Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 57 : Perhatian ( Intermezzo Part )


__ADS_3


 


“Dingin?” tanya Akram dengan penuh perhatian. Tiba-tiba dia sadar bahwa Elana sesungguhnya masih sakit. Perempuan itu baru menerima tahap pertama dari pemberian serum penawar racunnya dan belum sembuh sepenuhnya dari hipotermia yang mengancam. Dengan cepat diambilnya selimut tebal yang bergulung di kakinya dan diselimutkannya ke tubuh mereka berdua hingga tertutup rapat dan hangat.


Elana merapatkan dirinya lagi ke tubuh Akram. Kulit bertemu dengan kulit, terasa hangat dan menyenangkan, bahkan jika dibandingkan dengan selimut paling tebal sekalipun.


Akram sendiri tengah menundukkan kepala dan mengawasi Elana dengan matanya yang tajam. Akhir-akhir ini, Akram memperhatikan bahwa Elana terkadang tidak sadar dan mendekatkan dirinya kepada Akram dengan sukarela. Apalagi ketika perempuan itu sedang dalam keadaan kelelahan, mengantuk, atau setengah tidur seperti sekarang ini.


Apakah itu berarti Elana sudah tidak ingin melawannya lagi dan bersedia tunduk di bawah kuasanya?


Akram tentu sudah mendapatkan laporan dari Elios mengenai tipuan pintu layar digital itu, begitupun dengan pernyataan Elana bahwa Xavier datang untuk berbicara kepadanya. Akram dipenuhi dengan rasa ingin tahu yang amat sangat tentang apa yang dibicarakan oleh Xavier kepada Elana. Dia berniat membahas tentang itu semua segera setelah dirinya bertatap muka dengan perempuan itu.


Tetapi, ketika tadi dia menunggu di bawah sana, melihat Elana turun dari mobil, menatap wajah perempuan itu dan kemudian dirinya merasakan suhu tubuh Elana yang telah menghangat, pertanda bahwa perempuan dalam gendongannya itu mulai membaik, hati Akram langsung dipenuhi dorongan untuk mendekatkan tubuh mereka sampai di titik yang sedekat dia bisa, berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa perempuan ini baik-baik saja, bahwa perempuan ini belumlah lepas dari genggamannya.


Entah berapa lama mereka bercinta tadi, Akram terlalu sibuk memuaskan hasratnya untuk memeluk Elana hingga aliran waktu yang tak mengenal kata kembali telah terlupakan olehnya. Mungkin sekarang sudah mencapai dini hari menjelang pagi, mengingat sinar bulan yang menyusupkan cahayanya di atas sana tampak mulai memudar, bersiap undur diri supaya terganti oleh matahari.


Akram mulai memejamkan mata dan jarinya bergerak mengelus belakang kepala Elana dengan lembut untuk membawa perempuan itu semakin tenggelam ke alam mimpi.


Kedamaian melingkupi hatinya seiring dengan tubuhnya yang telah terpuaskan. Saat ini, yang diinginkan Akram hanyalah memeluk Elana dalam kesenyapan nan menenangkan, seolah-olah mereka terbungkus di dalam lingkupan damai yang terpisah dari segala permasalahan di luar sana.


Tetapi kemudian, suara itu menggema di tengah keheningan, membuat Akram langsung membuka matanya kembali.


Itu adalah suara gemuruh perut Elana yang kelaparan.


Dengan cepat Akram menundukkan kepala ke arah Elana. Ketika dilihatnya Elana menenggelamklan wajah di dadanya dan matanya terpejam rapat, diraihnya dagu perempuan itu dan didongakkannya ke arahnya.


Perempuan itu tampaknya sudah hampir lelap dan jatuh ke dalam tidur pulas sebentar lagi.


“Bangun, Elana,” Akram mengusap pipi Elana dengan lembut. “Bangunlah. Apa kau tidak sadar kalau perutmu berbunyi? Apakah kau kelaparan?”


Elana mengerjapkan matanya yang terasa berat. Suara Akram tampak samar menembus kesadarannya. Tetapi, tak urung dia berusaha membuka mata juga. Ditatapnya wajah Akram yang berbayang di tengah kegelapan dan dikerutkannya kening dengan kebingungan.


“Apa?” Elana berucap dengan suara lemah. Dia mengantuk dan sangat kelelahan. Kedekatan tubuh Akram yang melingkupi memberikan kenyamanan yang menyenangkan sehingga Elana merasa semakin tenggelam dalam kantuknya.


Dia sudah hampir lelap, kenapa sekarang Akram membangunkannya? Ada apa?


