
EOTL ( Essence Of The Light ) - EOTD Season 2 - Kisah Xavier dan Sera
EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera. Akses baca ebook akan tersedia di bulan November hanya di website projectsairaakira + bonus mini novel part eksklusif yang hanya bisa dibaca di sana
****
****
****
Aaron menyadari kehadiran helikopter itu tanpa sengaja. Helikopter itu rupanya telah berhasil mengikuti Aaron diam-diam dalam senyap dan menjaga jarak aman pada titik buta pandangan matanya terhadap kaca spion dengan tujuan supaya Aaron tidak menyadari kehadiran mereka yang mengikuti diam-diam.
Sayangnya, polah tingkah manusia-manusia lain di sekitar Aaron malahan membuka kedok penguntitan diam-diam yang mereka lakukan. Pertama-tama, ada sebuah mobil yang melintasi Aaron, mobil itu melambat dan Aaron melihat salah seorang lelaki di kabin penumpang menunjuk-nunjuk ke atas dengan bersemangat sebelum kemudian mengambil potret dengan kamera ponselnya berkali-kali. Kejadian yang sama berlangsung beberapa kali sampai Aaron akhirnya memutuskan mengambil risiko dan menolehkan kepala ke belakang sambil melambatkan mobilnya untuk melihat apa yang sebenarnya dilihat oleh para penumpang mobil lain yang telah berlalu setelah mengamati dengan sangat tertarik sekaligus mengambil gambar itu.
Dan keberadaan helikopter itu langsung tertangkap oleh mata Aaron.
Aaron menipiskan bibirnya dengan penuh kemarahan. Luar biasa, Xavier Light, pantas saja lelaki itu begitu tenang dan tak menyuruh mobil untuk menguntit dan mengikuti dia kemari. Ternyata, lelaki itu memiliki kendaraan yang lebih canggih untuk menguntitnya.
Helikopter itu sudah pasti adalah jenis penemuan terbaru, karena tidak seperti helikopter pada umumnya, helikopter ini sama sekali tak bersuara, pun dengan hembusan angin dari baling-balingnya, sama sekali tak terdengar ribut dan tak sekeras angin yang dihasilkan oleh baling-baling helikopter biasa. Bentuk helikopter itu juga jauh lebih ramping dan tipis dibandingkan dengan ukuran biasanya.
Aaron tak bisa menolehkan kepalanya terlalu lama ke belakang, karena itulah dia hanya bisa mengambil pengamatan sepintas lalu terhadap helikopter tersebut. Satu yang pasti bisa dia temukan adalah adanya penembak jitu yang ditempatkan di dalam helikopter itu, siap untuk membidiknya.
Aaron tahu bahwa dia tak boleh lengah. Kenyataan bahwa penembak jitu di dalam helikopter itu tak membidiknya adalah karena saat ini dia sedang mengemudi dengan kecepatan tinggi dan membawa dokter Nathan sebagai penumpangnya.
Mereka pasti mengkhawatirkan kondisi dokter Nathan jika mereka menembak sekarang dan menyebabkan mobil itu oleng di jalan tol lalu tersambar mobil lainnya hingga menciptakan kecelakaan.
Saat ini posisi Aaron masih aman, tetapi dia tahu bahwa hal ini tidak akan berlangsung lama. Mata Aaron melirik dengan cemas ke arah tampilan meteran bensin di dashboard mobilnya. Bensinnya sudah menipis dan tak lama lagi akan habis.
Sialan! Semua ini karena Xavier menyuruh anak buahnya mengikuti dalam perjalanan pulang dari kantor dan menuju kantor hari ini. Semua hal itu membuat pikiran Aaron terdistraksi hingga dia tak punya pikiran untuk melakukan hal penting seperti mengisi penuh tangki bensinnya untuk kepentingan melarikan diri.
Helikopter senyap yang mengikuti di belakangnya itu pastilah akan terus mengikutinya dengan keras kepala dan bukan tidak mungkin mereka memang menunggu sampai mobil Aaron kehabisan bahan bakar dan terpaksa berhenti hingga mereka bisa menembak dan meringkus Aaron tanpa kendala.
