
EOTL ( Essence Of The Light ) - EOTD Season 2 - Kisah Xavier dan Sera
****
****
****
“Kata dokter, masih butuh dua minggu lagi sampai bayiku bisa keluar dari inkubator.” Elana tersenyum sedih. “Aku sudah tak sabar untuk bebas menggendongnya dan membawanya pulang,” sambungnya kemudian.
Elana baru saja kembali dari ruang bayi untuk menyusui bayinya. Bayi mungil nan cantik itu masih harus berada di inkubator untuk beberapa lama lagi guna memastikan kondisinya benar-benar stabil.
Segera setelah dokter datang pagi ini untuk memeriksa jahitan operasinya, Elana langsung dibantu belajar duduk di atas ranjang, lalu perawat pun membantunya berdiri dan berjalan, semua itu berhasil dilakukannya dengan mudah tanpa mengeluh sedikit pun.
Sera menatap kagum ke arah Elana karena di balik penampilannya yang rapuh, Elana adalah seorang perempuan kuat yang memiliki ketangguhan luar biasa.
Belum lagi sekarang, dengan luka jahitan operasi yang masih baru, Elana harus bolak balik ke ruang bayi untuk memberikan jatah ASI-nya kepada bayinya. Perawat akan menjemputnya dengan kursi roda dan mengantarnya kembali ke kamar begitu dia selesai menyusui. Namun, satu hal yang menyenangkan Elana adalah Akram sendiri sering menyempatkan waktu untu mengantarnya sendiri ke ruang bayi, lelaki itu akan memeluknya lembut penuh cinta ketika dia menyusui putri kecil mereka, membuat Elana merasa lebih baik dan tidak sedih lagi karena belum bisa memeluk dan menggendong putri mereka semaunya.
“Dua minggu tidak akan terasa jika kau bahagia. Aku yakin waktu akan berlalu cepat.” Sera tersenyum sambil memberikan penghiburan kepada Elana. Perempuan itu duduk di atas sofa tunggal yang diseret mendekati ranjang tempat Elana juga duduk di atas ranjang dengan punggung disangga oleh sebuah bantal besar.
Elana membalas senyuman Sera. Perempuan itu mengawasi wajah Sera dan langsung mengetahui betapa berbinarnya mata perempuan itu, dipenuhi oleh kebahagiaan.
“Apakah ada kabar baik yang aku tidak tahu?” tanya Elana kemudian dengan nada menggoda.
Sera terkekeh, kagum dengan ketajaman intuisi perempuan yang dimiliki oleh Elana.
“Xavier dan aku....” Sera menghentikan kalimatnya dengan malu. Pipinya tampak memerah ketika menyambung ucapannya. “Kami saling menyatakan cinta.”
Senyum Elana langsung melebar. Perempuan itu menepukkan kedua telapak tangannya dengan bersemangat kemudian.
“Akhirnya!” serunya mengungkapkan rasa lega.
Reaksi Elana yang sama sekali tak menunjukkan keterkejutan itu membuat kening Sera berkerut bingung.
“K-kau sudah tahu?” Sera tahu bahwa kemungkinan besar rasa cintanya pada Xavier mungkin sulit disembunyikan hingga Elana bisa mengetahuinya hanya dari mengamatinya. Namun, melihat Elana sama sekali tak terlihat terkejut ketika mendengar bahwa Sera dan Xavier saling menyatakan cinta, apakah itu berarti bahwa Elana sudah tahu sejak lama bahwa Xavier mencintainya?
Bagaimana bisa Sera sendiri malahan tidak mengetahuinya? Apakah hanya dia sendirianlah yang benar-benar buta dan tidak menyadari perasaan Xavier kepadanya selama ini?
“Tentu saja aku tahu!” Elana tertawa perlahan dengan mata berbinar. “Dan bukan hanya aku saja yang tahu, Akram, Elios, Credence, bahkan dokter Nathan dan juga semua orang di sekitar kalian pasti tahu betapa kalian saling mencintai.” Elana membenarkan apa yang ada di pikiran Sera dengan tegas. “Aku bahkan sampai gemas sendiri memikirkan kapan kalian berdua akan saling membuka hati dan menyatakan cinta.”