“….lapar….,” suara Akram masih terdengar samar sebelum akhirnya Elana mendapatkan kesadarannya kembali dan mampu mendengar lebih jelas apa yang sedang dikatakan oleh Akram.


“Apakah kau lapar?”


Akram bertanya kepadanya apakah dia lapar?


Elana mengerutkan kening dan langsung menelaah kondisi tubuhnya sendiri. Dia sudah hampir tertidur tadi, tapi ketika kesadarannya kembali, barulah Elana menyadari bahwa dia memang sedang kelaparan. Perutnya terasa perih menagih untuk diisi.


Mungkin itu semua karena dia sedang sakit dan Akram telah telah meforsir tenaganya hingga kelelahan. Sepertinya, tubuhnya yang kehabisan tenaga menagih asupan energi dan meminta diisi makanan.


Tapi bagi Elana, rasa lapar itu masih lebih ringan dari rasa kantuknya yang memberatkan mata dan Elana berpikir dia masih bisa menahan kelaparannya sampai pagi hingga waktu sarapan menjelang.

__ADS_1


Dengan mata kembali terpejam, Elana mendekatkan tubuhnya ke arah Akram kembali, bergelung dengan manja untuk mencari kehangatan.


"Aku memang lapar, tapi aku lebih mengantuk,” jawab Elana dengan suara lemah, bersiap untuk tidur kembali.


“Tidak,” dengan suara tegas Akram meraih kedua bahu Elana dan menjauhkan perempuan itu dari tubuhnya. Akram kemudian bangkit dari ranjang. Lelaki itu memungut pakaiannya yang berserakan di karpet kamar, lalu mengenakan pakaiannya itu sambil menatap ke arah Elana yang masih meringkuk di balik selimut dengan tatapan tajam. “Memangnya kau mau terserang gastritismu lagi? Tunggu di sini, aku akan memberimu makan.”


Setelah mengucapkan kalimat penuh tekad itu, Akram melangkah pergi meninggalkan kamar dan menutup pintu di belakangnya.


Sejenak Elana masih berbaring bermalas-malasan di atas ranjang, berusaha melemaskan tubuhnya yang lelah dan kaku sambil mencoba untuk terlelap kembali. Tetapi lama kemudian, kalimat terakhir Akram sebelum pergi ternyata terngiang-ngiang kembali di benak Elana, membuat kabut yang tadinya melingkupi benak Elana langsung tersingkirkan seketika.


Akram akan memberinya makan? Apakah itu berarti lelaki itu akan memasak lagi dan membuatkan bubur yang rasanya luar biasa aneh itu untuknya?


Dipenuhi pikiran mengerikan tersebut, Elana segera menyingkirkan selimut, menyambar pakaiannya dan memakainya dengan cepat sebelum kemudian melangkah terburu-buru keluar dari kamar.



Ketika Elana melangkah menuruni tangga, dia langsung terpaku cemas ketika melihat bahwa Akram tengah mengatur sesuatu di atas nampan pada pantry dapur.


Apakah Akram sedang memasak? Tetapi kenapa dapur masih terlihat rapi dan tidak ada bau gosong menyeruak dari arah dapur?


Menyeret kakinya yang terasa lemah, Elana melangkah mendekat, lalu melongok di balik bahu Akram yang lebar dengan penuh rasa ingin tahu.


“Kau sedang apa?” tanya Elana pelan.


Akram menolehkan kepala, mengerutkan kening ketika menyadari Elana sudah ada di dekatnya.


“Apa yang kau lakukan di sini? Aku baru akan mengantarkan makanan ini ke atas. Memangnya kau sudah kuat berjalan-jalan kemana-mana?” bukannya menjawab pertanyaan Elana, Akram malah menggerutu marah dengan sikap galak ke arah Elana.


Tetapi, perhatian Elana sudah tidak tertuju lagi pada kata-kata Akram, teralihkan pada sesuatu yang tampak luar biasa dalam pandangannya. Mata Elana melebar melihat apa yang sedang disiapkan oleh Akram di atas nampan dan mulutnya ternganga karena terpesona.



Di dalam nampan berbentuk bulat itu, tersusun berbagai macam sushi dengan warna-warni yang membuat siapapun yang melihatnya pasti akan meneteskan air liur. Makanan itu tampak sangat lezat bahkan hanya dengan dipandang saja dan belum dicicipi. Elana tidak pernah makan sushi sebelumnya karena harganya terlalu tinggi untuk diakomodasi oleh dompetnya yang tipis. Jadi, keterpesonaannya berkali-kali lipat dari biasanya.


