
"You never leave my mind, not even when I have million things to think about"
Hari terus berlalu dan Akram terus menggunakan akhir pekannya untuk memuaskan diri atas tubuh Elana tanpa jeda, memaksa Elana terbiasa dengan kedekatan dan keintiman yang didesakkan kepadanya tanpa Elana berdaya untuk menolak.
Yang bisa dilakukan oleh Elana adalah menahan perasaannya sekuat tenaga, menggigit bibir dan menahan tangis ketika Akram terus menerus menyentuhnya dalam hasrat yang seolah tak pernah terpuaskan. Bahkan ketika sedikit waktu menjelang dini hari Akram memberinya waktu untuk beristirahat dan tidur, lelaki itu tetap tidak juga melepaskannya. Akram tidur di ranjang yang sama dengannya setiap dini hari menjelang setelah bercinta dengan Elana, dan lelaki itu seolah sengaja, tetap melingkarkan lengannya di pinggang Elana, memeluk Elana erat dan menunjukkan kepemilikannya yang posesif akan tubuh Elana.
Elana selalu membisu, sengaja tidak mencoba berbicara dengan Akram sepanjang waktu yang dilewatkan Akram di villa ini untuk memeluk Elena dan memuaskan nafsunya. Setelah mencoba membantah dan melawan dan selalu dipatahkan oleh Akram dengan ancaman mengerikan yang membuatnya mati kutu, Elana akhirnya berada pada titik menyerah, diam seperti patung dan membiarkan Akram melakukan apapun yang ingin dilakukan pada Elana sepuasnya, sesuka hatinya. Akram mungkin bisa mengklaim tubuhnya, tetapi Elana tidak akan semudah itu memberikan hati dan jiwanya yang bebas kepadanya.
"Aku akan pergi besok pagi-pagi sekali."
Sosok Akram melangkah keluar dari kamar mandi, hanya mengenakan jubah mandi yang diikat serupa piyama di pinggangnya, rambutnya basah dan kulitnya masih tampak lembab, menyimpan uap dari air hangat yang barusan dipakainya mandi.
Setelah sekali lagi Akram memaksa Elana melewatkan seluruh waktunya di atas ranjang melayaninya, beruntung Akram kali itu melepaskan Elana untuk masuk ke kamar mandi, membersihkan diri sendirian tanpa gangguan dari lelaki itu seperti biasanya. Lelaki itu sedang sibuk berbicara di telepon ketika Elana selesai mandi dan baru bergantian masuk ke kamar mandi setelah Elana keluar.
Elana yang duduk di atas tempat tidur dengan mengenakan kemeja Akram yang kebesaran dan selimut yang menutup sampai ke pinggang, hanya menatap Akram dengan tatapan dingin tanpa ekspresi lalu mengalihkan pandangan untuk menanggapi pemberitahuan yang diumumkan Akram sebelumnya. Meskipun begitu, Elana masih bersikap waspada, ekor matanya melirik ke arah Akram mengawasi lelaki itu yang mengambil handuk kecil berwarna hitam dan menggosokkan di rambut untuk mengeringkannya sebelum melempar handuk itu ke keranjang yang tersedia.
Akram melepaskan jubah mandinya tanpa malu akan ketelanjangannya di depan Elana, membuat pipi Elana memerah, mengutuk dalam hati sambil memalingkan muka dengan jengkel. Beberapa lama kemudian, sisi sebelah tempat tidur itu melesak, pertanda Akram telah mengambil tempat di sebelahnya.
"Aku akan kembali lagi di akhir pekan depan. Selama waktu itu, aku ingin kau berkelakuan baik di tempat ini, menurut dan tidak berbuat macam-macam," Akram juga setengah duduk sambil bersandar di kepala ranjang, menatap ke arah Elana yang memilih membuang muka.
"Aku juga tidak bisa berbuat macam-macam, bukan?" Elana akhirnya mampu berucap meskipun suaranya gemetar terselubung kegetiran.
“Kau memang tidak bisa berbuat macam-macam, kau tahu konsekuensinya.” Akram menjawab cepat tanpa perasaan. Matanya menatap ke arah Elana dan mengerutkan kening ketika melihat Elana mengenakan salah satu kemeja putihnya yang kebesaran. Pakaian dan segala perlengkapan yang dibelikannya untuk Elana seharusnya sudah datang ketika mereka sampai di tempat ini, tetapi cuaca yang buruk antara angin topan bercampur badai yang terus mengamuk sejak mereka tiba di tempat ini, menahan siapapun untuk datang ke pulau ini, termasuk helikopter dan pesawat yang seharusnya tiba untuk mengantar persediaan.
