Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
EOTL eps 81 : Permohonan Nathan


__ADS_3

EOTL ( Essence Of The Light ) - EOTD Season 2 - Kisah Xavier dan Sera


****


****


****


Tubuh Xavier begitu berat, menimpa Sera hingga membuatnya hampir rubuh jatuh ke lantai. Beruntung Sera berhasil memundurkan langkah hingga bagian belakang lututnya menyentuh tepian ranjang, yang bisa menjadi penopang kakinya supaya tak ikut jatuh tertimpa tubuh Xavier.


Lelaki itu benar-benar kehilangan kesadaran, lunglai tak bertenaga, benar-benar bersandar sepenuhnya dan menimpakan beban tubuhnya ke tubuh Sera. Karena itulah, butuh perjuangan keras bagi Sera untuk menopang Xavier.


Ketika akhirnya kakinya gemetaran dan tubuhnya hampir rubuh ke ranjang, kembali Sera berteriak sekencang mungkin, berusaha menggapai indra pendengaran para bodyguard yang berjaga di luar kamarnya.


Teriakannya ternyata tak sia-sia, pintu itu terbuka dan dua orang bodyguard masuk dengan cemas. Mata mereka membelalak ketika melihat tuan mereka lunglai menimpa tubuh istrinya, segera mereka merangsek mendekat dan dengan sigap membantu, meraih tubuh Xavier lalu membantu membaringkan lelaki itu ke atas ranjang kamar perawatan.


Salah satu bodyguard bergegas menekan tombol darurat untuk memanggil paramedis ke dalam ruang perawatan, dan seolah itu belum cukup, para bodyguard itu juga bergerak keluar, hendak menjemput sendiri tim medis yang sedang berada di lantai lain.


Sera sendiri duduk di tepi ranjang, berusaha menetralkan napasnya yang terengah, matanya menatap ke arah Xavier yang terbaring pucat pasi, dengan noda darah memerah di wajahnya.


Lelaki itu tampak begitu pucat seputih kertas, hingga seolah-olah napas kehidupannya telah berangsur memudar, melayang jauh hendak meninggalkan raganya.


Sera membelalak, langsung berusaha menyingkirkan bayangan mengerikan yang terlintas begitu saja di benaknya. Melupakan napasnya yang masih terengah, Sera memaksa dirinya berdiri, lalu mengambil baskom dari bahan metal yang tersedia di nakas samping ranjang sebelum kemudian mengisinya dengan air hangat dari wastafel, disambarnya handuk kecil dalam perjalannya kembali ke Xavier, lalu dia duduk di tepi ranjang, kali ini dekat dengan kepala lelaki itu yang terdiam kaku tak bergerak sama sekali.


Sera lalu mengusapkan handuk itu itu membersihkan wajah Xavier. Tangannya gemetaran ketika merasakan betapa dinginnya permukaan kulit Xavier. Pada saat itulah, Sera tak bisa menahan air matanya. Dia terisak, mengusap noda darah di wajah Xavier sambil bercucuran air mata tak terkendali.


Seluruh rasa sedih, rasa takut kehilangan, rasa bersalah, semua itu bercampur dengan rasa cinta yang baru dia sadari dan tak berani dia ungkapkan, terpendam di dalam dadanya dan menyiksa bagaikan api dalam sekam yang menyesakkan napasnya.


Sera ingin berucap, berbisik kepada Xavier untuk membangunkannya, dia ingin melihat mata itu terbuka menatapnya. Dia ingin Xavier baik-baik saja.


Pintu ruangan perawatan itu terbuka lebar dan dokter Nathan langsung memasuki ruangan dengan napas terengah, tampaknya lelaki itu kebetulan sedang bertugas di lantai lain rumah sakit ini dan berlari-lari datang ketika mendapatkan panggilan.


Mata dokter Nathan terpaku ke arah Xavier sebelum kemudian berganti ke arah Sera. Lelaki itu melangkah mendekat, lalu meletakkan jemarinya ke pundak Sera dan meremasnya lembut untuk menenangkan perempuan yang sedang menangis itu.


“Mereka akan mengantarmu ke ruangan lain. Beristirahatlah dan tenangkan dirimu di sana. Aku akan menangani Xavier terlebih dulu,” ucapnya lembut meskipun mengandung perintah yang tak terbantahkan.


***


 


Sera menyelimutkan selimut ke tubuhnya dan meringkuk di atas ranjang. Sementara itu, matanya nanar menatap ke arah pintu ruang perawatannya, menghitung dalam hitungan angka yang seolah tak terhingga saat menanti pintu itu terbuka dan seseorang datang dengan kabar baik baginya.