Sera tersenyum malu. “Selama ini a-aku sama sekali tak menduga jika Xavier juga mencintaiku. Aku tak melihat petunjuk sama sekali dari sikapnya kepadaku.”
“Tidak melihat petunjuk sama sekali?” Elana menatap Sera dengan tatapan terkejut. “Sera, apakah kau memang menutup mata dan pura-pura tak tahu? Dari tatapan matanya saja, jelas-jelas Xavier menunjukkan cintanya kepadamu. Ketika kalian berjauhan meskipun berada dalam satu ruangan, lelaki itu tak bisa melepaskan pandangannya darimu. Xavier selalu tersenyum palsu dan bersikap sopan, meskipun begitu, senyum itu tak pernah sampai ke matanya. Hanya ketika bersamamulah Xavier benar-benar tersenyum dengan sinar mata yang sangat lembut dan penuh sayang.” Elana menyentuh tangan Sera dan menggenggamnya lembut. “Aku sangat senang ketika kalian berdua akhirnya saling menyatakan rasa. Kalian berdua pantas untuk berbahagia, dan aku berharap semua akan terus baik-baik saja di antara kalian.” Elana berucap dengan nada tulus, mengungkapkan harapan baiknya layaknya sebuah doa.
Sera menganggukkan kepala, tersenyum dengan hati menghangat.
“Terima kasih Elana.” Tangan Sera bergerak mengusap perutnya dan tatapan Elana mengikuti gerakan tangan Sera, tertuju ke perutnya.
“Tinggal sebentar lagi si kembar akan lahir, bukan? Kita bisa menghabiskan waktu bersama nanti merawat bayi. Aku yakin anak-anak kita akan tumbuh besar bersama dengan sehat,” sahutnya dengan mata berbinar.
Sera ikut tersenyum lebar. Bayangan dua bayi lucu yang mencerminkan keindahan fisik suaminya tentu saja membuat hatinya semakin menghangat, tak sabar untuk memeluk kedua buah hatinya dalam gendongan. Tangannya bergerak mengelus perutnya lagi, mengucapkan lantunan doa seorang ibu yang ingin supaya anak-anaknya terlahir ke dunia ini dengan sehat tanpa kekurangan suatu apapun.
Namun, pada saat Sera mengelus perutnya itu, tiba-tiba permukaan area atas perutnya menegang dan mengencang, terasa keras di telapak tangannya dan membuat Sera mengerutkan kening karena rasa sakit tajam yang mengikuti kemudian di balik perutnya yang mengeras tiba-tiba.
Ini terasa berbeda dengan tendangan-tendangan si kembar sebelumnya....
Sera menunduk menatap perutnya dan tiba-tiba saja serangan rasa sakit menyerangnya kembali, kali ini berkali-kali lipat lebih menusuk hingga membuatnya tak bisa menahan keluhan yang lolos dari bibirnya.
Apakah dia mengalami kontraksi? Tapi... tidak seharusnya ini terjadi sekarang, bukan? Kandungannya masih terlalu muda....
Rasa sakit itu datang kembali dan semakin menusuk. Sera menghela napas panjang untuk meredakan nyerinya. Keringat dingin mulai membulir di pelipisnya sementara wajahnya berubah pucat pasi. Dia sendiri mulai menghitung di dalam hati seperti yang diajarkan oleh dokter kandungannya dalam sesi konsultasi mereka sebelumnya.
“Sera?” Elana yang masih menggenggam tangan Sera menyadari tubuh Sera yang menengang. Perempuan itu memandang bingung ke arah wajah pucat Sera. “Ada apa?” tanyanya perlahan dengan nada cemas.