Tetapi ketika Akram menelepon tadi, dia mendapat info perkembangan terbaru bahwa esok pagi badai dan topan akan reda. Itu bertepatan dengan kepergian Akram meninggalkan pulau ini untuk kembali ke kota dan juga, kendaraan pengantar persediaan yang berisi pakaian serta perlengkapan kebutuhan yang dibutuhkan oleh Elana bisa datang esok pagi.
"Tinggal hari ini kau bertahan dengan pakaianku. Esok pagi pakaian dan segala perlengkapan yang kubeli untukmu akan tiba," Akram menyipitkan mata ketika melihat bahwa Elana tampak tidak tertarik dengan perkataannya. "Aku membelikanmu pakaian-pakaian bermerk dari rumah mode terkenal di dunia, dan bukan hanya pakaian, aku melengkapinya dengan segala aksesorisnya, dari sepatu, tas bahkan sampai perhiasan yang bisa kau cocokkan dengan pakaian yang kau kenakan," suara Akram terdengar geram ketika Elana tidak menunjukkan penghargaan terhadap pemberiannya sama sekali. Meskipun segala barang itu dibeli oleh para asistennya yang ahli dan bukan olehnya langsung, tetap saja semua pembelanjaan itu menggunakan uangnya. Akram memang sangat royal pada kekasih-kasihnya sebelumnya, dan terhadap Elana sekarang, keroyalannya bahkan meningkat berkali-kali lipat dari yang lain. Tetapi perempuan itu malah memalingkan muka, memasang sikap jijik seolah Akram memberinya seonggok sampah dan bukannya barang-barang mahal. "Para perempuan lain akan menangis bahagia ketika mendapatkan apa yang kau dapatkan sekarang, Elana. Apa kau tidak menyadari keberuntunganmu? Bukan hanya mendapatkan perhatian dariku, kau juga mendapatkan pemberian barang-barang mahal berkualitas dariku." desis Akram sambil menekankan kalimat terakhirnya.
Akram mengucapkan itu berdasarkan pengalamannya. Akram tidak pernah mau repot-repot memberikan perhatian kepada wanita-wanita yang mendampinginya, mereka hanya teman di atas ranjang, seonggok tubuh untuk memuaskan nafsunya dan tentu saja Akram tidak ingin memberi mereka penghargaan lebih dengan melibatkan hatinya dalam hubungan saling menguntungkan itu. Sayangnya, sudah menjadi sifat alami para perempuan bahwa mereka ingin mendapatkan hati, ingin dimanja, dan ingin mendapatkan perhatian lebih. Dan karena Akram tidak bisa memberikannya, dia selalu mengganti semua itu dengan perhiasan dan hadiah-hadiah mahal. Cara itu cukup efektif karena bisa menghentikan protes wanita-wanita itu akan kurangnya perhatian darinya. Mata para perempuan itu sudah dibutakan oleh kilauan permata dan indahnya segala benda-benda mahal eksklusif yang masuk ke kantong mereka dengan melimpah karena Akram cukup royal.
Perkataan terakhir Akram mendorong keberanian Elana sampai ke puncaknya, dia menolehkan kepala dengan cepat, menatap Akram dengan tatapan berkaca-kaca.
"Aku tidak pernah ingin mendapatkan apapun darimu. Tidak sedikit pun. Tidak perhatianmu, tidak pakaian darimu, tidak juga benda-benda mahal yang kau beri dengan uangmu! Aku hanya menginginkan kebebasan, kebebasan yang jauh dari campur tanganmu. Aku ingin kehidupanku yang dulu!" Elana tak bisa menahan butiran air mata yang lolos dari matanya. "Tapi kau tentu tidak sebaik hati itu memberikannya kepadaku, bukan? Kau menculikku, memaksakan kehendakmu kepadaku dan hanya mengganggapku seonggok tubuh untuk memuaskan nafsumu! Kalau sudah begitu, bagaimana mungkin kau memintaku berterima kasih atas semua pemberianmu yang sebenarnya tak aku butuhkan? Lagipula untuk apa aku memakai pakaian mahal, aksesoris dan perhiasan kelas tinggi itu? Toh aku terkurung di pulau ini dan tidak bisa keluar kemanapun!"
