
Ketika pintu kamar perawatannya tertutup rapat dari luar, barulah Xavier membuka matanya yang tadi sempat terpejam rapat. Tatapan matanya tampak dipenuhi kilau kepedihan, sesuatu yang tadi tak dia ijinkan keluar pada tampilan luar emosinya, sesuatu yang dicegahnya supaya bisa terlihat jelas oleh Sera.
Ini lebih baik. Semakin Sera mengira bahwa Xavier membencinya, semakin memudahkan bagi perempuan itu untuk melepaskan diri darinya.
Xavier benar-benar ingin mati. Ketika dia sedang mengalami koma, kegelapan melingkupinya dengan hangat, melepaskannya dari semua beban dan meringankan seluruh dera, penderitaan, trauma dan kepedihan hati yang selama ini dia tanggung serta melekat erat di dalam ingatannya tanpa dia bisa melupakan.
Pada titik itulah Xavier menyadari bahwa dia telah berada di ambang batas kelelahannya, bahwa sudah seharusnya dia tak memaksakan diri untuk merengkuh kehidupan, melepaskan seluruh harapannya. Sudah waktunya baginya untuk menyambut kematian dengan hati senang.
Hal itu telah dia rencanakan sejak lama, jauh sebelum dirinya bertemu dengan sosok Serafina Moon yang memercikkan seberkas harapan di hati, sehingga Xavier memutuskan untuk beradu nyali dengan takdir, terbangkitkan semangatnya untuk memperjuangkan kehidupannya.
Betapa bodohnya dia, tertarik dengan kemilau Sera yang menguarkan kepolosan untuk menarik hatinya, membuatnya lupa akan betapa rusak dirinya di balik cangkang fisik sempurna ini. Xavier layaknya laron yang tertarik pada kemilau cahaya lentera seindah rembulan, mendekat tanpa perlindungan, tanpa sadar bahwa dia memiliki sayap rapuh yang bisa terbakar kapan saja saat dirinya mengambil resiko mendekat.
Dengan gelap mata, dia bahkan terbangkitkan semangat hidupnya, berjuang, ingin menggunakan segala cara supaya tetap bertahan sehingga bisa mendampingi wanita seindah bulan yang menarik hatinya itu. Tetapi, kecelakaan yang menimpanya, telah menyeretnya ke tepi jurang kematian yang menganga dan menanti, hingga akhirnya membuatnya tersadar, bahwa tak seharusnya dia menyimpan mimpi untuk tetap hidup.
Tubuhnya mungkin sempurna di luar, tetapi di bagian dalamnya, Xavier sudah rusak parah.
Rengkuhan kematian tetaplah lebih dekat kepadanya jika dibandingkan dengan pelukan kesembuhan. Transplatasi sel punca dengan menggunakan jaringan dari plasenta anaknya nanti, jika dilakukan pun, memiliki resiko tinggi dan tidak membawa kepastian kesembuhan baginya. Xavier bisa saja sembuh, menjadi sedikit lebih baik, atau paling buruknya, malah menjadi semakin parah dan akhirnya mati sia-sia.
Jika dia memaksakan diri, bukankah nanti pada akhirnya dia hanya akan menjadi hama tak berguna yang hanya akan merepotkan dan membebani Sera?
Keputusan saat ini yang diambilnya, sudahlah tepat. Xavier mungkin sudah bersalah karena merenggut Sera dan membawanya masuk ke dalam kehidupannya dengan paksa dan tanpa pikir panjang. Tetapi, masih belum terlambat untuk memperbaiki semuanya. Jika dia menciptakan jarak hati antara dirinya dan Sera, lalu membuat Sera berpikir bahwa sesungguhnya mereka saling membenci, setidaknya dia bisa menyelamatkan hati Sera dari kekacauan ini.
Meski hatinya sendiri sudah tak bisa diselamatkan lagi.
Xavier mengangkat tangan untuk menutupi wajahnya, sementara napasnya berkejaran seolah kesulitan untuk menarik udara memasuki paru-parunya. Seluruh tubuhnya terasa sangat sakit, setiap helaan napas, setiap kedipan, setiap gerakan, semuanya mengirimkan sinyal rasa sakit yang mendera tubuhnya dengan kekuatan mengerikan.
Tetapi, itu semua masih bukan apa-apa jika dibandingkan dengan rasa sakit yang mendera hatinya saat ini.
***
“Apakah kau memiliki hubungan dengan Aaron Dawn yang tidak kau katakan kepadaku?”