“Kurasa.... aku....” Sera menghela napas panjang ketika perutnya mengencang lagi dengan rasa nyeri yang membuat seisi perutnya seolah-olah dibalik paksa. “Aku... sepertinya mengalami kontraksi....” Rasa sakit yang menyerangnya membuat suara Sera tersekat dan tak mampu merangkai kata dengan benar.
Pada saat yang sama, dia merasakan aliran hangat yang mengalir di pahanya, menuruni kaki dan betisnya, membuatnya terkesiap dan seketika menundukkan kepala untuk melihat apa yang terjadi pada dirinya.
“Sera!” Elanalah yang menjerit kemudian ketika melihat apa yang terjadi pada perempuan di depannya itu. “Tolong! Tolong! Seseorang, tolong!” Dengan panik Elana berteriak, meminta bantuan pada siapapun yang ada di luar kamarnya.
***
__ADS_1
“Mengobrol?”
Aaron tampak pucat pasi. Jika dia mendapatkan sisa waktu setengah jam terakhirnya di dunia ini, mengobrol bersama Xavier adalah sesuatu yang paling tak diinginkannya. Lelaki ini mungkin memasang ekspresi bersahabat dengan senyum manis yang menghiasi bibirnya, tapi Aaronlah yang paling tahu betapa beracun dan berbahaya Xavier jika menyangkut musuhnya.
Tiba-tiba saja jantung Aaron bergetar, ketenangannya yang telah dia bangun sebelumnya hampir runtuh ketika dia membayangkan jangan-jangan dia sudah diracuni oleh Xavier tanpa dia menyadarinya.
Arron mengendus di udara, mencari bau yang tak biasa yang kemungkinan berasal dari racun gas, tapi dia tak menemukannya.
“Kenapa Anda tak segera duduk, dokter Oberon?” Xavier mengangkat sebelah alisnya, matanya yang tajam memindai ekspresi lawan bicaranya dengan terang-terangan dengan saksama.
Aaron langsung memasang wajah tanpa ekspresi. Dia tahu bahwa ini adalah sebuah tes. Tes yang dilakukan oleh Xavier akibat kecerobohannya yang impulsif mendatangi Sera beberapa waktu yang lalu.
“Ah, baik, saya akan duduk.” Aaron tersenyum dan menarik salah satu kursi yang sedikit berjarak dari tempat Xavier duduk sebelum kemudian menempatkan dirinya di sana dan menanti gerakan Xavier berikutnya.
Benak Aaron langsung berusaha menilai situasi dengan cepat. Saat ini dia masih hidup dan belum diracuni oleh Xavier, itu berarti mungkin dia belum ketahuan sebagai Aaron yang menyamar. Aaron tahu pasti betapa kejamnya Xavier, jika saat ini dia ketahuan sebagai Aaron, lelaki itu pasti sudah membunuhnya tanpa pikir panjang.
Kalau begitu, kemungkinan besar saat ini Xavier belum mendapatkan bukti yang kuat untuk membunuhnya, dan rupanya, lelaki itu sedang berusaha untuk mengumpulkan bukti darinya.
Masih ada kesempatan. Asalkan Aaron bisa berperan dengan baik, lelaki itu tak akan bisa mencari kesalahannya.
“Anda tahu kenapa saya tertarik berbicara kepada Anda?” Xavier yang masih menatap lekat ke arah dokter Oberon tiba-tiba memulai percakapan.
“Saya tidak tahu.” Aaron menyahuti dengan nada tenang dan senyum sopan dengan segera.
Xavier mengetuk-ngetukkan jarinya di meja, seolah sengaja berlama-lama untuk menciptakan tekanan di udara yang menyesakkan lawan bicaranya.
“Saya melihat bahwa masa lalu Anda cukup menarik.” Xavier menatap tajam ke arah dokter Oberon di hadapannya. “Mengingat Anda sempat terpuruk dan jatuh dalam kecanduan alkohol, namun Anda bisa bertahan dan melalui semuanya dengan baik. Mungkin saya perlu mengucapkan selamat karena Anda telah berhasil mengatasi kecanduan alkohol dan tak perlu mengikuti konseling lagi.”