Kalimat Elana yang menusuk itu membuat Akram tertegun. Dia tidak pernah menyangka di balik sikap diam dan penuh ketakutan yang ditunjukkan oleh Elana kepadanya sepanjang waktu dia menghabiskan waktu mereka bersama, Elana ternyata bisa bersikap menantang dan melemparkan kata-kata untuk melawannya.
Elana harus diajari untuk bersikap tunduk dan tidak melawan setitik pun. Akram tidak suka perempuannya membantah dirinya. Hubungan mereka harus terpatri jelas di benak Elana sebagai hubungan Tuan dengan barang miliknya. Dan tidak ada pilihan bagi Elana selain patuh kepadanya.
Akram merangsek, mendekat ke arah Elana dan sebelum perempuan itu bisa menolak, Akram sudah menindih Elana, bertumpu dengan siku dan menjaga supaya beban tubuhnya tidak menimpa Elana, sementara wajahnya bergerak sengaja mendekat ke wajah Elana, menahan supaya perempuan itu menatap matanya yang tajam.
__ADS_1
"Aku memang tidak akan melepaskanmu. Lebih baik aku membuang mayatmu sebagai makanan buaya air asin daripada aku melepaskanmu hidup-hidup di saat aku masih berhasrat kepadamu. Kau tidak punya pilihan lain, sayang," Akram menundukkan wajah, mengangsurkan bibirnya dengan lembut menyentuh sisi wajah Elana dengan sentuhan seringan bulu. "Yang bisa kau lakukan adalah menerima apapun yang kuberi, menerimanya dengan penuh rasa syukur, lalu mengunci mulutmu supaya tidak ada bantahan setitikpun yang bisa keluar dari sana."
Sambil mengakhiri kalimatnya, Akram mendaratkan bibirnya di atas bibir Elana, lalu melumatnya dengan penuh nafsu.
“.... jadi keputusan untuk pengambilalihan perusahaan tambang itu akan ditentukan pada meeting siang ini. Saya harap semua berjalan sesuai yang direncanakan dan kitalah yang akan mendapatkan keuntungan terbesar dari merger ini….”
Elios menghentikan kalimatnya dan mengerutkan kening ketika menyadari bahwa lawan bicaranya bahkan tidak sedang memperhatikan susunan kalimat panjang lebar yang diucapkannya. Matanya memandang ke arah Akram dengan kening berkerut. Tidak seperti biasanya, Akram yang selalu penuh konsentrasi, workaholic dan penuh vitalitas dalam bekerja seolah tak ada lelahnya, akhir-akhir ini bersikap kebalikan seratus delapan puluh derajat dibanding dirinya yang biasa. Semakin bertambah hari, Akram masih begitu jenius dalam mengambil keputusan untuk perusahaan-perusahaannya, tetapi, seolah-olah ada yang mengganggu pikiran Akram, seolah mengalihkan perhatiannya dari pekerjaannya.
"Apakah Anda baik-baik saja, Tuan Akram?" Elios menggunakan kalimat formal untuk bertanya karena saat ini mereka ada di perusahaan dengan posisi Elios sebagai asisten dan anak buah Akram. "Apakah perlu saya memanggil dokter Nathan untuk memeriksa Anda?" Ini masih hari selasa, tetapi tidak seperti sikap biasanya yang penuh energi, hari ini Akram terlihat tidak terlalu bersemangat.
Akram langsung mengerutkan kening mendengar perkataan Elios, ekspresinya dingin seolah terganggu.
"Kau pikir aku sedang tidak sehat?" Akram mengibaskan tangannya tanpa penolakan. "Aku sehat dan tidak butuh Nathan untuk memeriksaku," dengan jawaban singkat itu, Akram memangkas kecemasan Elios dengan cepat. Kedua tangannya bertumpu di meja pada sikunya, bertautan di bawah dagunya, sementara matanya menatap tajam ke arah Elios. "Elios, sebaiknya kau mengubah materi pertemuan siang ini. Aku ingin kau menyingkat semua basa basi dan memastikan pemindahtanganan itu dilaksanakan secepatnya. Tidak perlu formalitas apapun. Buat sesingkat mungkin."