Akram membanting sebuah chip kecil ke depan wajah Dimitri yang sedang duduk dan menikmati sarapannya di atas meja.
Ya, ketika berada di negara ini, di bawah tawanan Akram Night, Dimitri harus merelakan dirinya dikurung di sebuah kamar tahanan yang dijaga ketat oleh anak buah Akram, tanpa tahu kapan dia bisa terbebas dari tempat ini.
Tetapi, dia masih beruntung jika dibandingkan dengan Sabina yang ditidurkan paksa dengan bius khusus dan dirantai di atas tempat tidurnya. Setidaknya, meskipun terkurung dan kemerdekaannya dibatasi, Dimitri masih memperoleh kebebasan atas kesadaran pribadinya, dia juga diperlakukan dengan baik di sini, tidak dihajar atau dipukuli dan mendapatkan makan sehari tiga kali.
Sementara, kamar tempatnya dikurung, meskipun sederhana, memiliki fasilitas yang memenuhi kebutuhan dasarnya secara cukup. Kamar mandinya bersih dan ada tempat tidur yang meskipun ukurannya kecil, sangatlah empuk dan nyaman untuk dipakai tidur.
Bahkan saat ini pun, Dimitri sedang duduk dan menikmati sarapan dan kopi yang diantarkan oleh penjaga ke kamarnya, sambil duduk di kursi tunggal dimana posisinya berhadapan dengan meja kecil yang juga disediakan di kamar itu.
Sayangnya, Akram yang merangsek masuk dan bertanya dengan sikap mengintimidasi, langsung menghapuskan selera makannya. Dimitri akhirnya meletakkan peralatan makan di tangannya, menyelesaikan sarapannya yang baru setengah jalan, dan mengelap mulutnya dengan tisu yang juga disediakan untuknya.
“Meskipun Keluarga Dawn masuk ke dalam keluarga kaya di Rusia, tetapi mereka sebagian besar bergerak di bisnis resmi yang tidak berhubungan langsung dengan bisnisku, jadi aku tak pernah berurusan dengan mereka.” Dimitri memundurkan tubuhnya dan bersandar di kursi, lalu bersedekap sambil melirik ke arah chip yang dilemparkan oleh Akram kepadanya. “Ini apa?” tanyanya penuh rasa ingin tahu.
”Akram berdiri tegak di depan meja Dimitri, ekspresinya tampak keras dan curiga, seolah-olah lelaki itu tak mempercayai apa yang dikatakan oleh Dimitri begitu saja. Lelaki itu lalu setengah membungkuk di depan meja tersebut dan mengambil chip tersebut kembali, lalu mengeluarkan alat penerjemah visualisasi digital canggih berukuran tipis seperti kartu dari balik saku jasnya, dan menempelkan chip itu ke alat canggih di tangannya.
Sebuah gambar tampilan dari kamera pengawas langsung terproyeksikan di dinding di hadapan mereka, menampilan pemandangan dari sebuah gerbang perusahaan yang berukuran tinggi.
Akram mengawasi wajah Dimitri, lalu menipiskan bibir setengah mengejek.
“Itu tampilan kamera pengawas di cabang perusahaan distribusi obat-obatan milikmu di negara ini, kalau-kalau kau lupa,” desisnya, memberitahu dengan nada sinis.
Dimitri hanya bisa menganggukkan kepala, menatap tampilan proyeksi kamera pengawas itu dengan penuh rasa ingin tahu. Cabang perusahaannya di negara ini sengaja dia bangun supaya dia bisa tinggal di negara ini dalam waktu lama tanpa harus repot-repot mengurus segala sesuatunya dengan bagian imigrasi. Selebihnya, perusahaan itu dijalankan oleh asistennya yang cukup ahli di bidang bisnis, sehingga Dimitri hampir-hampir tak pernah mengurusinya.
“Apa yang terjadi di sana?” dengan suara bosan, Dimitri mengangkat alis ketika pemandangan tampilan kamera pengawas itu hanya menunjukkan para penjaga yang mondar-mandir di gerbang dan bersiaga seperti biasanya.
Akram menipiskan bibir. “Sebentar lagi,” ujarnya seolah memberi ultimatum.
Benar saja, selesai Akram berucap, sosok yang berjalan sempoyongan dan tampak lusuh seperti pemabuk gelandangan tampak berjalan mendekati arah penjaga, membuat para penjaga langsung bersiaga dan beberapa bersiap-siap menarik senjata. Kemudian, tampak adegan sosok gelandangan itu berusaha bernegosiasi sebelum kemudian jatuh rubuh ke tanah kehilangan kesadaran.
