
“Kau… akan membawa Aaron ke negara kita?”
Sera ternganga mendengarkan kalimat Xavier tersebut. Meskipun Aaron merupakan keponakan dari Keluarga Dawn, tetapi bisa dibilang lelaki itu tak pernah menginjakkan kakinya ke negara mereka. Aaron lahir dan dibesarkan di Rusia, mengikuti kedua orang tuanya yang bersekolah, lalu melanjutkan bekerja di negara ini setelah menikah, tanpa pernah pulang lagi ke negaranya.
Sera selalu berpikir bahwa karena Aaron bisa dibilang berasal dari negara ini, maka Xavier sudah pasti akan meninggalkan Aaron di sini. Sama sekali tak disangkanya bahwa Xavier akan melibatkan Aaron sejauh itu sehingga harus terus menahan dan bahkan membawa Aaron sebagai tawanan ke negara mereka.
“Ti… tidak bisakah kau membebaskan Aaron dari ini semua? Bukankah kau sudah memiliki nyawa ayahku dalam genggaman tanganmu? Apakah itu tidak cukup?” tanya Sera kemudian dengan bibir gemetaran.
Xavier menyipitkan mata. Perkataan Sera sepertinya telah mengobarkan kemarahan mengerikan di dalam jiwa lelaki itu, dilihat dari aura membakar yang menguar dari tubuhnya.
“Membebaskan Aaron? Kau hanya bisa melakukannya setelah kau melangkahi mayatku, Serafina Moon,” desis Xavier dengan nada kejam. “Aku bisa saja meninggalkan Aaron di negara ini, tetapi jelas-jelas aku tak akan melepaskannya. Kalau Aaron ditinggalkan di sini, aku akan memastikan dia dipenjara di penjara neraka miliki Dimitri, tempat Samantha Dawn menemui ajalnya karena pneumonia.”
“T-tidak! Jangan lakukan itu!” Kesadaran akan lidahnya yang terselip membuat Sera ketakutan. Dia sungguh tak mau menjadi penyebab Aaron disiksa dan menderita. “Tolong jangan sakiti Aaron lebih daripada ini. Dia tidak layak diperlakukan sekejam itu. Dia bahkan tidak menjadi bagian dari dendam yang dirancang oleh Keluarga Dawn, dia hanyalah orang luar yang dipaksa menjadi bagian dari keluarga Dawn tanpa tahu rencana mereka. Tolong… kumohon kepadamu… aku berjanji tak akan mencoba lari dan melepaskan diri darimu asalkan kau melepaskan Aaron.”
Xavier memiringkan kepala dan menatap Sera lekat-lekat. Lelaki itu lalu mengulaskan senyum mengejek di bibirnya.
“Sungguh tawaran yang sangat menarik. Aku sangat senang ketika kau menjadi patuh dan memohon-mohon kepadaku.” Lelaki itu tiba-tiba sudah bergerak dan sekarang berdiri dekat sekali dengan Sera. Tangan Xavier terangkat, lalu jemari lelaki itu bergulir pelan di pundak Sera, mengusap kulitnya dengan gerakan lembut dan sengaja hingga senyar langsung merayapi permukaan kulit Sera dan membuatnya terkesiap. “Mungkin aku akan mempertimbangkannya jika kau mau memberiku sedikit kesenangan di pagi ini,” bisik Xavier perlahan dengan nada merayu nan kental.
Sera membelalakkan mata ketika memahami makna dari perkataan Xavier tersebut, mulutnya menganga, seolah tak percaya.
“Kau mau lagi?” serunya dengan nada polos tanpa bisa menahan mulutnya.
Pertanyaan itu membuat Xavier terkekeh. Lalu, dengan gerakan cepat dan tak terduga, Xavier menggunakan lengannya untuk mencengkeram kedua sisi pundak Sera yang telanjang, sebelum kemudian lelaki itu membungkuk dan langsung menggigit lembut bahu Sera, menjejakkan lidah dan napasnya yang panas menggoda di sana hingga membuat Sera mau tak mau mendongakkan kepala, terengah dan meloloskan erangan perlahan dari bibirnya.
Xavier lalu mengangkat kepalanya lagi, kali ini dia melabuhkan bibirnya di telinga Sera, mendesahkan napasnya di sana dengan sengaja.
