
“Family isn’t always blood. It’s the people in your life who want you in theirs; the ones who accept you for who you are. The ones that would do anything to see you smile and who love you no matter what.”
Angin sore mulai berhembus kencang di sepanjang pesisir pulau, menciptakan desir dedaunan yang berayun saling bersinggungan dan bersuara layaknya bisikan kekasih yang ditiupkan dengan penuh cinta ke telinga pasanhannya. Warna jingga pun tampak sudah menghiasi kaki langit, memantulkan cahaya keemasan menembus jendela besar di perpustakaan dan membuat sinarnya menimpa dua tubuh yang berhimpitan di atas sofa.
Baru saja Akram melepaskan dirinya dari Elana dan sekarang tengah berbaring berdua bersama perempuan itu di atas sofa, memutuskan beristirahat sejenak dari aktivitas bercinta mereka karena wanitanya mulai tampak kepayahan setelah melayani nafsu Akram yang tiada habisnya.
Akram tidak melepaskan pelukannya dari Elana, dirinya berbaring miring sambil merangkul perempuan itu erat merapat ke dadanya dan menenggelamkan wajah Elana yang tampak setengah tertidur di sana. Sementara itu, jemari Akram mengusap lembut, menyusuri sepanjang tulang punggung Elana dengan gerakan ringan, seringan jaring laba-laba.
Sofa ini sebenarnya cukup besar untuk menampung dua anak manusia yang tidur bersama. Tetapi tetap saja, berbaring dan bercinta di atas sofa ini terasa tidak senyaman kalau mereka melakukannya di atas ranjangnya yang luas. Di atas sofa ini, Akram harus terus-terusan menjaga tubuh mereka berdua agar tetap berbaring berpelukan supaya mereka tidak sampai jatuh terguling. Walaupun begitu, tubuh Akram tidak bisa berbohong, kepuasan yang didapatnya dari tubuh Elana masih sama nikmatnya seperti pertama kali dia meniduri Elana, membuatnya tergila-gila dan seolah tak pernah puas.
Akram meletakkan dagunya di puncak kepala Elana, merasakan suasana damai setelah bercinta yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya dengan siapapun. Seolah-olah tubuhnya begitu terpuaskan dan hormon serotonin membanjiri otaknya dan membuatnya merasakan sesuatu yang identik dengan kebahagiaan.
Akram akhirnya menyerah akan balutan suasana damai yang menyenangkan itu, dan hampir-hampir mengizinkan dirinya untuk terlelap sejenak, sebelum kemudian suara perut Elana yang bergemuruh keras menyeruak di antara mereka dan menodai keheningan seolah magis yang tercipta sebelumnya.
Akram membuka mata lagi, dan menatap ke arah Elana yang meringkuk di lengannya. Perempuan itu sedang terpejam erat, dan kenyataan bahwa Elana tidak menolak dipeluk oleh Akram saat ini, kemungkinan besar adalah karena Elana sudah terlalu lelah bahkan untuk melakukan penolakan kecil sekalipun. Akram telah memuaskan nafsunya tanpa ampun kepada Elana sepagian hingga menjelang sore hari. Lelaki itu seolah tidak pernah puas. Ketika dia baru saja mencapai puncak kepuasannya, hanya dengan menyentuh kulit Elana saja atau mendengar desah napas Elana saja bisa dengan mudah membangkitkan dirinya lagi.
Sementara itu, Elana yang memejamkan mata mulai ditelan oleh alam mimpi yang seolah menjemput dirinya dengan tergesa. Pada saat ini, Elana hanya ingin tidur. Dia ingin mengistirahatkan seluruh tulangnya yang terasa lunglai dan melelapkan tubuhnya yang begitu lelah. Dia hanya ingin memejamkan mata, beristirahat dibuai alam mimpi, tidak peduli dengan perutnya yang memprotes dan meneriakkan seruan kelaparan.
Tapi mungkin Akram memang diciptakan untuk mengusik serta mengganggu Elana, lelaki itu malah mengguncang pundak Elana sedikit keras, membuyarkan alam mimpi yang tadinya sudah siap memeluk Elana erat-erat.
"Bangun, Elana. Kau harus makan." ucap Akram dengan suara tegas ketika Elana menolak untuk membuka mata.