“Dia telah dikonfirmasi sebagai Aaron Dawn, saat ini ada di bawah pengawasanku, tetapi dia tidak mengetahuinya.” Akram menatap tajam ke arah Dimitri. “Sebelum pingsan, dia memperkenalkan diri dan mencarimu.”
“Kau bisa mendapatkan rekaman kamera pengawas di gerbang perusahaanku dengan mudahnya.” Dimitri menatap Akram dengan penuh rasa ingin tahu. Dia salah fokus, bukannya memperhatikan tentang Aaron Dawn yang menurutnya tidak penting, malahan dia merasa terintimidasi dengan betapa mudahnya Akram Night mengambil informasi dari tempat-tempat terpenting yang dijaga ketat sekalipun.
Apakah jangan-jangan, Akram juga menempatkan mata-mata di dalam lingkup terdekatnya selama ini tanpa dia sadari?
Akram menyadari rasa ngeri yang terpatri di mata Dimitri, bibirnya berkerut, menunjukkan ancaman yang nyata.
“Aku bisa mendapatkan apapun dengan mudah. Karena itu, jangan main-main dan mencoba berbohong denganku, Dimitri.” Akram menggeram. “Aku sudah curiga ketika Sabina yang merupakan anak buahmu terlibat dalam hal ini. Sekarang, Aaron Dawn yang melukai Xavier dan ditolong oleh Sabina tiba-tiba datang mencarimu. Apakah jangan-jangan ternyata kaulah otak di balik semua kekacauan ini, tetapi sekarang berpura-pura tanpa dosa di hadapanku?” tanyanya dengan nada menyelisik sampai ke dasar hati.
“Hei, aku sama sekali tak terlibat apa-apa!” Dimitri mengangkat telapak tangannya di dada pertanda menyerah sebagai gerakan refleks yang defensif. “Aku tidak pernah bertemu ataupun berurusan dengan Aaron Dawn sebelumnya. Aku berani bersumpah! Kau bisa melihat rekam jejakku sendiri kalau kau tak percaya.” Dimitri berucap dengan nada kejujuran yang kental untuk melindungi diri, berharap kebenaran yang diungkapkannya cukup untuk meyakinkan Akram.
__ADS_1
Lama Akram mengawasi Dimitri dengan tatapan menusuk tajam, membuat degup jantung Dimitri meningkat lebih cepat tanpa dia sadari. Tak lama kemudian, Akram pun memutuskan.
“Baiklah, untuk saat ini aku akan memegang perkataanmu. Tetapi jika nanti aku menemukan bahwa kau berbohong, kepalamu tidak akan menempel di lehermu lebih lama lagi,” ancamnya dengan nada mengerikan, yang membuat siapapun yang mendengarnya langsung menciut hilang nyali.
Akram lalu melirik mematikan alat pembaca chip yang dibawanya dan menyimpannya kembali ke balik saku jasnya.
“Untuk saat ini, aku akan memaksamu bekerjasama denganku. Ingat, nyawamu ada di tanganku, jadi kau tak punya pilihan lain selain menuruti skenario yang telah kususun bagimu.”
Dimitri mengerutkan keningnya. “Apa maksudmu?” tanyanya bingung.
“Kenyataan bahwa Aaron datang menghubungimu untuk meminta pertolongan, itu berarti bahwa dia tak tahu apa-apa.” Akram menyipitkan mata. “Aku ingin kau mendekatinya, menjadikannya sekutu dan melihat apa rencananya lebih jauh. Xavier memutuskan untuk memberinya obat penawar dan membiarkannya melenggang pergi. Tetapi, aku menduga bahwa Aaron tidak sesederhana itu, dia tak akan melenggang pergi begitu saja dan akan menyulitkan suatu saat nanti jika tak ada tali yang menjerat lehernya.” Tatapan Akram kembali menusuk ke arah Dimitri sebelum berucap, “dan kau akan menjadi orang yang menarik tali jerat leher Aaron Night setiap kali dia bergelagat negatif.”
***
“Nyonya Light.”
Suara panggilan itu membuat Sera yang sedang berjongkok di kebun belakang rumah Xavier menolehkan kepalanya. Cahaya matahari cukup sejuk di pagi yang belumlah bergulir menjadi siang ini dan Sera menghabiskan waktunya sepagian dengan berkebun di taman bunga yang terletak di bagian belakang rumah megah milik Xavier.