Itu semua tak boleh terjadi! Aaron harus melakukan sesuatu untuk keluar dari mobil ini tanpa ditembak dan bisa menuju ke tempat persembunyiannya tanpa terlacak.
Mata Aaron kembali melirik ke arah dokter Nathan dan dia akhirnya memutuskan. Sebelah tangan Aaron lepas dari kemudi dan mengeluarkan kembali jarum suntik berisi cairan sedatif dosis tinggi di tabungnya.
Dokter Nathan yang sejak tadi diam, melirik ke arah tangan Aaron dan menyadari maksudnya. Bibir lelaki itu membentuk senyuman tipis, seolah tak ada rasa takut meskipun dia tahu apa yang akan dilakukan oleh Aaron terhadapnya setelah ini.
“Bagaimanapun kau berusaha, kau tak akan lolos dari Xavier, Aaron.” Dokter Nathan berucap dengan nada penuh keyakinan, berusaha memprovokasi Aaron.
Mata Aaron sendiri langsung berkilat oleh kemarahan. Bibirnya menipis geram ketika dia menyahuti kemudian.
“Kurasa, kau tak akan hidup untuk melihat apakah perkataanmu itu bisa dibuktikan atau tidak. Kemungkinan besar, kau sudah berada di alam baka dan tidak bisa menjadi saksi ketika aku berhasil menunjukkan kepada dunia bahwa aku bisa mengalahkan Xavier Light yang kalian agung-agungkan itu.” Kemudi mobil sedikit oleng hingga Aaron mengalihkan perhatiannya sejenak dan menatap lurus ke jalan sambil mengendalikan kembali mobil itu. Setelahnya, lelaki itu menolehkan kepala ke arah Nathan dan menyeringai kejam. “Tapi dengan rendah hati kurasa aku tetap perlu meminta maaf kepadamu, aku jelas tidak punya dendam pribadi terhadapmu, dokter Nathan. Kurasa kau hanya sedang berada di tempat dan situasi yang salah. Mungkin kau harus mengutuki nasib burukmu sendiri.”
Sambil mengucapkan kalimatnya, Aaron tidak menunggu lebih lama lagi. Dengan cepat lelaki itu mengayunkan tangannya, lalu menghujam ke arah dokter Nathan yang tak bisa menghindar karena kaki tangannya terikat rapat dan tubuhnya juga terikat oleh sabuk pengaman yang melintang di perut dan dadanya.
Jarum suntik itu menancap rapat, dan tanpa penghalang langsung mengalirkan isinya ke dalam tubuh dokter Nathan sampai habis keseluruhannya. Aaron kemudian mencabut jarum suntik yang isi cairan di tabungnya telah kosong itu dan membuangnya ke lantai. Lelaki itu memfokuskan dirinya kembali untuk menyetir, sementara di sampingnya, dokter Nathan yang menerima reaksi dari obat itu langsung perlahan-lahan kehilangan kesadarannya tanpa perlawanan, hingga akhirnya, tubuh lelaki itu lunglai dengan mata terpejam rapat dan tubuh melemas membungkuk ke muka dan pastinya akan jatuh kalau saja tidak ditahan oleh sabuk pengaman yang mengikatnya.
Aaron menekan gas mobilnya dengan kuat, lalu bermanuver menembus jalanan dan menyalip mobil demi mobil yang dialuinya.
Sambil terus menyetir dan mengebut, matanya memindai serta mencari-cari.
Dia hendak mengambil risiko tinggi, jadi dia harus menemukan yang tepat secara ukuran supaya tidak membahayakan dirinya sendiri dalam upayanya melarikan diri.
Sambil menginjak gasnya lebih dalam, Aaron terus mencari dan mencari, hatinya mulai dilanda kecemasan karena tak juga menemukan apa yang dicarinya. Namun, dewi keberuntungan seolah berpihak kepada dirinya.
Dia menemukan apa yang dicarinya!
Mobil itu berukuran sangat mungil dan terlihat rapuh, berwarna kuning kusam dan tampak melaju lambat-lambat di jalur lambat jalan tol itu.
Aaron menghela napas panjang dan menguatkan dirinya. Lalu setelahnya, dia memegang kencang kendali mobilnya sambil menginjak gas dalam-dalam. Yang diincarnya hanyalah satu, mobil mungil itu yang akan ditabraknya dengan keras.