Elana menyingkirkan tangan Akram dari bahunya, terang-terangan menganggap Akram sebagai pengganggu.
"Tidak mau makan... mau tidur," Elana menyelubungi kepalanya dengan lengan sebagai tanda penolakan, ingin segera kembali terjun ke alam mimpi yang sudah menanti.
Akram menggertakkan gigi menatap tingkah Elana, bukan karena marah, tetapi karena dia harus menahan gairahnya sekuat tenaga. Elana yang biasanya, tidak akan mungkin bertingkah manja dan menggemaskan seperti saat ini. Selama ini Elana selalu menantangnya, memasang ekspresi membangkang yang dipenuhi kewaspadaan, kebencian, atau bahkan ketakutan. Mungkin karena Elana sedang sangat mengantuk, maka perempuan itu lupa untuk membentengi dirinya di depan Akram.
Dan Elana yang ini sangat menyenangkan bagi Akram. Bersama perempuan-perempuan lain yang selalu bersikap manja, dengan mata berkedip dan bibir mencebik penuh rayuan sementara mereka menggunakan segala cara untuk menggelendot di lengan Akram dan memaksakan sentuhan intim terus menerus, Akram terlalu terbiasa hingga dia merasa kebal. Tetapi sikap manja yang ditunjukkan Elana kepadanya saat ini, terasa seperti harta karun yang hanya muncul ke permukaan ribuan tahun sekali, begitu berharga.
Hal itu mengusik hati Akram dengan perasaan asing yang tak pernah dirasakannya sebelumnya. Perasaan itu terasa hangat, mendorongnya untuk bersikap lembut dan penuh kasih kepada Elana, suatu sikap yang tentu saja sangat berlawanan dengan watak Akram yang kejam dan kaku.
Akram menyentuhkan jarinya ke rambut Elana yang lembut, mengusap kepala perempuan itu perlahan seperti mengusap kepala anak kecil yang dikasihi.
"Aku akan mengambilkanmu makanan," bisik Akram lembut, lalu menghadiahkan kecupan kecil di pelipis Elana sebelum kemudian bangkit dari sofa
Jawaban Elana hanya berupa gumaman tak jelas sementara matanya terkatup rapat, pertanda dirinya sudah jatuh ke alam mimpi.
Akram menutupkan selimut putih yang terlipat di lengan sofa ke tubuh Elana yang telanjang lalu bergerak mengenakan pakaiannya kembali tanpa suara. Setelahnya, Akram melangkah meninggalkan ruang perpustakaan yang senyap dan damai tersebut dan menutup pintu di belakangnya.
__ADS_1
Setelah memesan menu makan siang yang terlambat kepada kokinya, Akram meraih ponselnya dan memutuskan untuk melakukan panggilan telepon kepada Elios.
Sesuai dugaannya, Elios langsung mengangkat teleponnya di dering pertama Akram menelepon, menggumamkan ucapan salam yang dipenuhi dengan nada hormat.
"Nathan bilang kau sudah mengurus semua prosedur yang diperlukan untuk anak itu?" tanya Akram tanpa basa-basi.
"Sudah, Tuan, saat ini saya sedang bersama pengacara dalam perjalanan ke panti asuhan untuk menyelesaikan proses final adopsi. Dalam beberapa jam, anak itu akan berada di dalam naungan kita."
"Bawa segera anak itu kepada Nathan untuk dilakukan screening kesehatan secara menyeluruh segera setelah kau mendapatkan izin adopsi secara legal dan bisa membawanya." Akram memberi perintah dengan cepat. "Aku mau anak itu benar-benar sehat karena dia tidak akan berguna untuk kita jika sakit."
"Baik, Tuan," Elios menjawab kembali dengan patuh. "Rumah di area utara juga telah disiapkan untuk menampung anak itu sementara, sampai Anda membutuhkannya." lapornya kemudian.
"Bagus," Akram tidak menyembunyikan kepuasan dalam nada suaranya. "Kabari aku jika proses adopsi sudah selesai." perintahnya menutup pembicaraan, lalu memutus sambungan telepon.