“Aku sangat mau,” ujarnya dengan nada serak. “Apakah kau bersedia melayaniku pagi ini, Sera? Memberikan tubuhmu demi kesempatan untuk menyelamatkan Aaron?” tanya Xavier dengan tatapan mata tajam menyelidik.
Sera tergeragap, jantungnya berdetak lebih kencang seiring dengan semakin merapatnya tubuh Xavier kepadanya. Lelaki itu sekarang tak hanya mengembuskan napas di telinganya, tetapi juga membuka mulutnya untuk menggigit telinganya dengan lembut, membuat Sera lunglai karenanya. Beruntung kedua tangan Xavier yang menopang pundak dan pinggangnya menahan tubuhnya supaya tak merosot jatuh.
Xavier mengarahkan bibirnya ke bibir Sera, lalu mulutnya membuka dan dibenamkan ke dalam mulut Sera yang sedikit ternganga. Lelaki itu kembali menjelajah tanpa permisi, seolah menunjukkan kepemilikannya dengan gamblang. Sementara, Sera sendiri tak punya kekuatan untuk menolak. Tangannya malahan menyusup di punggung lelaki itu dan mencengkeram kain kemejanya erat-erat, menjadikannya pegangan supaya tak jatuh ketika intensitas ciuman Xavier semakin dalam dan dalam.
Lama kemudian, setelah puas menikmati bibir istrinya, Xavier mengangkat wajahnya dan langsung menyeringai ketika melihat bibir Sera yang lembab dan sedikit bengkak karena ciuman kuat yang diberikannya.
“Ternyata kau lebih dari bersedia untuk memberikan tubuhmu kepadaku. Sayangnya, kita tak punya waktu lagi. Para tamu kita baru saja pergi meninggalkan negara ini dengan pesawat jet yang lebih pagi. Kita menyusul di belakang mereka. Pesawat sudah dijadwalkan dan kau harus bersiap-siap.” Sambil melemparkan tatapan mata mengejek, lelaki itu menegakkan tubuh Sera yang sempat lunglai karena godaannya. Lalu, setelah yakin bahwa perempuan itu bisa berdiri tegak tanpa goyah, Xavier melepaskan cengkeramannya dari pundak Sera dan melangkah mundur menjauhi perempuan itu.
Sera ternganga, tak menyangka bahwa lelaki itu akan memperlakukanya seperti itu. Memintanya menyerahkan diri, lalu ketika Sera mengambil keputusan untuk menyerah demi menyelamatkan Aaron, Xavier malah mundur dan menolaknya, mempermalukan Sera dengan keras seolah memberikan tamparan kepadanya.
Sera merasa ingin menangis sekaligus frustasi. Xavier telah membuat seluruh tubuhnya gemetar dan mendamba karena sentuhannya yang sangat ahli. Di sisi lain, hati Sera sangat terpukul atas perlakukan Xavier yang kejam. Lelaki itu merayunya, menggoda dan memanipulasi tubuhnya hingga membuatnya menyerah, lalu dengan puas membuangnya begitu saja di titik yang paling menyakitkan.
Xavier mengawasi ekspresi Sera yang terhina,
Pengetahuanan bahwa Sera rela melakukan apapun untuk menyelamatkan Aaron membuatnya sedikit tersulut kemarahan, hingga entah kenapa, jiwa jahatnya ingin memberi sedikit pukulan mental kepada Sera dan melukai perempuan itu.
Tetapi, hanya sedetik setelah Xavier melakukannya, dia langsung merasa menyesal. Padahal, penyesalan adalah jenis perasaan yang tak pernah menyerang dirinya. Sebelumnya, tak pernah sekalipun Xavier merasa bersalah ketika melukai orang lain yang menurutnya memang layak untuk dilukai. Hanya Seralah yang mampu membuatnya merasakan penyesalan berkali-kali tanpa dia mau.
Xavier melangkah mundur, sekali lagi melirik ke arah Sera yang masih terpaku bingung, lalu lelaki itu akhirnya berucap.
“Aku akan pergi, jadi kau bisa bersiap-siap,” ujarnya dengan suara tegas yang dipaksakan.
Lalu, tanpa menunggu lebih lama lagi, Xavier membalikkan tubuh dan melangkah ke pintu, ingin selekasnya meninggalkan ruangan itu, tak mau melihat luka yang ditinggalkannya.
Sayangnya, ketika tangannya hendak mendorong pintu itu terbuka, Xavier tak mampu menahan dirinya untuk menolehkan kepala kembali dan melirik ke arah Sera, didorong oleh kekhawatirannya yang muncul seketika karena tidak ada suara apapun yang terdengar dari Sera.