Sudah seminggu sejak Sera pulang dari rumah sakit tanpa bertemu dengan Xavier lagi. Sera sendiri menerima berkas klausul dari pengacara mengenai kesepakatan mereka dan membacanya dengan saksama. Pada akhirnya, dia menyetujuinya, karena apa yang diberikan oleh pengacara itu tidaklah ditambah dan dikurangi, sesuai dengan apa yang telah dikatakan oleh Xavier Light kepadanya.
Ada banyak hal yang ingin Sera sanggah dan ingin Sera debatkan dengan Xavier, tetapi akhirnya dia menahan diri. Xavier sedang sakit, dan sakitnya parah. Bukan hanya karena luka tusukannya, tetapi juga karena anemia aplastik yang terus melemahkan tubuhnya dari dalam. Sekeras-kerasnya hati Sera, dia masih memiliki kasih kepada Xavier, yang mendorongnya untuk berdiam diri dan menurut, tak ingin membuat Xavier lebih sakit lagi dari sekarang.
Jika lelaki itu memang ingin membuangnya, maka Sera akan melenggang pergi setelah dia selesai membalas budi. Jika anak yang dikandungnya nanti memang bisa menyelamatkan Xavier, maka Sera akan memberikan sel punca dari plasenta itu dengan senang hati, baru hutang balas budi itu pun terpenuhi dengan impas.
Sedangkan mengenai hatinya… sikap Xavier malam itu sudah menunjukkan segalanya. Mereka hanyalah dua orang yang terikat kesepakatan hutang budi satu sama lain, tidak lebih.
Sera mungkin adalah alat bagi Xavier untuk mendapatkan kesembuhan sekaligus menebus dosa masa lalunya, sementara Xavier adalah penyelamat bagi orang-orang terkasih Sera yang harus dibayar lunas. Setelah kesepakatan itu selesai, maka baik Sera maupun Xavier akan melangkah ke arah yang berlawanan, saling memunggungi dan tidak menoleh lagi.
“Nyonya Light.” Pelayan itu memanggil lagi ketika Sera malah melamun sambil menatap nanar ke udara tak kasat mata di depannya. Panggilannya yang kedua kali ini, berhasil membuat Sera tergeragap dan langsung menatap mata pelayannya dengan bingung.
“Ada apa?” tanyanya lembut, seperti biasanya.
“Dokter Nathan datang kemari untuk menemui An-.” Sebelum sempat menyelesaikan kalimatnya, pelayan itu teralihkan perhatiannya oleh langkah kaki yang mendekati area pintu kaca yang menghubungkan langsung dengan taman bunga tempat Sera masih berjongkok di tanah. “Ah, Anda sudah di sini, Dokter.” Pelayan itu sedikit membungkuk dengan sikap hormat ketika menyadari bahwa Dokter Nathan telah menyusul ke area belakang rumah.
“Aku akan berbicara dengan Nyonya Light di sini. Terima kasih, kau boleh pergi.” Dokter Nathan berucap sambil menghadiahkan senyumnya yang memesona ke arah pelayan itu, membuat wanita muda itu sedikit tersipu dalam rona merah sebelum kemudian membungkuk lagi dan berpamitan pergi.
Dokter Nathan lalu menolehkan kepala ke arah Sera yang sedang berdiri sambil menepuk-nepuk tanah yang membasahi celemek berkebunnya. Keningnya berkerut, menyiratkan ketidaksetujuan.
“Seharusnya kau tidak berkebun sebelum kehamilanmu dipastikan.” Dengan khawatir, Dokter Nathan mengawasi tanah yang mengotori tangan Sera. “Selain pada daging mentah, dan media kotoran kucing yang memakan tikus atau daging mentah, virus toksoplasma bisa bertahan hidup dengan baik di tanah, bahkan bisa bertahan sampai satu tahun di bawah paparan matahari jika berada di atas tanah.” Mata Dokter Nathan mengawasi Sera dengan saksama. “Kau tentu tahu tentang virus toksoplasma, bukan? Virus itu tidak bergejala dan hanya memberikan gejala ringan kepada manusia, tetapi berbeda imbasnya jika diderita oleh ibu yang sedang hamil muda. Virus itu menyerang janin di dalam perut, menciptakan keguguran beruntun, atau biarpun bayinya bisa lahir dengan selamat, tetap saja dibayang-bayangi oleh kemungkinan cacat lahir yang sangat besar.”
