
Halo, ini adalah part 6/10 dari Crazy update.
Author tidak bisa menjamin kesepuluh-sepuluhnya terposting berbarengan ya karena ada sistem review dari mangatoon.
Mudah2an saja bisa terposting berbarengan, tetapi jika tidak ( posting terpisah dengan jeda waktu jam/hari) maka diharapkan permaklumannya
Regards,
Ay
***
***
"Craden sudah tiba?"
Akram membalikkan tubuh untuk menatap Xavier dan entah kenapa Akram tergerak untuk merapikan rambutnya. "Aku akan menyelesaikan urusanku sebentar, biarkan Craden menunggu di ruanganmu dulu. Masih ada urusan yang harus kuselesaikan," ujar Akram ketus.
Xavier mengawasi Akram, matanya memindai dan menyadari bahwa penampilan Akram tampak kacau, dengan wajah pucat dan lingkar hitam di bawah matanya.
"Kau tampak tidak fit hari ini, apakah kau minum-minum karena Craden akan datang?" tebak Xavier dengan nada mengejek menjengkelkan yang disengaja.
Akram mengepalkan tangan. "Tak ada hubungannya dengan Craden," sahutnya cepat.
Xavier mengangkat alis. "Kalau begitu pasti karena Lana. Anak buahku bilang kalau kau telah memperbarui seluruh informasi tentang Elana dan memindahkannya ke rumah baru yang terpisah denganmu. Itu bagus, aku senang karena kau mendengarkan saranku. Nanti jika para wartawan yang haus skandal itu mencoba mengorek informasi, mereka hanya akan mendatkan informasi terbatas pada apa yang memang sudah kau siapkan untuk mereka,"
Akram menyipitkan mata. "Aku melakukan semua itu bukan karena mengarkan saranmu. Aku hanya memikirkan Elana," desisnya sinis.
Xavier terkekeh. "Demi Lana... oke, Aku hanya masih tak terbiasa melihat seorang Akram Night yang selalu berhubungan dengan wanita atas nama nafsu, sekarang harus mati-matian menahan nafsunya atas nama cinta. Kau pasti frustasi setengah mati, pantas saja kau mabuk-mabukan," ejek Xavier masih terkekeh.
Akram memilih untuk tak menanggapi, dia memasang ekspresi dingin ke arah Xavier.
"Apakah kau sudah menyelesaikan apa yang ingin kau katakan? Karena aku harus kembali ke ruanganku," sahutnya sinis.
"Apakah asistenku ada di ruanganmu? Kalau iya, maka minta dia kemari. Aku harus memperkenalkannya pada Craden karena beberapa waktu ke depan kami akan banyak bekerja bersama." ujar Xavier tiba-tiba.
Akram melirik sinis pada Xavier.
"Kau tak mampu menaklukkan hati Elana, jadi kau sengaja mendatangkan Craden untuk memberikan ujian yang lebih berat bagi Elana? Kau pikir dia akan semudah itu takluk pada pesona Craden?" geramnya marah.
Xavier menyelipkan seulas senyum di bibirnya, senyum menjengkelkan yang dipasangnya dengan sengaja.
"Jangan salah paham Akram. Aku memiliki keyakinan pada Lana. Dia tidak akan mudah jatuh pada pesona lelaki hanya karena lelaki itu tampan atau kaya atau mempesona, seperti aku dan kau. Entahlah kalau Craden nanti tertarik pada Lana dan memutuskan mengejarnya, aku tak bisa menjamin. Karena kau sendiri pasti sudah tahu betapa mempesonanya Craden dibandingkan kita berdua," Xavier berdehem dengan sikap menyebalkan yang nyata. "Sesungguhnya, aku cuma ingin melihatmu menderita. Kau, dengan kecemburuanmu yang posesif, pasti kau akan sangat tersiksa selama Craden ada di sini,"
Akram menggertakkan giginya.
"Sudah kuduga kalau menempatkanmu di sini hanya akan menimbulkan masalah," geramnya kemudian. "Selesaikan urusan kebocoran aliran dana itu, buktikan kalau dirimu berguna dan bisa memberiku hasil yang baik. Kalau tidak, aku bisa menjamin kalau kau akan terdepak dari sini," sambil melemparkan kalimat ancamannya Akram melangkah meninggalkan ruangan Xavier dan membanting pintunya keras-keras.
***
***
"Kau sudah merasa lebih baik?" Akram meletakkan segelas air putih jernih tepat di meja depan Elana, lalu memerintah dengan arogan. "Minumlah."
