ibunya meluapkan kemarahannya yang kasar. Sekarang, saat tatapan matanya bertemu dengan mata Zac yang dingin dan mengancam, Anak itu seketika menundukkan kepala seolah ketakutan. Zac sendiri seolah menguatkan diri, dia menghela napas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya. “Karena anak itu bilang kepadaku kalau ibunya berkata kepadanya bahwa ibuku adalah perempuan yang dipungut oleh ayahku dari jalanan.”
Kalimat Zac terdengar lantang, membelah udara dan menusuk ke telinga semua orang yang ada di sana dan membuat semuanya tertegun.
Elana tampak pucat pasi, Ibu Diana dan Ibu Karin terlihat shock, anak terluka itu menundukkan kepala semakin dalam dan ibu pemarah yang tadinya terlihat arogan kini memerah wajahnya karena malu.
“Apa katamu?”
Suara yang dalam seperti malaikat kegelapan tiba-tiba terdengar dari belakang mereka. Suara itu rendah dan menyeramkan, dipenuhi nuansa murka terpendam yang kelam dan memberdirikan bulu kuduk.
Semua orang menoleh ke arah sumber suara dan rasa ngeri langsung merayapi hati mereka ketika melihat Akram Night berdiri di ambang pintu yang terbuka, tampak seperti malaikat pencabut nyawa dengan rambut gelap, setelan jas hitam yang mantelnya belum dibuka berpadu ekspresi murka dan mata kelam yang berkilat-kilat penuh aura membunuh.
Menyadari semua orang tertegun menatap ke arahnya, Akram tampak tak peduli. Tatapannya tertuju ke arah Zac, dan dia melangkah lambat-lambat dengan aura predator yang memberdirikan bulu kuduk.
“Bisa kau ulangi lagi, Zac? Apa yang dikatakan oleh dua makhluk tak signifikan itu mengenai istriku?” tanya Akram kemudian.
Bersambung ke Free Bonus EOTD 2: Zachary Night - 2
\=\=\=\=\=\=\=\=
PENGUMUMAN
PO BUKU CETAK edisi Koleksi Essence of The Darkness dan Sincerity ****TELAH DIBUKA
( Periode PO 27 Sept sd 10 Oktober 2022)
Edisi Cetak bertanda tangan hanya tersedia 100 Eksemplar saja.
ESSENCE OF THE DARKNESS - 954 halaman
Sincerity ( Bonus Part kisah kehamilan anak pertama dan kehamilan anak kedua Elana ) - 250 halaman
Cara PO
1, Jika ingin melakukan PO melalui PSA buka projectsairaakira.com' atau cek IG @projectsairaakira @anonymousyoghurt untuk info lebih lanjut
Jika ingin melakukan PO melalui WA, Silakan Wa mimin PSA di 0896-3650-7974
Jika ingin PO melalui reseller (PO lewat IG, Shopee, Tokopedia dll) silakan cek Instagram reseller sbb:
@chochovan95
@angelvin_olshop
@salenovel14
@rumahbukubundarasya
@cintabukubookshop
Thank You
Yours Sincerely
Anonymous Yoghurt.
__ADS_1