Dalam hitungan detik, suara hantaman keras dan decit rem yang memekakkan telinga terdengar kuat di jalan tol yang cukup ramai itu. Aaron berhasil mencapai maksudnya dengan menabrakkan diri ke arah mobil kecil yang rapuh itu dan membuka jalannya untuk melarikan diri.
***
Xavier berlari melintasi lorong rumah sakit itu begitu mendapatkan kabar. Matanya bertemu dengan Akram yang tengah berdiri tegak sambil melipat tangan dan menatap ke arah pintu tertutup di depannya.
“Bagaimana kondisi Nathan?” Xavier langsung bertanya ketika dia berdiri di hadapan Akram, matanya menatap ke arah pintu tertutup yang sama seperti yang sedang ditatap oleh Akram, tahu bahwa di balik pintu itu, Nathan yang diselamatkan dari tabrakan di jalan tol yang mematikan oleh anak buah mereka, sedang ditangani.
__ADS_1
“Kondisinya sangat kritis. Ketika Nathan dibawa masuk tadi, dokter mengatakan bahwa dia tidak yakin bahwa Nathan bisa diselamatkan.” Suara Akram terdengar parau ketika menjawab.
Bukan hanya tubuhnya telah mengalami overdosis obat sedatif yang dengan kejam telah disuntikkan oleh Aaron kepadanya, Nathan harus menderita luka parah karena tubuhnya yang lunglai kehilangan kesadaran terjepit di dashboard mobil saat kecelakaan yang sengaja dilakukan oleh Aaron itu terjadi.
Dengan jahat, Aaron memilih menabrakkan sisi mobil di area tempat Nathan duduk demi menyelamatkan dirinya sendiri dan melarikan diri dari lokasi kecelakaan.
Xavier membeku mendengar jawaban itu. Dia tahu bahwa situasi dokter Nathan sangatlah kritis, tapi hatinya masih tidak siap menerima kenyataan bahwa kemungkinan besar Nathan tidak bisa diselamatkan.
Dokter Nathan masih muda, belum menikah, belum menemukan cinta sejati dan sedang berada di puncak usia dengan karir dan kehidupannya yang cemerlang. Bagaimana mungkin Nathan tak bisa diselamatkan? Akanlah satu nyawa kembali tercabut sia-sia dan menjadi korban kembali dari kejahatan Aaron?
“Apakah kau sudah menemukan jejak tentang Aaron?” Akram seolah bisa membaca apa yang bergolak di dalam hati Xavier, ekspresinya tampak begitu dingin dan muram ketika bertanya.
Xavier menggelengkan kepala. “Dia rupanya sudah mempersiapkan semua. Tabrakan itu dia gunakan sebagai kesempatan untuk melarikan diri. Tim penyelamat di helikopter harus memfokuskan diri pada penyelamatan dokter Nathan yang terjepit di mobil dalam kondisi overdosis, mereka terpaksa mengabaikan Aaron yang berhasil melarikan diri dengan leluasa di tengah kerumunan orang yang berkumpul di lokasi kecelakaan tersebut.” Xavier mengepalkan tangannya dengan geram. “Kurasa, Aaron sudah mempersiapkan semuanya. Dia memiliki tempat persembunyian di kota ini yang telah dipilihnya sejak awal.”
Akram menganggukkan kepala. “Kau harus menggunakan semua cara, semua sumber yang kau miliki, dan semua hal yang bisa kau kerahkan untuk menangkap Aaron.”
Xavier menganggukkan kepala. “Aku akan melakukannya.”
Mata Akram kembali tertuju pada pintu yang tertutup rapat, tempat dokter Nathan sedang meregang nyawa di sana, berjuang di antara hidup dan mati.
“Jika kau telah berhasil menemukan Aaron, maka berikan dia racun dengan reaksi paling menyakitkan yang pernah ada. Aku ingin dia menderita sebelum dia bisa menyambut saat kematiannya.” Akram berucap kemudian, tak bisa menyembunyikan aura kekejaman yang menguar dari kalimatnya.
***
“Bagaimana dengan dokter Nathan?”