Tanpa membantah, Elana segera mengambil gelas itu dan meminumnya. Dia sudah merasa lebih baik dibandingkan tadi. Nuansa dingin di ruang kerja Akram telah mengeringkan keringatnya, jantungnya sudah tak berdebar lagi ketika dia rileks dan menunggu sambil duduk di atas sofa kerja Akram yang empuk, bahkan Elana sempat membasuh mukanya dengan percikan air dari wastafel sehingga sekarang dia merasa kembali segar. Tambahan air dingin yang mengaliri tenggorokannya saat ini melengkapi semuanya, hingga Elana melupakan segala kelelahannya sebelumnya.
__ADS_1
Lagipula, itu hanyalah tumpukan berkas. Sebelumnya saat Elana masih bekerja sebagai kasir minimarket, dia telah terbiasa mengangkut dan membawa barang berat dalam krat atau container kecil yang merupakan stock toko dengan tangannya sendiri. Elana memang kelihatan kurus dan kecil, tapi sesungguhnya dia kuat.
Kalau begitu, kenapa membawa tumpukan berkas saja bisa membuat Elana kepayahan seperti itu? Apakah karena sejak bertemu Akram, dia menjadi makhluk manja sehingga tubuhnya tak mau bekerja keras?
Gawat! Kalau begitu Elana harus banyak melatih fisiknya lagi. Rasa-rasanya dia kurang olahraga. Dulu ketika di panti asuhan, atau ketika hidup mandiri di kota, Elana melakukan olahraga tanpa sadar, seperti memasak makanan untuk puluhan anak, berbelanja ke pasar dan mengangkut barang belanjaan dengan kedua tangannya, juga berjalan kaki kesana kemari karena tak memikiki kendaraan dan tak memikiki uang untuk membayar taxi.
Sekarang, kehidupannya berubah seratus delapan puluh derajat. Akram selalu memastikan ada supir yang mengantarnya kemanapun, belum lagi pelayan di rumah yang sudah siap sedia melakukan segalanya untuk Elana sampai di hal-hal paling kecil seperti menyiapkan handuk sekalipun, bahkan untuk memasak makanan sederhana bagi dirinya sendiri pun, Elana tak diizinkan.
Gerakan tubuh Akram yang membanting diri duduk di sofa sebelah Elana mengalihkan Elana dari lamunannya dan membuatnya menolehkan kepala.
"Kau baik-baik saja?" Akram mengulang lagi pertanyannya ketika Elana tadi tak segera memberikan jawaban. Ternyata Akram sudah duduk dekat sekali dengannya dan menghadapnya, membuat Elana buru-buru mengangguk untuk menghapuskan sinar cemas di mata lelaki itu.
"Aku baik-baik saja," Elana menyingsingkan lengan bajunya, "Sehat, kuat dan siap untuk bekerja lagi," ujarnya bersemangat.
Seulas senyum tipis yang sangat langka muncul di bibir Akram ketika lelaki itu berucap lembut.
"Jangan memforsir dirimu, Elana. Kau seorang asisten, bukan tukang angkut. Nanti di masa depan, jika ada pekerjaan yang memerlukan kekuatan fisik, kau harus bertanya pada Elios, supaya Elios bisa mencarikan alternatif untukmu. Tetapi, aku akan memastikan bahwa tak akan ada pekerjaan fisik yang membebanimu nanti," sahut Akram dengan nada tegas.
Elana mengerutkan kening, matanya bersinar tak setuju.
"Kenapa? Padahal aku sedang mencari cara untuk mengolah fisik?" serunya cepat.
Akram mengerutkan kening. "Mengolah fisik? Apa maksudmu?"
"Aku kurang berolahraga. Kau... kau memberiku supir sehingga aku jarang berjalan-jalan, kau juga memberikan pelayan yang tak membiarkanku melakukan hal paling ringan sekalipun...." Elana memutar bola matanya seolah berpikir. "Aku mungkin akan mencoba berlari-lari pagi mengelilingi taman sebelum bekerja, atau bermain lompat tali... atau berenang, sepertinya itu bagus juga untuk kesehatan," sambungnya dengan nada penuh semangat.
Akram sudah pucat karena didera oleh hangover yang menyiksa. Tetapi sekarang, perkataan Elana berhasil membuatnya lebih pucat lagi.
"Lari-lari, berenang dan lompat tali?" suara Akram meninggi ketika merangkum niat Elana. "Tidak! kau tak boleh melakukannya!" ujarnya cepat, memberikan ultimatum keras tak terbantahkan.
Seketika Elana mengerutkan kening dan menatap Akram dengan bingung.
"Kenapa tak boleh? Bukankah olahraga itu baik untuk kesehatan?" tanyanya segera.