Ketika Akram kembali ke dalam ruang perpustakaan sambil membawan nampan penuh makanan di tangannya, Elana masih berbaring dalam posisi yang sama, matanya terpejam rapat dan napasnya yang naik turun tampak teratur pertanda bahwa tidurnya sangatlah nyenyak.
Akram sendiri telah menyantap jamuan makan siang yang terlambat di meja makan sendirian. Setelah selesai makan dan ketika dia hendak membawa sendiri nampan ini ke atas, para pelayan yang panik berusaha mencegah dan ingin membantu Akram mengantarkan nampan penuh hidangan menggiurkan itu ke lantai dua tempat perpustakaan berada.
Tetapi Akram bersikeras membawa nampan ini sendiri kepada Elana. Tidak mungkin dibiarkannya orang lain bisa melihat pemandangan tubuh Elana yang telanjang hanya tertutup selimut berantakan dan berbaring tengkurap dalam tidur nyenyaknya di atas sofa perpustakaan itu.
Akram meletakkan nampan tersebut di meja dekat sofa dan menatap kembali ke arah Elana. Penampilan kontras antara tubuh yang menggoda berpadu dengan wajah tertidur nan polos tak berdosa, menciptakan kembali percikan gairah yang mulai merayapi tubuh Akram.
Kali ini gerakan tangan Akram lebih kuat ketika lelaki itu mengguncang pundak Elana, tidak berkeinginan untuk menyerah pada penolakan Elana yang masih merasa sangat mengantuk.
"Bangun kucing kecil, aku membawakanmu makanan." Akram membungkuk dan sengaja membisikkan kalimat itu di dekat telinga Elana untuk mengganggunya.
Usahanya berhasil dan mata jernih Elana nan indah itu terbuka, langsung menatap wajah Akram yang dekat dengannya. Sayangnya, kali ini kewaspadaan Elana sepertinya telah kembali, hingga tidak ada lagi sikap manja yang menggemaskan yang tadi ditunjukkannya. Yang ada adalah tatapan curiga bercampur kebencian di mata perempuan itu ke arahnya.
"Aku membawakanmu makanan." Akram memasang ekspresi kaku sambil mengedikkan dagunya ke arah nampan penuh makanan di meja sebelah sofa. "Makanlah."
Elana berusaha bangkit untuk duduk dan langsung mencengkeram selimutnya yang melorot ketika dia melakukannya. Dengan cepat diikatnya selimut putih itu melingkari tubuhnya serta menutup dadanya, guna mencegah pemandangan tubuhnya terekspos di mata Akram. Tidak dipedulikannya ekspresi Akram yang mengejek seolah berucap tanpa suara bahwa tidak ada gunanya Elana bersikap malu-malu serta berusaha menutup tubuhnya di depan Akram, toh laki-laki itu sudah pernah melihat dan menyentuh semuanya.
Mata Elana melirik ke arah makanan yang tersaji penuh di atas nampan. Menu makanan itu tampak sangat menarik, semangkuk ayam dengan saos marinara yang berpadu dengan kentang yang ditumbuk lalu digoreng hingga renyah di luar dan lembut di dalam, itu masih ditambah dengan brokoli yang terlihat begitu segar menggugah selera. Dan Koki di villa ini bukan hanya menyediakan menu utama tetapi menyertakan menu pendamping berupa salad buah dan salad sayuran, serta dan cheesecake stoberi sebagai pencuci mulut. Terakhir ada lemon tea yang sangat menggoda untuk menyegarkan mulut setelah makan.
Ketika Elana hanya menatap makanannya tanpa bergerak selama beberapa waktu, Akram akhirnya mendesis dengan nada tak sabar.
__ADS_1
"Kau lapar bukan? Habiskan makananmu."
Diperintah dengan nada arogan seperti itu membuat sikap pembangkang di jiwa Elana melenting keluar. Dia menelan ludahnya untuk menahan diri dari godaan makanan yang menggiurkan tersebut dan mengangkat dagu dengan angkuh.
"Aku tidak lapar." ujarnya ketus.
Ekspresi wajah Akram menggelap dan lelaki itu bergerak seolah ingin mencengkeram Elana dengan marah. Tetapi sebelum Akram bisa berbuat apapun, perut Elana tiba-tiba berbunyi lagi, kali ini bahkan lebih keras dari sebelumnya, seolah sengaja ingin mengingkari perkataan Elana sendiri dan mempermalukannya di depan Akram.