Aaron mengangkat sebelah alisnya.
“Anda menyelidiki saya?” tanyanya kemudian, berusaha tak terlihat sedang diserang. Perlahan Aaron menyandarkan punggungnya di sandaran kursi agar terlihat santai dan tidak terintimidasi. “Kecanduan alkohol yang saya alami memang cukup memalukan, dan bukannya saya meminta permakluman, tetapi pada situasi yang saya hadapi saat itu, saya membutuhkan pelarian.” Aaron menghela napas panjang, seolah menyesali dirinya sendiri. “Namun, sekarang saya bisa cukup berbangga karena saya bisa melepaskan diri dari ketergantungan itu dan dinyatakan bersih.”
Xavier tersenyum dan menganggukkan kepala.
“Ya, itu adalah pencapaian yang bagus. Sebagai seorang dokter yang kehilangan masa depannya akibat kecelakaan, lalu bisa melepaskan diri dari kecanduan alkohol dan mendapatkan kedudukan yang cukup tinggi di perusahaan ini, saya rasa, pencapaian Anda perlu diberi tepuk tangan,” sahut Xavier dengan nada sinis.
Aaron mengerutkan keningnya. “Apa maksud Anda?” tanyanya bingung.
Xavier memajukan tubuh, ketika berucap, ekspresinya tampak gelap ketika menyambung ucapannya kemudian.
Xavier mengawasi perubahan ekspresi dokter Oberon dengan saksama dan berucap lagi, “Apa yang akan dikatakan oleh para klien di rumah sakit ini jika direktur keuangan mereka memiliki noda di catatan kesehatan mentalnya sebagai seorang pecandu alkohol?”
Mata Aaron berkilat. “Saat ini saya sudah bersih.”
“Ya. Anda sudah bersih. Namun, record kesehatan tetaplah record kesehatan. Anda akan terus tercatat sebagai pasien yang pernah menjalani konseling bertahun-tahun karena ketergantungan alkohol. Itu adalah cacat reputasi yang tak bisa dihapuskan begitu saja. Apalagi, kedudukan Anda sangat krusial. Apa yang dikatakan oleh para penanam modal jika tahu bahwa area penting seperti keuangan, dipegang oleh seorang pecandu alkohol?”
“Apa maksud Anda, Tuan Xavier Light?” Arron menggertakkan giginya.
Xavier mengangkat sebelah alisnya. “Saya hanya ingin menempatkan Anda pada posisi yang semestinya. Rekan-rekan kerja Anda dan atasan Anda di sini mungkin berbelas kasihan atas nasib buruk yang menimpa Anda, sehingga mereka merekomendasikan Anda untuk menduduki posisi penting di rumah sakit ini, seolah ingin menebus kesakitan Anda dengan kompensasi. Namun, saya tidak sebaik hati itu. Profesionalisme adalah profesionalisme. Jika Anda tidak bisa memenuhi standar, maka Anda tidak pantas menduduki posisi ini.”
“Anda ingin memecat saya?” Aaron mengerutkan keningnya seolah tak percaya. “Tidakkah Anda tahu, saya mengalami kecelakaan ketika mendapatkan panggilan operasi dari rumah sakit ini? Saya mengalami kecelakaan ketika dalam perjalanan bekerja, jadi jabatan apapun yang saya dapatkan setelah kecelakaan itu adalah sesuatu yang adil buat saya.”
“Anda ingin mengambil keuntungan dari perusahaan atas kecelakaan yang terjadi karena keteledoran Anda sendiri? Pihak rumah sakit sudah memberikan ganti rugi dalam jumlah yang cukup besar bagi Anda waktu itu. Anda tentu masih ingat jumlahnya, bukan?” Xavier menyipitkan mata, menatap ke arah dokter Oberon dengan tatapan tajam, menunggu jawaban.