Mata Xavier melebar ketika melihat Sera masih berdiri di tempatnya yang sama. Perempuan itu tampak berkaca-kaca menahan tangis, sementara bibirnya yang masih bengkak bekas diciumi oleh Xavier lalu ditinggalkan begitu saja, sedikit terbuka gemetaran ketika perempuan itu seolah sedang berjuang menahan isakan tangis meluncur dari bibirnya.
Xavier mengepalkan tangan, menahan diri sekuat tenaga untuk tidak bertindak impulsif. Sayangnya dia tak mampu melakukannya. Sera seperti menggenggam kelemahannya, membuatnya kehilangan ketenangan serta pengendalian emosi hingga Xavier jadi melakukan hal-hal yang dahulu tak pernah dilakukannya.
“Sial.” Xavier menggeram pelan. Lelaki itu menyipitkan mata ketika membalikkan tubuhnya lagi dan menghampiri Sera dengan langkah berderap menyerbu.
Secepat kilat, sebelum Sera sempat menghindar, Xavier mencengkeram kedua bahu Sera kembali, merepatkan perempuan itu hingga menubruk dadanya. Lalu, Xavier menaikkan tangannya untuk menangkup kedua pipi Sera, memaksa perempuan itu mendongak ke arahnya.
“Aku sangat menginginkanmu. Kaulah yang paling tahu itu.” Xavier menggeram, sebelum kemudian menenggelamkan bibirnya kembali untuk mencium bibir Sera dengan sepenuh hasratnya.
Kali ini, Xavier tidak menahan-nahan diri lagi. Didorongnya tubuh Sera mundur tanpa daya hingga kaki perempuan itu menyentuh pinggiran ranjang.
Tanpa mau menerima penolakan, Xavier merebahkan perempuan itu jatuh telentang di sana dengan kaki masih menggantung di pinggir ranjang. Lelaki itu melepaskan kemejanya, lalu segera menempatkan lututnya di pinggiran ranjang untuk memerangkap Sera, menjaga dirinya di posisi yang seharusnya, dipenuhi niat sepenuh hati untuk memiliki Sera kembali.
__ADS_1
***
Ketika lelaki itu kembali menyentuhnya dan membimbingnya meniti tangga kenikmatan lagi dan lagi, tak ada yang bisa dilakukan oleh Sera selain menurut dan pasrah dengan bimbingan Xavier.
Sebesar apapun kebencian yang membakar di dalam benak Sera, tetap saja tubuhnya yang polos itu jatuh ke dalam pesona keahlian Xavier yang luar biasa.
Bukan karena fisik lelaki itu yang begitu kokoh melingkupinya dan menyentuh sisi dirinya yang tak pernah disentuh oleh lelaki lain, tetapi lebih karena kelembutan Xavier yang luar biasa saat memesrainya.
Ya, lelaki itu selalu bersikap lembut ketika menyentuhnya.
Bukan hanya di malam pertama mereka berdua saja, tetapi juga di percintaan-percintaan mereka selanjutnya yang panas menbakar dan tanpa jeda. Lelaki itu menjamahnya dengan hati-hati, memperlakukannya bak porselen yang rapuh dan mudah hancur jika sampai diperlakukan dengan kasar.
Bertahun-tahun lamanya sejak dia menginjak masa remaja, dia selalu menerima perlakuan kasar tanpa henti dari keluarga Dawn. Jika Samantha Dawn tidak sedang menyiksanya, maka Roman Dawn yang akan membentaknya.
Sera tak pernah dipeluk, dihadiahi senyuman, atau dibisikkan kalimat lembut tanpa kemarahan. Mirisnya, semua hal indah yang laksana mimpi yang tak mungkin dicapainya tersebut ternyata akhirnya malah diberikan semuanya oleh Xavier -orang yang seharusnya menjadi musuh besarnya- kepada dirinya.
Xavier adalah lelaki pertama yang memeluknya dengan lembut, menyentuhnya dengan hati-hati dan memesrainya dengan penuh penghargaan, dan hal itu begitu menggugah jiwa Sera, hingga dia tak mampu membentengi hatinya lagi.
Sekarang, ketika sedang merasakan kedekatan Xavier yang sedang mencari kenikmatan di tubuhnya, Sera menyadari bahwa tak ada rasa jijik, muak, atau benci sama sekali saat dia melayani lelaki itu.