Akram mengawasi wajah Elana dan mengerutkan kening. Antara kesal tetapi juga merasa ingin tersenyum. Perempuan penyuka makanan ini benar-benar telah melupakan keberadaan dirinya di tempat ini dan hanya fokus kepada makanan. Bahkan saat ini, Elana terlihat hampir-hampir meneteskan air liurnya melihat makanan itu.


“Aku memesannya di restoran jepang yang buka dua puluh empat jam. Bukan restoran terbaik, tetapi setidaknya bahan-bahannya lolos sertifikasi organik berkualitas tinggi,” Akram mengerutkan kening ketika dilihatnya Elana tampak tidak peduli dengan penjelasan mengenai betapa bagusnya kualitas sushi yang dipesannya itu.


Perempuan ini benar-benar tidak memiliki kesadaran mengenai makanan sehat atau bahan makana terbaik yang tentunya bisa memberikan yang terbaik juga untuk tubuh. Akram tidak tahu bagaimana perut Elana bisa tahan selama ini diisi terus menerus dengan makanan kelas dua yang tidak berkualitas. Yang lebih mengganggu, Elana tampaknya tidak peduli dengan semua itu yang berarti sama saja tidak mempedulikan kesehatannya sendiri.


Dengan sikap sedikit jengkel, Akram mengangkat nampan melingkar yang besar itu menggunakan satu tangan, sengaja menempatkannya tinggi supaya jauh dari jangkauan penglihatan Elana.


“Ayo, makan di sana. Kau bawa gelas berisi air putih itu,” ujarnya dengan nada mengesalkan sebelum melangkah menuju sofa besar yang terletak di ruang tamu dan membiarkan Elana mengikutinya tanpa protes sambil membawa gelas berisi air putih di tangannya.


Akram duduk di atas sofa dan meletakkan nampan sushinya di atas meja. Sedangkan Elana menyusul kemudian, meletakkan gelas di tangannya, lalu memilih duduk di karpet dekat kaki Akram supaya dirinya berada lebih dekat dengan meja tempat sushi itu berada.


“Aku boleh memakannya?” Elana menoleh ke arah Akram yang duduk dengan tenang mengawasi. Mata Elana  berbinar seperti anak kecil yang mendapatkan kado pertama di hari ulang tahunnya.


Akram menganggukkan kepala tipis meski sebenarnya dia tidak suka jika perhatian Elana teralih pada sesuatu yang bukan dirinya. Sifat posesif dalam jiwanya menggelegak, mendorongnya ingin memaksa Elana supaya beralih terfokus padanya dan melupakan makanan sialan itu. Tetapi, entah kenapa hati Akram tersentuh oleh sikap kekanak-kanakan Elana sehingga bibirnya akhirnya malahan mengurai senyum tertahan.

__ADS_1


“Makanlah,” jawabnya dengan tenang.


“Baiklah kalau begitu. Selamat makaan,” Elana berseru dengan suara keras, mengatupkan kedua tangannya di depan dada dengan bersemangat. Dia lalu mengambil sumpit yang tersedia, tangannya berusaha menggunakan sumpit itu dengan canggung untuk mengambil sushi tersebut, tetapi selalu terlepas dari tangannya.


Elana sangat jarang menggunakan sumpit untuk makan. Bahkan ketika makan di penjual mie kaki lima yang menyediakan sumpit dari bambu pun, Elana lebih memilih menggunakan sendok dan garpu. Selain itu, dia juga tidak pernah memiliki kesempatan untuk memasuki restoran jepang atau restoran lainnya yang makanannya diambil menggunakan sumpit. Karena itulah kemampuannya menggunakan sumpit bisa dibilang nol besar.


Karena tak sabar ingin mengambil sushinya, Elana akhirnya secara serampangan menancapkan sumpitnya ke sushi itu, membuat bentuknya berantakan. Meskipun begitu, dia akhirnya berhasil membawa sushi itu ke mulutnya, langsung melahap dan mengunyahnya.


Yang masuk ke mulutnya adalah sushi dengan paduan salmon segar yang lumer di mulut dalam paduan gurih yang menyenangkan lidah. Elana mengunyah dengan bersemangat, senang sekali dengan kenikmatan rasa baru yang ternyata disukai oleh indra perasanya.


Setelah menghabiskan yang pertama, seolah tak sabar ingin mencicipi rasa yang lain lagi, Elana mengambil kembali sushi berikutnya, kali ini sushi dengan paduan alpukat dan udang yang manis dan lembut. Ketika rasa nikmat yang sama membuat indra perasanya berpesta pora, Elana sekali lagi mengunyah makanan di mulutnya dengan mata berbinar kesenangan.