Tentu saja Aaron tidak ingat. Itu terjadi di masa lalu dokter Oberon dan dia bahkan tidak berpikir untuk memeriksa catatan keuangan si dokter itu sampai ke masa sejauh itu. Bagaimana dia bisa ingat?
“Saya tidak ingat.” Aaron menjawab dengan nada tenang yang dingin. “Semua itu berhubungan dengan trauma buruk yang ingin saya lupakan, jadi saya tak mau mengingat-ingatnya lagi.”
Xavier menyeringai. Jawaban dokter Oberon memberinya kepastian yang dia butuhkan. Pihak rumah sakit di masa lampau tidak pernah memberikan kompensasi dalam bentuk uang kepada dokter Oberon. Yang diberikan oleh pihak rumah sakit sebagai kompensasi atas kecelakaan kerja yang menimpa dokter Oberon adalah sebagian saham rumah sakit ini dan ditambah dengan kedudukan sebagai direktur keuangan di rumah sakit ini.
Melihat bagaimana dokter Oberon tak mengangkat tentang kepemilikan saham ini ketika Xavier mengancam akan memecatnya, kemungkinan besar lelaki di depannya ini sepertinnya tidak tahu bahwa dia memiliki sebagian saham rumah sakit ini yang membuatnya tidak bisa dipecat begitu saja dengan mudah, bahkan oleh Xavier sekalipun.
Hal itu semakin memperkuat dugaan Xavier bahwa dokter Oberon yang di depannya itu bukanlah dokter Oberon yang sesungguhnya. Meskipun begitu, Xavier tidak mau buru-buru bertindak. Mungkin saja otak lelaki di depannya ini memang berkabut karena kecanduan alkohol dan hidupnya yang kacau balau setelah kecelakaan itu membuatnya tak ingat kompensasi yang diberikan oleh rumah sakit ini kepadanya di waktu lampau.
Xavier tahu bahwa dia harus mengumpulkan lebih banyak bukti lagi sebelum memastikan kesimpulannya, dan bukti fisik seperti hasil test darah yang dianalisanya sendiri pastilah bisa menjadi bukti autentik yang tak terbantahkan.
Xavier lalu mengangkat bahunya dan melanjutkan kebohongan terencananya dengan santai. “Yah, wajar kalau Anda tidak ingat, karena sepertinya Anda menghabiskan uang Anda itu untuk membeli begitu banyak alkohol dan mabuk-mabukan setelahnya,” ucapnya dengan nada memprovokasi, menikmati bagaimana tangan dokter Oberon terkepal karenanya.
“Saya sudah bersih sekarang. Apakah Anda lupa?” Aaron menyahuti sambil menggertakkan gigi. “Saya tidak menyangka Anda mengurusi hal-hal sepele seperti ini hanya untuk mencari cacat prestasi saya, demi menyingkirkan saya. Apakah ini semua karena saya mendekati istri Anda kemarin?” Aaron langsung menembak dan mengambil risiko untuk menantang Xavier sebagai dokter Oberon.
Lebih baik dia dimusuhi sebagai dokter Oberon daripada ketahuan kedoknya sebagai Aaron yang menyamar.
Mendengar dokter Oberon menyebut tentang Sera, ekspresi Xavier berubah gelap dan menyeramkan, layaknya pembunuh yang siap menembakkan peluru ke kepala korbannya dalam hitungan detik.
__ADS_1
“Ah saya bertanya-tanya kapan Anda akan mengangkat masalah ini. Karena Anda kebetulan mengingatkan saya, saya akan langsung mengajukan pertanyaan kepada Anda. Untuk apa Anda mendekati istri saya, dokter?”
Aaron menipiskan bibir dan menelan ludah. Dia tahu bahwa dia harus menguasai dirinya supaya tidak ketahuan.
“Saya mengagumi kecantikan istri Anda,” sahutnya berani, sengaja menantang kecemburuan Xavier untuk mengalihkan perhatian lelaki itu.