Apa yang terjadi pada dirinya? Apakah dia sebegitu lemahnya sehingga dengan mudahnya jatuh terperosok ke dalam jebakan pesona Xavier?
"Sera." Bisikan Xavier yang parau seketika mengalihkan pikiran Sera yang terdera kebingungan.
Sera mengerjap, mendongak dan menyadari bahwa Xavier yang berada di atasnya tengah mendekatkan wajah mereka dengan begitu rapat hingga hidung mereka bersentuhan dan desah napas mereka terus berpadu, seiring dengan tubuh mereka yang berpacu.
Mata Xavier begitu kelam ketika pandangannya menusuk dalam ke mata Sera, lelaki itu menghadiahi bibir Sera ciuman, lalu penuh hasrat, lalu mulutnya mengucapkan instruksi tegas tak terbantahkan.
"Fokus kepadaku, sayang. Aku akan mengajarimu banyak hal baru."
Setelah berucap, Xavier merayu dan menggoda tubuh Sera lagi, membuat Sera tak mampu memikirkan apapun, selain tenggelam dalam kenikmatan yang hanya ditawarkan oleh tubuh lelaki itu seorang.
***
Bisikan lembut yang terdengar di sisi kepala Sera membuat Sera membeliakkan mata. Tadinya dia sedang tenggelam dalam tidur-tidur ayamnya yang membuai, seluruh tubuhnya lunglai dan tulang-tulangnya seolah dilucuti dari badannya setelah Xavier menghabiskan waktu hampir sesiangan ini untuk memuaskan hasratnya terhadap Sera.
Sera memiringkan kepala, dan keningnya langsung berkerut ketika melihat Xavier sudah rapi. Kali ini lelaki itu mengenakan pakaian santai, sejenis sweater wool berwarna gelap dan celana serupa. Rambut lelaki itu tampak basah setelah keramas, dan mau tak mau pipi Sera memerah membayangkan kenapa Xavier harus mandi lagi.
“Pergilah, jadi aku bisa bersiap-siap.” Sera bersungut-sungut. Tiba-tiba saja merasa jengkel setelah dia berhasil mencerna kalimat Xavier sebelumnya. Lelaki itu seolah menyalahkannya karena menyebabkan penundaan penerbangan mereka. Padahal, Xavierlah yang membuat mereka berdua jadi terlambat beranjak dari tempat tidur sehingga menunda keberangkatan mereka.
Sikap ketus Sera rupanya tak menyakiti hati Xavier, lelaki itu malahan memasang senyumnya yang paling manis dan beranjak dari tepi ranjang, memberikan privasi seperti yang diinginkan oleh perempuan itu.
Xavier benar-benar tak keberatan. Toh sesiangan ini dia sudah memuaskan diri menginvasi batas privasi Sera sesuka hatinya, hingga tak ada salahnya dia memberikan Sera sedikit ruang untuk menghabiskan waktunya sendirian.
Tangan Xavier terulur menyentuh untaian rambut panjang Sera, lalu bibirnya mengecup di bagian ujungnya yang lembut.
“Aku masih takjub dengan betapa cocoknya tubuh kita berdua. Pasti kau merasakannya juga, bukan?” tanya Xavier dengan suara parau dan sensual. Ketika tak mendapatkan jawaban dari Sera yang hanya memalingkan muka dengan wajah merah padam, Xavier terkekeh dan melanjutkan kembali kalimatnya, “Aku tak akan mengganggumu selama bersiap-siap. Turunlah ketika kau sudah selesai, aku menunggu di ruang depan,” ujarnya dengan nada tegas yang terselip kuat di suaranya.
Lelaki itu lalu melangkah pergi, dengan niat kuat untuk benar-benar meninggalkan Sera dan tak tergoda lagi untuk menyentuh.
“Xavier.”
Panggilan Sera yang lemah di belakangnya itu membuat langkah kaki Xavier tersendat. Lelaki itu berhenti dan menolehkan kepala, tak mengajukan pertanyaan, tetapi matanya bersinar menunggu.
Sera yang telah terduduk di atas ranjang dan berbalutkan selimut, menjalinkan kedua jemarinya dengan sikap gugup, takut kalau dia sampai salah bicara lagi, dia akan membahayakan nyawa Aaron.
