
Halo,
ini adalah part 10/10 dari Crazy update. Author tidak bisa menjamin kesepuluh-sepuluhnya terposting berbarengan ya karena ada sistem review dari mangatoon.
Mudah2an saja bisa terposting berbarengan, tetapi jika tidak ( posting terpisah dengan jeda waktu jam/hari) maka diharapkan permaklumannya
Regards,
Ay
***
***
"Terima kasih,"
Dengan sikap sopan setengah membungkukkan tubuh, Elana berucap pada supir yang mengantarkannya hingga tepat di depan halaman rumahnya yang asri. Biasanya, supir itu akan memperlakukannya seperti seorang ratu dengan buru-buru turun memutari mobil, lalu membukakan pintu untuknya. Tetapi kali ini, Elana sengaja melarang supir itu turun guna membukakan pintu baginya, dan mengatakan kepada supir itu bahwa dia masih muda, sehat dan kuat dan bisa membuka pintu mobil sendiri tanpa bantuan.
Supir itupun akhirnya tak bisa berkata apapun dan membiarkan Elana turun dari mobil tanpa bantuan, lalu membalas ucapan terima kasih Elana dengan sikap tubuh penuh hormat sebelum kemudian mengemudikan mobilnya pergi menjauh.
Sejenak Elana masih berdiri di depan halaman rumahnya, matanya mengekori lampu belakang mobil itu yang berwarna merah berkedip hingga akhirnya menghilang di ujung jalan. Setelahnya, Elana melirik jam tangannya. Sudah pukul tujuh malam. Karena besok adalah tanggal merah di kalender yang langsung terhubung dengan akhir pekan, mereka jadi menempuh perjalanan cukup lama karena terjebak kemacetan panjang menjelang hari libur yang dinantikan oleh banyak orang.
Hampir dua jam perjalanan, padahal jarak antara rumah ini dengan kantor tak begitu jauh.
Elana memandang sekeliling dimana nuansa gelap pepohonan melingkupi, hanya terkalahkan oleh cahaya lampu jalan dan lampu taman yang berjajar memerangi kegelapan. Tiba-tiba menyadari bahwa tak ada rasa takut sedikit pun di benaknya. Itu semua karena dia meyakini, bahwa Akram telah menempatkan penjagaan keamanan ketat di sekeliling rumah ini.
Memikirkan tentang Akram membuat Elana mengerutkan kening. Lelaki itu mengatakan akan menghadiri meeting di pusat kota. Dan pusat kota adalah pusat kemacetan. Itu berarti, Akram akan jauh lebih lelah dari dirinya ketika sampai di rumah nanti, karena kemacetan yang harus dilalui oleh Akram lebih panjang dari yang dialaminya.
Elana menghela napas panjang, tiba-tiba menyadari ada perasaan aneh yang bergayut di dadanya karena dirinya mencemaskan Akram.
Dia mencemaskan Akram? Elana mengulang kembali kesimpulan itu di dadanya, seolah-olah tak yakin akan perasaannya sendiri.
Dahulu, ketika awal hubungan mereka, tidak pernah terbayangkan di pikirannya bahwa dia akan mencemaskan Akram. Yang ada di dalam benaknya saat itu adalah upaya melepaskan diri dari cengkeraman Akram, tidak peduli bahwa itu berarti harus mencelakai Akram atau membuat lelaki itu terluka.
Sekarang kalau dipikir-pikir, perkembangan hubungan mereka sudah berputar begitu jauh dari titik awal, hingga Elana ragu apakah dia masih memiliki pikiran untuk berputar arah dan berlari, atau malahan memilih menyerah dalam pola perjalanan yang telah ditetapkan oleh Akram untuknya.
Mungkin perasaannya yang campur aduk ini, jika ditelisik lebih dalam secara paksa malahan akan mendesak dan membingungkannya. Ada baiknya Elana membiarkan hatinya lepas bebas menjalani apa yang dimau.
Tetapi Elana sudah memutuskan dalam hatinya, bahwa jika nanti hatinya memutuskan untuk mencintai Akram, maka Elana tak akan melawannya.
Sambil bersenandung dan mengatur langkah sesuai irama, Elana melangkah memasuki rumahnya, lalu mengunci pintu di belakangnya. Jika Akram datang nanti, lelaki itu memiliki kunci digital khusus sendiri untuk memasuki rumah, sehingga Elana tak perlu repot-repot menjaga pintu tak terkunci sambil menunggu kedatangan Akram.
Dengan langkah ringan, Elana menuju kamar, lalu membawa baju ganti untuk mandi dan membersihkan diri dengan singkat. Udara malam cukup dingin dengan gerimis gemericik yang mulai berjatuhan dari langit, membuat Elana memilih tak menyiksa diri dan membasuh dirinya dengan air hangat yang menyegarkan dalam waktu singkat, lalu bergegas mengeringkan diri dan mengganti pakaiannya dengan pakaian santai yang bersih.