Elios mengerutkan kening. Sosok Akram yang ingin segera menyelesaikan pekerjaannya cepat-cepat ini bukanlah Akram yang biasa dia kenal. Elios telah menghabiskan waktu bertahun-tahun menjadi asisten Akram sehingga dia tahu pasti sifat Akram yang gila kerja. Akram seolah memiliki energi yang tidak ada habisnya, lelaki itu bisa menyelesaikan marathon pertemuan dan mengambil keputusan-keputusan strategis terbaik yang membawa perusahaannya kepada kejayaan, lalu menghabiskan waktu malamnya di acara kelas tinggi untuk bersosialisasi dengan kalangan atas, bekerja lagi sampai dini hari, kemudian tidur hanya beberapa jam dan bisa terbangun menyambut hari baru dengan tubuh fit penuh energi
"Apakah Anda ada acara penting sehingga menginginkan meeting nanti diselesaikan dengan cepat? Apakah Anda ingin menemui Nona Michaela lebih awal?" Elios tidak bisa menahan diri untuk bertanya, sebab di dalam jadwal yang dipegangnya untuk kegiatan Akram hari ini, meeting siang ini akan disambung dengan beberapa pertemuan lagi sebelum kemudian Akram dijadwalkan untuk menemani Michaela Karenina, seorang aktris muda cantik yang sedang naik daun dan akan menerima penghargaan sebagai pemeran utama wanita terbaik di acara pemberian penghargaan film yang sangat berkelas di negara ini.
Apakah mungkin Akram ingin menemui Michaela lebih awal sehingga memutuskan untuk menyelesaikan meeting siang dengan lebih cepat? Selama ini Elios tahu bahwa Michaela tak lebih dari salah satu deretan wanita berkelas yang menjadi kekasih-kekasih Akram. Akram hanya mengizinkan perempuan terbaik dengan kualitas nomor satu untuk terlihat mendampinginya di depan umum, dan wanita-wanita yang tidak dianggap cukup baik, hanya bisa puas menerima sentuhan satu malam dalam bayang-bayang dan terhindar dari kejaran pers. Keberadaan Akram dengan public figure yang terkenal memang memberikan dampak baik bagi nama perusahaan, karena itulah Akram tidak menolak ketika Elios memintanya mempertimbangkan permintaan Michaela untuk mendampinginya menerima penghargaan bergengsi itu.
Akram menggelengkan kepala. "Aku berubah pikiran. Hubungi manager Michaela dan bilang aku ada urusan mendadak hingga tidak bisa mendampinginya di acara itu." Akram memerintahkan tanpa hati dan tanpa belas kasih, sementara Elios harus meringis membayangkan betapa kalut dan kecewanya Michaela menerima kabar itu. Perempuan itu adalah artis cantik yang sangat berbakat, memiliki masa depan cerah di dunia keartisan, dan memiliki begitu banyak fans yang memujanya. Tetapi yang para fans itu tidak tahu adalah, bahwa Michaela benar-benar diperbudak oleh cintanya yang begitu buta pada Akram Night. Begitu tergila-gilanya Michaela pada Akram Night hingga perempuan itu rela hanya dijadikan wanita simpanan, hanya bisa berbagi perhatian Akram yang berharga dengan wanita-wanita lainnya yang semuanya tidak mampu mengambil perhatian Akram. Mungkin Michaela akan menangis histeris ketika menerima kabar bahwa Akram Night membatalkan janji di detik terakhir menjelang acara yang sangat berarti baginya dan para periasnya akan kalang kabut berusaha menghilangkan mata sembab aktris itu untuk riasan Michaela di acara penting malam ini.
"Kau sedang apa? Kenapa kau tidak segera pergi dan melakukan perintahku?" Akram mengangkat alis ketika melihat Elios hanya terpaku di tempatnya. Tegurannya itu membuat Elios tergeragap dan buru-buru menganggukkan kepala, berpamitan untuk pergi.
Tetapi, ketika langkah kaki Elios sudah berada di depan pintu besar yang menjadi pembatas ruangan megah tempat Akram bekerja, Akram tiba-tiba memanggil namanya, membuatnya menghentikan langkah dan menolehkan kepala kembali dengan penasaran.
"Siapkan helikopter untuk malam nanti. Aku akan pergi ke villa."
Elana merebahkan diri di atas tempat tidur dengan mata nyalang. Dia masih membiasakan diri hidup di tempat ini seorang diri, hanya ditemani para pelayan dan pegawai villa yang bahkan tidak berani untuk menatap langsung matanya, dan juga berada dalam pengawasan ketat para bodyguard yang selalu menjaga dalam jarak aman dan tidak mengganggu privasinya, tetapi diyakininya mengawasinya tanpa berkedip.