“K-kau akan benar-benar membawa Aaron ke negara kita?” Sera akhirnya memutuskan mengucapkan keingintahuannya dengan kalimat gamblang pada Xavier, berharap lelaki itu tak salah paham lalu melampiaskan kemarahannya pada Aaron.
Xavier menipiskan bibir, matanya yang tadinya masih bersinar hangat langsung membeku seketika.
“Aku tetap pada keputusanku.” Lelaki itu mengawasi tubuh Sera dalam pemindaian kurang ajar. Lalu, kalimat yang meluncur dari bibirnya kemudian, terdengar tak kalah kurang ajarnya, “Kau memang berhasil memuaskanku, Serafina Moon. Aku jadi bersedia membiarkan Aaron menumpang naik ke pesawat kita dengan cara manusiawi. Tadinya, aku hendak menyekap dan mengikatnya, tetapi kurasa, akan lebih menyenangkan kalau menerima dia sebagai tamu yang menumpang pesawat kita. Tetapi sayangnya, pelayananmu di atas ranjang itu tak cukup memuaskan hingga mampu membuatku bersedia melepaskan Aaron. Mungkin nanti di lain waktu, jika kau bisa belajar untuk memberikan yang lebih baik kepadaku. Berusahalah lebih keras lagi.”
Setelah mengucapkan kalimat tajam menyembilu itu, Xavier langsung membalikkan tubuh dan setengah membanting pintu di belakangnya hingga terdengar suara bantingan keras.
***
Pesawat jet itu lepas landas dengan mulus. Setelah goncangan tak ada lagi dan pilot memberitahukan dari intercom bahwa sabuk pengaman sudah boleh dilepas, Sera segera melepaskan diri dari ikatan sabuk pengaman di tubuhnya, lalu berdiri.
__ADS_1
Keningnya berkerut ketika menemukan keheningan tanpa manusia satu pun di ruang berisi kursi duduk penumpang kelas bisnis yang mewah tempatnya berada saat ini.
Dirinya berada di kursi yang terletak di posisi paling ujung pesawat, tempat Xavier menyuruhnya duduk serta mengenakan sabuk pengaman, lalu meninggalkannya begitu saja sampai pesawat lepas landas.
Dengan kening berkerut, Sera melangkahkan kakinya melewati empat set kursi penumpang yang tampak besar dan nyaman di pesawat tersebut, lalu langkahnya terhenti ketika terhalang oleh pintu kaca yang memisahkan ruang duduk penumpang tempatnya sebelumnya berada, dengan ruangan yang lebih santai di depannya.
Ruangan di balik pintu kaca ini dirancang sebagai ruang duduk yang nyaman di dalam badan pesawat jet yang ramping ini. Sisi kiri dan kanannya diberikan sofa cokelat tua berlapis kulit yang elegan, sementara sebuah bar kecil tampak tersedia di sisi belakang pesawat, dengan seorang bartender yang bertugas di sana.
Mata Sera menemukan Xavier tengah duduk di sisi sofa yang berseberangan dengan sosok yang dikenali Sera sebagai Aaron.
Aaron tampak diam saja, tubuhnya kaku dan wajahnya pucat sementara matanya menatap dengan penuh kewaspadaan ke arah Xavier. Xavier rupanya benar-benar memperlakukan Aaron dengan manusiawi, karena lelaki itu tak tampak sedang diborgol atau diikat. Tetapi, Sera menduga bahwa kepatuhan Aaron itu terjadi karena Xavier telah memberikan racun yang mau tak mau membuat Aaron terpaksa diam dan menurut.
Tetapi syukurlah, selain wajahnya yang pucat dan nuansa ketakutan yang menguar dari dirinya, Aaron tampak sehat dan baik-baik saja. Tak ada luka luar yang terlihat di tubuhnya dan semua bagian tubuhnya juga tampak utuh.
Gerakan seorang perempuan tak dikenal tiba-tiba saja mengalihkan fokus perhatian Sera dari Aaron. Mata Sera mengamati dan menemukan seorang pramugari bertubuh sintal dan tinggi semampai dengan rambut pirang indahnya yang digelung rapi ke belakang, tampak sedang melayani Xavier dan menuangkan minuman untuknya.
Sera mengamati bagaimana pramugari cantik itu memberikan senyumnya yang paling manis pada Xavier dengan matanya yang berbinar penuh kekaguman. Pramugari itu bahkan tampak sengaja menempelkan sisi tubuhnya ke pundak Xavier yang sedang duduk di sofa ketika saat dia sedang menuang minuman dari botol sampanye ke gelas anggur Xavier, seolah-olah memberikan isyarat bahwa dia bersedia untuk melakukan kontak fisik lebih lanjut dengan lelaki yang mungkin adalah lelaki paling tampan yang pernah ditemuinya sepanjang hidupnya.