Akram sekuat tenaga menjaga supaya perempuan itu aman dan tak melakukan pekerjaan fisik berat demi keselamatan bayinya, dan sekarang, Elana malah ingin lari-lari, berenang dan lompat tali?
Tetapi, bersama dengan Elana selama beberapa waktu, telah membuat Akram mengenali watak perempuan itu. Elana keras kepala, susah diatur dan sikapnya seperti anak kecil. Kalau Akram mengultimatum dengan keras, perempuan itu akan terdorong untuk membantah, melawan yang ujung-ujungnya akan melanggar ultimatumnya dengan sengaja.
Akram tahu bahwa dia harus mencabut sikap arogannya dan beralih pada sikap persuasif. Dia tahu kalau dirinya merayu Elana, perempuan itu akan gugup, mundur dan akhirnya terkalahkan.
"Kau sesungguhnya tak perlu melakukan olahraga berat lagi... malah menurutku... akhir-akhir ini kau terlalu banyak memforsir dirimu. Karena itulah aku ingin kau menggunakan waktu istirahatmu ini untuk bersantai dan merilekskan tubuhmu," ucap Akram dengan nada penuh arti, meredam segala bantahan atas ultimatumnya yang hendak keluar dari bibir Elana.
"Olahraga berat?" Elana berusaha mengingat-ingat, tapi dia tahu jelas bahwa dia sama sekali tak melakukan olahraga berat akhir-akhir ini. "Olahraga apa?" tanyanya lagi.
Akram langsung menyeringai. "Di atas ranjang, bersamaku, itu olahraga beratmu," jawab Akram santai tanpa peduli dia langsung membuat wajah Elana memerah malu. "Kau kelelahan setelahnya, bukan? Kau pikir itu tak termasuk olahraga berat? Bercinta di atas ranjang bisa membakar kalori lebih banyak dari yang kau kira. Bukankah itu lebih praktis?" Akram menghadapkan wajah Elana yang merona ke arahnya, lalu menghadiahkan satu kecupan lembut di sana. "Jadi, kau bisa berolahraga membakar kalori, sekaligus mendapatkan kenikmatan menyenangkan dari itu. Karena itu kau tak perlu berolahraga lagi,"
"Akram!" Elana menegur perlahan, rona merah di pipinya sudah selayaknya buah apel matang yang siap untuk dipetik. "Kurasa.. kurasa aku harus pergi. Elios menungguku untuk mengajariku..." dengan cepat Elana bangkit dari duduknya, melepaskan diri dadi pegangan Akram dan mencoba melarikan diri dari ruangan itu.
Tetapi, tentu saja Akram tak melepaskannya begitu saja. Lelaki itu meraih tangan Elana, menggenggamnya dan menghadiahkan kecupan di sana.
"Elana, kau mendapatkan jeda waktu dariku untuk beristirahat selama sebulan ini. Jadi, lupakan masalah berolahraga dan gunakan waktumu sebaik-baiknya untuk bersantai dan beristirahat. Lebih baik kau fokus pada perasaanmu, dan belajar mencintaiku," meskipun kalimat Akram diucapkan dengan santai, tapi nadanya terdengar serius. "Karena nanti, ketika aku sudah menikahimu... olahragamu akan sangat berat, sebab aku akan memuaskan diriku terhadapmu tanpa kutahan-tahan lagi."
Kalimat Akram diucapkan dengan nada sensual penuh tekad yang langsung mengirimkan gelenyar panas ke sekujur tubuh Elana, membuat Elana terpaku di sana, membeku dan tak bisa mengucapkan kalimat apapun.
"Kurasa sudah waktunya," Akram tiba-tiba berdiri, posisinya dekat dengan Elana sehingga memudahkannya untuk merangkul perempuan itu sebelum dia bisa melarikan diri. "Ayo, kita pergi," tanpa memberikan kesempatan kepada Elana untuk bereaksi, Akram menggandeng tangan Elana, lalu membawa perempuan itu melangkah mengikutinya menuju pintu keluar ruangannya.
"Kita akan pergi kemana?" Elana bertanya terburu-buru, kebingungan karena Akram mengubah alur pembicaraan dengan cepat dan mengajaknya bergerak cepat pula.
Langkah Akram terhenti tepat di depan pintu. Lelaki itu menoleh sedikit ke arah Elana sementara wajahnya terlihat waspada.
"Cradence Evening akan datang. Kau masih ingat bukan? Pria mempesona yang akan membantu Xavier mendapatkan bukti legal atas kebocoran aliran dana perusahaan?" sahut Akram dengan nada tegang.
__ADS_1
Elana mengangkat alisnya. "Oh? Pria yang... yang kau bilang seratus kali lebih mempesona daripada kau dan Xavier?" ucap Elana setengah bercanda.