Jika ketika bekerja Elana mengaplikasikan bedak tipis dan lipgloss yang sewarna dengan bibirnya, maka tidak ada kosmetik apapun yang terpasang di wajah Elana pada saat malam hari. Kulit Elana benar-benar segar, lembab sehabis mandi, dan perempuan itu hanya menyisir rambut panjangnya ke belakang sambil bersenandung untuk kemudian melangkah keluar ruangan.
Koki yang ditugaskan oleh Akram biasanya sudah meninggalkan makan malam di dalam microwave, hanya menunggu dipanaskan sesuai catatan waktu yang telah dituliskan dan ditinggalkan oleh koki itu untuknya, lalu makanan siap dihidangkan untuk disantap.
Kembali Elana melirik ke arah penunjuk waktu, kali ini yang terpasang jelas di dinding. Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Dengan mempehitungan kemacetan yang dilalui oleh Akram, kemungkinan tak kurang setengah jam lagi lelaki itu akan tiba.
Dengan cepat, Elana segera menyalakan microwave dan memanaskan makanan. Kalau dia tepat perkiraan, begitu makanan ini telah panas secara tepat, maka akan bersamaan dengan Akram datang dan siap untuk bersantap. Pada saat menanti itulah, benak Elana mulai berkelana.
Kadang-kadang Elana tak habis pikir kenapa Akram harus menghabiskan jam malamnya sepulang kerja di rumah ini berturut-turut tanpa niat untuk mengambil jeda di antara periode waktu tersebut. Padahal, Elana tahu pasti bahwa Akram sudah pasti lelah bekerja seharian, belum lagi lelaki itu harus pulang menjelang tengah malam atau dini hari, untuk kemudiaan kembali bekerja keesokan paginya.
Keberatan Elana sesungguhnya hanya karena memikirkan kondisi fisik Akram. Tetapi, bagaimanapun, tak mudah untuk mengutarakan apa yang ada di dalam pikirannya. Sebab, jika dia salah kata, bisa-bisa Akram malah menuduh Elana mengusirnya, padahal apa yang menjadi maksud Elana adalah kecemasannya jika Akram terlalu memforsir dirinya.
__ADS_1
Lamunan Elana mengembara jauh, tetapi langsung dikembalikan ke dunia nyata ketika dia mendengar suara pintu terbuka di ruang tamu. Elana menolehkan kepala segera, posisi dapur dan ruang maka terbuka yang langsung terhubung dengan ruang santai dan ruang tamu, membuat Elana bisa melihat dengan jelas siapapun yang melangkah memasuki rumah dari posisi tempat berdirinya sekarang.
***
***
Matanya berbinar ketika melihat orang yang dinantikannya tiba. Akram tampak kelelahan, rambutnya sedikit acak-acakan, dengan tetes hujan membasahi, mengalir turun hingga menodai jasnya dengan warna gelap yang lembab. Wajah Akram sendiri tampak pucat, hingga Elana merasa cemas dan langsung menghampiri.
Akram menutup pintu di belalakangnya, lalu berdiri berhadap-hadapan dengan Elana yang mendongak dan mengawasinya dengan saksama.
"Selain lingkaran hitam jelek yang mengelilingi wajahku saat ini, apalagi yang tampak aneh di wajahku hingga kau mengawasiku seperti itu?" Akram berucap sambil menyeringai berbahaya.
Elana mengurai bibir tipisnya yang menegang dengan seulas senyum, tangannya bergerak tanpa sadar, lalu menyentuh pipi Akram yang dingin terkena hembusan udara malam dan tetesan air hujan yang mengecupi permukaan kulitnya layaknya seorang kekasih yang didera rindu tak terperi.
"Kau tampak pucat," Elana mengerutkan kening ketika telapak tangannya menangkup pipi Akram dengan lembut. Terasa aneh, karena dibalik permukan kulit Akram yang dingin dan sedikit basah oleh hujan, tersimpan suhu tubuh yang panas membara dan seolah bergolak di dalam sana.
Ekspresi Akram sendiri tampak terkejut, seolah-olah tak percaya bahwa Elana akan mengambil inisiatif untuk menyentuhnya terlebih dahulu.
Jadi, sebelum Elana sempat mengucapkan kecurigaannya akan keanehan yang dirasakan oleh indra perabanya, Akram tiba-tiba menyambar tangannya, lalu menghadiahkan kecupan di bagian dalam pergelangan tangan Elana.
"Akram!" Elana menarik tangannya cepat, melepaskan pegangan lelaki itu.