Perempuan Rusia itu pasti hanya terpesona pada tampilan jasmani Xavier dan sama sekali tak menyadari reputasi mengerikan Xavier di negaranya. Seandainya saja perempuan itu mengetahui betapa kejam dan berbahayanya Xavier, pasti dia akan lari ketakutan dan tak mungkin berani melemparkan pandangangan merayu penuh isyarat kepada perempuan itu…
Sera mengerutkan kening ketika menyadari hatinya panas, terbakar oleh sesuatu yang tak pernah dirasakannya sebelumnya ketika melihat bagaimana Xavier menghadiahkan senyuman manisnya saat mengucapkan terima kasih kepada pramugrasi cantik itu, yang sudah pasti langsung membuat sang pramugari Rusia tersebut langsung berbinar-binar bahagia.
Lalu tiba-tiba saja, seolah merasakan kehadiran Sera di ambang pintu yang masih berbatas kaca, lelaki itu tiba-tiba mendongakkan kepalanya, membuat matanya langsung bersirobok dengan mata Sera.
Seulas senyum langsung muncul di bibir Xavier dan lelaki itu langsung memberikan instruksi pada pramugari yang sedang sibuk mencari perhatiannya. Pramugari itu seketika mendongakkan kepala ke arah Sera setelah mendapatkan perintah. Keningnya sedikit berkerut seolah kesal karena diminta menjauh dari sumber penarik hatinya. Tetapi, mau tak mau, perempuan itu pun memasang senyum manisnya pada Xavier lalu menganggukkan kepala.
Pramugari itu lalu membukakan selot pintu ruangan untuk Sera dan mengucapkan kalimat dingin untuk menyuruh Sera masuk, lalu dengan sikap tak sopan langsung membalikkan tubuh dan buru-buru kembali ke arah Xavier, ingin duduk di samping pujaan hatinya dan merayunya.
Dengan canggung, Sera melangkah memasuki ruang duduk tersebut. Matanya terpaku sejenak pada Aaron, melemparkan pandangan sedih dan meminta maaf ketika kemudian Xavier mengalihkan perhatiannya lagi dengan memanggil namanya.
"Tentunya aku tak perlu memperkenalkan kalian lagi. Tetapi, kurasa aku perlu memberitahukan status baru Sera kalau-kalau kau belum mengetahuinya." Xavier menyeringai jahat ke arah Aaron sebelum berucap, "Serafina Moon sekarang sudah menjadi Nyonya Light, istriku." Lelaki itu lalu mengalihkan pandangannya dan menatap marah ke arah pramugari cantik yang dengan tanpa izin telah mengambil posisi tempat duduk merapat di sebelahnya. "Menyingkir dariku. Istriku ingin duduk di dekatku." perintahnya kemudian dengan nada dingin mengerikan.
***
***
***
REKOMENDASI NOVEL BAGUS DARI AUTHOR
JUDUL NOVEL : The Fragrance Of Frozen Plum Blossom
PENULIS : YOZORA
***
***
***
___PRAKATA DARI AUTHOR___
- Terima kasih atas sumbangan POIN yang digunakan untuk VOTE author sehingga EOTD bisa masuk ranking.
-Terima kasih atas dukungan semangat, favorite, like, poin, komentar, dan juga rating bintang limanya
- Baca novel lain author judulnya INEVITABLE WAR, klik aja profil author, lalu cari karya dan scroll bagian paling bawah.
- Kenapa tak ada gambar seperti dulu? Karena novel bergambar itu lama lolos reviewnya. Sementara, novel tanpa gambar sangat cepat lolos reviewnya.
Jadi, author upload naskah polos tulisan doang tanpa gambar dulu, biar cepat lolos review dulu.
Kalau dah lolos dan bisa dibaca kalian, baru author edit dan ditambahi gambar ( kalau ga percaya, silahkan cek episode 1 sd 20 an, sudah full gambar visualisasi semua).
- Naskah per part selalu minimal 2500++ kata, bahkan kadang lebih dan prakata author cuma 100++ kata. Biasakan membaca dengan terperinci yak.
Thank You
Yours Sincerely - AY
__ADS_1