Sera bertanya cemas ketika Xavier kembali melangkah memasuki kamar tempatnya dirawat. Mereka tengah bersama ketika Derek masuk membawa kabar mengenai kecelakaan yang terjadi dalam upaya pelarian Aaron yang menyebabkan dokter Nathan saat ini berada dalam kondisi kritis.
Ekspresi Xavier tampak muram ketika lelaki itu menggelengkan kepalanya perlahan.
“Masih belum ada perkembangan. Tim dokter sudah berusaha semaksimal mungkin untuk membuat kondisi dokter Nathan stabil, dan saat ini hanya tinggal menunggu apakah dokter Nathan bisa melalui saat kritisnya atau tidak.” Dengan suara sedih Xavier menjawab.
Ketika dilihatnya mata Sera yang berkaca-kaca, Xavier langsung menghampiri istrinya itu dan memeluknya.
“Ssh... jangan sedih. Kita masih belum tahu apa yang terjadi ke depannya nanti. Namun, aku yakin Nathan adalah lelaki yang kuat, dia memiliki kesempatan besar untuk melewati masa kritisnya.”
“J-jika sampai dokter Nathan tak terselamatkan... sedikit banyak aku memiliki andil kesalahan dalam kematiannya,” Sera berbisik dengan suara bergetar yang dipenuhi ngeri bercampur kesedihan. “A-aku sungguh tak ingin ada satu nyawa lagi yang dikorbankan. Aku tak ingin dokter Nathan meninggal,” isaknya perlahan.
Xavier menghela napas dalam dan merapatkan istrinya dalam pelukanya. Lelaki itu duduk di tepi ranjang dan merangkul Sera erat-erat hingga kepala perempuan itu tenggelam di dadanya.
“Aku mengerti apa yang kau rasakan, Sera. Namun, jika terjadi sesuatu pada dokter Nathan nanti, kuharap kau tak terlalu menyalahkan dirimu.” Xavier menghadiahkan kecupan di dahi Sera dengan sikap lembut. “Yang bersalah dalam hal ini adalah Aaron, bukan dirimu. Penjahat dalam kisah ini adalah Aaron dan bukan kau. Tindakan Aaronlah yang membawa semua bencana ini. Jadi, salahkan Aaron. Jangan salahkan dirimu.”
Sera menipiskan bibir, menatap Xavier sendu dalam sedu sedan yang terdengar pedih.
“Akan tetapi, semua hal yang dilakukan oleh Aaron ini... semuanya berhubungan denganku, bukan? Bagaimana mungkin aku tidak merasa bersalah?” bisiknya terbata.
Xavier meraih dagu Sera dan mendongakkan wajah perempuan itu.
“Apakah kau pernah merayu dan menggoda Aaron supaya terjatuh dalam pesonamu lalu terobsesi padamu? Tidak, bukan?” Dengan pelan Xavier mengajukan pertanyaan retoris yang dijawabnya sendiri. “Kegilaan Aaronlah yang membuatnya terobsesi denganmu, jadi kumohon, jangan membebankan tanggung jawab yang bukan milikmu di pundakmu, Sera.” Xavier mengecup bibir Sera dengan lembut. “Kau adalah ibu dari dua putri cantikku, mereka membutuhkanmu yang kuat dan tegar supaya bisa terus memeluk dan melindungi mereka, jadi jangan membebani dirimu serta membuat dirimu terpuruk, ya?”
Nada suara Xavier sangat lembut, dipenuhi permohonnan penuh kasih dari seorang suami yang mencintai istrinya. Dan ketulusan dalam nada suaranya itu menyentuh hati Sera dengan kekuatan penuh, membuat Sera tak bisa melakukan hal lain selain menganggukkan kepalanya.
“Aku akan berusaha,” Sera berbisik perlahan sambil menghela napas dalam-dalam untuk menenangkan diri dan meredakan isakannya.
Xavier tersenyum, membalas anggukan Sera dengan anggukan yang sama.
“Bagus. Kau berbahagialah saja, jangan pikirkan apa-apa. Mengenai semua hal yang terjadi di luar sana, biarkan aku, suamimu, yang menanggungnya untukmu.” Xavier berucap tenang, lalu mengetatkan pelukan lengannya. Telapak tanganya mengusap-usap pundak dan punggung Sera, seolah berusaha membuainya.