Sayangnya, candaan Elana, jika menyangkut pujian kepada pria lain, sudah tentu tak akan mempan terhadap Akram. Pria itu langsung membalikkan tubuh, melepaskan pegangan tangannya dari Elana lalu memindahkan tangannya untuk menangkup kedua pundak mungil Elana, mencengkeram dan mengguncangnya sedikit.
"Aku tak pernah bilang sampai seratus kali. Kenapa kau memuji Craden begitu tinggi, padahal kau belum pernah melihatnya?" ada nada marah bercampur cemburu yang terselip dalam kalimat Akram. "Bukankah aku sudah bilang kepadamu kalau kau sama sekali, setitikpun, sekecil apapun, tak boleh terpesona atau jatuh cinta pada lelaki itu. Kalau tidak, aku akan menghancurkan lelaki itu hingga di titik tidak ada lagi bagian dari didirinya yang bisa membuatmu terpesona."
Ancaman Akram begitu mengerikan dan diucapkan dengan sungguh-sungguh, membuat Elana begidik karenanya.
"Akram," Elana mencoba meredakan bara api di mata lelaki itu. "Aku cuma bercanda," ujarnya kemudian, putus asa ingin menjelaskan.
Sejenak Akram mengerjapkan mata, tetapi lelaki itu tak memasang senyum, seolah ingin menunjukkan, bahwa meskipun Elana sedang bercanda, Akram sama sekali tak sedang bercanda ketika mengucapkan ancamannya tadi.
"Ayo kita temui dia dan bereskan semuanya." sahut Akram kemudian sambil menarik kembali tangan Elana meninggalkan ruangan.
***
***
Ketika Akram memasuki ruangan, diikuti oleh Elios dan Elana, Xavier tampak sedang berdiri dan tersenyum, dan berbicara dengan intens pada sosok tinggi di depannya yang membelakangi mereka semua.
Sosok ini cukup tinggi, bertubuh tegap dan ramping. Posturnya yang kuat bisa dibilang mirip dengan Akram. Dan lelaki itu tak sendirian, ada wanita cantik bertubuh tinggi semampai dengan lekuk menggoda yang mendampinginya.
Wanita itulah yang lebih dulu melihat mereka datang dan langsung memasang senyum yang luar biasa manis ketika matanya menangkap sosok Akram yang datang mendekat.
"Ah, akhirnya kau datang, Akram, dan membawa asistenku bersamamu," Xavier melemparkan pandangan penuh arti kepada Akram. Lelaki itu lalu mengalihkan pandangannya kembali kepada tamunya dan berucap miring. "Akram seolah tak cukup memiliki asisten yang sangat kompeten seperti Elios untuk membantunya, dia selalu berusaha untuk mencuri asistenku hingga aku sendiri kadang kesulitan mememukan dimana asistenku berada," ujarnya ke arah sosok Cradence yang masih membelakangi mereka.
Perkataan Xavier, meski sudah jelas dimaksudkan untuk membuat Akram gusar, tetap saja berimbas kepada Elana. Dia jadi merasa kurang kompeten bekerja sebagai asisten Xavier karena terus menerus membagi waktunya di jam kerja untuk bersama Akram.
Dengan penuh rasa bersalah, Elana membuka mulut hendak mengucapkan kalimat maaf ke arah Xavier, tepat saat lelaki bernama Craden itu membalikkan tubuh ke arah mereka, memasang senyum ramah yang menghiasi bibirnya dengan sempurna.
Dan Elana langsung tertegun dengan mulut ternganga tanpa sadar.
Akram benar.... jika dilihat dari ketampanan saja, mungkin Akram dan Xavier bisa dipandang lebih tampan sesuai dengan selera dan sudut pandang masing-masing. Tetapi... dari kharisma dan aura luar biasa yang memancar jelas dari lelaki di depannya ini, Cradence Evening sudah jelas.... tak terkalahkan.
***
Halo,
ini adalah part 6/10 dari Crazy update.
Author tidak bisa menjamin kesepuluh-sepuluhnya terposting berbarengan ya karena ada sistem review dari mangatoon.
Mudah2an saja bisa terposting berbarengan, tetapi jika tidak ( posting terpisah dengan jeda waktu jam/hari) maka diharapkan permaklumanny
Regards,
Ay
Note Author : Kisah tentang Cradence Evening ini rencananya akan menjadi proyek novel baru author. Tapi belum tahu apakah akan diposting disini setelah Essence Of The Darkness tamat atau tidak. Jika iya, pasti akan author buat pengumuman di sini.
***
__ADS_1