Akram terkekeh, tak mempedulikan penolakan Elana dan malah menarik perempuan itu ke pelukannya.
"Aku kelelahan dan aku sangat merindukanmu," bisik Akram dengan suara parau.
Elana tersenyum pelan. "Kau mungkin kelelahan, tetapi tak mungkin kau merindukanku, Akram. Kita hanya tak bertemu beberapa jam." sahutnya lembut seperti berbicara kepada anak kecil.
Kembali Akram menyeringai tetapi tak membantah perkataan Elana, membiarkan perempuan itu melihat langsung kerinduan di matanya, baru kemudian percaya. Lelaki itu lalu menjauhkan sedikit Elana dari pelukannya dan menghirup udara di sekeliling mereka.
"Aromanya lezat dan aku kelaparan," bisiknya pelan sambil kembali mencuri ciuman dari bibir Elana,
"Mandilah air hangat terlebih dahulu supaya kau segar, aku akan menyiapkan makan malam kita di sini," usirnya halus, menyelipkan perhatian dan sayang di sana sehingga Akram sama sekali tak terdorong untuk membantahnya.
***
***
Menu makan malam mereka sangat lezat hingga Elana menandaskan piringnya sampai bersih. Matanya lalu melirik ke arah Akram yang tengah menyantap hidangannya dengan sikap elegannya yang biasa,
Kening Elana lalu berkerut ketika menyadari bahwa Akram bahkan belumlah menghabiskan setengah dari hidangannya. Elana memang makan dengan cepat, tetapi tak pernah sebelumnya dia makan secepat itu hingga meninggalkan Akram jauh di belakangnya.
"Ada apa? apakah masakannya kurang cocok untukmu?" Elana meletakkan peralatan makannya dan memecahkan senyap yang tercipta saat mereka menikmati makan malam ini.
Akram meletakkan pisau makannya tanpa nafsu, lalu menyorongkan piring itu menjauh.
"Kepalaku masih pusing, aku tak tahan menelan lebih banyak lagi," ujarnya pelan, lalu mengambil gelas air dan meneguknya untuk menghantarkan makanan yang mengganjal ditenggorokannya yang terasa seperti ampas gergaji nan susah ditelan.
Tentu saja Akram tahu bahwa sesungguhnya makanan itu sangat lezat. Hal itu juga bisa dilihat dari betapa lahapnya Elana menandaskan piringnya. Sepertinya masalah terjadi di tubuh Akram. Rasa pusing yang menderanya -padahal dia sudah kembali meminum aspirin- masih saja mendera, bahkan semakin hebat ketika Akram memaksakan tubuhnya untuk bekerja, menghadiri berbagai meeting tanpa jeda hingga malam menjelang. Sekarang, tubuhnya seolah memprotes tak terkendali, menciptakan kesakitan yang berdenyut dan memukul-mukul dalam rongga tengkoraknya, seolah-olah ingin memecahkan kepalanya.
"Kau... kau mau pindah ke sofa? Aku akan memijitmu, mungkin itu akan membuatmu lebih baik," Elana menawarkan dengan cemas bercampur prihatin. Memang, setelah diperhatikan lebih saksama di bawah sinar lampu, Akram terlihat amat pucat. Dan lingkaran hitam di sekeliling matanya, bukannya membaik, malah terlihat semakin menggelap, begitu kontras dengan kepucatan di permukaan kulitnya.
Akram tersenyum lemah dan menganggukkan kepala. Tawaran untuk dipijit oleh Elana tentu saja sangat langka dan tak boleh dilewatkan, lagipula, lelaki itu tampaknya sudah tak punya tenaga lagi untuk membantah Elana.
__ADS_1
Dengan gerakan pelan, Akram beranjak berdiri, menggunakan tumpuan tangannya ke meja makan untuk menopang tubuhnya. Setelahnya, Akram beranjak berjalan menuju sofa, dan sempat terhuyung hingga Elana memekik cemas dan menghampiri.
"Biarkan aku membantumu," ucap Elana panik.
Sayangnya, bantuannya langsung ditolak oleh Akram seketika. Lelaki itu mengangkat telapak tangannya ke permukaan sebagai tanda penolakan dan untuk mencegah Elana mendekatinya, itupun masih ditambah dengan gelelangan kepala tegas.
"Tidak, tubuhmu yang mungil tak akan bisa menopang berat badanku ketika aku bertumpu untuk berjalan, Elana." Akram memberikan alasan tak terbantahkan, lalu menggunakan segala benda yang dilaluinya sebagai pegangan dengan susah payah, hingga akhirnya dia bisa mencapai sofa.