Akram tersenyum masam melihat cara Elana mengambil sushinya. Dia membungkuk sedikit ke depan supaya sejajar dengan posisi Elana yang duduk di karpet, lalu mengambil sumpit dari tangan Elana dengan tangannya.


“Orang Jepang akan menganggapmu menghina mereka kalau kau menancapkan sumpit ke dalam makanan,” Akram berucap perlahan sambil mengambil sushi itu menggunakan sumpit dengan cara yang sangat elegan. “Bukan hanya karena menancapkan sumpit mirip dengan menancapkan dupa kematian bagi mereka, tetapi juga karena kau telah merusak bentuk sushi yang indah ini. Buka mulutmu.”


Akram memerintah sambil mendekatkan sushi di sumpitnya ke mulut Elana, hingga mau tak mau Elana menurut serta membuka mulutnya yang telah kosong. Dia bahkan tak berkesempatan menyanggah kalimat Akram yang dimaksudkan untuk mencela sikap serampangannya.


Dan begitulah selanjutnya. Elana hanya duduk diam di sana, memuaskan seleranya makannya, sementara Akram menyuapinya. Sesekali Akram bertanya Elana ingin memakan jenis sushi yang mana, lalu lelaki itu dengan sabar mengambilkannya dengan sumpit dan menyuapkannya ke mulut Elana.


Setelah perut Elana benar-benar kenyang, dia menolak suapan dari Akram dengan gelengan kepala. Diliriknya tangan Akram yang meletakkan sumpit berisi sushi yang ditolak Elana itu kembali ke nampan. Matanya kemudian terarah ke nampan yang hampir kosong tersebut dan pipinya merona karena malu.


Ya ampun! Elana telah makan seperti orang yang kelaparan dan tidak makan selama beberapa lama. Bahkan Akram belum makan satu potong pun!


“Kau… kau tidak makan?” tanya Elana malu-malu.


Akram bergerak mengambil gelas air putih di meja dan memberikannya kepada Elana.“Aku tidak lapar,” jawabnya dengan nada dingin dan ekspresi tak terbaca.


Elana meneguk air putih itu sambil mengutuk sikap Akram yang susah ditebak itu dalam hatinya. Tetapi, sebesar apapun kejengkelan Elana pada Akram, Elana bukanlah orang yang tak tahu diri. Akram sekali lagi telah memberikannya makanan yang lezat untuk mengisi perutnya yang lapar. Lelaki itu telah berbuat baik baginya dan Elana tahu bahwa Akram pantas mendapatkan ucapan terima kasih.


“Te… terima kasih,” bisik Elana perlahan kemudian, permukaan wajahnya dihiasi oleh rona merah yang memulas tulang pipinya.


Akram menganggukkan kepalanya sedikit dengan wajah datar. Lelaki itu lalu menepuk pahanya setengah menuntut.


“Naiklah kemari,” ujarnya tegas, sementara ekspresinya berubah serius.


Elana menatap Akram dengan terkejut, sama sekali tidak menyangka kalau Akram akan menutup sesi makan mereka dengan permintaan agar Elana naik ke pangkuannya. Lelaki ini sepertinya memiliki kesenangan aneh dan sangat suka meminta Elana naik ke pangkuannya.


Benak Elana langsung mencari-cari alasan untuk menolak.


“Eh, kita bisa berbicara sambil seperti ini saja, tidak perlu naik ke pangkuan, lagipula aku akan terasa berat setelah makan, jadi…”


Akram memilih untuk tidak mendengarkan bantahan Elana, ditariknya tubuh perempuan itu, setengah diangkatnya untuk langsung duduk di atas pangkuannya.


Berat? Tubuh perempuan ini, meskipun sudah sedikit berisi sejak Akram mengurusnya, masih saja terasa begitu ringan, meskipun selera makannya sangat besar seperti pekerja kasar yang seharian menguras tenaganya untuk melakukan berbagai jenis pekerjaan fisik melelahkan.


Didudukkannya Elana di atas pangkuan, sementara matanya menatap tajam ke dalam mata Elana, seolah-olah ingin membaca sampai kedalaman jiwa perempuan itu.


“Kau sudah kenyang sekarang. Kau juga sudah tak kedinginan lagi. Kurasa, serum penawar yang diberikan oleh Xavier untukmu benar-benar memiliki efek menyembuhkan,” Akram menggenggam jemari Elana dan menggeseknya perlahan untuk memeriksa suhunya, setelah itu, dia menangkup jari jemari Elana dengan tangannya yang besar. “Sekarang, waktunya aku bertanya kepadamu. Apa yang dibicarakan oleh Xavier ketika dia menemuimu secara rahasia tadi?

__ADS_1




__ADS_2