Entah sudah berapa lama Sera menunggu, dia sudah kehilangan sensornya terhadap berjalannya waktu. Tetapi rasanya seolah-olah dia sudah menghapuskan seluruh sisa umurnya untuk menunggu lama.


Kepalanya terasa sakit dan dadanya terasa semakin sesak karena harap-harap cemas yang tak kunjung mendapat kepastian. Ingin rasanya dia menghambur keluar dan mencari tahu, tetapi dia mengerti bahwa dia hanya akan mengganggu.


Tak bisa sedetik pun Sera memejamkan mata, terus nyalang, terus menghitung-hitung. Hingga akhirnya, ketika pintu itu bergerak membuka, dia tak bisa menahan tubuhnya yang langsung melonjak duduk penuh antisipasi, dibanjiri adrenalin.


Dokter Nathan terpaku di ambang pintu, menatap ke arah Sera yang setengah meloncat terduduk dan menatapnya dengan mata lebar penuh harap. Senyum lembut langsung tersungging di bibir dokter Nathan ketika akhirnya dia melangkah memasuki ruangan tempat Sera berada sambil memasang ekspresi teduh menenangkan.


“Jangan bergerak mendadak, kau tak boleh lupa kalau kau sedang hamil muda,” ucap dokter Nathan kemudian sambil menarik kursi dan menyeretnya mendekat ke tepi ranjang. “Bagaimana keadaanmu? Apakah kau terus terbangun dan tak sempat istirahat sejak tadi? Pasti sangat mengejutkan untukmu melihat Xavier dalam kondisi terburuknya seperti itu?”


“Aku baik-baik saja, dokter.” Sera menyambar cepat dan sengaja tidak menjawab pertanyaan dokter Nathan, dia tahu pasti bahwa saat ini seharusnya bukan kondisinya yang menjadi prioritas untuk diperhatikan. “B-bagaimana keadaan Xavier?”

__ADS_1


Dokter Nathan menghela napas panjang. “Xavier sudah menerima transfusi darah, dia sudah mendapatkan penanganan terbaik yang bisa diberikan dan sekarang sedang beristirahat. Dia akan baik-baik saja… untuk saat ini.”


“Untuk saat ini?” Kembali Sera menyambar. Keraguan yang ditempatkan pada nada suara dokter Nathan di ujung kalimatnya membuatnya dibanjiri rasa cemas. “Apa maksud dokter dengan kata ‘untuk saat ini’? Apakah dia tidak akan baik-baik saja untuk ke depannya?”


Tatapan dokter Nathan tampak tajam, menusuk kepada Sera sampai kedalaman hatinya.


“Kau tentu tahu bahwa Xavier tidak baik-baik saja. Untuk menangani anemia aplastiknya, perusahaan biokimia miliknya mengembangkan sejenis obat yang bisa merangsang pembentukan sel darah di tubuhnya. Obat itu memang efektif, membuat Xavier bisa bertahan tanpa harus menjalani transfusi darah secara terus menerus dan membuatnya bisa tampak seperti manusia sehat serta mampu beraktivitas seperti manusia sehat pula. Namun, meskipun obat itu memberikan hasil instan yang bagus, efek sampingnya juga merusak tubuhnya dan mengurangi masa hidup Xavier. Seolah-olah dia membuang jangka waktu kehidupannya demi mendapatkan waktu singkat dalam kondisi tubuh sehat sebagai gantinya. Kau mengerti maksudku?” Dokter Nathan menghentikan kalimatnya, menyipitkan mata dan menatap Sera dengan tatapan was-was penuh kehati-hatian.


Sera menganggukkan kepala meskipun rasa terkejut menguasai dirinya. Dia memang mendengar kalau Xavier mengkonsumsi obat. Tetapi, dia tak menyangka kalau obat yang dikonsumsi Xavier adalah obat berbahaya yang mempersingkat masa hidupnya.


“K-kenapa Xavier memilih mengkonsumsi obat itu? Bukankah itu me-mengurangi masa hidupnya?” Sera bertanya kepada dokter Nathan untuk memastikan kesimpulan di benaknya.