Ekspresi Akram yang tadinya murka tiba-tiba saja langsung melembut mendengar suara itu. Bibirnya menipis seolah menahan senyum hingga membuat wajah Elana memerah panas menahan malu yang luar biasa.
Tahu bahwa Elana akan semakin melawan kalau dia bersikap keras pada perempuan itu, Akram melembutkan nada suaranya.
"Makan Elana," ujar Akram tenang. "Kalau kau tidak melakukannya demi diriku, lakukan demi dirimu sendiri. Bagaimana mungkin kau bisa melawanku kalau tubuh kurusmu itu lemah karena kelaparan?" sambung Akram dengan sengaja.
Elana termenung sejenak, lalu mengangkat pandangannya menantang ke arah Akram sebelum mendengus kesal dan meraih baki itu ke pangkuannya.
"Aku makan bukan karena disuruh olehmu!" seru Elana ketus, "Aku makan karena aku lapar!" sambungnya dengan nada tinggi, menyiratkan sikap bermusuhan yang tak ditutup-tutupi.
Bukannya merasa marah, Akram malahan sekuat tenaga kembali berusaha menahan senyum yang keras kepala dan memaksa untuk tersimpul di bibirnya.
Baru kali ini ada seseorang berlaku tidak hormat dan kasar kepadanya secara terang-terangan, dan Akram malahan merasa geli, sama sekali tidak tersinggung menerimanya.
Elana melahap makanannya dengan cepat, memasukkan satu-persatu makanan yang tersaji ke dalam mulut mungilnya yang dengan ajaib mampu melahap semuanya tanpa kesulitan. Melihat nafsu makan Elana yang besar, Akram jadi bertanya-tanya kenapa tubuh perempuan ini begitu kurus ketika pertama kali dia bertemu dengannya.
Apakah selama ini Elana tidak mampu membeli cukup makanan untuk memenuhi seleranya? Apakah perempuan itu terbiasa menahan rasa lapar karena tak punya uang untuk membeli makanan?
Ekspresi Akram menggelap ketika dia menarik kursi dan meletakkannya di depan Elana yang sedang asyik makan. Akram duduk di sana dengan ekspresi kaku, mengawasi Elana dengan mata hazelnya yang tajam.
"Jadilah keluargaku, Elana."
Kalimat Akram yang diucapkan dengan nada serius dengan suara dalam yang tak disangka-sangka itu membuat Elana tersedak seketika. Potongan brokoli besar yang dia kunyah langsung tersangkut di tenggorokan, membuat matanya berkaca-kaca dan Elana terbatuk-batuk keras. Dengan cepat Elana menyambar gelas lemon tea di depannya dan meneguknya dalam satu tegukan besar untuk meredakan batuknya yang menyakitkan.
Lalu setelah dirinya tenang, Elana kembali menatap Akram, sementara matanya bersinar tak percaya.
"Kau bilang apa tadi?" Elana bertanya kembali, berusaha memastikan apakah telinganya berfungsi dengan benar.
Ekspresi wajah Akram tidak berubah, tetap serius dan tenang, sementara matanya menatap lurus ke arah Elana seolah mampu menusuk lubuk hatinya yang paling dalam.
"Jadilah keluargaku, Elana dan kau tak perlu mencemaskan apa-apa lagi. Aku akan mengurusmu di bawah perlindunganku. Yang perlu kau lakukan adalah menjadi teman tidurku secara sukarela, patuh dan tidak memiliki pikiran untuk melarikan diri dariku."
Akram meraih buku yang tadi dibaca Elana sampai ketiduran yang kemudian diambil dan diletakkan oleh Akram di lantai. Akram menarik kertas putih yang terselip di sana, lalu meremas kertas putih berisi coretan tangan Elana itu dengan sepenuh kekuatannya hingga hancur tak berbentuk lagi. Ekspresinya terlihat kejam ketika dia melanjutkan kalimatnya. "Karena ketika aku memberikan kepercayaan kepada orang yang kuanggap sebagai keluargaku, aku akan sangat murka ketika menemukan bahwa orang itu ternyata mencoba mengkhianati di belakangku."
__ADS_1