Dengan cepat, Akram membanting tubuhnya di sofa, mendongakkan kepalanya dan memejamkan mata. Sakit kepalanya terasa nyeri tak berperi, hingga dirinya ingin mengeluarkan erangan untuk meredakan rasa sakitnya.
Tiba-tiba sebentuk tangan lembut dan terasa menyejukkan menyentuh pelipisnya, sebelum kemudian memijitnya perlahan dengan gerakan memutar yang kuat tetapi penuh kehati-hatian.
Akram membuka matanya dengan susah payah, memasang senyuman ke arah wanita cantik yang saat ini sedang membalas tatapan matanya dengan cemas, lalu berucap parau dari tenggorokannya yang mulai terasa kering dan sakit.
"Terima kasih, sayang. Pijitanmu sangat membantu," mata Akram seolah tak kuat membuka lama, lelaki itu memejamkan matanya kembali, masih sempat mengucapkan gumaman tak jelas dari bibirnya. "Kurasa... aku akan tidur... sebentar saja..." suara Akram semakin melemah seiring dengan bertambahnya kalimatnya. Tak lama kemudian, suara itu lenyap, disusul oleh keheningan membentang tak terhindarkan di antara mereka.
Elana membungkuk di atas Akram dengan kecemasan luar biasa. Sekarang ketika dia memijit Akram secara langsung dan cukup lama, keanehan yang dirasakannya oleh jari jemarinya terbuktillah sudah. Akram tengah demam tinggi, tubuhnya panas tak berperi seolah menyimpan bara panas membara di bawah permukaan kulitnya.
"Akram?" Elana mencoba menepuk pipi Akram dengan lembut. Tetapi tak ada sahutan. Entah lelaki itu tenggelam dalam tidur lelapnya yang dalam karena kelelahan... entah lelaki itu ternyata pingsan karena tak kuat menahan panas tinggi yang mendera tubuhnya.
Jantung Elana langsung berdenyut oleh ketakutan yang mulai merayapi. Dia lalu mengehela napas berkali-kali, mencoba untuk membunuh kepanikkannya. Untuk saat ini, bersikap panik tak ada gunanya. Elana harus tenang dan sadar bahwa mereka hanya berdua di rumah ini, jadi penanganan terhadap Akram tergantung pada tindakan yang dilakukan oleh Elana.
Sekuat tenaga Elana memeras otakknya supaya berpikir jernih. Lalu seolah keselamatan memang disiapkan bagi Akram, nama paling penting itu langsung terlintas di benak Elana.
Dokter Nathan!
Ya, dia harus menghubungi dokter Nathan segera untuk melakukan pemeriksaan dan penanganan terhadap Akram. Dirinya yang orang awam ini sungguh tak bisa mengidentifikasi apakah Akram demam disebabkan oleh virus,atau oleh lukanya yang terbuka dan infeksi.
Dengan panik, Elana mencari-cari ke dalam ponselnya, dan kebingungan langsung melandanya ketika dia menyadari bahwa dirinya tak menyimpan nomor dokter NathanĀ di ponselnya. Gugup tangannya meraba-raba ke dada Akram yang lunglai, ketika tak menemukan apa yang dicarinya, dia bergerak memutari sofa dan meraba celana Akram. Kelegaan memenuhi dirinya ketika menemukan ponsel Akram di tangannya.
Lelaki ini sudah pasti menyimpan nomor dokter Nathan di ponselnya, Elana tinggal menghubungi dari sini lalu....
Sebelum Elana bisa melanjutkan maksudnya, dia tertegun ketika menyalakan ponsel Akram dan dirinya langsung dihadapkan pada tampilan layar penuh degan kode digital rumit untuk memasuki bagian dalam ponsel. Bahkan mode darurat pun tak ditemukan pada layar ponsel canggih ini. Putus asa, Elana meletakkan kembali ponsel Akram ke sofa di sebelah Akram, menarik napas panjang ketika kebingungan memenuhi jiwanya kembali.
Kalau sudah begini, bagaimana caranya dia menghubungi dokter Nathan?
***
Halo, ini adalah part 10/10 dari Crazy update. Author tidak bisa menjamin kesepuluh-sepuluhnya terposting berbarengan ya karena ada sistem review dari mangatoon.
Mudah2an saja bisa terposting berbarengan, tetapi jika tidak ( posting terpisah dengan jeda waktu jam/hari) maka diharapkan permaklumanny
Regards,
Ay
Note Author : Kisah tentang Cradence Evening ini rencananya akan menjadi proyek novel baru author. Tapi belum tahu apakah akan diposting disini setelah Essence Of The Darkness tamat atau tidak. Jika iya, pasti akan author buat pengumuman di sini. dan tentu saja dia TIDAK BERPASANGAN DENGAN MAYA.
***
***
__ADS_1