Dokter Nathan menghela napas panjang. “Karena Xavier memang tak berniat untuk hidup lama, jadi dia memilih memaksimalkan kondisi tubuhnya meskipun waktunya singkat.” Dokter Nathan mengawasi Sera dengan tatapan menusuk. “Kejadian yang terjadi belakangan ini, juga membuat Xavier memaksakan dirinya, sehingga terdorong untuk mengkonsumsi obat itu secara berlebihan demi melewati jadwal transfusi darahnya. Xavier lupa, bahwa obat kimia selalu membawa efek samping yang membuat sakitnya lebih parah dan dia seharusnya tetap mengikuti jadwal transfusinya dengan benar.” Dokter Nathan menghela napas panjang, seolah kehabisan cara untuk menghadapi sikap keras kepala pasiennya menyangkut kesehatannya sendiri. “Tetapi tenang saja, aku sudah menangani Xavier. Dia sedang tidur sekarang.”


Sera menganggukkan kepala. Entah kenapa seberkas rasa bersalah langsung datang menggayutinya tanpa bisa ditahan. Lelaki itu pasti disibukkan dengan perkara Aaron sehingga memforsir diri dan mengkonsumsi obatnya dengan dosis yang lebih daripada yang seharusnya, sehingga malahan membuatnya ambruk kemudian.


Semua hal itu, disebabkan oleh Sera sebagai ujung pangkalnya.


Dokter Nathan sendiri langsung menyadari rasa bersalah yang terbersit di wajah Sera. Meskipun begitu, dia tak punya waktu untuk memberikan penghiburannya kepada perempuan itu. Saat ini, dirinya memiliki kesempatan untuk berbicara kepada Sera secara terbuka, dari hati ke hati. Ada hal penting yang harus dimintanya kepada Sera, menyangkut keselamatan Xavier, dan itu adalah prioritasnya.


“Mengenai plasenta bayimu itu, kau juga sudah mendengar bahwa Xavier tak ingin mengambilnya, bukan?” tanya dokter Nathan kemudian.


Sera menganggukkan kepala. “Ya. Xavier mengatakan niatnya itu kepadaku. Dia ingin menyimpan plasenta itu untuk anak-anaknya di kemudian hari.”


“Sera. Aku ingin kau berbicara dengan Xavier, bukan berarti di sini aku ingin mengesampingkan kondisi anak-anakmu. Anemia aplastik memang bisa berasal dari genetik dan jika memang Xavier membawa itu di genetiknya, maka kemungkinan besar anak-anakmu bisa mengidap penyakit yang sama. Tetapi, aku tetap menganggap kemungkinan kecil hal itu terjadi, sebab, pemicu Xavier mengidap anemia aplastik adalah ketika dia mengalami kecelakaan beberapa tahun yang lalu yang menyebabkan dirinya terpapar racun bahan kimia yang membuat tubuhnya mengalami kerusakan secara struktural hingga mencapai titik di mana tubuhnya tak mampu memproduksi cukup sel darah untuk memenuhi kebutuhan tubuhnya sendiri.” Dokter Nathan berdehem, memberikan jeda sejenak supaya Sera mendapatkan kesempatan untuk mencerna kalimat penjelasan panjangnya dengan baik. “Meskipun suatu saat nanti, ternyata anemia aplastik itu diturunkan secara genetik kepada anak-anakmu – biarpun aku tak mengharapkannya terjadi- tetap saja kesempatan mereka lebih besar karena mereka memiliki saudara satu sama lain dan bisa saling menyumbangkan sumsum tulang belakang untuk saudara mereka. Tetapi kasus Xavier berbeda, dia tak punya saudara ataupun orang yang berhubungan darah dengannya, dia sebatang kara dan satu-satunya donor hampir sempurna dalam kecocokan dengannya adalah dari sel punca plasenta bayimu.”


Dokter Nathan menipiskan bibir, lalu tangannya bergerak meraih tangan Sera dan menggenggamnya, melangkahi semua batas untuk menjelaskan maksudnya. “Kumohon Sera, hanya kau yang bisa melakukannya. Jika kau ingin Xavier tetap hidup, maka bujuklah dia supaya mau menerima sel punca dari anak-anakmu untuk dirinya sendiri.”


Kalimat dokter Nathan menggema di udara, laksana ucapan penutup dari sang pendongeng di atas panggung teater yang menghipnotis ratusan jiwa penontonnya. Hal yang sama terjadi di dalam ruangan ini, keheningan langsung tercipta ketika Sera akhirnya bisa merangkai semua hal yang terjadi dalam hidupnya belakangan ini.


Sera menipiskan bibir, menahankan emosi kesedihan yang diselipi percikan kemarahan di dalam jiwanya.