Ya, dia tahu bahwa virus toksoplasma merupakan momok mengerikan yang selalu diupayakan untuk dihindari oleh para ibu hamil, tetapi pengetahuannya itu hanyalah selewat lalu dan dia kemudian melupakannya karena merasa dia tidak sedang berada di posisi ibu hamil. Ketika melihat bunga-bunga bermekaran di kebung belakang Xavier, Sera tergerak untuk merapikan daunnya dan memetik beberapa tangkai untuk hiasan vas bunga, dia lupa bahwa kemungkinan besar, dia memang sudah hamil.
“Aku akan mencuci tangan dan berganti pakaian, membersihkan diri sampai bersih, setelah itu aku akan menemuimu di ruang tamu, Dokter.” Sera menyahuti cepat. Dia tahu bahwa virus itu masuk melalui makanan atau tangan terkontaminasi yang memasukkan makanan ke dalam mulut, jadi jika Sera mencuci tangan dan bagian yang terkena tanah dengan sebersih-bersihnya, dia akan terhindar dari kemungkinan terpapar virus.
“Baiklah, aku akan menunggu di ruang tamu.” Dokter Nathan menganggukkan kepala, lalu melangkah pergi meninggalkan ambang pintu kaca itu dan mendahului Sera berlalu.
***
“Ada apa?”
Setelah selesai berganti pakaian dan membersihkan diri, Sera turun ke ruang tamu dan bergegas duduk dengan was-was di sofa yang terletak berhadapan dengan posisi Dokter Nathan duduk. Kegelisahan mulai menguasai dirinya.
Sejak Sera pulang ke rumah ini, tak ada komunikasi sama sekali antara dirinya dengan Xavier. Satu-satunya orang suruhan Xavier yang menemuinya adalah pengacaranya yang dikirim untuk memberikan berkas klausul kesepakatan yang telah mereka setujui sebelumnya.
Apakah Dokter Nathan datang untuk melakukan apa yang diduganya?
“Aku datang atas perintah Xavier.” Dokter Nathan langsung berucap, menjawab pertanyaan di hati Sera dengan cepat. “Kurasa ini adalah waktu yang tepat untuk mengambil sampel darahmu guna memastikan kehamilanmu.”
“Oh,” Sera menganggukkan kepala. Apa yang disampaikan oleh Dokter Nathan sudah ditebaknya dengan tepat sejak tadi. Tetapi, entah kenapa jantungnya tetap saja berdebar lebih cepat daripada yang seharusnya, dipenuhi oleh semburan adrenalin yang mengucur tak terkendali pada aliran darahnya.
“Apakah kau sudah makan? Kau tidak pusing dan berada dalam kondisi yang sehat, bukan?” Dokter Nathan menatap Sera dengan khawatir ketika Sera hanya menanggapi perkataannya dengan gumaman.
Sera tergeragap, lalu segera menganggukkan kepalanya. “Aku baik-baik saja, Dokter,” ucapnya pelan setengah berbisik. “Apakah kau akan mengambil darahku sekarang? Disini? Atau aku perlu pergi ke rumah sakit?”
“Aku datang khusus untuk mengambil sampel darahmu di sini. Xavier tak ingin kau datang ke rumah sakit.” Dokter Nathan berucap sambil lalu dan bergerak mengeluarkan peralatan dari tas yang dibawanya.
Tanpa disadarinya, bahwa perkataannya itu membuat jantung Sera seolah tertusuk sembilu, memucatkan wajahnya karena deraan rasa sedih dan sakit hati.
Xavier Ligt benar-benar melakukan apa yang dikatakannya. Dia sama sekali tak ingin berhubungan dengan Sera kecuali yang berhubungan dengan bayi itu.
Tetapi, kenapa Sera harus merasa sedih? Bukankah dia juga telah bertekad untuk menjadikan Xavier hanyalah sebagai orang asing yang kebetulan memberinya bantuan kepadanya sehingga sebagai timbal baliknya dia harus membayar budi? Bukankah dia sendiri yang ingin hubungan mereka menjadi hubungan transaksional dua orang asing yang mengutamakan keuntungannya sendiri-sendiri?
Tidak seharusnya Sera merasa sedih, pun tidak seharusnya dia melibatkan hati dan perasaannya di sini.
__ADS_1
“Sera.” Dokter Nathan tiba-tiba berucap, mengalihkan perhatian Sera yang sedang merenung.
Ketika Sera memfokuskan pandangannya ke arah Dokter Nathan, disadarinya bola mata jernih sang dokter menyiratkan permohonan maaf atas perkataan sebelumnya yang diucapkan sambil lalu.