“Tidurlah terlebih dahulu. Istirahatkan dirimu, sayang. Aku akan menjagamu saat kau tertidur,” Xavier bergumam lembut, nadanya mengayun laksana lagu nina bobo yang disenandungkan dengan indahnya, membuai Sera ke dalam kantuk yang dalam. “Semoga esok hari nanti, kita semua menerima kabar baik,”
Xavier menambahkan kalimatnya dengan harapan dan Sera langsung menganggukkan kepala, menyetujui harapan itu dan berdoa dengan sepenuh hatinya supaya harapannya itu dikabulkan.
***
Rumah itu benar-benar sempurna sebagai rumah persembunyian.
Pada akhirnya, setelah perjuangan keras berjalan melalui jalan-jalan sepi memutar yang tak terlacak oleh kamera pengawas manapun, Aaron berhasil mencapai rumah ini. Dirinya tak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum puas ketika memandang rumah mungil yang terletak di dalam kompleks perumahan sederhana yang cukup padat dan ramai penduduk.
__ADS_1
Ya, dia tidak memilih pondok di tengah hutan atau villa tersembunyi di perkebunan yang susah dijangkau sebagai tempat persembunyiannya. Aaron bisa dibilang memilih tempat yang sangat berkebalikan dengan itu semua dengan memilih rumah mungil di pusat kota, di tengah perumahan paling padat penduduk yang bisa ditemukannya di negara ini.
Rumah ini sudah pasti menjadi penyelamatnya. Dia yakin bahwa semua orang pasti akan berpikiran yang berkebalikan dengan dirinya, mereka akan mencari di tempat-tempat tersembunyi dan terpencil di tengah suasana sepi dengan pikiran bahwa Aaron akan memilih lokasi semacam itu sebagai persembunyiannya. Sayangnya, orang-orang bodoh itu tidak sadar bahwa Aaron memilih lokasi yang bertolak belakang dengan perkiraan semua orang.
Dengan begini dia bisa memperdaya Xavier dan menunjukkan bahwa ternyata otaknya jauh lebih cerdas dari Xavier Light yang diagung-agungkan sebagai pria jenius itu.
Hari masih pagi ketika Aaron mencapai rumah itu. Dia berhasil membeli topi di perjalanan tadi untuk melindungi wajahnya dari kamera pengawas yang mungkin akan menangkap sosoknya. Kecelakaan disengaja yang dilakukannya tadi tidak cukup banyak melukainya, hanay merobek sedikit kain lengan pakaiannya dan menyisakan baret dan lecet di beberapa bagian tubuhnya.
Dengan sedikit usaha, Aaron juga berhasil membeli pakaian ganti di toko terpencil yang dilaluinya di jalan, dia juga membuang pakaian lamanya ke sungai sehingga akan susah untuk ditemukan. Orang-orang yang mencarinya dengan mengandalkan pakaian terakhir yang terlihat dikenakan olehnya, sudah pasti tidak akan bisa menemukannya.
Beruntung pula Aaron sampai di rumah persembunyian ini saat hari masih pagi, dimana matahari masih malu-malu menampakkan cahayanya. Meskipun lokasi rumah ini ada di perumahan padat penduduk, tetapi di jam-jam seperti ini, orang-orang masih sibuk berkutat di dalam rumah, sibuk mempersiapkan diri untuk menjalani hari yang akan segera terang benderang melewati fajar. Karena itulah, suasana di jalan-jalan menuju rumah persembunyiannya cukup lengang, hanya ada beberapa orang yang sedang berlari pagi atau membawa anjingnya jalan-jalan dan mereka semua tampaknya terlalu sibuk untuk memperhatian Aaron.
Langkah kaki Aaron masih terpaku di depan pagar rumahnya dan mengamati. Rumah ini mungil, bercat putih dan sepertinya diperuntukkan bagi keluarga muda yang sedang menjalani awal masa rumah tangganya dengan satu anak saja. Di area terasnya, terdapat ruang sempit beralaskan rumput hijau dan dipenuhi oleh pepohonan yang rimbun dan meneduhkan. Dinding antara rumah dengan rumah tetangga yang ada di kiri kanannya sudah terbangun tinggi untuk menciptakan privasi satu sama lain, hingga antar tetangga tak bisa saling mengurusi.