Lelaki itu menanamkan benihnya di tubuh Sera, meninggalkan jejak genetiknya yang akan bertumbuh menjadi sebuah individu merdeka, anak mereka berdua, lalu memilih pergi? Bagaimana bisa Sera membiarkan Xavier memilih pergi begitu saja, meninggalkan jejak yang ditinggalkannya tanpa rasa bersalah?


“Bolehkah aku menengok Xavier?” Sera akhirnya memecah keheningan tanpa suara itu, membuat dokter Nathan yang tampak sibuk dengan pikirannya sendiri sedikit terkesiap sebelum kemudian melepaskan pegangan tangannya dari tangan Sera.


Dokter Nathan seketika melirik jam tangannya dengan canggung. Waktu sudah hampir jam lima pagi. Lelaki itu mengawasi Sera dan mengerutkan keningnya.


“Kau belum tidur sama sekali, bukan? Hari sudah menjelang pagi, dan saat ini Xavier juga sedang tertidur pulas karena efek obat yang kuberikan kepadanya. Apakah tidak lebih baik baik mengistirahatkan tubuhmu dulu dan tidur, baru besok setelah Xavier bangun, kau menemuinya?” Dokter Nathan mengalihkan pandangannya ke perut Sera dan melanjutkan ucapannya, “Jangan lupakan bahwa kau sedang hamil. Seorang ibu yang sedang mengandung harus mencukupi waktu istirahatnya untuk perkembangan bayinya.” Dokter Nathan mendorong mundur kursinya lalu beranjak pergi. “Maafkan aku mengganggu waktu istirahatmu. Tidurlah, sampai jumpa besok pagi.”


“Tidak, Dokter.” Sera memanggil cepat sebelum dokter Nathan melangkah pergi. “Kumohon, aku ingin melihat Xavier sekarang.”


Dokter Nathan menghentikan langkahnya, menatap Sera sambil mengerutkan keningnya.


“Xavier sedang tidur, dia tidak akan tahu kalau kau datang. Lagipula, kau butuh tidur juga….”


“Aku tahu, aku tak akan mengganggu istirahat Xavier, aku hanya ingin melihatnya saja,” sela Sera kemudian dengan nada memohon.


Dokter Nathan termenung sambil menimbang-nimbang, matanya mengawasi Sera sebelum berucap kemudian.


“Apakah kau berjanji akan tidur setelahnya?” tanyanya perlahan.


Sera menganggukkan kepala. “Di kamar perawatan Xavier, ada sofa bed besar seperti di sini, bukan? Ada selimut juga yang tersedia. Kurasa… aku akan tidur di sana,” jawabnya pelan, mencoba bernegosiasi.

__ADS_1


Dokter Nathan terlihat menimbang-nimbang lagi, tetapi lelaki itu tentu bisa melihat sinar kekeraskepalaan yang memancar dari wajah Sera. Akhirnya dokter Nathan memutuskan untuk menganggukkan kepalanya dan memberikan izinnya.


“Baiklah kalau begitu,” ucapnya memberi izin. “Apakah kau bisa bangun dan berjalan sendiri? Atau kau memerlukan kursi roda?”


“Aku baik-baik saja.” Dengan bersemangat Sera melangkahkan kakinya turun dari ranjang, dia lalu beranjak berdiri dan berjalan ke arah dokter Nathan yang tak bisa menahan senyum melihat tekad kuat perempuan itu.


“Ayo, aku akan mengantarmu ke ruang perawatan Xavier,” ucapnya kemudian sambil melangkah mendahului Sera keluar dari kamar.


***


***


***


***


 


Hello.


Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.


 


Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD SUDAH tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book.


EOTD / Essence of The Darkness ---> Kisah Akram dan ELana


EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera ( Ebook BELUM tersedia)


 


Kata kunci di g00gle book :


Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt


 


JIKA ANDA MENDAPATKAN EBOOK INI BUKAN DARI GOOGLE PLAYBOOK, BERARTI ANDA TELAH MELAKUKAN TINDAKAN KRIMINAL PENCURIAN DAN BERKONTRIBUSI DALAM PEMBUNUHAN KREATIVITAS PENULIS.


DUKUNG PENULIS KESAYANGANMU SUPAYA BISA TERUS BERKARYA DENGAN TIDAK MENGAKSES DAN MENYEBARKAN BUKU BAJAKAN.


 


Yours Sincerely


AY


 


 


***

__ADS_1


***


***


__ADS_2