“Jangan salah paham, Xavier melarangmu ke rumah sakit karena dia mencemaskan kondisimu. Siapa yang tahu bahwa sekarang kau mungkin sudah hamil, sementara rumah sakit adalah tempat berkumpulnya virus dan penyakit, seorang ibu yang sedang hamil muda sangatlah rentan berada di sana.”
“Aku mengerti.” Sera tidak bisa menerima penjelasan Dokter Nathan itu sepenuh hati, tetapi dia langsung menyetujui karena tak ingin memperpanjang pembahasan mengenai masalah ini. “Kau boleh mengambil darahku sekarang,” Sera mengangkat dagu dan memberikan lengannya dengan tegar.
***
“Aku datang membawa hasil test HCG dari sampel darah urine Sera.” Tanpa berbasa basi, Dokter Nathan langsung berucap begitu langkahnya memasuki kamar perawatan Xavier.
Xavier sendiri sudah mulai pulih perlahan-lahan, kondisinya tak selemah ketika dia baru saja mendapatkan luka tusukan itu. Rasa sakit yang dideritanya sudah mereda seiring dengan berjalannya waktu. Bahkan pada saat ini, Xavier sudah bisa duduk sendiri di atas ranjang rumah sakitnya tanpa meminta bantuan.
“Bagaimana keadaan Sera?” mengabaikan peryataan Dokter Nathan sebelumnya, Xavier bertanya tenang.
“Dia baik-baik saja dan sehat, ketika aku datang, dia sedang berkebun di taman bunga belakang.” Dokter Nathan menyahuti perlahan sambil melangkah mendekat ke ranjang perawatan Xavier.
Xavier langsung menganggukkan kepala, mengulas senyum di bibirnya.
“Kepala pelayan melapor kalau Sera memakan makanan yang disiapkan untuknya sampai tandas, pada beberapa malam, dia terbangun dengan mata sembab seperti habis menangis, tetapi akhir-akhir ini dia sudah tak menangis lagi,” simpulnya lembut ketika membahas tentang Serafina Moon.
Dokter Nathan mengerutkan kening. Tiba-tiba merasa gemas kepada dua manusia keras kepala di depannya ini.
Mereka terlihat sama-sama menderita, tetapi kenapa keduanya begitu keras hati dan tak mau terbuka satu sama lain mengenai keinginan terdalam hati mereka masing-masing?
“Apakah kau benar-benar akan melakukan kesepakatan itu? Membuat Sera hamil supaya dia tak merasa berhutang budi lagi kepadamu?” Dokter Nathan akhirnya berucap, tak bisa menyembunyikan kecemasan dalam suaranya.
“Ya. Aku sudah memutuskan akan melakukannya. Sera juga telah menyetujui klausul itu.” Telinga Xavier yang tajam tentunya bisa langsung menangkap kecemasan di dalam suara Dokter Nathan. Perlahan lelaki itu mendongakkan kepalanya, menatap Dokter Nathan dengan pandangan penuh rasa ingin tahu. “Kenapa, Dokter? Adakah sesuatu yang mengganggumu?” tanyanya kemudian sedikit waspada.
Dokter Nathan menghela napas panjang, lalu menyerahkan berkas di tangannya ke arah Xavier, membiarkan lelaki itu membuka amplop hasil test laboratorium itu dan membacanya.
“Kurasa, kau harus berusaha lebih keras untuk mewujudkan rencana yang telah kalian berdua sepakati itu, Xavier. Karena hasil test yang paling akurat menuliskan bahwa Serafina Moon tidak sedang dalam kondisi hamil.”
***
Hello.
Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.
Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD SUDAH tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book.
EOTD / Essence of The Darkness ---> Kisah Akram dan ELana
EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera ( Ebook BELUM tersedia)
Kata kunci di g00gle book :
Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt
Diterbitkan oleh projectsairaakira.
Bonus khusus 10 Part EOTD ekslusif hanya ada di Ebook sebagai berikut :
EOTD Bonus 1 : Morning Sick
EOTD Bonus 2 : Penyesalan
EOTD Bonus 3 : Anti Akram
EOTD Bonus 4 : Menjaga Jarak
EOTD Bonus 5 : Perpisahan
EOTD Bonus 6 : Memeluk Lagi
EOTD Bonus 7 : Rekonsiliasi
EOTD Bonus 8 : Permintaan Istri
EOTD Bonus 9 : Anugerah Terindah
EOTD Bonus 10 : Ayah Bahagia
__ADS_1
Terima Kasih.
AY