__ADS_1
Ketika Elana turun dari lantai tiga itu, menuju lantai paling bawah villa dan melangkah keluar ke halaman belakang untuk menikmati keindahan taman di belakang vila yang mengelilingi kolam renang yang sangat besar di sana, para bodyguard itu tiba-tiba sudah berkumpul banyak di belakang penjuru, berdiri menjaga di semua jalan keluar yang ada, membuatnya tidak nyaman. Dan Elana bertambah tidak nyaman ketika para pelayan menyusul datang, menanyakan apa yang dia butuhkan, menu makanan apa yang dia inginkan, dan lain sebainya.
Elana tidak biasa berada di posisi sebagai seorang tuan putri yang harus selalu dijaga dan dilayani, karena itulah dia akhirnya memutuskan melarikan diri dari semua itu dan melangkah kembali menuju ruang pribadi Akram di lantai tiga villa. Hanya di tempat inilah dia benar-benar ditinggalkan sendirian tanpa gangguan, hanya para pelayan yang mengantarkan makan yang datang masuk ke ruangan itu di jam-jam makan.
Pakaian yang dibelikan Akram untuknya juga telah datang, berkontainer-kontainer penuh dengan segala perlengkapannya yang terlihat mewah. Bahkan kotak-kotak perhiasan berisi berbagai macam perhiasan berkilauan juga datang memukau mata. Tetapi, Elana tidak bisa memaksa dirinya untuk bersikap tertarik, dia membiarkan saja semua pelayan menata pakaian dan berbagai barang itu di lemari besar yang tersedia dan tidak menoleh dua kali ke arah benda-benda itu.
Dan ketika malam datang, Elana akan naik ke tempat tidurnya lebih dini, meringkuk memeluk dirinya seperti posisi janin dalam kandungan, memejamkan mata dan membiarkan gelap memeluknya. Karena hanya gelaplah yang bisa meringankan kepedihannya, dan hanya dalam tidur berbalutkan alam mimpilah Elana bisa melarikan diri dari kenyataan menyedihkan yang mengikatnya saat ini.
Kamar itu gelap dan sejak memasukinya, Akram tidak bisa mengalihkan pandangannya dari sosok mungil yang tidur meringkuk di atas ranjang besar yang tampak terlalu besar untuk menampung tubuh kecilnya.
Langkah Akram perlahan, setapak demi setapak tanpa suara menginjak karpet tebal yang melapisi seluruh permukaan lantai, lalu berhenti tepat di samping ranjang. Kepala Akram tertunduk menatap ke sisi wajah Elana yang tengah tertidur pulas, tidak sadar akan adanya predator lapar yang saat ini sedang menahan diri sekuat tenaga untuk tidak merenggut perempuan itu dari tidur lelapnya dan memuaskan nafsunya.
Wajah Elana tergaris dengan klasik, mata lebar dengan bulu mata tebal yang kini mengatup, hidung kecil yang tinggi dan tulang pipi indah yang menggoda mata, itu semua masih ditambah dengan bibir ranum yang terasa begitu lembut ketika disesap.
Akram sampai harus mengepalkan tangan ketika gairahnya mulai naik ketika ingatan tentang betapa lembut dan manisnya bibir Elana dalam lumatan bibirnya sendiri, membanjiri pikirannya.
Akram memang tidak ingin mengakuinya. Tetapi jauh di dalam hatinya dia tahu, dia merindukan perempuan ini. Dia ingin memeluk tubuh mungil yang lembut, yang lekukannya begitu pas dengan tubuhnya yang keras. Dia ingin membaui aroma alami Elana yang memabukkan, dia ingin menyentuhkan jemarinya di seluruh permukaan kulit Elana, membawa perempuan itu dekat dengannya dan menyatukan diri ke dalam kehangatan tubuhnya.
Akram membungkuk di atas Elana, salah satu lengannya bertumpu di samping kepala Elana, sementara tangannya yang lain menyusuri sisi wajah Elana dengan sentuhan jemari lembut seringan jaring laba-laba
"Bangun, kucing mungil," Akram membisikkan perintahnya dengan suara serak, mendekatkan bibirnya ke telinga Elana.
Sentuhan asing dan suara parau yang sangat dikenal oleh Elana itu langsung menarik Elana dari mimpi indahnya yang lelap. Otaknya mengirimkan sinyal kewaspadaan, mendorong matanya untuk terbuka dan kesadarannya untuk terbangun.
Dan mata Elana langsung bertatapan dengan mata tajam seorang predator kelaparan yang tampak sangat ingin melahapnya seketika itu juga.
__ADS_1