Xavier tersenyum dan ekspresi gelapnya berubah seketika menjadi cerah. “Saya mengerti. Serafina Moon, istri saya, memang cantik.”
Jawaban Xavier sama sekali tak diduga oleh Aaron hingga lelaki itu hanya bisa terperangah kebingungan. Dia berpikir Xavier akan meluapkan kemarahan dan kecemburuannya seperti orang gila kepadanya. Tak disangkanya lelaki itu malahan bersikap begitu tenang dan penuh senyum?
Xavier menatap ke arah kebingungan Aaron dan tersenyum. Lelaki itu melirik ke arah jam tangannya dan menganggukkan kepala sedikit.
“Setengah jam sudah berlalu. Saya rasa saya sudah menyampaikan semua yang perlu saya sampaikan.” Tatapan mata Xavier kembali menajam. “Saya akan meminta evaluasi kinerja Anda dan pertimbangan dari dewan direksi atas cacat reputasi akibat catatan kecanduan alkohol Anda. Jika dewan direksi memberikan rekomendasi bahwa Anda tidak pantas menduduki posisi ini, maka Anda harus siap berkemas dan mundur dari jabatan direktur keuangan.”
Aaron membuka mulutnya untuk memprotes, tapi Xavier menggerakkan tangannya penuh isyarat tegas bahwa dia masih akan berbicara dan tak mau disela.
“Satu lagi. Saya masih tidak yakin bahwa Anda benar-benar bersih dari alkohol. Jadi, Anda pasti bersedia untuk memberikan darah Anda guna diperiksa ulang, bukan? Saya akan memerintahkan pemeriksaan ulang untuk memastikan Anda benar-benar bersih.”
Wajah Aaron memucat. Xavier bisa dibilang adalah peneliti yang sangat ahli dan menyangkut darah, lelaki itu lebih ahli lagi. Mungkin karena lelaki itu adalah seorang peramu racun, maka lelaki itu memahami tentang darah lebih daripada orang lain. Bahkan, racun-racun yang dibuat oleh Xavier kebanyakan berhubungan dengan perusakan darah yang menyeramkan.
Jika sampai darahnya jatuh ke tangan Xavier... sudah jelas dirinya akan ketahuan!
Aaron membuka mulutnya untuk menyanggah, mencari cara mengulur waktu supaya darahnya tak diambil dengan segera. Dia hanya butuh beberapa minggu lagi, hanya beberapa minggu lagi sampai Sera melahirkan anak sialan dari lelaki sialan itu!
Namun, belum sempat Aaron mengeluarkan suara, pintu ruangan meeting itu tiba-tiba terbuka dan Derek masuk dengan wajah pucat pasi.
“Ada apa?” Xavier tahu pasti bahwa Derek tak mungkin menyela pertemuannya tanpa ada sesuatu yang genting. Pikirannya hanya tertuju pada satu perempuan dan itu membuat kecemasan luar biasa langsung membanjirinya dan membuatnya ketakutan. Lelaki itu melupakan ketenangannya dan lagsung beranjak berdiri. “Apa yang terjadi pada Sera?” tanyanya kemudian.
***
***
***
***
Hello.
Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.
Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD SUDAH tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book
EOTD / Essence of The Darkness ---> Kisah Akram dan ELana
EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera ( Ebook SEGERA tersedia)
Kata kunci di g00gle book :
Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt
JIKA ANDA MENDAPATKAN EBOOK INI BUKAN DARI GOOGLE PLAYBOOK, BERARTI ANDA TELAH MELAKUKAN TINDAKAN KRIMINAL PENCURIAN DAN BERKONTRIBUSI DALAM PEMBUNUHAN KREATIVITAS PENULIS.
DUKUNG PENULIS KESAYANGANMU SUPAYA BISA TERUS BERKARYA DENGAN TIDAK MENGAKSES DAN MENYEBARKAN BUKU BAJAKAN.
Follow instagram author jika sempat ya, @anonymousyoghurt
Yours Sincerely
AY
***
***
__ADS_1
***