Aaron tersenyum puas. Salah satu keuntungan mengambil rumah di lingkungan tengah kota adalah karena orang-orang di perkotaan lebih individual daripada orang-orang desa atau di pinggiran kota. Penduduk di perumahan ini adalah warga yang sibuk, individualis dan memiliki banyak kepentingan sendiri sehingga mereka tak punya cukup waktu untuk mengurusi tetangga mereka. Ketidakpedulian itulah yang mendukung persembunyian Aaron menjadi sempurna.
Setelah melirik ke kiri dan kanannya untuk memastikan tak ada yang melihat ke arahnya, Aaron membuka gerbang rumah itu dan masuk ke dalam area teras. Tak lupa dia mengunci kembali pagar gerbang itu, lalu masuk menyeberangi area teras hijau dan melangkah menuju pintu rumah.
Rumah itu diberikan kunci dengan keamana khusus yang terlah dibuat oleh Aaron jauh-jauh hari. Pintu itu hanya bisa dibuka dengan password berupa pin yang hanya diketahui oleh Aaron.
Dengan cepat Aaron menekan enam digit angka yang sudah dihapalnya di luar kepala, dan pintu rumah itu pun terbuka. Aaron melangkah masuk dengan segera, membiarkan pintu di belakangnya mengunci sendiri dan langsung menutup otomatis.
Tanpa melihat ke kiri dan ke kanan, Aaron langsung menyeberangi area ruang tamu yang menyatu dengan area ruang duduk yang luas dan segera melangkah memasuki kamar tidur utama yang terkunci dengan metode yang sama.
Setelah membuka pintu itu dengan kode pin yang sama, Aaron lalu melangkah masuk ke kamar itu dan bergerak membuka pintu kaca yang tertanam di dinding.
Di balik pintu itu, ada brankas yang berukuran sangat besar yang terpasang kokoh di sana, tertanam di dalam tembok tebal dan terlindungi dengan aman.
Aaron membuka brankas itu dengan kode khusus dan bibirnya menyeringai puas ketika melihat apa yang ada di dalam brankas itu.
Itu semua adalah perlengkapan bertarungnya menghadapi Xavier dan pelicin usahanya untuk mendapatkan Sera dan merenggutnya dari Xavier....
Di dalam brankas itu, selain sejumlah uang tunai dalam nomilan yang cukup besar, terdapat jajaran wajah-wajah dari bahan silikon sintetis yang permukaan kulitnya sangat mirip dengan wajah manusia. Itu adalah topeng-topeng penyamaran yang mirip dengan yang digunakan dalam film-film spionase, dan tentu saja topeng wajah yang dimilikinya ini memiliki kualitas lebih baik dari di film-film, karena topeng wajah ini dibuat langsung oleh dokter Rasputin, ahli membuat wajah yang ternyata juga sangat berbakat dalam membuat topeng penyamaran.
Ada lebih dari setengah lusin topeng yang tersedia di sana dengan identitas yang berbeda-beda yang telah disiapkan oleh Aaron.
Mata Aaron mengawasi sambil menimbang-nimbang, lalu dia mengambil topeng wajah seorang pria setengah baya. Pria ini adalah kepala perawat di fasilitas kesehatan tempat ayah Sera dirawat,
Ya. Aaron tidak akan melakukan tindakan bunuh diri dengan berusaha menggapai Sera yang saat ini sudah pasti sedang berada di bawah pengawalan ketat anak buah Xavier yang berkemampuan tinggi. Karena itulah dia membutuhkan ayah Sera.
Sebab, dengan dia memiliki ayah Sera dalam genggamannya, dia tidak akan perlu repot-repot berusaha menarik Sera kepadanya. Sera sendirilah yang akan datang kepadanya dengan sukarela.
***
***
***
***
Hello.
EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera. Akses baca ebook akan tersedia di bulan November hanya di website projectsairaakira + bonus mini novel part eksklusif yang hanya bisa dibaca di sana
Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.
Follow instagram author jika sempat yak, @anonymousyoghurt
Yours Sincerely
AY
__ADS_1